I Spend So Many Times of Waiting

 

Banyak yang bilang, gue tipe orang yang nggak sabaran. Apa-apa maunya cepet terpenuhi, suka nggak sabaran kalo ada temen lama bales SMS, chatting, dsb dsb… Tapi setelah gue pikir-pikir, in fact, I even spend too many times of waiting!

Gue menghabiskan banyak waktu buat nunggu temen gue yang suka dateng ngaret pas janjian, bisa sampe sejam lebih kalo terlambat. Udah tau punya temen super ngaret, herannya gue nggak pernah kapok bikin janji sama mereka. Paling pas lagi nunggu gue ngedumel, tapi setelah orangnya dateng ya gue lupain begitu aja.

Gue menghabiskan banyak waktu buat nunggu tanggal liburan gue! Demi dapet tiket pesawat murah, gue rela beli dari jauh-jauh hari, mulai dari 5 sampe 12 bulan masa penantian!

Gue menghabiskan banyak waktu untuk menghabiskan supplies yang gue nggak suka. Misalnya sabun yang ternyata lengket di badan, maskara yang menggumpal, eye make-up remover yang kurang efektif ngebersihin sisa maskara… Pikir gue, kalo kebiasaan langsung buang barang yang gue nggak suka, yang ada gue bisa tambah boros! Jadi, gue lebih prefer tunggu sampe habis baru gue cari produk lain dengan merk yang belum pernah gue coba.

Gue selalu menunggu moment yang tepat buat melakukan sesuatu. Gue nggak mau pake tas orang dewasa waktu masih SMA (saat itu, gue selalu pake ransel atau tas selempang ke mana-mana), nggak mau pake make-up sebelum umur 17, dan masih banyak lagi. Intinya, I do things which are proper for my age.

Gue sabar banget nunggu hp inceran gue turun harga. Menurut gue, beli hp pas baru launching itu rugi! Selain masih mahal banget, hp yang baru launching belum ketauan punya kelemahan dalam hal apa aja. Sekarang selain soal hp, gue juga rajin banget nunggu baju inceran gue didiskon. Udah cukup sekali gue syok gara-gara celana kerja dan tas yang gue beli turun harga 50% hanya dalam waktu 1 bulan aja! Dan prinsip belanja gue, diskon 20% di department store itu diskon boongan alias harga rilis barangnya emang segitu. Tunggu sampe diskon 50%, baru itu namanya diskon beneran, hehehehe.

Kalo lagi low season alias musim nganggur di kantor, gue lebih prefer nunggu jam 7 malem baru pulang ke rumah. Males banget pulang tenggo terus terpaksa diri di bis, kepanasan, berdesak-desakan pula!

Gue beli apartemen yang belum selesai dibangun dengan alasan, apartemen yang udah settled itu harganya mahal! So far, gue udah nunggu apartemen itu dibangun kurang lebih tujuh bulan lamanya… Dan entah kapan apartemen itu siap buat ditempatin, hehe.

Gue nggak pernah capek nunggu cowok yang gue suka. Entah kenapa, selalu adaaaa aja yang jadi penghalang gue sama cowok-cowok itu… Biasanya sih, gue baru nyadar suka sama seseorang kalo orang itu udah enggak lagi nunjukin kalo dia suka sama gue. Efeknya, gue terpaksa nunggu mereka buat balik lagi! My waiting records are: I spent one year waiting in junior high school, three years in high school, six months in college, and two years after work. Did they ever come back to me? Absolutely no.

However, menunggu itu enggak selamanya super duper rmenyedihkan kok. I do believe that everything which is worth to have is worth to wait for. Gue rela nunggu temen-temen gue karena gue tau, gue bakalan menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan sama mereka. Terus semua hp yang lama gue tunggu itu selalu jadi hp yang sangat gue banggakan. Dan pastinya, it’s so relaxing to sit in the bus after 8 hours working!

Lalu soal cowok-cowok itu… Well, gue percaya penantian itu meskipun semuanya sia-sia, gimanapun, emang itu yang terbaik buat hidup gue. God knows my life much better than I do, and He knows the best what is best for meso I count on Him to give me the best way out.

Besides, sometimes in this life, when we love somebody, we have to let them go. If they’re coming back, they will stay with us forever. But if they don’t, they will stay away forever. So I’m sure, the one who’s someday coming back is someone who is worth for me. And I will never know how worth he is until I’m done waiting for him.

 

Ramalan Yang Mencengangkan

 

Sebenernya gue sama sekali bukan orang yang percaya sama ramalan. Setiap beli majalah pun, belum tentu halaman zodiaknya gue lirik. Logikanya, masa’ iya sih, karakter jutaan manusia di muka bumi ini cuma terbagi menjadi 12 kelompok? Masa’ iya… nasib gue minggu ini sama persis dengan jutaan Sagitarius lainnya? Lagipula gue berani jamin, beda majalah, beda pula isi ramalannya meskipun untuk satu zodiak yang sama. So, where is the logic of zodiac?

Tapi suatu pagi, Monyka, temen sekantor gue nunjukin sebuah website yang menurut dia, ramalan zodiaknya akurat banget. Awalnya sekedar basa-basi, gue minta dikirimin link-nya. Lalu berhubung di kantor lagi nggak banyak kerjaan, iseng-iseng gue klik link itu, dan langsung menuju ke ramalan karakter cewek Sagitarius…

Berikut rangkuman isi ramalannya – sebagian udah gue edit dengan menggunakan bahasa gue sendiri:

·   Wanita jangkung, langsing, dan anggun, yang selalu berjalan dengan penuh kebanggaan bagaikan sedang berjalan di panggung kontes kecantikan (perasaan enggak semua cewek Sagitarius itu jangkung dan langsing deh…).

·   Pandai menggunakan make-up untuk mempercantik diri (ehem;).

·   Tidak mudah menyerah dan penuh dengan kepercayaan diri.

·   Orang yang terbuka, apa adanya, jujur, namun seringkali mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh orang lain. Di saat yang sama, cewek Sagitarius bisa mengatakan hal-hal yang dapat menyenangkan orang lain (well, I am a fair person, that’s the point).

·   Memiliki jiwa yang bebas dan tidak suka tinggal di rumah (bener banget!).

·   Ia suka dilindungi tapi bukan berarti dia mau diperintah-perintah. Dan ia tidak menyukai pria yang lemah. (yup, gue suka cowok yang ‘cowok banget’ tapi bukan berarti gue suka sama cowok yang otoriter!).

·   Ia hanya mau mendengarkan perkataan orang yang dihormatinya.

·   Cenderung ceroboh.

·   Dapat dengan mudah mengubah musuh menjadi teman akrab (enggak selalu berhasil sih, tapi emang ada beberapa temen deket gue yang tadinya bersikap memusuhi gue di awal perkenalan).

·   Memiliki selera yang baik dalam hal makanan, pakaian, dan layanan-layanan kelas satu.

·   Suka membelanjakan uang seolah tidak mengerti susahnya mencari uang (ups, hehe…).

·   Cenderung paranoid mengenai pernikahan (dulu sih iya, tapi sekarang udah mendingan kok, hehe).

·   Tidak suka mempedulikan gosip. Tipe cewek yang cuek pulang malam tanpa takut digosipkan tetangga (ya iyalah gue sering pulang malem… auditor mana sih yang bisa pulang tenggo setiap hari?).

·   Menilai segala sesuatu dari dua sisi.

·   Mengagumi orang yang berani berkata terus terang (jarang ada orang yang berani blak-blakan sama gue, dan emang bener, sekalinya ada, gue bakalan respek banget sama mereka).

·   Seringkali terluka oleh cinta, tetapi hal itu tidak membuatnya takut untuk mencari cinta yang baru. Seolah dia berkata: “Do that to me one more time.” (well, setelah berkali-kali patah hati, apalah bedanya patah hati sekali lagi? Biarin aja lah patah hati terus, sampe nanti, gue nemuin cowok yang akan terus menemani tiap langkah kehidupan gue, cuit cuiiittt ^^ ).

Gimanapun, sebenernya ada dua point yang enggak gue sebutin di atas karena faktanya, dua point ramalan itu bertentangan banget sama karakter asli gue: menyukai sport (padahal jelas-jelas gue paling males olahraga!) dan punya lebih banyak temen cowok daripada temen cewek (faktanya, dari belasan temen deket gue, yang cowok itu cuma tiga orang).

