Everland South Korea

Udah pernah ngunjungin Disneyland Hongkong dan Universal Studio Singapore bikin gue ngerasa wahana di Everland Korsel itu biasa-biasa aja. Tapi kalo buat gue, seharusnya amusement park itu enggak pernah bisa jadi biasa-biasa aja. Sekitar 2 bulan sebelum mengunjungi Everland, gue dateng ke Trans Studio Bandung sama temen-temen kantor. Cuma Trans Studio yang cupu banget kalo menurut gue, tapi tetep aja, that was one of the best trip I’ve ever had. Gue selalu suka saat-saat ngantri yang diisi dengan tukeran gosip, cekikikan, dan ngobrol ngalor ngidul, kemudian  ketawa-ketawa, atau bahkan teriak heboh saat naik wahana, dan saling komentar, “Gilaaa ya, gila!” saat baru aja turun dari wahana yang mendebarkan. I expected to have those moments in Everlandhanya saja sayangnya, bukan itu yang gue rasakan. But never mindI’ve got bunch of beautiful pictures instead!

Yup, Everland ini bener-bener amusement park paling cantik yang pernah gue kunjungi. Disneyland cantik dengan Sleeping Beauty Castle-nya, tapi Everland lebih cantik dengan beberapa taman bunga dan kolam air mancurnya.

This slideshow requires JavaScript.

Hal yang sangat menarik perhatian gue saat mengunjungi Everland adalah ternyata cowok Korea itu enggak sungkan ikutan pake bando-bando lucu di kepala mereka! Hal yang sama belum pernah gue temukan di amusement park lainnya. Dan gue juga nggak mau kalah dong… Gue juga beli satu bando pita pinky buat gue pake selama main di Everland 😀

Salah satu cowok berbando lucu 😀

Untuk wahana, terus terang enggak banyak yang sempat gue coba. Antrian yang super panjang bikin teman-teman gue malas untuk coba naik. Mereka juga kepengen cepet balik ke Seoul untuk acara belanja kosmetik. Jadi enggak ada banyak hal yang bisa gue tulis dari wahana ala Everland. Ada satu yang paling berkesan, wahana rotating house. Keren aja gitu… rasanya atas jadi bawah, dan bawah jadi atas. Untuk wahana lainnya mirip-mirip sama yang ada di Dufan atau Trans Studio. Untuk wahana 3D Pororo-nya juga biasa aja, tapi ternyata cukup menyenangkan juga ngelihat anak-anak balita sebegitu excited-nya sama si Pororo itu.

That cute little fox^^

Selain berbagai jenis wahana, di Everland ada juga kebun binatangnya. Tadinya gue berharap ngelihat jerapah, tapi tidak kesampaian. Polar bear-nya kelihatan kurus dan bulunya tipis. Untunglah di sana ada bayi singa dan yang paling lucu, gue ngelihat rubah berwarna beige yang imut banget! Saking sukanya sama si rubah, gue nggak ketinggalan beli boneka rubah untuk dibawa pulang ke Indonesia. I really hope to see the same species in Indonesian zoo. A very cute fox!

Hal lain yang cukup menyenangkan dari Everland adalah toko souvenir-nya. Lagi-lagi, gue kalap belanja sama seperti gue kalap belanja di Disneyland. Suka banget deh, sama pernak-pernik Everbear yang dijual di sana… Untuk pertama kalinya, gue beli oleh-oleh tapi bertanya-tanya dalam hati, “Gue ikhlas nggak yah, ngejadiin semua ini oleh-oleh? Mending buat gue aja, hehehehe.”

Kesimpulannya… Everland was fine, but it supposed to be much more fun than that. Gue malah sempat berpikir, “Gue malah lebih hepi waktu pergi ke si Trans Studio yang biasa banget itu…” Bukan salah Everland-nya sih… it’s just the matter of taste. If you wish to have fun in an amusement park, then you’d better go with the people who also love it as much as you do. Di luar itu, Everland termasuk top 3 dalam the best tourist attraction in Seoul versi gue. If you love amusement park, then this place is a must visit in South Korea.

