Life is NOT a Fairy Tale

 

 

Hidup tidak akan pernah berakhir sama dengan kisah Cinderella. Tidak akan pernah ada pangeran berkuda putih yang datang ke kastil untuk menyelamatkan kita, menikahi kita, lalu hidup bahagia selama-lamanya. Happily ever after will never exist in a real life.

 

Sebetulnya, udah sejak lama gue mendengar nasehat sebagaimana tertulis di paragraf satu. Kita harus belajar hidup realistis, berhenti bersikap naïf, tumbuh dewasa dan bersikap tangguh menjalani kehidupan. Kedengarannya simpel, tapi jelas bukan hal yang mudah untuk merealisasikannya.

 

Dalam kehidupan pribadi, teori ini gue terapkan dengan cara tidak menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain. Gue percaya segala kebahagiaan terletak di genggaman tangan gue sendiri. Gue udah berhenti berpikir, “Gue akan bahagia kalo gue udah punya pacar,” atau, “Gue akan bahagia seandainya gue punya sahabat yang lebih dewasa, lebih bijak, lebih pengertian…” atau, “Hidup gue akan lebih indah seandainya gue punya keluarga yang lebih kompak dan tidak egois.”

 

I simply think that I am happy with my own life. Gue menyadari bahwa gue tidak bisa memilih orang-orang yang bisa gue jadikan keluarga. Gue menyadari bahwa mau dicari sampai ke ujung dunia pun, gue tidak akan menemukan sahabat yang 100% sempurna. Dan yang paling penting, gue menyadari bahwa punya pacar sudah pasti akan mengubah dunia gue, TAPI, hal itu tidak akan membuat gue bahagia sampai akhir hayat. Tidak ada hubungan yang sempurna di dunia ini, dan, tidak ada cinta yang sempurna dalam kehidupan kita.

Lalu belakangan ini, gue belajar lebih banyak tentang hidup di dunia nyata. Gue belajar bahwa…

  1. SEMUA orang yang dekat dengan kita, entah itu keluarga, sahabat, atau pasangan hidup, suatu kali dalam hidupnya, akan pernah merasa jenuh dengan kedekatan mereka dengan kita. They will think they need a space for their own. Akan tetapi, percayalah bahwa itu nggak berarti mereka nggak cinta sama kita lagi. Maka sebaliknya, jangan menyalahkan diri sendiri jika justru kita yang merasa jenuh dalam suatu hubungan. Kejenuhan itu hanya suatu fase, yang akan bisa kita lewati dengan baik jika kita menghadapinya dengan cara yang terbaik;
  2. SEMUA orang yang kita kenal pasti pernah berbohong kepada kita, entah itu kebohongan kecil atau kebohongan besar baik disengaja maupun tidak disengaja. Sudah waktunya kita menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa mengakhiri suatu hubungan hanya karena terbongkarnya suatu kebohongan. Berkacalah kepada diri sendiri… kita juga tidak selalu berkata jujur bukan? Akan tetapi pada akhirnya, hubungan yang paling bahagia adalah hubungan yang dilandasi oleh kejujuran. Maka, mintalah maaf untuk kebohongan yang kita lakukan dan berusahalah sekuat tenaga untuk tetap selalu bersikap jujur;
  3. Terimalah kenyataan bahwa orang yang paling sering menyakiti kita adalah orang yang paling dekat dengan kita. Sebaliknya, orang yang paling sering kita sakiti adalah orang yang paling dekat dengan kita. Siapapun mereka, satu atau beberapa kali mereka akan sangat-sangat menyakiti perasaan kita.  Maka berhentilah mencari seseorang yang akan SELALU membawa kedamaian dalam hidup kita. Terimalah pil pahit bahwa tidak akan pernah ada hubungan yang tidak diwarnai oleh pertengkaran. Akan tetapi, jangan lantas melarikan diri dari cinta dan persahabatan. Orang yang tidak mengusahakan apa-apa juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena faktanya, kebahagiaan itu ada harganya.

 

Meski hidup tidak akan pernah seindah negeri dongeng, percayalah bahwa this life is worth living. Satu tips gue, pastikanlah bahwa kita adalah orang yang mencintai serta layak untuk dicintai. Lalu saat melakukan kesalahan, pastikan bahwa kita adalah orang layak untuk dimaafkan serta sangat ikhlas untuk memaafkan.

 

Akan tetapi sekali lagi, mengingat hidup ini bukanlah fairy tale, ingatlah baik-baik bahwa meminta maaf dan memaafkan tidak berarti kita pasti akan dimaafkan. Berbuat baik pun belum tentu dibalas kebaikan oleh orang-orang yang bersangkutan. Atau yang paling menyakitkan, mencintai tidak berarti balas dicintai. Meski begitu, tetaplah percaya bahwa orang-orang tidak tahu diri itu tidak punya hak untuk merusak kebahagiaan kita! This life is ours, so don’t let them break us down! Cukup bersabar, belajar dari pengalaman, tersenyum, dan kembali pastikan bahwa kita tetap orang yang sangat layak untuk dicintai. Sisanya, biarkan Tuhan mengambil peranan-Nya. Selamat menikmati hidup!

 

2 thoughts on “Life is NOT a Fairy Tale

  1. Pongo says:

    I second your opinion, jenuh teh biasa. tapi klo punya pacar si biasanya (paling nggak) awalnye bahagia. ada up and down dong. masa mao jalanin flat life?
    anyway, tumben amat nulis curhatan? lage sentimentil ye? u ok? heheheehhe.

    PS: g kecewa ma loe fa, masa fairy tail?? nggak ada peri yang punya buntut. semua peri tu bentuknye kek laler, punya sayap ma pegang tongkat. “fairy tale” kali.

  2. riffabanget says:

    Haha. udah gue ganti tuh, TAIL jadi TALE, hehehe. Ini tulisan lama Steven, cuma telat posting aja. Harusnya tulisan ini dulu yang keluar baru tulisan yang Akhir Pencarian Jati Diri itu… Jadi bukan berarti sekarang gue lagi mellow lho yaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s