Impian, Yang Tertunda…

Badan terasa lengket… pegal-pegal… kepengen mandi dan pergi tidur. Tapi dari tadi gue masih ngotot ingin menulis sesuatu untuk blog ini. Ketik… hapus… ketik lagi… hapus lagi… Bingung mencari kata-kata, merangkai kalimat, tapi rasanya kok ya hati ini resah dan gelisah kalo belum menyampaikan uneg-uneg yang bahkan udah sampe kebawa mimpi ini…

Ok, jadi masalahnya adalah: gue sedang mengalami dilema soal karier, cita-cita, dan masa depan gue. Gue udah kehilangan soul untuk mempertahankan pekerjaan gue sebagai auditor. Gue ngerasa gue enggak bekerja cukup baik untuk EY. Dateng telat, lebih memilih baca e-mail lucu daripada nyelesain pekerjaan, nunda ini nunda itu sampe akhirnya bener-bener kelupaan, niat dateng ke kantor cuma buat ngeceng doang…

Gue jadi ngerasa malu sama diri gue sendiri. Gue ngerasa nggak pantas dengan segala macam pujian yang pernah gue terima di kantor ini. Gue ngerasa ilmu pengetahuan gue enggak banyak berkontribusi, gue ngerasa tingkat ketelitian gue menurun tajam, ah, pokoknya gue kangen banget dengan Riffa yang masih bekerja untuk Accurate.

Dulu di kantor yang lama, gue rela lembur tanpa dibayar. Enggak ada yang nyuruh lembur, tapi gue kepengen lembur, untuk menyempurnakan pekerjaan gue. Prinsip gue saat itu, gue enggak mau ninggalin klien dengan database yang belum sempurna. Tapi sekarang? Pulang tango serasa anugerah! Duduk gelisah, pikiran kacau, setiap kali malam datang menjelang sedangkan gue masih aja berpakaian rapi, di depan laptop, di kantor klien.

Dulu gue rela hari ini klien di Tangerang besoknya klien di Cikarang. Gue rela bangun Subuh kalo si kantor klien letaknya jauh dari rumah, rela bersusah payah untuk mencapai kantor klien yang terletak di berbagai penjuru kota, bahkan gue rela untuk membantu klien di hari Sabtu maupun Minggu. Tapi kalo sekarang? Abis shalat Subuh gue tidur lagi sampe jam 7. Kalo bisa enggak usahlah bolak-balik ke kantor klien melulu. Males banget disuruh balik ke kantor klien yang di Cibitung itu… Kerja Sabtu-Minggu? Please deh, kapan gue punya waktu untuk bersenang-senang?!?

Aduh, Tuhan… gue yang pemalas ini mirip banget dengan gue waktu jaman-jaman baru jadi anak SMA! Gue pengen kerja yang rajin, kerja yang cepat, selesai tepat waktu… Tapi gimana ya, gue enggak cinta sama kerjaan gue… I have no soul for working on it! Malah mungkin, sisi iblis dalam diri gue membisiki gue seperti ini, “Udah… enggak usah terlalu diniatin… toh sebentar lagi elo mau cabut dari sini kan?” Padahal sampe sekarang gue masih aja nyangkut di sini…

Sebenernya siapapun juga bisa aja resign terus cari kerja di tempat yang lain. Tapi gue enggak mau mengulangi kesalahan yang sama: meninggalkan pekerjaan lama untuk pekerjaan baru yang belum tentu cocok untuk gue lakoni. Intinya, gue enggak boleh lagi terburu-buru seperti dulu.

Sejujurnya gue punya satu pekerjaan impian, tapi untuk mencapainya, gue harus bersabar. Masih banyak yang harus gue upgrade dalam diri gue ini supaya bisa diterima di profesi impian tersebut. Sekarang gue sedang mencari perusahaan yang setidaknya menawarkan profesi yang mirip-mirip dengan profesi impian gue. Anggap saja sebagai batu loncatan menuju impian yang sebenarnya itu. Dan selama gue belum menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan, gue jelas harus tetap bertahan di EY, iya kan?

Makanya, karena bertekad untuk resign tidak pernah berhasil membuat gue benar-benar resign, sekarang gentian sisi malaikat dalam diri gue yang seolah berkata, “Kerja harus yang niat… suka nggak suka, kamu kan digaji sama EY untuk menyelesaikan pekerjaan itu!”

Yeah, kali aja dengan begitu, gue bakalan nemu pekerjaan sesuai keinginan sehingga akhirnya bisa resign dengan terencana;) Wish me luck yaa, hehe…

Tentang Caleg dan Poligami

Gue ngerasa geli sama politik ala Indonesia. Selaluuu aja ada gosip yang beredar setiap kali musim kampanye mulai menjelang. Ada capres/caleg yang disebut-sebut mafia Indonesia, ada pula yang dibilang antek-anteknya Amerika, sampe yang paling hangat, soal partai yang katanya banyak diwakili oleh caleg yang berpoligami.

