Asiatique The Riverfront Bangkok

Awalnya, gue mengunjungi Asiatique semata-mata hanya karena ada cabaret show yang berlokasi di shopping mall itu. Saat gue mulai googling soal Asiatique… gue jadi antusias kepingin belanja di Asiatique itu sendiri! Dengan konsep open air shopping mall yang terletak di pinggir sungai, Asiatique terlihat cantik, fotogenik, dan tampil beda dengan shopping malls lainnya di kota Bangkok.

Untuk urusan belanja, , ada banyak toko-toko kecil yang menjual barang-barang yang sifatnya eksklusif. Berikut ini 3 toko favorit gue selama berbelanja di Asiatique:

 

Qualy

Toko ini menjual berbagai pernak-pernik lucu. Gue beli banyak stationeries lucu di tempat ini.  Di bawah ini foto beberapa produk Qualy yang mempercantik ruang kerja gue di kantor.

IMG_0503 IMG_0508

 

 

 

 

Dari segi harga, Qualy termasuk middle price. Gue habis sekitar 900rb rupiah hanya untuk belanja di satu toko ini. Meskipun agak mahal, tapi gue puas! Kualitas barangnya memang termasuk bagus kok. Plastiknya clean dan tidak terlihat murahan meski didominasi warna-waran pastel yang colorful.

 

Try Me

Toko kecil ini khusus menjual aksesoris yang girly banget. Gue beli banyak cincin dan gelang buat teman-teman gue, tapi karena belum sempat ambil fotonya, berikut foto cincin dan gelang yang gue beli di Try Me, gue ambil dari official Facebook fan page-nya Try Me.

IMG_5038-edit

488127_448932111845161_1868755602_n

Buat gue sendiri akhirnya cuma beli satu kalung berwarna pink. Berikut ini foto gue yang lagi pake kalungnya…

Can't you see the pink bird between my nephew's little fingers? :D

Can’t you see the pink bird between my nephew’s little fingers? That’s the necklace:D

Dari segi harga, aksesoris di Try Me bukan yang paling mahal yang gue beli selama berlibur di Bangkok. Materialnya ringan dan kalau diperhatikan, di bagian belakang aksesorisnya masih suka ada goresan kecil. However, they are cute and irresistible! Udah gitu asyiknya, harga di sana masih bisa ditawar lho.

 

Toko Aroma Therapy

IMG_0505Sayangnya, gue udah lupa nama toko tempat gue beli pewangi aroma vanilla favorit gue itu. Serius deh, gue sukaaaa banget sama wanginya. Lembut, nggak menyengat, dan bisa tercium dari jarak jauh juga. Hebatnya lagi, meskipun botolnya kecil, wanginya bener-bener tahan lama! Botol kecil ini sudah gue taruh di ruang kerja selama 3 bulan dan sampai sekarang masih belum habis. I really fall for this one!

Oh ya, di Asiatique ini ada banyak banget toko yang jual aroma therapy. Ada macam-macam aroma, dan yang paling gue suka, mereka punya berbagai jenis diffuser yang cantik dan unik. Untuk range harga juga berbeda-beda… ada yang mahal, ada pula yang murah meriah.

 

Selain 3 toko yang gue sebutkan di atas, ada pula toko-toko kecil yang menjual pakaian, aksesoris, bahkan snacks untuk dijadikan oleh-oleh. Cukup banyak juga turis yang belanja snacks di sana… sudah di-packing dalam dus supaya praktis bawanya. Gue sendiri nggak gitu tertarik beli snacks di sana secara kayaknya ribet aja gitu, bawa-bawa kardus naik-turun boat.

Anyway untuk sampai di Asiatique, kita bisa numpang free shuttle boat yang berangkat dari pier dekat stasiun BTS Saphan Taksin. Berhubung shuttle boat gratisan, jangan kaget kalo antriannya juga panjang. Mau nggak pake ngantri? Bisa aja naik boat yang berbayar, dengar-dengar harganya sekitar 40 baht one way. Tapi gue tetep pilih free shuttle boat soalnya gue takut malah salah jurusan kalo naik boat yang lain, hehehehe.

Oh ya, berhubung Asiatique ini konsepnya pasar malam, jadi jangan coba-coba dateng siang-siang ke sini. Tokonya rata-rata baru buka sekitar jam 5 sore.  Dan saran gue: jangan lupa bawa kipas! Asiatique itu kan open air shopping mall, jadi enggak ada tuh AC di sepanjang lorongnya… Nggak semua toko pasang AC pula. Untunglah masih ada angin yang berhembus sepanjang malam… lumayan ngilangin gerah saat ngantri shuttle boat buat pulang ke hotel.

My First Stop in Bangkok: MBK

1064422_10201707011296807_790207658_o

Mango sticky rice in MBK’s food court… I love it!

