When I Refuse to Say Hello

Semalem, adek gue Yantri cerita soal betapa betenya dia kalo ada teman yang suka menjadikan gebetan/pacar masa lalu sebagai lelucon. Hal ini mengingatkan gue sama beberapa cowok di masa lalu gue, yang karena begitu banyak alasan, hubungan gue sama mereka berakhir kandas di tengah jalan. Atau lebih tepatnya, hubungan itu berakhir sebelum benar-benar sempat untuk dimulai.

Yang paling gue benci dengan pola hubungan seperti itu adalah sulitnya untuk gue benar-benar lepas dari bayang-bayang mereka. Entah kenapa dalam kisah-kisah masa lalu itu, orang-orang di sekitar selalu menganggap gue yang dulu lebih jatuh hati sama cowok-cowok itu, bukan sebaliknya. Dan herannya selalu ada saja orang yang mengira gue masih menyimpan harapan sama cowok-cowok itu! Padahal gue-nya sih udah move on, tapi justru orang-orang di sekitar gue itulah yang seolah belum beranjak dari masa lalu. Mungkin maksudnya cuma bercanda, tapi come on, apa enggak ada jokes lain yang lebih up to date?

Pernah dalam salah satu acara, katakanlah semacam reuni, gue asyik ngobrol sama salah satu cowok di masa lalu itu. Awalnya dia duluan yang memulai, dan gue pun terbawa suasana asyik ngobrol sama dia soal hidup kita masing-masing. Ketika suasana sedang sangat-sangat menyenangkan, ada seorang teman yang menyela… Dengan entengnya orang itu menggoda seolah gue ini masih naksir berat sama si masa lalu!

Kalau si masa lalu menanggapinya dengan santai, gue juga enggak akan sewot. Tapi yang cukup sering terjadi (bukan cuma sama satu masa lalu itu aja, ada juga beberapa yang lainnya), ekspresi wajah si masa lalu langsung berubah jadi tidak enak. Dari yang tadinya dia duluan yang mendekat untuk say hello lantas langsung berganti jaga jarak seolah gue ini virus menular yang mematikan. Ada pula yang sampai enggak mau diambil foto satu take bareng sama gue (padahal fotonya juga berame-rame, bukan foto berdua doang!) cuma gara-gara bete baru aja digodain sama teman-teman soal masa lalu gue dengan dia. Sebelnya lagi, yang ngambil foto belum bilang selesai, eeeh, dia-nya udah ngeloyor pergi duluan. Kan nggak sopan!

Kalau sudah begitu, dari yang tadinya hati senang langsung berubah jadi berang. Dari yang tadinya gue sempat berpikir akhirnya hubungan gue dengan si masa lalu bisa membaik sebagai teman berubah lagi menjadi pemikiran bahwa sampai kapanpun, keadaan tidak akan pernah kembali sama layaknya gue dan dia masih sama-sama murni berteman saja.

Akhirnya sekarang, saat ada acara yang sejenis, gue lebih memutuskan untuk menghindar. I prefer to avoid saying hello. Bukan masih menyimpan dendam atau yang semacamnya, gue cuma menghindari terulangnya rasa sakit hati yang selalu gue rasakan setiap kali ada teman yang usil melihat kedekatan gue dengan si masa lalu. Daripada muncul lagi komentar usil yang malah bikin dia seperti alergi sama gue, ya mendingan gue jaga jarak aja dong?

Gue tau hal ini berpotensi bikin gue kelihatan ketus, judes, tidak ramah dsb dsb. Tapi gue lebih memilih melindungi perasaan gue dengan cara seperti itu. If he doesn’t know how to keep my feeling then it’s me the only one who has to protect my own feeling from getting hurt. Memang sangat disayangkan, dari yang tadinya pernah dekat malah jadi seperti musuh bebuyutan. Tapi apa pula sebetulnya yang patut disayangkan kalau si masa lalu itu sendiri seolah tidak peduli bahwa sikap dingin yang dia tunjukan itu berpotensi bikin gue jadi sakit hati? Padahal sumpah deh… gue juga enggak selalu bisa ngerti apa sebab godaan usil seperti itu masih saja suka terlontar dari mulut teman-teman gue. So please don’t blame me for those jokes!

Ada kalanya gue ngerasa, andai dulu gue tahu akan seperti ini jadinya, maka gue akan lebih memilih untuk menahan perasaan gue saat itu. Enggak akan gue biarkan, atau gue berikan kesempatan untuk hubungan itu berkembang lebih dari sekedar teman. Karena gue akui, saat mereka melangkah pergi, gue bukan hanya kehilangan seseorang yang gue suka, tapi gue juga jadi ngerasa kehilangan seorang teman. Seorang teman yang biasa gue bagi rahasia-rahasia kecil gue, teman ngobrol mulai dari hal penting sampai nggak penting, teman yang selalu mengulurkan tangannya tanpa pernah gue minta…

Tapi ya sudahlah. Yang sudah berlalu biarkan saja berlalu. Untuk yang selanjutnya, gue akan belajar menahan perasaan gue sendiri. Gue nggak akan biarkan gue jatuh hati sama seseorang yang belum jelas apa maunya. Kehilangan teman selalu menjadi kenangan buruk yang sulit untuk dilupakan, dan gue tidak akan membiarkan hal yang sama terulang lagi di masa yang akan datang. Tidak akan pernah.

Hope the Holiday Will Make Me Feel Better

Entah kenapa, sekitar seminggu belakangan ini gue ngerasa apa yang biasa disebut orang lain sebagai galau. Bermula dari suatu sore di mana-mana tiba-tiba gue ngerasa super bad mood, bosan, dan yang paling parah, gue jadi males ngomong. Buat orang seperti gue, kalau masih suka ngomel-ngomel, itu hal biasa. Tapi kalo udah sampe males berdebat, males ngomong, itu yang udah bahaya… Apalagi kalo udah sampe jarang senyum dan jarang ketawa… bener-bener udah masuk kategori bad mood tingkat tinggi.