Soal yang kemaren-kemaren, gue nggak berani komentar karena enggak begitu tahu kebenaran soal isu ybs. Tapi soal caleg yang berpoligami… hmm… bolehlah ya gue sedikit berkomentar, hehe.

Megacu pada dua artikel di Detik.com, ada sebuah organisasi perempuan Indonesia yang akan mengumumkan daftar nama caleg yang berpoligami. Mereka menghimbau untuk tidak memilih caleg yang tercantum dalam daftar itu. Di lain pihak, menurut Sekjen PKS, apa yang dilakukan oleh organisasi itu sudah berada di luar konteks politik. Sang sekjen yang juga pelaku poligami itu berpendapat, poligami adalah urusan pribadi setiap orang.

Sebelum gue menyampaikan pendapat gue soal caleg yang berpoligami, ijinkan gue menyampaikan pendapat gue soal poligami itu sendiri. Harus diakui, poligami memang dihalalkan oleh agama Islam. Tapi maaf-maaf kalo gue bilang, aplikasi poligami pada masyarakat Indonesia pada umumnya itu SALAH BESAR. Menrut gue, suatu praktek poligami sudah sesuai dengan tujuan mulia dari poligami itu sendiri APABILA:

  1. Wanita yang dinikahi adalah wanita yang sulit mendapatkan suami DAN istri pertama dengan ikhlas megijinkan suaminya untuk menikah kembali;
  2. Istri pertama dalam keadaan sakit sehingga dengan ikhlas meminta suaminya untuk menikahi wanita lain; dan
  3. Negara ybs dalam keadaan perang.

Nah, pertanyaan gue sekarang, dari beberapa orang caleg yang melakukan poligami, ada berapa banyak caleg yang melakukan poligami atas dasar tiga point yang gue sebutkan di atas? Gue emang nggak punyi bukti, tapi gue YAKIN kebanyakan istri muda mereka lebih yahud daripada si istri pertama…

Lalu pertanyaan berikutnya, benarkah tidak ada hubungannya antara politik dengan isu poligami?

Setujuhkah elo kalo gue bilang poligami untuk mencari istri muda yang lebih yahud adalah tindakan yang hanya dilandasi oleh nafsu semata? Dan setujukah kamu bahwa tiga godaan utama buat laki-laki adalah tahta, harta, dan wanita?

Jadi menurut gue, caleg yang tidak bisa menahan nafsunya soal wanita kemungkinan besar juga tidak memiliki kemampuan untuk menahan diri soal tahta dan harta dalam hidup mereka.

Memang benar bahwa poligami masih lebih mendingan daripada melakukan zina. Tapi tetap saja, kedua hal itu sama-sama mengindikasikan ketidakmampuan seorang laki-laki untuk mengendalikan nafsu mereka. Jadi, mari kita pilih caleg yang tidak berpoligami tapi juga tidak berzina! Pelajari baik-baik caleg yang akan kita pilih. Kalo masih enggak yakin juga, ya sudah, kita golput saja, hahaha, ajakan sesat nih!

Ok, selamat memilih!

Pengakuan Si Tukang Belanja

Bulan ini gue shopping gila-gilaan. Ini nih isi kantong belanjaan gue…

  1. ENAM buah kemeja, semuanya merk The Executive (mulai dari The Executive MM Bekasi, Kelapa Gading sampe Pelangi:). Yang satu beli harga normal, yang lima diskon 50 dan 70 persen, hehe… Beruntung dua minggu yang lalu gue nggak jadi borong kemeja cos hari ini The Excutive Semanggi diskon gila-gilaan. Puas!
  2. SATU buah tas hitam bling-bling yang keren banget. Nemu di Charles & Keith Sency udah dalam keadaan diskon 20%. Ada lecet dikit tapi ya sudahlah, toh cuma mata elang gue doang yang bisa mendeteksi goresan kecil itu:)
  3. SATU buah jeans hitam modal cut bray. Bosen euy pake skinny jeans melulu. Aneh tapi nyata gue beli jeans ini di The Executive yang ahlinya celana bahan itu. Entah ya kualitas jeans mereka bagus apa enggak. Yang jelas ukurannya pas banget buat gue. Susah lho nyari jeans yang panjang ke bawah tapi nggak lebar ke samping. Maklum lah, begini nasib kalo punya body semampai kayak foto model hehe…
  4. TIGA pasang sepatu (beli di ITC Cempaka Mas, Pondok Gede Plaza, Plangi) dan tiga-tiganya nggak ada yang enak dipake! Arrrghh, ternyata nyari sepatu idaman itu sama susahnya dengan cari cowok idaman, hoho…
  5. SATU buah t-shirt. Ini kaos harganya murah banget, cuma tiga puluh ribu saja! Padahal kaos ini bahannya bagus, dan belinya di Matahari pula. Sayangnya ternyata kaos itu jatuhnya ngepas banget di badan gue. Terpaksa cari luaran buat kaos ini deh… Cos nanti dikiranya gue pamer body kalo cuma pake kaosnya doang, hehehe;
  6. SATU buah dompet merah keren keluaran Guess yang pastinya sudah didiskon 40% hehehe…
  7. SATU buah lipbalm rasa strawberry. Abisnya lip butter jambu yang ada di rumah baunya nggak enak, jadi gue ganti rasa strawaberry aja biar matching sama foam bath-nya; dan
  8. SATU buah celana bahan warna abu-abu supaya matching sama sendal baru yang abu-abu juga. Yang ini asli murah banget, cuma empat puluh ribu! Nemu di obralan dalam keadaan resleting sudah rusak, hehe.

