Lately Working Madness

Bulan November 2011 sampai Februari 2012 benar-benar jadi bulan yang super-duper bikin gue capek dan kewalahan. Gimana nggak capek kalo dalam satu waktu gue harus ngurus 2 company sekaligus? Harus handle auditor di 2 company sekaligus, harus ngurus 2 report sekaligus, harus mecahin masalah di 2 company sekaligus… Satu kantor di Gunung Putri Bogor, satu lagi di kawasan CBD Pluit…

Here is the summary of my lately working madness

  1. Untuk pertama kalinya selama 4 tahun gue bekerja, baru sekarang ini gue mengalami dalam satu kali automatic refresh, bisa muncul 3 sampai 10 e-mail baru sekaligus di inbox gue. Dan yang paling menyebalkan, hampir semua e-mail itu sifatnya urgent, harus langsung dibalas!
  2. Saking banyaknya kerjaan (yang disela telepon/YM/e-mail yang bertujuan tanya-tanya soal kerjaan, atau disela orang-orang yang masuk ke dalam ruangan buat tanya-tanya soal kerjaan juga), sampe saat makan siang pun, gue tetep makan sambil menatapi layar laptop. Thank God that woman is multitasking;
  3.  Tiap hari pulang tengah malam itu sih udah biasa lah ya… Tapi yang luar biasa adalah, besokannya gue harus bangun jam setengah 5 pagi supaya bisa sampe kantor on time jam 8 teng! Gila yaa… waktu gue masih kerja di EY, kalo malemnya lembur, besokannya gue boleh dateng siang. Sayangnya di kantor baru, si bos dengan santainya bilang begini, “Ya ini kan bukan EY…” Udah susah payah bangun pagi, nyatanya sepanjang tahun 2011 kemarin, gue dapet rangking 3 buat urusan keterlambatan 😦
  4. Kalo lagi harus ngantor ke Pluit a.k.a harus bangun dan berangkat lebih pagi dari rumah di Bekasi, gue selalu mandi dengan mata masih setengah tertutup. Begitu masuk mobil… zzz, gue tidur lagi di jok tengah sampe keluar tol Jembatan Tiga. Lalu saat dijemput malam harinya, begitu masuk mobil, gue langsung nyari bantal dan zzz… tidur lagi sampe mobil udah diparkir di garasi rumah;
  5. Sebetulnya gue paling pantang tidur di kantor di depan atasan, tapi kali ini, berhubung udah nggak tahan, begitu jam istirahat, gue pernah dengan cueknya tidur dalam posisi duduk. Padahal yaa, kalo di kantor Pluit, gue duduk satu ruangan sama direktur gue lho. Ngelihat gue kecapekan, si bos malah ketawa, “Ya udah, saya udah mau keluar nih, kamu tidur aja cari posisi yang enak, kan saya enggak lihat.” Sambil ngomong begitu, si bos sambil ganti lampu terang ke lampu yang lebih redup… katanya supaya tidur gue lebih nyenyak;
  6. Kalo lagi super capek, kaki gue jadi suka kram di malam hari. Biasanya, kram itu bakal bikin gue meringis dan nggak bisa tidur sampe kramnya hilang. Tapi sekarang, karena capeknya udah melewati batas, ketika kram itu kumat di saat gue lagi tidur, gue malah mikir gini, “Bodo amat deh kram lagi, gue ngantuk!” Dan zzz… gue tidur lagi sampe pagi;
  7. Entah kenapa belakangan ini, kalo lagi capek dan kurang tidur, suhu tubuh gue terasa lebih hangat daripada biasanya… Nggak selalu pusing atau apa, ya cuma terasa hangat aja. Aneh…
  8. Selama kerja di EY, gue berhasil mempertahankan prinsip untuk enggak nyentuh kerjaan di hari Minggu. Begitu resign dari EY, gue bertekad kali ini, hari Sabtu pun gue enggak akan menyentuh pekerjaan. Tapi nyatanya, jangankan hari Sabtu, hari Minggu pun gue masih nongkrong depan laptop sampe tengah malem buat nyelesain kerjaan yang seolah nggak ada habisnya itu 😦
  9. Makin capek, bawaannya makin sensiii. Untunglah gue punya teman-teman kerja yang pengertian. Kalo gue udah mulai ngoceh, mereka malah suka ngisengin gue supaya enggak terlalu tegang. Tapi pernah juga pas gue udah super-duper capek setengah mati, saat marah bukannya ngoceh, gue cuma menghela napas dengan muka cemberut, abis itu buang muka atau balik badan lalu beranjak ke tempat lain. Seems like I’m more dangerous when I’m silent, hehehehe;
  10. Jadi suka emosi sama temen-temen yang suka nggak bales message gue dengan alasan sibuk. Lho, dikiranya cuma mereka doang yang lagi sibuk kerja? Masalahnya ya, justru tipe orang yang begitu itu yang paling suka heboh kalo gantian gue yang telat bales. Kesannya kok kayak orang paling penting sedunia gitu…
  11. Gue kerja sampe nggak sempet gunting kuku, potong rambut, belajar nyetir… tapi kalo buat urusan belanja, herannya tetep selalu ada waktu tiap minggunya, hehehehehe;
  12. Status YM jadi busy melulu, bahkan di hari Sabtu dan Minggu… Kadang kalau lagi benar-benar dikejar deadline, gue sampe enggak punya waktu buat ganti logo available ke logo busy di YM yang automatic sign in setiap kali laptop gue nyala itu…
  13. Berkat super sibuk kayak gini… ortu jadi pengertian. Tiap hari gue pergi kerja masih dianter-jemput dan enggak pernah disuruh buru-buru belajar nyetir sendiri, hohohohoho, menyenangkan 🙂