Dulu gue pernah bilang sama salah satu temen gue di EY. Definisi bahagia buat gue itu simpel aja: asalkan dalam satu hari gue bisa sekali aja tertawa senang, berarti hari itu adalah hari yang bahagia buat gue. Dan ya… belakangan ini, gue jarang punya alasan untuk tertawa. Belakangan ini, entah kenapa, gue jarang sekali memiliki hari yang bahagia.

Udah sebulan lebih, gue menghabiskan belasan jam dalam sehari, dari Senin hingga Minggu, hanya untuk bekerja. Setelah semua kerja keras itupun, nyatanya report gue tetap saja selesai terlambat. Pernah di suatu malam, tiba-tiba gue ngerasa capek… Gue jadi mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang gue kejar dengan jam kerja yang menggila seperti itu? Dan apa sebetulnya yang bisa gue dapatkan terutama kalau pada akhirnya, pekerjaan gue tetap saja selesai terlambat…

Bekerja lembur sebetulnya bukan hal baru buat gue. Tapi kerja lembur yang terasa membebani, kerja lembur yang sebetulnya tidak ikhlas gue jalani, serta kerja lembur yang sering membuat gue ngerasa sendiri… semua itu benar-benar hal yang baru terjadi dalam hidup gue. Sehingga kadang, gue jadi ngerasa kangen sama suasana kerja lembur waktu masih di EY… Kerja lembur yang sesekali diselingi acara curhat atau sekedar ngobrol ngalor ngidul sampe pernah, berjam-jam gue dan teman gue lewati hanya untuk ngobrol ini-itu, sampai tanpa terasa, pagi hari sudah datang menjelang…

Sebetulnya gue juga enggak yakin… apakah semua rasa tidak nyaman ini berasal dari pekerjaan. Dan rasanya agak-agak tidak pantas kalau gue menyalahkan semua ini kepada pekerjaan. Gue punya pekerjaan yang baik, prestasi yang baik terutama untuk ukuran orang yang baru berusia 25, gue juga punya bos yang meskipun tidak sempurna, gue bisa bilang dia itu bos terbaik yang pernah gue punya… Belum lagi teman-teman yang makin lama terasa makin dekat sama gue, yang suka tiba-tiba nraktir gue mulai dari es jeruk, es kelapa muda, Come Buy, sampe makan bimbimbap di Han Gang, serta teman-teman yang sabar menghadapi kejudesan gue dan seorang teman yang kebaikan hatinya suka bikin gue terkejut…

Ada seorang sahabat yang bilang… mungkin gue hanya perlu istirahat. Mungkin gue hanya merasa lelah setelah harus menyelesaikan begitu banyak masalah sejak hari pertama gue mulai bekerja. Atau mungkin, gue hanya butuh ketetapan hati untuk meninggalkan apa yang saat ini sudah gue miliki untuk sesuatu yang lebih baik lagi…

Jadi singkatnya, gue butuh lepas sejenak dari pekerjaan gue. Butuh bersenang-senang, supaya setelah itu, gue bisa berpikir jernih… tentang apa yang terbaik buat gue, serta tentang apa yang sebenarnya saat ini gue ingini…

Kebetulan hari Senin gue dan keluarga akan pergi liburan. Nggak jauh-jauh, cuma ke Singapura 3 hari 2 malam. Tujuan utamanya sudah pasti Universal Studio. Dan seperti biasa, gue selalu menyukai amusement park. Terlepas dari amusement park, gue selalu menyukai aktivitas traveling. Gue suka berada di tempat baru, melihat suasana kota yang jauh berbeda dengan Jakarta, suka berfoto ria di tempat-tempat yang sebelumnya hanya gue lihat di lembar buku atau layar kaca… Dan semua itu, selalu membuat gue ngerasa bahagia.

So yes… I hope that the upcoming holiday, will definitely make me feel better. Happy holiday for me then 🙂

Working As an Auditor Vs Company Accountant

Pernah punya pengalaman sebagai auditor dari level staff sampai senior, serta pengalaman sebagai company accountant di level supervisor sampai manager, rasanya udah bikin gue jadi cukup eligible untuk membuat tulisan ini. Tabel perbandingan di bawah ini gue buat murni berdasarkan pengalaman pribadi. Hal yang sama persis belum tentu pernah terjadi untuk orang lain terutama orang-orang yang bekerja di jenis perusahaan yang berbeda. Tulisan ini gue buat bukan untuk membandingkan mana yang lebih oke, atau lebih menyenangkan, atau lebih menjanjikan… Tulisan ini hanya sekedar input bagi para alumni jurusan akuntansi yang sedang bingung memilih karier, atau mungkin, buat para auditor yang ingin ganti haluan menjadi company accountant. Selamat membaca!

 