Nah… berhubung hari ini baru aja gajian… ini daftar belanjaan gue yang berikutnya:

  1. Tas warna putih, supaya matching sama sendal baru yang warna putih juga;
  2. Rompi warna pink atau putih buat pasangan kaos baru gue yang ketat itu;
  3. Sendal bertali warna hitam buat pasangan rok hitam favorit gue. Sendal yang lama udah enggak layak pakai. Padahal gue suka banget sama sandal hitam itu, hiks…
  4. Mau beli EDP baru… mumpung The Body Shop lagi diskon nih! Abisnya hidung gue udah kebal sama wangi EDP yang lama!
  5. Buka deposito! Kalo enggak duit gue bisaabis buat belanja, hehe.

Well… sebetulnya hobi shopping gue ini mang agak-agak kelewatan. Tapi gimana dong, gue boros cuma buat urusan fashion aja kok!

Makan di restoran mahal? Jarang… sekalinya makan mewah juga bareng sama temen atau keluarga.

Belanja gadget? Seumur hidup gue baru ganti hp dua kali saja lho…

Keluar duit buat traveling? Gue mah maunya traveling gratisan nebeng sama ortu gue, hehe.

Jadi nggak papa lah ya, gue boros dikit buat belanja fashion item, huehehe. Tapi gue udah bertekad bulan ini harus cepetan buka deposito. Itung-itung bantuin calon suami membiayai pesta pernikahan nanti, huahaha! Boong deh, gue punya cita-cita terpendam yang membutuhkan banyak biaya nih. Doakan yaa!

Ketika Nyoblos Menjadi Nyontreng…

Obrolan suatu siang beberapa hari yang lalu…

Gue: Nanti aku nggak mau nyoblos ah… Nggak kenal sama calonnya!

Om gue: Eh… sekarang udah bukan nyoblos lagi, tapi nyontreng!

Uhm… kenapa ya harus dirubahd ari NYOBLOS jadi NYONTRENG? Masalahnya kata NYONTRENG itu kan nggak enak didenger!

Kalo yang biasanya kita bilang, “Besok gue nggak mau nyoblos ah!” Sekarang harus diganti, “Besok gue nggak mau nyontreng ah!”

See? Aneh kan… Ah, dasar Indonesia… suka ngerubah-rubah aturan yang nggak penting!

Nasib Jadi Cewek Beken

Semenjak hari pertama berangkat kerja dari rumah tante di Kali Malang (yup, sekarang gue tinggal di sini), gue udah berasa ada yang aneh setiap kali menyusuri jalan dari rumah menuju jalan raya tempat berhentiin angkot. Kayaknya kok ya, cowok-cowok yang suka nongkrong di pinggir jalan itu (mulai dari kumpulan satpam, anak sekolahan, orang-orang yang suka nongkrong di warung rokok, sampe tukang ojek dan supir truk) entah kenapa seneng banget jelas-jelas merhatiin gue yang lagi jalan. Gue tuh jadi berasa kayak Monica Beluci di film Malena, di mana setiap kali Malena berjalan melintasi kota selalu ditatap sedemikian rupa oleh berpasang-pasang mata milik penduduk kota, hehe…

Minggu pertama lewat gue pikir, ya beginilah nasib jadi cewek jangkung, suka jadi bahan tontonan orang-orang sekitar yang mikir, “Gila ini cewek jangkung banget!”