Overall, ramalan itu bisa dibilang 95% akurat. Tapi menurut gue sih, ini cuma suatu kebetulan aja. Gue yakin isi ramalan ini belum tentu applicable buat cewek-cewek Sagitarius lainnya. Buktinya di kantor gue, ada dua cewek dengan zodiak yang sama tapi punya karakter yang 99% bertolak belakang…

Look at the positive side, ramalan ini bikin gue jadi ngerasa lebih mengenal diri gue sendiri. Rasanya seperti membaca rangkuman karakter gue gitu…  So at the end, just read zodiacs for fun! Just click www.ngeramal.com 

Finally, thank you so much for the author of the website. You have inspired me to write this blog today:)

Dulu dan Sekarang

 

Beberapa hari yang lalu, ada temen yang curhat soal atasan dia yang sangat-sangat menyebalkan setengah mati. Dan sebenernya, si atasan itu emang udah lama terkenal dengan sifatnya yang super nyebelin. Setelah mendengar cerita teman gue itu, gue berkomentar, “Kadang gue suka kasihan sama orang kayak gitu… Soalnya gue pikir, kalo dulu enggak ada hal-hal yang mengubah gue, sifat gue sekarang pasti sama jeleknya sama atasanlo itu.”

 

Bukannya gue mau membongkar aib gue sendiri, apalagi berniat pamer soal betapa gue udah banyak berubah, tapi kali ini, gue cuma ingin berbagi soal metamorfosa selama 23 tahun hidup gue. Gue harap dengan tulisan ini, teman-teman bisa ikut memahami bahwa yang namanya mengubah sifat jelek itu sama sekali bukan hal yang mustahil.

 

Jadi di bawah ini, ada delapan kasus/situasi, yang kemudian akan gue bandingkan reaksi gue yang DULU dengan reaksi gue yang SEKARANG, ditambah ulasan tentang hal-hal apa aja yang pada akhirnya mengubah diri gue. Selamat membaca!

 

CASE # 1:

Menyapa orang-orang yang berpapasan sama gue di jalan.

               

Sekarang:           

Gue negur dengan nyebut nama, atau at least, gue melempar senyum saat berpasan dengan orang yang gue kenal, entah itu di koridor kantor, toilet, atau tempat-tempat umum lainnya.

 

Dulu:

Pura-pura nggak lihat, atau malah, buang muka saat berpapasan sama orang lain. Dan tau nggak sih, gue kenal orang yang meskipun udah dewasa, masih suka enggak negur orang lain yang berpapasan sama dia di tengah jalan!

 

What changed me:

Gue lupa apa persisnya, yang jelas, begitu masuk SMA, gue bertekad untuk berubah jadi sedikit lebih friendly. Emang sih, sampe sekarang pun, gue masih suka dicap judes. Tapi bener deh, soal sapa menyapa ini bener-bener kemajuan pesat dalam kepribadian gue, hehe….

 

 

CASE # 2:

Kepercayaan diri.

 

Sekarang:

Secara fisik, gue tau lah, gue nggak jelek-jelek amat. Apalagi kalo udah dandan, hihihi, narsisss. Terus sebenernya sih, gue ngerasa masih banyak orang di sekitar gue yang lebih pinter daripada gue, tapi, gue juga cukup percaya diri dengan kapasitas knowledge gue sendiri.  Lalu dari segi kepribadian, terlepas dari segala sifat jelek gue (judes, narsis, suka sok tau, suka kelewat penasaran, nggak sabaran, keras kepala, dsb dsb), setidaknya gue adalah tipe orang yang mau terus berusaha memperbaiki diri.

 

Dulu:

Sampai kelas 3 SMP, gue ngerasa enggak punya kelebihan sama sekali. Menurut gue, definisi cantik adalah adik gue. Definisi pintar adalah orang-orang yang rangking 1 di sekolah gue. Bahkan secara kepribadian, gue ngerasa gue emang bukan teman favorit orang-orang pada umumnya. Menyedihkan banget emang…

 

What changed me:

Di kelas 3 SMP itu, ada playboy sekolah – yang lumayan keren dan sangat pintar, pdkt ke gue. Ngakunya, demi ngejar gue, semua pacarnya udah dia putusin. Gue pernah tanya, kenapa dia sampe segitunya? Apa dia nggak malu jadi digosipin pacaran sama gue? Dan dia bilang, “Enggak, kenapa mesti malu? Elo kan cantik, pinter, enak diajak ngobrol…” Awalnya gue pikir itu semua cuma gombalan semata. Tapi lama kelamaan, gue sadar bahwa dia emang bener-bener tulus sama semua pujiannya itu. Gue emang enggak punya happy ending dari cowok ini. Tapi dari dia, gue belajar tentang pentingnya self esteem. Dari dia juga gue mulai punya cita-cita dan ambisi. Segera setelah gue memiliki semua itu, hidup gue perlahan-lahan mulai membaik. Di SMA, gue punya gank yang sampai sekarang masih merayakan ulang tahun gank setiap tanggal 8 Agustus. Begitu juga di kampus, gue nemuin sahabat-sahabat yang luar biasa. Dari segi prestasi, Alhamdulillah, sedikit demi sedikit daftar cita-cita gue mulai tercapai. Gue juga pelan-pelan mulai peduli sama penampilan luar. So yes, I should thank that guy for being so nice to me because he was the first one who changed my whole life, until now.

 

 

CASE # 3:

YM atau SMS gue nggak dibales, atau berbagai prasangka-prasangka khas pertemanan lainnya.

 

Sekarang:

Gue telepon orangnya, dan tanya baik-baik atau kalo perlu sambil bercanda, kenapa YM atau SMS gue nggak dibales. Percaya deh, error does happen for so many times. Lagipula, emang suka ada situasi yang super hectic yang bikin kita jadi mengabaikan hal-hal lain di sekitar kita. Untuk kasus lainnya, gue belajar bahwa faktanya, emang ada beberapa situasi sulit yang membuat teman kita terpaksa bereaksi yang enggak sesuai dengan harapan kita. Atau dengan kata lain, ada beberapa situasi yang membuat orang lain, tanpa disengaja, jadi terlihat jahat di mata kita.

 

Dulu:

Ngomel-ngomel dan sebel setengah mati sama si temen gue itu. Nggak temenan sama mereka lagi juga gue nggak rugi apa-apa!

 

What chaged me:

Gue pernah berantem hebat sama sahabat gue sampe berbulan-bulan lamanya, cuma gara-gara permasalahan sepele. Saking sebelnya, gue bukan cuma enggak coba ngelurusin permasalahan, gue juga enggak mau denger penjelasan dari si sahabat. Akibatnya, waktu bokapnya dirawat di rumah sakit sampai akhirnya meninggal dunia, gue enggak ada di sana buat nemenin dia… Sampe sekarang, I still wish that I could be her shoulder to cry on at that moment… Dan yang paling bikin gue ngerasa tersentuh, setelah semua kejadian itu, sahabat gue ini masih bersedia ngomong ke Ketua Jurusan supaya gue enggak disidang skripsi sama dosen yang benci setengah mati sama gue, tanpa pernah gue minta sama sekali… Dari situ gue bertekad, gue akan berusaha jauh lebih keras buat jadi sahabat yang lebih baik buat sahabat-sahabat gue.

 

 

CASE # 4:

Cepet banget ilfil sama cowok cuma karena hal-hal kecil yang enggak sesuai sama prinsip, kriteria, atau idealisme gue.

 

Sekarang:

Gue pernah syok banget sama sifat asli dan masa lalu salah satu gebetan gue. Lalu apa yang gue lakukan? Gue lupain sisi gelapnya itu, dan berusaha mengubah dia supaya jadi orang yang lebih baik. Kemudian pernah juga, cowok yang gue banggakan malah ninggalin sesuatu yang sangat gue banggain dari diri dia itu. Lalu apa yang gue lakukan? Gue dukung dia, dengan cara gue sendiri, supaya dia tetap sukses dengan pilihan hidupnya yang baru. Di saat yang bersamaan, cowok yang gue anggap luar biasa itu ternyata punya beberapa kekurangan yang bikin perasaan gue jadi enggak karuan. Kata beberapa orang terdekat gue, he’s not gentle and doesn’t care with my feeling at all. Lalu apa yang gue lakukan? Gue bilang sama mereka… keadaannya emang sulit, bukan salah dia bersikap kayak gitu. And the most amazing part is… I let go without trying to hate him at all.

