A journey to remember

Berlibur di Malasyia

Posted on: April 18, 2011

Awalnya gue agak-agak males liburan ke Malasyia. Denger-denger, penduduk sana benci banget sama orang Indonesia. Konon katanya, bahkan supir taksi dan tour guide di sana berani melecehkan turis dari Indonesia! Tapi berhubung tiket gue mengharuskan transit di Malasyia, ya apa boleh buat… Daripada bengong dua hari ya mending sekalian jalan-jalan!

Lalu apa benar, penduduk di Malasyia itu sama kurang ajarnya dengan isu yang banyak beredar di Indonesia? Belum sampai setengah hari tiba di Kuala Lumpur, gue langsung bikin status begini di Facebook gue, “So far penduduk Malasyia sopan & ramah meskipun mereka tau gue orang Indo… Sama sekali nggak kayak dugaan gue sebelumnya.”

Dan sampai gue menghabiskan 3 malam di Malasyia pun, gue tetap memiliki kesimpulan yang sama. Selama di sana gue dua kali naik taksi, dan dua-duanya ramah banget sama gue dan dua orang teman gue. Kita bisa asyik bercanda seolah udah lama kenal. Selain itu selama di Malasyia, kita bertiga cukup sering nyasar sehingga harus sering-sering nanyain petunjuk jalan ke penduduk sana. Dan ternyata, semua orang yang kita tanyakan pentunjuk jalan selalu menjawab pertanyaan kita dengan ramah! Malah waktu pertama kali kita naik monorail, petugas di sana dengan baik hatinya menjelaskan rute monorail, sistem transit, dan sistem ticketing mereka.

Hari pertama di Malasyia, gue dan teman-teman langsung pergi menuju Petronas. Tapi ternyata di tengah jalan, akan lebih efisien kalo kita mampir dulu di BB Plaza dan Sungai Wang Plaza. Dua shopping mall itu emang udah masuk ke dalam daftar perjalanan gue. Tujuan utama ke BB Plaza karena gue dan Natalia kepengen beli parfum Avon, merk yang udah lama bangkrut di Indonesia. Kemudian di Sungai Wang, gue kepengen belanja oleh-oleh. Katanya sih, barang-barang di sana terkenal murah. Sayangnya waktu di Sungai Wang, temen-temen udah nggak sabar kepengen cabut. Maklum, hari itu kita masih punya agenda ke Petronas, Batu Caves, dan Masjid Jamek. Jadilah di Sungai Wang gue cuma beli 2 t-shirt lucu selevel Joger yang in total harganya nggak sampe 50 ringgit (Rp. 145.000).

Abis dari BB Plaza dan Sungai Wang (dua mall ini terhubung satu sama lainnya), kita lanjut naik monorail menuju Petronas. Sampe sana, gue yang terobsesi foto bareng the twin towers sampe ke ujung-ujungnya mulai cari cara supaya bisa bikin foto sesuai keinginan. Beberapa menit berusaha ngambil foto dari depan Petronas tapi gagal terus! Bisa sih… ambil foto tower-nya sampe atas, tapi gue-nya nggak kelihatan! Akhirnya kita pindah ke bagian belakangan gedung, dan coba lagi foto dari belakang. Ternyata hasilnya sama aja. Paling mentok gue cuma kelihatan keciiil banget. Itupun udah dalam keadaan muka super gosong! Baru kemudian gue tahu… Waktu di awal gue udah bener ngambil foto dari depan Petronas. Tapi sayangnya, waktu itu di sana lagi ada panggung berukuran besar yang bikin gue nggak bisa mundur untuk ngambil foto. Yaah, gugur deh cita-cita gue masang profil picture di depan Petronas, hehehehe.

Selain foto-foto, gue dan temen-temen sempat belanja oleh-oleh di Suria KLCC, shopping mall yang terletak di dalam twin towers. Beda dengan BB Plaza dan Sungai Wang, Suria KLCC punya konsep mall kelas atas dengan berbagai toko branded di dalamnya. Kalo di Indonesia sini selevel sama Pacific Place atau Senayan City kali yaah… Walau sorry to say, secara interior, Pacific Place masih lebih unggul daripada Suria KLCC. Waktu belanja di Suria KLCC itu, gue dan temen-temen lebih prefer belanja di booth kecil yang berjejeran di tengah-tengah lorong mall itu. Ada banyak aksesoris lucu yang menurut pengamatan gue, punya kualitas di atas rata-rata, dengan harga yang relatif murah. Di sana gue beli tiga bros ukuran besar seharga in total 50 ringgit, yang kalo gue beli barang sejenis di Centro atau Metro, harga satuannya pasti di atas seratus ribu rupiah. Bros-bros yang gue beli itu kemudian dikemas dalam kotak cantik yang terpisah, kemudian dikemas lagi dalam kantong jala yang berpita… Kemasan bros ini bener-bener bikin oleh-oleh yang satu ini kelihatan mewah dan mahal banget, hehehehe.

Selanjutnya kita pergi naik taksi menuju Batu Caves, pulang-pergi (naik satu taksi yang sama), kita bayar in total 60 ringgit. Kenapa naik taksi? Soalnya monorail nggak sampe ke sana dan kita terlalu cupu untuk berani naik bis umum, hehehehe. Oh iya, batu Caves ini adalah kuil umat Hindu India yang terkenal dengan patung dewa tertinggi di dunia. Dan buat sampe ke atas kuilnya… kita harus terlebih dahulu mendaki lebih dari 200 anak tangga!