Masuk minggu ke dua, mulai ada tukang ojek yang suka iseng bilang, “Ojek, Mbak…” padahal jelas-jelas gue udah melangkah melewati mereka tapi kok masih aja ditawarin naik ojek? Lagian gue juga kan enggak ada tampang lagi nyari-nyari ojek buat ditumpangin gitu. Gue pun lantas berpikir, emang susah jadi cewek yang baru pindahan, selalu mencuri perhatian euy…

Lama-lama suara-suara iseng itu semakin terdengar jelas. Mulai dari, “Cantik…” atau “Mau ke mana, Mbak?” atau yang paling basi manggil-manggil gue dengan bernyanyi, “Jilbab-jilbab putih…” Masalahnya, dia itu buta warna apa gimana ya… secara jilbab gue warnanya hitam gitu lho… Sampe sini gue baru nyadar, beginilah resiko jadi cewek cantik… Fuh…

Lalu puncaknya hari ini, saat gue baru aja belok dari gang rumah, tiba-tiba aja ada cowok megang pergelangan tangan gue! Bukan sekedar megang, dia tuh kayak mau mencengkram tangan gue gitu! Refleks gue teriak, ngomel-ngomel, sambil nyium tangan gue kali aja ada bau aneh yang nempel di situ. Dan tau nggak sih… cowok itu malah dengan santainya cengengesan dengan ekspresi yang keliatan nyebelin banget! Barulah setelah diperhatikan lagi… ternyata dia itu ORANG GILA! Si tukang warung yang ada dekat sana cuma cengar-cengir sambil bilang, “Hush, jangan digangguin!”

Huah… akhirnya gue menyimpulkan; beginilah nasib jadi cewek beken. Hmmph:(

Hingga Nanti Kamu Kembali

 

Tahukah kamu…

Satu menit, satu jam, satu hari…

Tidak akan pernah cukup untuk memberikanmu satu jawaban

 

Namun biarkanlah aku meminta…

Jangan pernah membenciku

Percayalah pada kebesaran hatiku,

Percayalah pada ketulusan kasih sayangku

 

Aku tidak ingin menjadi dilema,

Tidak ingin menjadi beban,

Tidak ingin menjadi bayang-bayang…

Hanya itu yang bisa aku jelaskan

 

Tapi aku tidak akan pernah sepenuhnya pergi

Sama seperti kamu,

Akan tetap kubagi bahagiaku bersamamu

Sama seperti kamu,

Aku tetap ada untuk curahan hatimu

 

Aku hanya tidak bisa selalu bersamamu

Aku ingin kamu kembali hidup tanpa sentuhan kehadiranku

Aku ingin kamu pertahankan cinta,

Ingin kamu mencoba untuk setia

 

Namun bila nanti…

Tak ada lagi orang yang percaya kepadamu,

Tak ada lagi cinta tulus dalam hidupmu,

Kembalilah kepadaku

Hingga nanti kamu mengerti…

Hanya aku tempat kamu melabuhkan hati

Learning From a Kid

Tadi sore di sebuah lift Plaza Semanggi, gue ketemu sama seorang anak perempuan yang sangat lain dari yang lain. Gue yakin usianya belum melebihi sepuluh tahun. Pertama lihat, gue cuma mendapat kesan bahwa she is cute and well dressed. Tapi selama beberapa menit (atau mungkin hanya dalam hitungan detik) gue satu lift sama dia, gue langsung bisa melihat kesitimewaan dalam diri anak itu.

Awalnya gue denger dia ngomong begini saat dia baru saja masuk ke dalam lift, “Lantai 5 dong, tolong…” Suaranya itu jernih banget dan intonasinya terdengar dewasa dan penuh dengan sopan santun.

Di lantai berikutnya, ada orang dari bagian dalam lift yang ingin turun di lantai itu. Lalu dengan kesadaran sendiri, anak tadi melangkah keluar dari dalam lift supaya orang tadi bisa keluar lift dengan leluasa. Kemudian saat giliran gue dan keluarga gue yang turun dari lift, anak itu dengan sukarela menekan tombol OPEN supaya rombongan gue bisa keluar dengan tenang tanpa khawatir akan terjepit pintu lift.

Kedengarannya, apa yang dilakukan anak itu hanya hal yang sederhana. Tapi gue nggak yakin ada banyak anak seumuran dia yang memahami etika seperti itu. Jangankan anak kecil deh, yang udah tua-tua aja masih banyak yang nggak tau tata krama kok. Kita suka ogah memberi jalan kepada orang yang ingin lewat baik di dalam lift maupun di dalam kendaraan umum. Kita suka ‘lupa’ bahwa mengucapkan kata tolong, maaf, dan terima kasih adalah sopan santun yang tidak boleh kita lewatkan. Kita juga suka tidak peduli dengan kenyamanan dan keselamatan orang-orang yang tidak kita kenal.

Selain itu, bertambahnya usia juga membuat kita semakin mati rasa sama yang namanya etika pergaulan. Kita sudah tidak lagi merasa bersalah saat mengucapkan kata-kata yang tingkat bahasanya setara dengan bahasa preman. Kita juga sudah tidak peduli lagi dengan berbagai jenis tata tertib, entah itu tata tertib lalu lintas, budaya mengantri, dan lain sebagainya yang waktu TK dulu selalu diajarkan oleh sang Ibu Guru. Padahal seharusnya, sebagai manusia dewasa kita sudah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi toh faktanya, semakin dewasa justru membuat hati nurani kita semakin tumpul terhadap berbagai macam aturan di dunia ini.

