Never Ever Give Up on Being a Good Person

Seperti yang sudah pernah gue tulis sebelumnya di blog ini, gue pernah beberapa kali merasa capek berusaha jadi orang baik. Terutama beberapa bulan belakangan ini… gue sampai dua kali mendapat masalah yang cukup besar hanya karena niat baik gue untuk menolong orang lain. Saat sedang kesal-kesalnya… gue sampai berpikiran, “Aduh… kalo tahu ujungnya bakal runyam kayak gini, mending kemaren gue cuekin aja deh!”

Waktu kecil dulu, hidup itu sangat sederhana. When people give us something, we have to say thank you. Sayangnya justru setelah kita beranjak dewasa, menjadi orang baik tidak lagi sesederhana itu. Karena kenyataannya:

  1. Orang yang dibantu bisa saja merasa tersinggung dengan bantuan yang kita berikan;
  2. Upaya pertolongan kita itu bisa saja dianggap sebagai upaya untuk pamer;
  3. Kita bisa dituduh sebagai tukang-ikut-campur;
  4. Orang lain jadi ketergantungan dengan bantuan yang biasa kita berikan;
  5. Jadi banyak muncul ‘parasit’ yang sengaja bermanis-manis hanya supaya kita bersedia menolong mereka;
  6. Belum tentu orang yang ditolong berterima kasih atas bantuan kita;
  7. Dan yang paling mengecewakan jika air susu justru dibalas dengan air tuba.

Yang paling menyedihkan buat gue adalah saat bisa-bisanya orang lain menuduh gue ini jahat setelah berbagai usaha yang gue lakukan untuk berbuat baik… It turns out that doing the right thing doesn’t always seem right for everyone else. Sehingga lama-lama gue mulai mempertanyakan… apa sih untungnya buat gue? Buat apa repot-repot kalo ujungnya malah bisa mendatangkan masalah buat gue… Lagipula toh kenyataannya, setelah berbagai usaha keras gue untuk jadi orang baik pun, akan tetap selalu saja ada orang lain yang menganggap gue ini jahat.

Saat gue sedang galau-galaunya, gue nemuin video ini di Facebook homepage gue. Tonton dulu video-nya sebelum lanjut baca tulisan gue yaa 🙂

Dua kali gue nonton video ini, dua kali pula air mata gue menetes saat bagian si tokoh utama melihat anak perempuan yang biasa ditolongnya datang dengan mengenakan seragam sekolah.

Ya, berbuat baik memang tidak membuat kita jadi lebih kaya raya. Tidak membuat kita jadi mendadak tenar. Dalam kasus gue, berbuat baik tidak selalu dibalas dengan kebaikan, belum tentu pula dibalas dengan ucapan terima kasih. But so what? Kenapa gue malah jadi fokus dengan sisi negatifnya saja?

We never know how our good deed has given a smile on everyone else face.

We never know how our good deed has given us a lot of true friends.

We never know how our good deed has changed everyone else’s life.

And we never know… how God will repay our good deeds to others.

Setelah gue pikir lagi, sebetulnya, apapun yang pernah gue lakukan, sama sekali tidak pernah sia-sia. Ada banyak sekali kemudahan, beberapa mendekati keajaiaban, yang udah gue dapatkan dalam perjalanan hidup gue. And who knows… all of them were the returns of everything I’ve ever done before.

Jadi sudahlah… sama seperti sebelum-sebelumnya, gue tidak ingin mematikan hati nurani gue sendiri. Gue akan tetap melakukan apa yang gue anggap perlu untuk dilakukan. Tidak penting apa pendapat orang lain, karena kenyataannya, kita memang tidak bisa menyenangkan semua orang dalam waktu yang bersamaan. Percaya deh… teori we can’t please everyone on earth itu bener-bener belaku dalam begitu banyak hal, termasuk dalam hal berbuat baik.

So once again guys…. Never ever give up on being a good person.

Even if I Fail a Hundred Times…

Sejak kecil dulu, bokap sering bilang gue ini enggak jago matematika. Gue butuh waktu yang luar biasa lama hanya untuk menghapal perkalian 1 sampai 10. Nilai matematika gue sampe pernah dapet merah waktu SMA dulu. Gue juga gampang banget lupa sama segala sesuatu yang berhubungan dengan angka. Gue cuma ingat tanggal lahir gue sendiri, dan gue cuma hapal luar kepala nomor hp gue dan nomor hp bokap gue. Itupun nomor bokap pernah sengaja gue hapalkan buat keperluan future emergency aja.

Kelemahan gue terkait angka terus terbawa sampai gue mulai kerja. Gue bukan tipe accounting manager yang akan langsung ingat saat ditanya, “Tahun lalu PBT kita berapa ya?” Duh… jangankan net income tahun lalu… Net income bulan ini pun, bisa jadi gue udah lupa lagi. Nggak heran kalo gue jadi ketergantungan banget sama kalkulator dan Excel sheet. Makanya tiap kali meeting, bisa dipastikan gue masuk ke ruang meeting dengan membawa si laptop dalam pelukan, hehehe.

Awalnya, kelemahan gue yang satu ini sama sekali tidak gue anggap sebagai a big thing. At least, gue udah terbukti bisa more than survive kerja di bidang finance and accounting yang notabene sangat identik dengan angka-angka. Dengan modal jago Excel saja sudah cukup bikin gue ngerasa safe dalam menjalani pekerjaan sehari-hari. Everything was fine, until I found out that I need to obtain GMAT score if I wish to apply for MBA program. Right when I knew about this, I was dead inside. Masalahnya adalah: GMAT terkenal dengan tes matematika yang luar biasa susahnya 😦

Gue menghabiskan waktu lebih dari satu tahun lamanya hanya untuk apply for GMAT preparation class. Tidak pernah terbayang di benak gue bahwa someday gue harus ikutan ‘kursus matematika’. Dengan alasan sibuk dan sering lembur, gue menunda aplikasi gue itu. Gue terus menunda… sampai pada akhir tahun 2013, gue seperti mendapatkan ‘a wake-up call’. Dalam sekejap, gue langsung sadar… kalo gue bener-bener pengen kejar beasiswa MBA, maka suka nggak suka, gue harus bersedia menghadapi GMAT. Maka tanpa pikir panjang, gue langsung daftar kursusnya dan langsung bayar di muka keesokan harinya.

Sejak kemarin, ceritanya gue terpaksa ikut motivational training and annual sales meeting yang diselenggarakan selama 3 hari 2 malam di salah satu hotel di Jakarta. Padahal besok itu hari pertama gue kursus, eh gue malah harus nginep di hotel segala. Jadilah tadi malam gue lembur di kamar hotel hanya untuk belajar GMAT. Maksud gue at least, saat hari pertama kursus, gue udah punya bayangan lengkap GMAT itu seperti apa. Ibaratnya jaman kuliah dulu, gue harus baca bukunya dulu, minimal satu bab, sebelum kelasnya dimulai.

