Confession of a Workaholic

Hari ini, gue cerita ke salah satu teammate di kantor soal obrolan gue dengan dokter internis tadi malam.

Dokter: Sering telat makan?

Gue: Sering.

Dokter: Kenapa?

Gue: Kerja.

Dokter: Sering stres?

Gue: Sering.

Dokter: Kenapa?

Gue: Kerja.

Dokter: Istirahat cukup?

Gue: Enggak. Tidur sehari kira-kira cuma 5 jam aja.

Dokter: Kenapa?

Gue: Kerja juga.

Mendengar cerita itu, teman gue tertawa kecil. Dia lalu bilang, “Ini persis yang waktu itu elo ceritain, Mbak. Problem elo besar, tapi happiness lo juga besar.”

Gue mengerutkan dahi. “Oh? Gue pernah bilang begitu ke elo ya?”

Teman gue mengangguk. “Iya. Waktu itu elo bilang, problem score elo 9 dari 10, tapi happiness score elo juga 9 dari 10.”

Gue tersenyum dalam hati. Memang persis itu yang gue bilang ke dia beberapa bulan yang lalu. Dan persis seperti itu pula yang gue rasakan selama 10 tahun belakangan ini. Selama 10 tahun; sejak gue mulai meniti karier gue.

Banyak orang yang mengasihani workaholic seperti gue. Nggak punya kehidupan di luar dinding kantor, katanya. Sering lembur, kerja sampai sakit-sakitan, masih jomblo pula! Tapi sejujurnya, gue enggak merasa perlu dikasihani. Karier gue telah memberikan gue begitu banyak hal yang tidak pernah gue dapatkan sebelumnya.

Apa saja?

Yang pertama, teman-teman terbaik sepanjang masa. Teman yang datang menjenguk ke kosan saat gue tengah sakit sambil membawakan DVD kesukaan, teman yang mengirimkan hadiah ke kantor baru gue untuk merayakan pertemanan kita yang sudah menginjak 7 tahun lamanya, dan teman-teman yang ikut sedih saat gue sedih, ikut bahagia saat gue bahagia. Tidak pernah ada teman-teman yang begitu menginginkan happy ending buat gue melebihi teman-teman yang gue temui di dunia kerja.

Masih ada juga bos-bos yang luar biasa. Bos yang percaya pada kemampuan gue di saat gue berpikir gue bukan siapa-siapa. Bos yang memberikan lebih dari yang kiranya berhak gue dapatkan. Bos yang memperhatikan wellbeing gue sampai ke hal yang paling kecil sekecil-kecilnya. Bos yang membuat gue merasa sudah menjadi pribadi yang utuh, yang membuat gue pelan-pelan mulai menyadari value dalam diri gue sendiri. Bos luar biasa yang tanpa mereka, gue mungkin bukan siapa-siapa.

Kemudian ilmu dan pengalaman yang membuat gue merasa “kaya raya”. Gue seringkali merasa telah belajar lebih banyak di dunia kerja ketimbang belajar di bangku sekolah sampai kuliah dulu. Senang banget rasanya jika gue bisa membagi ilmu gue ini kepada orang lain (seperti yang tadi gue bilang; gue jadi merasa kaya raya!). Dan pengalaman seperti itu tuh rasanya sangat menyenangkan! Gue enggak akan pernah merasakan betapa fulfilling-nya perasaan bahwa gue ini bisa berguna buat orang lain jika bukan karena pekerjaan gue 10 tahun belakangan ini.

Dan yang terakhir, karier gue ini juga yang kemudian mewujudkan mimpi-mimpi gue yang lainnya. Mulai dari lihat bunga sakura di Jepang, menginap di cave house di Santorini, sampai masuk ke dalam ice cave dan melihat aurora di Iceland. Jangankan itu semua deh. Sekedar tempat tinggal yang nyaman saja gue sudah sangat bersyukur! Gue juga masih bisa beli baju, tas, sepatu, dan apapun yang dulu cuma bisa gue lihat di halaman majalah saja.

Di balik segala hal yang menyenangkan dari karier gue ini, perjuangannya memang tidak mudah. Makin ke sini, pekerjaan gue terasa makin sulit dan banyak rintangannya. Semakin susah untuk sekedar bisa tidur nyenyak dan makan tepat waktu. Bukan sesuatu yang gue banggakan, tapi juga bukan sesuatu yang gue sesali.

My life is hard, my job is hard, but I’ve been having a lot of fun along my way.

Kalaupun gue bisa memutar balik waktu, gue tidak akan mengubah pilihan karier gue. Gue akan tetap memulai karier di Accurate walaupun itu bikin skripsi gue hanya bisa selesai “ala kadarnya”. Gue akan tetap memilih EY yang terkenal dengan jam lemburnya (pekerjaan yang kemudian memberikan gue penyakit lambung). Gue akan tetap memilih Niro, Lazada, dan Go-jek Group lengkap dengan segala suka-dukanya. Memang sulit dan terkadang menguras air mata, tapi gue sangat mensyukurinya! Entah apa jadinya jalan hidup gue tanpa rentetan pekerjaan gue itu…

I am not who I am without my long nights at work… and I have nothing to regret. And that my friend… a confession of a workaholic.