N Seoul Tower

N Seoul Tower ini terkenal karena dua hal: museum Teddy Bear dan lokasi pemasangan gembok cinta. Meski begitu, anehnya, gue malah tidak sempat mampir ke 2 tempat itu saat berkunjung ke N Seoul Tower. Temen-temen gue berubah pikiran, mereka merasa sudah cukup berkunjung ke museum Teddy Bear yang di Jeju, jadi sudahlah… waktunya juga sudah agak mepet waktu itu. Kemudian untuk lokasi gembok cinta… gue juga enggak sempet mampir gara-gara takut ketinggalan kereta gantung terakhir. Ini juga ya sudahlah… nggak lucu juga kalo dateng ke si gembok cinta kalo cuma sendirian… Nggak punya gembok yang mau gue pasang pula, hehehehe. Jadilah gue dan teman-teman cuma naik ke observation deck dan juga belanja-belanja di dalam tower.

Tadinya gue pikir, observation deck di menara ini sifatnya outdoor terrace seperti Victoria Peak di Hongkong. Tapi ternyata cuma ruangan indoor yang meyediakan banyak teleskop jarak jauh. Dengan salah satu teleskop di sana, temen gue bilang dia bisa lihat simbol hotel JW Marriott di Kuningan lho. Jadi untuk mempermudah pengunjung menemukan negaranya masing-masing, sudah tersedia tulisan berapa jarak dari N Seoul Tower ke negara ybs.

Jakarta was 5,268.18 from here

Sebetulnya ada 2 aktivitas yang bisa jadi cukup menyenangkan untuk dilakukan di NSeoul Tower: kirim postcard dari kantor pos paling tinggi di Korea itu, dan menulis di atas balok kayu, yang kemudian balok kecil tersebut ditempelkan ke dinding yang memang khusus disediakan untuk menampung balok-balok yang sudah ditulisi. Di sana, gue sempat menemukan sebuah balok bertuliskan bahasa Indonesia. Isi tulisannya:

“Ini pertama kalinya kita ke Seoul, kita happy banget di sini. We love Korea!”

For a while, I envied those kids… Seems like they enjoyed Seoul much more than I did.

Malam itu, gue lihat salah satu teman seperjalanan gue menulis begini saat check-in via Twitter-nya, “I wish you were here…” yang pasti dia tujukan untuk suaminya.

Dan gue pikir benar juga… N Seoul is a romantic place for couples. Jadi ingat sama adegan favorit gue di Boys Before Flower… Itu lho, yang Jun Pyo dan Jan Di terperangkap di menara dan terpaksa tidur di dalam kereta gantung itu. Kemudian di tengah malam, Jun Pyo menulis begini di dinding kereta, “Jun Pyo loves Jan Di.” Tapi sepertinya tulisan itu sudah dihapus dari kereta gantung yang emang betulan ada di sana. Padahal lucu juga kalo gue bisa ambil foto tulisan si ganteng Jun Pyo itu 😀

Oh ya, ada satu lagi hal yang menurut gue cukup unik dari N Seoul Tower. Jadi saat kita naik lift, kita akan diminta melihat ke bagian atas lift. Di sana ada video 3 dimensi yang menggambarkan seolah-olah kita sedang meluncur naik dengan kecepatan tinggi. Kemudian di dalam, ada pula lantai yang jika kita injak,  maka monitor di lantai itu akan menampilkan gambar seolah-olah lantai itu retak dan berjatuhan ke bawah. Dengan sentuhan teknologi yang lebih mutakhir, gue yakin ide itu bisa jadi sesuatu yang keren banget di mata para pengunjung.

Kesimpulannya… gue cuma bisa bilang… N Seoul Tower masih bisa lebih berkesan daripada itu. Yaah, maybe later, in the next trip gue dateng ke sana lagi sekalian buat nge-date, hehehehe.