Tadi malam, dalam rangka belajar, gue download software simulasi GMAT yang disediakan MBA.com. Lalu tanpa pikir panjang, gue memulai simulation test perdana gue. Session pertama masih gampang, karena writing itu kan emang udah hobi gue banget. Tapi begitu gue mulai masuk ke sesi qualitative… baru soal pertama, gue langsung frustasi. Banyak soal yang saking susahnya, gue asal nge-klik aja salah satu pilihan yang ada. Badan langsung terasa capek, kepala panas, pusing, stres, pesimis dan putus asa…

Berbagai pikiran negatif langsung melintas di benak gue…

“Aduh… besok lusa di tempat kursus, udah pasti gue yang paling oon.”

“Aduh… jangan-jangan GMAT score gue di bawah rata-rata manusia pada umumnya.”

“Aduh… mana mungkin gue bisa dapet beasiswa MBA kalo perkalian 1 sampe 10 pun gue udah ada yang lupa-lupa inget.”

“Apa mendingan gue apply beasiswa tahun depan aja ya? Tahun ini udah nggak keburu kayaknya… GMAT gue pasti masih jeblok gini nilainya…”

Sampai akhirnya… “Aduh sudahlah… gue kerja jadi Accountant seumur hidup juga nggak papa lah. Mungkin, gue cuma belum menemukan accounting job yang tepat?

Dalam keadaan putus asa, gue tekan “Pause Exam” di layar laptop gue. Gue hentikan sejenak simulasi GMAT gue itu. Gue langsung beranjak ke kamar mandi, bersihin make-up, cuci muka, dan ganti baju tidur. Saat itulah, tiba-tiba gue teringat dengan video yang diputar di motivational training kemarin pagi. Pernah dengar Nick Vujicic? Pria asal Australia yang terlahir tanpa lengan dan kaki…

Di video itu, Nick memperagakan dirinya tengah terjatuh. Dan dalam keadaan tengkurap, dia berkata kepada audience-nya, “I’m down here. Face down. And I have no arms, no legs. It should be impossible for me to get back up. But it’s not. You see, I’ll try 100 times to get up.  And if I fail 100 times… if I fail and I give up, do you think I’m ever going to get up? No. But if I fail, I try again, and again, and again.”

Setelah mengingat video itu, gue bilang sama diri gue sendiri, “Even if I fail a hundred times, I will try again a hundred times. Again, and again, and again.”

Waktu di Binus dulu, gue pernah terpaksa mengikuti mata kuliah matematika bisnis. It was a nightmare for me… but you know what? Gue bukan cuma berhasil lulus dari mata kuliah itu, tapi juga bisa bawa pulang angka 90 di transkip nilai gue. Gimana caranya? Gue belajar dari 0; belajar dari buku matematika anak SMP (atau SD?) yang membahas soal aljabar dasar. Satu buku matematika bisnis pun gue lalap habis dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Gue lalu berpikir… jika waktu kuliah dulu gue bisa dapat nilai 90, kenapa sekarang tidak?

GMAT memang jauh lebih sulit daripada matematika bisnis, tapi jika tidak dicoba dulu, bagaimana gue bisa tahu berapa nilai yang akan gue bawa pulang? Kalaupun nantinya gue gagal mendapatkan skor yang gue inginkan, bukankah gue masih bisa mencoba lagi?

Gue pun bertekad… gue akan mengikuti kursus gue dengan baik. Apapun yang terjadi, gue akan selalu berusaha datang tepat waktu. Gue akan memanfaatkan waktu luang yang gue punya untuk berlatih lagi dan lagi. Kemudian daripada bengong, lebih baik gue melatih otak gue untuk berhitung tanpa bantuan kalkulator. Gue juga bertekad akan kembali mencari buku-buku matematika anak sekolah untuk mengingat kembali rumus-rumus luas dan volume.

Besok, gue akan memulai hari pertama gue kursus GMAT. Kursus memang tidak jaminan gue akan dapat skor bagus. Sudah dapat skor bagus pun, tidak jaminan gue berhasil mendapatkan beasiswa. Bahkan dengan gelar MBA di tangan pun, belum tentu gue bakal diterima kerja di perusahaan impian… Tapi apapun yang terjadi nanti, malam ini gue kembali merasakan satu hal: rasa bahagia karena gue tahu gue sedang mengejar sesuatu yang berarti dalam hidup gue ini.

Malam ini gue sibuk berceloteh soal kursus GMAT gue ke teman-teman kantor. Soal essay yang sudah gue tulis sejak satu tahun yang lalu, soal masih bingung mau minta referensi sama siapa, soal beasiwa dan cita-cita besar gue… Hanya dengan bercerita, sudah bikin gue ngerasa bahagia.

So here I go again… I tell myself again that I will never ever give up my big dreams. Even if I fail a hundred times, I will try again a hundred times.

Please pray for me yaa, guys. Wish me luck!

The Climb

Kemarin pagi, dalam perjalanan menuju kantor, tiba-tiba gue teringat lagu The Climb yang sempat gue nyanyikan berdua dengan seorang teman di acara karaoke dalam rangka ultah gue beberapa minggu yang lalu. Waktu itu, teman gue bilang, “Liriknya keren yaa.”

When I started singing the lyrics on my head… it felt like the song really speaks my mind. Sesampainya di kantor, gue langsung buka laptop dan googling lirik lengkap lagu The Climb by Miley Cyrus itu. Dan benar saja… gue terkesima banget dengan lirik yang gue baca. Semua yang gue rasakan akhir-akhir ini seperti terangkum dalam satu lagu. I really really like the lyrics! Saking sukanya, gue sampe kepengen berbagi isi lirik yang sangat inspiring itu.

So here we go… The Climb by Miley Cyrus.

I can almost see it
That dream I am dreaming
But there’s a voice inside my head saying
You’ll never reach it

Every step I’m taking
Every move I make feels
Lost with no direction
My faith is shaking

But I gotta keep trying
Gotta keep my head held high

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose

Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb

The struggles I’m facing
The chances I’m taking
Sometimes might knock me down
But no, I’m not breaking

I may not know it
But these are the moments that
I’m gonna remember most, yeah
Just gotta keep going

And I, I got to be strong
Just keep pushing on

Keep on moving, keep climbing
Keep the faith, baby
It’s all about, it’s all about the climb
Keep the faith, keep your faith, oh oh oh whoa

Berbekal lirik lagu ini… berbekal doa dan keyakinan dalam hati, gue pun mulai kembali mengejar mimpi. Bismillahirahmanirrahim 🙂

New Year, New Hopes

Di tahun 2013, ada begitu banyak hal yang harus gue lewati. Many angers, pains, disappointments, and wasted efforts. Meski begitu, anehnya… justru rentetan kejadian itulah yang kemudian membuat gue pada akhirnya, berhasil menemukan jati diri gue sendiri. And it really feels good to finally find me. Gue jadi lebih mantap menjalani hidup, lebih mudah mengambil keputusan, dan tentunya, gue jadi lebih nyaman dengan diri gue sendiri.

