Seperti Apa Rasanya Bahagia?

Kebahagiaan, setidaknya dalam hidup gue sendiri, datang dalam berbagai bentuk.

Bisa jadi, gue hanya sedang berjalan di tengah keramaian sendirian, atau duduk melamun sendirian, lalu tiba-tiba gue tersenyum dan berujar dalam hati, “Thank God for the life that You give to me!”

Bisa juga jelas terasa saat gue sedang tertawa lebar. Tertawa sampai sakit perut, sampai rahang dan kedua pipi terasa pegal.

Bahagia juga jelas terasa saat gue menceritakan hal-hal baik yang terjadi dalam hidup gue. Kejutan manis dari sahabat dan keluarga, prestasi yang gue dapatkan di dunia kerja, atau, cerita suka-duka saat traveling yang dulu pernah gue lewati.

Bahagia juga terasa meluap tiap kali terlintas di benak gue ide-ide brilian untuk gue jadikan ‘percobaan selanjutnya’. Semangat yang membuncah, rasa tidak sabar untuk segera mulai menjalankan rencana-rencana.

Lalu pada akhirnya, kebahagiaan jelas paling terasa saat mendengar kerja keras gue telah mendatangkan hasil yang nyata. Atau setidaknya, bisa terasa saat gue baru saja melakukan hal-hal yang gue anggap luar biasa. Rasa lega, bangga, puas, dan semua perasaan positif bercampur baur dalam waktu yang bersamaan.

Saat bahagia, gue bisa bercerita tanpa putus. Gue bisa tersenyum sendiri meski sedang tidak ada hal lucu di sekitar gue. Ada pula rasa bahagia yang membuat bulu kuduk gue jadi merinding, hati terasa hangat, dan pikiran terasa damai.

Gue palling menyukai diri gue di saat gue sedang bahagia-bahagianya. Gue jadi lebih lepas. Lebih bisa menerima kekurangan dan kegagalan gue. Jadi lebih ikhlas menerima kenyataan yang sebelumnya gue ingkari. Singkatnya bisa dibilang, rasa bahagia bisa membuat hal-hal sulit jadi terasa lebih mudah untuk gue jalani.

Hidup cuma sekali dan gue ingin berbahagia sebanyak yang gue bisa. Makanya saat gue ulang tahun nanti, daripada mendoakan panjang umurnya, lebih baik doakan selalu bahagia sepanjang hidupnya. Karena buat gue, hidup pendek tapi bermakna dan bahagia akan terasa lebih berharga dari hidup panjang yang sia-sia.

Be happy, and that’s only because you owe that happiness to yourself, after everything that you’ve been through.

Selamat berhari Minggu!

7 Alasan Kenapa Pujian Bisa Jadi “Berbahaya”

Akhir-akhir ini, gue seringkali berpikiran bahwa pujian juga bisa jadi sesuatu yang “berbahaya”. Kenapa demikian? Macam-macam alasannya. Beda kasus bisa beda sebab-akibatnya. Berdasarkan pengalaman pribadi gue sendiri, berikut ini daftar alasan kenapa gue bilang, pujian juga bisa jadi sesuatu yang berakibat buruk untuk diri kita sendiri.

  1. Membuat kita jadi besar kepala, sombong, dan tidak lagi rendah hati;
  2. Membuat kita merasa sudah “good enough” sehingga tidak lagi melakukan upaya pengembangan diri;
  3. Membuat kita lengah hanya karena merasa sudah “menang”. Bisa jadi suatu hati kita terkejut dengan datangnya si “kuda hitam”;
  4. Kadang-kadang, suatu pujian bisa membuat gue ngerasa nervous… Bagaimana jika suatu hari gue melakukan kesalahan dan gue tidak lagi dinilai pantas mendapatkan pujian itu?
  5. Pujian itu amanah yang harus dijaga… dan menjaga amanah memang tidak selalu mudah untuk dilakukan;
  6. Membuat kita jadi ekstra syok saat di lain kesempatan, kita mendapat kritik dari orang lain (atau bisa jadi, dari orang yang sama yang dulu memberikan pujianQ); dan
  7. Membuat kita jadi “rigid”. Pernah mendapatkan pujian dalam suatu hal bisa membuat kita berpikiran kita harus melakukan hal yang sama dalam semua kondisi yang akan datang.

