5 Ways To My Dream Career

Entah sejak kapan, gue punya cita-cita pengen bikin business consulting company. Bukan business consulting yang canggih banget kayak BCG atau McKinsey gitu. Gue cuma pengen bantu orang-orang yang ingin mendirikan bisnisnya sendiri. Tapi masalahnya, siapa juga yang mau menggunakan jasa konsultasi dari gue, kalo gue sendiri enggak punya pengalaman di bidang business consulting? Makanyaaa, udah sejak dua tahun yang lalu gue kepengen banget kerja di business consulting group kelas kakap kayak BCG, McKinsey, atau AT Kearney juga boleh…

Sayangnya, tiga perusahaan itu sangat-sangat selektif dalam memilih karyawannya. Setelah melalui serangkaian browsing, berikut ini 4 alternatif yang bisa gue pilih untuk mengejar cita-cita itu:

Cari beasiswa S2, kalo bisa di luar negeri

Business consulting companies itu menjual gengsi. Gue sering lihat mereka buka lowongan dengan kualifikasi minimal S2, lebih disukai yang bergelar MBA (baca: lulusan luar negeri… secara gelar MBA kan udah nggak ada lagi di Indonesia!). Dan faktanya, emang ada banyak banget lulusan luar negeri yang diterima kerja di konsultan bisnis kelas kakap itu…  

Kendalanya:

Mayoritas beasiswa S2 yang ditawarkan itu ditujukan buat peneliti, orang-orang yang tidak mampu, atau orang-orang yang bekerja sosial. Nah, kalo dibilang peneliti, seumur-umur gue cuma pernah sekali bikin penelitian. Kalo dibilang tidak mampu… yaah, gue emang belum punya cukup dana buat kuliah S2 sih. Tapi masa’ iya gue mau minta surat pernyataan tidak mampu dari Pak RT?

 

Apply kerja di bidang business development

Biasanya, perusahaan menggunakan jasa business consultant buat bantu mereka mengembangkan bisnis perusahaan. Makanya, punya pengalaman kerja di bidang business development di perusahaan besar jelas lebih relevan dengan cita-cita gue jadi business consultant.

Kendalanya:

Sama aja kayak business consulting companies, perusahaan besar yang buka lowongan buat business development officer juga lebih suka sama lulusan S2…

 

Apply kerja apa aja yang penting gajinya gede

Berhubung kayaknya kuliah S2 itu syarat mutlak buat gue, jadi kayaknya gue harus cari kerja yang gaji kotornya mencapai delapan digit… Dengan pendapatan segitu, dalam sebulan gue bisa nabung banyak buat biaya kuliah gue. Masalahnya kalo gue mau kerja di konsultan bisnis bergengsi, universitas yang gue pilih buat kuliah S2 juga harus bergengsi. Dan kampus yang masuk kategori bergengsi itu biaya kuliahnya mahalll. Paling murah bisa 90 jutaan.

Kendalanya:

Gue harus rela kerja di bidang accounting/internal audit/ERP kalo mau dapet gaji segitu… Masalahnya cuma tiga bidang itu aja yang bersedia ngegaji gue sampe delapan digit (itu juga nyarinya bakalan susah banget). Pengalaman kerja gue kan emang kuat banget di tiga bidang itu. Tapiii, aduh, gue udah bosen ngaudit. Nggak gitu berminat kerja di divisi accounting. Terus gue juga udah bosen ngurusin software yang berhubungan sama ERP.

 

Terbitin novel gue

Gue pede banget sama novel gue yang ke dua (yang pertama udah ditolak sama penerbit) yang masih dalam proses penulisan ini. Gue banyak belajar dari kegagalan yang pertama, ditambah beberapa masukan dari penerbit yang nolak novel pertama gue itu. Nah, uang dari penjualan novel itu seeenggaknya bisa bantu nutupin setengah dari biaya kuliah S2 gue.

Kendalanya:

Nulis novel itu nggak gampang… Gue butuh banyak waktu buat ngetik, edit, riset, dan inquiry buat mempertajam detail cerita. Makanya, kalo fokus gue adalah novel, gue harus cari kerja yang bisa pulang tenggo setiap harinya…

 

Alternatif lainnya

Sebenernya selain kerja di business consulting company, ada satu alternatif lain supaya gue bisa mencapai cita-cita utama gue buat mendirikan perusahaan konsultasi bisnis gue sendiri… Bisa aja kan, gue mulai dari berbisnis sendiri… bikin bisnis yang banyak! Terus abis itu, semua bisnis gue jual satu per satu… terus pas gue udah mulai terkenal, gue tawarin deh, jasa konsultasi buat bisnis orang lain, hehehehe.

Dulu gue pernah baca profil cewek yang punya bisnis jadi konsultan restoran. Awalnya dia bikin restoran, terus dijual. Bikin restoran lagi, dijual lagi… Terus akhirnya, sekarang dia bikin bisnis konsultasi buat restoran gitu deh.

Kendalanya:

Gue kan nggak punya cukup modal buat buka bisnis sendiri… Mesti jual tanah warisan dulu kayaknya sih, hehehehehe.

 

I Never Write These Things in My Blog

Tadinya gue mau ngasih judul I WILL Never Write These Things in My Blog. Tapi berhubung salah satu resolusi tahun baru gue adalah never say never, jadilah kata WILL dalam judul gue hilangkan… Yang akan gue tulis di sini adalah hal-hal yang enggak pernah gue ekspos di dalam blog gue, yang memang sebaiknya, enggak gue tampilkan di public space seperti ini. Here we go with the list

 

Nama gebetan gue

Selama hampir 5 tahun menulis blog, gue cuma pernah sekali nulis nama asli gebetan gue. Itupun berani gue tampilkan hanya karena gue udah belasan tahun nggak ketemu sama dia, dan sampai sekarang pun, gue enggak tahu orangnya ada di mana. Teman gue yang juga mengenal dia sisannya tinggal satu orang aja. So I think, as long as I’m not a celebrity, it’s ok to write his name in my blog, hehehehe.

 

Proses pdkt yang sedang gue jalani

Pernah nggak, kalian menemukan blog yang isinya cerita gue abis jalan ke suatu tempat sama gebetan gue? Atau menceritakan perasaan gue yang sedang-sedang berbunga-bunga saat itu? Pasti nggak pernah… Kalo kalian klik kategori Love Story di blog gue, yang akan kalian temukan cuma curhatan patah hati dan kenangan masa lalu gue aja. Makanya, buat cowok-cowok yang identitasnya gue sebut di dalam blog, jangan geer dulu! Kalo gue udah mulai nulis cerita tentang kalian, itu justru berarti gue mulai menganggap cerita kita udah selesai.

 

Konflik sama keluarga

Enggak pernah terbesit di pikiran gue buat nulis soal konflik antara gue dengan keluarga gue. Dalam kehidupan sehari-haripun, gue cuna terbuka soal topik ini sama orang-orang tertentu aja. Karena buat gue, aib keluarga gue ya aib gue juga. Makanya kalo buat yang satu ini, gue berani bilang, gue nggak akan pernah curhat soal masalah keluarga di dalam blog gue. Kalopun suatu hari ada yang gue ceritakan, gue pastikan tujuan gue adalah berbagi soal pelajaran yang baru gue dapatkan, bukan berbagi cerita soal detail dari konflik itu sendiri.