Auditor

Company Accountant

Cuma punya satu maha-deadline: rilis audit report. Hampir setiap hari, selalu saja ada deadline baru, dan hampir semuanya deadline penting!
Selama gue kerja di EY, belum pernah satu kalipun gue berhasil rilis report persis atau lebih awal dari tanggal yang sesuai dengan timetable. Hal itu sih udah biasa, dan enggak pernah berdampak negatif sama karier gue. Telat submit report = you’re so dead… bisa berefek negatif ke KPI gue.
Boleh datang terlambat… yang penting dalam satu hari, jam kerja minimal tetap 8 jam. Nggak boleh datang telat… walau malam harinya habis kerja lembur.
Sebagian besar auditor pasti mengalami masa low season setiap tahunnya, biasanya di pertengahan tahun. Tidak pernah ada istilah low season, tapi tetap ada istilah peak season dari bulan Desember sampai bulan Februari tahun berikutnya.
Nggak usah pusing-pusing mikirin training… sudah ada yang mengatur urusan ini. Harus mikir sendiri… butuh training apa dan di mana?
Punya budget cuma dalam bentuk chargeable hours saja. Enggak usah pusing-pusing mikirin strategi untuk menghemat uang perusahaan. Harus pandai mengatur uang perusahaan… serta dituntut untuk berpikir bagaimana caranya agar perusahaan mendapatkan laba sesuai target.
Jarang terima e-mail tentang pekerjaan… Dulu waktu jamannya BB belum populer, inbox e-mail kantor lebih banyak diisi dengan e-mail lucu/unik/mengharukan daripada e-mail yang berhubungan dengan pekerjaan. Ada banyak e-mail yang harus dibalas! Makin tinggi jabatan, makin banyak e-mail.
Bekerja dalam tim yang relatif kecil. Meskipun kerja di KAP besar, dalam satu tim audit untuk satu perusahaan pasti jumlah auditornya tidak terlalu banyak. Perusahaan gue hitungannya perusahaan menengah atas yang sedang berkembang pesat… Ukuran timnya pun relatif lebih besar. Belum lagi harus kerja bareng orang-orang dari divisi lain juga.
Bekerja berdasarkan peraturan baku… tentang bagaimana praktek yang seharusnya. Harus fleksibel… Kenyataannya, praktek itu jauh lebih sulit daripada sekedar teori.
Kurang memiliki pemahaman tentang operational details. Auditor yang tiba-tiba mau bikin perusahaan sendiri pasti masih harus belajar banyak hal baru. Jadi banyak tahu hal-hal kecil, termasuk tips dan trik, tentang menjalankan sebuah perusahaan.
Pakai accounting system hanya sebagai viewer atas report yang sudah jadi. Pakai accounting system untuk kegiatan operasional sehari-hari. Harus benar-benar paham seluk beluknya supaya saat terjadi masalah, bisa dicari pemecahannya.
Saat akan rilis report, akan ada banyak reviewer, mulai dari senior, manager, sampai partner. I am the only one reviewer. Setelah itu, direksi cuma sebagai user yang terima beres. Pasti ada review dan koreksi dari CFO, tapi tidak mendetail.
Kalau bekerja di KAP besar, terkadang kenaikan gaji bisa jadi kejutan besar. Kenaikan gaji setiap tahunnya tidak terlalu signifikan, kecuali kalau baru dapat promosi. Bisa naik 10% saja sudah termasuk bagus banget lho.
Jam kerja relatif gila… Bisa lewat dari jam 12 malam setiap harinya selama peak season. Lebih jarang kerja lembur, kecuali saat periode reporting.
Agak sulit kerja jadi auditor sambil ambil kursus, kuliah, atau ikutan social community. Lebih fleksibel untuk cari aktivitas lain di luar pekerjaan.

Lately Working Madness

Bulan November 2011 sampai Februari 2012 benar-benar jadi bulan yang super-duper bikin gue capek dan kewalahan. Gimana nggak capek kalo dalam satu waktu gue harus ngurus 2 company sekaligus? Harus handle auditor di 2 company sekaligus, harus ngurus 2 report sekaligus, harus mecahin masalah di 2 company sekaligus… Satu kantor di Gunung Putri Bogor, satu lagi di kawasan CBD Pluit…

Here is the summary of my lately working madness

  1. Untuk pertama kalinya selama 4 tahun gue bekerja, baru sekarang ini gue mengalami dalam satu kali automatic refresh, bisa muncul 3 sampai 10 e-mail baru sekaligus di inbox gue. Dan yang paling menyebalkan, hampir semua e-mail itu sifatnya urgent, harus langsung dibalas!
  2. Saking banyaknya kerjaan (yang disela telepon/YM/e-mail yang bertujuan tanya-tanya soal kerjaan, atau disela orang-orang yang masuk ke dalam ruangan buat tanya-tanya soal kerjaan juga), sampe saat makan siang pun, gue tetep makan sambil menatapi layar laptop. Thank God that woman is multitasking;
  3.  Tiap hari pulang tengah malam itu sih udah biasa lah ya… Tapi yang luar biasa adalah, besokannya gue harus bangun jam setengah 5 pagi supaya bisa sampe kantor on time jam 8 teng! Gila yaa… waktu gue masih kerja di EY, kalo malemnya lembur, besokannya gue boleh dateng siang. Sayangnya di kantor baru, si bos dengan santainya bilang begini, “Ya ini kan bukan EY…” Udah susah payah bangun pagi, nyatanya sepanjang tahun 2011 kemarin, gue dapet rangking 3 buat urusan keterlambatan 😦
  4. Kalo lagi harus ngantor ke Pluit a.k.a harus bangun dan berangkat lebih pagi dari rumah di Bekasi, gue selalu mandi dengan mata masih setengah tertutup. Begitu masuk mobil… zzz, gue tidur lagi di jok tengah sampe keluar tol Jembatan Tiga. Lalu saat dijemput malam harinya, begitu masuk mobil, gue langsung nyari bantal dan zzz… tidur lagi sampe mobil udah diparkir di garasi rumah;
  5. Sebetulnya gue paling pantang tidur di kantor di depan atasan, tapi kali ini, berhubung udah nggak tahan, begitu jam istirahat, gue pernah dengan cueknya tidur dalam posisi duduk. Padahal yaa, kalo di kantor Pluit, gue duduk satu ruangan sama direktur gue lho. Ngelihat gue kecapekan, si bos malah ketawa, “Ya udah, saya udah mau keluar nih, kamu tidur aja cari posisi yang enak, kan saya enggak lihat.” Sambil ngomong begitu, si bos sambil ganti lampu terang ke lampu yang lebih redup… katanya supaya tidur gue lebih nyenyak;
  6. Kalo lagi super capek, kaki gue jadi suka kram di malam hari. Biasanya, kram itu bakal bikin gue meringis dan nggak bisa tidur sampe kramnya hilang. Tapi sekarang, karena capeknya udah melewati batas, ketika kram itu kumat di saat gue lagi tidur, gue malah mikir gini, “Bodo amat deh kram lagi, gue ngantuk!” Dan zzz… gue tidur lagi sampe pagi;
  7. Entah kenapa belakangan ini, kalo lagi capek dan kurang tidur, suhu tubuh gue terasa lebih hangat daripada biasanya… Nggak selalu pusing atau apa, ya cuma terasa hangat aja. Aneh…
  8. Selama kerja di EY, gue berhasil mempertahankan prinsip untuk enggak nyentuh kerjaan di hari Minggu. Begitu resign dari EY, gue bertekad kali ini, hari Sabtu pun gue enggak akan menyentuh pekerjaan. Tapi nyatanya, jangankan hari Sabtu, hari Minggu pun gue masih nongkrong depan laptop sampe tengah malem buat nyelesain kerjaan yang seolah nggak ada habisnya itu 😦
  9. Makin capek, bawaannya makin sensiii. Untunglah gue punya teman-teman kerja yang pengertian. Kalo gue udah mulai ngoceh, mereka malah suka ngisengin gue supaya enggak terlalu tegang. Tapi pernah juga pas gue udah super-duper capek setengah mati, saat marah bukannya ngoceh, gue cuma menghela napas dengan muka cemberut, abis itu buang muka atau balik badan lalu beranjak ke tempat lain. Seems like I’m more dangerous when I’m silent, hehehehe;
  10. Jadi suka emosi sama temen-temen yang suka nggak bales message gue dengan alasan sibuk. Lho, dikiranya cuma mereka doang yang lagi sibuk kerja? Masalahnya ya, justru tipe orang yang begitu itu yang paling suka heboh kalo gantian gue yang telat bales. Kesannya kok kayak orang paling penting sedunia gitu…
  11. Gue kerja sampe nggak sempet gunting kuku, potong rambut, belajar nyetir… tapi kalo buat urusan belanja, herannya tetep selalu ada waktu tiap minggunya, hehehehehe;
  12. Status YM jadi busy melulu, bahkan di hari Sabtu dan Minggu… Kadang kalau lagi benar-benar dikejar deadline, gue sampe enggak punya waktu buat ganti logo available ke logo busy di YM yang automatic sign in setiap kali laptop gue nyala itu…
  13. Berkat super sibuk kayak gini… ortu jadi pengertian. Tiap hari gue pergi kerja masih dianter-jemput dan enggak pernah disuruh buru-buru belajar nyetir sendiri, hohohohoho, menyenangkan 🙂