Lalu bagaimana cara gue menyikapi ketujuh hal di atas?

Yang pertama, tetap harus relaks! Jika dapat pujian, ucapkan terima kasih, tersenyum tulus, lalu tidak ada salahnya kita bersenang hati saat menerima suatu pujian. Tidak ada yang salah dari “merayakan” pencapaian hidup kita sendiri. Tidak usah pula berpikir macam-macam soal motif di balik pujian tersebut. Anggap saja pujian itu sebagai hadiah atas kerja keras kita. Enjoy it when you have it!

Hanya saja setelah itu, jangan lantas berpuas diri. Jangan lengah. Jangan berhenti untuk terus mengembangkan diri kita sendiri! Ingat selalu bahwa kenyataannya, mempertahankan itu bisa jadi lebih sulit daripada mendapatkannya! Tidak masalah jika pujian itu sedikit terasa seperti beban, tapi jangan biarkan beban itu memperlambat langkah kehidupan kita ini!

Do great things in life and be happy with it! Wish you all a winning week ahead!

Dengarkan Nasehat yang Baik, Meskipun Datangnya dari Anak Kecil Sekalipun

Dulu banget, gue pernah mengeluh ke bokap tentang guru yang sok menasehati gue padahal dia sendiri pun sangat terkenal dengan perilaku buruknya. Waktu itu, bokap gue malah bilang begini, “Enggak usah dilihat siapa yang memberi nasehat, yang penting dilihat isi nasehatnya. Nasehat yang baik harus diterima meskipun nasehat itu datang dari anak kecil sekalipun.”

Dan ternyata, nasehat bokap itu datangnya dari kisah salah satu Imam di jaman Rasulullah dulu. Sudah belasan tahun berlalu, dan baru akhir-akhir ini gue melihat kebenaran dari nasehat bokap gue itu. Kenapa baru sekarang? Awalnya karena baru sekarang gue menyadari… bahwa gue sendiri pun, sesekali masih suka menasehati orang lain sesuatu yang gue sendiri belum bisa lakukan dengan baik dan benar. Gue juga masih jauh dari sempurna, tapi gue tetap suka menasehati ini-itu.

Kadang, gue melakukannya sebagai bagian dari pekerjaan. Sudah kewajiban gue sebagai atasan untuk memberikan feedback kepada tim gue, bahkan terkadang, kepada atasan-atasan gue sendiri. Tujuannya apa lagi jika bukan untuk bersama-sama meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan perusahaan!

Di lain waktu, gue melakukannya dengan niat untuk membantu. Kadang, gue menasehati berdasarkan pengalaman pribadi; sesuatu yang pernah berhasil gue lakukan dengan baik. Tapi kadang, saat gue menasehati orang lain, di saat yang sama, gue juga sedang menasehati diri gue sendiri. Gue tahu apa yang gue harus lakukan (yang juga relevan untuk lawan bicara gue), hanya saja karena beberapa hal, gue sendiri masih belum mampu melakukannya.

Yang terakhir, bisa jadi gue tidak menyadari bahwa gue sendiri juga pernah melakukan hal-hal buruk yang gue sebutkan dalam nasehat gue itu. Gue kan hanya manusia biasa, bisa khilaf, bisa lupa, sangat jauh dari yang namanya kesempurnaan… Dan kalau gue ingin dimaklumi, maka gue juga harus belajar memaklumi!