New Things I’ve Just Learned at Work

  1. Jangan terlalu senang saat bos memberikan kita semua yang kita butuhkan… karena sabetulnya mereka sedang berharap kita akan melakukan semua yang mereka inginkan;
  2. Kalau kita bekerja hanya untuk uang, maka hati kita tidak akan pernah tenang. Sewot saat tahu ada teman yang baru mendapat promosi/kenaikan gaji, atau sibuk menerka-nerka berapa gaji per bulan yang didapatkan teman yang baru pindah kerja…
  3. Sebetulnya kerja di mana pun juga ujung-ujungnya pasti sama saja: pasti ada konflik dan pasti harus berurusan dengan orang-orang yang menyebalkan. Dulu gue pernah punya bos yang sangat-sangat menyebalkan, kalo sekarang, yang harus gue hadapi malah klien-klien yang sangat menyebalkan;
  4. Sifat asli seseorang itu baru akan kelihatan saat dia sedang kepepet… terutama dalam hal-hal yang berurusan dengan uang dan pekerjaan;
  5. Ternyata memang benar, bisa berteman akrab dengan rekan kerja atau klien itu bukanlah hal yang mudah. Sifat jelek seseorang jadi rentan muncul dalam dunia kerja, dan bisa jadi, hal tersebut bukanlah hal yang akan mudah untuk dimaafkan;
  6. Semakin tinggi jabatan, semakin banyak cobaan… Believe it or not, akan semakin banyak pula orang yang enggak suka sama keberadaan kita. Enggak heran kalau hanya sedikit sekali atasan di level manajer ke atas yang disukai oleh anak buahnya;
  7. Jadi si anak emas, atau jadi employee of the year itu tidak 100% menyenangkan. Bahkan orang-orang yang tidak kita kenal pun bisa saja berusaha menjatuhkan kita dari belakang;
  8. Sehebat apapun karier yang dimiliki seseorang, jauh di dalam lubuk hatinya, tetap masih tersimpan rasa tidak aman akan masa depan karier-nya. Jabi sebetulnya tidak ada orang yang tidak punya rasa takut, yang ada hanyalah orang yang berani melawan rasa takutnya dan tetap tampil percaya diri;
  9. Boleh bangga jadi karyawan muda yang berpestasi, tapi jangan cepat merasa puas sehingga lupa untuk mengembangkan diri… Jangan sampai kelak, gantian kita yang dikalahkan oleh karyawan baru yang usianya jauh lebih muda;
  10. Tidak ada atasan yang sempurna. Tetapi, atasan yang membuat kita merasa tidak berharga bukanlah atasan yang bisa dimaafkan. Carilah tempat yang mengapresiasi kontribusi kita terhadap perusahaan, bukan perusahaan yang membuat kita merasa berkecil hati;
  11. 3 kesalahan yang paling sering dilakukan oleh atasan: terlambat menyadari value yang dimiliki anak buahnya, terlambat memberikan benefit yang sepadan untuk karyawan terbaiknya, serta terlambat memberikan uluran tangan terhadap karyawan yang sedang berada di bawah tekanan hebat;
  12. 1 kesalahan yang paling sering dilakukan oleh bawahan: tidak mampu memenuhi ekspektasi atasan;
  13. Patience is power. Sikap tidak sabaran hanya membuat kita kehilangan banyak kesempatan emas, atau bahkan, membuat kita kehilangan value di mata rekan kerja;
  14. Stigma sosial, dalam hal apapun dan sepopuler apapun stigma tersebut, pasti masih bisa kita patahkan asalkan kita mampu menjadi pekerja yang extraordinary. Nothing is impossible as long as we do our best; dan
  15. Hidup itu seperti roda berputar… jadi jangan sombong. Gue cukup sering melihat orang-orang yang di awal suka merendahkan orang lain hanya berakhir sebagai orang-orang yang karier-nya tertinggal di belakang orang-orang yang dulu mereka rendahkan.

2011 Achievements

Saat pergantian tahun menuju 2011 satu tahun yang lalu, gue bikin status yang isinya, gue ngerasa tahun 2011 akan jadi tahun yang berkilau buat gue. Setelah patah hati habis-habisan nyaris sepanjang tahun 2010, setelah bekerja sangat keras nyaris sepanjang tahun yang sama, gue ngerasa 2011 akan jadi waktunya buat gue memetik hasil. Lalu bagaimana realisasinya?

Tanpa berniat untuk pamer, berikut ini daftar pencapaian gue selama tahun 2011 yang istimewa ini:

  1. Memberanikan diri untuk resign dari EY, meski pada saat itu, gue belum mendapatkan pekerjaan pengganti. Waktu itu, audit engagement gue baru saja selesai. Jadi daripada keburu mulai engagement baru dan akhirnya malah susah cari timing lain buat resign, akhirnya gue beranikan resign efektif 4 April 2011. Gue beranikan diri untuk meninggalkan zona nyaman gue, meninggalkan teman-teman yang sudah akrab sama gue (padahal gue ini tipe orang yang susah akrab sama orang baru), serta berani meninggalkan nama besar EY untuk sesuatu yang belum pasti. Makanya buat gue, resign dari EY adalah suatu achievement karena akhirnya, gue berani meninggalkan EY untuk mengejar mimpi gue yang lebih besar;
  2. Mewujudkan mimpi masa kecil buat main ke Disneyland 😀 Dan ternyata memang benar, Disneyland was awesome! Kota Hongkong itu sendiri juga menyenangkan buat liburan. Tambah senang karena waktu itu perginya bareng sahabat-sahabat yang udah saling kenal luar dalam sehingga enggak ada istilah jaim sepanjang liburan itu. Kita bebas foto gaya konyol yang bahkan berhasil memancing tawa orang-orang asing yang kita nggak kenal sama sekali. I think that was one of unforgettable trips in my whole life;
  3. Berhasil dapat kerjaan baru hanya dua minggu setelah resign dari EY. Selama masa pencarian kerja, sebenernya gue udah sempet coba tes dan interview di beberapa tempat, tapi tetep enggak ada satupun yang sesuai keinginan gue. Sampe tiba-tiba, enggak lama setelah gue balik dari Hongkong (yup… gue pergi traveling ke 4 negara dalam keadaan pengangguran, hehehehe), mantan klien gue nelepon nawarin kerjaan! Saringan masuk gue cuma interview langsung sama CEO, langsung diterima, dan besoknya langsung mulai kerja. Berakhir sudah 2 minggu menganggur yang sangat-sangat menyebalkan itu, hehehehe;
  4. Berhasil move on. Setelah lebih dari satu tahun terjebak patah hati terparah seumur hidup gue sama satu cowok yang itu-itu aja, akhirnyaaa, di tahun 2011 gue berhasil naksir beberapa cowok baru. Meskipun sama 3 atau 4 cowok baru itu juga enggak ada kelanjutannya, seenggaknya udah bisa naksir cowok baru aja udah bagus banget lah buat gue. Tetep enggak berhasil jadian pun gue enggak berkecil hati kok. Soalnya untuk jatuh cinta yang selanjutnya, gue ingin menentukan sendiri kepada siapa gue mau jatuh cinta. Kalo dari awal gue tau hubungan gue sama mereka enggak akan ada masa depannya, atau gue tau bahwa ada satu atau beberapa hal tentang dia yang enggak akan pernah bisa gue terima, jadi ya udah, mendingan langsung cut aja saat itu juga… sebelum terlanjur jatuh terlalu dalam. It has come to me the time to be wise in love;
  5. Bikin blog pake domain gue sendiri! Bikin domain ternyata enggak seribet yang gue kira. Yang bikin lebih seneng, dibanding blog-blog gue sebelumnya, blog baru inilah yang paling ramai pengunjung. Gue juga jadi bisa berkenalan sama beberapa orang baru berkat blog ini. So yes, this new blog, and this blog readers are also categorized as my achievement of the year 🙂 ;
  6. Mendapatkan lebih banyak sahabat. Tahun 2011 ini bisa dibilang puncak keakraban gue sama beberapa teman setim di EY. Di kantor baru pun, nggak disangka gue bisa ketemu satu teman yang punya potensi buat gue jadiin sahabat. Buat gue, semua sahabat yang berhasil gue miliki adalah achievement. Gue pernah baca di buku Chicken Soup for The Teenage Souls: “Sahabat adalah hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada diri kita sendiri.” So yes… I have given one more gift to myself this year, hehehehe; dan
  7. Promotion at work 🙂 Dulu gue pernah iseng-iseng mikir… keren kali yah kalo bisa jadi manajer muda di umur 25. Nggak sangka ternyata, persis di hari ulang tahun gue yang ke 25, gue dapet kepastian bahwa gue akan mendapatkan promotion ke level manajer. Emang bukan manajer yang berkantor di gedung pencakar langit Sudirman seperti yang sangat gue inginkan, tapi untuk langkah awal, gue udah sangat bersyukur kok. Concern gue sekarang, gue ingin berusaha buktiin ke atasan gue bahwa gue bisa mengemban amanat ini dengan baik. I don’t want to make him regret the opportunity he gave to me. Wish me luck yaa guys.