 

Mencaci maki partner kerja gue

So far, gue masih berhasil menahan diri buat enggak mencaci maki atasan atau klien-klien gue yang menyebalkan di dalam blog. Meskipun kecil kemungkinan mereka baca isi blog gue itu, gue tetap berpendapat adalah hal yang tidak profesional kalo gue mengumbar kemarahan gue sama mereka di tempat umum. Padahal kalo dipikir-pikir, bisa muncul banyak cerita seru kalo gue langsung curhat di blog setiap kali gue lagi sakit hati sama mereka, hehehehe.

 

Rahasia orang lain

Gue enggak pernah secara gamblang mengumbar rahasia orang lain lewat blog gue. Kalaupun ada yang gue singgung sedikit, tulisan itu tentunya udah berkali-kali gue edit untuk memastikan rahasia tetap aman dan enggak akan bisa tercium oleh siapapun.

 

Topik seputar seks

Isi blog gue emang macem-macem… Mulai dari kisah keseharian gue sampe review soal buku, film, atau artikel soal kecantikan. Bukan nggak mungkin besok-besok muncul lagi kategori baru di dalam blog gue. Akan tetapi, sampai kapanpun, topik seputar seks tetap nggak akan muncul di dalam blog ini. Gue kan nggak mau blog kesayangan gue ini jadi kayak stensilan, hehehehe.

About My Blog

Salah satu hal yang paling gue suka dari tahun 2010 (dan belum gue tuliskan pada blog-blog sebelumnya) adalah meningkatnya popularitas blog gue ini. Rasanya menyenangkan begitu tahu ada banyak orang yang membaca karya tulis gue di sini. Well… gue tau dari mana kalo blog gue ini mulai naik daun? Berikut gue ambil 13 kejadian yang bikin gue jadi tahu mulai ada banyak orang yang mampir ke blog gue. Anggaplah tulisan kali ini sebagai ucapan terima kasih buat semua blog readers tercintaJ

  1. Waktu temen SMA gue bilang, “Waktu itu kita-kita ngebahas isi blog elo loh, Fa. Kita semua tau kok siapa yang elo maksud di situ, hahahaha.”
  2. Waktu tiba-tiba Puja, salah satu sahabat gue, nanya gini, “Gimana tesnya?” Tadinya gue pikir, gue emang udah cerita sama dia soal gue diundang tes kerja hari Sabtu kemaren. Tapi ternyata… dia tau soal itu dari blog gue. Dan bukan cuma sekali ini gue ngerasa heran, “Kok dia bisa tau ya?” Padahal jelas-jelas gue sendiri yang nulis soal topik itu di blog gue, hehehehe;
  3. Waktu Mitha, salah satu sahabat gue juga, ketawa-ketawa via YM ngomentarin isi blog gue, “Yang bagian ini… sumpah narsis banget lo, Fa!”
  4. Waktu Ntep, mantan temen sekantor gue, nanya gini, “Elo lagi naksir sama siapa sih, Peh? Yang di blog elo itu lho…”
  5. Waktu Dini, temen sekantor gue, cerita dia pernah baca blog gue sampe BB-nya hang, hehehehe;
  6. Waktu gue lagi celingak-celinguk di ruang kerja dan menemukan ada teman setim yang lagi buka blog gue pake laptop-nya;
  7. Waktu mendengar teman gue mempromosikan blog gue ke teman yang lain, “Elo udah baca log­-nya Ipeh belum?”
  8. Setiap kali temen-temen Facebook klik “Like” di link menuju new blog yang secara otomatis muncul di wall Facebook gue. Pernah juga beberapa kali ada teman yang langsung kasih comment di link Facebook itu;
  9. Setiap kali teman-teman gue tiba-tiba kirim YM, atau nyamperin gue cuma buat minta alamat blog… Katanya mereka udah lupa makanya nanya dulu;
  10. Waktu salah satu temen gue bilang, “Dari dulu kan mantan gue itu demen banget baca blog elo, Fa.”
  11. Setiap kali terima comment dari teman-teman yang namanya gue sebut di dalam blog ybs;
  12. Setiap kali terima comment, mulai dari pujian hingga celaan, dari orang-orang yang nggak gue kenal;
  13. Waktu gue ngelihat angka visitor di blog counter gue terus merangkak naikJ

Semua kejadian kecil di atas selalu memacu gue buat terus bikin blog baru. Saking ngototnya pengen bikin blog baru, terkadang kalo lagi stuck, gue bisa menyisihkan waktu khusus buat mikir mau nulis apa lagi. Dan bukan sekali dua kali, gue ngotot ngetik blog pake hp dalam keadaan berdiri di dalam bis! So I think Arlene, my teammate, was right: writing is my truly passion. And this is a great pleasure for me to have you guys to take a part in my life passion.

Meski begitu, terkadang gue agak khawatir sama isi blog gue sendiri. Gue takut ada yang ngerasa nggak nyaman dengan tulisan yang mengekspos orang-orang tertentu. Gue udah berusaha buat menjaga privacy orang-orang di sekitar gue. Tapi masalahnya, setiap orang mempunyai batasan privacy yang belum tentu gue pahami dengan baik.

Jadi dalam kesempatan ini, gue sekalian mau bilang… Kalo ada teman-teman yang merasa nggak nyaman, just tell me. Gue enggak keberatan menghapus tulisan-tulisan yang bikin kalian ngerasa nggak nyaman itu dari blog gue. Tapi sebelumnya, please trust me that I never have any bad intention to anyone of you. Gue cuma berpikir, ada cerita yang ingin gue bagikan, dan kebetulan, cerita itu melibatkan kalian. Dan blog gue bakalan miskin posting kalo gue harus merahasiakan begitu banyak hal dalam hidup gue. Lagipula, blog gue enggak akan sama menariknya kalo gue harus lebih berhati-hati daripada yang udah gue lakukan selama ini. Where is the fun of the blog right?

 

I Want To Have a New Life

 

Banyak teman dekat gue yang bilang, gue ini selalu punya hal-hal menarik untuk diceritakan. Mereka bilang, my life has never been flat. Selalu aja ada hal-hal seru, lucu, sedih, menyebalkan, mendebarkan, dan mencengangkan yang terjadi dalam hidup gue. Kata orang lain, hidup gue seru. Tapi kalo kata gue, my life is full of trouble, trouble, and trouble again. Makanya pas pertama kali denger lagunya Lenka yang Trouble is a Friend rasanya udah kayak nemuin belahan jiwa gue banget gitu, hehehe.