 

Dulu:

Sekali mergokin si gebetan bohong, gue jadi males bales SMS atau ngangkat telepon dari dia. Playboy? No way!  Berani-berani bikin gue sakit hati? Better say goodbye! Karier-nya kelihatan kurang menjanjikan? Gue nunjukin dengan jelas ketidaktertarikan gue. Senjata pamungkas gue, gue bilang aja gue lagi naksir cowok lain. Pernah juga gue ngaku-ngaku udah punya pacar sama cowok-cowok yang ngotot banget gangguin gue melulu cuma gara-gara, gue udah ilfil sama kelakuan mereka selama pdkt.

 

What changed me:

Masalahnya, dulu-dulu itu, gue belum nemuin orang yang emang bener-bener bikin gue jatuh cinta. Makanya emang bener kalo katanya, cinta itu buta. Jadi percaya deh, kalo kita masih bisa berpikir sangat jernih, masih bisa banyak-banyak menggunakan logika, masih berpegang teguh sama kriteria dan idealisme, maka itu sama sekali bukan cinta betulan.

 

 

CASE # 5:

Ada teman yang mengolok-olok asal kampus gue… Mentang-mentang lulusan terbaik dari kampus yang lebih populer dari kampus gue! I don’t think she’s truly smarter than me.

 

Sekarang:

Meskipun gue nggak pernah bisa berteman akrab sama dia, tapi seengaknya gue juga enggak memusuhi dia lagi. Kadang gue masih suka ngobrol, curhat-curhat, tukeran gosip, cekikikan bareng… Dan menurut gue, pada akhirnya, dia udah sadar dengan sendirinya bahwa enggak sepantasnya dulu dia bersikap sesombong itu, kepada siapapun orangnya, dari manapun asal kampusnya.

 

Dulu:

Kalo gue yang dulu, gue pasti bakal bales mengolok-olok dia ketika akhirnya, terbukti bahwa dia sama sekali enggak lebih unggul daripada gue.

 

What changed me:

Bekerja dalam tim ngajarin gue begitu banyak hal soal toleransi, memaklumi, memaafkan, dan menerima orang lain, apa adanya, dengan segala sifat jelek dalam diri dia. Dalam hidup gue sendiri, ada beberapa orang yang selalu memaafkan kekhilafan gue. Jadi, udah waktunya buat gue gantian melakukan hal yang sama.

 

 

CASE # 6:

Orang yang kerja di bawah gue bertingkah seenaknya. Mentang-mentang temen, jadi enggak profesional sama sekali!

 

Sekarang:

Berusaha memaafkan, dan enggak lantas ngejelek-jelekin dia ke atasan.

 

Dulu:

Kalo gue masih gue yang dulu, gue pasti langsung lapor ke atasan supaya karier dia jalan di tempat. Yup, kalo gue enggak berusaha berubah, sekarang ini gue pastilah orang yang suka menyalahgunakan kekuasaan.

 

What changed me:

This is a long progress… Intinya sih, gue pengen banget ngebuang sifat gue yang suka kelewat emosional. Sampe sekarang pun, gue masih suka meledak-ledak. Tapi seenggaknya, gue enggak suka nyimpen dendam. Gue nggak mau bikin orang lain susah cuma gara-gara emosi gue yang lagi on fire.

 

 

CASE # 7:

Pesen makanan nggak dateng-dateng, atau nunggu uang kembalian di resto nggak dateng-dateng.

 

Sekarang:

Bersabar sampe waiter-nya dateng ke meja gue. Kalo udah kelewat lama, gue panggil waiter yang lain dan gue tanya baik-baik.

 

Dulu:

Batalin pesenan atau ninggalin resto tanpa nunggu uang kembalian.

 

What changed me:

Gue sempet kenal deket sama orang yang sabar banget. Service sepayah apapun dia enggak mau ninggalin kritik dengan alasan, kasihan sama waiter ybs. Setelah gue pikir lagi, emang kasihan juga sih… Mungkin mereka jadi lelet karena overload, dan, kritik berlebihan cuma bikin situasi mereka jadi semakin sulit.

 

 

CASE # 8:

Kasir Pain de France di BEJ ngedumel gara-gara gue pake duit pecahan lima puluh ribu buat bayar beef roll yang harganya nggak sampe sepuluh ribu. Dengan kurang ajarnya, kasir itu ngomong gini, “Tambah lagi dong, Mbak, belinya… Kan lagi diskon 40%,” dan “Besok-besok pake uang pas ya, Mbak.”

 

Sekarang:

Gue cuma dengan judesnya bilang, “Loh, saya mesti tambah berapa lagi sampe kembaliannya cukup?” Dia malah nyahutin, “Itu ada dua puluh ribu-an.” Gue bales lagi, “Mana dua puluh ribuan?” Terus dia masih aja ngedumel besok-besok pake uang pas. Padahal ya, ternyata dia masih punya banyak pecahan uang kecil! Cuma males ngeluarin aja kayaknya sih… Tapi ya udahlah, males juga ribut-ribut depan umum kayak gitu. Dan yang sekarang gue lakukan, gue sharing di sini supaya ada orang lain yang tahu betapa kurang ajarnya kasir Pain de Franc BEJ itu, hehehehe.

 

Dulu:

Kalo gue masih sama emosionalnya kayak dulu, itu mbak-mbak udah abis gue semprot di depan umum. Belum tau aja dia, gimana galaknya gue kalo udah ngamuk…

 

What changed me:

Sama kayak kasus no. 6, ini adalah proses panjang gue untuk jadi orang yang lebih sabar. It’s damn hard to learn how to be patient. Dan jujur aja, secara kejadiannya masih baru kemaren, gue masih sebel banget sama mbak-mbak kasir itu… Well, sedikit pembalasan cantik buat negur dia, enggak ada salahnya juga dong? Hihihihi.

You Have Your Dreams I Have Mine

Gue punya teman di kantor, cowok, yang terkenal pintar, yang pastinya dia ini senior favoritnya manajer-manajer di tim kita. Banyak orang menilai dia itu tipe pekerja yang ambisius, tipe auditor yang pengen terus kerja di EY sampe level partner.

 

Beberapa bulan belakangan ini, gue dapat kesempatan buat kerja satu tim sama cowok ini. Dia seniornya, gue stafnya bareng satu cewek lain yang satu level sama gue di EY. Kurang lebih gue kerja bareng sama si senior ini di kantor klien selama dua bulan. Selama dua bulan itu, I found out so many things that I never knew about him before.

 

Actually, he doesn’t really into his job as auditor. Kalopun masih bertahan ya karena dia juga nggak ada kepikiran buat kerja jadi staf accounting di perusahaan lain. Lagipula ternyata, dia punya keinginan buat mendirikan bisnisnya sendiri. Tapi dia juga bilang, running a business is risky and it’s not his moment yet.

 

Pada akhirnya gue sempat menyimpulkan, dia bukan tipe orang yang neko-neko. Sama sekali bukan tipikal ambisius seperti yang orang kira. Bahkan, sekitar sebulan yg lalu gue sempet ngomong gini sama dia, “Kayaknya elo emang bukan tipe orang yang ngejar bola yah. Padahal apa enaknya sih, hidup tanpa ambisi?”

 

Yeah, gue akui gue emang tipe orang yang ambisius. Gue banyak banget pengennya. Gue pengen nerbitin novel, terus nanti duitnya mau gue pake buat kuliah S2. Setelah lulus S2, gue mau coba apply ke perusahaan konsultan bisnis kelas kakap. Setelah cukup lama kerja jadi konsultan, gue mau resign terus mendirikan konsultan ala gue sendiri.

 

Apa yang membuat gue jadi sebegitu ambisiusnya? Karena gue ngerasa, hidup gue jadi jauh lebih indah setelah gue berubah menjadi orang yang ambisius. Lalu apa yang gue lakukan untuk mengejar ambisi itu? Enggak ada sama sekali.

