At the End of the Day, the Right Person Will Stay

Pernah berandai-andai seharusnya kita tidak begini dan tidak begitu supaya beberapa orang tertentu tetap tinggal dalam hidup kita? Gue pernah. Sempat beberapa kali menyalahkan diri sendiri atas kehilangan gue itu. Sampai suatu hari, jawaban seorang teman seperti membuat gue melihat sisi lain dari masalah yang gue hadapi.

Waktu itu gue bilang begini, “Kalau waktu itu gue enggak kasih dia promotion, dia enggak akan stres sampai akhirnya malah resign.

Teman gue ini malah menjawab, “Gue rasa enggak juga. Sifatnya dia emang udah begitu. Enggak promote juga dia akan tetap resign. Akan ada aja alasan lain buat dia resign.”

Percakapan hari itu mengingatkan gue dengan kehilangan-kehilangan lain yang pernah gue hadapi. Setelah gue pikir-pikir, gue mulai menemukan benang merahnya. Sehingga pada akhirnya gue berkesimpulan… Kita bisa kehilangan seseorang karena dua hal; untuk memberikan kita pelajaran, atau untuk membuat kita menghargai orang-orang yang tetap tinggal.

Memang benar bahwa bisa jadi, kita harus berusaha instropeksi diri setiap kali ada seseorang yang memutuskan untuk pergi. Bisa jadi itu memang salah kita sehingga siapapun orangnya tidak akan pernah bisa tahan dengan perangai kita, tapi bisa jadi juga, mereka hanya bukan orang yang tepat. Dengan orang yang salah, sebaik apapun kita berusaha tidak akan pernah cukup untuk membuat mereka tetap tinggal. Jika sudah demikian, kehilangan mereka pada dasarnya hanya mengajarkan kita rasa syukur dan apresiasi kepada orang-orang yang tetap tinggal.

Dalam konteks apapun, bisa dalam hal pekerjaan, pertemanan, bahkan percintaan, apapun yang terjadi, orang yang tepat akan tetap berusaha untuk tinggal. Mau dicari sampai ke manapun, tetap tidak akan pernah ada orang yang sempurna. Bedanya, orang yang tepat adalah orang yang tetap bertahan serta tetap berusaha untuk mengatasi ketidaksempurnaan itu.

Boleh instropeksi diri, tapi jangan terlalu keras pada diri sendiri. Hargai diri kita sendiri karena setidaknya, kita adalah salah satu orang yang tidak pernah menyerah terhadap diri kita sendiri.

Once again I’m telling you… the rest of the world may give up on you, but never ever giving up on yourself. So long you keep believing in yourself, you’re on the right way.

My Dream Future Dates

Gue tipe traveler yang ‘pantang’ mengunjungi beberapa tempat tertentu sampai saatnya gue sudah married nanti. Rasanya aneh saja kalau gue datang ke tempat-tempat ini bareng keluarga, teman-teman, apalagi jika malah datang sendirian! So there I save some places to be visited with my future husband!

Selain tempat-tempat untuk kencan impian, ada juga beberapa hal yang sifatnya couple activity. Apa saja? Check this out!

Honeymoon in Maldives resorts

Gue sengaja menulis resorts (pakai s) karena gue berniat pindah dari satu resort ke resort lainnya selama bulan madu gue itu! Minimal 3 resorts dan masing-masing tinggal selama dua malam, hehehehe. Salah satu resort-nya tentu harus yang letaknya above the sea itu!

Riverside bale picnic at Hanging Gardens Ubud

Riverside-Bale-Picnic-byHangingGardensUbud-11

Pernah dengar infinity pool di Hanging Gardes Ubud yang tersohor itu kan? Selain infinity pool, hotel ini juga terkenal dengan paket couple picnic-nya. Lokasi pikniknya di atas bale di pinggir sungai Ubud yang cantik itu! My husband (only God knows who) and I can really make a great picture by the river! 😎

Just one night at Marina Bay Sands hotel

Ya, gue pengen ke sini apa lagi kalau bukan karena infinity pool-nya! Bisa aja sih, gue datang ke sini bareng teman atau keluarga, tapi masalahnya, enggak pernah ada orang yang mau gue ajak sharing cost menginap di sini… Room rate-nya dianggap terlalu mahal… hiiks. Jadi ya sudahlah. Someday I’ll stay there with my husband!