Dunia Yang Tidak Pernah Bisa Gue Mengerti

Dulu, gue pernah mengenal sepasang suami-isteri yang terlihat sangat serasi, harmonis, dan romantis. Tipe pasangan yang membuat siapapun akan merasa iri hanya dengan melihat kebersamaan mereka. Suami yang sukses dengan perusahaannya sendiri, istri yang cantik dan berpenampilan menarik, anak-anak yang sangat lucu dan menggemaskan… Si suami juga terlihat sangat menyayangi anak-anaknya. Terlepas dari sikapnya yang relatif cool dan cowok banget, saat sudah berhadapan dengan si anak, dia akan langsung menghujani anaknya itu dengan ciuman dan pelukan. Gue hanya pernah mengenal pasangan ini sebentar, tapi gue langsung merasa tersentuh. Benar-benar tipe rumah tangga yang sangat ideal.

Seiring berlalunya waktu, tiba-tiba gue mendengar kabar yang sangat mengejutkan: pasangan ini sudah berada di ambang perceraian! Kemudian ceritanya, saat ini mereka sedang berusaha untuk rujuk meski belum kembali tinggal dalam satu atap yang sama.

Terus terang gue heran… kenapa si istri sampai mengajukan gugatan cerai? Si suami kelihatan cinta banget kok, sama istrinya itu… Dia juga kelihatan seperti ayah yang baik. Dan kalau menurut feeling gue, dia juga bukan tipe suami atau ayah yang suka memukuli anak-istrinya. Apalagi dengan segala kekayaan yang dimiliki sang suami… sangat tidak mungkin kurangnya materi menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Jadi kenapa si istri sampai meminta cerai?

Beberapa bulan kemudian, gue kembali mendengar kabar mengejutkan soal sang suami. Kabarnya, dia baru saja membujuk seorang teman perempuan yang sedang berkujung ke Jakarta untuk minum di klub malam. Sepulang dugem, si cowok dengan baik hatinya mengantar teman gue itu kembali ke hotelnya. Bukan cuma mengantar sampai depan lobi, melainkan terus mengantar sampai depan kamar. Kemudian gilanya, si cowok ini bilang dia kepingin nginep di kamar hotel teman cewek gue itu!

Untunglah temen cewek gue ini masih cukup sadar untuk bilang tidak. Tapi memang dasar buaya darat… Setelah ditolak mentah-mentah, dia malah nekad pesan kamar di sebelah cewek itu! Tidak lama kemudian, dia mulai mengetuk pintu kamar si cewek, berkali-kali, memohon-mohon supaya diperbolehkan masuk oleh teman gue itu.

Semalaman, si cewek jadi merasa ketakutan. Esok paginya, tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung mengambil penerbangan pertama untuk pulang ke daerah asalnya…

Akhirnya gue pun tahu dengan sendirinya, alasan kenapa sang istri menuntut cerai suami yang seolah tampak sempurna itu.

Mendengar semua itu, membuat gue kembali berpikir tentang sebuah dunia yang tidak pernah bisa gue mengerti. Dunia di mana orang-orangnya membiarkan minuman keras, atau bahkan pil-pil ekstasi, mengambil alih alam sadar mereka, di mana one night stand sudah menjadi satu hal yang biasa, yang bahkan di mana membayar perempuan sewaan pun sudah bukan lagi menjadi hal yang luar biasa.

Apa sebetulnya yang membuat mereka, orang-orang dari dunia itu, sulit sekali melepaskan diri dari hal-hal yang lebih banyak merugikan daripada menguntungkan diri mereka itu?

Misalnya pasangan yang gue ceritakan di atas. Kenapa begitu sulit buat sang suami meninggalkan kebiasaan buruk yang jelas-jelas telah mengancam kelangsungan rumah tangganya? Bagaimana bisa dia rela menukar istrinya yang cantik dan anak-anak yang dicintainya dengan kesenangan satu malam seperti itu? Kalau memang semua itu hanya pelarian atas ketidakbahagiaan dengan rumah tangganya, lalu kenapa dia masih berusaha rujuk dengan istrinya? Dan anehnya lagi, kalau memang ingin rujuk, kenapa masih belum mengubah kebiasaan jeleknya?