Di tahun 2013, gue juga merasakan titik tertinggi dari rasa syukur di dalam hati gue. Waktu kecil dulu, keinginan gue sederhana saja: ingin tumbuh dewasa jadi gadis yang cantik, sukses karier-nya, punya baju bagus, tas bagus, dan teman-teman yang luar biasa. Dan pada tahun 2013 itu… gue menyadari… gue sudah tumbuh menjadi wanita dewasa persis seperti yang gue inginkan dulu 🙂

Di tahun 2013 ini pula, gue paling menikmati kebersamaan dengan orang-orang terdekat. Berbaikan dengan sahabat lama, mempererat persahabatan dengan sahabat baru, dan gue juga semakin menikmati betapa menyenangkannya punya keponakan yang lucu dan menggemaskan itu.

Selama tahun 2013, terlepas dari segala up and down, pada akhirnya gue menyadari bahwa gue punya tim kerja yang cukup solid. Teman-teman satu tim yang dengan ikhlas membantu gue menyelesaikan pekerjaan, dan juga si bos yang bikin gue sesekali berpikiran, “I think… he is the best boss I’ve ever had.” Selain mereka, ada pula rekan kerja dari Malaysian office yang tanpa disangka-sangka, bilang begini sama gue, “You know… your boss is lucky to have you.” It had really made my year 🙂

Meski begitu, anehnya, dengan segala hal positif yang gue rasakan itu… gue tetap menganggap tahun 2013 bukan tahun yang membahagiakan buat gue. Sepanjang tahun 2013, gue lebih jarang tersenyum, lebih jarang tertawa, lebih jarang dalam hati berbisik, “God… I’m really happy  with life! Thank you!”

Seringkali, sepanjang tahun ini, gue bertanya-tanya sama diri gue sendiri… kenapa? Bukannya gue nggak bersyukur… malah seperti yang gue tulis di atas, tahun 2013 justru merupakan tahun gue paling merasa bersyukur atas segala hal dalam hidup gue. Tapi kenapa gue malah enggak ngerasa happy seperti tahun-tahun sebelumnya?

Gue terus bertanya-tanya, sampai beberapa saat menjelang pergantian tahun, gue seperti mendapatkan ‘a wake-up call’. Ada serangkaian kejadian sepele yang tiba-tiba bikin gue bertanya-tanya, “Why am I still here? What am I doing? What have I done to pursue my big dreams this year?”             

Gue lalu teringat dengan teori ‘ugly duckling’-nya gue. Jadi ceritanya, gue menilai sampai usia ABG, gue itu ibarat si itik buruk rupa. Pake baju asal-asalan, sekolah asal-asalan, berteman hanya untuk sekedar punya teman buat makan bareng dan pulang bareng, nggak punya cita-cita, nggak neko-neko, hidup hanya sekedar mengikuti air mengalir aja…

If I look back into my past, my ugly duckling era was really the most boring stage of my life. I kept being an ugly duckling, until one day, a guy came into my life and made me realize how precious I could be. He made me feel pretty, he made me believe that I was smart, and he made me learn how to dream, believe, and make it happen. It was just a puppy love, but it has changed my life ever since. Right after I know how to dream, I started to know how to be happy.

Jadi menurut gue, di situlah letak permasalahannya. Mungkin dari luar, gue udah bukan lagi si itik buruk rupa, tapi dari dalam… gue seperti kembali menjadi gue yang dulu. Kesibukan yang semakin menggila membuat gue berhenti mengejar mimpi-mimpi besar gue, sehingga gue mulai merasa stuck, tidak berkembang, dan takut tertinggal dari teman-teman lainnya. Ada pula beberapa hal yang membuat gue ngerasa berkecil hati, ngerasa not good enough, ngerasa selalu ada yang salah dalam diri gue… All of those negative thought about myself have made me feel like an ugly duckling… and I’m not happy with that.

Tahun-tahun sebelumnya, gue selalu mengawali tahun baru dengan begitu banyak resolusi. Tapi tahun 2014 ini, resolusi gue hanya satu: I want to take my smiles back by making this year as another year of the pursuit of dreams.

Gue tidak bilang bahwa semua orang harus sebegitu ambisiusnya hanya untuk bisa merasa bahagia.  Setidaknya untuk diri gue sendiri, gue tahu bahwa upaya mengejar mimpi lah yang selalu bikin hidup gue terasa lebih berarti. Tidak peduli gagal atau berhasil, setidaknya dengan berusaha, gue sudah mengambil satu langkah lebih maju. Gue bahkan lebih suka melihat gue gagal daripada melihat diri gue hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Itulah sebabnya, tahun di mana gue mengalami kegagalan justru terasa lebih membahagiakan ketimbang tahun 2013 yang serba datar-datar saja itu…

For me, new year means new hopes. Tahun 2014 ini, gue bukan hanya ingin mengejar segala hal yang bisa membuat gue merasa bahagia, tapi gue juga ingin memberanikan diri untuk meninggalkan hal-hal yang tidak lagi membawa kebahagiaan. Meski sulit, meski banyak rintangannya, gue harus tetap mencoba! Sebagai bukti nyata dari tekad itu, beberapa hari menjelang pergantian tahun, demi kembali mengejar beasiswa MBA, gue nekad mendaftarkan diri untuk ikut GMAT preparation class. Nggak peduli di kantor sedang sibuk-sibuknya, nggak peduli tempat kursusnya jauh dari rumah dan kantor, yang penting, gue sudah daftar dan sudah bayar. Tidak putus gue berdoa… semoga hal ini akan menjadi langkah awal yang baik untuk mengejar cita-cita gue itu.

Finally, happy new year 2014 for my blog reader. Hope this year will bring us new hopes to pursue, new chances to take, and new battles to win. Thank you for reading my blog during the past year and hope you’ll never get bored to read my blog. Have a great year!

You Know You’re Happy With Your Life If You…

You know you’re already happy with your job if you no longer compare it with the previous one, or when finding a new job never crosses your mind again not because you’re afraid to quit, but simply because you know you already have the best one.

You know you’re already happy with your love life when you stop talking about your Ex like all the time, or when you have stopped calling and texting them just because you still feel something is missing or just because you’re afraid that you have lost your best one.

You know you’re already happy with your friendship when you no longer have to try hard just to show off how many friends you already have, or when the warmth of true friendship touches your heart in better and worse.

You know you’re already happy with your families when you sincerely accept them as a part of your life instead of feeling trapped just because you have no other choice other than sticking with them.

You know you’re happy with who you are when you stopped trying to become someone else. You could accept and deal with your flaws, and you sincerely feel grateful for all the good things in you.

You know you’re happy with your choices when you stop constantly asking yourself, “What if I took that other decision?” You will also stop trying so hard just to convince yourself that you have made the right decisions.

You know you’re happy with your achievements when you stopped trying to bring people down just because it looks like they have achieved much more than you do. You will sincerely accept the fact that every people have their own path and their own definition of success.

Finally, you know you’re happy with your life when you could stay strong, stay positive, and stay enjoying your life even when things around you are not always pretty. You know that your life is not perfect but you also know how to deal with it. You no longer wait for perfection to come just be happy with the life you already have.

Happiness will never come to someone who just sits and hopes miracle will come and bring some joys. We have to work very hard just to be happy with our job. We have to push ourselves to become a good person if we want to be surrounded by many good friends. We have to fight and never give up in order to live happily ever after with our soulmates. In a few words, we need to work hard just to be happy.

Life is beautiful, only if you know how to live in it. Wish you have a happy life! 🙂

5 Quotes Which Changed My Life the Most

Mungkin istilah ‘quotes which changed my life’ terlalu lebay lah yaah. Itu cuma untuk sekedar kasih judul tulisan yang bagus buat blog gue aja sebenernya 😀 Lebih tepat kalo gue bilang, “5 statements those influenced me the most.” But can’t you see? They are not appealing as a blog title, hehehehe.

Berikut ini adalah 5 kalimat yang pernah gue dengar dan terasa berkesan banget kalo buat gue. Lima statement yang bener-bener berpengaruh sama hidup gue banget. Berikut ini daftar lengkapnya!

 

“Jangan terlalu keras sama dirilo sendiri”

Awalnya, gue ngerasa tersinggung dinasehati seperti itu. Masalahnya:

  1. Kalo gue enggak keras sama diri gue sendiri, gue enggak akan jadi apa-apa!
  2. Yang nasehatin gue itu sama sekali bukan teman deket gue di kampus… What did she know about me?

Karena memang benar lho… Kita itu harus keras sama diri kita sendiri. Jangan suka memaklumi kemalasan kita sendiri, memanjakan kekurangan dan kelemahan kita sendiri ketimbang berusaha untuk memperbaikinya, dan tentunya, jangan gampang menyerah dalam menjalani hidup! Jadi apa salahnya bersikap keras terhadap diri sendiri? It has taken me to so many new levels in my life.

Meski begitu, pada akhirnya, entah persisnya sejak kapan, gue mulai menyadari kebenaran dari nasehat teman gue itu. Gue akan tetap keras sama diri gue sendiri, tapi, ada kalanya, gue harus beristirahat sejenak.

Kadang… saat tumpukan pekerjaan sudah terlalu menggila tanpa ada habisnya, saat gue sudah harus menahan emosi sampai suara gue bergetar saking marahnya, saat gue ngerasa capek dan mendadak air mata menetes dengan sendirinya, saat tidur sudah tidak pernah lagi nyenyak dan menyenangkan, gue tahu bahwa sudah saatnya gue taking a break.

Kemudian satu lagi… gue juga jadi menyadari… sekeras apapun gue berusaha, kegagalan pasti akan tetap ada. Lalu saat kegagalan besar itu melanda, sebagai manusia biasa, gue punya hak untuk meratapinya sejenak. No matter how great my life is, there is still one day or two where I only want to do nothing at home. I will stay on my bed all day long, watching boring TV shows and mourning and feeling sorry for myself. Karena kenyataannya, terus-terusan berusaha terlihat kuat tidak pernah membuat beban gue jadi terasa lebih ringan! Tidak ada salahnya membuang satu atau dua hari yang berharga hanya untuk berduka, yang penting setelah itu, gue kembali siap untuk menjalani hidup gue kembali.

Dan setelah gue pikir lagi, bisa jadi… itu dia yang teman gue maksud, “Jangan terlalu keras dengan diri sendiri.”

Now I really thank her for giving me that advice 🙂

 

“Yang paling penting itu bukan gimana caranya meminimalisasi expense, tapi gimana cara memaksimalkan income.”

Yang satu ini sebetulnya bukan nasehat buat gue, tapi salah satu prinsip yang pernah diutarakan salah satu senior gue dulu. Ceritanya waktu itu kita sedang membahas soal pentingnya berhemat di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, dan begitulah pendapat senior gue itu.

Saat itu gue pikir… iya juga sih. Bukannya gue menentang hidup hemat lho yaa, tapi gue bener-bener ngerasa sengsara banget kalo lagi harus berhemat gila-gilaan :p

Gue ngerasa bersyukur pernah mendengar prinsip senior gue itu tepat di awal karier profesional gue sekitar 5 tahun yang lalu. Punya prinsip kayak gitu bikin gue jadi semangat kerja. Nggak peduli betapa membosankannya pekerjaan gue, betapa menyebalkannya atasan, rekan kerja, atau klien gue gue, pokoknya gue harus tetap bekerja dengan maksimal untuk mendapatkan hasil yang juga maksimal! Gue bahkan punya target… tiap tahun, penghasilan gue harus naik minimal 20%. Hasilnya? Alhamdulilah, penghasilan gue saat ini sudah sekitar 500% melebihi penghasilan gue 5 tahun yang lalu.

Prinsip seperti itu bisa jadi terdengar sombong di telinga orang lain, tapi apa salahnya sih punya pemikiran seperti itu? Nggak ngerugiin siapa-siapa juga kan… Ngejar prinsip seperti ini memang bikin capek, tapi gue banyak belajar bahwa many good things in life are hard to find. Dan meskipun uang itu bukan segala-galanya, tapi tetep aja… hidup bakal jadi luar biasa susah kalo lagi nggak punya uang… Mengutip salah satu quote yang cukup populer di kalangan social media, “Money can’t buy happiness, but it’s more comfortable to cry in a Mercedes than on a bicycle.” 😀

Always try, always fight, before you quit and give it up

Beberapa waktu yang lalu, gue nemuin quote ini di Path: “Before you act, listen. Before you react, think. Before you spend, earn. Before you criticize, wait. Before you pray, forgive. Before you quit, try.” – William Arthur.

Satu kalimat terakhir itulah yang kemudian seperti jadi jawaban atas berbagai pertanyaan dalam benak gue sendiri.

“Sampe kapan gue harus ngejar cita-cita gue yang setinggi langit itu?”

“Harus gue apain sahabat gue yang mulai bertingkah menyebalkan setengah mati itu?”

“Gue harus stay atau resign dari pekerjaan gue yang sekarang?”

Dan jawaban dari semua pertanyaan itu hanya satu: “Before I quit, try.”

Pemikiran kayak gitu bikin gue jadi lebih yakin untuk tetap memperjuangkan sesuatu, dan… bikin gue jadi lebih yakin saat sudah harus merelakan sesuatu untuk pergi dari hidup gue. Setidaknya, gue sudah berusaha sekeras yang gue bisa, bahkan terkadang, gue berusaha sampai melebihi batas kemampuan gue sendiri. Jika gue sudah sampai berusaha sekeras itu dan tetap tidak berhasil, serta jika mempertahankan lebih banyak kerugian ketimbang manfaatnya, maka gue akan tahu dengan sendirinya… sudah waktunya untuk gue letting go. Only by doing this I could let go with no future regrets, at all.

“Live your life forgivingly, but if it’s too painful to hang on, let go”

Kalo yang satu ini asli quote bikinan gue sendiri. Berawal dari penyesalan gue karena udah ninggalin begitu banyak teman baik di waktu yang lalu, gue jadi sadar… gue harus belajar memaafkan. Karena kenyataannya, siapapun orangnya, dan sebaik apapun kepribadian mereka, akan tetap ada kalanya mereka menyakiti perasaan gue sebegitu dalamnya. Jika gue tidak pernah mau memaafkan, bisa-bisa gue cuma hidup sendirian!

Meski begitu, ada pula beberapa orang yang bikin gue merasa bersyukur sudah merelakan mereka dari hdiup gue. Hidup gue jadi terasa lebih baik dalam artian yang sebenarnya. Ada orang-orang yang entah kenapa, setelah dewasa berubah menjadi orang yang sangat sinis, atau cenderung membawa banyak pengaruh buruk buat gue. Selalu mengatakan hal buruk tentang gue sepanjang waktu, tidak suka melihat gue bahagia, terlalu sering berbohong lagi dan lagi, atau tidak pernah mau menyisihkan waktunya buat gue. Jika sudah sampai seperti itu, buat apa gue pertahankan?

Intinya sih, gue harus tahu kapan waktunya harus memaafkan, serta kapan waktunya harus merelakan. Tadinya gue pikir, hanya merelakan saja yang bisa bikin hidup gue terasa lebih mudah, tapi ternyata, mau memaafkan juga udah bikin hidup gue jadi terasa jauh lebih mudah. Gue jadi punya sahabat-sahabat yang tidak terduga, hidup gue jadi lebih damai, dan hati gue jadi lebih sedikit dipenuhi dengan amarah. Tapi jika memaafkan sama saja dengan memberikan kesempatan untuk mereka secara konstan menyakiti perasaan gue lagi dan lagi, maka ya sudahlah… diikhlaskan saja. Ikhlaskan, lepaskan, dan jangan pernah ada rasa dendam. Bahkan saat melepaskan pun, harus dilakukan dengan penuh maaf!

Oh ya, mau tahu kunci untuk bisa memaafkan dengan mudah? Gampang aja, kuncinya adalah: saat sedang sangat marah, cobalah untuk mengingat-ingat kebaikan mereka pada kita! Jangan dulu berkomunikasi dengan mereka saat hati sedang panas-panasnya, kemudian saat hati sudah mendingin, barulah dicari solusi supaya masalah yang sama tidak terulang lagi. Bagaimanapun, memaafkan itu memang tidaklah mudah, jadi sebaiknya, carilah solusi supaya tidak perlu sering-sering berhadapan dengan keadaan di mana kita harus berusaha keras untuk memaafkan.

“Bukan perkataan orang lain, dan bukan tindakan orang lain yang menyakiti perasaan kita, melainkan diri kita sendiri.”

Ucapan training manager di kantor gue yang satu ini emang bener banget deh. Tidak selalu berhasil memang, apalagi buat gue yang termasuk tipe orang yang sangat sensitif. Tapi setidaknya, prinsip ini udah beberapa kali menenangkan emosi gue di saat nyaris meledak karena mendengar perkataan atau tindakan orang lain yang menyakiti perasaan gue. Frekuensi marah-marah gue juga jadi berkurang sedikit demi sedikit. Lagi-lagi, gue jadi punya sesuatu yang bikin hidup gue terasa lebih damai, lebih mudah, dan lebih menyenangkan!

30 Things to Do Before 30 – The 2013 Check List!

Awal tahun 2013, gue sempat menulis blog ini. Sebagai lanjutan dari tulisan tersebut, mulai tahun ini, tiap kali hari ulang tahun gue baru saja berlalu, gue akan kembali update di blog ini, things to do apa saja yang sudah berhasil gue penuhi, serta apa saja yang masih belum terealisasi. Gue harap, hal ini akan menjadi reminder untuk gue supaya gue tetap fokus mengejar hal-hal yang ingin gue wujudkan sebelum usia 30.

Nah, berhubung ulang tahun gue yang ke 27 baru saja berlalu, berikut ini update untuk tahun 2013.

Sudah terealisasi di usia 26

  1. Ganti facial care gue jadi Clinique semua, dan body care jadi L’occitane semua. Hasilnya? Kulit gue jadi terasa lembuuuut banget. It’s really worth every penny for me;
  2. Traveling sendirian ke luar negeri. Hal ini ternyata salah satu wish yang cukup berat untuk diwujudkan. Malam hari sebelum pergi ke Bangkok sendirian, gue sempet nervous… Gue sampe mikir, “Apa gue batal pergi aja yah? Gue pake cutinya buat istirahat di rumah…” Tapi syukurlah, gue tetep pergi meskipun sendiri. Dan hasilnya? It was one of the best trips in my life! I’ll write more about this later;
  3. Beli mobil pertama. Dan senengnya lagi, mobil yang gue beli persis banget mobil yang kepengen gue punya sejak bertahun-tahun yang lalu. Hanya saja sayangnya, gue masih belum berani berlama-lama nyetir sendiri, hehehe;
  4. Tidur di hotel bintang 5 saat menginap di luar negeri. Ini nggak tanggung-tanggung, tahun ini gue mewujudkan keinginan ini sampe dua kali! Awalnya gara-gara nginep di hotel bintang 5 Bangkok, pas ke Singapur beberapa bulan kemudian, gue jadi ketagihan! The comfort is just priceless;
  5. Berbaikan dengan sahabat-sahabat lama yang pernah gue tinggalkan. Memang tidak semuanya, tapi at least, gue udah berbaikan dengan salah satu sahabat terbaik gue 🙂

Masih belum terealisasi

  1. Pergi ke dokter ahli gizi supaya naik berat badan minimal 10 kg. Sibuk kerja bikin gue lupa sama niat yang ini, hehehe. Tahun depan aja gue mulainya 😀
  2. Lihat bunga sakura bermekaran di Jepang. Ini juga insyaallah pergi tahun depan… Udah beli tiketnya, dan kalau semuanya lancar, gue akan pergi ke Jepang bulan Mei 2014!
  3. Mulai investasi reksadana atau logam mulia. Rencananya, selisih kenaikan gaji awal tahun depan akan gue investasikan ke reksadana;
  4. Berani nyetir mobil sendiri. Sekarang gue udah berani nyetir sendiri sih… Tapi masih di jalur yang sama, itupun cuma sebentar dan harus ada yang nemenin di sebelah gue 😀 Semoga tahun depan udah lancar;
  5. Nonton konser penyanyi luar negeri. Kalo ini sih, belum gue wujudkan karena emang tahun ini belum ada penyanyi favorit gue yang ngadain konser di Indonesia;
  6. Tinggal di apartemen pribadi… Rencananya, akhir tahun depan apartemen gue udah rampung. Doakan lancar yaa!
  7. Pelihara kucing Persia asli. Ini gue wujudkan nanti aja kalo udah punya apartemen sendiri;
  8. Duduk di business class saat bepergian dengan pesawat. Kalo ini sih, bisa gue wujudkan kapan aja gue pengen sebenernya. Cuma belum ada waktu yang cocok aja;
  9. Liburan keliling Eropa… Pengennya pergi tahun depan, tapi jatah cuti tahun depan udah abis buat Japan trip plus lebaran… hiiks. Karena 2015 pengen umrah dulu, si Eropa ini baru terealisasi tahun 2016 sepertinya;
  10. Punya 1 tas Louis Vuitton, beli langsung di Paris. Otomatis ini harus nunggu gue traveling ke Paris dulu;
  11. Lihat salju. Ini agak susah sebenernya… secara kalo lagi musim salju, kerjaan gue di kantor sedang sibuk-sibuknya!
  12. Terbitkan novel perdana. Ini sudah 50% rampung, semoga bisa selesai tahun depan;
  13. Membukukan tulisan-tulisan terbaik di blog gue. Ini bakal jadi proyek gue setelah novel perdana selesai;
  14. Membawa novel gue ke layar lebar… Such a big dream right? Hehehehe;
  15. Tampil di cover majalah atau tabloid Ibu Kota, huahahaha, masih serius loh ini;
  16. Naikin GMAT score, kalo perlu ikutan kursus. Insyaallah gue mulai kursus pertengahan Januari 2014;
  17. Coba apply beasiswa S2 ke luar negeri… sekali lagi. Gue udah siapin essay untuk apply Fulbright scholarship. Doakan yaa!
  18. Ambil minimal satu gelar profesi. Misal beasiswa gue tahun depan gagal lagi, gue pengen langsung ambil PPAK. Gue cuma nggak pengen jalan di tempat aja gitu;
  19. Mendapatkan pekerjaan di salah satu kantor impian;
  20. Mulai merintis bisnis kecil-kecilan;
  21. Ngerasain berlibur naik kapal pesiar. Sekarang gue agak ragu sama yang ini… Soalnya, bos gue baru aja bilang, cruise trip itu penuh banget sama penjudi! Hmmm…
  22. Umrah, trus lanjut ke Dubai nyobain naik unta, plus ke Mesir lihat pyramid. Rencananya sih, mau pergi bareng keluarga tahun 2015 nanti;
  23. Menghampiri mantan gebetan dan bertanya, “What was that between us?”. Kalo yang ini, bukannya gue belum berani, tapi belum dapet chance-nya aja;
  24. Meet my Mr. Right. Ini sih entah kapan deh, hehehehe; dan
  25. Merayakan ultah gue yang ke 30… ngundang teman-teman dekat dari jaman SD sampai kerja.