A week in Italy

Ada alasan kenapa gue hanya berencana pergi ke Prancis akhir tahun ini: karena gue maunya, nanti datang ke Italia sama suami gue aja, hehehehe. Secara ini Italia, negerinya Romeo dan Juliet! Rome and Venice, I’ll save you for later!

Naik perahu berdua, di mana saja!

Jenisnya boleh kayak, pedal boats, speed boat, boleh apa saja yang penting cuma berdua saja, hehehehe. Tapi untuk mewujudkan ini… mesti banget cari suami yang jago berenang, secara gue enggak bisa berenang sama sekali, hehehehe.

Naik banana boat bareng

Sebenarnya gue udah kapok naik banana boat. Terakhir kali naik banana boat, pulangnya gue kena sinusitis untuk yang pertama kalinya. Tapi berhubung banana boat ini udah jadi dream date gue sejak jaman dulu banget, jadi ya udah, nanti gue naik ini bareng sama pasangan gue aja 😀

Camping

Gue sebenarnya bukan tipe orang yang senang camping, tapi sesekali pengen juga pergi camping sekalian nge-date, hehehehe.

Keren kan, isi wish list gue yang ini? Emang masih angan-angan sih, secara calon suami juga masih belum ada. But well… all of the great things in my life always started with a dream 😉

Semoga gue dan si future husband punya umur dan rejeki yang cukup untuk bisa mewujudkan semuanya, satu per satu. Amiin!

Bijaksanakah Menyebarluaskan Berita Orang yang Baru Pindah Agama?

Apa yang kita rasakan saat melihat orang dari agama lain berpindah memeluk agama yang juga kita yakini? Bangga, haru, tersentuh… Tapi bagaimana rasanya jika kita melihat kejadian yang sebaliknya? Seseorang dari agama kita berganti meyakini agama lainnya? Marah, kesal, kecewa?

Jika kita tidak suka melihat orang lain keluar dari agama kita, maka menurut gue, sebaiknya tidak perlu ikut menyebarluaskan berita, gambar, atau video orang lain yang baru saja memeluk agama kita. Jangan merusak tali persaudaraan antar agama dengan sesuatu yang tidak begitu jelas apa manfaatnya.

Berpindah agama, kenyataannya, tidak semudah yang terlihat di video 30 detik. Ada orang tua dan anggota keluarga lainnya yang merasa kecewa. Ada teman-teman dan tetangga yang memandangnya sebelah mata. Ada konflik batin yang luar biasa sebelum akhirnya seseorang memutuskan untuk mengganti sesuatu yang dia yakini bertahun-tahun lamanya. Dan umumnya, mereka tidak menyukai publikasi yang berlebihan. Kenapa? Karena mereka tidak mau menyakiti perasaan orang-orang dengan agama yang mereka tinggalkan… Jika mereka saja enggan untuk menyebarluaskan, kenapa malah kita yang lebih semangat untuk sharing sana-sini?

Jangan pernah berpikir bahwa siapa tahu, berita yang kita sebarkan itu akan “mengilhami” orang lain untuk ikut memeluk agama yang kita yakini kebenarannya. Berpindah keyakinan sama sekai tidak sesederhana itu! Keyakinan tidak datang dari sekadar berita pendek, keyakinan datang dari dalam diri sendiri. Dari pembelajaran yang bisa jadi sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Jadi sekali lagi, sebelum berbagi berita yang kontroversial seperti itu, tanya kembali pada diri kita sendiri… apa manfaatnya? Jika efek negatifnya lebih banyak dari manfaatnya, maka sebaiknya, jangan dilakukan.