Abisnya emang bener loh. Entah kenapa, dari dulu, di manapun gue berada, suka ada aja berbagai macam hal yang enggak terjadi sama temen-temen gue tapi malah terjadi sama gue. Misalnya waktu SMP. Gue pernah heboh ngejar-ngejar cowok anak kuliahan, terus pas lagi patah hati sama si cowok kuliahan itu, tiba-tiba muncul playboy sekolah yang heboh ngejar-ngejar gue. Pas si playboy udah capek ngejar-ngejar gue, eeeh, malah gantian gue yang suka sama dia! Serasa serial drama Korea gitu nggak sih? Hehehehe.

Terus gue pernah dimusuhin abis-abisan sama cewek yang sekelas sama gue. Gosipnya sih, dia sebel sama gue karena mantan pacarnya naksir sama gue. Padahal sampe sekarang, gue nggak pernah tuh, jadian sama mantan pacarnya itu… Si cewek nyebelin sampe dengan teganya berusaha ngadu domba gue sama temen-temen se-gank gue segala! Terus apesnya, di salah satu organisasi sekolah, gue kalah dalam jumlah suara sehingga harus terima nasib: dia jadi ketua, gue jadi wakilnya! Kadang gue ngerasa cerita gue waktu jaman SMA itu bakal seru banget kalo dijadiin cerita komik, hehehehe.

Lalu waktu kuliah gue pernah cari masalah sama dosen paling angker di kampus gue. Jadi ceritanya, karena nggak puas sama nilai UTS yang dia kasih ke gue, gue nekad ngajuin protes nilai ke dosen angker itu. Eeh, dia nggak terima terus lantas ngejelek-jelekkin gue ke kelas-kelas lain deeh… Bener-bener proses protes nilai yang melelahkan! Udah gitu apesnya, menjelang sidang skripsi beredar isu kalo gue bakal disidang sama dosen itu! Tapi berkat bantuan beberapa orang yang sangat luar biasa, gue nggak jadi disidang sama si dosen angker itu, hohohoho.

Kemudian setelah kerja… Hmm, kasih tau nggak yah? Masih termasuk hangat soalnya, hehehe. Setelah kerja juga sama aja lah. Ada beberapa konflik yang entah kenapa cuma menimpa gue doang, entah itu di kantor yang lama atau kantor yang sekarang. Mulai dari ketiban kerjaan yang sebenernya belum levelnya gue, ribut-ribut sampe heboh sama atasan, konflik seru sama temen setim, sampe yaah, ada juga love affairs yang nggak pernah happy ending itu, hehehe. Yang ini gue juga pernah kepikiran: kisah gue di kantor pasti bakalan seru banget kalo gue bikin jadi novel! Tapi itu sih nanti-nanti aja lah, gue bikin novelnya bertahun-tahun lagi aja. Siapa tau nanti bisa jadi sarana nostalgia buat temen-temen sekantor gue juga, hehehehe.

Meski hidup gue emang selalu berwarna, entah kenapa, belakangan ini hidup gue, khususnya di EY, mulai terasa datar. Passion gue untuk kerja di sini rasanya udah habis. Ditambah temen-temen yang biasa gue jadiin tempat curhat, temen ngobrol, atau partner gosip, udah pada resign satu per satu. Semuanya terlalu adem ayem sehingga gue kembali berpikiran, waktu gue di kantor ini udah habis… udah waktunya moving forward.

Sekitar sebulan yang lalu, gue lihat ada lowongan kerja yang pas banget buat gue. Perusahaannya termasuk bergengsi, lokasi kantornya di gedung BEJ juga (soalnya gue ngefans banget sih, sama gedung BEJ, hehehehe), dan boleh dibilang, semua kualifikasinya pas banget sama gue. Sempet kepikir buat apply, tapi karena berbagai macam pertimbangan, akhirnya gue putusin buat nggak apply ke manapun sampe bulan Maret nanti. Kemudian satu minggu lalu, gue lihat perusahaan itu memperpanjang iklannya di Jobs DB. Sempet kepikiran lagi, tapi nggak jadi lagi. Lalu tiba-tiba Senin kemaren, gue diundang langsung sama HRD perusahaan itu buat ikut tes di sana hari Sabtu ini!

Setelah gue pikir-pikir… yaah, siapa tau, ini kerjaan emang berjodoh sama gue. Jadi dicoba juga nggak ada salahnya lah yaa. Dan entah kenapa, setelah tau bakal ada tes hari Sabtu nanti bikin gue jadi ngerasa excited. Sebenernya itu bukan pekerjaan yang benar-benar gue inginkan siih. Tapi rasanya, gue udah nggak sabar pengen dateng ke sana buat ikutan tesnya! Nggak sabar pengen lihat muka-muka saingan gue kayak gimana, interior kantornya kayak gimana, dan mulai berpikiran… akan seperti apa hidup gue kalo nanti jadi pindah ke sana?

Intinya, gara-gara tawaran dari perusahaan itu, gue jadi sadar… gue emang membutuhkan suasana baru. I had a great life at EY, but I can’t wait to see my new life in a new place. Jadi kalo kemaren-kemaren niat resign gue masih bisa ditarik-ulur, maka kali ini udah nggak bisa lagi! Paling lambat bulan April, gue harus resign dari sini. Gue bener-bener pengen memulai cerita baru yang siapa tau bisa bikin temen-temen gue jadi tercengang lagi, hehehehe.

Well, katanya sih pamali yah ngasih tau orang-orang mau tes di suatu tempat karena belum tentu diterima. Tapi kalo gue sih enggak percaya tuh sama hal-hal kayak begitu. Di dua perusahaan tempat gue kerja, gue juga udah berkoar-koar jauh hari sebelum gue resmi diterima kok. Malah, kalo banyak yang tau, nanti banyak yang ikut seneng juga kalo akhirnya gue diterima!

Tapi buat perusahaan yang manggil gue tes itu, gue masih bakal pikir-pikir dulu sih. Banyak yang harus gue tanyain dulu sama HRD dan user-nya soal detail dari posisi ini. Lagiaaan yaa, ampun deh, gue kok kepedean amat sih? Ikut tesnya juga belum, hehehehe. Yah intinya sih, gue cuma mau membagi rasa senang gue karena hari Sabtu ini, gue akan mulai melangkah menuju sesuatu yang baru dalam hidup gue. Makanya, mohon doanya yaa, guys! Kalaupun bukan di perusahaan itu, semoga setelahnya gue akan menemukan perusahaan lain yang paling baik buat gueJ

 

Notes: Persis sebelum gue posting blog ini, tiba-tiba gue dapet e-mail… Ya ampun, ada satu perusahaan lagi ngundang gue buat ikut tes di perusahaan mereka! Padahal gue nggak pernah apply ke sana juga loh. Perusahaan gede juga, udah lama listed di BEJ. Tapi sayangnya gue sama sekali nggak tertarik sama posisi yang ditawarin. Tapi yang jelas, ini bener-bener pertanda kalo gue emang udah harus cari kerjaan baru, sekarang juga, hehehehe.

 

Because I’m Not Good At Saying Goodbye

 

Mungkin emang nggak kelihatan dari luar, tapi sebenernya gue paling benci sama yang namanya perpisahan. Udah gitu parahnya lagi, gue bukan tipe orang yang pintar mengucapkan selamat tinggal. Berikut ini gue ambil tiga cerita perpisahan yang bisa memberikan gambaran betapa payahnya gue saat harus mengucapkan selamat tinggal. Siap-siap tissue yah, guys, hehehehe.