Semoga tahun 2014 nanti, akan lebih banyak yang bisa terwujud. Keep fighting!

I’m 27 and Single, but I’m Not Worried

Sampai beberapa bulan yang lalu, gue paling sebal tiap kali ada orang lain yang bertanya, “Kapan married?” Jika yang bertanya adalah teman yang sudah merit, dalam hati gue berpikir, “Jadi elo pikir gue ngiri sama elo gitu?” Kemudian jika yang bertanya itu sendirinya juga belum merit, gue berpikiran, “I’m not yet married but I’m not a desperate single like you.”

Sounds harsh? Yes indeed… Gue sampe pernah menulis blog yang satu ini.

Satu bulan yang lalu, pada saat soft-skill training di kantor, ada satu quote keren yang diucapkan oleh trainer-nya. “Bukan perkataan orang lain, dan bukan tindakan orang lain yang menyakiti perasaan kita, melainkan diri kita sendiri.”

Dari situ gue belajar… Bisa jadi, orang lain tidak berniat menyakiti perasaan gue, tapi cara gue yang menanggapinya dengan penuh emosi lah yang kemudian menyakiti perasaan gue sendiri. Dalam tingkatan yang lebih tinggi, sebetulnya kita itu bisa lho, tidak ambil pusing omongan orang yang memang berniat menyakiti kita. Jika kita tidak ambil hati, maka kita tidak akan sakit hati!

Kebenaran dari teori itu sangat gue rasakan manfaatnya di hari ulang tahun gue yang ke 27 yang baru saja berlalu itu. Biasanya, gue paling sebal dengan ucapan “semoga cepat ketemu jodoh” yang diucapkan teman dan keluarga. Who says that finally getting married is my biggest wish? Bener-bener tipe birthday wish yang sedikit ngerusak kebahagiaan di hari ultah gue banget deh. Tapi ternyata tahun ini, ucapan yang sama tidak lagi membuat gue ngerasa jengkel. Sekarang gue hanya menanggapinya dengan pemikiran, “Ah… itu kan memang standard wishes-nya orang Indonesia!”

Gue tahu tetap ada orang-orang di luar sana yang sengaja menjadikan masalah jodoh sebagai alat untuk membuat gue ngerasa incomplete, tapi kalo dipikir lagi… why should I let a douche bag ruin my good day? Stay calm and enjoy my life is the best revenge for them after all 😀 Malah sebetulnya gue tersanjung… kalo ada orang yang sampe sebegitu ngototnya berusaha cari celah buat bikin gue unhappy, pastilah di mata mereka, hidup gue ini udah awesome banget, hehehehe. Jadi bener deh… pola pikir seperti ini udah bikin hidup gue terasa lebih damai daripada sebelumnya.

Finally… frankly, the thing is… I just never find a married couple which makes me want to be married like them.

Saat lihat ada teman yang ambil S2 di luar negeri, gue akui gue ngerasa iri. Gue juga pengen kuliah di kampus ternama di luar negeri.

Saat lihat teman yang berfoto di depan Eiffel, gue jadi nggak sabar pengen cepet-cepet pergi ke Paris, Venice, Roma, dan Santorini.

Saat baca sederetan tweet-nya Raditya Dika, gue jadi kepingin bisa nerbitin buku yang disukai oleh banyak orang seperti dia.

Dan saat berkumpul di tengah orang-orang yang sudah berada di puncak karier-nya, gue selalu bertekad di dalam hati, “Kelak… gue juga harus bisa seperti mereka!”

But honestly… I just never feel the same way about marriage. I still have so many wishes, and at least until today, marriage is not yet any of them.

Melebihi tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun kali ini bikin gue sangat-sangat mensyukuri perjalanan hidup gue selama 27 tahun ini. Gue bersyukur dengan mimpi-mimpi yang mulai tercapai satu per satu. Bersyukur karena gue tidak pernah menyerah untuk mengejar impian. Bersyukur karena gue sudah tumbuh dewasa menjadi pribadi yang gue inginkan. Bersyukur karena gue tidak pernah lelah berusaha untuk memperbaiki diri gue sendiri. Bersyukur untuk teman dan sahabat yang gue punya. Dan bersyukur gue selalu bisa bertahan pada apapun yang terjadi dalam hidup gue, dan bersyukur karena pada akhirnya… gue selalu bisa menemukan kebahagiaan di tengah ketidaksempurnaan.

I’m 27 and I’m still single… but I am okay with that, and I am not worried about it, at all. I’m so blessed and I can’t be more grateful for all I have.

Happy birthday to me! 🙂

Berdebat Panjang Lebar… Haruskah?

Gue baru aja nemuin quote keren dari seorang teman Facebook. Begini isi quote-nya:

Pick your battles. You don’t have to show up at every argument you’re invited to – Mandy Hale.

Quote itu mengingatkan gue dengan beberapa orang teman yang seneng banget mendebat semua yang gue katakan, sampai hal-hal terkecil sekalipun. Gue suka musiknya Britney Spears, dia bilang lebih bagusan Christina Aguilera soalnya bla bla bla. Gue pengen apply beasiswa ke Australia, dia bilang pendidikan di Aussie itu jelek karena bla bla bla. Pokoknya apapun yang gue suka, mereka enggak suka. Dan apapun yang gue approve, mereka akan selalu disapprove. Padahal faktanya:

  1. Argumentasi mereka belum tentu disertai dengan fakta; dan
  2. Tidak ada siapa yang benar dan siapa yang salah dalam hal selera. Apa yang bagus menurut gue tidak harus bagus pula menurut orang lain.

Nggak lama kemudian, saat gue sedang asyik main Pinterest, gue nemuin satu quote keren lainnya, yang ternyata, quote itu datangnya dari Mandy Hale juga. Begini isinya:

The less you respond to rude, critical, argumentative people… the more peaceful your life will become – Mandy Hale.

Gue pikir ada benarnya juga sih… Gue cukup sering jadi mendadak emosional hanya gara-gara perdebatan enggak penting, perdebatan berkepanjangan, dan perdebatan yang sebenarnya cuma atas nama gengsi si pendebat saja. Kadang saat gue udah terbukti benar pun, mereka akan tetep ngotot setengah mati. Ada pula yang sampe ngarang-ngarang fakta ala mereka sendiri. Padahal kalo dipikir lagi… apa sih, manfaatnya buat gue?

Kemudian… the most shocking part is… sepertinya, gue sendiri pun terkenal sebagai orang yang critical dan argumentative. Gue terkenal sebagai orang yang nggak mau kalah dan selalu memperjuangkan apa yang gue yakini kebenarannya. Dan gue juga jadi ingat… gue sampe pernah mempertanyakan kesahihan (keaslian) dari sebuah hadits yang isinya:

Rasulullah bersabda, “Aku menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi siapa saja yang meninggalkan debat berkepanjangan meskipun dia berada dalam pihak yang benar.”

Saat itu gue berpikir… apa salahnya berdebat panjang? Bukankah terkadang memang tidak mudah untuk menyamakan pendapat dengan banyak orang? Dan tentunya, memperjuangkan argumentasi itu bisa butuh waktu yang relatif lebih lama sampai akhirnya gue memenangkan perdebatan itu, iya kan?

Tapi sekarang gue sadar… bahwa pada intinya, tidak ada yang salah dengan perdebatan, atau brainstorming, asalkan ada manfaatnya dan tidak memakan waktu yang berkepajangan. Tidak pula mengada-ada, tidak pula dengan terlalu memojokkan pihak lawannya. Tidak perlu pula gue selalu meladeni argumentasi yang dilontarkan semua orang. Seperti kata si Mandy Hale, we have to pick our battle. Kalau boleh gue tambahkan, pick our battle and don’t waste our energy on arguing something which is not worth our valuable time.

Konkretnya, mulai saat ini gue bertekad…

  1. Terlalu lama memperdebatkan mana film terbaik di tahun 2013 itu useless… Menang dari perdebatan macam ini sama sekali enggak ada untungnya buat gue. Diskusi buat seru-seruan boleh aja, tapi nggak perlu sampe saling ngotot;
  2. Gue enggak usah mendebat saat teman gue cerita tentang betapa sukanya dia dengan lagu barunya Linkin Park… Buat gue, lagu mereka itu berisik, tapi bukan berarti teman gue juga harus berpendapat yang sama…
  3. Untuk urusan pekerjaan, gunakan fakta, bukan opini semata. Jika fakta yang ada masih terus saja diperdebatkan, solusinya cuma satu: lakukan voting atau elevate to higher management. Berlama-lama debat kusir nggak akan pernah mendatangkan solusi; dan
  4. Betul kata Mandy Hale… supaya hidup lebih tentram, gue enggak usah meladeni semua argumentasi yang datang kepada gue.

Sebetulnya kalau gue ingat-ingat lagi, sejak gue tahu soal hadits yang tadi gue kutip itu, gue udah sedikit mengurangi perdebatan panjang yang enggak bermanfaat sih. Gue pernah berhenti menimpali soal social media mana yang paling keren, gue bahkan pernah dengan tegas menegur seorang teman yang terlalu sering mengkritik segala hal yang gue punya. Capek aja gitu meladeni semua perdebatan nggak penting yang dia lontarkan soal hidup gue sendiri. Dalam urusan pekerjaan pun, gue tidak lagi suka buang-buang waktu meributkan sesuatu yang tidak penting. Fokus gue bukan lagi pendapat gue harus menang, melainkan apa solusi yang terbaik untuk perusahaan tempat gue bekerja?

Hasilnya, ternyata memang benar… meninggalkan debat kusir itu banyak manfaatnya, dan meninggalkan teman yang terlalu suka mengkritik juga bikin hidup gue jadi lebih bahagia. Secara yaaah, orang-orang yang kelewat suka mengkritik segala hal dalam hidup gue itu sebetulnya cuma suka ngerusak kebahagiaan orang lain aja. Mereka enggak seneng dengan hal-hal baik dan menyenangkan dalam hidup gue sehingga mereka berusaha cari celah untuk bikin gue jadi kecil hati. So be careful!

Life is too short to be wasted on useless debates, so be smart! It’s okay to fight for what we believe is right, but do find a smart way to bring it. Even if we finally lose the arguments, then that’s okay too. Lose one argumentation doesn’t turn us to be a loser. I even believe… the first person who leaves a long useless debate is the true winner among them.

Serba-serbi Gengsi

Pernah dengar tentang cewek yang dikejar-kejar hutang kartu kredit karena ngotot beli Louis Vuitton asli hanya supaya kelihatan keren di depan teman-temannya?

Ada pula orang yang ngotot kalo traveling harus naik SQ, nginepnya harus di hotel bintang 5, lalu sepulang liburan… limit kartu kredit langsung mentok dan baru lunas 3 bulan kemudian.

Lalu ada lagi cowok yang menjauhi gebetannya karena setelah dipikir-pikir, dia enggak mau punya pacar yang agak gemuk, atau yang kulitnya gelap, atau kurang cakep. Kalo kata dia sih, kurang keren buat dijadiin gandengan ke kondangan. Atau alasan populer lainnya: malu sama mantan pacar kalo si pacar baru enggak lebih ok daripada si mantan.

Yang paling ironis, kisah pencari kerja yang cuma mau kerja di perusahaan besar yang terkenal. Buat dia, percuma gaji besar dan prospek karier-nya bagus jika perusahaannya itu nggak ada yang kenal. Alhasil, jadi pengangguran berbulan-bulan.

Apa kesamaan dari empat orang itu? Gengsi. Mereka tipe orang yang menempatkan gengsi di atas segala-galanya.

Sampai beberapa waktu yang lalu, gue sendiri tipe orang yang sangat mementingkan gengsi. Gue gengsi kalo cuma beli Avanza, gue mulai ngefans sama tas kulit asli, merk kosmetik, facial dan body care hanya beli yang sekelas MAC, Lancome, Clinique, L’occitane, atau minimal The Body Shop. Sampai suatu hari, gue baca berita tentang Oprah Winfrey.

Siapa yang nggak kenal Oprah Winfrey? Sukses dan terkenal sebagai salah satu wanita paling kaya di dunia. Mungkin kita mengira, kalau sudah sekaya dia, semua orang akan respek. Nggak akan ada SPG yang memandang kita sebelah mata, nggak akan ada teman yang ogah bergaul sama kita hanya karena dianggap kurang kaya, nggak akan ada orang kaya yang sok dan menghina kita yang masih hidup serba pas-pasan ini…

Tapi kenyataannya… apa iya orang yang paling kaya sedunia itu akan selalu mendapatkan perlakuan istimewa? Dan apa iya… dengan segala hal yang bergengsi, kita akan lantas merasa nyaman dan puas dengan diri kita sendiri?