MBK atau Mah Boon Krong merupakan salah satu shopping mall yang paling terkenal di Bangkok, khususnya di kalangan turis Eropa-Amerika-Australia, beda dengan Platinum yang lebih banyak disukai turis-turis dari Asia. Kenapa begitu? Karena size baju di Platinum itu relatif kecil-kecil, hehehehe.

Meski untuk ukuran beli baju gue lebih menyarankan belanja di Platinum, bukan berarti MBK ini boleh dilewatkan. Kenapa?

  1. Produk yang dijual di MBK ini lebih bervariasi. Pokoknya bener-bener mall yang serba ada banget deh. Beda banget sama Platinum yang 95% jualan fashion items;
  2. Di MBK banyak dijual iPhone case lucu yang murah-murah banget. Barang yang sama persis ada juga di Indonesia, tapi harganya mahal! Jauh lebih murah beli di MBK, bisa beda setengah harga lho;
  3. Di MBK lebih banyak pilihan oleh-oleh kayak snacks khas Thailand (jangan lupa beli durian chips dan rumput lautnya ya), gantungan kunci, magnet, dsb…
  4. Size baju di MBK tersedia sampe ukuran jumbo. Beda sama Platinum yang size L-nya pun masih kelihatan bagus di badan gue yang kurus ini;
  5. Makanan halal di foodcourt MBK lebih enak daripada foodcourt Platinum, terutama mango sticky rice-nya! This dessert makes me wants to go back to Bangkok and MBK for sure! Udah nyobain menu sejenis di resto Indonesia, tapi nggak ada yang sama enaknya. Tekstur ketannya sedikit lebih crunchy, plus buah Mangga Thailand yang manisnya itu terasa pas, segar, dan bikin ketagihan!
  6. Di MBK suka ada big sale produk-produk dengan merk seperti Giordano, Triumph, dsb…
  7. Di MBK ada gerai Naraya, jadi bisa sekalian mampir!

Karena kebetulan gue nginep di hotel yang directly connected to MBK, wajar kalo gue paling banyak belanja di sini. Gue beli kaos-kaos jumbo, beli Jersey, kaos manik-manik yang super cute (tapi kalo ini, gue beli di deket pintu keluar BTS yang menuju ke MBK, jadi bukan di dalem MBK-nya), beli tas lucu tapi murah, dan pastinya, beli banyak casing iPhone 5… gue borong sampe 3 casing sekaligus lho, hehehehe.

Hasil berburu di MBK.

Hasil berburu di MBK.

Di dalem MBK ada satu department store, namanya Tokyu. Barang-barang di Tokyu asli bagus-bagus banget, tapi mahaall. Harganya sekelas Sogo gitu lah. Gue hampir tergoda beli dress seharga ribuan baht, tapi untunglah gue bisa menahan diri, karena ternyata, besokannya gue nemu dress yang jauh lebih cute dengan harga yang jauh lebih murah juga! Padahal tadinya gue udah bertekad… kalo sampe hari terakhir gue enggak dapet apa-apa, gue bakal beli si dress mahal itu. Syukurlaah 😀 Oh ya, selain hampir tergoda beli dress mahal, hampir tergoda juga beli baju buat ponakan di Tokyu. Again, besokannya gue nemu baju bayi yang nggak kalah lucu tapi murah meriah di Platinum!

Di MBK ini ada tempat penitipan tas, kalo nggak salah di lantai 5, jadi kalo kita udah kebanyakan belanja dan males nentengnya, titip aja di tempat itu. Trus katanya sih, ada jasa pinjemin troli gitu juga. Tapi gue enggak pernah lihat ada orang dorong-dorong troli di MBK juga sih. Lalu satu hal yang gue kurang sreg dari MBK adalah… kalo mau masuk toilet harus bayar! Agak-agak mengingatkan gue sama toilet berbayar di Indonesia, hehehehe.

Overall, gue menikmati acara belanja di MBK dan udah puas banget muter-muter di mall ini. Kalo gue capek dan udah kebanyakan bawaan, gue tinggal balik ke hotel, taruh barang, duduk sebentar, trus touch up dan langsung pergi lagi. What a beautiful life, hohohoho.

Stop Budaya Bertanya, “Kapan Married?”

Awalnya, malam ini gue lagi asyik nerusin report yang udah lama gue tunda… sampai tiba-tiba, notifikasi Facebook gue berbunyi pelan. Begitu gue berganti layar ke halaman Facebook, ternyata ada comment baru dari temannya teman gue soal status yang intinya berisi sebuah curhatan rasa kesal karena lebaran selalu identik dengan pertanyaan: “Kapan married?”

Sama seperti kaum jomblo pada umumnya, gue juga paling males kalo ditanya kapan merit. Alasan gue:

  1. Kata siapa gue pengen buru-buru merit? Someday I want to, but it’s not my biggest wish right know. Daripada sok tahu mendoakan supaya gue cepet-cepet nyusul 2 adek gue yang udah pada merit itu, mendingan ya mbok doain supaya beasiswa S2 gue tembus gitu… kan ceritanya supaya itu doa tepat sasaran, hehehehe;
  2. Sebagian besar orang yang nanya kapan merit itu adalah orang-orang yang dulunya, saat mereka masih single, mereka juga paling bete kalo ditanyain, “Kapan married?” Kalo pun mau bales dendam, ya bales dendamnya jangan sama gue atuh… Kan yang dulu suka iseng tanya-tanya kapan merit sama mereka itu bukan gue orangnya…
  3. Gue enggak suka dikasihani hanya karena gue belum merit… terutama kalo dikasihaninya sama orang-orang yang sorry to say… pernikahan mereka sendiri gue tau banget penuh dengan derita dan air mata. Is it a kind of invitation to join your ‘misery club’? Kalo berurusan sama orang kayak gini, rasanya gue pengen ngebales, “Mendingan elo urusin deh tuh, rumah tanggalo sendiri…”
  4. Ada beberapa hater yang menggunakan pertanyaan ini semata-mata untuk membuat gue ngerasa ‘incomplete‘. Dari dulu, mereka emang seneng cari-cari celah buat nyindir gue. Padahal kadang lucunya, si hater itu sendiri juga masih belum merit lho. What a world
  5. I’m still 26… and this question always makes me feel like I’m an old woman!

Gue yakin tiap orang punya alasan sendiri-sendiri kenapa mereka masih berstatus lajang. Ada yang masih ingin dengan leluasa mengejar cita-citanya, ada yang merasa belum cukup mapan, ada yang karena faktor belum dapat restu orang tua, atau sederhana saja, mereka masih melajang karena masih belum menemukan pasangan yang tepat. Apapun alasannya, apa susahnya sih, menahan mulut untuk tidak mengajukan pertanyaan usil itu? Ngepain juga nanyain kapan merit kepada orang-orang yang kalian tahu persis mereka tidak berencana menikah dalam waktu dekat? Mereka merit atau nggak merit toh nggak ada untung-ruginya buat kalian?

Mungkin pertanyaan macam ini udah semacam tradisi turun menurun kali ya… Buat beberapa orang, bisa jadi ini bukan a big deal, tapi ada pula orang-orang yang merasa dihantui, atau merasa tertekan dengan pertanyaan ini. Gue kenal beberapa orang yang sampai alergi datang ke resepsi pernikahan, ada pula yang sampai takut pulang kampung, hanya karena takut ditanya kapan merit!

Lalu bagaimana dengan gue sendiri? Kalo gue sih… lebih memilih untuk jaga jarak dengan orang-orang ybs. Masalahnya, tipe orang yang kayak gini ini bukan cuma senang menanyakan kapan merit sampai berulang-ulang saja, tapi mereka juga akan terus-menerus kepo dengan urusan hidup gue di tahap-tahap selanjutnya. Nggak worth keeping aja gitu kalo menurut gue.

Finally… saran gue buat teman-teman yang masih single… gue ngerti, hati pasti panas, tapi sebisa mungkin, bereaksi tenang-tenang aja. Don’t give them a satisfaction, not either a new juicy gossip, by being angry with their question. Jangan pula terbebani dengan pertanyaan macam ini… karena faktanya, banyak orang yang jadi lantas sembarang pilih pasangan hidup hanya karena capek ditanya kapan merit!

Lebih baik nikmati saja sisa-sisa hidup kita sebagai lajang, karena sekalinya kita getting married, masa-masa itu tidak akan pernah terulang kembali. Makanya kalo gue bersyukur masih single di umur segini… soalnya gue ini kan tipe orang yang punya banyak banget keinginan, dan gue maunya saat merit nanti, gue udah puas dengan berbagai macam keinginan gue itu. Gue udah puas dengan pencapaian karier gue, level pendidikan gue, udah puas jalan-jalan melihat dunia, udah puas keluyuran tanpa perlu mikir ada keluarga yang menunggu di rumah… sehingga pada waktunya gue menikah, gue sudah lebih ikhlas sekaligus sudah siap memulai hidup yang benar-benar baru. Getting married for forever is a long time… a very very long time, so why should we do it in a rush? What’s wrong with enjoying our short single times?

So guys… let’s move on! Mari kita anggap aja pertanyaan kapan merit itu sebagai the art of life. Kemudian yang paling penting… mari kita jadi generasi pertama yang berhenti mengajukan pertanyaan nggak penting ini. Kalau nanti kita sudah merit, jangan gantian usil nanya-nanya kapan merit kepada kenalan yang masih single! Kalaupun masih pengen tetep membudayakan pertanyaan ini… ya sudahlah… Pastikan saja pernikahan kalian sendiri akan selalu happily ever after, supaya kalian enggak malu sama kaum single yang kalian tanya-tanya itu.