 

 

Pindah Rumah ke Bekasi

 

Waktu naik ke kelas 4 SD, gue terpaksa pindah sekolah gara-gara ikut ortu pindah rumah dari Jakarta ke Bekasi. Awalnya gue menolak keras untuk pindah rumah. Udah sampe ngambek dan nangis-nangis tapi tetep enggak pernah digubris sama kedua ortu gue. Sedih banget rasanya harus pisah sama temen-temen sekolah. Harus pisah pula sama si Nur, tetangga depan rumah sekaligus teman sepermainan selama delapan tahun lamanya.

 

Hari terakhir di SD Mambaul (SD gue di Jakarta), gue ikut nyokap ngambil raport di sekolah. Waktu itu, bukannya peluk-pelukan ngucapin selamat tinggal ke teman-teman sekelas, yang gue lakukan cuma tersenyum kecil sambil dua kali melambai kepada teman-teman di dalam kelas. Abis itu, gue balik badan lalu pergi meninggalkan sekolah sambil menggandeng tangan nyokap. Sepanjang perjalanan pulang gue cuma bisa diam… Begitu sampe di rumah, gue masuk kamar, kunci pintu, lalu nangis-nangis di pojok tempat tidur sambil memeluk bantal, sendirian…

 

Waktu itu di dalam benak gue, terlintas bayangan Kiki, sahabat terbaik yang selalu ngebelain gue kalo lagi berantem sama Puput. Terlintas juga bayangan Puput yang selalu nggak mau kalah sama gue itu… Dan pastinya, ada juga bayangan Wanda; cinta monyet gue selama tiga tahun lamanya.

 

Masih mending sama temen-temen sekolah gue sempet dadah-dadah. Sama Nur, temen sepermainan yang dulu tinggal persis di depan rumah gue itu, gue sama sekali enggak pernah pamit sama dia di hari kepindahan gue. Siang itu, gue cuma bisa menatap dengan sedih pintu rumahnya Nur yang tertutup rapat.

 

 

Kelulusan SMP

 

Jujur aja, nggak ada hal lain yang bikin gue sedih dari perpisahan SMP kecuali  fakta bahwa gue bakalan pisah sama gebetan gue selama duduk di bangku kelas 3. Awalnya gebetan gue itu ngotot ngajak gue masuk ke SMA yang sama kayak dia. Tapi karena begitu banyak pertimbangan, gue putusin buat tetap mengambil SMA pilihan gue sendiri.

 

Sejak pagi harinya, gue udah tau bahwa hari itu akan jadi hari terakhir gue ketemu sama dia. Bukan hari pengambilan ijazah atau pesta perpisahan, melainkan hari pengambilan berkas pendaftaran SMA yang masih dibantu oleh pihak sekolah. Waktu itu, gue yang ngambil SMA di rayon Bekasi bisa pulang terlebih dahulu, sedangkan dia yang ngambil SMA di rayon Jakarta masih harus menunggu sampai sore.

 

Setelah selesai urusan pendaftaran, gue langsung beranjak pulang, sendirian. Lalu di parkiran depan sekolah, gue ketemu sama dia yang lagi duduk sendiri di atas motornya. Sekolah dalam keadaan sepi, di parkiran depan sekolah itu cuma ada gue dan dia doang. Dari atas motornya, dia cuma nanya, “Udah selesai?”

 

Gue cuma mengangguk pelan… Sebenernya ada banyak hal yang pengen gue bilang sama dia. Gue pengen bilang terima kasih atas semua kebaikan dia ke gue… Dan gue juga pengen minta maaf kalo ada tingkah laku gue yang bikin dia sakit hati.

 

Tapi ternyata, yang gue lakukan cuma tersenyum kaku, sambil bilang, “Duluan ya…” Abis itu, gue langsung berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan gerbang SMP gue… Cuma begitu aja, perpisahan gue sama satu-satunya cowok yang pernah bener-bener gue suka di sekolah itu.

 

Perpisahan SMA dan Wisuda S1

Ada banyak hal terjadi selama tiga tahun mengenyam pendidikan di bangku SMA. Meskipun tiga tahun di sana bukan tiga tahun terbaik sepanjang hidup gue, gimanapun, sama kayak orang-orang pada umumnya, selalu ada sesuatu yang tidak terlupakan yang hanya bisa terjadi semasa SMA.

 

Acara perpisahan SMA 5 ditutup dengan penuh haru. Waktu itu semua orang saling bersalaman, banyak juga yang berpelukan sambil tangis-tangisan. Tapi gue inget banget, waktu itu enggak ada satu orang pun yang gue peluk, nggak ada pula air mata menetes dari kedua mata gue. Gue cuma bersalaman sambil membalas senyum teman-teman gue yang ada di sana.

 

Hal yang sama terjadi lagi waktu wisuda S1. Selesai diwisuda, gue cuma salam-salaman sambil saling mengucapkan selamat. Nggak ada acara peluk-pelukan atau tetesan air mata. Malah kata adek gue, selama salaman dan cipika-cipiki itu, gue terkesan buru-buru sehingga pipi gue pun enggak sampe nempel sama pipi temen-temen gue.

 

 

Mungkin kesannya gue bersikap dingin seperti itu karena gue enggak ngerasa kehilangan sama sekali. Tapi sebenernya, gue sengaja bersikap begitu justru supaya enggak ngerasa kehilangan semakin dalam. Buat gue, berpelukan, bersalaman sambil cipika-cipiki, atau foto berdua sama orang yang mau pergi itu bikin perpisahan jadi terasa semakin nyata. Malah jujur, meski pinter banget ngegombal lewat tulisan, gue enggak akan pernah bisa mengucapkan kata-kata yang sama manisnya lewat mulut gue.

 

Misalnya waktu Deliana, senior pertama gue di EY, memutuskan untuk resign. Kebetulan di hari terakhir dia di kantor, gue lagi ditugasin di Pekanbaru. Jadilah gue cuma bisa ngirimin dia SMS yang isinya ngungkapin kesedihan gue karena dia maru resign dan gue nggak bisa hadir di hari terakhirnya dia. Tapi ternyata, waktu gue pulang dari Pekanbaru, dia masih sekali lagi mampir ke kantor buat urusan clearance. Jadi sebenernya, gue ada di sana waktu hari terakhir dia di kantor.

 

Waktu itu, temen gue yang lain nyalamin Deliana sambil berpelukan. Sedangkan gue, begitu ngelihat dia, gue cuma bilang, “Del… Nih oleh-oleh buat elo.” Setelah beres urusan oleh-oleh, gue langsung pergi ninggalin ruangan karena ada urusan urgent di tempat lain. Sama sekali nggak kelihatan kalo satu hari sebelumnya, gue kirim SMS buat si Odel yang isinya bikin mata gue sedikit berkaca-kaca.

