Ketika Kita Merasa Nyaman dengan Ketidaknyamanan

Pernah mati-matian mempertahankan sesuatu hanya karena terlalu malas untuk memulai hal yang baru? Atau sebaliknya… Berkeras meninggalkan sesuatu hanya karena tidak ingin berhadapan dengan resiko dan rintangan yang mungkin datang jika tetap bertahan.

Akhir-akhir ini gue menyadari… Manusia, termasuk diri gue sendiri, bisa bertingkah sangat gegabah dalam mengambil keputusan. Rasa takut atas perubahan, atau rasa takut akan ketidakpastian, membuat kita lebih memilih untuk merasa nyaman (atau setidaknya untuk bertahan) di dalam ketidaknyamanan. 

Saat mempertahankan sesuatu yang sebetulnya tidak lagi baik untuk kita, pada dasarnya kita hanya mengulur waktu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik untuk kita miliki. Dan pada saat kita melarikan diri dari sesuatu yang kita anggap sulit (meskipun sebetulnya pelarian itu hanya membawa lebih banyak penderitaan), pada dasarnya kita justru sedang melepaskan kesempatan terbaik kita untuk mendapatkan kebahagiaan. Dengan kata lain, ada kalanya, kita tetap lebih memilih bertahan pada rasa tidak nyaman ketimbang memperjuangkan sesuatu yang sifatnya sangat tidak pasti.

Can’t you see? Takut akan kesulitan, perubahan, dan ketidakpastian bisa membuat kita membuang banyak waktu untuk penderitaan yang tidak perlu. Biasanya, kita membela diri dengan berkata, “Ini hanya untuk sementara.” Bisa jadi, memang hanya untuk sementara, TAPI, bagaimana jika kita salah dan malah membuang lebih banyak waktu untuk mempertanyakan hal-hal yang tidak pernah kita lakukan? Hal-hal yang bisa jadi, akan membawa lebih sedikit penderitaan dan lebih banyak kebahagiaan, yang pada akhirnya hanya akan membuat kita bertanya-tanya pada diri kita sendiri, “Kenapa gue tidak lakukan ini sejak awal ya?”

Berawal dari satu masalah yang sangat sepele, akhir-akhir ini gue jadi lebih kritis dalam menilai keputusan gue sendiri. “Do I do this just because this is easy OR because I know this is the very best for me?”

Kadang, hidup yang sudah sulit membuat gue malas mengambil keputusan yang juga sulit, meskipun bisa jadi kenyataannya, hal itu justru membuat hidup gue jadi lebih sulit. Hal ini kembali mengingatkan gue pada satu teori paling dasar dalam hidup gue ini, “You’ll never know until you try. Do your very best, before you give it up.” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s