Gue baca di website lain, gua besar di Batu Caves itu bau banget, dan banyak monyetnya pula. Tapi waktu gue ke sana, gue nggak mencium bau aneh dan nggak juga melihat monyet satu ekor pun. Hmm, apa karena lagi turun hujan lantas monyet-monyet itu pada ngumpet?

Untuk lihat bagusnya gua di Batu Caves, masuk dan naik terus sampe bagian gua yang paling dalam. Selain itu menyaksikan ritual sembahyang umat Hindu di sana juga lumayan menarik. Dan uniknya, turis yang bukan penganut Hindu pun boleh ikut dalam ritual ibadah mereka.

Tujuan terakhir gue di Malasyia adalah Genting Highland. Bukan mau main judi loh yaa, kita cuma pengen mengunjungi taman bermainnya aja. Tadinya kita berencana pergi ke Genting naik bis, yang dilanjutkan naik cable car sampai atas. Tapi karena sudah kehabisan tiket bis, jadilah kita naik taksi… Supir taksi buka harga 90 ringgit, berhasil ditawar cuma sampe 85 ringgit. Sebenernya sih bisa aja kita naik taksi sampe ke atas. Tapi kayaknya belum lengkap pergi ke Genting kalo nggak sekalian nyobain cable car-nya. Pemandangannya bagus, dan makin ke atas makin tertutup kabut sampe akhirnya yang terlihat di luar jendela cuma kabutnya aja! Oh ya, jadi waktu itu kita diantar supir taksi cuma sampe stasiun cable car-nya aja. Begitu sampai di atas, kita tinggal ikuti papan petunjuk menuju Genting Theme Park.

Genting Theme Park dibagi menjadi taman bermain indoor dan taman bermain outdoor. Tiket untuk kedua taman bermain ini dijual terpisah, dan tips dari gue, sebelum beli tiket untuk taman bermain outdoor, lihat-lihat dulu cuaca di luar sana. Genting itu sering banget turun hujan… dan bener aja, selama di sana gue cuma sempet main di indoor theme park-nya doang. Secara konsep, Genting nggak bagus-bagus banget kalo menurut gue. Apalagi taman bermain indoor-nya… aduh, pilihan wahananya cupu-cupu banget. Bener-bener mirip taman bermain yang suka ada di mall-mall Jakarta gitu deh. Taman bermain indoor Genting itu lebih cocok buat anak-anak kalo menurut gue. Selama di sana gue cuma nyobain 3 wahana. Yang satu kereta-keretaan tapi jalannya di langit-langit, abis itu naik bumper car (yang lumayan sukses bikin gue ketawa-tawa), lalu yang terakhir gue nonton pertujunkan 4D. Bumper car sih sama aja lah ya, kayak bumper car di Dufan. Arena di Dufan malah lebih luas daripada di Genting itu. Pertunjukan 4D-nya juga nggak gitu berkesan banget kalo buat gue. Meskipun bangkunya ikut bergerak, efek 4D-nya tetap kurang terasa. Masih lebih seru 3D show di Disneyland: bangkunya tetap diam tapi rasanya kita kayak ikut meluncur turun dan seolah benar-benar masuk ke dalam layar.

Di indoor theme park itu ada juga The Snow World (tempat salju buatan), rumah hantu, dan museum Ripley. Untuk menikmati tiga wahana itu, kita harus bayar lagi. Kayaknya sih menarik, tapi sayang gue nggak sempet nyobain ketiga wahana tambahan itu. Mungkin lain kali, kalo gue balik lagi berlibur di Malasyia. Selain itu, kalo nanti balik lagi ke Malasyia, gue mau pergi ke Sunway Lagoon (theme park yang juga punya kolam renang ala Waterboom), dan kepengen menghabiskan lebih banyak waktu buat belanja di sana. Dan pastinya, harus coba sekali lagi, ambil foto gue di depan Petronas, hehehehe.

Advertisements
Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My Blog Counter

  • 908,046 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click the pictures below to visit my Instagram...

The beauty of diversity. I'm glad that I met them along my career path at Lazada. Just a little help like this could mean everything to me and The Lens Story. Many thanks! ❤️
📷: @thelenstory 👚: @adidaswomen 👕: @nike 
#friends #friendshipgoals #diversity #photography #photooftheday #canon #snapseed #thelenstory Find someone who loves you properly.
The one who never intentionally let you wait for him.
The one who never makes you have to wonder how he truly feels about you.
The one who will definitely catch you and hold you tight as you fall for him.
The one who gives you all he has to be a better man, to fix what goes wrong, to fight for you and to never let you go.
You are too old for another Mr. Wrong, reward yourself with the right one.
Love yourself enough to leave your past, you deserve better.
📷: @thelenstory
💄: @yuficarolin.mua
👗: @calla.atelier
👠: @charleskeithofficial 
#love #life #quote #photography #photooftheday #thelenstory I'm not perfect. I make mistakes. I do the things I'm not proud of. I give up, sometimes. I hurt people, mostly the ones that I actually care about. I have a lot of flaws, but at least, I'm trying hard to be a better person. I'm no saint nor angel, but I'm not a pure evil either. I'm simply a human who is trying to be the very best that I can be. I'll never stop learning, until my very last breath.
📷 @thelenstory
💄 @yuficarolin.mua
👗 @calla.atelier
👠 @charleskeithofficial
#photooftheday #beauty #photography #quote #thelenstory

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

%d bloggers like this: