If You Were Born Poor…

Gue baru aja bercucuran air mata setelah nonton video (dengan unsur iklan sebetulnya) yang dibuat oleh OLX. Ceritanya tentang seorang anak yang menjadi korban bully teman-teman sekolahnya hanya karena terlahir di keluarga yang sederhana. Ayahnya hanya supir bajai dan tidak mampu memberikan kemewahan yang diinginkan oleh putrinya.

Anak perempuan dalam video itu diceritakan malu atas jati dirinya. Dia juga sangat marah kepada sang ayah yang dianggap tidak mampu memberikan dia hidup yang layak. Sang ayah merasa tertekan sehingga akhirnya dia menjual semua benda berharga yang dimilikinya hanya untuk membelikan barang-barang yang diinginkan oleh putrinya itu.

Di akhir video, OLX menulis pesan yang cukup menyentuh soal kebahagiaan, tetapi di luar itu, gue punya key takeaways gue sendiri.

Nonton video itu mengingatkan gue dengan masa lalu gue sendiri. Gue memang bukan anak supir bajai, tapi gue juga bukan anak orang kaya. Bokap kerja jadi pengusaha dan bisnis beliau selalu saja ada naik-turunnya. Selama 22 tahun dalam hidup gue, gue sudah terbiasa hidup sederhana.

Waktu SMA dulu, pernah ada teman sekelas yang dengan tega menghina gue. Tapi gue tidak peduli.

Kemudian waktu kuliah dulu, pakaian gue jauh lebih sederhana daripada teman-teman gue. Pakai baju hanya yang itu-itu saja karena memang cuma itu yang gue punya. Uang jajan gue hanya cukup untuk beli bedak murah meriah, tanpa lipstik tanpa eye shadow dan lain sebagainya. Starbucks yang waktu itu digemari teman-teman sekampus masih tampak seperti kemewahan untuk gue. Pernah minum sekali, itupun diberikan secara gratis oleh salah satu murid les privat gue.

Dan ya, gue sampai harus mencari uang tambahan untuk menutupi kekurangan uang saku. Daripada marah-marah sama orang tua, gue lebih memilih untuk mencari uang tambahan untuk diri gue sendiri. Lumayan untuk beli handbag yang tidak mewah, tapi setidaknya cukup layak untuk gue bawa ke kampus sehari-harinya. Dan asal tahu saja, gue sudah mulai cari tambahan uang jajan sendiri sejak saat masih duduk di bangku SD!

Saat kuliah itu gue juga terpaksa tinggal di rumah kontrakan yang banyak tikus dan kecoanya. Kasur beralaskan lantai dengan kamar tanpa ventilasi yang luar biasa panasnya. Malu kah gue dengan kondisi gue saat itu? Sama sekali tidak. Gue bahkan dengan santai mengundang teman-teman sekampus untuk main ke kontrakan. Lokasinya strategis, sangat dekat ke kampus, sehingga sering menjadi tempat berkumpul teman-teman gue saat itu.

Apa yang sebetulnya ingin gue sampaikan di sini? Jangan pernah malu terhadap diri kita sendiri! Dan daripada marah-marah menyalahkan nasib, lebih baik berusaha dan bekerja keras untuk mengubah nasib kita itu sendiri.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.Ar-Ra’d:11)

Banyak orang yang mengira kepercayaan diri gue saat ini datang dari segala hal yang sudah gue miliki. Mereka mengira, gue percaya diri karena gue sudah memiliki banyak hal untuk bisa gue banggakan dari diri gue ini. Tapi kenyataannya sama sekali tidak demikian.

Kalaupun gue sudah dianggap sukses, maka gue percaya diri bukan karena gue sudah sukses, tetapi sebaliknya: gue bisa sukses karena gue selalu merasa percaya diri. Ada kalanya gue minder dan ragu-ragu, tapi gue tetep lebih memilih untuk yakin dan percaya pada kemampuan gue sendiri. Bahkan di saat gue gagal pun, gue yakin gue bisa bangkit dan belajar dari kegagalan gue itu.

Saat orang lain bilang mimpi gue ketinggian, gue hanya diam. Saat orang lain bilang gue bodoh, gue juga hanya diam. Gue tidak membalas, tapi gue juga tidak menerima apa yang mereka katakan.

Even when I was still small, I knew, I always knew… someday I was going to be bigger than I was at that time.

Kita tidak bisa mengontrol segala sesuatu yang dikatakan oleh orang lain, tapi kita sebetulnya bjsa mengontrol segala sesuatu yang kita dengar. Gadis dalam video OLX itu tidak perlu sebegitu marah pada sang ayah yang sangat mengasihinya jika dia tidak repot-repot mendengarkan perkataan teman-temannya. Nggak worth it mengorbankan orang tua yang sudah susat payah membesarkan kita hanya demi teman-teman yang bahkan tidak peduli dengan wellbeing kita ini.

Love yourself, dream big, and make it happen. And one more thing… don’t forget to stay happy along the way! Make every moment count and be happy, be grateful, with the little things.