 

P.s.: Semoga enggak ada yang tersinggung sama tulisan gue ini yah… Mumpung masih suasana lebaran, mohon dimaafkan kalo ada salah-salah kata, hehehehe.

10 Hal Kecil yang Bisa Bikin Gue Happy

  1. Ditraktir dan dikasih hadiah, berapapun harganya. Semakin ke sini, semakin sedikit orang yang kasih gue hadiah. Bukannya gue matre atau apa, tapi rasanya terharu aja gitu… Walau cuma ditraktir bakso, gue udah seneng banget!
  2. Lihat-lihat online shop punya temen gue. Gue juga bingung ya… tapi tiap ada temen yang minta gue lihat-lihat online shop mereka, gue suka ngerasa happy for them aja gitu;
  3. Didandanin. Ini gue juga bingung apa sebabnya gue suka banget kalo lagi didandanin orang lain… Hmm, it makes me feels like a princess maybe? Hehehehe;
  4. Dapat pujian atas kinerja gue di kantor, atau, pujian atas tulisan gue di blog 😉 Pujian yang sifatnya menjilat atau dibuat-buat tidak masuk hitungan lho yaa;
  5. Finding something old! Misalnya, nggak sengaja nemuin film kenangan di HBO, nemuin foto bayi mantan gebetan di laci meja belajar, nemuin surat dari sahabat kecil gue dulu… dan masih banyak lagi!
  6. Fitting ulang semua hasil belanja gue. Setiap kali baru pulang belanja, sue suka pake baju yang baru gue beli, kemudian gue pamer ke adek, nyokap, atau siapapun yang ada di rumah, “Baju baruku bagus nggak?” Hehehehe;
  7. Gue selalu hepi tiap kali ada teman yang mengungkit kebodohan kita di masa yang lalu… Itu dia fungsinya sahabat lama: untuk mengenang masa muda, hehehehe;
  8. Beli barang berwarna pink! Terutama kalo ada gambar Hello Kitty-nya, hehehehe;
  9. Nyiapin itinerary buat acara jalan-jalan berikutnya. Baru tahap bikin itinerary aja udah bikin gue excited banget!
  10. Masa-masa pdkt… Senyum-senyum kecil kalo inget gebetan itu rasanya priceless banget deh.

10 Hal Kecil yang Bisa Bikin Gue Ngerasa Bete

  1. Gue paling sebel kalo ada orang yang ogah foto sebelahan sama gue hanya karena ngerasa gue terlalu tinggi. Sekali dua kali masih nggak papa, tapi kalo keseringan, rasanya annoying juga. Mereka toh nggak akan suka kalo gue juga melakukan hal yang sama kepada mereka…
  2. Dalam situasi tertentu, gue ngerasa nggak sreg saat melihat ada lebih dari 1 tanda tanya berturut-turut di akhir kalimat. Rasanya kayak lagi dibentak gitu;
  3. Gue nggak suka sama orang yang suka nggak balas SMS/e-mail/chatting gue. Entah kenapa, pertemanan gue dengan orang-orang tipe ini enggak pernah bisa bertahan lama;
  4. Gue nggak pernah ngerasa nyaman dengan teman yang usaha banget buat jadi ‘mirip’ sama gue. Semua yang gue beli, dia beli juga. Semua tempat yang pernah gue kunjungi, dia ikutan pergi ke sana juga. Padahal dia belum tentu butuh, belum tentu suka, tapi anehnya tetep aja dia ‘copy-paste’. Senang sih, bisa jadi inspirasi buat orang lain, tapi ya enggak segitunya juga;
  5. Gue nggak suka kalo ada orang yang ngejelekin atau mandang rendah atau menjadikan jokes tentang almamater gue, tempat kerja gue, anggota keluarga gue, dan teman-teman dekat gue, apapun alasannya;
  6. Gue nggak suka sama undangan pernikahan dan ucapan selamat lebaran yang dikirim via broadcast BBM. Nggak niat banget siih? Usaha dikit kenapa…
  7. Gue ngerasa nggak nyaman kalo ada orang yang mengajukan pertanyaan persis di depan gue kepada orang lain setelah dia menanyakan hal yang sama ke gue;
  8. Gue nggak suka suka kalo orang lain come up with: gaji per bulan gue, limit kartu kredit gue, dan utang-piutang gue. It’s privacy!
  9. Gue nggak suka kalo orang yang gue curhatin malah ngebelain orang yang lagi gue sebel… Nasehatinnya nanti aja kalo gue udah cool down; dan
  10. Kalo kepala lagi panas, situasi sedang genting, orang lain malah asyik tertawa terbahak-bahak dengan ‘timnya’ sendiri, biasanya malah bikin gue jadi tambah bete. It’s not helping and not professional if you do this at work.