Di tahun 2011, gue masih belum berhasil menerbitkan novel perdana gue. Belum berhasil menginjakkan kaki ke benua Eropa. Belum berhasil dapetin beasiswa S2 ke luar negeri. Belum berhasil pula mengganti status single menjadi in a relationship. Tapi overall, syukur Alhamdulillah, tahun 2011 tetap tahun yang berkilau buat gue. Bukan cuma soal 7 hal yang gue sebutkan di atas… tapi juga pendewasaan diri yang banyak gue rasakan sepanjang tahun ini. Insyaallah tahun 2011 ini adalah tahun yang telah menjadikan gue lebih baik dari gue yang sebelumnya.

Kalau tahun 2011 adalah tahun yang berkilau, maka gue ingin tetap bersinar terang di tahun 2012. Ingin tetap berusaha memperbaiki diri, tetap berusaha mengejar mimpi, dan yang paling penting, ingin tetap ingat untuk menginjak bumi di kala mimpi-mimpi gue mulai terwujud menjadi nyata.

Selamat tahun baru 2012 untuk semua pembaca blog gue, dan semoga di tahun yang baru, kalian semua juga akan semakin bersinar terang 🙂 Keep visiting my blog in 2012 yaa guys. Have a blast!

My Outstation Business Trips

Makassar, 10 Desember 2011

Dua minggu belakangan ini banyak gue habiskan di luar kota. Minggu lalu di kantor cabang Surabaya, minggu ini di kantor salah satu customer terbesar gue di Makassar. Dua kota di dua pulau yang berbeda, tapi dua-duanya sama-sama membuat gue ngerasa sangat nyaman walau sedang berada di kota yang sama sekali baru buat gue itu. Gue bener-bener ngerasa sangat tersanjung, terbantu, dan sangat berterima kasih sama teman-teman dari kantor cabang dan kantor klien gue ini. Dibawa makan ke tempat yang enak-enak, anter-jemput ke sana-sini, ditemenin jalan-jalan dan hunting oleh-oleh, dan terutama untuk teman-teman di Makassar, gue udah banyak banget ngerepotin mereka buat urusan akomodasi dan transportasi. Yang paling gue suka dari semua itu adalah, mereka bener-bener tulus membantu dan peduli banget sama gue.

Waktu di Surabaya, ada kenalan yang takut banget gue sampe ketinggalan pesawat. Bukan cuma bantu berhentiin taksi dengan cara mende mobilnya ke taksi dan memberikan klakson serta isyarat, dia juga turun dari mobil cuma buat ngasih petunjuk jalan tercepat menuju airport ke supir taksinya. Dalam hati gue berpikir, kalo gue jadi dia, gue enggak bakal segitu baeknya. Paling juga si tamu gue drop di mall yang ada taxi stopper-nya, abis itu gue langsung cabut deh, hehehehehe.

Waktu di Makassar itu lebih hebat lagi. Saat staff GA di kantor Jakarta udah nyerah nyariin hotel buat gue (padahal tiket pesawat udah terlanjur dipesan!), malah staf di kantor Makassar yang sibuk telepon sana-sini nyariin hotel yang masih kosong buat gue. Dia juga rela bayarin hotel itu untuk 4 malam pake uangnya sendiri dulu. Trus waktu gue ngotot mau ke hotel naik taksi aja, ada staf lain di sana yang juga ngotot kepengen jemput gue ke bandara, alasannya, karena gue baru pertama kali datang ke sana dan dia takut gue kenapa-napa. Dan selama di sana, sampe si big boss-nya pun, ikutan repot ngaturin orang-orang buat anter-jemput gue. Kalo staf-staf dia lagi sibuk semua, dia sendiri yang turun tangan jemput atau nganterin gue cari makan. Udah gitu yang bikin gue kaget, selama di Makassar itu gue bener-bener jarang banget keluar uang. Sampe tiket masuk Trans Studio dan biaya jajan gue selama di theme park itu juga dibayarin sama staf yang disuruh nemenin gue main! Bener-bener klien yang baik hati 🙂

Rasa berterima kasih yang teramat dalam ini bikin gue jadi berpikir… kalo someday gantian mereka yang datang ke Jakarta, mereka bakal gue bawa ke mana aja yah? Soalnya selama gue di Surabaya dan Makassar, mereka itu selalu usaha banget buat bawa gue ke tempat yang cuma ada di kota mereka aja.

Nah, berhubung pagi ini gue lagi kurang kerjaan, berikut ini daftar tempat yang bakal gue tunjukkin ke tamu-tamu luar kota gue kelak:

  1. Untuk restoran, gue bakal bawa mereka ke Kiyadon (buat yang suka Japanese food terutama sushi), The Duck King (buat yang suka Chinese food), Pancious (buat yang suka western foods), dan Nanny’s Pavilion (buat cewek yang banci foto). Biasanya sih, orang-orang di daerah itu bawa gue ke tempat makan khas daerah mereka masing-masing. Tapi secara ini Jakarta gitu lho, apa sih makanan khas daerah sini? Masa’ iya gue bawa mereka makan kerak telor? Jadi sebagai gantinya, gue bakal bawa mereka ke restoran favorit gue yang cuma ada di Jakarta dan sekitarnya (tapi kalo Duck King ada di Surabaya juga sih). So far setiap kali gue makan di 4 restoran itu, apapun yang gue pesen, enggak pernah enggak enak. Dijamin tamu-tamu itu nanti bakal ketagihan makan di sana;
  2. Buat destinasi jalan-jalan, ada 5 pilihan: Monas (ini serius lho… banyak turis yang ngerasa belum sampe Jakarta kalo belum foto-foto depan Monas), Ancol/Dufan, ice skating di mall Taman Anggrek, Waterboom, atau kalo orangnya hobi nonton, bakal gue bawa ke Blitz Megaplex. Kenapa Blitz? Karena interiornya yang keren dan pilihan film yang belum tentu ada di jaringan 21. Kalo mereka dateng ke Jakarta agak lama, mungkin gue bakal ajak mereka ke Bandung (Kawah Putih dan Trans Studio) atau ke Taman Safari Bogor kali yaa; dan
  3. Kalo mereka mau keliling mall Jakarta, bakal gue bawa ke Pacific Place (terutama kalo mereka dateng bawa anak yang masih kecil), ke FX buat nyobain perosotan Atmosfear, ke Grand Indonesia atau Central Park buat lihat air mancurnya yang terkenal itu (padahal gue sendiri belum pernah lihat, hehehehehe), sama ITC Mangga Dua kalo mereka suka belanja murah yang bisa pake nawar.