 

Sampe pertengahan tahun lalu, gue masih rajin ngetik novel gue secara konsisten. Gue juga masih rajin searching beasiswa S2 di luar negeri. Tapi, mendekati akhir tahun 2009, gue mulai sibuk lagi sama kerjaan, sering lembur termasuk di akhir pekan, ditambah beban pekerjaan yang mulai lebih berat daripada tahun sebelumnya. Singkat cerita, novel gue terabaikan, nyari-nyari beasiswa dan pekerjaan baru pun sudah terlupakan.

 

Setelah melewati masa-masa sibuk dari akhir tahun 2009 sampai awal tahun 2010, tiba-tiba gue ngerasa betah kerja di EY. Gue mulai mikir, I am good at this job, so why should I look for another one? Buat apa gue ambil resiko dengan banting setir ke bidang lain yang jauh berbeda?

 

Lalu tiba-tiba, saat gue lagi ngerasa betah dan nyaman sama profesi gue sebagai auditor, senior yang tadi gue ceirtakan tiba-tiba menyampaikan kabar yang sangat menggemparkan… dia mau resign. Bukan cuma sekedar statement, dia udah bikin surat resign dan udah ditandatangani sama salah satu manajer di tim kita (fyi, di tim gue ada 3 orang manajer).

 

Malam harinya, entah kenapa gue nggak bisa tidur. Sempet tidur tiga jam, tapi kemudian kebangun lagi jam 2 pagi. Akhirnya gue nonton bola di RCTI, dengan harapan, bosen nonton bola bisa bikin gue tertidur lagi (sorry to say, football match is boring to me).

 

Ternyata, sampe pertandingan itu selesai, mata gue masih terjaga. Gue coba tidur, tapi yang ada gue malah terus-terusan kepikiran sama si senior yang tiba-tiba resign itu. Waktu itu gue pikir, jangan-jangan dia ada masalah berat yang bikin dia terpaksa resign dan pulang ke Bandung. Atau jangan-jangan… dia sangat-sangat tertekan sama kerjaan di kantor sampe akhirnya memutuskan buat resign. Dan terus terang, sebagai orang yang paling sering ngobrol sama dia selama 2 bulan di kantor klien, gue ngerasa syok. Kenapa gue nggak bisa nebak rencana resign dia sama sekali? I am usually good at guessing something.

 

Gue pun mutusin buat mulai menginterogasi temen gue ini. Berbagai dugaan, mulai dari yang masuk akal sampai yang paling konyol gue lontarkan langsung ke orangnya. Tapi ternyata, alasan dia simpel aja: dia cuma ngerasa ini udah waktunya buat dia berhenti dan memulai bisnisnya sendiri.

 

Gue emang syok dia mau resign. Dan… yah, gue juga sedih karena bakal kehilangan satu orang teman. Tapi seperti yang gue bilang ke dia, “Yah… look at the bright side, akhirnya elo mulai ngejar bola.”

 

Sekarang gue tau, dia bukannya enggak punya cita-cita. Dia sendiri bilang dia punya banyak keinginan, tapi dia butuh waktu lama supaya punya keberanian untuk mengambil resikonya. Then there he goes… he is now about taking his own risk.

 

Gue lihat teman gue ini jadi lebih happy setelah menyatakan resign. And I am happy if my friend is happy. Tapi di balik itu, gue jadi teringat sama cita-cita gue sendiri. What the hell am I still doing here? Apa kabar novel gue? Apa kabar cita-cita gue yang setinggi langit itu?

 

Terus terang, seambisius apapun gue, dalam hati gue masih menyimpan rasa takut. Gimana kalo novel yang sedang gue tulis itu ditolak sama penerbit seperti yang pernah terjadi sama novel gue sebelumnya? Gimana kalo setelah capek-capek kuliah S2, gue tetep enggak berhasil dapet kerja di perusahaan konsultan kelas kakap? Atau katakanlah akhirnya gue berhasil kerja di konsultan bergengsi, apa nantinya gue bisa memenangkan persaingan di sana? Karena harus gue akui, ilmu manajemen dan analisa keuangan gue enggak secanggih ilmu akuntansi dan audit gue… So I’m not trully sure that I’m gonna survive in my dream job in business consulting firm.

 

Di saat yang sama, gue jadi teringat sama nasehat salah satu teman cowok gue yang lainnya. Dia pernah bilang, jangan suka kebanyakan mikir. Worry too much only makes me scare to move. Dan gue rasa, si senior gue itu juga sempat ngerasain apa yang saat ini gue rasakan. Cuma bedanya, he finally makes a move toward his dreams.

 

Tiga minggu lagi, senior gue ini efektif resign. Selama waktu yang tersisa itu, gue harus banyak belajar sama dia supaya nantinya bisa ngambil alih semua kerjaan dia di klien kita. Gue pengennya, tiga minggu cukup untuk gue memahami semua kerjaannya dia. Gue nggak mau nantinya masih ngerepotin dia dengan telepon, YM, atau SMS cuma buat buat nanyain soal kerjaan yang dia tinggalkan. Prinsip gue, if my colleagues wants to go, I’ll set them free.

 

Kata Oprah Winfrey, everyone comes to our life for a reason. Begitu pula sama teman yang sekaligus senior gue ini… Meskipun gue kenal dia cuma 1 tahun 10 bulan, dan meskipun cuma sempat dekat selama dua bulan saja, at least I finally know that reminding me to my dreams is the reason why there is him in my life even only for a very short time.

 

Jadi ya sudahlah, gue nggak mau mendramatisir keadaan. Bisa-bisa pihak yang bersangkutan jadi cekikikan gara-gara geli baca tulisan gue ini. Cukup sekian aja tulisan pertama dan terakhir gue tentang dia, dan abis ini, gue mau nerusin lagi novel gue yang sempat setahun tertunda itu:) 

 

PS: You have your dreams I have mine… Good luck.

Bosan

Biasanya, gue bukan tipe orang yang gampang ngerasa bosan. I always have something to do to spend my time, and I always have a good reason to smile and laugh everyday. Malah jujur, gue suka ngerasa gengsi mengakui kalo gue lagi bosan sama hidup gue (karena faktanya, rasa bosan itu paling cuma muncul sekitar sejam-dua jam doang kok).

Namun dengan berat hati gue akui… belakangan ini gue lagi ngerasa bosan sama keseharian gue. Kayaknya udah nggak ada lagi hal-hal yang bikin gue ngerasa antusias. Everything feels so ordinary, nothing special, bahkan entah kenapa gue jadi lebih jarang ketawa sampe terpingkal-pingkal. Bahkan, aktivitas harian yang biasanya terasa biasa-biasa aja, mulai terasa sangat-sangat menjengkelkan dan sempet bikin gue ngerasa down.

Contohnya… gue sekarang benci banget naik bis kota. Apalagi kalo harus diri dan berdesakan! Gue kesel sama diri gue sendiri kenapa udah hampir dua tahun kerja masih belum bisa nyicil mobil pribadi. Padahal ya, sebenernya gue bukan tipe orang yang kepengen cepet-cepet punya mobil pribadi lho. Gue lebih prefer apartemen daripada mobil pribadi. Tapi berhubung gue udah mulai eneg sama bis kota dan mulai kesel kalo harus bergantung sama mobil temen sekantor, sekarang gue jadi kepengen banget punya mobil sendiri.

Btw… kenapa jadi nyerempet ke mobil pribadi ya?

Ah, pokoknya hidup gue lagi terasa menyebalkan lah. Apalagi soal kerjaan di kantor. Alamaaak… bukannya gue enggak bersyukur, tapi rasa-rasanya udah ada kali sekitar 20 alasan kenapa gue harus cepet-cepet resign dari kantor ini! Udah bosen banget gue kerja di sini. Udah kebayang lah gimana jadinya aktivitas karier gue sampe lima tahun ke depan kalo gue tetep kerja di perusahaan ini. Malah gue suka berpikir, kayaknya emang pekerjaan ini deh, pangkal dari rasa bosan gue belakangan ini.

