Emansipasi Salah Kaprah

I am an independent girl, but I am NOT a feminist. Karena tidak seperti kaum feminis pada umumnya, gue masih senang diperlakukan sebagai perempuan. Senang rasanya saat ada cowok yang bersedia memberikan tempat duduknya buat gue di dalam busway, atau saat ada teman cowok yang menawarkan diri untuk membawa kardus-kardus berat yang harus gue pindahkan. Selain itu, gue juga masih sangat menyukai hal-hal yang berbau romantis (ingat ya, romantis, bukan gombal!). Dan yang paling penting, gue tidak menyetujui pandangan kaum feminis bahwa kedudukan pria dan wanita harus setara dalam SEGALA hal.

Memang benar bahwa perempuan harus memperoleh kesempatan yang sama dalam mengeluarkan pendapat, menuntut ilmu, berkarier serta memperoleh hak yang setara dengan pria (misalnya, udah nggak jaman tuh perusahaan hanya memberikan asuransi kesehatan untuk karyawan laki-lakinya saja). Akan tetapi, dalam kehidupan berumah tangga, kedudukan seorang suami harus tetap lebih tinggi daripada kedudukan istrinya. Kenapa? Karena ibarat sebuah kapal, hanya akan ada satu orang yang menahkodainya. Artinya, kepala keluarga hanya tetap berjumlah satu dan sudah menjadi kodrat laki-laki untuk mengepalai sebuah keluarga.

Jadi salah besar kalau ada yang mengira gue ini tipe feminis tulen yang merasa bisa survive hidup seorang diri. Faktanya, gue justru suka bingung sama perempuan yang merasa bisa hidup tanpa laki-laki seumur hidupnya, apalagi penganut feminis yang sampe mutusin buat jadi lesbian! Ih, enggak banget deh… Memang benar pendapat mereka bahwa tanpa laki-laki pun kita sudah bisa menghidupi diri kita sendiri. But woman will always be a woman. We were born for having a guy to complete our life.

Singkatnya menurut gue, gerakan feminisme yang berlebihan adalah suatu bentuk emansipasi yang salah kaprah. Karena pada dasarnya, emansipasi hanya bicara soal kesetaraan hak untuk perempuan dalam menjalani kehidupannya. Dulu, Ibu Kartini hanya memperjuangkan hak perempuan untuk mengenyam pendidikan dan bukan mengajarkan bagaimana caranya hidup tanpa laki-laki, iya kan?

Maka dalam versi yang lebih modern, emansipasi berarti:

  1. Menyekolahkan anak-anak serta memberi fasilitas secara adil tanpa membedakan jenis kelaminnya;
  2. Memberikan kebebasan kepada istri untuk tetap meniti karier;
  3. Merekrut karyawan berdasarkan kualifikasi, dan bukan berdasarkan gender;
  4. Memberikan promosi berdasarkan prestasi. Walaupun dia itu perempuan yang sudah menikah, tapi kalau dia punya prestasi yang cemerlang, kenapa tidak?
  5. Memberikan benefit yang setara antara karyawan perempuan dengan karyawan laki-laki;
  6. Menaruh hormat kepada atasan, meskipun dia itu seorang perempuan;
  7. Memberikan hak yang setara kepada perempuan untuk mengeluarkan pendapat;
  8. Menghargai dan mendukung perempuan dengan cita-cita setinggi langit dan bukan malah menghindari apalagi mencibir karena sirik.

Bentuk emansipasi salah kaprah lainnya seringkali datang dari para kaum lelaki. Berhubung sudah jaman emansipasi, mereka (cowok-cowok jaman sekarang) cuek aja duduk manis di dalam bis ketimbang ngasih tempat duduknya buat ibu-ibu bahkan nenek-nenek yang berdiri di depan mereka. Gue pernah lho, naik bis penuh sesak dalam keadaan sakit dan terpaksa berdiri, lalu cowok di depan gue bukannya iba ngelihat muka pucat plus batuk-batuk gue, eh, dia malah enak-enakan tidur di tempat duduknya itu! Dalam hati gue gemes banget; dia itu laki apa bukan sih???

Sekali lagi gue tekankan bahwa emansipasi hanya bicara soal kesetaraan hak dan bukan suatu upaya pembuktian bahwa perempuan itu pasti lebih hebat daripada laki-laki dalam segala hal di dunia ini. Gimanapun secara fisik, laki-laki diciptakan lebih kuat daripada perempuan. Jadi syukurilah anugerah itu dengan tetap bersikap gentle. Enggak perlu lah bukain pintu atau narikin kursi, secara buka pintu dan narik kursi toh bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Tapi soal ngangkat barang-barang berat, jemput si pacar lewat tengah malam, kasih tempat duduk buat manula, ibu hamil, dan orang sakit itu HARUS dilakukan selama kalian para cowok masih mampu untuk melakukannya. Kalian masih pengen dihormati dan diakui kejantanannya toh? Jadi cobalah belajar how to be a gentle man dan bersedia berusaha lebih keras untuk memperlakukan perempuan dengan baik.

Tulisan ini akan gue akhiri dengan tambahan tips buat sisi cewek maupun tips buat sisi cewek.

Buat teman-teman cowok, cobalah pahami keingin kami (para cewek-cewek masa kini:) untuk meraih cita-cita kami dalam hidup ini. Kami juga punya mimpi, kami juga bekerja keras untuk mewujudkannya, tapi kenapa seringkali semua itu harus kandas atas nama cinta? Rasanya miris banget setiap kali ngelihat cewek yang dipaksa untuk memlih antara karier atau pernikahan… Padahal cita-cita itu tidak hanya bicara soal uang, tapi juga aktualisasi diri, kehidupan sosial, kepuasan dan kebanggaan dalam berprestasi. Jadi daripada merasa terancam, kenapa kita tidak saling bahu membahu saja dalam mengejar mimpi kita bersama?