Kemudian suatu waktu, gue melihat beberapa orang kenalan dalam waktu yang hampir bersamaan, yang sebetulnya punya potensi luar biasa dalam diri mereka. Gue tahu banget mereka bisa menjadi lebih dari apa yang mereka inginkan. Hanya saja sayangnya, setiap kali diberikan nasehat baik, mereka lebih memilih untuk merasa diserang. Disudutkan. Dihina. Dan lain sebagainya. Sebagai bentuk perlindungan, mereka malah mengembalikan nasehat itu kepada si pemberi nasehat. Orang-orang yang berniat menolong malah dibilang munafik hanya karena mereka memberikan nasehat di saat diri mereka sendiri masih punya banyak kekurangan.

Sejak itulah gue semakin meyakini… Jika kita menunggu manusia yang sempurna hanya untuk menerima nasehat mereka, maka sampai kapanpun, tidak akan pernah ada nasehat baik yang akan pernah masuk ke telinga kita ini. Kenapa demikian? Karena kenyataanya, orang yang sempurna itu tidak pernah ada!

Gue mengerti betapa menyebalkannya mendengar nasehat dari seseorang yang di mata gue benar-benar “enggak banget”. Tapi setelah dipikir-pikir lagi… jika gue menolak mendengar sesuatu yang baik untuk gue, maka gue sendiri juga yang akan paling dirugikan dan bukan mereka yang mencoba memberikan nasehat! Perbaikan diri kita adalah urusan kita, tanggung jawab kita, sedangkan perbaikan orang lain yang hanya sibuk menasehati orang lain tanpa memberbaiki dirinya sendiri itu murni urusan mereka, bukan urusan kita. Jadi kenapa tidak kita coba cerna demi kebaikan diri kita sendiri?

Memang benar, tidak semua nasehat itu harus kita dengarkan. Tidak semua nasehat itu benar. Sesuatu yang baik untuk orang lain, belum tentu baik untuk diri kita ini. TAPI, jika kita tidak coba untuk mendengar dulu, maka dari mana kita bisa tahu baik tidaknya nasehat mereka itu?

Ada kalanya, orang lain yang berada dalam posisi netral memang betul bisa melihat permasalahan kita secara lebih jelas dan bijaksana. Jadi, didengar dan dicerna tidak akan pernah ada ruginya! Bagaimanapun, masukan dari orang lain tetap salah satu dasar untuk instropeksi yang paling berharga. Dan jika kita ingin berpikiran positif, masih ada yang menasehati itu artinya masih ada orang yang peduli pada hidup kita ini!

Hidup manusia sudah pasti terlalu pendek untuk bisa mencapai kesempurnaan. Jangan pernah merasa diri kita sudah cukup dewasa untuk merasa serba sempurna. Dan kenyataannya, orang yang paling merasa serba sempurna, yang selalu merasa paling benar, adalah orang yang paling lambat perkembangan jalan hidupnya. Mendengarkan nasehat baik bisa jadi awal yang baik untuk hidup yang lebih baik. Jadi dengarkanlah, meskipun nasehat itu datangnya dari anak kecil, dari orang yang paling menyebalkan, atau dari orang yang tidak lebih baik daripada diri kita sendiri.

We only live once, let’s just make the very best of it! Let’s be the very best that we can be! Remember what I’d always love to say; we can’t be perfect, but we definitely can be awesome, hehehehe.

 

 

Everything I Always Wished for in My Career

Last night, a friend from Ernst & Young (EY); my first full time employer, got married. Unlike any other wedding party, I was a little bit nervous on my way to the wedding venue. I was going to meet the people in my first professional job. Even though I only worked for EY less than three years, my short tenures with this Company was still a major contributor in my career achievements.

Working for EY has taught me how to be tough. You may be tired and lack of sleep, but deadline is deadline anyway.

I learned how to be confident and went talking to the clients even though I was just a fresh graduate (read: a newbie).

I also learned how to build a decent working paper, how to solve accounting problem efficiently, and some other survival kits you need to fight on finance and accounting battlefield.

I even still remember some of my seniors’ advice:

  1. Not documented, not done;
  2. Do not let anything pending on you. It has to be pending on someone else, always; and
  3. Fake it until you make it.