Anak perempuan di Plaza Semanggi itu kemungkinan besar dididik sangat baik oleh orang tuanya. Dan semoga, kerasnya hidup tidak akan banyak mengurangi idealismenya itu. Makanya, kalo gue punya anak nanti, akan gue ajarkan dia bahwa meskipun orang lain tidak bisa menjaga kesopanannya, bukan berarti dia boleh ikut-ikutan bersikap seenaknya. Karena bagaimanapun, sopan santun adalah cara kita untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. So guys, let’s start behaving good okay?

It Was Just a Totally Past

 

Dulu, gue pernah tergila-gila sama seorang cowok yang gue kenal dari kelas 1 SMA. Gue sama temen-temen se-gank punya nama sandi ‘si Bolong’ untuk menyebut dia yang tidak boleh disebut namanya itu. Nah, saking naksirnya gue sama si Bolong ini, gue banyaaaak… banget ngelakuin hal bodoh yang suka bikin malu kalo gue inget sekarang-sekarang ini. Dulu tuh gue nggak pernah bisa berhenti ngoceh tentang dia, selalu update segala hal terbaru tentang dia, dan kayaknya seisi kelas juga tahu kalo gue itu suka sama cowok ini…

 

Padahal sih selama tiga tahun SMA gue sempet naksir dan deket sama cowok-cowok lain selain dia. Tapi intinya, selalu ada dia sampai kelulusan memisahkan kita berdua.

 

Tapi herannya ya, biar kata udah pisah kampus juga masih adaaaa aja orang yang ngira gue masih suka sama si Bolong. Padahal jelas-jelas gue udah bilang sama mereka kalo di kampus gue udah punya gebetan baru. Mungkin karena dulu gue keliatan segitu tergila-gilanya makanya mereka enggak percaya bahwa gue emang beneran udah lupa sama si Bolong.

 

Sampai beberapa hari yang lalu, Radhianty; salah satu sahabat dari bangku SMA ngomong gini sama gue waktu kita lagi nunggu pesenan ayam bakar Mas Mono.

 

“Gue inget tuh dulu elo selalu heboh banget kalo ada berita baru tentang si Bolong.”

 

Gue ngangkat alis, sok-sok bingung. “Oh ya?”

 

“Iya… contohnya waktu gue bilang gue pernah main ke rumah Bolong elo langsung heboh banget gitu!”

 

Kali ini gue beneran bingung. “Emang iya ya, elo pernah main ke rumahnya si Bolong? Emangnya ngepain elo main ke rumah dia? Elo kan nggak pernah sekelas sama dia?”

 

Radhianty malah ketawa. “Iyaaa… gue sama temen-temen sekelas gue kan pernah numpang latihan drama di rumahnya dia! Masa’ elo nggak inget sih?”

 

Gue coba inget-inget lagi. Gue minta si Radhiator untuk me-rewind ceritanya. Lalu samar-samar, kayaknya gue emang agak familiar sama ceritanya dia itu.

 

“Wah… bagus lah, Ler (Radhianty suka manggiil gue ‘Uler’), berarti elo udah beneran lupa sama si Bolong.”

 

Huahaha… ya iyalah gue udah lupa! Malah setelah dipikir-pikir lagi, yang dulu gue rasain ke dia itu tuh sama sekali bukan cinta. Mungkin lebih tepat kalo disebut sebagai Obsesi-Masa-SMA hehe. Jadi dengan ini, kepada seluruh teman-teman gue dan teman-temannya Bolong, tolong berhenti ber-cie-cie-ria. He’s soooo yesterday and I’m totatlly over it, okay? Case closed.

My Best Friend’s Wedding

Satu minggu yang lalu, entah untuk yang ke berapa kalinya, gue nonton film My Best Friend’s Wedding yang dibintangi Julia Robert. Film ini bercerita tentang seorang cewek yang ditinggal married sama sahabat cowok yang diam-diam dicintainya. Meski nggak ada statement secara eksplisit, tapi gue yakin kalo cowok ini juga pernah dan masih menyimpan perasaan khusus sama sahabat ceweknya itu. Malah, satu hari sebelum pernikahannya dengan perempuan lain, si cowok bilang begini sama sahabatnya itu, “You are the woman of my life.”

Enggak tau kenapa, gue selalu menyimpan minat khusus terhadap film tentang persahabatan antara cewek dan cowok. Mulai dari Kuch-Kuch Hota Hei, My Best Friend’s Wedding sampai yang paling baru Maid of Honor. Kenapa begitu? Mungkin karena gue termasuk orang yang gampang bertemen deket sama cowok kali ya… Lalu gimana akhir hubungan gue sama temen-temen cowok itu?