Di luar 3 point itu, gue belum kebayang mau ke mana lagi. Lagian sebenernya tamu yang mau dateng juga belum ada tuh, ini kan baru berkhayal aja, hehehehe… Tapi yang jelas gue bakal males banget kalo diminta nemenin ke museum bersejarah atau Taman Mini (tapi kalo mereka emang pengen banget, ya apa boleh buat), dan gue pasti bakalan tegas say no kalo mereka minta ditemenin dugem. Ini jilbab mau dikemanain kalo gue masuk-masuk ke tempat dugem?

Anyway, walau perjalanan luar kota ini asli bikin gue capek banget. Secara yaah, gue di luar kota bukan berarti kerjaan di Jakarta bisa ditinggal lho. Soalnya sepulang kerja, begitu sampe hotel, gue langsung nyalain laptop lagi buat nerusin kerjaan kantor Jakarta! Tapi meskipun jadi ekstra capek, so far gue ngerasa 2 perjalanan ini cukup menyenangkan. Ketemu banyak orang baru, melihat pemandangan baru, mengenal budaya dan bahasa baru, apalagi di Makassar gue sempet mampir ke Trans Studio segala 😀 Tambah menyenangkan karena ditemani orang-orang yang juga menyenangkan.

Makanya gue harap, kalo kelak gue kedatangan tamu, gue juga akan bikin mereka ngerasa punya perjalanan menyenangkan di Jakarta; kota yang meskipun macet dan selalu sibuk tapi tetap menjadi kota favorit kesayangan gue, hehehehehe.

My Fabulous 25th Birthday

Udah lewat 7 hari, tapi baru sekarang gue sempet nulis tentang ultah gue yang ke 25. Kalo tahun lalu gue sharing isi ucapan ultah yang gue anggap paling menarik, maka tahun ini gue cuma pengen sharing hal-hal yang gue rasakan di ulang tahun yang ke 25 ini.

Waktu ultah gue tanggal 30 November kemaren, gue lagi dinas luar kota ke Surabaya. Ini udah tahun ke tiga gue melewati hari ulang tahun di luar Jakarta. Tapi seenggaknya, tahun ini jauh lebih baik: gue ultah di kota Surabaya dan bukannya di pedalaman Riau yang serba jauh ke mana-mana itu, hehehehe.

Pas tanggal ultah gue itu sih nothing special lah yaa. Perayaan ultah gue justru udah diselenggarain kecil-kecilan bareng keluarga gue sekitar 3 hari sebelum hari H di Anyer. Acaranya menyenangkan (kecuali bagian tetep dikejar-kejar kerjaan meskipun lagi liburan), banyak ketawa (thanks to keluarga besan yang lucu-lucu), dan juga foto-foto keren yang pastinya langsung gue upload ke Facebook segera setelah acaranya selesai 😀

Dua hari setelah ultah, gue juga ngundang temen-temen satu divisi buat syukuran kecil-kecilan di Ta Wan Emporium. Ceritanya sih, perayaan 3 in 1: birthday, promotion, and farewell party also 😀 Ada hal yang menarik di sini… Waktu gue dan teman-teman udah berangkat rame-rame dari kantor ke Emporium, 3 atasan gue (1 direktur, 2 manajer), enggak ikut pergi bareng kita-kita. Katanya, nanti mereka nyusul.

Begitu sampe Ta Wan, nggak lama kemudian makanan yang udah gue pesan by phone langsung terhidang di meja satu per satu. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit… trio bos gue itu belum datang-datang juga. Makanan di meja udah hampir habis, tapi mereka masih enggak kelihatan batang hidungnya. Gue SMS 2 dari 3 orang itu, tapi enggak ada yang bales!

Waktu itu, dalam hati gue mulai bete. Kenapa sih, mereka enggak mau dateng? Padahal sampe beberapa jam sebelumnya, mereka bilang pasti dateng. Berbagai pikiran buruk mulai melintas di benak gue. Tapi ternyata, persis setelah makanan udah habis semua, baru lah tiga orang itu menampakkan batang hidungnya.

Nogbrol-ngobrol sebentar, tiba-tiba si big boss bilang begini, “Makan-makannya udah kan? Kalo gitu sekarang potong kue.”

Gue langsung bingung… Potong kue? Gue kan enggak bawa kue?

Ternyata oh ternyata… si trio bos itu dateng ke Ta Wan bawa kue ultah buat gue! Tau-tau aja, salah satu temen gue itu udah bawa kue-nya ke meja di depan gue. Senangnyaaa… tahun ini gue tiup lilin sampe dua kali: satu kali bareng keluarga, satu kali lagi bareng temen-temen sekantor, hehehehehe.

Setelah nyanyiin lagu ultah (yang anehnya, malah justru si big boss gue itu yang paling semangat nyanyinya), gue tiup lilin, terus potong kue. Waktu itu gue sempet bingung… mau kasih first cake buat siapa?

Pilihannya bisa Yuli atau Ratna, 2 direct staffs gue di kantor. Kayaknya mereka berdua itu deh, yang paling sering gue bikin susah…

Ada juga Chrisnata, temen curhat favorit gue di sana.

Bisa juga buat si big boss yang kemungkinan besar, dia itu lah yang berinisiatif beliin gue kue.

Tapi akhirnya, first cake itu gue kasih ke Ko Adi. Kenapa Adi? Alasannya:

  1. Gue udah lama kenal sama Adi. Dia itu temen setim gue waktu di EY dulu;
  2. Adi juga salah satu orang yang banyak kerja bareng gue di kantor. Kadang suka jadi korban kejudesan gue. Maafkan gue yah Ko, hohohoho;
  3. Kalo gue kasih ke Ratna atau ke Yuli, takutnya salah satu dari mereka bisa kecewa karena gue lebih condong ke si orang pertama itu;
  4. Kalo gue kasih ke Christ, nanti bisa timbul gosip yang aneh-aneh. Soalnya Christ ini masih single, beda sama Adi yang udah married; dan
  5. Kalo gue kasih ke big boss, nanti dikira ngejilat bos, hehehehehe.