 

Perpisahan dengan teman-teman dekat bakalan terasa lebih menyebalkan kalo kabar soal perpisahan itu justru gue dengar dari mulut orang lain. Gue pernah dua kali mendengar kabar resign dua temen yang gue anggap deket justru dari mulut manajer gue. Gue kaget banget… tiba-tiba manajer gue bilang, hari itu mereka baru aja menyodorkan surat resign. Padahal, gue ini termasuk sering ngobrol sama mereka, dan sebelumnya mereka sama sekali enggak pernah bilang soal rencana resign dalam waktu dekat itu.

 

Mereka mau resign aja udah bikin gue sedih. Dan mendengar mereka mau resign dari mulut orang lain, itu dia yang paling bikin gue sedih. Rasanya kecewa banget orang yang gue kira deket sama gue ternyata enggak menganggap gue lebih istimewa daripada temen-temen dia yang lainnya. Kalo meminjam istilah seorang teman, gue ini jatuhnya jadi kayak commoners aja; tau soal kabar itu bareng sama orang lain yang enggak begitu akrab sama mereka.

 

Makanya sejak itu gue janji sama diri gue sendiri… Kalo nanti gue resign dari EY atau dari perusahaan-perusahaan gue sesudah itu, gue pastikan setidaknya, teman-teman terdekat gue tahu terlebih dulu soal rencana itu. Gue nggak mau mereka ngerasain apa yang gue rasakan: ngerasa jadi commoners atau ngerasa enggak dipercaya sama teman gue sendiri.

 

Bulan ini Nova, teman dekat gue di EY yang selalu jadi ‘tong sampah’ gue kalo lagi benci sama kerjaan, bakal resign. Menyusul di bulan depan, Nana, teman curhat yang nampung begitu banyak rahasia gue, juga bakal resign. Di bulan yang sama, ‘temen sebangku’ dan partner STC gue selama low season kemaren, si Aga juga bakal resign. I hate to say this… gue benci banget sama perpisahan, tapi dalam 30 hari ke depan, gue bakalan tiga kali jadi ‘panitia perpisahan’!

 

Jadi sekarang udah jelas lah ya, alasan kenapa tiba-tiba gue nulis blog sedih kayak begini… Gue harap sih, blog ini udah cukup buat jadi pengganti pelukan hangat dari gue (males banget yah dengernya, hehe), dan pengganti atas tidak terucapnya kalimat kayak, “Yaaah, elo jangan resign deh.” Atau, “Gue pasti bakal kangen sama elo.” Atau, “Kalo nggak ada elo, kantor jadi sepi.”

 

You know what guys… Suara gue pasti bakal gemeteran kalo sampe harus ngucapin kalimat-kalimat kayak gitu. Jadi sudahlah, berhubung gue emang cuma pinter ngegombal lewat tulisan, please accept this blog as a warm good bye from me. And please make sure that our good bye is not forever!

 

Buat Nova, kalo nanti elo mampir ke Jakarta, jangan lupa kontak gue! Nanti juga gue bakal mampir ke rumahlo seandainya gue ada keperluan di Palembang.

 

Terus buat Aga, jangan lupa elo punya janji makan siang bareng gue setelah resign buat interogasi lanjutan, hehehehe.

 

Lalu buat Nana… semoga akhirnya di tempat baru nanti elo bisa mendapatkan kehidupan baru yang selama ini elo dambakan.

 

Simply wish you guys all the best! Ciao.

 

Pencapaian Kecil Sepanjang Tahun 2010

This is my first blog in 2011! Masih dalam suasana tahun baru, kali ini gue ingin sharing pencapaian-pencapaian kecil gue sepanjang tahun 2010, yang belum sempat gue tuliskan di blog sebelumnya. Happy reading and happy new year again!

 

Berat badan naik 6 kg!

Awalnya kenaikan berat badan gue masih nggak stabil, bisa naik-turun dalam kisaran 3-5 kg. Tapi menjelang akhir tahun, kenaikan berat badan gue mulai stabil dan tetap naik sedikit demi sedikit. Per 31 Desember 2010, berat badan gue total naik 6 kg selama tahun 2010! Semua ini berkat makan malam dua kali (satu kali menjelang Maghrib, satu kali lagi setelah pulang kerja) ditambah minimal satu jenis cemilan dalam satu hari. Kalo kata temen gue, porsi makan sebanyak itu bisa bikin dia jadi babon, hehehehe. Thanks to my damn difficult job which makes me get hungry easily!

 

Rajin minum air putih.

Udah sejak jaman kuliah gue sering dinasehatin buat lebih banyak minum air putih. Soalnya gue ini tadinya cuma minum air putih kalo haus doang. Sebagai gambaran, satu botol Aqua ukuran sedang bisa awet nangkring di meja kerja gue selama dua-tiga hari! Tapi gara-gara belakangan ini gue sering sakit tenggorokan, akhirnya gue ikutin saran temen-temen buat lebih banyak minum air putih. Dan bener aja lho… Akhir tahun kemaren gue batal sakit tenggorokan setelah gue lawan dengan minum berbotol-botol air putih! Sekarang gue bisa refill botol minum gue berkali-kali dalam sehari.

 

Punya beberapa temen ngobrol baru.

Gue kenal banyak orang baru sepanjang tahun 2010. Beberapa di antaranya, nggak disangka-sangka langsung cocok bertemen sama gue. Misalnya Luzy, senior di EY yang tiba-tiba ditugasin buat kerja satu tim sama gue. Awalnya gue bingung… bukannya bakal lebih efektif kalo gue kerja bareng orang yang udah kenal sama gue? Tapi nggak disangka-sangka, akhirnya gue sama Luzy bukan cuma cocok jadi partner kerja, tapi juga cocok buat jadi temen ngobrol. Ada pula pendatang-pendatang baru di EY yang langsung cocok jadi partner gosip gue, hehehe. Yang paling aneh, ada satu cewek yang sebelumnya gue enggak pernah nyangka bakalan bisa asyik chatting berjam-jam sama dia! Ternyata berteman dengan lebih banyak otang itu rasanya menyenangkanJ

 

Semakin menghargai persahabatan yang udah lama gue miliki.

Selama 2010, entah kenapa ada lebih banyak orang yang suka nge-judge gue seenaknya. Terkadang, emang suka ada situasi yang bisa bikin gue kelihatan jahat. Dan sebenarnya hal yang sama juga pernah terjadi antara gue dengan sahabat-sahabat gue. Tapi bedanya dengan orang lain, mereka selalu berusaha memahami alasan di balik tindakan atau ucapan gue. Kalaupun pada akhirnya mereka enggak ngerti-ngerti kenapa gue sampe bertindak seperti itu, mereka tetap berusaha buat percaya bahwa pada dasarnya, gue bukan tipe orang yang suka dengan sengaja menyakiti perasaan orang lain. Beda banget sama orang-orang yang langsung ngasih gue cap hitam tanpa berusaha untuk klarifikasi terlebih dahulu! Intinya gue jadi sadar… orang yang bisa menerima gue apa adanya itu sangat hard to find.