And did you know? I would never get my jobs at the two companies after EY if I didn’t have working experience at EY written in my CV.

Resigning from EY was another milestone of my life. I loved the Company, I loved my team, but I just couldn’t stand working as an auditor. I used to tell my teammates this and that about my dream job and then I truly left. I knew, I just knew, auditing was not made for me.

It’s been more than five years since I left EY and almost everyone in my former audit team have left EY as well. And then last night, I met them again. I only stayed in touch with a few of them and it was really nice to meet many familiar faces from the past again!

Most of my friends came to the party with their spouses and kids, of course. Intimidating? Apparently not! None of them asked me when I would get married, and nearly all of them asked me about my career instead. We talked about how I liked my current job, my bosses who really trust me to run the Company, and the most discussed topic was about my business trips (they know how much I love traveling). Last night, the more I realized… I’ve got everything I always wished for in my career.

Finding in a dream job is pretty much the same in finding myself. I’ve got to try everything the Company can offer to me, the ups and downs, learn from the mistakes and restart from the scratch again. And then when I find “the one”, it does really make my life feel complete. I know what I want, what I’d love to do more, I know where to keep up and where to improve myself.

People says that I’m already good at my job, but the truth is, I’m still learning. I still have a lot of flaws that I’ve got to work on. Having said that, it’s still nice to know that I’m already on the very right track. It’s nice to know that I left EY for something better; for a brighter future, for a path toward my dream job. Insyaallah! 🙂

Staying or leaving your current job, either way is okay, as long as you know that you would do awesome in whichever decision you make.

Sometimes, It’s Not You, It’s Life

Dalam rangka instropeksi diri, gue sengaja tanya-tanya ke beberapa orang yang punya sifat bertolak belakang dengan sifat gue sendiri. Intinya, gue kepingin tahu… Is it just me or it’s also happening in their life?

Cowok-cowok “numpang lewat”

Tadinya gue pikir, cowok-cowok yang cuma numpang lewat dalam hidup gue itu lebih karena gue yang bukan tipikal cewek idaman pada umumnya. Misalnya, tinggi badan gue yang kelewat jangkung untuk ukuran perempuan Indonesia, sifat gue yang kurang “keibuan” dan cetakan muka gue yang udah judes dari sananya.

Gue lalu ngobrol-ngobrol sama salah satu teman cewek yang termasuk cewek idaman di kantor gue dulu. Cantik, postur tubuh ideal, ramah, dan cewek banget. Tahu apa nasehat dia buat gue?

Dia bilang, “Setelah beberapa kali deket sama cowok, gue belajar satu hal sih… kalo cowok itu bener-bener suka sama kita, kita nggak perlu ngelakuin apa-apa karena dia yang akan terus berusaha making a move. Kadang ada yang cuma lihat-lihat, pengen kenalan dan pengen deket aja, tapi nggak ada further relationship.”

Nah! See? It’s not just me! Hehehehehe.

Apa yang gue pelajari dari sini? Jodoh itu ibarat rezeki; ada yang lancar, ada yang kurang lancar. Ada yang cepat, ada yang lebih lambat. Memperbaiki dan memantaskan diri tidak sama artinya dengan harus berpura-pura menjadi orang lain (misalnya, harus lebih feminim dan lebih keibuan). Jika kita sudah berusaha sebaik-baiknya dan cowok-cowok itu tetap hanya numpang lewat saja, maka kesimpulannya sederhana: kita hanya belum menemukan cowok yang tepat saja. Kebetulan, rezeki kita soal jodoh hanya lebih lambat daripada orang lain pada umumnya.

Konflik dengan Teman

Pernah beberapa kali kehilangan teman, atau bahkan sahabat karib, sempat bikin gue ngerasa benci sama diri gue sendiri. Gue yang terlalu keras kepala, gampang marah, dan lain sebagainya.

