When I Hate Something Inside of Me…

Terkadang gue ngerasa enggak comfort sama diri gue sendiri. Orang bilang punya sifat skeptis, instingtif, dan analitis itu hal yang bagus banget. Tapi belakangan ini, gue justru ngerasa enggak nyaman sama tiga sifat gue tersebut.

Contohnya begini…

Gue bisa menebak atau memahami sesuatu hanya dengan petunjuk yang sedikit.

Misalnya, gue bisa nebak siapa suka sama siapa hanya dengan petunjuk berupa hal-hal yang sangat kecil. Mau bukti? Gue kasih tipsnya…

  1. Tentukan target;
  2. Buka Facebook-nya;
  3. Pertama-tama buka koleksi fotonya;
  4. Cari foto yang berisi banyak orang;
  5. Perhatikan urutan tag-nya. Orang yang pertama kali dia tag dalam foto tersebut, kemungkinan besar orang yang paling dekat dengan dia atau orang yang paling sering dia pikirkan;
  6. Apabila orang tersebut seringkali di-tag dalam urutan pertama dalam foto-foto dia yang lainnya, percaya deh, kemungkinan besar dia suka sama orang yang di-tag itu (dengan catatan orang itu pastinya lawan jenis target elo itu dong ya…);
  7. Lakukan hal yang sama dengan notes. Perhatikan siapa lawan jenis yang paling sering dia tag.

Ini baru satu cara. Gue punya seribu satu cara lainnya untuk menebak hal-hal yang terjadi di lingkungan gue. Mungkin kedengarannya hal seperti itu mengasyikan. Malah senior gue juga bilang salah satu kelebihan gue adalah gue bisa memahami suatu pekerjaan hanya dengan instruksi yang sedikit. Tapi enggak enaknya, terlalu mudah menebak sesuatu sering membuat gue ngerasa sedih. Kenapa? Karena dengan kemampuan itu, gue juga jadi bisa nebak siapa-siapa aja yang enggak suka sama keberadaan gue, atau siapa aja teman yang tiba-tiba enggak ngerasa nyaman dengan kehadiran gue.

Percaya deh, isi hati manusia adalah sesuatu yang paling tidak ingin kita dengar secara keseluruhan. Pastilah suatu malapetaka kalau kita punya kemampuan supranatural untuk membaca pikiran orang lain kayak si Edward Cullen itu. Kenapa bisa begitu? Karena kita semua punya sisi kejam, punya kata-kata pedas yang hanya tersimpan di dalam hati. Jadi memang benar bahwa pada dasarnya, tidak ada manusia yang 100% jujur dalam kesehariannya.

Gue tidak akan menyalahkan orang lain yang tidak menyukai gue tanpa dasar. Toh kita semua pernah membenci orang lain hanya karena tampilan luarnya saja kan? Lagipula hidup itu relaistis aja lah… Enggak mungkin juga SEMUA orang di dunia ini bisa suka sama kita, iya kan?

Yang gue sayangkan adalah orang-orang terdekat (keluarga besar, teman, sahabat, rekan kerja dsb…) yang terlalu jauh antara mulut dengan hatinya. Enggak perlu terlalu jujur, tapi enggak perlu juga memakai topeng yang kelewat tebal. Masalahnya adalah, meskipun mereka berusaha menyembunyikan, seringkali gue bisa dengan mudah menemukan apa yang mereka sembunyikan itu dengan sendirinya…

Kejujuran memang tidak selamanya menyenangkan. Tapi menemukan kejujuran yang disembunyikan jauh lebih tidak menyenangkan lagi. Itulah alasannya kenapa gue sebal dengan kemampuan gue yang bisa dengan mudah menebak begitu banyak hal di sekitar gue. Kesannya tuh kayak gue jadi orang yang super sensitif, suka mendramatisir, membesar-besarkan masalah dsb… Padahal intinya mereka enggak tahu bahwa gue udah tahu hal apa saja yang mereka sembunyikan dari gue. Dan kalo sampe gue udah mengambil tindakan, baisanya tuduhan itu udah bukan modal insting doang. Gue juga punya fakta-fakta yang menguatkan tuduhan gue tersebut. Tapi tetep aja, meskipun udah tahu, gue lebih memilih untuk diam sehingga akhirnya malah gue sendiri yang makan hati.

Kadang gue iri sama teman-teman yang masih saja bersifat naif meskipun sudah berusia dewasa. Mereka enggak sensitif sehingga enggak perlu ambil pusing sama something wrong yang terjadi di sekitar mereka. Gue juga iri sama orang-orang  yang bisa cuek aja meskipun tau dia sering jadi bahan omongan orang karena sikapnya yang suka teriak-teriak depan umum, yang suka kelewat lebay, bossy, yang super aneh, yang super pelit, dsb… Katanya sih, kalau kita ingin kebal seperti mereka, kita harus belajar jadi orang yang cuek. Bahkan sadisnya, ada pula yang bilang kita harus mematikan peranan hati dan perasaan kita. Maksudnya, jangan suka main perasaan dan serahkan semuanya kepada logika.

Gue kenal beberapa orang yang punya prinsip trust nobody. Ada pula orang yang enggak percaya sama persahabatan. Ada juga orang yang lebih memilih hidup sendiri ketimbang tinggal satu atap dengan orang lain yang ujung-ujungnya hanya membawa malapetaka.

Duh, gue enggak bisa, bener-bener enggak bisa hidup seperti itu. Gue enggak mau sampe kehilangan hati nurani, gue enggak mau membatasi kedekatan gue dengan orang lain… Gue masih ingin percaya bahwa pada dasarnya, setiap orang itu punya sisi baik dalam diri mereka… Dan yang paling utama, gue enggak mau hidup sendirian!

Biar kata tante-tante gue hobi banget ngomel-ngomel dan ngomongin orang, tapi tanpa mereka hidup gue terasa kurang ramai.

Biar kata temen-temen sekantor gue punya sikap ajaib yang terkadang bikin hati panas, tapi pekerjaan gue akan terasa membosankan tanpa mereka.

Biar kata sahabat-sahabat gue suka moody dan bersikap sesuka hati, tapi tanpa mereka gue ngerasa ada yang kurang dari kehidupan gue.

Biar kata adek-adek dan orang tua gue suka bikin gue sebel setengah mati, tapi apa jadinya hidup gue tanpa mereka?

Jadi sekali ini, apapun temuan yang gue dapatkan dengan kemampuan ajaib itu, gue masih mencoba percaya bahwa mereka masih punya itikad baik dalam dirinya. Gue masih ingin percaya bahwa di dunia ini, masih ada orang-orang yang memang terlahir untuk menemani kehidupan gue.

Makanya, buat semua temen-temen gue, atau siapapun yang mengenal gue, kalau ada masalah apa-apa ya bilang aja. Karena seringkali, apa yang kalian simpan itu hanya sebuah prasangka belaka. Kritik memang tidak menyenangkan, tapi kritik masih jauh lebih baik daripada memendam semua permasalahan itu seorang diri. Please trust me that I’m not someone who’s willing to hurt you or something. I’m not an angel, but I’m not an evil, okay?

Notes: Setelah dipikir-pikir lagi, masih lebih baik kalo kita dengan mudah menebak siapa saja orang yang tidak menyukai kita ketimbang orang yang tidak tahu bahwa lingkungannya sangat-sangat membenci dia. Kenapa? Karena biasanya orang seperti itu jadi merasa tidak perlu memperbaiki dirinya… Let us trying to be a new person together🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s