Jangan Sia-siakan Usia Kepala 2

Baru-baru ini, gue baca artikel keren soal usia 20-an. Klik di sini untuk original article yang akan gue kutip dalam tulisan ini, lalu pilih “View As List“. Ada baiknya, teman-teman baca dulu artikel aslinya sebelum lanjut membaca tulisan gue ini.

Saat gue pertama baca artikel itu, gue tidak bisa berhenti merasa kagum di dalam hati. Wow… artikelnya keren banget! Tapi saat gue lanjut baca ke bagian comments… wah, ternyata ada banyak banget komentar negatif lho. Rupanya ada beberapa opini penulis yang dianggap kontroversial oleh para pembaca.

Nah, sekalian untuk sharing dengan teman-teman pembaca blog gue, berikut ini tanggapan gue soal poin-poin yang banyak dikritik dari artikel tersebut.

 

Learn to Dress Well

Ada salah satu pembaca yang berkomentar, “”Women need to learn how to wear dresses and walk in heels (walk, not waddle)…” Thank you for teaching me the secret to success. Who needs a college degree when you have stilettos!”

Padahal kalo menurut gue, yang dibilang sama si penulis itu ada benarnya lho. Sejak usia 20-an, perempuan harus belajar cara pakai high heels. Makin tinggi cita-cita kita, maka semakin besar pula kemungkinan kita dihadapi dengan occasion yang mengharuskan kita pakai high heels. Misalnya kita diundang ke gala dinner atau black tie party, masa’ iya kita mau pakai flat shoes? Belum lagi ada cukup banyak perusahaan besar yang mewajibkan karyawan perempuannya pakai high heels. Atau misalnya suatu hari getting married, apa iya ingin tetap pakai flat shoes?

Saran gue, berlatih pakai high heels dari sekarang, supaya pada saat kita benar-benar harus memakainya, kita sudah bisa berjalan dengan lancar!

 

Start to accumulate a fortune…

Ada beberapa komentar yang menentang poin ini… Rupanya target mengumpulkan aset senilai satu juta dolar (alias sepuluh milyar rupiah) di usia 30-an dianggap target yang terlalu ambisius. Padahal kalo menurut gue… apa salahnya sih, punya cita-cita setinggi langit? Gue tipe orang yang percaya bahwa cita-cita itu harus setinggi langit, supaya segagal-gagalnya, pencapaian gue at least masih setinggi pohon kelapa, hehehe.

Ada pula komentar yang bilang… hal ini cuma bisa dicapai oleh orang-orang yang terlahir kaya raya. Kalo menurut gue sih, enggak juga kok. Di Indonesia saja, ada beberapa pengusaha yang berhasil mencapai prestasi ini di usia muda kan… Sebutlah satu yang paling fenomenal; Merry Riana yang populer dengan bukunya, “Mimpi Sejuta Dolar.”

Kalaupun ada orang yang tetap tidak setuju dengan ambisi macam ini… kenapa juga sih, harus meninggalkan komentar negatif? Si penulis punya cita-cita setinggi itu toh tidak merugikan siapa-siapa? Stay calm and focus with your dream! Anyway… line pake kata-kata ‘stay calm’ itu dari mana asal mulanya sih? Hehehehe. Serius deh… kalo ada pembaca yang tahu jawabannya, tolong share via comment 😀

 

Surround Yourself with People that You Would Like to Keep Around

Untuk poin yang ini, gue menemukan komentar, “”Do people in their 30s make new friends?” F**k yes they do. I’m still in my 20s but a fair share of my friends are older than I and all the better at connecting with people because of their life experience. I never want to stop making new friends.”

Gue setuju dengan komentar bahwa making new friends itu tidak terbatas di usia 20-an, tapi gue juga setuju bahwa usia 20-an merupakan usia terbaik untuk cari teman. Kenapa begitu? Berikut alasan pribadi berdasarkan pengalaman pribadi gue:

