My Parents Came Home

Boleh dibilang hidup gue terasa enggak tenang selama bo-nyok menunaikan ibadah haji di Arab sana. Gue suka kebayang ribuan orang yang meninggal di Tragedi Mina beberapa tahun yang lalu, orang-orang yang meninggal karena terinjak-injak saat tawaf (keliling Ka’bah 7 kali), atau orang-orang yang meninggal karena sakit mengingat iklim di sana jauh berbeda dengan iklim di Indonesia sini. Apalagi, nyokap gue itu suka sakit-sakitan…

Makanya, jangan ditanya deh gimana sedihnya perasaan gue waktu ngelepas ortu berangkat haji… Gue juga suka keinget sama ortu tiap kali ngeliat rombongan haji melintas di depan gue (waktu itu gue lagi ada tugas ke luar pulau). Apalagi waktu gue lagi nunggu pesawat menuju Jakarta, gue ngeliat ada anak kecil nangis-nangis sambil meluk bapaknya yang mau naik haji… Baru di panggilan ke tiga si Bapak pergi meninggalkan keluarganya itu…

Lucunya bokap nyokap jadi romatis banget sama kita anak-anaknya selama mereka masih di Arab sana. Kalo kirim SMS isinya melankolis abis. Ada lah pake bilang miss you segala macem. Padahal ya, waktu masih jamannya gue skripsi sambil kerja, gue pernah tuh nggak pulang ke rumah sampe tiga bulan lamanya, hohoho.

Akhirnya, dua minggu yang lalu ortu gue tiba di Jakarta dengan selamat. Gue rela-relain jemput mereka jam 3 pagi ke asrama haji Bekasi. Sampe di sana, udah ada banyak orang yang mau jemput keluarga atau kerabatnya. Jadi ceritanya, para jemaah haji (yang pake baju seragam berwarna biru muda) keluar satu-satu dari pintu gerbang asrama didahului oleh porter yang mendorong troli berisi barang bawaaan Bapak dan Ibu Haji ybs.

Again, sisi melankolis gue kumat lagi. Terharu banget setiap kali ngeliat ada keluarga yang saling berpelukan di depan gue. Ada pula anak kecil yang lari-lari terus meluk bapaknya yang naik haji seorang diri, diikuti oleh sang istri yang mencium tangan suaminya… Gue juga ikut ngerasa sedih saat ada seorang nenek yang pulang dari Tanah Suci dengan menduduki kursi roda sendirian. Nggak kayak jemaah haji lainnya, si nenek ini justru kelihatan sedang sedih… Insting gue mengatakan dia pergi bareng suaminya tapi terpaksa pulang seorang diri.

Gue makin nggak sabar nungguin giliran bokap-nyokap gue yang keluar dari gerbang itu. Lalu beberapa belas menit kemudian, gue liat dari jauh ada orang yang senyum-senyum dan melambaikan tangan sama gue. Karena nggak pake kaca mata, gue sibuk memincingkan mata sambil berpikir, ”Siapa sih pria berkepala botak yang senyum-senyum ke arah gue itu?”

Dan ternyata… oh my God… ternyata itu bokap gue! Kepalanya dibotakin sampe plontos gitu! Gue pun bergegas menghampiri, terus cium tangan plus cipika-cipiki, lalu bareng-bareng kita berjalan menuju mobil yang telah menanti… Alhamdulillah, bokap nyokap pulang ke rumah dalam keadaan sehatJ

Notes: Udah hampir dua minggu tapi sampe sekarang bo-nyok masih suka pake baju serba putih. Yeah, mohon maklum… Ibarat orang kaya baru, bokap-nyokap gue ini kan orang haji baru, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s