 

P.s.: Jangan kaget kalau lihat antrian lift naiknya itu bisa panjaaang banget. Saat mau turun ke bawah juga ngatri lagi. Dan pas mau naik kereta gantung pun, kita masih harus ngantri lagi! Fufufufu.

Korean Folk Village

Korean Folk Village merupakan sebuah theme park yang menyajikan replika pedesaan Korea Selatan di masa yang lampau. Rumah-rumah tradisional, mulai dari rumah sederhana sampai rumah saudagar kaya, pasar tradisional, gedung-gedung pemerintahan, dan masih banyak lagi. Yang gue rasa cukup menyenangkan adalah replika gedung pengadilan Korea jaman dulu. Di sana, gue dan teman-teman sempat berfoto menggunakan alat yang dulu dipakai untuk ‘mengikat’ pada narapidana. Ceritanya saat berfoto, ada yang bertugas jadi pengawal, ada pula yang berakting jadi sang napi!

Untuk membuat suasana pedesaan semakin tampak nyata, seluruh pegawai di sana, mulai dari penjaga pintu sampai penjaja makanan, mengenakan pakaian tradisional Korea. Ada pula orang-orang yang terlihat sedang ‘bekerja’ di pasar tradisional, atau ‘bekerja’ di replika semacam tukang pandai besi gitu. Belum lagi beberapa cowok ganteng dan cewek cantik yang berkeliaran mengenakan hanbok yang lebih mewah. Yang bikin gue senang, gue sempat berfoto dikelilingi 3 pengawal yang unyu-unyu. Kesannya kok, kayak tuan puteri yang lagi dikelilingi sama pengawalnya, hehehehe.

The princess and 3 warriors;)

Selain menyajikan suasana Korea tempo dulu, tempat ini juga terkenal dengan beberapa pertunjukan rutinnya. Gue sempat lihat 3 show: pernikahan tradisional, pertunjukan taekwondo, dan satu pertunjukan street dance. Untuk pernikahan tradisional sebetulnya cuma begitu-begitu aja, tapi lucu juga kalo ngelihat sepasang pemeran pengantin yang kelihatan malu-malu betulan. Padahal ternyata, sepertinya sih mereka itu cuma dua orang tamu yang aslinya udah punya anak balita! Yang unik dari pernikahan tradisional Korea, kalo di sini ada budaya melepas sepasang burung merpati, maka kalo di sana, ada tradisi melepas dua ekor ayam! Apesnya, salah satu ayam itu sempat mendarat di punggung gue dengan manisnya… Setelah upacara pernikahan, pasangan pengantin itu diarak keliling kampung yang juga diiringi oleh para penonton.

Untuk pertunjukan taekwondo, yang bikin gue ngerasa takjub adalah pertunjukan itu dilakukan oleh anak-anak usia SD! Hebat aja gitu masih kecil udah bisa beratraksi sekeren itu… Sempet ada satu anak yang gagal menendang balok sampai patah, tapi anak itu tetap kelihatan tenang dan meneruskan penampilannya dengan baik.

Yang terakhir street dance… ini dia yang menuwut gue paling biasa banget. Gue pernah ngelihat street dance yang jauh lebih keren di Universal Studio Singapore. Bosan nonton street dance yang cuma gitu-gitu aja, gue dan Tiara kembali keliling untuk cari tempat yang menarik untuk berfoto. Tadinya kita sempat pengen coba diramal garis tangan, just for fun, tapi sayang, ternyata harus bayar dengan harga lumayan mahal. Waktu itu pikir gue, belum tentu si peramal bisa ngomong bahasa Inggris… Jadi sudahlah, toh gue juga sama sekali enggak pernah percaya sama ramalan.

Setelah makan siang, gue dan teman-teman langsung menunggu bis untuk mengantar kita kembali ke pusat kota. Gue pribadi ngerasa kecewa hari itu… enggak sempat melihat pertunjukan Man on the Rope. Soalnya dari beberapa blog yang pernah gue baca, justru pertunjukan itulah yang paling meninggalkan kesan dari kunjungan ke Korean Folk Village. Tapi sudahlah… there might be another time to watch the show.