Selain masalah publikasi, menurut gue, akan lebih baik lagi jika kita tidak meributkan keputusan seseorang terkait agama yang dipeluknya. Agama adalah urusan masing-masing orang, dan kita harus bisa menghargai keputusan mereka, sama seperti kita ingin dihargai sebagai orang yang tetap meyakini agama kita sendiri.

What did I See from the Guys I Used to Like?

Last year, someone asked me repeatedly, “What do you like from him?” 

I went blank and I barely gave her any good answer. Having said real love didn’t always need a reason, deep down I knew that I did have reason in every little thing I did. I knew I had it, I just didn’t know what to say. I didn’t know what I should do to make people understand.

As time went by, as I met many guys I never wanted to be with, I started to understand what I liked from the guys I wanted to be with.

I used to like them because they made me feel special. They were never the guy who flirted with many random girls.

I also liked the way they stood for themselves. I always like the guys who know how to make a statement. Not a people pleaser who is too afraid to fight for his thoughts.

And yes, it’s true that I have certain feelings for smart guys. I liked them because they made me learn something new. It makes a man more like a man when they are expert at what they do.

Finally, I used to fall for them because they managed to make me fall for them. The little things they did just worked well to me. 

There I said it… the reasons why I liked the guys I liked. Why didn’t I tell these reasons earlier? Because sometimes, I need to lose something before I understand how previous it was. 

Sounds stupid? I know. And maybe I was. But at least, now I learn something.

Find a Man Who Knows What He Wants with You

A friend asked me, “What should I do to make him make the next move? It’s going nowhere. I should convince him, shouldn’t I?”

I asked her back, “Why would you want to be with someone who needs to be convinced just to be with you? If it takes him a long time just to date you, how much times longer he needs to propose you? And if you have to put a great effort to convince him to be with you, chances are, you’ll always have to work harder to make him stay. Is that really what you want for yourself? For your future?”

Find a man who knows for sure what he wants with you. And the one who makes a real effort to make it happen. He doesn’t need to be as charming or as successful as you want from your dream guy, but he has to want you and love you the way you deserve it. 

Or else, don’t settle fot the less. You deserve better. You know you deserve better.

People Can Change, Can’t They?

Gue sangat sering mendengar statement seperti ini tentang orang-orang di sekitar gue, “Dia udah enggak bisa berubah. Sampai kapanpun, dia akan tetap kayak gitu.”

Seringkali, gue juga ikut terbawa arus. Sering merasa frustasi karena berkali-berkali terbentur masalah yang sama dengan orang yang sama bikin gue jadi pesimis. Harapan bahwa keadaan bisa membaik, mereka bisa berubah jadi lebih baik, lama kelamaan mulai pudar dengan sendirinya.

Kemudian hari ini, di salah satu hari santai gue, saat sedang asyik bermalasan di atas kasur dengan setumpuk bantal dan selimut tebal, tiba-tiba saja gue teringat dengan diri gue yang dulu. Ada begitu banyak hal yang sudah berubah dari diri gue sendiri.

Gue yang dulunya penakut, sekarang malah dikenal sebagai orang yang sangat berani dalam begitu banyak hal (I’ll write more about this later).

Gue yang dulunya pesimis dan minder, sekarang sudah selalu optimis dan punya kepercayaan yang besar terhadap diri gue sendiri.

Gue yang dulunya paling malas bersosialisasi, sekarang justru tidak terbayang jika harus hidup tanpa ada sahabat yang menemani.

Atau yang paling ekstrim, gue yang tadinya pemalas dan sering dapat nilai jelek di sekolah, sekarang alhamdulillah, mulai berhasil mewujudkan karier yang dulu gue impikan untuk diri gue sendiri.