  1. Entah kenapa, teman-teman terbaik di masa kecil s/d masa remaja belum tentu bisa menjadi teman baik setelah kita dewasa. Ada teman-teman yang tiba-tiba berubah jadi hater, ada yang jadi suka jaga jarak tanpa alasan jelas, ada pula yang setelah dewasa, gaya hidupnya jadi tidak sesuai dengan gaya hidup gue. Misalnya, terlalu nakal dan liar…
  2. Sejak mulai punya penghasilan tetap, gue jadi cukup sering menemukan orang-orang yang mendekati gue hanya karena ada maunya. Gue dengan senang hati menolong orang lain, tapi kalau orang itu hanya datang saat ada maunya, itu lain cerita! Belum lagi orang-orang yang sengaja mendekati gue untuk kepentingan politik kantor… Sejak itu, gue jadi mikir, “Apalagi kalo nanti gue udah jadi milyarder yah? Ada seberapa banyak lagi orang-orang yang cuma mau manfaatin gue?” Dari situ gue ngerasa, dengan asumsi gue makin sukses seiring dengan pertambahan usia, maka semakin lama akan semakin sulit untuk menemukan genuine friends. Itulah alasannya… mumpung di umur segini gue belum tajir-tajir banget, gue mulai melakukan apa yang dibilang oleh penulis artikel ini, “Surround myself with people that I would like to keep around.
  3. Dengan asumsi umur 30-an gue udah merit, maka gue setuju bahwa usia 20-an adalah usia terbaik untuk mencari sahabat sejati. Soalnya kalo gue lihat, social times perempuan yang sudah menikah itu menurun drastis terutama setelah melahirkan anak pertama. Apalagi kalau udah ada anak ke dua dan seterusnya?
  4. Berdasarkan pengamatan gue terhadap para orang tua di sekitar gue… memang benar lho, mayoritas sahabat mereka itu sahabat dari usia 20-an. Mayoritas dari mereka, sudah tidak begitu tertarik mencari teman baru di usia mereka yang sekarang. Biasanya sih, karena mereka lebih memilih untuk fokus kepada pekerjaan dan keluarga mereka masing-masing.

 

Date the Wrong Persons

Untuk dua kalimat pertama dalam poin ini, gue setuju banget: “I am a strong believer that in order to date the right person, you first have to date the wrong person. Otherwise you will always question whether or not you made the right decision by committing.” Gue sendiri juga jadi punya gambaran soal kriteria Mr. Right setelah gue tahu cowok seperti apa yang pasti masuk kriteria Mr. Wrong-nya gue.

Sebetulnya poin ini mengandung nasehat yang keren… tapi sayangnya, si penulis merusak nasehat keren ini dengan kalimat lanjutan, “Dating can be pricy, so you may just want to skip the dinner and just sleep around a bit.”

Just sleep around kok kesannya murahan banget gitu, hehehehe.

 

Overall, gue pribadi suka banget sama artikel itu. Nyaris semua hal yang tertulis di situ adalah hal-hal yang sudah gue terapkan sejak pertama kali menginjak usia 20-an.

I always try to let go of my past and look forward to my future.

I’ve stopped acting like a teenager and embrace the fact that I am an adult now.

I’ve dressed much better than my teen ages. I put some make-up, take care of the pimples, collecting nice dresses, shoes, and handbags. And yes… I wear high heels everyday!

I start accumulating my fortune from my own hard work.

I always try to adapt with rapid changes in life without leaving my principals behind.

I definitely have outlined the most important characteristic in the man I’m looking for. I will write down more about this later.

I’ve tried so hard to reestablish my good relationship with my parents.

I’ve surrounded myself with my best friends those I want to keep for the rest of my life. I’ve removed some but I will always fight for some others too.

Find work that I love doing… Yes, I’m still working on it and hope I could achieve it immediately!

I’ve tried to get my dream body… but it’s terribly hard for me to gain more weight, hehehehe.

I read much more news to keep up to date with current events… but you know, sometimes a nice game after whole day work looks more tempting, hehehehe.

I never stop reading, no matter how busy I am. People say I’m already good on doing my job, however, that’s not an excuse for me to stop reading more books.

I’ve clearly outlined my life goals! My genuine blog readers must know this so well, hehehe.

Get out of debt… I still have car and apartment installments but I want to repay them before 30.

Begin to put money in the bank and learn to leave it there… It’s difficult but I’m trying, hehehe.

I’ve got my own place… but too bad I’ve chosen wrong developer who hasn’t finished building the apartment since 3 years ago!

I’ve supported myself, and yes, I am a survivor on my own feet.

 

Setuju tidak setuju dengan isi artikel ini, satu hal yang pasti: jangan sia-siakan usia kepala 2. Mulailah bekerja keras dan belajar bersikap bijaksana. Banyak keputusan penting yang kita buat di usia ini; keputusan-keputusan yang akan mempengaruhi jalan hidup kita selama-lamanya… Jadi, pastikanlah kita sudah mengambil keputusan yang tepat!

Prinsip gue, jangan bersantai-santai, kita tidak hidup selama-lamanya… tapi jangan juga menjalani hidup dengan terburu-buru… nikmati tiap fase kehidupan, karena fase itu tidak akan terulang dua kali. Bahagiakanlah diri kita sendiri, dan lakukanlah hal-hal yang dapat membuat kita bangga terhadap diri kita sendiri! Makanya… gue ingin mengisi usia kepala 2 gue dengan hal-hal bermanfaat; hal-hal yang gue tahu akan selalu gue banggakan hingga akhir usia 🙂

Enjoy you 20’s, work hard, and hope you’ll have such a good time!

