He’s Just Not That Into You

It sounds hurt but true: lebih banyak cewek daripada cowok yang dibodohi atas nama cinta. Lebih buruk lagi, kita para cewek sering kali menyangkal bahwa pada dasarnya kita hanya sedang dibodohi. Kita tidak bisa berhenti bersikap naïf, sok bijak dengan selalu berpikiran positif, dan yang paling buruk, kita menaruh harapan terlalu tinggi terdahap seseorang yang sebetulnya tidak benar-benar mencintai kita.

Sebetulnya gue bukan penggemar buku psikologi soal cinta-cintaan. Tapi karena suka sama filmnya, gue mulai tertarik baca buku yang berjudul He’s Just Not That Into You. Gue pun mulai membaca… dan seperti biasa, gue menandai bagian yang gue sukai dengan cara melipat ujung halamannya. Dan ternyata… ada begitu banyak halaman yang gue beri tanda lipat!

 

Jujur ya… gue ngerasa ditampar keras sama buku terjemahan yang dahsyat ini. Gue pikir selama ini gue udah cukup pintar, cukup pemilih, serta cukup cerdas dalam mengambil keputusan… Tapi ternyata, gue juga sering banget dibodohi atas nama cinta.

 

Nah, dalam kesempatan kali ini gue akan menuliskan dengan jujur bagian-bagian dari buku ini yang gue anggap menarik dan gue banget. Buat cewek-cewek, siap-siap ngerasa kaget, dan buat cowok-cowok, mohon maaf kalau elo merasa tersindir dengan tulisan gue ini.

 

  1. Jangan biarkan kata-kata ‘honey’ dan ‘baby’ menipu anda.
  2. Seorang pria tidak benar-benar menyukai anda kalau dia tidak menelepon anda. So girls, berhenti berpikir: sinyal hp lagi error, dia nggak punya pulsa, dia lagi sakit atau sibuk, atau yang paling konyol: hp-nya dijambret orang!
  3. “Bolehkah seorang pria lupa menelepon saya?” Jawabannya, “Tidak.”
  4. Menelepon saat anda berjanji adalah batu bata pertama dari rumah cinta yang anda bangun.
  5. Pria yang baik akan menggunakan telepon. E-mail tidak berlaku (termasuk menurut gue, comment di Facebook juga tidak berlaku:)
  6. Pria tidak pernah terlalu sibuk untuk mendapatkan keinginan mereka. Dan, pria tidak pernah terlalu sibuk untuk menelepon wanita yang benar-benar mereka sukai.
  7. Jangan menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak menepati janji. Jadi, jangan pernah berkencan dengan seseorang yang membuat anda menunggu-nunggu telepon darinya.
  8. Seorang pria berkata, “Rasa takut terhadap kedekatan cuma mitos belaka. Itulah yang kami katakan pada wanita ketika kami tidak benar-benar mencintai mereka.”
  9. ‘Tidak ingin merusak persahabatan’ hanyalah akal bulus.
  10. Pada akhirnya, pria pasti berani mengajak kencan seorang wanita yang berstatus lebih tinggi jika dia benar-benar tertarik pada wanita itu.
  11. Orang lain memberi tahu anda siapa dia yang sebenarnya setiap saat. Jadi ketika dia berkata bahwa dia tidak bisa bermonogami, maka anda harus mempercayainya.
  12. Orang yang berselingkuh adalah orang yang punya banyak masalah dan mereka berusaha menyelesaikannya dengan menghancurkan hati anda.
  13. Cowok badung itu brengsek karena mereka menyusahkan, hanya sedikit menghargai diri sendiri, banyak memendam amarah, banyak membenci diri sendiri, serta benar-benar tidak percaya terhadap segala bentuk hubungan percintaan yang penuh kasih sayang.
  14. Seorang pria tidak benar-benar mencintai andai jika dia menghilang dari hidup anda.
  15. Inilah yang dia lakukan selama masa vakum hubungan anda: dia mengendus sekelilingnya untuk mencari orang lain yang lebih baik dari anda, dan jika dia tidak menemukannya, dia merasa kesepian sehingga dia terpaksa kembali ke ‘rumahnya’.
  16. Satu-satunya alasan kenapa dia merindukan anda adalah karena dia sendiri yang lebih memilih untuk tidak memilih anda.
  17. Bila anda tidak bisa mencintai dengan bebas, itu namanya bukan cinta.
  18. Hidup sudah cukup berat tanpa harus memilih seseorang yang bermasalah untuk berbagi hidup.
  19. Saya tidak akan berkencan dengan pria yang membuat saya merasa tidak diinginkan secara fisik.
  20. Pria lebih memilih dilindas gajah daripada memberitahu bahwa dia tidak serius dengan anda. Malah buat yang udah pernah pacaran, cowok lebih memilih memancing pertengkaran hebat daripada minta putus secara langsung!
  21. Binatang peliharaan adalah cara Tuhan untuk berkata kepada anda, “Jangan turunkan standar hanya karena merasa kesepian.”