  1. Dia ngejauhin gue karena ngerasa bertepuk sebelah tangan;
  2. Dia ngejauhin gue karena dia tau gue cuma bertepuk sebelah tangan;
  3. Gue ngejauhin dia karena ngerasa bertepuk sebelah tangan; atau
  4. Gue ngejauhin dia karena tau dia cuma bertepuk sebelah tangan.

See? Nggak pernah ada yang happy ending dalam friendship gue dengan para kaum cowok…

Untuk alasan nomor 3 dan 4, gue punya argumentasi tersendiri. Untuk yang nomor 3, rasanya wajar kalo gue lebih milih menghindar dari orang yang bikin gue bertepuk sebelah tangan. Gue pengen bisa move on, dan pastinya hal itu akan sulit dilakukan kalo gue masih aja denger suara dia atau ngeliat muka dia setiap harinya. Untuk alasan yang nomor 4, gue cuma nggak mau ngasih harapan palsu sama temen cowok gue itu. Gue ini tipikal cewek yang sejak pertama kenal seorang cowok, gue bakalan langsung tahu apakah dia termasuk cowok yang mungkin atau enggak akan mungkin gue sukai. Jadi daripada dia buang-buang waktu, mendingan gue menghindar dari dia kan?

Herannya, biar udah sering terjadi berulang-ulang, gue masih aja enggak kapok temenan deket sama cowok-cowok. Bagi gue, berteman sama mereka itu semacam variasi hidup. Selalu ada kebahagiaan tersendiri saat menghabiskan waktu dengan sahabat cowok. Hanya saja sayangnya, saat pertemanan itu udah bawa-bawa urusan hati, pilihannya cuma dua: take it OR leave it.

Jadi boleh dibilang, gue nggak percaya bahwa cewek dan cowok bisa bersahabat tanpa melibatkan perasaan sama sekali. Jangan lupa bahwa kebersamaan dan rasa nyaman bisa menimbulkan rasa cinta. Jadi daripada terombang-ambing antara cinta atau persahabatan, lebih baik cepat diputuskan saja; mau dibawa ke mana hubungan pertemanan itu? Karena kalau tidak begitu, jangan aja nasib kita jadi kayak Julia Roberts yang memohon-mohon sama sang sahabat untuk membatalkan pernikahannya… Atau sebaliknya, bukan mustahil di masa yang akan datang gue membatalkan pernikahan gue dan merelakan uang puluhan juta rupiah melayang begitu saja hanya gara-gara sang best friend yang datang untuk mengagalkan pernikahan itu… (sama kayak cerita film Maid of Honor itu lho…).

Memang benar bahwa mengubah status dari sahabat menjadi pacar akan memorakporandakan segalanya begitu hubungan asmara itu putus di tengah jalan. Tapi menurut gue, yang namanya cewek dan cowok itu emang nggak akan bisa bersahabat erat untuk selama-lamanya. Karena saat kita sudah berumah tangga nanti, kita pasti dituntut untuk membatasi interaksi dengan lawan jenis selain suami dan keluarga kita kan? Jadi kalau toh ujung-ujungnya bakalan sama, apa salahnya untuk dicoba berpacaran dengan sahabat sendiri?

Tapi pasti akan lain ceritanya kalau cinta dalam persahabatan itu adalah cinta yang tidak terbalas. Ada beberapa situasi yang membuat hubungan percintaan menjadi sulit untuk diwujudkan. Misalnya, salah satu pihak ada yang sudah berpasangan dengan orang lain. Kalau sudah begitu, menurut pengalaman gue, sebaiknya kita pergi meninggalkan sahabat kita itu.

Apabila kasusnya kita bersahabat dengan pacar orang lain, saran gue jangan sampai keberadaan kita menjadi duri dalam daging bagi hubungan sahabat dengan pasangannya. Selain itu menurut gue, mempertahankan hubungan seperti ini hanya akan buang-buang waktu. Ok sekarang mereka statusnya masih pacaran sehingga kita bisa menyimpan harapan suatu hari mereka bisa saja putus. Tapi gimana kalo hubungan mereka lanjut terus sampai jenjang pernikahan? Masa’ iya kita masih mau ngarep suatu saat mereka akan bercerai? Lagipula akan sulit buat kita mencari gebetan baru apabila kita masih menyimpan rasa suka sama seseorang yang masih berada sangat dekat dari jangkauan kita. Nah, kalau sudah begitu, ujung-ujungnya kita yang rugi terus menjomblo sementara dia udah berbahagia dengan pasangannya sendiri.

Atau gimana kalo sebaliknya; justru kita berada dalam posisi yang sudah punya status in a relationship? Ini juga sama saja… Kasihan sahabat kita kalau terus menerus menyaksikan kebahagiaan kita sama orang lain. Kalau kita memang tidak berniat menjadikan dia pasangan sedangkan kita tahu betul seberapa besarnya cinta dia sama kita, maka lebih baik relakan dia pergi jauh dari hidup kita. Jangan egois dengan tetap ingin memilikinya sebagai teman curhat. Dia berhak hidup bahagia dengan orang yang mencintai dia lebih dari sekedar teman biasa. Jangan juga nekat berteman terlalu intim dengan lawan jenis saat kita sudah berpasangan dengan orang lain. Jangan sampe sahabat yang kita sayangi itu justru dihina-dina sebagai tukang rebut pacar orang lain.