Kalo Gue Jadi Menteri Pariwisata…

Setiap kali pergi jalan-jalan ke luar negeri, gue suka berangan-angan… “Indonesia juga bisa kayak gini kok!” Dan ceritanya sekarang gue kepingin berbagi isi khayalan gue itu. Mungkin bukan sesuatu yang benar-benar realistis, tapi buat lucu-lucuan ya nggak ada salahnya lah yaa, hehehe. So here we go… below are my big projects if only I were the Minister of Indonesian Tourism

  1. Meneruskan proyek monorail dengan fokus menghubungkan shopping malls favorit di Jakarta, plus, sebagai sarana transportasi dari pusat kota menuju Ancol dan Taman Mini;
  2. Maksimalkan potensi TMII! Waktu di Korea, gue sempat mengunjungi Korean Folk Village, semacam desa tiruan Korea di jaman dulu. Di dalamnya, kita bisa melihat rumah-rumah tradisional Korea yang berasal dari berbagai macam provinsi di sana. Trus gue juga cukup tertarik menyaksikan ritual pernikahan tradisional ala Korea. Saat itu gue berpikir… di mata turis asing, pernikahan tradisional Indonesia juga nggak kalah menarik kok. Bule-bule pasti seneng melihat sepasang pengantin yang sibuk narik-narik satu ekor ayam panggang, hehehehe;
  3. Bersihkan pantai dan laut Ancol! Populerkan water sport di sana dan dirikan sebuah live show company sekelas Siam Niramit-nya Bangkok atau Jump dan Nanta-nya Seoul. Pattaya di Thailand dari segi pemandangan biasa-biasa aja, tapi hanya dengan jualan the best cabaret show dan water sport, Pattaya bisa jadi objek pariwisata yang populer banget di Thailand;
  4. Bangkok terkenal sebagai pusat belanja murah, padahal kenyataannya, harga barang di Jakarta juga nggak kalah murah kok. Kita punya Tanah Abang yang sudah diperbarui, ada pula ITC Mangga Dua dan ITC Kuningan yang terkenal dengan barang murah tapi lucu. Rapihkan shopping malls, jangan penuhi koridor dengan barang dagangan, jaga kebersihan toilet, pasang information board in English, dan tindak tegas copet-copet yang masih suka berkeliaran di mall;
  5. Bikin join investment dengan salah satu konglomerat Indonesia untuk membangun Disneyland di suburban area (misalnya: Bogor), kemudian siapkan satu line kereta khusus dari Jakarta menuju Disneyland. Disneyland will never ever fail to attract foreign tourists;
  6. Bikin direct flight Jakarta-Raja Ampat dan lakukan promosi berskala internasional. Harus disediakan juga penginapan yang murah tapi nyaman untuk menarik minat backpackers; dan
  7. Kurangi polusi… Asap-asap tebal dari knalpot kendaraan bukan pemandangan yang menyenangkan! Jumlah tuna wisma, tukang minta-minta, dan pengamen yang suka maksa juga harus dikurangi. It’s important for the tourist to feel safe.

5 ‘Mantra’ Andalan

Sebelum gue mulai, jangan salah sangka dulu yah… Mantra yang gue maksud di sini bukan mantra sihir atau guna-guna, tapi kalimat andalan yang sering gue bilang sama diri gue sendiri di saat-saat tertentu. Semacam kalimat penyemangat buat diri sendiri kali yaah.

Nah, berikut ini, daftar mantra andalan gue:

Semua badai pasti berlalu, pasti…

Ini kalimat yang pernah dua kali gue jadikan status Facebook, plus sering gue sebutkan dalam hati, saat gue sedang melewati masa-masa yang luar biasa sulit. Kadang di saat panik dan tertekan, gue suka lupa bahwa semua kesulitan itu pasti akan berlalu, dan hanya dengan mengingat semua itu nantinya akan berlalu, selalu bikin gue jadi lebih tenang.

God will give the best way out, just right in time…

Nah, kalimat yang ini biasa gue ucapkan kalo udah mulai nggak sabaran… kenapa sih, doa gue masih belum dikabulkan sama Tuhan? Kalimat ini merupakan upaya gue untuk kembali percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan keluar yang terbaik buat gue, tepat pada waktunya.

Whatever will be, will be…

Kalo pada akhirnya gue mulai pasrah, udah mulai nyerah, ini dia kalimat andalan gue… Ada kalanya, sekeras apapun gue berusaha, tetap ada hal-hal yang tidak akan pernah bisa gue kendalikan. Jadi ya sudah… apa yang akan terjadi, terjadilah.