 

Setelah baca buku ini, gue mulai berbesar hati untuk menerima bahwa pada dasarnya, cowok-cowok itu emang enggak bener-bener suka sama gue. Bukan karena kelulusan, bukan karena jarak jauh, bukan karena dia sibuk kuliah kedokteran, bukan karena dia minder dengan prestasi gue, bukan karena perbedaan besar di antara gue dan dia, bukan karena tidak ingin merusak persahabatan, dan bukan pula karena suatu masa lalu yang sangat sulit untuk ditinggalkan.

 

Intinya jangan pernah takut untuk mengakui bahwa faktanya, dia tidak beanr-benar mencintai kita. Jangan pula merasa rendah diri hanya karena kita ini bukan tipenya dia. Kita juga berhak kok, menetukan tipe cowok idaman yang kita inginkan. Kalau kita tega menolak cinta seorang cowok, kita juga harus berbesar hati kalau gantian kita yang ditolak sama mereka.

 

Jadi daripada buang-buang waktu buat cowok yang enggak benar-benar cinta sama kita, lebih baik kita nikmati hidup sampai nanti kita menemukan seseorang yang mencintai kita dengan layak. Dan jangan lupa, kita BERHAK untuk dicintai secara layak

Limit of Having Nothing to Loose

 

Tahu artinya nothing too loose? Sebuah sikap mental di mana kita merasa kelak tidak akan terpuruk karena kehilangan sesuatu yang pergi atau lepas dari genggaman. Dengan bersikap nothing to loose, kita tidak akan berlama-lama meratapi suatu kegagalan. Hebatnya lagi, kita juga tidak akan merasa terlalu sakit untuk menerima kegagalan itu. Hebatnya lagi, sikap ini bisa membuat kita menjalani hidup dengan lebih santai dan tanpa beban.

 

Hari ini untuk ke sejuta kalinya, gue ngerasa jenuh dan sebal dengan pekerjaan gue. Sepagian kerjaan gue cuma sesekali nelepon klien dan kirim e-mail, lalu sisanya cuma duduk santai, browsing, chatting sama teman, atau ngobrol-ngorbol sama teman-teman sesama auditor. Akibatnya, menjelang sore gue baru mulai pontang-panting nyariin klien. Padahal jam segitu itu udah waktuntya klien bersiap pulang.

 

Untunglah urusan dengan klien berakhir cukup beres untuk hari ini. Tapi bukan berarti pekerjaan gue udah selesai… Masih ada setumpuk dokumen yang harus gue tuntaskan hari ini juga.

 

Ternyata oh ternyata… rasa bete dalam diri gue justru menggila. Pusing ngelihat meja berantakan, sebel ngelihat working paper lecek dan kumel, belum lagi stationery gue jatuh-jatuhan melulu… Gue ngerasa kepala gue udah sangat panas sehingga bawaannya pengen cepet-cepet kabur dari kantor klien.

 

Akhirnya jam 5.30 teng, gue putuskan untuk menyerah. I tried to convince myself that the job can wait until Monday. Screw the job, gue ajak Arleen, temen gue untuk ninggalin kerjaan lalu pergi nonton ke Planet Hollywood. Kita di sana bukan cuma nonton satu film, melainkan nonton dua film berturut-turut.

 

Jujur selama duduk di dalam bioskop gue tidak memikirkan unfinished job itu sama sekali. Film pertama lucu, dan film ke dua lumayan seru… gue benar-benar tenggelam di dalam cerita. Lagipula sebenarnya, dalam ahti gue tidak lagi  memiliki rasa takut atas terbengkalainya pekerjaan gue sendiri. Yup… gue bersikap nothing to loose dalam urusan pekerjaan gue di perusahaan ini.