Selain empat hal yang baru saja gue sebutkan, ada pula beberapa kebiasaan jelek gue yang sekarang sudah benar-benar jadi bagian dari masa lalu gue. Malu rasanya kalau ingat dulu gue pernah berperilaku seperti itu. Sehingga pada akhirnya gue berpikiran, “Jika gue bisa berubah, kenapa orang lain tidak bisa?”

Memang benar butuh waktu yang lama untuk seseorang bisa mengubah karakter buruk mereka. Orang yang baru mengenal gue satu atau dua tahun tentu tidak dapat mengenali perubahan dalam diri gue ini, tapi orang yang sudah mengenal gue sejak lama, pastilah tahu betul bedanya gue yang sekarang dengan gue di waktu yang lalu. Atau misalkan teman gue di kantor yang lama bekerja kembali dengan gue di kantor yang sekarang, pastilah mereka bisa mengenali perbedaan-perbedaan dalam diri gue ini.

Bagaimana cara agar bisa berubah jadi lebih baik?

Tidak ada cara yang mudah, tentunya. Prosesnya panjang, dan kadang, terasa berat untuk dilewati. Tidak menutup kemungkinan, perubahan justru datang dari tamparan keras yang pernah kita terima di waktu yang lalu. Awalnya, tentu ada up and down. Kadang bisa berubah, kadang kembali lagi ke bad habit kita itu. Terus begitu, hingga lama kelamaan, kita mulai perlahan terlahir kembali menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Dibutuhkan waktu lama, sangat lama, atau bahkan, perlu berusaha sepanjang hidup kita, untuk bisa menjadi pribadi yang benar-benar kita inginkan. Makanya, diperlukan konsistensi, kesabaran, dan pantang menyerah untuk bisa memperbaiki diri! Jangan pula frustasi saat menyadari bahwa sebetulnya, sekeras apapun kita berusaha, kita tetap tidak akan pernah bisa menjadi sempurna.

Langkah pertama dari perubahan adalah mengakui bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki. Mulai dari situ dulu! Jika belum apa-apa kita sudah merasa sempurna, jika kita selalu merasa tidak ada yang salah dari diri kita sendiri, ya jangan kaget jika hidup kita akan tetap begitu-begitu saja. Jangan kaget jika bertahun-tahun dari sekarang, kita tetap menjadi kita yang bertingkah laku tidak sesuai dengan usia!

Sampai kapanpun, kita tetap tidak akan bisa menyenangkan semua orang. Kita tetap tidak akan pernah bisa punya hati persis seperti malaikat. Kita tetap manusia biasa yang dibekali dengan perasaan dengan segala keterbatasannya. TAPI, semua itu tidak boleh jadi alasan untuk bisa bersikap seenaknya saja! Cintai diri kita apa adanya, tapi tetap berusaha untuk menjadi versi terbaik yang kita bisa.

Be better and make yourself proud!

Five Qualities of People I Most Enjoy to Work With

Berawal dari tulisan ini, gue jadi terinspirasi untuk menulis artikel yang sejenis: lima kualitas yang paling gue sukai di dunia kerja. Check this out!