I want to be a big girl so that I can be a big person…

Ada kalanya, tidak peduli sekeras apapun gue berusaha, hasil kerja keras gue itu belum tentu diapresiasi oleh orang lain. Malah entah kenapa, semakin ke sini semakin banyak aja orang yang senang meremehkan pencapaian yang gue punya. Kadang rasanya gue pengen marah, pengen ngebales rasa sakit hati gue, tapi gue selalu bilang sama diri gue sendiri… gue harus belajar berbesar hati. Gue punya banyak doa, karenanya gue sangat ingin jadi orang yang pantas dikabulkan segala doa-doanya. I do really hope that I could be a big girl who deserves to be a big person.

Someday I’ll live the life I’ve been dreaming of…

Belakangan ini, gue sering ngerasa karier gue stuck di situ-situ aja. Ada pula beberapa hal yang bikin gue ngerasa, “I deserve much better than this!” Kalo cuma mau nurutin emosi, gue bisa aja kabur secepatnya. Tapi masalahnya, my dream is much bigger than that! Gue punya mimpi besar yang perlu upaya luar biasa keras dan waktu yang sangat lama untuk bisa sampai ke sana. Makanya, di saat-saat seperti ini, gue selalu bilang sama diri gue sendiri… “Sabar… suatu hari, gue pasti bisa menjalani hidup sesuai impian.”

It’s difficult… but doable…

Gue nyadar banget bahwa prinsip-prinsip gue itu susahnya setengah mati buat diwujudkan… It’s so hard to live with principal and idealism like this. Tapi gimanapun gue percaya… kita harus menetapkan standar setinggi-tingginya supaya sejatuh-jatuhnya nggak bakalan jatuh banget. Besides, it doesn’t feel like me if I don’t fight for my own principal. Segala sesuatu yang baik itu biasanya memang susah untuk dijalankan, tapi jika hasilnya bisa bikin gue jadi orang yang lebih baik, kenapa tidak? Memang susah, tapi tidak mustahil! 

Someday I’ll Know

Someday I’ll know…

The reason behind your attention in tiniest details of my life.

The reason behind your cute jealousy once or twice in our history.

The reason why you always listened to every word I ever said.

The reason why you always tried to comfort me.

Until finally… the reason why you suddenly walked out of my life.

 

You used to be my day.

You were the one I told everything I knew.

I knew you like you were a best friend.

But now… you are only somebody that I used to know.

Then again… someday I’ll know what turned us becoming strangers.

Someday I’ll know I was right or wrong.

 

Maybe I took you wrong.

Maybe you only wanted to become a good friend.

But maybe I was right…

Maybe it’s true that I did something wrong.

I did something which killed what you felt inside.

 

Many times have passed me by.

Sometimes I wish I could forget you like you never existed.

But most of the time… deep in my heart… I’m still wondering.

What if I never pushed you away everytime I was afraid?

What if I tried harder?

What if I never let you go?

But once again… someday I’ll know the answers for those questions.

 

I do always wish nothing but the best for you.

I will always remember you as somebody whom I used to love.

Maybe our path will never get crossed again.

Maybe we’ll find our own happily ever after with someone else.

Maybe I will never hear your voice,

Not either seeing your face no more.

But one thing for sure…

I do still believe that someday I’ll know…

Someday I’ll know what we used to have.

And someday, I’ll also know the reason why we never meant to be.

 

someday-someone-will-walk-into-your-denver-wedding-inspiration

Dear God

Dear God;

Today I have something to ask… I would like to humbly ask for Your guidance.

My dear God… please help me to see my mistakes, clearly, as well as I could easily see other people’s mistakes.

Please God… don’t let me take a wrong direction. Don’t let me make a decision when I’m angry. Don’t let anything or anyone cloud my own judgment. Please guide me to always do the right things in my life.

Please let me being surrounded by good people. I may be someday in the same places with the bad guys, but please God… don’t ever let me being a part of them. Protect me from their influences and don’t ever let me think it’s okay to do those horrible things just because they do it all the times.

God… thank you for the decent life You have given to me. Please keep me away from being greedy, from taking the pennies I don’t deserve, and from worship money beyond everything. Please bless me for everything I do to earn my life, my dreams, my future.

My dearest God… as I do always try to be a good person, then I believe You already have a good man to stay with me for the rest of my life. I may fall for the wrong ones sometimes, but please God, don’t let me be blinded continuously. Kindly wake me up and give me strength to walk away.

If I finally have found my Mr. Right, please give me strength to hold on, to never give up on him, to love him and cherish every moment with him until my last breath. When hard times come to us, please do remind me to the very first days I fell in love and to every single day which ever made me want to be with him for eternity.

Dear God… you are the One who knows all of my flaws. I don’t always fulfill my promises to You, missed my Prayer to get close to You, I make mistakes, I hurt the people whom I love, but at the end of my life, I only want to be remembered as a good person. So please… I’ll always need You to guide me walking on the right path. Maybe someday I’ll get lost, but please… do always give me a way back home.

 

With love;

Riffa.