 

Lagi, semakin menghargai persahabatan yang udah lama gue miliki.

Ada satu hal lagi yang bikin gue seolah baru menyadari betapa istimewanya sahabat-sahabat gue di tahun 2010 kemarin. Gue baru sadar kalo selama ini, apapun yang terjadi, dan meskipun mereka enggak selalu sependapat sama gue, pada akhirnya mereka akan tetap mendukung gue. Mereka selalu berusaha untuk percaya bahwa apapun yang gue lakukan sama hidup gue, itu semua udah melewati pertimbangan yang panjang. Kalaupun ternyata nasehat mereka yang gue abaikan itu terbukti benar, mereka enggak bakalan menertawakan atau berpuas diri. Mereka tau banget… my life, my risk, and all I need from them is  only a friendly support. Sayangnya, enggak semua orang bisa bersikap supportif seperti itu.  

 

 

Akhirnya gue tahu apa yang gue cari dari seorang cowok.

Ini bukan sesuatu yang gue banggakan, tapi faktanya, entah udah berapa kali gue tiba-tiba menghindari cowok yang lagi dekat sama gue. Awalnya gue juga bingung, kenapa seperti apapun tipe cowoknya, ujung-ujungnya gue selalu aja punya alasan buat ‘kabur’. Sampai akhirnya di tahun 2010, gue berhasil menemukan benang merahnya: gue selalu ‘kabur’ karena ada hal-hal yang bikin gue jadi ragu sama cowok-cowok itu. Gue ngerasa, daripada nanti gue yang ditinggalin, mendingan gue duluan yang ninggalin mereka. Kesimpulannya, sekarang gue jadi tahu bahwa yang gue cari bukan cuma sekedar cowok yang bisa bikin gue jatuh hati, tapi juga cowok yang bisa bikin gue yakin bahwa apapun yang terjadi, dia akan tetap berada di samping gue. Dan itu harga mati.

 

My Life Journey in 2010

 

Boleh dibilang, masa-masa paling indah sekaligus masa-masa paling buruk dalam hidup gue terjadi bergantian sepanjang tahun 2010. Dalam blog ini, akan gue rangkum perjalanan hidup gue, bulan per bulan, selama 2010.

Januari

Bertekad untuk membuka lembaran baru dalam hidup gue… Patah hati selama dua tahun itu udah kelamaan! Emang susah sih pastinya. Tapi untungnya waktu itu gue lagi pusing banget sama kerjaan di kantor sehingga nggak lagi sering-sering mikirin cowok itu.

 

Februari

Kerjaan di kantor makin bikin stres! Banyak konflik sama si bos sampe gue sempet nangis-nangis di pojokan mushalla, hehehehe. Kabar baiknya, bulan ini gue berhasil mewujudkan impian gue buat beli apartemen pribadi. Apartemen murah meriah siih. Itu juga statusnya masih ngutang ke bank dan belum mulai dibangun pula! Tertunda deh impian gue tinggal sendiri di apartemen pribadi:(

 

Maret

Tiba-tiba naksir cowok baru… Padahal gue kenal cowok ini udah lumayan lama loh. Tapi ada satu kejadian kecil, di suatu sore yang indah (cieee, hehehe), yang tiba-tiba bikin gue dengan labilnya jadi naksir sama dia. ABG banget yah gue, hehehehe.

 

April

Setelah proses hunting kerjaan dari bulan Februari sampe Maret, pas gue udah dapet kerjaan baru di bulan April, eeh, tiba-tiba gue malah berubah pikiran! Kalo lagi kesel sama perjalanan hidup gue selanjutnya, kadang gue suka nyesel, kenapa sih dulu gue nggak jadi resign? Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kalo waktu itu gue jadi resign, gue akan melewatkan begitu banyak hal yang pada akhirnya menjadikan 2010 sebagai tahun yang berkesan buat gue.  

 

Mei

Kerja santai… Kayaknya waktu itu hidup gue lagi indah-indahnya.

 

Juni

Tiba-tiba gue jadi betah kerja di EY. Kerja keras gue di engagement audit yang sampe bikin gue nangis-nangis itu juga ternyata enggak sia-sia, hehehehe.

 

Juli

Mimpi buruk seolah udah mulai memainkan ‘intro’-nya… Rasa happy yang sebelumnya sering menghampiri terancam musnah.

 

Agustus

Patah hati habis-habisan. Gue enggak pernah nyangka patah hati yang satu itu bakalan sebegitu beratnya… Well, you don’t know what you’ve got until it’s gone right? But at the end, I realize that in fact, since the beginning, I’ve got nothing at all, never

 

September

Pergi berlibur ke Phuket! It’s hard to describe how happy I was. Yang jelas, gue jadi tau… ternyata ya  begitu itu rasanya kalo kita mengalami yang namanya a dream comes trueJ Pulang dari Phuket gue bertekad… masa-masa ‘berkabung’ harus udah lewat. Udah waktunya gue kembali menikmati hidup gue sendiri.  Kemudian di akhir September, gue juga dapat kenaikan pangkat ke level Senior 1.  

 

Oktober

Banyak hal yang bikin gue ngerasa dilema sepanjang Oktober. Proyek moving on gue makin lama makin nggak konsisten di bulan ini. Kabar baiknya, sejak bulan ini gue jadi ngerasa tambah deket sama temen-temen setim gue di kantor. Gue sampe sering banget ngerasa, the best part of working at EY is my teammates.

 

November

Gue sakit lumayan serius yang sampe sekarang enggak ketahuan apa penyebabnya. Fyi, gue baru bener-bener ngerasa sembuh dari sakit aneh itu seminggu belakangan ini aja loh. Lama banget kan? Oh ya, di bulan November ini gue kembali berniat buat resign. Di saat yang sama, ada masalah menyebalkan di internal EY. Justru di bulan kelahiran gue ini rasanya hidup gue terasa sangat-sangat menyebalkan.

 

Desember

Di awal bulan, setelah bernegosiasi sama bos-bos, gue setuju buat nunda resign sampe bulan April. Kemudian akhir tahun ini malah gue isi dengan kerja gila-gilaan. Dan anehnya gue cukup menikmati sih. Pekerjaan yang tadinya gue pikir bakal susah setengah mati ternyata bisa gue kerjakan perlahan tapi pasti.

 

Overall, dengan segala up and down, the sweetest dreams and the worst nightmares itu, anehnya gue malah ngerasa, 2010 is the most amazing year I’ve ever had. Banyak hal yang gue pelajari sepanjang tahun ini. Ada banyak kenangan baru, teman-teman baru, serta kejutan-kejutan yang tidak pernah gue duga sebelumnya… Sampe gue suka ngerasa enggak nyangka ada segitu banyak hal yang bisa terjadi hanya dalam waktu satu tahun saja.

Hari ini hari terakhir di 2010. Dan pastinya, gue juga ingin membuat resolusi tahun baru 2011. Nah, kalo tahun lalu gue bertekad untuk membuka lembaran baru, maka kali ini, lembaran baru saja nggak akan cukup. Gue ingin mulai ‘menulis buku’ yang baru. Rasanya gue udah bosan sama si buku lama yang isinya cuma itu-itu aja dalam setiap lembaran kertasnya.