Gue ngerti banget gimana enggak enaknya harus ninggalin sahabat yang udah deket banget sama kita. Mungkin reaksi seperti itu kesannya lebay, terlalu didramatisir dsb, tapi percaya deh, mengorbankan hati dengan melihat si sahabat berbahagia dengan orang lain itu jauh lebih menyakitkan daripada berusaha melupakan dan melepas dia pergi.  Jadi nggak usah takut mengakhiri persahabatan yang sudah ternoda oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan. Lagipula gue percaya bahwa pada prinsipnya, bila memang jodoh pasti ujung-ujungnya akan kembali kepada kita lagi. Lalu sampai saat itu tiba, cobalah nikmati hidup kita tanpa dia, hingga nanti kita menemukan jawaban apakah dia yang akan menggandeng tangan kita untuk menjalani hidup ini bersama-sama…

Top 14: The Most Romatic Moments Ever

  1. Waktu SMP ada cowok yang ngotot banget ngejar-ngejar gue. Saking bosennya ngeladenin dia, gue titip pesen sama orang rumah buat bilang gue nggak ada kalo si cowok itu yang telepon gue. Lalu suatu sore, ada cewek nyari gue via telepon, ngakunya sih temen sekolah gue. Tapi pas gue angkat… ternyata itu telepon dari si cowok lagi! Sambil cengengesan dia bilang sengaja minta tolong tetangganya buat bantu nelepon gue…
  2. Nomor 2-5 tentang satu cowok yang sama, yang sekelas sama gue di kelas 3 SMP. Awalnya cowok ini cuma suka nulis-nulis tentang gue setiap pagi di papan tulis atau di atas meja gue pake kapur putih. Sampe puncaknya, suatu siang waktu kita lagi ulangan Fisika, dia yang duduk di meja sebelah gue, manggil gue dengan suara pelan. Pas gue nengok ke arah dia, dengan tenang dia berbisik, “I love you.”
  3. Pernah tiba-tiba, cowok ini bilang begini ke gue, “Fa, gue horny deh kalo lagi deket sama elo.” Gue yang waktu itu masih bodoh dan nggak tau apa-apa, dengan polosnya nanya ke hampir SEMUA temen-temen gue horny itu artinya apa! Biar bikin malu, kalo diinget lagi kok jatuhnya jadi terasa romantis ya, hehe…
  4. Cowok ini terkenal pinter tapi pelit buat urusan contekan. Nah, waktu SMP tuh gue stupid banget buat urusan Mtk. Pagi itu gue belum ngerjain PR Mtk dan nggak kebagian ruang buat nyontek sama temen gue yang pinter-pinter (you know lah, meja si pinter yang dermawan selalu dikerubungin orang-orang malas setiap paginya, hehe). Saat gue lagi bingung harus gimana, si cowok ini malah menyodorkan buku bersampulnya sambil bilang, ”Salin nih, cepetan, nanti keburu belnya bunyi.” 
  5. Gue dan si cowok berencana ambil SMA di dua kota yang berbeda (gue tetep di Bekasi, dia pindah rayon ke Jakarta). Sekedar informasi, ngurus pindah rayon di jaman itu terkenal susah dan repot banget. Lalu menjelang kelulusan SMP, si cowok tiba-tiba datang menghampiri sambil menyodorkan selembar kertas, ”Nih, buat elo.” Tau nggak sih… dia ngasih gue formulir pendaftaran ke SMA yang sama kayak dia! Dia bilang kalo gue mau ambil, nanti biar dia ambil lagi formulir buat dia sendiri…
  6. Dulu pernah ada tukang ojek yang ngefans banget sama gue. Tadinya gue pikir cuma main-main, tapi makin lama dia makin kelihatan serius. Gue inget banget dia cukup sering nanya begini, ”Kita lewat Ujung Aspal aja ya? Kan Ujung Aspal lebih jauh tuh, jadi kita berdua bisa ngobrol lebih lama…”
  7. Nomor 7-9 juga tentang satu cowok yang sama, temen gue di SMA dulu. Dia punya kebiasaan aneh yaitu nolak buat salaman sama temen-temennya di hari pertama masuk setelah lebaran. Alasannya, ”Nanti juga di lapangan kita salaman.” Nah, di lebaran pertama, gue liat sendiri dia nolak salaman sama dua temen cewek yang sekelas sama kita. Tapi pas gue dateng… cowok ini malah nawarin diri buat salaman sama gue! Dodolnya di lebaran tahun ke dua, giliran gue yang ditolak salaman sama cowok aneh ini! Terus siangnya pas pulang sekolah, dia manggil-manggil gue buat ngajak salaman. Tapi karena kesel ya gue pura-pura budek aja. Bukannya nyerah, si cowok malah lari-lari ngejar gue sampe tangga, terus dia ngulurin tangan sambil bilang, ”Maafin gue ya.”