Gue lalu ngobrol-ngobrol sama salah satu teman yang terkenal sangat-sangat ramah. Tipe orang yang selalu berusaha menjaga perasaan orang lain. Tipe orang yang auranya positif, selalu ceria, dan banyak disukai teman-temannya. Tahu apa pengakuan dia soal teman-temannya?

“Aku juga sering, konflik sama teman. Aku bukan tipe orang yang suka gosipin kejelekan orang lain. Jadi kalo obrolan udah mengarah ke sana, aku ngejauh. Teman-teman jadi nggak suka dan akhirnya aku ikutan dijelek-jelekin di belakang. Itu sebabnya, aku jadi susah percaya sama orang lain.”

Apa yang gue pelajari dari sini? Tipe kepribadian seperti apa pun PASTI ada saja konfliknya di dalam pergaulan. Mungkin beda tipe kepribadian beda pula jenis masalahnya, tapi tetap ada saja konflik yang ujung-ujungnya, bisa membuat kita jadi lebih sulit untuk percaya pada orang lain. Dari sini gue juga belajar, yang membedakan pertemanan dengan persahabatan adalah kemampuan untuk bisa melewati konflik yang terjadi. Teman tidak bisa ‘naik pangkat’ jadi sahabat, dan sahabat tidak bisa awet menjadi “BFF” jika tidak ada kemauan dari kedua belah pihak untuk mencari solusi dari masalah di antara keduanya.

Korban Gosip

Cukup sering menjadi bahan pembicaraan orang lain seringkali membuat gue bertanya-tanya… Gue salah di mana ya? Apa karena gue terlalu dingin? Kurang outgoing, kurang bersahabat, dan kurang-kurang lainnya. Tadinya gue berpikir, berusaha merangkul lebih banyak orang seharusnya bisa membuat mereka lebih tidak enak hati untuk bergosip soal gue.

Gue lalu ngobrol panjang lebar dengan salah satu teman yang terkenal lucu, sederhana, rendah hati, dan saking ramahnya, dia ini tipe orang yang sangat suka membuka obrolan dengan hampir semua orang yang dia temuin. Tidak heran kalau ada banyak orang yang mengharapkan kehadiran dia untuk sekedar memeriahkan suasana.

Kenyataannya, dia malah bilang begini, “Ah, gue juga sering diomongin orang, ya tetangga lah, ya di kantor lah. Depan gue, mereka semua baik. Tapi kalo di belakang, omongannya minta ampun!”

Apa yang gue pelajari dari sini? Mau bagaimanapun juga, semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Sekeras apapun kita berusaha, kita tidak akan pernah bisa jadi sempurna. Dan semakin kita menjadi sorotan publik, semakin banyak pula orang yang diam-diam mencari celah ketidaksempurnaan kita itu. Menurut gue, di sini lah proses “seleksi alami” akan berjalan dengan sendirinya. Pada akhirnya, kita akan tahu dengan sendirinya… siapa yang tulus, dan siapa yang tidak tulus. As simple as that.

Pada akhirnya, secara umum gue berkesimpulan… Terkadang, sesuatu terjadi memang karena salah gue sendiri, tapi terkadang, sesuatu terjadi bukan karena gue begini atau begitu, tapi memang karena begitulah hidup di dunia ini.

Don’t be too hard on yourself, because sometimes, it’s not you, it’s simply life just the way it is.

Someone Who Loves You

Did you know? Someone out there, explicitly or secretly, love you sincerely with all they have.

They believe in you even when there’s no one else does.

They see the good things in you that no one else can see.

They’ll always stand by you even when no one seems to understand their feeling for you.

They miss you, care about you, prioritize you when everyone else gets busy with their life.

They make time for you. For your stories. They cherish every moment they share with you.

Your dreams are their dreams. They are your very best supporter. They’re always there, right in your corner.

They are hurt when you’re hurt. They don’t laugh when you stumble and fall. They mean it when they say you never need to be alone.

And did you know?

They mention your name, repeatedly, in their prayers.

Even when you hurt them so badly, they still wish for nothing but the best for you.

When they let go, they still hope all the best for you, and your future to come.