Gue di sini tidak ingin bersikap menghakimi… Sekali lagi gue hanya ingin mempertanyakan, siapa tahu lewat blog ini gue mendapatkan jawaban, hal apa yang membuat mereka sangat sulit lepas dari godaan dunia yang nyaris tidak ada gunanya itu? Karena enggak usah lah bawa-bawa soal dosa, agama, dan api neraka segala macam. Asalkan mau berpikir jernih, mestinya semua orang bisa melihat dengan sendirinya bahwa segala kenikmatan itu hanyalah kenikmatan yang menjerumuskan. Hanya kenikmatan sesaat, yang akan menghilang seiring berlalunya malam.

Gue pernah punya seorang teman yang bilang… dia merasa bahagia dengan dunianya yang seperti itu. Kebahagiaan yang tidak bisa gue mengerti, yang juga sangat gue ragukan kebenarannya, terutama karena gue mengenal orang ini dengan sangat baik. Teman gue itu pastilah tidak tahu bahwa di luar sana, masih ada banyak berbagai jenis kebahagiaan yang lebih menentramkan. Di luar sana, ada orang-orang yang berbahagia dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang berbahagia dengan pekerjaannya, agamanya, atau dengan persahabatan dan keluarga yang dimilikinya. Dan sebetulnya, kebahagiaan seperti itulah yang sifatnya lebih kekal dan murni. Karena kebahagiaan yang sejati, adalah kebahagiaan yang tidak merugikan diri.

Terkadang kita sulit membedakan antara kesenangan dengan kebahagiaan. Jadi meskipun masih tidak mengerti, bolehlah gue menyimpulkan… orang-orang itu memang bersenang-senang, tetapi soal bahagia, gue yakin itu belum tentu. Jadi marilah kita lihat kembali… apakah yang selama ini kita sebut sebagai kesenangan, merupakan suatu kebahagiaan.

New Things I’ve Just Learned at Work

  1. Jangan terlalu senang saat bos memberikan kita semua yang kita butuhkan… karena sabetulnya mereka sedang berharap kita akan melakukan semua yang mereka inginkan;
  2. Kalau kita bekerja hanya untuk uang, maka hati kita tidak akan pernah tenang. Sewot saat tahu ada teman yang baru mendapat promosi/kenaikan gaji, atau sibuk menerka-nerka berapa gaji per bulan yang didapatkan teman yang baru pindah kerja…
  3. Sebetulnya kerja di mana pun juga ujung-ujungnya pasti sama saja: pasti ada konflik dan pasti harus berurusan dengan orang-orang yang menyebalkan. Dulu gue pernah punya bos yang sangat-sangat menyebalkan, kalo sekarang, yang harus gue hadapi malah klien-klien yang sangat menyebalkan;
  4. Sifat asli seseorang itu baru akan kelihatan saat dia sedang kepepet… terutama dalam hal-hal yang berurusan dengan uang dan pekerjaan;
  5. Ternyata memang benar, bisa berteman akrab dengan rekan kerja atau klien itu bukanlah hal yang mudah. Sifat jelek seseorang jadi rentan muncul dalam dunia kerja, dan bisa jadi, hal tersebut bukanlah hal yang akan mudah untuk dimaafkan;
  6. Semakin tinggi jabatan, semakin banyak cobaan… Believe it or not, akan semakin banyak pula orang yang enggak suka sama keberadaan kita. Enggak heran kalau hanya sedikit sekali atasan di level manajer ke atas yang disukai oleh anak buahnya;
  7. Jadi si anak emas, atau jadi employee of the year itu tidak 100% menyenangkan. Bahkan orang-orang yang tidak kita kenal pun bisa saja berusaha menjatuhkan kita dari belakang;
  8. Sehebat apapun karier yang dimiliki seseorang, jauh di dalam lubuk hatinya, tetap masih tersimpan rasa tidak aman akan masa depan karier-nya. Jabi sebetulnya tidak ada orang yang tidak punya rasa takut, yang ada hanyalah orang yang berani melawan rasa takutnya dan tetap tampil percaya diri;
  9. Boleh bangga jadi karyawan muda yang berpestasi, tapi jangan cepat merasa puas sehingga lupa untuk mengembangkan diri… Jangan sampai kelak, gantian kita yang dikalahkan oleh karyawan baru yang usianya jauh lebih muda;
  10. Tidak ada atasan yang sempurna. Tetapi, atasan yang membuat kita merasa tidak berharga bukanlah atasan yang bisa dimaafkan. Carilah tempat yang mengapresiasi kontribusi kita terhadap perusahaan, bukan perusahaan yang membuat kita merasa berkecil hati;
  11. 3 kesalahan yang paling sering dilakukan oleh atasan: terlambat menyadari value yang dimiliki anak buahnya, terlambat memberikan benefit yang sepadan untuk karyawan terbaiknya, serta terlambat memberikan uluran tangan terhadap karyawan yang sedang berada di bawah tekanan hebat;
  12. 1 kesalahan yang paling sering dilakukan oleh bawahan: tidak mampu memenuhi ekspektasi atasan;
  13. Patience is power. Sikap tidak sabaran hanya membuat kita kehilangan banyak kesempatan emas, atau bahkan, membuat kita kehilangan value di mata rekan kerja;
  14. Stigma sosial, dalam hal apapun dan sepopuler apapun stigma tersebut, pasti masih bisa kita patahkan asalkan kita mampu menjadi pekerja yang extraordinary. Nothing is impossible as long as we do our best; dan
  15. Hidup itu seperti roda berputar… jadi jangan sombong. Gue cukup sering melihat orang-orang yang di awal suka merendahkan orang lain hanya berakhir sebagai orang-orang yang karier-nya tertinggal di belakang orang-orang yang dulu mereka rendahkan.