Overall, Korean Folk Village was not bad for me, tapi nggak juga meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Beda banget sama beberapa blogger lain yang sampe betah main seharian di tempat itu. Jadi gue rasa sih, bagus atau enggak itu sifatnya relatif lah ya. Temen gue malah ada yang kelihatan sangat tidak menikmati kunjungannya ke sana. However, buat penggemar drama Korea, tempat ini termasuk must visit. Ada cukup banyak serial tv yang mengambil gambar di tempat ini. Misalnya saja, Jewel in The Palace favorit gue itu! Dan pastinya, kalau kamu berkunjung ke tempat ini, jangan lewatkan rangkaian live show-nya! Kemudian jangan malu-malu buat minta foto bareng cowok-cowok ganteng di tempat itu oke 😉

Petite France & Nami Island

Beda sama Nami Island yang sudah sejak awal nangkring di itinerary, Petite France baru mulai masuk jadi agenda perjalanan gara-gara idenya Luzy. Dia bilang, dia kepengen dateng ke tempat yang merupakan lokasi syuting Secret Graden, serial Korea yang sedang sangat dia gemari waktu itu. Setelah gue Google, ternyata tempatnya emang lucu. Kita pun agree datang ke sana, yang ternyata, berada tidak jauh dari Nami Island. Semakin mantap lah niat gue buat datang ke sana. Bahkan untuk lebih menghayati kunjungan ke Petite France, gue sampe sengaja beli DVD Secret Garden segala lho, hehehehe.

Hari ke dua di Seoul (yang mana hari pertama cuma habis di perjalanan Jakarta-Malasyia-Korsel), gue dan teman-teman langsung berangkat menuju Nami Island. Tadinya kita berencana pergi ke sana naik MRT, tapi kemudian sempat berubah rencana jadi naik shuttle bus menuju Nami. Ternyata oh ternyataa, lokasi pemberhentian shuttle bus to Nami Island itu susah banget dicarinya! Ujung-ujungnya, gue dan teman-teman kembali lagi ke rencana awal: pergi ke Nami dan Petite France naik MRT disambung taksi.

Berhubung hari sudah beranjak siang dan kita takut malah baru dateng ke Petite France setelah tempatnya tutup, kita sepakat buat menukar agenda: Petite France dulu baru Nami Island. Kita pun menempuh perjalanan panjang menuju Petite France… Rasa-rasanya dari semua tempat yang kita datangi selama di Seoul dan sekitarnya, perjalanan ke Petite France dan Nami Island inilah yang jarak tempuhnya paling jauh.

Untuk sampai ke Petitte France, setelah keluar dari stasiun Cheongpyeong, kita langsung naik taksi selama sekitar 15 menit melewati jalan menikung dan naik-turun khas daerah pegunungan. Pokoknya si Petite France itu bener-bener jauh ke mana-mana deh. Gue nggak yakin tempat ini bisa populer di kalangan turis kalo bukan karena drama Korea yang mengambil gambar di pusat kebudayaan Prancis itu. Soalnya bisa dibilang, nyaris tidak ada aktivitas apapun yang bisa kita lakukan di Petitte France kecuali foto-foto. Meski begitu, gue tidak menyesal datang ke sana. Gue belum tentu bisa berfoto di tempat lain dengan background yang sama uniknya. Arsitekturnya tampak cantik, dengan permainan warna bangunan yang eye catching.

Di Petitte France gue juga menemukan kandang besar berisi beberapa ekor kucing yang lucu-lucu. Tapi anehnya, nggak lama kemudian datang bapak-bapak yang sangat ditakuti oleh kucing-kucing itu. Ternyata… si bapak datang untuk masukin kucing-kucing itu ke dalama karung! Si kucing jelas meronta sambil mengeong dengan kencangnya. Gue pun jadi kepikiran… itu kucing mau diapain? Mau dibawa ke mana???