Most of the times, it takes courage just to love somebody. They put their heart on the line just to let you know how much they love you. And when somebody loves you selflessly, they will always put you before themselves. They compromise, over and over again, just to keep their love alive.

Don’t you see? You should be thankful that you do have someone who loves you that much. Being in love is a choice, but being loved by someone else is a privilege. It’s a bless.

Love them back in a way that they deserve, or if you can’t, at least, do treat them with some respects. You’re not completely who you are without having the ones who love you, with all your flaws, genuinely and unconditionally.

The Little Things I’m Happy About

People says that happiness comes from the little things and lately I find it definitely true! You don’t need to have a big reason in life just to be happy.

To me, in the past one month, happiness was when I…

  1. Received a voice note from my nephew after one long day at work;
  2. Met a pleasant taxi or Uber driver and had a nice chat along the trip;
  3. Ordered a mineral water from a Gojek driver (it’s only because I’m too lazy to walk to the pantry upstairs, hehehehe) but apparently, the café only sold the food. Then the driver went somewhere else just to buy the water for me (without being asked!);
  4. Met an old friend’s Mom and she said that I looked 5 years younger than I was, hehehehe;
  5. My friend’s son called me “the pretty Aunty” 😉
  6. My best friend asked her boyfriend if he knew someone potential to be my date (she hasn’t got one but I appreciate the effort, seriously, hehehehe);
  7. Planned a birthday bash next month and a few friends helped to connect me with some contacts to make it happen;
  8. Had new lunch mates (I have known them for a while though) and we had a couple of good laughs during the meals;
  9. Bought a pretty dress with size M (because it was the last size remained) and my Aunty offered to fix the size for me, and for free, hehehehe;
  10. One of my ex-best employees told me that she had returned to Jakarta and she was interested to join my team again!
  11. My birthday is one month away but I already received two gifts from my friends;
  12. Had a bad day and an office mate offered to have coffee and chat at 24 hours café. We went home at 2 AM and I felt a lot better;
  13. My sister was so pissed when I was hurt. I just knew that no matter what happened, I would always have someone in my corner;
  14. Sleep tight and eat a lot! My appetite is back!
  15. Received a few texts from my friends asking if things got better recently. Their texts have made my days better already 🙂

I have a lot of problems, I know, but I also have a lot more blessings to celebrate.

Wish you all a wonderful weekend!

Don’t Let Your Insecurity Hurt You (and the People Around You)

Living as an ugly duckling and having lots of doubts on myself? Been there done that. I was like an ugly duckling inside out so many years back. I know for sure how it used to hurt myself as much as it hurt the people around me. It hurt me in a way it made me feel bad on everything (even the good things!) and it hurt others as I pushed them away, harmed them with the words I said, and it was all only because I was not comfort of being myself.

Do you want me to write you a precise example?

When we believe we are ugly, just one person criticizing our pimples will hurt us badly. Just one critic is enough to make us hate them for speaking up their mind.

When we believe that we are a mediocre, one feedback from the boss will make us feel like we’re losing. We’ll start despising the boss, or maybe, we’ll hate anyone else who’s capable to win the competition.

When we believe that we are not lovable, just one fight will make us walk away. We tend to think it’s better to leave rather than being left behind.

When we believe that we are a loser, we tend to refuse to celebrate our victories. It feels like we’re just being lucky. Or whatsoever.

And what’s even worst, when we believe that our life is full of failures, we may end up hating everyone who seems to be doing so well with their life.

It’s actually okay to feel insecure. When I know I’m insecure on something, I immediately know that I have something to fix, to improve, to work on. Having said that, it’s never okay to let our insecurities hurt the innocent people around us.

Don’t be too comfort with your flaws. It only makes your insecurity scaling up to the higher level. If you know that you’re not comfort with something in yourself, then do something about it.

If you’re a student and you’re ashamed of your GPA, study harder. You may want to learn from the straight A students. They are not magically smarter than you, they only work harder than you do.