  8. Siang itu gue lagi sibuk terlibat dalam panitia lomba 17 Agustus di SMA gue. Lalu pas gue lagi capek-capeknya saat lomba masih berlangsung, di koridor nggak sengaja gue berpapasan sama cowok ini. Kemudian saat gue dan dia selisih jalan bersebelahan, tiba-tiba dia ngelus kepala gue sambil tersenyum… Yang ada gue cuma bengong sambil megangin kepala, dan terus aja memandangi punggung dia yang menjauh pergi…
  9. Waktu lagi asyik ngomongin soal makanan buat acara buka puasa bareng yang bakal diadain di rumah gue, tiba-tiba dia ngomong begini, ”Nanti elo yang masak dong, Fa. Kalo elo yang masak, gosong juga gue makan deh.”
  10. Langsung longkap ke masa di mana gue udah mulai kerja di kantor pertama, gue nerima kejutan yang tidak terduga saat lagi tugas satu minggu di kantor klien. Di kantor klien itu, si OB punya kebiasaan menulis nama pemesan makanan di atas bungkus makan siang orang ybs. Nah, pas bungkusan plus piring diantar ke meja gue, gue nemuin tulisan ini di atas bungkusan makanan itu, ”Mbak Ripa cantik.”
  11. Waktu itu halte busway Blok M rame banget. Sialnya, gue antri di posisi pinggiran sehingga saat nanti berebut masuk ke dalam bis gue beresiko jatuh ke samping kanan. Dan bener aja, waktu bisnya dateng, orang-orang di sekitar gue langsung saling dorong, tapi tadaaa… tiba-tiba cowok yang tadinya diri di sebelah kiri gue langsung pasang badan di sebelah kanan gue supaya gue bisa masuk ke bis dengan selamat? Akibatnya, pacar si cowok tadi pasang muka cemberut sambil sesekali melototin gue, hehe;
  12. No 12-14 bercerita tentang 1 cowok yang sama.  Malam itu satu helm dia hilang di parkiran motor. Jadilah cuma tersisa satu helm full face yang biasa dia pake. Dan waktu gue baru mau naik ke atas motornya, dia menyodorkan helm dia yang tinggal satu-satunya itu buat gue pakai. Baik banget kan, hehe;
  13. Karena ngotot pengen foto studio dulu sebelum dateng ke JCC buat diwisuda (waktu itu gue pikir mending langsung foto setelah make-up supaya riasannya masih bagus pas difoto), gue kebingungan cari emblem buat gue pake pas foto studio. Masalahnya kan, emblem baru dibagiin pas posesi wisuda. Nah, pas gue berinisiatif pinjem emblem ke temen cowok yang udah diwisuda beberapa bulan sebelum gue, cowok itu langsung dengan antusias menjawab begini, ”Ok, nanti malem gue cariin emblemnya terus besok pulang kerja gue anterin ke kantorlo.” Padahal ya… kantor dia itu di Pluit, kantor – klien – gue di Pancoran, dan abis itu dia harus kuliah (S2) di Senayan!
  14. Malam itu Burger King Senayan City lagi penuh banget. Meja yang tersisa tinggal meja yang masih kotor. Apesnya, gue malah ambil posisi yang mana sisi meja bagian gue justru sisi yang paling kotor. Udah tahu meja kita kotor, si mas-mas Burger King malah asyik ngebersihin meja kosong di sebelah. Si cowok inipun berinisiatif manggil mas-mas Burger King itu. Tadinya gue kira dia manggil si mas-mas buat diomelin gara-gara nggak berinisiatif bersihin meja kita duluan. Eh, nggak taunya… ”Mas, boleh pinjam lapnya?” Si mas-mas dengan bingung memberikan kain lapnya buat dipake sama cowok ini bersihin sisi meja gue yang kotor itu….

Well, gue nulis ini bukan untuk pamer apalagi mempermalukan pihak-pihak ybs. Tulisan ini justru bentuk terima kasih gue atas perhatian yang luar biasa itu… Mungkin dulu gue menanggapi dengan dingin. Tapi pada dasarnya, jujur aja perlakuan manis itu membuat gue ngerasa masih eksis sebagai perempuan, hehe. Ini bener lho, kita harus berterima kasih sama orang-orang yang menunjukkan rasa sayangnya sama kita. Karena tanpa mereka, belum tentu kita bisa hidup narsis seperti sekarang? Once again thanks buat semuanya. Siapapun yang jadi pasanganlo pasti bahagia punya pacar/suami perhatian kayak elo semua, hehe. Have a nice day!