Di depan kandang kucing, terdapat sebuah bangunan bertingkat yang berisi banyak sekali lukisan dinding. Di lantai paling atas, gue menemukan dinding yang dipenuhi oleh coretan. Jika dilihat dari dekat, dinding itu bertuliskan pesan-pesan cinta yang ditinggalkan oleh para pengunjung. Sepertinya orang-orang Korea emang percaya banget ya, sama mitos-mitos romantis seperti itu…

Setelah makan siang di dalam area Petite France, gue dan teman-teman minta tolong dipesankan taksi oleh si ibu penjual tiket, dan kita pun harus menunggu taksi itu datang sekitar setengah jam lamanya. Sebetulnya saat hendak minta dipesankan taksi, gue sempat lihat selembar kertas yang mencantumkan jadwal bis yang bisa mengangkut pengunjung Petite France menuju Nami Island. Hanya saja sayangnya, jadwalnya tidak pas dengan kunjungan kita saat itu. Jadi sudahlah… kita tetap lebih memilih naik taksi untuk tiba di Nami Island, 30 menit kemudian.

Sesuai namanya, Nami ini memang sebuah pulau yang terpisah, letaknya di tengah-tengah danau. Itulah sebabnya tiket masuk Nami Island sudah otomatis satu paket dengan tiket ferry round trip. Kita tidak perlu mengantri terlalu lama untuk naik ferry, dan tidak pula perlu menunggu lama untuk sampai di pulau tujuan. Oh ya, saat tiba di depan pintu masuk menuju port, jangan kaget saat melihat tulisan “Immigration Office.” Immigration Office itu maksudnya ticketing office, jadi sama sekali bukan kantor imigrasi betulan. Karena ceritanya, si Nami Island ini merupakan ‘negara pura-pura’ yang bernama Naminara Republic.

Lalu apa yang bisa kita lakukan di Nami Island? Apalagi kalau bukan bersepeda mengelilingi pulau! Bersepeda jadi sangat populer di pulau ini karena hal yang sama juga dilakukan oleh tokoh utama di serial Winter Sonata. Kemudian di tengah-tengah pulau, kita akan menemukan patung first kiss Winter Sonata yang selalu menjadi photo spot favorit turis-turis yang datang ke sana.

Sebetulnya gue sama sekali enggak pernah nonton Winter Sonata, dan menurut gue pun, pemandangan di Nami Island juga enggak bagus-bagus amat. Tapi tetap saja… gue suka banget bersepeda di pulau itu! Hembusan anginnya terasa menyenangkan, pantulan air danau dari kejauhan, pohon-pohon besar yang menjulang di sepanjang jalan, dan jalan berdebu yang sesekali naik dan turun, udah berhasil bikin gue ngerasa gembira hanya dengan mengayuh sepeda di pulau itu. Oh ya, meskipun bukan tempat paling indah yang pernah gue datangi, Nami Island ini tetap terlihat sangat fotogenik. Take a look at the pictures below!

Overall, gue menikmati acara jalan-jalan pertama gue di Korea Selatan itu. Tempatnya memang jauh dari pusat kota, but both of Petite France and Nami Island are worth to visit. Oh ya, buat kamu yang nggak bisa mengendarai sepeda… nggak usah khawatir! Selain menyewakan sepeda, pengelola pulau itu juga menyewakan mobil mini dan juga otoped elektrik. Jangan ragu untuk menyewa salah satu kendaraan itu, and enjoy the rides 🙂

P.s.: Untuk pulang dari Nami Island ke Seoul, jalan kaki sedikit menuju taxi stopper di dekat Seven Eleven, antri untuk dapat taksi, dan bilang sama supirnya kamu kepengen pergi ke stasiun Gapyeong. Dari situ, kamu bisa ambil kereta menuju Seoul.

Hotel & Tour Guide in Jeju

MY HOTEL IN JEJU

Gue nginep tiga hari dua malam di Jazz Village pension house. Jangan heran sama istilah pension house. Awalnya gue pikir isitlah itu represents rumah tua model jaman dahulu kala (karena kebetulan, Jazz Village itu bernuansa old country banget). Tapi ternyata, kalo kita buka kamus, pension itu bisa juga diartikan rumah penginapan, hehehehe.