Gue enggak tahu siapa dan apa saja yang akan mengisi buku baru gue itu. I will never say never this time. It could be everything or everyone around me, nobody knows. One thing for sure, I want to let the bad things happened in 2010 stays in 2010. No more regret, no more wondering why, and no more wishing that I could turn back the time.

Mengutip isi status Facebook salah satu teman gue, I also can’t wait to see what 2011 will bring to meSo happy new year 2011 everyone! Thanks for keep visiting my blog this year. Hope I can still write interesting  blog for all of you in 2011. Have a nice celebration!

Pelajaran Hari Ini

 

Hari ini gue ngobrol via telepon sama seorang kenalan yang baru selesai menjalani operasi pengangkatan tumor otak. Dari awal dia bilang halo, gue udah ngerasa ada yang ganjil sama suaranya Lalu di tengah pembicaraan, orang ini nanya sama gue, “Suaranya kedengeran jelas nggak?”

Gue bilang, “Hmm, agak kurang jelas sih. Tapi gue masih bisa nangkep kok. Sinyalnya jelek nih kayaknya.”

Terus dia ketawa… Dia bilang, emang suara dia yang lagi nggak beres. Gue sempet terdiam… Ternyata benar, ada yang berubah dari suara orang ini. Obrolan berlanjut beberapa menit. Gue sempat khawatir gue berbicara terlalu cepat. Tapi ternyata, dia masih bisa memahami semua penjelasan gue barusan.

Setelah gue mematikan sambungan telepon, gue berpikir… Dia ini orang pertama yang gue kenal yang menjalani operasi otak. Lalu pernah ada juga, teman gue yang menjalani operasi pengangkatan tumor payudara.

Kadang gue berpikir… Pastilah mengerikan menjalani operasi sebesar itu. Dan tentu saja, pastilah sulit untuk bisa bekerja maksimal kalau sampai terhalang penyakit seberat itu.

Gue pun jadi teringat sama omongan seorang teman baru-baru ini. Waktu itu ceritanya gue memuji kebaikan hati seorang teman yang sama-sama kita kenal. Lalu teman ngobrol gue itu menjawab begini, “Ya jelas lah dia orangnya baik… Dia dari kecil nggak pernah hidup susah! Coba kalo kayak gue dulu, buat diri sendiri aja serba susah, boro-boro kepikiran buat nolongin orang lain.”

Benang merahnya, memberi saat kita berlebihan itu mudah. Memberi saat kekurangan, itu yang sulit. Memberikan pertolongan saat hidup kita sedang adem ayem juga mudah. Memberi pertolongan saat hidup kita sedang banyak dirundung masalah, itu yang sulit. Dan mengejar prestasi saat tubuh sehat itu seharusnya mudah. Mengejar prestasi saat sedang sakit keras, itu yang sulit.

Intinya, seringkali kita tidak menyadari bahwa kemudahan yang kita miliki adalah anugerah yang patut kita syukuri. Tidak perlu berlebih, bisa sampai pada titik cukup pun, itu sudah anugerah. Dan seringkali, kita baru menyadari betapa hidup kita dilimpahi kemudahan saat melihat betapa sulitnya upaya orang lain untuk melakukan atau untuk memiliki apa yang biasa kita lakukan atau apa yang sudah kita miliki.

Gue hari ini jadi ngerasa malu sama diri sendiri… Bulan lalu gue sakit sampe hampir masuk rumah sakit, ngeluhnya udah kayak orang mau mati. Padahal itu baru hampir masuk rumah sakit loh, bukan bener-bener dirawat apalagi dioperasi segala.

Gue juga jadi teringat sama keluhan-keluhan gue yang lainnya:

Keluhan gue tentang kenapa gue sering banget ngalamin yang namanya patah hati. Gue pernah sampe flashback dan menemukan fakta bahwa I have no year without a heart broken since the last 12 years! Padahal patah hatinya gue mah masih cemen lah. Nggak kayak orang lain yang diselingkuhin pacarnya, dideketin cowok cuma karena duitnya, atau yang lebih parah, abis dipukulin sama pacarnya sendiri!

Terus keluhan gue tentang pekerjaan… Bosen sama kerjaan lah. Pengen kerjaan yang gajinya lebih gede lah, supaya bisa cepet-cepet nyicil mobil dan nggak perlu berdesakan di bis tiap hari… Belum lagi saat harus berurusan sama orang-orang nyebelin yang soknya setengah mati! Padahal… yaah, sejelek-jeleknya kerjaan ini, toh dari pekerjaan ini juga gue mulai bisa mewujudkan impian gue, satu per satu, perlahan tapi pasti…

Masih banyak keluhan kecil gue lainnya. Pembantu di rumah yang belakangan ini kalo beresin kamar suka kurang bersih dan bikin gue jadi suka batuk-batuk. Apartemen yang belum juga dimulai pembangunannya. Berat badan yang susah banget dinaikinnya. Jerawat yang susah banget diberesinnya. Sampe keluhan kenapa sih mata gue mesti minus segala?

Seringkali gue sadari, saat gue sibuk mengeluhkan kehidupan gue sendiri, gue jadi lupa untuk sekedar memperhatikan orang-orang di sekitar gue. Misalnya penyakit cuek gue belakangan ini. Cuma gara-gara tumpukan masalah sepele, curhatan orang lain yang biasanya gue dengarkan baik-baik, kali ini cuma numpang lewat di kuping gue doang!

I will not say that I will never complaining again. Karena sebetulnya, mengungkapkan keluhan adalah salah satu cara gue buat mengurangi beban pikiran. Tapi seenggaknya, hari ini gue seperti diingatkan untuk menysukuri hal-hal yang sebelumnya gue anggap biasa-biasa aja. Karena apa yang kita anggap biasa, bisa jadi dianggap luar biasa sama orang lain di sekitar kita. Dan gue harus selalu ingat bahwa gimanapun, gue bukan orang yang paling menderita sejagat raya.  

Pikunnya Gue Hari Ini

 

Tadi pagi, begitu gue naik Metromini menuju kantor klien, ada ibu-ibu pake jilbab negur gue. Pas gue nengok, dia langsung tanya, “Masih inget nggak?”

Gue dengan polosnya bengong depan dia, mencoba mengingat-ingat… siapa ya? “Hmm…”

“Dari Accurate Semanggi,” tukas si ibu-ibu sambil tersenyum ramah.

“Oh iya…” kata gue sok tau, padahal gue masih enggak inget kapan gue pernah kenalan sama ibu-ibu itu. Tapiii, karena dia bilang dari Accurate Semanggi, orang ini pastilah staf marketing dari Accurate, kantor gue yang lama. Dan pasti, gue pernah kenalan sama orang ini waktu Accurate ikutan pameran di JCC sekitar dua tahun yang lalu.

“Kamu Riffa kan?”