Clinique Dramatically Different Mousturizing Gel

Berawal dari obrolan gue sama salah satu teman kantor, gue jadi terinspirasi buat coba cari pelembab lain yang harganya lebih mahal dengan harapan, hasilnya akan lebih bagus buat muka gue. Waktu itu ceritanya gue ngeluh… kenapa kulit wajah gue enggak seputih dan semulus kulit badan gue? Temen gue otomatis nanya… emangnya gue pake apa buat kulit badan gue? Untuk sabun mandi, gue lebih suka pake sabun merk sejuta umat (soalnya entah kenapa, pake sabun mahal itu malah bikin badan terasa lengket setelah mandi), tapi untuk body lotion, memang agak eksklusif dan harganya pun relatif mahal.

Dari situ gue baru sadar… meskipun pake sabun murah yang katanya sih bisa bikin kulit jadi kering, nyatanya kulit badan gue tetep sangat ketolong sama si pricey lotion. Kulit jadi lebih putih (padahal body lotion gue itu bukan pelembab yang tujuannya mencerahkan warna kulit lho), lebih halus, dan kelihatan sangat mulus.

Nah, akhirnya gue pun terpikir untuk melakukan hal yang sama buat kulit wajah gue. Entah kenapa, muka gue ini justru lebih cocok sama pembersih muka yang murah meriah. Gue bilang cocok karena cuma pembersih murah meriah inilah yang berhasil ngurangin jumlah jerawat di muka gue. Tapi tetep aja… pembersih ini enggak berhasil bikin muka gue jadi kelihatan bersih bersinar. Malah biasanya, setiap kali habis membersihkan muka, yang ada kulit gue jadi terasa kering. Waktu pake bedak pun jadi terlihat semakin jelas ada permukaan kulit wajah yang agak bersisik. Jadi siapa tahu aja, dengan pake pelembab yang lebih mahal juga akan bisa menutupi kekurangan yang tidak bisa diatasi oleh pembersih muka gue.

Akhirnya gue pun buka makeupalley.com buat cari referensi. Sengaja gue cari produk pelembab yang banyak disukai oleh member yang mempunyai kulit sangat berminyak seperti gue. Nggak butuh waktu lama, gue langsung tertarik buat beli pelembab khusus kulit berminyak keluaran Clinique. Nama produknya: Clinique Dramatically Different Moisturizing Gel.

Berhubung gue tahu harga Clinique di Indonesia itu relatif mahal, maka gue pun memutuskan buat pesan online via strawberrynet.com. Kenapa strawberrynet.com? Karena gue udah beberapa kali membuktikan sendiri bahwa produk mereka memang benar-benar asli, service-nya cepat dan memuaskan, transaksi pembayaran online-nya juga sejauh ini aman-aman aja buat gue. Strategi bisnis mereka juga masuk di akal, sehingga gue jadi tahu bagaimana caranya mereka bisa tetap menjual produk branded asli dengan harga yang jauh lebih murah.

Enggak sampai dua minggu kemudian, produk yang gue pesan itu tiba di kantor dengan selamat. Kemudian begitu gue coba pakai pelembab berbahan dasar gel ini, gue langsung bisa ngerasain bedanya; hanya dengan sedikit gel saja sudah bisa membuat kulit wajah gue terasa lembab! Beda banget sama lotion lama gue yang mesti sampai beberapa kali ambil baru bisa bikin muka gue terasa nyaman dan tidak kering. Kemudian entah kenapa, di beberapa kali pemakaian pertama, seperti ada butiran-butiran sangat kecil yang keluar dari permukaan kulit saat gue mengusapkan gel itu ke seluruh wajah. Gue sampe sempet mikir jangan-jangan produk ini ada mengandung unsur exfoliating juga kali yaa…

Sekitar dua sampai tiga hari setelah pemakaian, kulit wajah gue sudah terlihat lebih mulus. Gue baru menyadari hal itu setelah beberapa orang mulai berkomentar, “Eh, kulitlo kok sekarang kinclong gitu sih? Jerawatnya pada ke mana?” – itu komentar temen gue yang hobi nyablak, atau, “Ipeh kok tumben… lagi stres tapi jerawatnya nggak keluar?” – itu komentar temen gue yang orangnya halus ala puteri Solo, hehehehehe.

Dari situ gue sadar… jerawat sih sebenernya emang udah lama jarang keluar. Tapi emang kulit wajah gue sedikit demi sedikit sudah kelihatan lebih mulus! Kalo gue bandel bersihin muka masih tetep suka break-out siih, tapi overall beneran deh, terlihat dan terasa ada perubahan signifikan setelah gue pakai pelembab ini. Lama-lama kulit wajah gue jadi terasa semakin halus kalau disentuh, dan bedak juga jadi bisa nempel lebih bagus di kulit wajah gue. Pokoknya benar-benar memuaskan! I do really think that the quality worth the price. It feels like… I have found my soul mate in moisturizer area, hehehehehe.

Belajar Nyetir Itu Susah!

Dulu, gue pernah sesumbar baru bakal beli mobil kalo udah sanggup buat sekalian ngegaji supirnya. Soalnya entah kenapa, udah sejak awal gue sadar diri bahwa gue ini enggak minat dan enggak bakat nyetir mobil sendiri. Tapi waktu tiba-tiba dapet fasilitas mobil dari kantor, ternyata susah juga buat ditolak. Udah gitu di saat yang bersamaan, gue lagi benci-bencinya sama fasilitas transportasi umum di Jakarta, terutama setelah satu kejadian super menyebalkan yang gue alami di jembatan busway di daerah Cawang. Jadi ya sudahlah, fasilitas mobilnya gue ambil dan gue pun bertekad untuk mulai belajar nyetir sendiri.

Setelah beberapa kali menunda karena kesibukan kerja, akhirnya kemarin jadi juga gue belajar nyetir perdana di parkit Senayan. Guru les nyetir gue ini enggak lain adik ipar gue sendiri. Ditemenin juga sama adek gue yang lagi hamil 4 bulan itu. Sebelum memulai, gue bilang begini sama adek gue yang gantian duduk di jok tengah mobil, “Kamu di belakang pake seatbelt juga yah.”  

Dan berikut ini adalah daftar kehebohan gue selama belajar nyetir di parkit Senayan… (notes: mobil gue ini mobil matic yaa, bukan manual).