Faktor lain yang bikin gue ngerasa lagi bosan adalah… rasanya udah lama banget gue enggak bikin blog yang isinya lucu dan menyenangkan. Abisnya, emang lagi nggak ada hal yang menyenangkan untuk diceritakan sih! Waktu menjelang akhir tahun sempet dapet tim temporer yang asyik banget, tapi yang namanya temporer ya udah, selesai tugas kita langsung bubar. Atau mungkin… karena sebulan belakangan ini gue ngaudit dalam tim kecil makanya gue jadi ngerasa bosan ya? Tapi kayaknya enggak juga deh. Masih mending tim kecil, waktu di perusahaan yang pertama gue malah hampir selalu terjun ke klien sendirian. Tapi waktu itu, meskipun sendirian tapi gue tetep happy-happy aja tuh. Jadi kayaknya… emang gue udah mati rasa kali yaa, sama kerjaan ini?

Persoalan keuangan juga lagi bikin gue bete belakangan ini. Dulu duit gue abis tapi sebagai gantinya, gue jadi punya barang-barang keren yang gue inginkan. Tapi sekitar dua bulan belakangan ini, gue tuh lagi bingung euy… uang gue itu pada ke mana abisnya ya? Soal keuangan juga bikin gue bete. Sekali lagi bukannya gue nggak bersyukur, tapi asli deh, gue mulai ngerasa gaji gue itu kurang banget. Ini juga salah satu alasan kenapa gue pengen resign. Ditambah lagi, ada satu peraturan tidak tertulis di kantor soal charge overtime yang suka bikin gue jengkel setengah mati. Ah, pokoknya balik lagi, gue udah males banget lah sama kerjaan ini!

Di luar kerjaan, gue juga mulai mempertanyakan kehidupan sosial gue yang rasanya udah setahun belakangan ini terasa jalan di tempat. Nggak banyak orang baru yang gue kenal, dan nggak banyak juga hal-hal baru yang gue coba untuk bersenang-senang. Ada sih, rencana pengen ke sana pengen ke sini sama temen lama-lama. Tapi realisasinya? Payah ah, rata-rata cuma ngomongnya doang! Pernah tuh, gue udah capek-capek ngumpulin info, ngitung-ngitung budget, eh…. pas udah deket hari H semuanya malah tiba-tiba punya banyak alesan! Kapok lah gue ngerencanain pergi-pergi kayak gitu lagi. Jadi mungkin… gue harus nyari komunitas baru yang fleksibel buat diajak pergi berpetualang, hehehe…

Tapi… yah… biar gimana juga, gue masih sadar diri kok, kalo gue bukan orang yang paling menderita sejagat raya. Toh kita enggak perlu jadi orang paling menderita sedunia untuk boleh mengeluh… Mengeluh itu hak asasi manusia lho guys, hohoho… Yang jelas, gue nggak mau no action talk only. Kerjaan baru udah mulai dicari (walau dengan belagunya setelah nyari berjam-jam, cuma kirim lamaran 1 biji saja:), dan… gue juga udah mulai merencanakan liburan sama teman-teman baru yang kayaknya lebih fleksibel buat diajak jalan. Lalu soal komunitas baru… hmm, ikut les  atau komunitas sosial tertentu bakalan asyik juga kali yaa?

Pokoknya, gue nggak boleh diam saja! Pasti akan ada cara buat bikin gue happy kembali. Semua badai pasti akan berlalu kan? Lagipula… gue nggak akan pernah bisa memaknai kebahagiaan kalo gue nggak pernah ngerasa bosan! So everybody… let’s find – a positive – way to have some fun! Have a nice day!

2008 Versus 2009

As usual, setiap akhir tahun gue suka merenung pencapaian apa yang sudah berhasil gue raih selama satu tahun yang bersangkutan. Berikut summary achievement gue selama tahun 2008 dan 2009…

2008:

1. I got my first job… Walau kerja sambil kuliah, tapi kerjaan pertama gue itu bukan kerjaan main-main dengan income seadanya. Gue bersyukur banget karena ternyata, gue banyak dapet pengalaman dan pelajaran baru dari pekerjaan pertama gue itu… Karena pekerjaan itu pula gue punya teman-teman baru sekaligus mengenal banyak banget orang baru dalam waktu yang sangat singkat;

2. I got my second job… and my second job was my dream job:) Seneng dan bangga banget omongan iseng gue waktu kuliah: “Nanti gue mau kerja di EY, gedung kantornya keren, perusahaannya juga bergengsi” akhirnya jadi kenyataan…

3. Dua bulan setelah kerja di EY barulah gue diwisuda! Thank God gue berhasil mencapai IPK yang gue targetkan sejak kuliah semester satu baru dimulai…

4. Waktu skripsi, gue bikin penelitian yang agak lain dari yang lain, lalu akhirnya penelitian gue itu diterima di konferensi GCG berskala internasional!

5. Gue mendapatkan pelajaran besar soal cinta dan persahabatan. I finally found out who was my very best friend ever.

 

2009:

1. I got my first promotion at EY! Padahal harusnya gue baru promote tahun 2010. Tapi alhamdulillah gue dipercaya untuk naik level meski waktu itu gue baru enam bulan mendapatkan status karyawan permanen.

2. I finally moved on! Nemuin cowok baru dengan tipikal yang benar-benar baru. Bagi gue ini suatu prestasi secara sebelum-sebelumnya, I always fell for any bad guy. Terlepas dari gimana ending gue sama si cowok baru ini, yang penting adalah gue jadi sadar tipe cowok seperti apa yang seharusnya dimiliki sama semua cewek di dunia ini.    

Well, overall, 2008 was still my best year ever. Ada banyak kejadian di 2008 yang mendewasakan gue, yang bikin gue ngerasa jadi lebih pintar dan berwawasan, yang bikin gue lebih bisa menerima diri gue sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan yang paling penting, ada banyak banget kenangan manis di 2008 akan enggak akan pernah gue lupakan.

Lalu 2009? Well, di awal tahun emang lumayan banyak hal-hal manis yang juga enggak akan gue lupakan. Tapi secara keseluruhan, bagi gue 2009 itu penuh dengan cobaan, mulai dari soal pekerjaan, persahabatan, sampai urusan cinta-cintaan. Tapi anehnya, justru persis tanggal 31 Desember 2009 gue malah bisa melihat segala yang terjadi sepanjang tahun 2009 dengan jauh lebih jelas. Boleh dibilang, gue mulai menemukan alasan-alasan di balik segala cobaan yang menimpa gue sepanjang tahun.

Bicara soal resolusi, jujur aja nih, enggak ada satu pun resolusi 2009 gue yang berhasil jadi kenyataan. Gue masih kurus, masih jomlbo, soal jerawat masih kadang mulus kadang nongol lagi, novel belum kelar, belum sempet les English lagi, dan masih banyak resolusi lain yang semuanya tidak berhasil terwujud di 2009. But it’s okay, as long as I’m still breathing, everything is possible right?

Beberapa hari menjelang akhir tahun 2009, gue sempet mikir satu-satunya resolusi gue untuk 2010 hanya ingin BENAR-BENAR move on from somebody. Tapi seperti yang sebutkan sebelumnya, tiba-tiba aja masalah move on itu juga beres dengan sendirinya persis menjelang pergantian tahun. Jadi katakanlah… resolusi 2010 = resolusi 2009 gue yang lalu itu aja:D

Ok then, happy new year everybody! Wish us an amazing year surrounded by love, fulfilled by achievements, and full of happiness plus prosperity;D Have a nice year!

Life is NOT a Fairy Tale

 

 

Hidup tidak akan pernah berakhir sama dengan kisah Cinderella. Tidak akan pernah ada pangeran berkuda putih yang datang ke kastil untuk menyelamatkan kita, menikahi kita, lalu hidup bahagia selama-lamanya. Happily ever after will never exist in a real life.

 

Sebetulnya, udah sejak lama gue mendengar nasehat sebagaimana tertulis di paragraf satu. Kita harus belajar hidup realistis, berhenti bersikap naïf, tumbuh dewasa dan bersikap tangguh menjalani kehidupan. Kedengarannya simpel, tapi jelas bukan hal yang mudah untuk merealisasikannya.