  1. Always get things done. Gue paling malas kerja bareng orang yang banyak ide tanpa ada realisasi. Atau, ada realisasi, tapi tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya dengan baik. Tipikal rekan kerja yang hanya akan buang-buang jam kerja tim gue saja! Sebaliknya, gue paling senang kerja bareng orang yang betulan mampu get things done, bahkan dalam situasi tersulit sekalipun! Paling lega rasanya saat kerja bareng kolega yang seperti ini! They have really made my life at work become easier!
  2. Always do the extra miles (including always think of everything one step ahead!). Gue paling kagum saat tahu bahwa ada rekan kerja yang ternyata sudah punya solusi untuk mengantisipasi masalah yang baru gue sadari bisa saja terjadi di masa depan nanti. Tipe orang yang bersedia meluangkan lebih banyak waktu untuk memikirkan pekerjaannya baik-baik dan juga bersedia untuk bekerja lebih keras untuk memberikan lebih banyak nilai tambah dalam pekerjaannya itu;
  3. Tidak suka hitung-hitungan. Apa definisi hitung-hitungan menurut gue? Pulang kerja mesti banget selalu tenggo. Sedikit-sedikit menolak sesuatu hanya dengan dalih, “Itu bukan kerjaan gue.”  
  4. Knows what they do, understands the business, inside out. Gue sangat menikmati kerja bareng atau sekedar ngobrol dengan orang yang bisa membuat gue jadi lebih knowledgable. Bidang gue atau bukan, gue tetap suka mempelajari hal baru dari mereka! Menurut gue, tipe pekerja seperti ini adalah aset untuk perusahaan tempat mereka bekerja; dan
  5. Supportive and help each other. Banyak orang yang sangat egois saat sudah berurusan dengan pekerjaan. Hanya peduli dengan KPI dan kepentingan mereka sendiri saja, atau kalau perlu, menjadikan orang lain sebagai kambing hitam hanya untuk menyelamatkan karier mereka sendiri! Itu sebabnya, saat menemukan rekan kerja yang tulus bersikap suportif (terutama di saat-saat sulit), rasanya seperti menemukan barang langka!

10 Random Thoughts – Beauty and the Beast 2017 Movie

I watched this movie a couple of weeks back and I just managed to write down my thoughts.

Here we go!

  1. The village and the castle are beautiful! Can’t wait to visit the real castle and village that inspired this fairy tale!
  2. Emma is the most beautiful Belle I’ve seen;
  3. The prince is also cute… except when he puts too much make-up on his face;
  4. I really love the songs! I always love the songs. They reminded me of the broadway show I used to watch! Both are enjoyable!
  5. Promoting gay in this popular fairy tale? Really? They’re kidding me!
  6. A beast becomes a better person only in a week? Even normal people don’t change that fast!
  7. And two people can fall in love only in a week? Come on!
  8. It’s true that there’s always a good side in every people we know though;
  9. The Paris short trip is a nice touch. It fills the gap about Belle’s mother;
  10. I like how they keep most of the original story lines. I just regret the gay casts in this movie.

Obat Anti Baper: Cari Personal Project!

Akhir tahun lalu, gue sempat benci banget sama weekends dan weekdays nights. Pekerjaan sudah selesai, di kosan cuma sendirian, sehingga bawaannya jadi galau melulu. Masalah pribadi yang bisa gue lupakan selama seharian sibuk bekerja mulai kembali lagi ‘menghantui’ pikiran gue.

Langkah pertama, gue salurkan lewat tulisan. Socmed dan blog, sampai lama-lama gue malas sendiri lihat timelines gue yang dipenuhi dengan kesedihan.

Langkah ke dua, cari teman curhat. Sampai lama-lama gue kasihan juga sama teman-teman gue karena mesti mendengar curhatan gue yang isinya itu-itu saja.

Langkah ke tiga, pergi jalan-jalan. Ketemuan sama teman-teman, nonton, belanja, apa saja selama bukan hanya berdiam diri di rumah. Sampai lama-lama gue sadar… tagihan kartu kredit gue semakin naik mendekati limit, hehehehe.

Coba langganan Netflix, akhirnya gue malah bosan. Main sama ponakan, lumayan bikin capek kalo kelamaan. Sampai suatu hari gue kepikiran untuk merayakan ultah gue yang ke 30. Minta bantuan adik ipar karena mustahil banget gue bisa urus ini-itu sendirian menimbang jam kerja gue yang sudah termasuk di atas rata-rata pekerja kantoran pada umumnya. Dan sejak itu, tanpa gue sadari, frekuensi baper gue jadi berkurang dengan sendirinya.