  1. “Gue kok pelajaran pertamanya malah bawa mobil mundur siih?”
  2. Kesusahan waktu harus nurunin rem tangan. Gila yaa, itu rem tangan kerasnya setengah mati! Tangan gue sampe sakit…
  3. Adek ipar: “Udah, lepas remnya.” Gue: “Nanti duluu, itu di depan ada banyak burung di tengah jalan.”
  4. Berkali-kali nginjek rem secara kasar yang bikin si mobil jadi kayak ngerem mendadak;
  5. Ngerem mendadak, terus bilang, “Eh, kayaknya sebentar lagi kita nabrak trotoar yah?” Adek ipar: “Emang iyaa… makanya aku tarik rem tangan!”
  6. Tiba-tiba ngerem mendadak gara-gara di depan ada ranting pohon;
  7. Berkali-kali salah pasang sen. Pasang sen kanan waktu mau belok kiri, dan pasang sen kiri waktu mau belok kanan;
  8. Fokus ngelihat spion kanan, ceritanya latihan memanfaatkan spion, sampe lupa muter setir ke kanan buat belok di tikungan…
  9. Masih latihan ngelihatin spion… tau-tau di depan sana udah ada mobil lain yang kelihatan takut-takut deketin mobil gue;
  10. Nggak berani lewatin jalan yang banyak orang-orang lagi duduk di pinggir jalan… takut nggak sengaja ngelindes kaki mereka;
  11. Gue: “Ini mobil kok jalannya lelet sih?” Adek ipar: “Kan dari tadi belum nginjek gas… Mau belajar nginjek gas?” Gue: “Enggak deh, nginjek gas di sesi belajar berikutnya aja.”
  12. Latihan mencet klakson mobil pake jempol… tapi kok nggak bunyi-bunyi yah? Pas akhirnya berhasil bunyiin klakson, gue langsung norak… sambil ketawa-tawa;
  13. Selalu heboh ngerasa mobil gue jalannya miring;
  14. Ketawa heboh setiap kali berhasil melewati tikungan dengan lancar. Tapi pas tikungan berikutnya masih aja suka ada salahnya;
  15. Waktu abis belok, “Kayaknya kalo di situ ada mobil lagi parkir, udah ketabrak sama mobil gue yaa.” Adek ipar: “Emang iyaa, makanya itu setir dibalikin lagi kalo abis belok.”
  16. “Kayaknya gue latihan udah lama yaa? Pegel…” Adek gue, “Baru sepuluh meniiit.”
  17. Gue, “Udahan yuk latihannyaa. Udah sejam. Filmnya udah mau mulai.” Adek gue, “Filmnya masih sejam lagi… PS kan deket.”
  18. Gue, “Ah udah aah… Filmnya udah mau mulai.” Akhirnya udahan juga… Fiuuuuuh…
  19. Eefek latihan nyetir: keringetan, paha kanan pegel, kepala pusing, tapi semuanya langsung ilang begitu sampe PS tepat waktu sebelum filmnya dimulai, hehehehehe.

Gila yaa, ternyata emang bener, latihan nyetir itu susah! Enggak kebayang gimana nanti latihan parkir, bawa mobil di gedung parkir, terjebak macet, belok-belok di gang sempiiit… Haduuh, kenapa bayar supir itu mesti mahal banget siih?

The Mall Princess

Iseng-iseng, gue kepengen membahas tentang the mall princess; istilah yang gue bikin sendiri buat cewek-cewek di mall yang ciri-cirinya sebagai berikut:

  1. Biasa ditemukan di mall mewah seperti Senayan City, Plaza Senayan, Pacific Place, dsb dsb… gue cuma pernah nemu satu kali yang model begini di mall Pondok Gede. Itu juga orangnya rada maksa, agak-agak kelihatan seperti socialite wannabe;
  2. Kulit wajah mulusss, kulit badan juga mulus;
  3. Rambut seperti baru keluar dari salon;
  4. Badannya relatif seksi, atau cenderung kurus, enggak pernah gue lihat ada yang gemuk;
  5. Full make-up, atau minimal bedak, eye shadow, mascara, blush on, dan lipstick;
  6. Fashionable, dengan barang-barang yang terlihat mahal;
  7. Hak sepatu minimal 10 CM, dan jarang ada yang pakai sendal model jepit apalagi sendal karet kayak Crocs;
  8. Biasanya bawa tas ukuran sedang sampai besar. Cara bawanya bukan disampirkan di punggung/dikepit under arms, melainkan cuma digantungkan di siku tangan yang ditekuk;
  9. Rata-rata wanginya menyebar ke mana-mana… Gue sampe penasaran, supaya bisa tercium sewangi itu, harus berapa kali semprot ya, waktu pake parfumnya?
  10. Kalau jalan di mall, posisinya pasti di tengah jalan, bukan di pinggir jalan mepet sama toko-toko;
  11. Gaya jalan ala peragawati, dengan pinggul yang relatif lebih bergoyang jika dibandingkan dengan cewek-cewek pada umumnya. I guess the mall corridor is their personal catwalk

Sebetulnya, gue sih enggak ada sentimen pribadi yang gimana-gimana banget sama the mall princess ini. Malah gue akui, melihat cewek-cewek itu rasanya jadi hiburan tersendiri. Meskipun sama-sama cewek, tapi tetap aja rasanya menyenangkan melihat cewek-cewek yang seolah baru keluar dari halaman mode Cosmopolitan. Padahal secara wajah, mereka itu tidak selalu terlahir cantik. Tapi dengan kulit mulus dan segala atributnya itu selalu berhasil bikin mereka jadi sangat enak untuk dilihat.

Ya, gue tidak ada sentimen pribadi sama mereka, kecuali satu hal: kalau jalan di mall, mereka merasa sepanjang jalan mall adalah milik mereka. Kalau berpapasan dengan orang lain, mereka enggak bakal pernah mau minggir, atau nggak mau untuk sekedar memiringkan badan. Mereka maunya, orang lain yang membuka jalan buat mereka.