 

Dalam kehidupan pribadi, teori ini gue terapkan dengan cara tidak menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain. Gue percaya segala kebahagiaan terletak di genggaman tangan gue sendiri. Gue udah berhenti berpikir, “Gue akan bahagia kalo gue udah punya pacar,” atau, “Gue akan bahagia seandainya gue punya sahabat yang lebih dewasa, lebih bijak, lebih pengertian…” atau, “Hidup gue akan lebih indah seandainya gue punya keluarga yang lebih kompak dan tidak egois.”

 

I simply think that I am happy with my own life. Gue menyadari bahwa gue tidak bisa memilih orang-orang yang bisa gue jadikan keluarga. Gue menyadari bahwa mau dicari sampai ke ujung dunia pun, gue tidak akan menemukan sahabat yang 100% sempurna. Dan yang paling penting, gue menyadari bahwa punya pacar sudah pasti akan mengubah dunia gue, TAPI, hal itu tidak akan membuat gue bahagia sampai akhir hayat. Tidak ada hubungan yang sempurna di dunia ini, dan, tidak ada cinta yang sempurna dalam kehidupan kita.

Lalu belakangan ini, gue belajar lebih banyak tentang hidup di dunia nyata. Gue belajar bahwa…

  1. SEMUA orang yang dekat dengan kita, entah itu keluarga, sahabat, atau pasangan hidup, suatu kali dalam hidupnya, akan pernah merasa jenuh dengan kedekatan mereka dengan kita. They will think they need a space for their own. Akan tetapi, percayalah bahwa itu nggak berarti mereka nggak cinta sama kita lagi. Maka sebaliknya, jangan menyalahkan diri sendiri jika justru kita yang merasa jenuh dalam suatu hubungan. Kejenuhan itu hanya suatu fase, yang akan bisa kita lewati dengan baik jika kita menghadapinya dengan cara yang terbaik;
  2. SEMUA orang yang kita kenal pasti pernah berbohong kepada kita, entah itu kebohongan kecil atau kebohongan besar baik disengaja maupun tidak disengaja. Sudah waktunya kita menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa mengakhiri suatu hubungan hanya karena terbongkarnya suatu kebohongan. Berkacalah kepada diri sendiri… kita juga tidak selalu berkata jujur bukan? Akan tetapi pada akhirnya, hubungan yang paling bahagia adalah hubungan yang dilandasi oleh kejujuran. Maka, mintalah maaf untuk kebohongan yang kita lakukan dan berusahalah sekuat tenaga untuk tetap selalu bersikap jujur;
  3. Terimalah kenyataan bahwa orang yang paling sering menyakiti kita adalah orang yang paling dekat dengan kita. Sebaliknya, orang yang paling sering kita sakiti adalah orang yang paling dekat dengan kita. Siapapun mereka, satu atau beberapa kali mereka akan sangat-sangat menyakiti perasaan kita.  Maka berhentilah mencari seseorang yang akan SELALU membawa kedamaian dalam hidup kita. Terimalah pil pahit bahwa tidak akan pernah ada hubungan yang tidak diwarnai oleh pertengkaran. Akan tetapi, jangan lantas melarikan diri dari cinta dan persahabatan. Orang yang tidak mengusahakan apa-apa juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena faktanya, kebahagiaan itu ada harganya.

 

Meski hidup tidak akan pernah seindah negeri dongeng, percayalah bahwa this life is worth living. Satu tips gue, pastikanlah bahwa kita adalah orang yang mencintai serta layak untuk dicintai. Lalu saat melakukan kesalahan, pastikan bahwa kita adalah orang layak untuk dimaafkan serta sangat ikhlas untuk memaafkan.

 

Akan tetapi sekali lagi, mengingat hidup ini bukanlah fairy tale, ingatlah baik-baik bahwa meminta maaf dan memaafkan tidak berarti kita pasti akan dimaafkan. Berbuat baik pun belum tentu dibalas kebaikan oleh orang-orang yang bersangkutan. Atau yang paling menyakitkan, mencintai tidak berarti balas dicintai. Meski begitu, tetaplah percaya bahwa orang-orang tidak tahu diri itu tidak punya hak untuk merusak kebahagiaan kita! This life is ours, so don’t let them break us down! Cukup bersabar, belajar dari pengalaman, tersenyum, dan kembali pastikan bahwa kita tetap orang yang sangat layak untuk dicintai. Sisanya, biarkan Tuhan mengambil peranan-Nya. Selamat menikmati hidup!

 

Emansipasi Salah Kaprah

I am an independent girl, but I am NOT a feminist. Karena tidak seperti kaum feminis pada umumnya, gue masih senang diperlakukan sebagai perempuan. Senang rasanya saat ada cowok yang bersedia memberikan tempat duduknya buat gue di dalam busway, atau saat ada teman cowok yang menawarkan diri untuk membawa kardus-kardus berat yang harus gue pindahkan. Selain itu, gue juga masih sangat menyukai hal-hal yang berbau romantis (ingat ya, romantis, bukan gombal!). Dan yang paling penting, gue tidak menyetujui pandangan kaum feminis bahwa kedudukan pria dan wanita harus setara dalam SEGALA hal.

Memang benar bahwa perempuan harus memperoleh kesempatan yang sama dalam mengeluarkan pendapat, menuntut ilmu, berkarier serta memperoleh hak yang setara dengan pria (misalnya, udah nggak jaman tuh perusahaan hanya memberikan asuransi kesehatan untuk karyawan laki-lakinya saja). Akan tetapi, dalam kehidupan berumah tangga, kedudukan seorang suami harus tetap lebih tinggi daripada kedudukan istrinya. Kenapa? Karena ibarat sebuah kapal, hanya akan ada satu orang yang menahkodainya. Artinya, kepala keluarga hanya tetap berjumlah satu dan sudah menjadi kodrat laki-laki untuk mengepalai sebuah keluarga.

Jadi salah besar kalau ada yang mengira gue ini tipe feminis tulen yang merasa bisa survive hidup seorang diri. Faktanya, gue justru suka bingung sama perempuan yang merasa bisa hidup tanpa laki-laki seumur hidupnya, apalagi penganut feminis yang sampe mutusin buat jadi lesbian! Ih, enggak banget deh… Memang benar pendapat mereka bahwa tanpa laki-laki pun kita sudah bisa menghidupi diri kita sendiri. But woman will always be a woman. We were born for having a guy to complete our life.

Singkatnya menurut gue, gerakan feminisme yang berlebihan adalah suatu bentuk emansipasi yang salah kaprah. Karena pada dasarnya, emansipasi hanya bicara soal kesetaraan hak untuk perempuan dalam menjalani kehidupannya. Dulu, Ibu Kartini hanya memperjuangkan hak perempuan untuk mengenyam pendidikan dan bukan mengajarkan bagaimana caranya hidup tanpa laki-laki, iya kan?

Maka dalam versi yang lebih modern, emansipasi berarti:

  1. Menyekolahkan anak-anak serta memberi fasilitas secara adil tanpa membedakan jenis kelaminnya;
  2. Memberikan kebebasan kepada istri untuk tetap meniti karier;
  3. Merekrut karyawan berdasarkan kualifikasi, dan bukan berdasarkan gender;
  4. Memberikan promosi berdasarkan prestasi. Walaupun dia itu perempuan yang sudah menikah, tapi kalau dia punya prestasi yang cemerlang, kenapa tidak?
  5. Memberikan benefit yang setara antara karyawan perempuan dengan karyawan laki-laki;
  6. Menaruh hormat kepada atasan, meskipun dia itu seorang perempuan;
  7. Memberikan hak yang setara kepada perempuan untuk mengeluarkan pendapat;
  8. Menghargai dan mendukung perempuan dengan cita-cita setinggi langit dan bukan malah menghindari apalagi mencibir karena sirik.

Bentuk emansipasi salah kaprah lainnya seringkali datang dari para kaum lelaki. Berhubung sudah jaman emansipasi, mereka (cowok-cowok jaman sekarang) cuek aja duduk manis di dalam bis ketimbang ngasih tempat duduknya buat ibu-ibu bahkan nenek-nenek yang berdiri di depan mereka. Gue pernah lho, naik bis penuh sesak dalam keadaan sakit dan terpaksa berdiri, lalu cowok di depan gue bukannya iba ngelihat muka pucat plus batuk-batuk gue, eh, dia malah enak-enakan tidur di tempat duduknya itu! Dalam hati gue gemes banget; dia itu laki apa bukan sih???