Hari itu gue ngerasa, gue emang selalu bisa berteman baik sama teman-teman di kantor-kantor sebelumnya, tapi jujur yaah, baru di kantor ini gue punya bos-bos yang segitu baiknya. Semua bos gue, di mana pun perusahaannya, selalu sangat percaya sama gue serta sangat mendukung perkembangan karier gue juga. Tapi kalo diinget-inget, bos-bos di 2 perusahaan gue sebelumnya, jangankan ngasih kejutan, ngasih ucapan selamat ultah aja enggak pernah sama sekali kok.

Terus nih yaah, sebenernya ini pertama kalinya gue dikasih surprise kue ultah sama orang lain. Gue lihat, banyak temen gue yang udah sering dapet surprise kue, sehingga kayaknya buat mereka, hal itu udah biasa banget. Gue jadi mikir… gue juga pengen dikasih surprise kue ultah. Padahal yah, gue udah pernah dapet beberapa surprise yang jauh lebih wow daripada kue ultah. Terus biasanya, temen-temen atau keluarga gue ngasih surprise dalam bentuk kado dari masing-masing orang. Total harga kado itu kalo dijumlahin emang bisa lebih mahal daripada satu kue ultah, tapi gue tetep pengen. Dan nggak disangka-sangka, yang pertama ngasih gue surprise kue ultah malah bos gue di kantor baru. Thank you yah, boss!

Overall, ultah gue yang ke 25 ini adalah ulang tahun yang paling dipenuhi oleh rasa syukur. Rasa syukur itu benar-benar terasa memenuhi hati gue pada saat-saat menjelang ulang tahun gue itu. Padahal gue masih aja belum berhasil dapetin beasiswa S2, novel gue belum jadi-jadi, dan gue masih aja jomblo seperti tahun-tahun kemarin. Tapi bener deh, tiba-tiba aja, gue jadi bisa melihat begitu banyak hal yang sangat patut untuk gue syukuri di usia seperempat abad ini. It feels like I have lived my life right, feel so blessed, and feel so happy for every little thing I have in this life. Makanya, kalo ada istilah sweet seventeen, maka buat gue, ada pula istilah fabulous twenty five 🙂

Sejujurnya gue ngerasa, segera setelah ini, hidup gue akan kembali dipenuhi dengan tekanan yang berpotensi bikin gue jadi stres. Ada banyak adaptasi, tanggung jawab, dan juga resiko baru yang harus gue hadapi sebentar lagi. Jadi mumpung gue belum stres dan belum mulai mengeluh lagi, maka kali ini, sekali lagi, gue sempatkan untuk bersyukur kepada Allah atas segala anugerah yang telah Ia berikan dalam hidup gue. Thank God for giving me a chance to live within these 25 colorful years, and thank God for making my life as fabulous as I have until today 🙂

So Many Things To Do This Week!

Awalnya, gue emang enggak antusias menyambut pekerjaan baru di kantor gue. Tapi begitu melihat sikap antusias dari begitu banyak orang di sekitar gue, akhirnya gue jadi ikutan semangat menyambut si pekerjaan baru! Dan dalam waktu singkat, ada banyaaak banget hal yang harus gue lakukan. Buat yang enggak suka sama tulisan norak dan enggak penting kayak gini, silahkan dilewatkan saja, hehehehehe.

Here we go… the things I have to do as soon as possible:

  1. Siap-siap pindahan! Tadi gue udah lapor sama Ibu Kos mau move out hari Sabtu ini. Baju-baju kotor udah gue masukkin kantong kresek, yang kurang tinggal ngumpulin baju yang masih di setrikaan si mbak, ngumpulin alat-alat makan gue di rak piring, abis itu packing! Untunglah kardus alat-alat elektronik masih gue simpen. Bakal berguna buat pindahan besok;
  2. Telepon catering siang dan catering malam buat stop berlangganan. Agak sedih juga nih buat gue ngelepas 2 catering ini. Makanannya enak-enaaaak. I’m gonna miss them a lot 😦
  3. Renovasi kamar di rumah ortu supaya lebih nyaman, dan renovasi garasi rumah supaya muat nampung 2 mobil. Sebenernya sekarang juga udah muat buat 2 mobil, tapi ngepas banget. Berhubung gue masih newbie, akan jauh lebih baik kalo ukuran garasi sedikit diperbesar supaya mobil bokap enggak penyok ketabrak mobil – kantor – gue, hehehehe;
  4. Mesti buru-buru beli AC! Rumah gue sekarang panaaaasss;
  5. Cari asisten rumah tangga buat bantuin nyokap… Gue kan ribet banget orangnya. Baju mesti dicuci tangan, jilbab harus disetrika persis sebelum dipakai, suka rese pula kalo rumah banyak debunya. Semoga cepet dapet pembantu yang cocok;
  6. Beli pernak-pernik buat si mobiiil… Mau beli parfum mobil kupu-kupu yang bisa goyang-goyang, tasbih warna pink, bantal-bantal Hello Kitty, sama tempelan kaca yang girly! Kalo enggak di-personalize kayak gini, nanti bisa ketuker sama mobil kantor yang lain, hehehehehe;
  7. Daftar kursus nyetir mobil. Kata si bos, nanti mau dikasih mobil matic. Jadi gue pikir, kalo gitu sekalian aja gue ambil kursus mobil matic! Tapi ternyata banyak yang bilang lebih baik gue tetep belajar nyetir mobil manual… Jadi bingung;
  8. Cari dokter gigi baru. Kantor baru gue kan lokasinya deket banget dari Cibubur tuh, jadi nanti gue mau hunting dokter gigi baru buat nerusin perawatan kawat gigi gue di sekitar situ aah. Soalnya dokter gigi gue yang lama itu kliniknya jauh banget euy. Ada-nya cuma di Ancol sama Cempaka Mas;
  9. Bikin rencana kerja! Meskipun udah pindah, gue masih harus ngontrol accounting di perusahaan yang sekarang. Seenggaknya sampe pengganti gue di sini udah jago nerusin pekerjaan harian gue di sana; dan
  10. Makan-makan sama temen-temen di NCSI (kantor gue yang lama). Ceritanya siih, perayaan 3 in 1: ngerayain ultah, promotion, sama farewell gue juga, hehehehe.

Kalo baca 10 hal nggak penting di atas, gue jadi semakin antusias. Jadi semakin bisa melihat sisi positif dari tawaran yang sebelumnya sudah pernah gue tolak berkali-kali ini. Gue malah mulai nyengir setiap kali ada yang bilang, ini hadiah ultah buat gue. Atau bisa juga… jangan-jangan ini rezeki calon ponakan, hehehehehehe.

Someday I’ll Be Back to Sudirman Street

Sejak sekitar satu atau dua bulan belakangan ini, CFO di kantor nawarin posisi accounting manager di perusahaan induk gue yang akan segera kosong di bulan Desember. Beberapa kali dia nawarin, beberapa kali pula gue menolak peluang emas itu. Bukannya kenapa-napa, masalahnya perusahaan induk gue itu lokasi kantornya di Gunung Putri! Temen-temen yang deket sama gue pasti tau kalo gue ini city girl yang susah dipisahin sama shopping mall, hehehehe.