Baru lihat dari tampak luar, gue dan teman-teman langsung jatuh hati sama hotel ini. Model penginapannya mirip-mirip bungalow gitu. Ada beberapa rumah terpisah untuk para tamu. Unit yang gue tempati punya satu kamar tidur plus satu tempat tidur di ruang tengah, satu sofa 3-seated, satu pantry plus meja makan dan bangkunya, dan satu kamar mandi yang berukuran cukup besar (ada bathtub dan shower terpisah). Hotelnya bersih, nice furniture, dan ukurannya cukup luas untuk enam orang.

Tampak depan.

Ayunan depan kamar.

The kitchen.

Gue suka banget deh nginep di sini. Meskipun tidak semua karyawannya pandai berbahasa Inggris, yang penting owner-nya itu friendly dan helpful banget. He helped us calling taxis, then he talked to the drivers (most of Korean taxi driver cannot speak English) to bring us to a fine restaurant where we could eat.

Sayangnya, tidak tersedia fasilitas wi-fi di dalam kamar. Kita harus nangkring di lobi, atau cukup duduk di ayunan depan rumah supaya gadget kita bisa menangkap sinyal wi-fi yang disediakan hotel. But you don’t have to worry… mereka menyediakan 2 buah unit komputer di bagian reception yang bisa kita pakai, for free. Kekurangan lainnya, there was no breakfast, no swimming pool (sebetulnya ada, tapi sepertinya sudah lama tidak dipakai), dan lokasinya agak jauh dari jalan raya.

The best thing about this hotel is the affordable price. Kalau dirupiahkan, satu unit kamar ini hanya 1,6juta per malamnya. Karena harga kamar tersebut dibagi untuk enam orang, jadi tidak terasa berat! Lagipula buat ukuran hotel di Korea, 1,6juta per malam untuk 6 orang itu sudah termasuk murah lho.

Kalau tertarik nginep di sini, bisa naik bis dari bandara kemudian turun di Jungmun Resorts. Dari Jungmun Resorts, tinggal naik taksi sekitar  10 menit.

MY TOUR GUIDE

Jika kalian perhatikan, tidak ada satupun Jeju travel review di blog gue ini yang menuliskan ‘how to get there’. Kenapa? Karena hari pertama, gue cukup naik taksi buat jalan-jalan di Jungmun Resorts. Kemudian hari ke dua dan ke tiga, gue pake jasa tour guide. Berkat salah satu review di Lonely Planet, akhirnya gue berhasil menemukan guide yang masih available. I had a feeling that he was going to be a right person to guide us.

Nama tour guide gue Andy Choi. He’s not a part of a big travel agency, he is running his own business instead. Meskipun bukan dari perusahaan besar, my friends and I were very satisfied with his service. Orangnya ramah, helpful, mau ikut mikir buat cariin makanan halal (yaah, at least tidak mengandung babi), enak diajak ngobrol, dan enggak suka perhitungan ini-itu. Asyiknya lagi, selama pergi bareng Andy, kita enggak pernah nyasar-nyasar (believe it or not, it often happens to other tour guide/taxi driver in Jeju). His GPS worked almost perfectly. Dia juga jago nentuin sendiri urutan tourist attraction dalam itinerary gue untuk mengoptimalkan waktu yang ada.

Menurut pengamatan gue, memang sebaiknya kita hire tour guide untuk jalan-jalan di pulau Jeju. Jarak tourist attractions-nya relatif berjauhan dan jarang terlihat ada public bus yang melintas. Beda dengan Seoul, di Jeju ini tidak ada train system sama sekali.

Selain pakai jasa tour guide, kita bisa juga sewa taksi seharian. Fixed rate-nya tidak jauh beda dengan tour guide. Tapiii, secara supir taksi di sana jarang banget ada yang bisa bahasa Inggris, bakalan agak susah ngejelasin isi itinerary kita ke mereka. Beda sama tour guide yang udah siap dengan itinerary kita sejak awal. Kalau sampai terpaksa sewa taksi, solusinya, minta tolong resepsionis hotel untuk menerangkan isi itinerary kita ke supir taksi. Alternatif terakhir ya sewa mobil without driver a.k.a nyetir sendiri. However, gue enggak menyarankan hal ini buat orang Indonesia secara posisi setir di Korsel itu kan berbeda dengan Indonesia.