Gue punya kesibukan di luar jam kerja. Ada excitement yang membuat gue melupakan masalah pribadi gue. Intinya, gue punya hal lain yang lebih terasa menyenangkan untuk gue pikirkan. Pesta ultah juga jatuhnya lumayan costly sih, tapi yang penting, kesibukan dan kesenangan yang gue dapatkan betul-betul ampuh untuk mengalihkan pikiran gue! Gue benar-benar menikmati mulai dari tahap persiapan, hari H, bahkan sampai beberapa hari setelah acaranya selesai.

Asyiknya lagi, saat pikiran sudah mulai tenang, gue mulai bisa melihat permasalahan pribadi gue dengan lebih jelas. Gue mulai bisa mengambil keputusan cerdas. Kemudian perlahan, gue juga mulai merasa ikhlas.

Berawal dari situ, gue jadi ketagihan untuk bikin personal projects! Ada satu lagi family project yang sedang gue rintis (tapi gue belum bisa cerita sekarang!), kemudian selain itu, di awal tahun 2017 ini, gue langsung booking 4 tiket pesawat sekaligus! Gue bertekad harus menyempatkan diri untuk jalan-jalan setidaknya tiga bulan satu kali!

Dan benar saja, menyibukkan diri dengan personal projects ini terus terbukti ampuh mengurangi frekuensi galau gue. Masalah pribadi akan selalu ada, tapi tidak worth it kalau gue menghabiskan waktu sampai berjam-jam setiap minggunya hanya untuk bermuram durja!

Sisi positif lainnya, family projects ini hopefully bisa jadi salah satu sarana supaya gaji gue dari kantor jadi lebih well spent. Gue juga banyak belajar hal-hal yang sebelumnya hanya gue pahami dari kulit luarnya saja. Kemudian soal jadwal traveling rutin gue itu juga betul-betul ide yang brilian! Baru selesai satu trip, gue langsung sibuk menyiapkan trip yang lainnya lagi. Mulai dari bikin itinerary, cari tempat menginap, sampai menyiapkan mau pakai baju apa betul-betul pengalih pikiran yang terasa menyenangkan!

Sekali lagi, hidup itu terlalu pendek untuk merasa tidak bahagia, dan gue percaya… akan selalu ada cara untuk kita membahagiakan diri kita sendiri. Start making your own plans and make it happen! Start from now!

When I Care About You, I Will Try to Correct You

This morning, I read this one lovely quote by Abdulbary Yahya on Instagram, “Those who love us will correct us.”

And it reminds me of myself… That’s exactly what I always do to the people whom I care about: I try to correct them. It’s not because I feel like I’m always right, it’s just because I do care about these people.

When it looks like they’re making mistakes, I’ll tell them; right on their faces. I won’t just stay quiet and watch them drown. It just doesn’t feel right.

When I want to keep them as a part of my life, I’ll tell them how I feel about them. And that includes when I’m hurt, disappointed, and angry. I tell it all hoping that we’re both aware that we’ve got to find a way to make things right.

I correct them because I want them to be a better one. I want them to be prouder of themselves by doing the right things. I want them to be happier with being the very best version of themselves. I might be wrong, everyone can be wrong, but at least, I make time to give it a try because I want what’s best for them.

I know that I don’t always put the words nicely. I know that the way I take care of someone can seem so tough. But again, if I have to try that hard just to tell you the words, if I still manage to correct you in that kind of tough situation, then that’s just another sign how I really care about your life. I put all that great efforts just for you, not myself. It’s a sign that in that very moment, I think of you more than I think of my own sake.

The truth is, love is not always pretty.

Love between two lovers is not always a beautiful romance. Love is not merely the flowers and candle light dinners.

Love between the families is not only the warmth of a home, but also the tough love to make each other better and wiser.

Love between two best friends is not always a laughter and joy. If you’re always happy with your friendship with them, then probably, you’re not close enough with them.

So again, if I’m willing to fight all those ugly moments just to remind you to do the right things, then I only do that because I truly care about your life. Otherwise, why would I bother to multiply my life problems by picking a fight just to correct you?

So yes, when I care about you, I will try to correct you. And that’s not going to change.