Buat teman-teman cewek akan gue bagi menjadi dua golongan tips.

Yang pertama tips buat perempuan dengan pola pikir yang masih konvensional. Gue tidak akan menganggap enteng pilihan seseorang untuk menjadi ibu rumah trangga yang seutuhnya. Ngurus rumah dengan segala tetek bengeknya adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Meski demikian, jangan lantas bermulut nyinyir kepada perempuan yang sibuk mengejar karier di luar sana. Jangan berusaha membuat hidup orang lain menderita dengan mengatai dia terlalu ambisius apalagi mengatai dia bakal jadi perawan tua yang hidupnya tidak bahagia! Sungguh ironis fakta bahwa hidup perempuan seringkali menjadi lebih sulit karena keberadaan perempuan lain dalam lingkungannya.

Lalu buat para perempuan mandiri masa kini, please berhenti membohongi diri bahwa kita pasti bisa hidup bahagia seorang diri. Ok saat ini kita bahagia, tapi sampai kapan? Sanggupkah kita menjalani masa tua kita seorang diri? Berpasangan memang pasti mendatangkan begitu banyak masalah baru, tapi tetap saja jutaan orang di dunia ini lebih memilih untuk hidup sampai tua bersama pasangannya, iya kan? Jangan lupa bahwa bagaimanapun, manusia dilahirkan berpasang-pasangan… Tips lainnya, cobalah untuk sesekali mengurangi kadar kemandirian kita dalam kehidupan sehari-hari. Biarkan si pacar menggandeng lengan kita saat akan menyeberang jalan, berikan senyuman tulus dan ucapkan terima kasih saat pasangan memberikan kejutan, dan jangan pernah mengatakan pada orang yang kita cintai bahwa hidup kita akan baik-baik saja meski tanpa kehadirannya.

Jujur sampe sekarang gue sendiri masih mengalami dilema ala perempuan Indonesia. Gue pengen banget kuliah lagi, tapi gue takut nanti malah jadi perawan tua. Gue juga punya ambisi karier setinggi langit, tapi lagi-lagi, gue takut nanti malah jadi perawan tua! Maka besar harapan gue, tulisan ini akan memberi kontribusi berupa pola pikir yang lebih bijaksana soal konsep emansipasi.

Untuk gue sendiri, gue lebih memilih untuk tetap mengejar apa yang gue cita-citakan dalam hidup ini. Konon katanya, kelak kita akan lebih banyak menyesali hal-hal yang tidak kita lakukan selagi muda daripada menyesali kegagalan yang pernah kita lakukan di waktu yang lalu. Dan pastinya, gue tidak ingin menghabiskan masa tua gue dengan tenggelam dalam penyesalan. Soal jodoh, gue percaya bahwa itu semua sudah ada yang mengatur. Gue nggak ngerasa perlu takut sama cowok yang membatasi kehidupan karier pasangannya karena toh secara otomatis gue emang enggak respek sama cowok seperti itu.

Lalu kalo soal pilih-pilih cowok sih, jawaban gue simpel aja: kita harus teliti sebelum membeli kan, hehe… Lagipula sebetulnya gue enggak segitu pemilihnya kok. Emang dasar aja gue belum beruntung buat urusan asmara… Tapi emang sih, pada dasarnya gue bukan tipe orang yang bersedia pacaran sama siapa aja asalkan dia suka sama gue. I need someone who treats me as a person, and in the same time, he has a quality to make me have a will to put my faith and respect in him. Dan pastinya, cowok itu tidak boleh memiliki pemahaman yang salah kaprah soal emansipasi, hehe…

Akhir kata, selamat hari Kartini! Mari kita rayakan dengan penuh syukur karena setidaknya, pada jaman ini diskriminasi gender telah berkurang sedikit demi sedikit. Let us keep the good work ok!

3 thoughts on “Emansipasi Salah Kaprah

  1. jazgud says:

    pengen ngomentarin masalah ngasi tempat duduk di umum nih :
    Terus terang di kendaraan umum kalo lagi kebagian duduk, saya hanya akan mempersilahkan duduk buat mereka2 ini : manula, ibu hamil ato yg ribet bawa belanjaannya, siapapun yg kliatannya lagi sakit/ cacat fisik juga, n sesekali – wanita cantik yg mempesona..hehehe.
    Selain ituuuu??? jangan harap saya kasih, biar mo mukanya pada sinis ato mengiba (mending pura2 tidur aja, kalo engga kapan duduknya nihhh). Nah , kebanyakan yg nyebelin itu biasanya cewe2 manja or dengan tatapan sinis yg iri ngliat kita duduk seolah “lo laki bukan sih” ?
    padahal mereka juga toh masih kuat bediri juga kan 😀

    • riffasancati says:

      Haha, ternyata benar… kalian itu cuma pura-pura tidur supaya nggak disuruh kasih tempat duduk :p

      Yang kayak elo sih masih tolerable lah. Yang kelewatan itu yang bener-bener enggak mau ngalah sama siapapun. Gue pernah beberapa kali ngasih tempat duduk gue buat bumil dan manula di saat cowok-cowok di sekitar gue cuek aja duduk santai.

      One thing for sure, ngasih tempat duduk buat orang lain itu bisa mendatangkan pahala lho, hehehehe.

  2. jazgudj says:

    yup, kalo masalah ngasi tempat duduk (kebaikan) ga usah nunggu kiri-kanan kita bergerak….bergegaslah biar dapet pahalanya banyak… gitu kan yag …

    n bener, pura2 tidur buat ngamanin kursi kebesaran, hihihiiii :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s