Balik lagi ke Oprah Winfrey, isi berita yang gue maksud itu memuat curhatan Oprah tentang perlakuan tidak hormat seorang SPG kepada dirinya di sebuah toko tas mewah di Zurich. Menurut Oprah, saat dia minta diambilkan sebuah tas kulit buaya asli, SPG itu malah menjawab, “Terlalu mahal untukmu!” Hal itu membuat Oprah merasa dilecehkan hanya karena dia berkulit hitam.

Pemilik toko tas kemudian membantah pernyataan Oprah tersebut. Dia bilang, karyawannya sudah melayani Oprah dengan baik dan bahkan sudah menunjukkan semua tas yang ada di toko itu kepadanya. Hanya saja memang, saat Oprah minta diambilkan tas kulit buaya yang super mahal itu, sang SPG malah berinisiatif menunjukkan tas lain yang mirip namun dengan harga yang lebih murah.

Bisa jadi Oprah yang benar, bisa jadi pula pernyataan sang pemilik toko yang lebih benar. Yang manapun itu, gue jadi belajar dua hal:

  1. Jika memang benar Oprah dilecehkan oleh si SPG, itu artinya… tidak peduli seberapa kayanya kita, tidak peduli seberapa terlihat kayanya kita ini (baju bagus, make-up sempurna, tas dan sepatu mengkilat, perhiasan mewah plus jam tangan mahal), hal itu tetap tidak menjadi jaminan bahwa kita tidak akan pernah diperlakukan tidak hormat oleh orang lain; atau
  2. Jika memang benar bahwa sebetulnya, Oprah hanya salah sangka, itu artinya… tidak peduli seberapa banyak kekayaan yang kita miliki, hal itu tidak menjamin kita akan bebas dari rasa insecurity. Bisa jadi, dalam hati kecilnya, Oprah masih merasa minder dengan kulit hitamnya, sehingga salah paham yang terkecil sekalipun bisa memicu amarah dalam dirinya.

Sebetulnya, sudah sejak dulu gue memahami bahwa gengsi sering dijadikan tameng oleh orang-orang yang merasa insecure dengan dirinya sendiri. Dia merasa dirinya belum cukup keren jika belum punya ini-itu. Dia merasa dirinya belum cukup jantan kalau belum menggandeng perempuan cantik dan berpostur sempurna. Dan dia merasa haus akan kekaguman orang lain, dia tidak merasa percaya diri, dia takut dipandang sebelah mata, atau bisa juga, takut akan dikucilkan, sehingga ujung-ujungnya, mereka rela melakukan apa saja, rela mengorbankan apa saja, hanya demi menyembunyikan rasa takutnya itu.

Bedanya, kini gue menyadari… berkaca dari cerita Oprah tersebut, bahwa kenyataannya, gengsi bukan segala-galanya, dan gengsi juga tidak menjamin segala-galanya.

Buat apa punya tas mahal kalau kita sampai takut mendengar telepon masuk, terutama jika telepon dari nomor tidak dikenal, hanya karena kita takut telepon itu datang dari debt collector?

Buat apa punya pacar keren kalau dalam hati, kita terus terkenang sama mantan pacar atau gebetan yang kita tinggalkan hanya karena dia kurang bisa kita pamerkan?

Dan buat apa memaksakan diri kerja di perusahaan bergengsi meskipun sebetulnya kita benci setengah mati dengan pekerjaan kita di tempat itu?

Look at Oprah… semua yang dia pakai sudah serba mahal, karier juga sudah sukses setengah mati, tapi tetap saja ada kalanya, hal-hal tidak menyenangkan masih bisa terjadi seolah semua yang dia punya itu belum cukup bergengsi.

Saat gue sharing pendapat dengan salah satu sahabat di kantor, dia menimpali dengan cerita tentang atasan kita yang pernah dengan cueknya pakai handphone murah yang harganya tidak sampai lima ratus ribu rupiah. Jadi ceritanya, iPhone 5 si bos baru saja rusak total, digantikan dengan iPhone 5 baru lainnya. Eeeh, nggak lama kemudian, iPhone 5 yang barunya itu rusak lagi karena tersiram air, sehingga butuh waktu beberapa minggu untuk memperbaikinya. Selama menunggu iPhone 5 selesai direparasi, si bos membeli satu hp Nokia murah meriah sebagai hp sementara.

Teman gue bilang, “Bukannya malu, dia malah pamerin hp murahnya dan ngejadiin itu sebagai lucu-lucuan. Orang-orang juga malah jadi ketawa dan enggak nganggep remeh hp murahnya itu.”

Ya, gue setuju banget sama pendapat teman gue. Bos gue itu jabatannya Direktur, punya rumah seharga milyaran rupiah, jelas enggak bergengsi banget kalo dia sampe pake hp seharga ratusan ribu saja. Itu satu lagi bukti bahwa sebetulnya, gengsi itu hanya soal mindset, alias… soal pola pikir kita sendiri, serta soal bagaimana cara kita membawa diri kita sendiri. Karena pada dasarnya, bukan cara orang lain memperlakukan kita yang menyakiti perasaan kita, melainkan bagaimana cara kita menanggapinya.

SPG yang kurang ajar bukan karena ada yang salah dalam diri kita, melainkan ada yang salah dalam diri SPG itu sendiri. Mereka itu wajib memperlakukan customer-nya dengan baik.

Teman yang cuma mau berteman dengan orang yang punya tas Channel asli justru bukan teman yang sejati. Mereka bukan teman yang akan tetap setia dalam suka dan duka.

Teman yang menghina kita hanya karena pacar kita dianggap kurang rupawan juga bukan teman yang patut dipertahankan. Mereka hanya orang-orang yang akan selalu mencari celah untuk membuat kita merasa buruk dan kecil hati.

Mereka semua boleh saja bersikap seenaknya, tapi yang paling penting, jangan biarkan mereka melukai perasaan kita. Jangan biarkan mereka membuat kita jadi gelap mata. Jangan biarkan mereka membuat kita menempatkan gengsi di atas segala-galanya. Mengutip salah satu tweet yang pernah gue baca, “Don’t spend the money that we don’t have to buy the things that we don’t need just to impress the people that we don’t like.”

Gue akui, kemewahan itu menyenangkan, dan barang-barang mahal itu memang menawarkan kualitas produk di atas rata-rata. Tapi kembali lagi… beli benda-benda itu hanya jika memang kita membutuhkannya, dan hanya jika kita mampu untuk membelinya. Kemudian saat hendak mengambil keputusan, bukan pikirkan apa yang paling bergengsi, melainkan… apa yang paling akan membuat kita merasa nyaman dan bahagia?

Finally… tell this to yourself: you don’t need to be richest, the prettiest, not either having the coolest boyfriend ever, just make you feel like the happiest person on earth.