If you’re an employee and you’re not proud of your own works, then go asking your boss the things that you can do to improve your performance. Bad mouth your colleague won’t do you any good. It’s only a proof that you don’t deserve any better return from the Company.

If you’re a child, sibling, girlfriend/boyfriend, husband/wife to someone and you don’t feel like you’re loved enough, it’s always okay to ask them how they feel about you. Being cranky, silent treatment, or testing them with this and that will never send them the message. Or maybe, you can tell them that you love them first. If being honest about your feeling scares them away, then why would you want to be with them anyway.

If you’re not comfort with your body size, work out and eat less. If you’re not confident with your pimples, find the cure and get rid of your bad habits. Either find the solution or just live happily with it. Being a hater will never make us any prettier 😉

And if you don’t feel good about your personality, then do something to make you feel better. You know your problems and you know best how to fix it. You only need a strong will and a strong effort to make it happen.

Live your life with your very best efforts on everything. Your happiness, your achievements, and your future all lays on yourself. If you can’t make you feel good about yourself, then nobody can. Stop making excuses and just start with your very first move, starting from now!

We’re not the God, Don’t Judge Too Much

Belum lama ini, gue curi-curi dengar obrolan beberapa orang di meja makan sebelah di salah satu restoran di Kota Kasablanka. Salah satu cewek di kelompok itu bilang begini, “Rumah dia kemalingan pasti karena kurang banyak sedekahnya!”

Gue cukup kaget mendengarnya. Orang kena musibah kok, bukannya bersimpati malah dituduh yang bukan-bukan? Lagipula, dia itu kan bukan Tuhan, maka dari mana dia bisa tahu segala-galanya tentang amal-ibadah temannya itu?

Percakapan mereka mengingatkan gue dengan salah satu teman lama. Saat orang lain tertimpa musibah, dia akan langsung bilang, “Itu karmanya dia karena bla bla bla.” Tapi saat gantian dia sendiri yang sedang punya masalah, dengan entengnya dia cuma bilang, “Kesabaran gue sedang diuji sama Tuhan.”

Memang benar ujian itu ada banyak ‘penyebabnya’. Bisa jadi teguran dari Tuhan, ujian atas kesabaran, dan lain sebagainya. Tapi sekali lagi, bagaimanapun, hanya Tuhan yang Maha Mengetahui, bukan manusia!

Saat kita terkena musibah, entah itu hilangnya harta benda, kehilangan pekerjaan, penyakit, kecelakaan, dan lain sebagainya, tidak ada salahnya kita instropeksi diri. Teguran atas kelalaian kita kah? Balasan karena pernah menyakiti perasaan orang lain kah? Atau memang bisa jadi hanya sekedar ujian kehidupan saja. Toh pada akhirnya, enggak pernah ada manusia yang hidupnya selalu lancar-lancar saja!

Akan tetapi, jika musibah tersebut jatuh menimpa orang yang kita kenal, lebih baik kita bersimpati daripada berkomentar yang hanya akan memperkeruh suasana. Tidak perlu menyebarkan opini yang belum tentu kebenerannya (ini jatuhnya bisa jadi fitnah lho). Tidak usah sibuk menduga-duga karena kita tidak tahu segala-galanya. Jika kita tidak bisa menghibur atau membantu mengurangi beban mereka, maka, sekedar diam saja sudah lebih dari cukup.

Don’t play God. Don’t judge too much. 

Kenapa Kita Harus Belajar Memaafkan?

Waktu jaman sekolah dulu, gue pernah sebal banget dengan teori bahwa jika kita tidak mau memaafkan, maka dosa orang yang kita benci itu akan berpindah kepada kita. Pikir gue, tidak adil dan tidak masuk akal! Bagaimana jika memang orang yang bersangkutan yang berbuat salah dan menyakiti perasaan kita?

Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit, gue mulai belajar untuk memaafkan orang lain. Bukan soal dosa atau tidak dosa, tapi lebih karena kesadaran atas alasan kenapa gue harus bisa memaafkan kesalahan orang lain. Apa saja alasannya?