Tips dari gue buat kalian yang ingin hunting tour guide adalah kalian harus ngerasa sreg sejak korespondensi pertama dengan mereka. Kalo gaya bahasanya aja udah nggak ngenakin, responsnya lelet, mendingan cari yang lain aja deh. A good travel guide could be your key to successful trip… and I really thank Andy for this matter 🙂

If you wish to travel with Andy Choi, you may visit his website at www.jejudotourguide.com. Just drop him an e-mail, complete with your planned itinerary, then he will reply your e-mail together with his proposed fee in a short time.  

The Jungmun Resort

Jungmun Resort adalah kompleks besar di daerah Jungmun, Jeju, yang menyediakan berbagai tourist attractions dan juga beberapa pilihan hotel untuk menginap. Saat gue bilang kompleks, jangan bayangkan kompleks kecil, karena Jungmun Resort itu satu kawasan pariwisata yang luaaas banget. Gue malah enggak merekomendasikan kalian untuk jalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya. Ya kecuali kalian emang hobi jalan kaki siih…

THE TOURIST ATTRACTIONS

Teddy Bear Museum

Sepertinya Teddy Bear Museum ini merupakan objek wisata yang paling populer di Jungmun Resort. Isinya apa lagi kalau bukan deretan boneka, lukisan, dan patung Teddy yang lucu-lucu! Untuk review lebih detail, klik di sini.

Ripley’s Believe It or Not Museum

Lokasinya persis di seberang Teddy Bear Museum. Untuk review lebih detail, klik di sini.

Chocolate Land

Lokasinya persis di sebelah di sebelah Teddy Bear Museum. Isinya beberapa hasta karya yang terbuat dari cokelat, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Kalo emang beneran kepengen lihat museum cokelat, lebih baik jangan datang ke sini. Ada museum cokelat di Jeju, yang lebih besar, yang lokasinya tidak begitu jauh dari Jungmun Resort.

Cokelat rasa kaktus yang enak banget ituu…

Yang menarik dari Chocolate Land adalah kursus membuat cokelat yang disediakan oleh tempat ini. Sayangnya gue enggak sempat ikutan kursus ini waktu berkunjung ke sana. Oh ya, asyiknya lagi, harga tiket masuk yang kita bayarkan akan ditukar dengan voucher belanja cokelat dengan nominal yang sama. Waktu itu gue beli cokelat pinky rasa kaktus yang rasanya enaaaak banget. Kalo ada reader yang mau datang ke sana, please kasih tau gue yaa. Gue mau nitip cokelatnya. Serius loh ini, please please please.

P.s.: Atau mungkin, ada yang tau di mana toko di Jakarta yang jualan cokelat import dari Korea?

The Jungmun Beach

Katanya sih yaa, Jungmun Beach ini merupakan pantai paling populer di Jeju Island. Kalau berdasarkan deskripsi di website-nya Korean Tourism Board:

“Jungmun Beach (중문해수욕장) has a sandy shore so fine that it is called Jinmosal. The white sand beach is 560m long and the water has an average depth of 1.2m. Different shades of black, red, and grey are beautifully mixed into the white sand of the beach.”

Ternyata oh ternyata… saat gue menginjakkan kaki di Jungmun Beach… pemandangannya cuma begitu aja. I simply think that Bali has much more beautiful beaches than that. Gue bahkan tidak melihat ada fasilitas water sport di pantai itu. Gue lihat yang dilakukan para pengunjung di sana ya hanya main-main air di pinggiran pantai. Tidak ada orang yang berjemur, tidak pula orang-orang yang sedang asyik membuat istana pasir… Hmm, mungkin karena cuaca masih relatif dingin kali yaa.