Gue nyengir… Ya ampun, dia bahkan masih inget nama gue! Akhirnya kita pun ngobrol-ngobrol. Dia nanya gue sekarang kerja di mana, dan gue juga basa-basi nanya dia mau ke mana.

Enggak lama kemudian, ibu-ibu itu turun satu halte lebih dulu daripada gue. Dan jujur, sampe dia turun, gue tetep enggak inget pernah kenalan sama dia! Jadi jangankan namanya, sama wajahnya pun gue ngerasa bener-bener enggak familiar. Udah gitu dodolnya gue sempet bilang, “Iya maaf, saya lupa soalnya sering banget ketemu sama orang baru sih…”

Jelas-jelas alesan gue itu bodoh banget… Si ibu itu kan kerja di divsi marketing yang pastinya dia udah ketemu orang-orang baru berkali-kali lipat lebih banyak daripada gue. Duh… bener-bener mengerikan daya ingat gue ini. Masa’ daya ingat gue yang umurnya belum sampe 25 kalah tajam sama si ibu yang menurut tebakan gue berusia sekitar 30 tahun itu sih? Dia bukan cuma inget nama gue doang, tapi dia juga inget dulu di Accurate gue satu angkatan sama siapa aja! Dia bahkan masih bisa ngitung berapa lama gue kerja di Accurate loh. Payah ah gue ini… Jadi nggak enak!

Begitu ibu-ibu yang sampe akhir gue lupa tanya ulang siapa namanya itu turun dari bis, gue baru perhatiin kalo penampilan dia tuh asli modis banget. Dia pake manset warna krem, dress berkerah warna cokelat muda, obi melingkar di pinggang, ditambah sepatu dan tas besar yang asli keren banget.

Dalem hati gue jadi malu… Hari ini gue cuma pake kemeja bergaris yang biasa banget, sendal datar yang udah gue pake dari jaman kuliah, sama tas CK kesayangan yang gue beli setahun yang lalu. Hmm, jangan aja si ibu itu mikirnya, “Nih anak udah pindah kerja tetep nggak nambah keren! Masih naik Metromini pula…” Hehehe…

 

 

Diversities Could be Cute

Salah satu hal yang gue syukuri dari kuliah di Binus adalah mengajarkan gue tentang hidup rukun antar umat beragama. Bukan cuma sekedar rukun, gue juga bersahabat erat dengan 2 dari sekian banyak teman kuliah yang beda agama. And Christmas always remind me how cute are together, hehehehe. Nah, dalam blog kali ini, gue mau sharing betapa perbedaan bisa jadi sesuatu yang cute to be remembered.

 

Kartu Natal dari Zi

Waktu tahun pertama kuliah, beberapa hari menjelang Natal, gue dikasih kartu natal buatan sendiri sama si Zi. Kartunya berupa gulungan kecil yang dimasukkan ke dalam kantung kecil warna pink. Kartunya cantik banget! Ngelihat muka gue yang bingung karena dikasih kartu Natal, waktu itu Zi bilang gini, “Abisnya kan enggak adil kalo cuma elo doang yang enggak gue kasih cuma gara-gara agamalo lain sendiri…” Sampe sekarang, kartu Natal itu masih gue simpan dengan baik di dalam laci lemari gueJ

 

Nungguin gue shalat

Gue lupa persisnya waktu itu gue, Natalia, dan Puja mau pergi ke mana. Yang jelas waktu itu sebelum pergi, gue harus shalat dulu di mushalla kampus. Lalu dengan manisnya mereka duduk di teras mushalla sambil nungguin gue shalat. Hal kecil yang menyentuh banget kalo menurut gue.

 

Nyobain pake jilbab

Puja sama Natalia pernah nginep satu malam di kosan gue. Dan waktu itu, malem-malem si Puja iseng pengen nyobain pake jilbab! Lucu juga kalo diinget-inget. Oh ya… belum lama ini, ada juga temen sekantor gue (Katolik) yang nyobain pake mukena sama jilbab gue di kamar hotel. Terus abis itu dia foto-foto dan berkomentar, “Kok kalo gue yang pake jilbab keliatan jelek yah?”

 

Ucapan lebaran

Sejak lebaran pertama gue di Binus, gue udah terima banyak banget SMS lebaran dari teman-teman kampus yang non-Islam. Pertama kali terima SMS lebaran dari mereka, gue suka cekikikan sendiri. Soalnya ada beberapa yang kirim SMS-nya pake bahasa Arab segala! Gue jadi bingung sendiri… mereka dapet template SMS lebaran itu dari mana yah? Hehehe.

 

Ucapan hari raya selain Idul Fitri

Tiap tahun, selalu ada aja temen non-Islam yang juga ngirim ucapan selamat buat gue di hara raya Islam selain Idul Fitri. Misalnya, Idul Adha atau bahkan Tahun Baru Islam! Masalahnya yah, justru temen-temen gue yang sesama Islam cuma ngirim ucapan selamat kalo Idul Fitri doang loh… Lucunya, waktu ada temen Budhist yang ngucapin selamat Idul Adha, iseng-iseng pernah gue bercandain dia, “Eh, emangnya elo tau, Idul Adha itu hari raya apa?” Terus kurang-lebih, dia dengan entengnya jawab, “Hari makan kambing bukan sih?”

 

Food with pork

Teman-teman gue di Binus suka dengan baik hatinya ngasih tau gue rumah makan mana aja yang makanannya mengandung babi. Soalnya kadang, yang punya rumah makan suka enggak bilang soal itu. Temen-temen gue bisa tau karena mereka tau banget rasa minyak babi itu kayak gimana. Gue selalu salut banget sama teman gue yang seperti itu. Mereka makan pork tapi tetap sangat menghargai prinsip gue untuk enggak menyentuh apapun yang berhubungan dengan itu. Thanks!

 

Puja dan daging sapi

Kalo gue nggak boleh makan babi, Puja (Hindu) enggak boleh makan daging sapi. Tapi masalahnya, kadang-kadang dia suka sungkan nanya ke pelayan resto soal makanan yang mau dia pesan itu ada unsur sapinya apa enggak. Jadilah gue atau Natalia yang dengan sukarela nanyain soal sapi ke pelayan restonya…

 

Jokes ala kita

Biasanya, sebelum memulai sesuatu yang sulit (misalnya kalo mau UAS), Puja suka ngomong gini ke gue, “Doain gue ya, Fa!” Terus gue bilang, “Emang bisa? Doanya ke Tuhan yang mana nih? Kan beda, hehehe.” Puja ngebales, “Bisa kok! Mereka juga kan temenan kayak kita.”

 

Diversities among us

Partner traveling gue ke Phuket September kemaren itu berasal dari suku dan agama yang beda-beda. Natalia (Chinese – Yehuwa), Puja (Indiahe – Hindu), dan gue (Sunda – Islam). Nah, suatu sore pas kita lagi belanja di Jungceylon, ada salah satu pedagang yang kalo diterjemahin nanya beigni ke kita bertiga, “Kalian asalnya dari mana sih? Ada Arab (sambil nunjuk gue), India, dan Cina. Lengkap ya!” Yup, and we’re proud of itJ