  1. Karena bisa jadi, orang lain menyakiti gue karena gue sendiri yang pernah terlebih dulu menyakiti perasaan mereka;
  2. Karena tidak ada manusia yang sempurna, termasuk diri gue sendiri. Jika gue ingin dimaafkan atas segala kesalahan gue, maka gue juga harus bersedia memaafkan orang lain atas segala kesalahan mereka;
  3. Karena tidak seharusnya gue membiarkan keburukan seseorang membuat gue melupakan kebaik-kebaikan mereka sebelumnya;
  4. Gue hanya akan menghabiskan masa tua seorang diri jika gue tidak mau memaafkan orang lain di sekitar gue. Apalagi kenyataannya, semakin dekat seseorang, semakin besar kemungkinan mereka menyakiti perasaan kita;
  5. Memaki-maki orang yang gue benci (terutama jika dilakukan di depan umum, termasuk social media) hanya akan membuat gue sendiri yang terlihat menyebalkan di mata orang lain;
  6. Saat gue belajar memaafkan orang lain, gue belajar memaafkan diri gue sendiri; dan
  7. Yang paling penting, membenci dan menyimpan amarah hanya akan melukai perasaan gue sendiri. Bukan melukai orang yang gue benci, tapi melukai diri gue sendiri.

Bagaimana jika konflik yang menimpa kita itu murni kesalahan orang yang bersangkutan? Kebohongan mereka, fitnah mereka, dan lain sebagainya… Buat gue tetap sama saja; maafkan segera setelah kita berhenti ‘berduka’ (malah sebetulnya, semakin cepat, semakin baik!).

Setiap orang bertumbuh dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang masih labil dan mencari jati diri. Ada yang masih belum makan banyak asam garam yang dapat mendewasakan kepribadian mereka. Dan ada pula yang hanya khilaf yang karena sedang tertekan dengan banyak masalah dalam hidup mereka sendiri. Gue sendiri pernah banyak menyakiti perasaan orang lain dalam proses pembelajaran itu, dan sekali lagi, jika gue ingin dimaklumi dan dimaafkan, maka gue juga harus bisa memaklumi dan melupakan. Dan bisa jadi, dengan kita memaafkan bisa membantu mereka untuk belajar dari kesalahan mereka, atau bahkan, membantu mereka untuk ikut belajar memaafkan.

Belajar memaafkan itu rasa-rasanya salah satu “proyek seumur hidup” buat diri gue sendiri. Awalnya, gue mulai dari belajar untuk tidak terlalu membenci orang lain. Dulunya, gue bisa benci sama orang lain sampai sekedar mendengar suaranya saja gue sudah sebal! Kemudian sekarang, gue belajar untuk tidak melulu lari dari kenyataan. Tidak menegur orang yang gue benci (padahal jelas-jelas saling berpapasan!) itu sudah benar-benar terlalu “ABG” untuk perempuan seusia gue. Kenyataannya, menghindari orang-orang yang menyakiti gue tidak membuat gue “sembuh” dari luka hati itu. Memaafkan (atau setidaknya mencoba untuk memaafkan) adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan sakit hati gue sendiri.

Memang benar ada beberapa luka yang terlalu dalam sehingga segalanya mungkin tidak akan pernah lagi kembali sama. Memang benar ada beberapa luka yang butuh waktu lama untuk kita bisa melupakannya. Tapi setidaknya, belajar untuk mencoba memaafkan selalu bisa jadi obat ampuh untuk menyembuhkan. Membantu mengembalikan fokus kita kepada hidup kita sendiri ketimbang sedikit-sedikit sibuk mengamati hidup orang lain yang kita benci… Semakin cepat kita memaafkan, semakin hidup kita kembali berbahagia.

When a deep injury is done to us, we’ll never heal until we forgive – Nelson Mandela.

Forgive, even if they don’t ask for forgiveness. You do it for you, for yourself, to set you free.