Beragam alasan enggak penting pernah gue utarakan ke bos gue itu. Selain soal jauh dari mall, gue juga bilang kalo gue enggak suka menu katering di pabrik (perusahaan induk gue pabriknya, perusahaan gue saat ini distributor barangnya), takut enggak bisa bertemen sama karyawan di pabrik yang udah bertahun-tahun saling mengenal, sampe alesan nggak penting kayak kalo di daerah situ itu, isi bioskopnya film setan semua, hehehehehe.

Sampai akhirnya pada tanggal cantik 11 November 2011, si bos menawarkan final offering ke gue. Ada pula percakapan di hari itu yang mulai mengubah jalan pikiran gue. Akhirnya, for the first time, gue bilang sama bos gue untuk pikir-pikir terlebih dahulu.

Setelah pulang kerja, malam itu gue ada undangan farewell party temen sekantor gue waktu di EY dulu. Pulang dari farewell di Graha Niaga Sudirman, ceritanya gue kesulitan dapet taksi gara-gara waktu itu ada banyak banget orang yang married di tanggal cantik. Gue sampe jalan kaki dari Graha Niaga ke gedung BEJ dengan harapan, di BEJ itu antrian taksinya jauh lebih teratur daripada nunggu taksi di pinggir jalan. Tapi ternyata sama aja… antrian taksi di halte BEJ panjangnya sampe hampir 3 barisan! Ilfil sama antrian taksi, gue pun nelepon bokap minta dijemput ke BEJ a.k.a mantan gedung kantor gue itu.

Sambil nunggu dijemput bokap, gue pun duduk manis di halte BEJ. Awalnya gue mengenang berbagai kejadian yang pernah gue lewati di gedung itu. Sampai kemudian gue teringat… dulu waktu masih kuliah, gue pernah punya cita-cita sederhana: pengen kerja di gedung keren di kawasan Sudirman. Nggak lama setelah itu, waktu gue mampir ke gedung BEJ buat keperluan skripsi, saat itu gue berpikir, gue kepingin kerja di gedung itu. Kemudian waktu gue tau EY yang katanya KAP Big Four itu berkantor di gedung BEJ, impian gue itu pun menjadi semakin spesifik: gue kepengen kerja di EY. Jadi walau akhirnya gue cuma bertahan di EY selama 3 tahun, sebenernya pernah kerja di situ bisa dibilang salah satu impian gue yang jadi kenyataan, hehehehe.

Kawasan Sudirman selalu menjadi kawasan favorit gue di seantero Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit yang terlihat megah, trotoar yang cenderung lebih bersih dan tertata rapih, lampu-lampu malam yang tampak memikat, dan pastinya, ada banyak mall favorit gue yang terletak di kawasan ini, atau, terletak tidak jauh dari kawasan ini. Makanya dulu, waktu gue masih belum resign dari EY, dalam hati gue bertekad… pekerjaan gue selanjutnya harus berlokasi di Sudirman lagi.

As the time goes by, ternyata pekerjaan selanjutnya malah berlokasi di daerah Pluit yang udah hampir ujungnya Jakarta itu. Tapi ternyata CBD Pluit itu enggak kalah bagus kok, sama kawasan Sudirman. Gedung kantor gue juga termasuk lumayan, dan… persis berseberangan dengan Emporium mall yang sekarang ini udah masuk daftar salah satu shopping mall favorit gue. Meski begitu, jujur gue tetap lebih suka berkantor di Sudirman. And again… dalam hati gue bertekad, pekerjaan gue selanjutnya harus berlokasi di Sudirman lagi.

Waktu gue lagi asyik bengong, lamunan gue langsung buyar begitu gue melihat dengan sudut mata gue ada orang yang sedang membuka tutup tong sampah di samping gue. Ternyata ada pemulung yang sedang serius menagduh-aduk isi tong mencari sesuatu yang dinilainya cukup berharga. Gue pun akhirnya malah serius mengamati pemulung itu: usia sekitar dua puluhan, dekil, kulit hitam legam, baju lusuh, dan bertelanjang kaki.

Saat melihat pemulung itu kembali berjalan menghampiri gendongan yang berisi sampah-sampah hasil temuannya itu, terus terang, gue merasa bersyukur di dalam hati. Bukannya gue mensyukuri kesusahan orang lain loh ya… Saat itu gue cuma berpikir… cowok itu kerjanya di kawasan Sudirman favorit gue, TAPI, dia harus rela berurusan sama sampah-sampah, dan dia juga harus menelusuri ruas jalan Sudirman di hampir tengah malam yang berangin itu.

Menjadikan pemulung sebagai perbandingan emang terlalu jauh lah yah… Tapi intinya gue cuma jadi teringat untuk terlebih dulu menyingkirkan alasan-alasan enggak penting yang berkecamuk di benak gue. Yang penting kan gue punya pekerjaan yang lebih baik, yang menawarkan tantangan baru untuk gue hadapi, dan yang pastinya… menawarkan benefit melebihi yang sekarang gue dapatkan di kota Jakarta ini. Kemudian gue juga ingat bahwa selama ini, selalu ada alasan di balik setiap hal yang Allah berikan pada gue. Dan mungkin, promosi ini adalah sesuatu yang baik, atau sesuatu yang gue butuhkan setidaknya untuk saat ini.

Begitu bokap dan nyokap datang menjemput, gue langsung masuk ke dalam mobil, kemudian di tengah perjalanan, sambil melewati gedung-gedung pencakar langit lainnya, sambil mengamati pinggir jalan Sudirman yang selalu gue sukai, dalam hati gue berpikir… untuk saat ini, insyaallah kepindahan gue ke Gunung Putri adalah hal yang terbaik untuk hidup gue. Tapi suatu hari… gue tetap ingin kembali ke jalan Sudirman, jalan yang menyimpan sejuta kenangan.

I might be stubborn about this, but yes… someday I’ll be back to Sudirman street.

New Friends in the New Office

Banyak yang bilang, bisa berteman dekat dengan teman-teman sekantor itu sifatnya mustahil. Persaingan dunia kerja, serta berbagai gesekan yang lazim terjadi dalam aktivitas kerja sehari-hari, secara otomatis akan bikin kita jadi susah akrab dengan mereka. Akan tetapi anehnya, di dua kantor gue yang pertama (Accurate dan EY), gue enggak pernah mengalami hal itu.

Gue pernah punya temen yang deket banget sama gue waktu di Accurate. Kalopun akhirnya berantem sampe bikin gue ngambek, bisa gue pastikan masalahnya itu sama sekali enggak ada hubungannya sama pekerjaan.