Minggir untuk memberi jalan buat mereka emang bukan hal yang sulit, tapi buat gue, kalau sampai gue rela minggir demi mereka, hal itu tanda kurangnya respek dari gue terhadap diri gue sendiri. Makanya saat tidak sengaja berhadapan dengan cewek-cewek itu di mall, gue akan tetap jalan lurus. Saat berpapasan, gue hanya akan memiringkan badan gue sedikit, dan sisanya, dia juga harus memiringkan badannya supaya bisa sama-sama lewat. Kalau dia masih ngotot jalan lurus, ya rasakan saja ketabrak badan gue dan tersandung jatuh dengan super high heel kesayangannya itu…

Tidak ada siapapun di dunia ini yang berhak mengklaim fasilitas umum sebagai milik mereka. Bahkan, jika mall itu punya bapak mereka pun, mereka tetap tidak boleh bersikap sok. Apa artinya mall si papi tanpa pengunjung yang ramai berdatangan? Selain itu, mereka boleh aja menenteng hand bag yang hanya dijual di butik eksklusif. Tapi sejak kapan ada aturan orang yang cuma bawa tas Guess atau Charles & Keith harus rela minggir buat mereka yang bawa the Birkin bag?

If you girls are the mall princess like I mention in this blog, please no offense. But please next time, stop acting like you are the only precious person in the mall! Kemudian buat cewek-cewek lainnya… come on, put more appreciation for yourself! Jangan membuat para tuan puteri itu semakin berada di atas angin! Show them your pride, even when you don’t have any LV in your fashion statement. We all are precious, no matter what we wear and where we go to shop. Be classy, and be proud for being you; the only you in the world.

The Things I Love About Being 20’s

Belakangan ini, ada banyak hal yang membuat gue ngerasa suka banget sama usia gue yang sekarang ini. Kalo Edward Cullen bisa punya umur 18 tahun selamanya, maka kayaknya gue lebih suka kalo bisa punya umur 20-an selamanya, hehehehehe. Apa alasannya? Kenapa gue bilang gue suka banget dengan usia kepala dua ini?

  1. Pada usia ini, gue mulai punya pendapatan yang memadai. Senang rasanya bisa pergi belanja pake uang sendiri, kemudian pulang ke rumah dengan berbagai jenis shopping bag di tangan gue. Emang bukan hal yang patut ditiru, tapiii, selama hobi belanja ini enggak bikin hidup gue atau hidup orang lain jadi susah ya enggak papa dong? Yang penting gue hepi, hehehehehe;
  2. Pada usia ini pula gue tidak lagi bergantung sama orang lain untuk mewujudkan impian gue buat melihat dunia. Setelah satu kali berhasil memberanikan diri pergi liburan ke luar negeri, gue langsung ketagihan!
  3. Banyak yang bilang, pintu karier terbuka lebih lebar untuk mereka yang masih muda dan berstatus single. Ini artinya, gue masih punya banyak kesempatan untuk mengejar mimpi sekuat tenaga!
  4. Sesuatu yang dilakukan oleh orang yang usianya masih dua puluhan akan dianggap lebih hebat ketimbang apabila hal yang sama dilakukan oleh orang lain yang usianya lebih tua. Cuma orang pada usia 20-an yang paling sering mendapat pujian seperti ini: “Hebat ya, masih muda karier-nya udah sukses.”
  5. Older people start to see me as a whole person, not just a kid whose opinion could be ignored;
  6. I met so many new best friends in this 20’s age;
  7. I also found the real definition of falling in love within this age;
  8. Pada usia ini, belum ada keriput, belum ada kulit yang mengendur, badan masih relatif lebih segar bugar… I love being young and energetic 🙂
  9. Kalo umur 20-an, masih bisa pake baju imut-imut ala ABG, tapi udah bisa juga pake baju yang modelnya lebih dewasa;
  10. Gue udah nggak lagi dilarang-larang ortu nggak buat pergi hang-out malem-malem, dan juga belum ada suami yang punya hak buat ngatur-ngatur jam malam gue;
  11. Gue ngerasa banyak mengalami perubahan kepribadian di usia ini. Selain itu, ada pula banyak pengalaman berharga yang membentuk gue jadi lebih baik daripada gue semasa ABG dulu;
  12. Kalo di umur segini, gue masih bisa bilang begini saat ada orang di kantor yang manggil gue dengan sebutan Ibu/Mbak/ada juga yang manggil gue Cici, “Panggil Riffa aja, saya kan masih muda lho.”
  13. Gue masih bisa menyebutkan berbagai macam kalimat yang diakhiri dengan, “…. mumpung masih muda.”
  14. Pada usia ini, saat harus mengambil keputusan penting tentang hidup dan masa depan, yang perlu gue lakukan hanya menimbang diri gue sendiri. Belum ada suami dan anak-anak yang harus ikut gue pertimbangkan bagaimana kalau mereka begini dan bagaimana kalau mereka begitu; dan
  15. Sampai pada umur yang sekarang, gue masih belum ngerti kenapa ada statement yang bilang bahwa menanyakan umur itu sifatnya tidak sopan. Karena entah kenapa, belakangan ini gue justru ngerasa seneng dan bangga kalo ditanya umur gue berapa. Seems like gue emang seneng banget sama usia 20-an, hehehehehe.

Gue enggak bilang jadi teenager itu buruk, atau melewati usia 30-an, 40-an, dst… itu suram. Karena menurut gue, setiap usia itu pasti memiliki keunggulannya sendiri-sendiri. Cuma semasa ABG doang kita bisa hidup seolah enggak ada beban. Enggak harus mikirin biaya hidup, dikejar-kejar deadline pekerjaan yang enggak ada habisnya, dan masih belum banyak merasakan sedihnya dikecewakan sama orang-orang di sekitar kita. Kalo soal usia 30 dan 40-an… well gue belum bisa comment secara umur gue sendiri masih baru aja ampe angka 25. Tapi dalam bayangan gue… dengan asumsi karier gue tetap naik sedikit demi sedikit, mungkin di kepala 3 nanti gue udah punya cukup duit buat beli Birkin bag, hehehehehe.