Sekali lagi gue tekankan bahwa emansipasi hanya bicara soal kesetaraan hak dan bukan suatu upaya pembuktian bahwa perempuan itu pasti lebih hebat daripada laki-laki dalam segala hal di dunia ini. Gimanapun secara fisik, laki-laki diciptakan lebih kuat daripada perempuan. Jadi syukurilah anugerah itu dengan tetap bersikap gentle. Enggak perlu lah bukain pintu atau narikin kursi, secara buka pintu dan narik kursi toh bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Tapi soal ngangkat barang-barang berat, jemput si pacar lewat tengah malam, kasih tempat duduk buat manula, ibu hamil, dan orang sakit itu HARUS dilakukan selama kalian para cowok masih mampu untuk melakukannya. Kalian masih pengen dihormati dan diakui kejantanannya toh? Jadi cobalah belajar how to be a gentle man dan bersedia berusaha lebih keras untuk memperlakukan perempuan dengan baik.

Tulisan ini akan gue akhiri dengan tambahan tips buat sisi cewek maupun tips buat sisi cewek.

Buat teman-teman cowok, cobalah pahami keingin kami (para cewek-cewek masa kini:) untuk meraih cita-cita kami dalam hidup ini. Kami juga punya mimpi, kami juga bekerja keras untuk mewujudkannya, tapi kenapa seringkali semua itu harus kandas atas nama cinta? Rasanya miris banget setiap kali ngelihat cewek yang dipaksa untuk memlih antara karier atau pernikahan… Padahal cita-cita itu tidak hanya bicara soal uang, tapi juga aktualisasi diri, kehidupan sosial, kepuasan dan kebanggaan dalam berprestasi. Jadi daripada merasa terancam, kenapa kita tidak saling bahu membahu saja dalam mengejar mimpi kita bersama?

Buat teman-teman cewek akan gue bagi menjadi dua golongan tips.

Yang pertama tips buat perempuan dengan pola pikir yang masih konvensional. Gue tidak akan menganggap enteng pilihan seseorang untuk menjadi ibu rumah trangga yang seutuhnya. Ngurus rumah dengan segala tetek bengeknya adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Meski demikian, jangan lantas bermulut nyinyir kepada perempuan yang sibuk mengejar karier di luar sana. Jangan berusaha membuat hidup orang lain menderita dengan mengatai dia terlalu ambisius apalagi mengatai dia bakal jadi perawan tua yang hidupnya tidak bahagia! Sungguh ironis fakta bahwa hidup perempuan seringkali menjadi lebih sulit karena keberadaan perempuan lain dalam lingkungannya.

Lalu buat para perempuan mandiri masa kini, please berhenti membohongi diri bahwa kita pasti bisa hidup bahagia seorang diri. Ok saat ini kita bahagia, tapi sampai kapan? Sanggupkah kita menjalani masa tua kita seorang diri? Berpasangan memang pasti mendatangkan begitu banyak masalah baru, tapi tetap saja jutaan orang di dunia ini lebih memilih untuk hidup sampai tua bersama pasangannya, iya kan? Jangan lupa bahwa bagaimanapun, manusia dilahirkan berpasang-pasangan… Tips lainnya, cobalah untuk sesekali mengurangi kadar kemandirian kita dalam kehidupan sehari-hari. Biarkan si pacar menggandeng lengan kita saat akan menyeberang jalan, berikan senyuman tulus dan ucapkan terima kasih saat pasangan memberikan kejutan, dan jangan pernah mengatakan pada orang yang kita cintai bahwa hidup kita akan baik-baik saja meski tanpa kehadirannya.

Jujur sampe sekarang gue sendiri masih mengalami dilema ala perempuan Indonesia. Gue pengen banget kuliah lagi, tapi gue takut nanti malah jadi perawan tua. Gue juga punya ambisi karier setinggi langit, tapi lagi-lagi, gue takut nanti malah jadi perawan tua! Maka besar harapan gue, tulisan ini akan memberi kontribusi berupa pola pikir yang lebih bijaksana soal konsep emansipasi.

Untuk gue sendiri, gue lebih memilih untuk tetap mengejar apa yang gue cita-citakan dalam hidup ini. Konon katanya, kelak kita akan lebih banyak menyesali hal-hal yang tidak kita lakukan selagi muda daripada menyesali kegagalan yang pernah kita lakukan di waktu yang lalu. Dan pastinya, gue tidak ingin menghabiskan masa tua gue dengan tenggelam dalam penyesalan. Soal jodoh, gue percaya bahwa itu semua sudah ada yang mengatur. Gue nggak ngerasa perlu takut sama cowok yang membatasi kehidupan karier pasangannya karena toh secara otomatis gue emang enggak respek sama cowok seperti itu.

Lalu kalo soal pilih-pilih cowok sih, jawaban gue simpel aja: kita harus teliti sebelum membeli kan, hehe… Lagipula sebetulnya gue enggak segitu pemilihnya kok. Emang dasar aja gue belum beruntung buat urusan asmara… Tapi emang sih, pada dasarnya gue bukan tipe orang yang bersedia pacaran sama siapa aja asalkan dia suka sama gue. I need someone who treats me as a person, and in the same time, he has a quality to make me have a will to put my faith and respect in him. Dan pastinya, cowok itu tidak boleh memiliki pemahaman yang salah kaprah soal emansipasi, hehe…

Akhir kata, selamat hari Kartini! Mari kita rayakan dengan penuh syukur karena setidaknya, pada jaman ini diskriminasi gender telah berkurang sedikit demi sedikit. Let us keep the good work ok!

When I Hate Something Inside of Me…

Terkadang gue ngerasa enggak comfort sama diri gue sendiri. Orang bilang punya sifat skeptis, instingtif, dan analitis itu hal yang bagus banget. Tapi belakangan ini, gue justru ngerasa enggak nyaman sama tiga sifat gue tersebut.

Contohnya begini…

Gue bisa menebak atau memahami sesuatu hanya dengan petunjuk yang sedikit.

Misalnya, gue bisa nebak siapa suka sama siapa hanya dengan petunjuk berupa hal-hal yang sangat kecil. Mau bukti? Gue kasih tipsnya…

  1. Tentukan target;
  2. Buka Facebook-nya;
  3. Pertama-tama buka koleksi fotonya;
  4. Cari foto yang berisi banyak orang;
  5. Perhatikan urutan tag-nya. Orang yang pertama kali dia tag dalam foto tersebut, kemungkinan besar orang yang paling dekat dengan dia atau orang yang paling sering dia pikirkan;
  6. Apabila orang tersebut seringkali di-tag dalam urutan pertama dalam foto-foto dia yang lainnya, percaya deh, kemungkinan besar dia suka sama orang yang di-tag itu (dengan catatan orang itu pastinya lawan jenis target elo itu dong ya…);
  7. Lakukan hal yang sama dengan notes. Perhatikan siapa lawan jenis yang paling sering dia tag.

Ini baru satu cara. Gue punya seribu satu cara lainnya untuk menebak hal-hal yang terjadi di lingkungan gue. Mungkin kedengarannya hal seperti itu mengasyikan. Malah senior gue juga bilang salah satu kelebihan gue adalah gue bisa memahami suatu pekerjaan hanya dengan instruksi yang sedikit. Tapi enggak enaknya, terlalu mudah menebak sesuatu sering membuat gue ngerasa sedih. Kenapa? Karena dengan kemampuan itu, gue juga jadi bisa nebak siapa-siapa aja yang enggak suka sama keberadaan gue, atau siapa aja teman yang tiba-tiba enggak ngerasa nyaman dengan kehadiran gue.

Percaya deh, isi hati manusia adalah sesuatu yang paling tidak ingin kita dengar secara keseluruhan. Pastilah suatu malapetaka kalau kita punya kemampuan supranatural untuk membaca pikiran orang lain kayak si Edward Cullen itu. Kenapa bisa begitu? Karena kita semua punya sisi kejam, punya kata-kata pedas yang hanya tersimpan di dalam hati. Jadi memang benar bahwa pada dasarnya, tidak ada manusia yang 100% jujur dalam kesehariannya.