Tadinya gue pikir, gue bisa berteman baik sama rekan gue di Accurate itu karena gue nyaris enggak pernah ngerjain 1 proyek yang sama bareng temen gue ini. Tapi ternyata, setelah kerja di EY pun, gue juga bisa berteman baik, bahkan bersahabat dengan dua di antaranya, meskipun kita sering ketemu di kantor, kerja bareng dalam satu proyek yang sama, dan canggihnya, kita masih bisa berteman baik meskipun saat kerja bareng itu, pastilah ada aja konflik pekerjaan yang bikin kita ngerasa sama-sama bete.

Meski berhasil membuktikan bahwa berteman baik dengan rekan kerja bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan, entah kenapa, sejak awal mulai kerja di perusahaan ke tiga, gue sempat merasa ragu. Ada beberapa hal yang membuat posisi gue jadi agak sulit yang juga berpotensi bikin orang-orang jadi ngerasa bête dengan keberadaan gue. Makanya sejak awal, gue enggak banyak berharap. Bahkan ketika sudah lewat beberapa bulan dan keakraban gue dengan teman-teman sekantor belum banyak perkembangan, gue sempat bilang begini sama salah satu sahabat gue di Binus dulu, “Gue rasa bukan berarti gue sial dapet kerja di sini. Kayaknya emang gue-nya aja yang beruntung waktu kerja di Accurate dan EY kemaren. Karena normalnya, berteman sama rekan kerja itu emang susah.”

Karena ekspektasi gue yang kelewat rendah itulah yang bikin gue nggak ngerasa perlu hang out bareng temen-temen di sini. Kalo makan siang pun, gue lebih memilih makan sendiri di ruangan gue daripada ikut makan rame-rame di meja panjang depan ruangan. Gue juga nggak pernah tertarik buat nge-add Facebook account mereka, dan waktu gue upload foto resmi satu divisi gue ke Facebook pun, gue asal taruh aja foto itu di album “Whatever”. Gue nggak pernah kepikiran buat bikin folder foto baru khusus buat foto bareng temen-temen gue di sini karena toh, setelah itu enggak bakal ada lagi foto-foto baru bareng mereka. Satu foto itu pun kepengen banget gue upload cuma karena di foto itu, gue kelihatan keren pake blazer, hehehehehe.

Hingga akhirnya sampailah gue di hari ini, hampir 6 bulan semejak hari pertama gue datang ke sini. Ceritanya tadi siang, gue sama 3 orang teman sekantor sepakat makan siang bareng dilanjutkan ngopi-ngopi di Starbucks Emporium. Enggak ada yang istimewa dari acara ngopi-ngopi itu, tapi entah kenapa, gue ngerasa seneng aja. Tadi itu gue bisa ketawa lepas, bahkan temen gue ada yang ketawa sampe sakit perut, hanya karena lelucon antar teman waktu foto-foto bareng. Begitu sampai kantor, kita pun mulai saling nge-add Facebook account masing-masing. Dan bukan cuma itu… Gue juga upload foto-foto itu ke Facebook, plus, gue buat satu album baru bernamakan perusahaan gue saat ini: “NCSI.”

Sebetulnya kalau gue ingat-ingat lagi, pertemanan di sini enggak juga sebegitu buruknya. Two faces dan backstabbers pasti ada, tapi tidak semuanya. Selain teman-teman cewek yang tadi nge-Bucks bareng, ada lagi satu teman cowok yang sering gue jadikan tempat curhat. Ada lagi satu teman lainnya yang waktu jamannya gue belum ikutan katering, sering jadi teman makan siang bareng gue. Ada pula rekan kerja di kantor cabang yang sesekali suka chatting ngalor-ngidul bareng gue. Bahkan sebenarnya, sama bos kecil dan bos besar gue di divisi ini pun, gue termasuk akur-akur bahkan lebih akur kalo dibandingin sama hubungan gue dengan bos-bos gue di 2 perusahaan sebelumnya. Jadi sebetulnya, tiba-tiba hari ini gue ngerasa… bukan soal kali ini gue sial atau apa, tapi persoalannya adalah, gue tidak memberikan diri gue sendiri kesempatan untuk berteman baik dengan mereka semua.

Hal ini kembali ngingetin gue sama masa-masa awal gue kerja di EY dulu. Hari pertama gue terjun ke tim gue, dari sekian banyak orang yang berjabat tangan sama gue buat berkenalan, cuma satu orang aja yang kenalan sama gue sambil tersenyum ramah. Yang lainnya? Mukanya serius-serius dan cuma kenalan sambil lalu aja. Setelah itu, gue juga jarang banget kedengeran suaranya sampe sempet dijulukin autis sama salah satu senior gue di sana. Bahkan yang lebih buruk, ada pula satu cewek yang entah kenapa, kelihatan jelas kalo dia tuh sebel banget sama gue.

Tapi coba lihat sekarang… Siapa yang sangka gue bisa berteman baik dengan orang-orang yang dulu tampak asing di EY itu? Yang paling enggak disangka-sangka, si temen cewek yang dulu sebel banget sama gue itu akhirnya berubah jadi salah satu teman terbaik gue di EY! Bahkan setelah gue resign dari EY pun, gue masih menjalin komunikasi sama mereka, dan masih sesekali hang out bareng mereka. Bisa dipastikan dalam setiap bulan semenjak gue resign, pasti ada aja satu atau dua kali gue ketemuan sama satu atau beberapa teman setim gue di sana.

Gue harap apa yang gue rasakan hari ini sifatnya bukan sementara. Gue harap, sama seperti dengan teman-teman gue waktu di EY dulu, maka kali ini pun, gue ingin bisa berteman baik dengan teman-teman di kantor baru. Meskipun gue akan tetap ngoceh kalo ada yang salah dalam melakukan pekerjaannya, meskipun gue masih akan sering makan siang di ruangan gue sendiri (soalnya kan asyik, bisa makan sambil browsing), dan meskipun di luar sana gue udah punya cukup banyak teman-teman yang luar biasa, gue tetap ingin menjalin hubungan baik dengan mereka.

Seperti kata orang-orang bijak, satu musuh saja itu sudah terlalu banyak, akan tetapi, seribu orang teman tetap tidak akan pernah terasa cukup. Besides, the more the merrier right? Semoga kali ini pun, di tempat ini pun, gue ingin punya banyak hal yang bisa gue kenang di kemudian hari 🙂

Everything Happens For a Reason

Tugas terakhir gue di EY bisa dibilang tugas paling sulit yang harus gue jalanin selama hampir 4 tahun gue terjun di dunia kerja. Waktu itu ceritanya, gue ketiban kerjaan maha dahsyat itu gara-gara ada satu senior di tim gue yang menyatakan resign sebelum musim audit dimulai.

Waktu belum tau tugas maha dahsyat itu bakal diwarisin ke gue, si mantan senior pernah bilang begini ke gue, “Kasian orang yang nerusin kerjaan gue yang ini. Bisa nangis darah setiap hari.”