 

Entah sejak kapan, gue enggak pernah lagi ambil pusing sama tingkah laku senior dan manajer gue. Gue bahkan mulai berani menanggapi omongan menyebalkan dari salah satu senior dengan sikap jenaka yang pada akhirnya malah mengundang tawa. Gue ngerasa, menjalani pekerjaan yang gue anggap membosankan ini aja sudah cukup berat, jadi ngepain juga gue nambahin beban dengan terus-terusan mikirin pendapat atasan tentang gue?

 

Jeleknya, gue juga semakin cuek saat menjalani kewajiban gue di kantor ini. Kerja seadanya, suka menunda-nunda, males nanya-nanya terlalu detail ke pihak klien, males pula sering-sering diskusi tentang kerjaan sama para senior… Karena jujur di dalam hati gue ngerasa, toh masih banyak perusahaan bonafid di luar sana. I’m not gonna die just because of loosing this job right?

 

Selesai nonton film, gue nungguin Arleen dapet taksi untuk nganter dia sampe tempat kosnya. Setelah dia dapet taksi, gue langsung naik bis menuju Cawang untuk nanti sambung lagi naik angkot menuju rumah tante di Kali Malang.

 

Saat sudah duduk manis di dalam bis, barulah gue teringat sama tanggung jawab gue. Kerjaan ini harusnya udah selesai satu minggu yang lalu. Sungguh lucu gue bersikap santai begini hanya karena toh bukan cuma gue yang pekerjaannya belum selesai. Padahal dalam engagement sebelumnya, gue pernah membereskan pekerjaan gue seminggu lebih cepat daripada teman-teman lainnya. Saat mereka masih sibuk minta data ke klien, gue malah udah beres-beres dan mengembalikan semua data kepada klien.

 

Sampai sini gue baru mulai ngerasa bersalah. It’s definitely not me. I have to do the things those I can do today rather than waiting for tomorrow. Akhirnya secara spontan gue memutuskan untuk turun di kantor klien di daerah Pancoran. Gue  balik lagi ke dalam ruangan untuk membereskan beberapa pekerjaan yang masih harus dikerjakan, lalu membawa pulang beberapa dokumen untuk diteruskan di rumah besok.

 

Setelah pekerjaan beres, gue pulang ke rumah dengan dua tumpuk dokumen untuk diperiksa. Dalam perjalanan pulang itu, gue mulai mengambil suatu kesimpulan baru… bersikap nothing too loose pun ada batasannya.

 

Nothing too loose bisa menjadi excuse untuk kita bersikap malas dan tidak bertanggung jawab. Sikap ini juga membuat kita menganggap enteng suatu hal serta tidak menghargai dan mensyukuri segala sesuatunya. Nothing too loose pada akhirnya bisa membuat kita menjelma menjadi looser ataupun quitter.

 

In this point, I realize that I need to stop taking my job for granted. Memang benar masih banyak perusahaan bonafid lain di luar sana. Tapi di perusahaan ini, gue punya tanggung jawab, punya kewajiban, punya begitu banyak hal untuk dikerjakan sebaik-baiknya. I’ve lost several things in my life, BUT, I have never been a looser in my whole life. Jadi kenapa gue harus merusak sejarah hidup gue dengan menjelma menjadi orang yang tidak bertanggung jawab?

 

Hidup itu suatu pilihan. Gue menyadari sepenuhnya bahwa gue pun punya pilihan untuk pergi jauh dari perusahaan ini. Akan tetapi, setelah memmperhitungkan plus minus untuk karier masa depan, gue memutuskan untuk tidak cepat-cepat angkat kakidari perusahaan ini. Jadi karena gue udah memilih untuk bertahan sementara waktu, maka gue harus rela menghadapi hal-hal tidak menyenangkan atas pilihan yang gue buat itu.

 

Lain kali pasti gue akan merasa bosan lagi, kesal lagi, panas dan ngomel-ngomel lagi… Dan bila itu terjadi lagi, mungkin yang gue butuhkan hanya pergi sebentar untuk nonton film atau pergi berbelanja untuk menjenihkan pikiranJ

 

Akhir kata, I want to thank God for making this weekend not too bad for me. Hopefully next week will be much much much better than this. Have a ncie weekend!