Gue tidak akan menyalahkan orang lain yang tidak menyukai gue tanpa dasar. Toh kita semua pernah membenci orang lain hanya karena tampilan luarnya saja kan? Lagipula hidup itu relaistis aja lah… Enggak mungkin juga SEMUA orang di dunia ini bisa suka sama kita, iya kan?

Yang gue sayangkan adalah orang-orang terdekat (keluarga besar, teman, sahabat, rekan kerja dsb…) yang terlalu jauh antara mulut dengan hatinya. Enggak perlu terlalu jujur, tapi enggak perlu juga memakai topeng yang kelewat tebal. Masalahnya adalah, meskipun mereka berusaha menyembunyikan, seringkali gue bisa dengan mudah menemukan apa yang mereka sembunyikan itu dengan sendirinya…

Kejujuran memang tidak selamanya menyenangkan. Tapi menemukan kejujuran yang disembunyikan jauh lebih tidak menyenangkan lagi. Itulah alasannya kenapa gue sebal dengan kemampuan gue yang bisa dengan mudah menebak begitu banyak hal di sekitar gue. Kesannya tuh kayak gue jadi orang yang super sensitif, suka mendramatisir, membesar-besarkan masalah dsb… Padahal intinya mereka enggak tahu bahwa gue udah tahu hal apa saja yang mereka sembunyikan dari gue. Dan kalo sampe gue udah mengambil tindakan, baisanya tuduhan itu udah bukan modal insting doang. Gue juga punya fakta-fakta yang menguatkan tuduhan gue tersebut. Tapi tetep aja, meskipun udah tahu, gue lebih memilih untuk diam sehingga akhirnya malah gue sendiri yang makan hati.

Kadang gue iri sama teman-teman yang masih saja bersifat naif meskipun sudah berusia dewasa. Mereka enggak sensitif sehingga enggak perlu ambil pusing sama something wrong yang terjadi di sekitar mereka. Gue juga iri sama orang-orang  yang bisa cuek aja meskipun tau dia sering jadi bahan omongan orang karena sikapnya yang suka teriak-teriak depan umum, yang suka kelewat lebay, bossy, yang super aneh, yang super pelit, dsb… Katanya sih, kalau kita ingin kebal seperti mereka, kita harus belajar jadi orang yang cuek. Bahkan sadisnya, ada pula yang bilang kita harus mematikan peranan hati dan perasaan kita. Maksudnya, jangan suka main perasaan dan serahkan semuanya kepada logika.

Gue kenal beberapa orang yang punya prinsip trust nobody. Ada pula orang yang enggak percaya sama persahabatan. Ada juga orang yang lebih memilih hidup sendiri ketimbang tinggal satu atap dengan orang lain yang ujung-ujungnya hanya membawa malapetaka.

Duh, gue enggak bisa, bener-bener enggak bisa hidup seperti itu. Gue enggak mau sampe kehilangan hati nurani, gue enggak mau membatasi kedekatan gue dengan orang lain… Gue masih ingin percaya bahwa pada dasarnya, setiap orang itu punya sisi baik dalam diri mereka… Dan yang paling utama, gue enggak mau hidup sendirian!

Biar kata tante-tante gue hobi banget ngomel-ngomel dan ngomongin orang, tapi tanpa mereka hidup gue terasa kurang ramai.

Biar kata temen-temen sekantor gue punya sikap ajaib yang terkadang bikin hati panas, tapi pekerjaan gue akan terasa membosankan tanpa mereka.

Biar kata sahabat-sahabat gue suka moody dan bersikap sesuka hati, tapi tanpa mereka gue ngerasa ada yang kurang dari kehidupan gue.

Biar kata adek-adek dan orang tua gue suka bikin gue sebel setengah mati, tapi apa jadinya hidup gue tanpa mereka?

Jadi sekali ini, apapun temuan yang gue dapatkan dengan kemampuan ajaib itu, gue masih mencoba percaya bahwa mereka masih punya itikad baik dalam dirinya. Gue masih ingin percaya bahwa di dunia ini, masih ada orang-orang yang memang terlahir untuk menemani kehidupan gue.

Makanya, buat semua temen-temen gue, atau siapapun yang mengenal gue, kalau ada masalah apa-apa ya bilang aja. Karena seringkali, apa yang kalian simpan itu hanya sebuah prasangka belaka. Kritik memang tidak menyenangkan, tapi kritik masih jauh lebih baik daripada memendam semua permasalahan itu seorang diri. Please trust me that I’m not someone who’s willing to hurt you or something. I’m not an angel, but I’m not an evil, okay?

Notes: Setelah dipikir-pikir lagi, masih lebih baik kalo kita dengan mudah menebak siapa saja orang yang tidak menyukai kita ketimbang orang yang tidak tahu bahwa lingkungannya sangat-sangat membenci dia. Kenapa? Karena biasanya orang seperti itu jadi merasa tidak perlu memperbaiki dirinya… Let us trying to be a new person together🙂

Tentang Caleg dan Poligami

Gue ngerasa geli sama politik ala Indonesia. Selaluuu aja ada gosip yang beredar setiap kali musim kampanye mulai menjelang. Ada capres/caleg yang disebut-sebut mafia Indonesia, ada pula yang dibilang antek-anteknya Amerika, sampe yang paling hangat, soal partai yang katanya banyak diwakili oleh caleg yang berpoligami.

Soal yang kemaren-kemaren, gue nggak berani komentar karena enggak begitu tahu kebenaran soal isu ybs. Tapi soal caleg yang berpoligami… hmm… bolehlah ya gue sedikit berkomentar, hehe.

Megacu pada dua artikel di Detik.com, ada sebuah organisasi perempuan Indonesia yang akan mengumumkan daftar nama caleg yang berpoligami. Mereka menghimbau untuk tidak memilih caleg yang tercantum dalam daftar itu. Di lain pihak, menurut Sekjen PKS, apa yang dilakukan oleh organisasi itu sudah berada di luar konteks politik. Sang sekjen yang juga pelaku poligami itu berpendapat, poligami adalah urusan pribadi setiap orang.

Sebelum gue menyampaikan pendapat gue soal caleg yang berpoligami, ijinkan gue menyampaikan pendapat gue soal poligami itu sendiri. Harus diakui, poligami memang dihalalkan oleh agama Islam. Tapi maaf-maaf kalo gue bilang, aplikasi poligami pada masyarakat Indonesia pada umumnya itu SALAH BESAR. Menrut gue, suatu praktek poligami sudah sesuai dengan tujuan mulia dari poligami itu sendiri APABILA:

  1. Wanita yang dinikahi adalah wanita yang sulit mendapatkan suami DAN istri pertama dengan ikhlas megijinkan suaminya untuk menikah kembali;
  2. Istri pertama dalam keadaan sakit sehingga dengan ikhlas meminta suaminya untuk menikahi wanita lain; dan
  3. Negara ybs dalam keadaan perang.

Nah, pertanyaan gue sekarang, dari beberapa orang caleg yang melakukan poligami, ada berapa banyak caleg yang melakukan poligami atas dasar tiga point yang gue sebutkan di atas? Gue emang nggak punyi bukti, tapi gue YAKIN kebanyakan istri muda mereka lebih yahud daripada si istri pertama…

Lalu pertanyaan berikutnya, benarkah tidak ada hubungannya antara politik dengan isu poligami?

Setujuhkah elo kalo gue bilang poligami untuk mencari istri muda yang lebih yahud adalah tindakan yang hanya dilandasi oleh nafsu semata? Dan setujukah kamu bahwa tiga godaan utama buat laki-laki adalah tahta, harta, dan wanita?

Jadi menurut gue, caleg yang tidak bisa menahan nafsunya soal wanita kemungkinan besar juga tidak memiliki kemampuan untuk menahan diri soal tahta dan harta dalam hidup mereka.

Memang benar bahwa poligami masih lebih mendingan daripada melakukan zina. Tapi tetap saja, kedua hal itu sama-sama mengindikasikan ketidakmampuan seorang laki-laki untuk mengendalikan nafsu mereka. Jadi, mari kita pilih caleg yang tidak berpoligami tapi juga tidak berzina! Pelajari baik-baik caleg yang akan kita pilih. Kalo masih enggak yakin juga, ya sudah, kita golput saja, hahaha, ajakan sesat nih!

Ok, selamat memilih!