Waktu itu gue cuma manggut-manggut aja. Gue pikir enggak mungkin gue yang dipilih bos-bos buat gantiin mantan senior secara masih banyak temen setim yang lebih senior daripada gue. Tapi nggak disangka-sangka… kerjaan maha dahsyat itu malah diwariskan ke gue! Makanya di kemudian hari, gue sesekali iseng nyindir-nyindir mantan senior gue itu, “Gara-gara elo resign nih, jadi bikin gue susah.”

Mau nggak mau gue harus kerjain si tugas maha dahsyat itu. Dalam perjalananannya, terus terang gue banyak mengeluh. Gue ngerasa kerjaan itu termasuk susah tapi nggak banyak manfaat yang gue dapetin. Gue nggak ngerasa jadi tambah pinter gara-gara pekerjaan maha dahsyat itu. Secara yah, kerjaan itu cuma nggak jauh-jauh dari konsol sehingga nggak nambah knowledge gue dalam bidang lain sama sekali.

Ngelihat gue ngeluh melulu, teman seperjuangan yang juga dengan apesnya ketiban tugas buat kerja setim bareng gue ngurusin konsol klien istimewa itu, bilang begini sama gue, “Semua hal itu terjadi pasti ada alesannya, Peh. Mungkin sekarang elo belum tau apa gunanya. Tapi nanti, pasti elo tau kalo kerjaan ini juga ada manfaatnya buat elo.”

Singkat cerita, setelah melewati jam lembur gila-gilaan ditambah sakit-sakitan sampe sempet masuk UGD segala, akhirnya kerjaan itu bisa gue selesaikan dengan baik. Dengan selesainya pekerjaan itu, akhirnya… gue bisa resign dari EY dengan hati yang tenang… I had done my best and it was a right time for me to leave.

Bebeberapa bulan kemudian, ada satu kejadian yang mengingatkan gue sama nasehat si mantan teman seperjuangan di tim konsol: everything happens for a reason. Dan rasanya sekarang, kalo mau gue kumpulin dalam bentuk daftar, gue udah tau alasan-alasan apa yang membuat pekerjaan maha dahsyat itu pernah terjadi dalam working history gue.

  1. Berkat kerjaan itu, otak gue jadi lebih encer. Sangat membantu pekerjaan gue sekarang yang dituntut untuk sering berpikir gimana caranya memecahkan masalah yang terjadi di divisi gue;
  2. Nggak disangka-sangka, ternyata masih ada ilmu baru soal konsol yang gue dapetin dari tugas terakhir itu. Lagi-lagi, hal itu sangat membantu pekerjaan gue yang sekarang;
  3. Dalam engagement terakhir itu, gue banyak belajar untuk berbesar hati;
  4. Kerjaan maha dahsyat itu juga ngelatih gue buat lebih sabar dalam mengahadapi orang-orang sulit; dan
  5. Di tugas terakhir itu pula gue jadi punya teman baru. Gue emang enggak selalu akur-akur sama si teman seperjuangan, tapi pada akhirnya, mengenal si teman seperjuangan itu termasuk salah satu hal menyenangkan yang pernah gue lewati selama kerja di EY.

Jadi kesimpulannya, if everything happens for a reason, then that very difficult job happened to me was simply to make me a better person.

Lagipula entah kenapa, dan mungkin kedengerannya bakalan aneh banget… tapi gue bangga pernah jadi bagian dari tim konsol. Bangga pajang foto sendal samaan yang dimiliki tiga member dari tim konsol 2010 di Facebook, dan bangga juga setiap kali foto bareng temen-temen seperjuangan gue itu. So may be… the last reason why it happened to me was the memory itself 🙂

Ini dia... tiga sendal Konichiwa tim konsol 2010-2011.

P.S: Buat temen-temen EY gue… gue nulis kayak gini bukan berarti gue mau balik lagi loh yaa. It was a great memory, tapi kalo disuruh ngulang lagi mah, gue ogah banget, hehehehehe.

Susahnya Jadi Atasan…

  1. Bosen setiap hari harus tanda tangan setumpuk dokumen…
  2. Kerja tidak lagi tinggal menerima instruksi… melainkan mencari sendiri pemecahan atas setiap masalah yang tengah terjadi;
  3. A leader shall work as perfect as possible. Beda banget sama anak baru lulus kuliah yang masih bisa dimaklumi seperti, “Maklum lah masih banyak salah… namanya juga anak baru.”
  4. Semakin tinggi jabatan, semakin tinggi pula ekspektasi dari big boss. Kerjaan makin aneh, makin banyak, dan makin susah;
  5. Susah konsentrasi kerja, dikit-dikit ada yang datang meminta bantuan;
  6. Harus rela meluangkan waktu buat membagi ilmu sama anak buah… di tengah pekerjaan yang sedang padat-padatnya;
  7. Susah ngendaliin emosi kalo anak buah salah melulu, ngajuin pertanyaan yang sama berulang-ulang, kerjanya super lama pula! Sigh…
  8. Setelah heboh marah-marah, yang ada nyesel sendiri… Jadi malu sama diri sendiri, serta sama orang-orang di sekitar gue juga;
  9. Kadang suka dihantui pikiran, “Aduh, jangan aja nanti nih anak resign gara-gara gue!”
  10. Anak buah yang bikin kesalahan, atasan juga yang disalahin dan atasan juga yang harus nanggung akibat dari kesalahan anak itu…
  11. Peluang buat disebelin orang jadi makin besar, hehehehe; dan
  12. Suka penasaran… pernah nggak ya, staf-staf gue itu ngomongin gue yang jelek-jelek waktu mereka lagi di toilet?
  13. Dilema saat harus menilai kinerja bawahan yang tidak memuaskan;
  14. Lebih dilema lagi kalo harus memecat, menyatakan demosi, atau tidak mengangkat bawahan sebagai staf permanen; dan
  15. Semakin tinggi jabatan, biasanya semakin sedikit pula teman dekatnya. Berteman dekat dengan bawahan semakin lama menjadi semakin sulit.

Singkatnya sih, semakin tinggi semakin besar pula angin yang menerpa. 15 hal di atas mungkin belum tentu dialami oleh semua orang, tapi gue yakin, setiap atasan pasti punya permasalahan tersendiri yang dulunya tidak pernah mereka alami waktu posisi mereka masih berada di level staf biasa. It’s not as easy as we thought it was.

Jadi kalo menurut gue, daripada sibuk menghitung-hitung renumerasi yang diterima atasan, lebih baik kita hitung-hitung berapa besar tanggung jawab yang harus mereka pikul. Begitu pula kalo kita punya cita-cita untuk duduk di bangku pimpinan. Daripada keseringan berkhayal soal fasilitas yang akan kita dapatkan, lebih baik kita instropeksi diri… sudahkah kita memiliki kualitas yang diperlukan untuk dipercaya menjadi seorang leader?