THE ACCOMODATION

  • Lotte Hotel. Hotel ini keliahatan mewah banget dari luar. Dan yang paling gue anggap menarik dari hotel ini adalah… mereka punya Hello Kitty room! Kalo nanti gue balik lagi ke pulau Jeju, gue harus nginep di kamar Hello Kitty itu. Pokoknya harus, hehehehe;

Hello Kitty room @ Lotte Hotel Jeju

  • Jeju Seaes. Yang paling istimewa dari hotel ini adalah… ini kan lokasi syutingnya Secret Garden! Seneng banget rasanya saat berhasil menemukan lokasi ‘the bench kiss’. Look at my pictures below!

 

 

 

 

 

  • Hotel Hana. Dari semua hotel yang ada di Jeju, sepertinya Hana ini yang room rate-nya paling murah. Tapi ya gitu deh… gue pernah beberapa kali lihat bad review soal hotel ini di berbagai traveling website;
  • Masih ada 4 hotel lain: Shilla, Hyatt Regency, Korea Condo, dan The Suits.

THE TRANSPORTATION

  1. By taxi. Ada cukup banyak taksi yang mangkal di beberapa titik ramai di Jungmun Resort, misalnya di sekitar Teddy Bear Museum. Tapi yaah, bukan berarti selalu gampang dapat taksi di kawasan ini! Gue pernah harus menunggu agak lama sampai akhirnya mendapatkan taksi yang kosong;
  2. Travel agent. Liburan di Jeju akan sangat-sangat sulit jika tidak dibantu oleh travel agent. Untuk detail travel agent gue di Jeju, klik di sini. Akan tetapiuntuk hari pertama di Jeju yang hanya dihabiskan di kawasan Jungmun Resort, gue masih belum menggunakan jasa agent tersebut. Lalu cara apa yang gue pilih untuk keliling Jungmun Resort?
  3. Sewa sepeda atau mobil elektrik mini. Yup… ini dia alat transportasi yang gue pilih: sewa mobil mini untuk keliling Jungmun Resort! Bermodalkan penjelasan dari pemilik mobil plus berbekal selembar peta, gue dan teman-teman keliling Jungmun Resort menggunakan mobil mini ini. Karena jumlah kita ada 6 orang, jadilah kita menyewa 3 unit mobil.

    My mini electric car in Jeju^^

Tips dari gue, sebaiknya orang yang mengendarakan mobil mini ini tetap orang yang sudah terbiasa nyetir mobil beneran. Ada banyak mobil lalu lalang di kawasan ini, banyak pertigaan, perempatan, dan tikungan tajam, ditambah posisi setir mobil yang berbeda dengan Indonesia.

Oh ya, kalau mau sewa mobil mini atau sepeda, tidak perlu langsung sewa begitu sampai di resort. Nikmati dulu semua attraction yang berada di sekitar Teddy Bear Museum. Jika sudah semuanya, barulah datang ke tempat penyewaan yang lokasinya terletak di antara Teddy Bear Museum dan Chocolate Land.

Waktu itu gue sewa mobil mini selama 2 jam, dan sebetulnya 2 jam itu sudah cukup untuk keliling resort. Hanya saja sayangnya waktu itu kita sempat nyasar dan gagal menemukan lokasi Cheonjeyeon waterfall. Pada saat jam sewa sudah hampir habis, barulah gue menemukan jalan yang tepat menuju air terjun itu. Tapi apa boleh buat… udah waktunya si mobil mini dikembalikan ke pemiliknya.

Overall, gue sangat menikmati kunjungan gue ke Jungmun Resort. Gue suka banget sama Teddy Bear Museum, dan yang nggak disangka-sangka, naik mobil sewaan itu rasanya seru banget loh. Meskipun gue cuma duduk di bangku penumpang, tapi saat itu tetap salah satu saat terbaik gue di Jeju Island. Mulai dari sok jago baca peta buat mencari tempat tujuan, nyasar sampe keluar kawasan resort, si Luzy yang nyetir nekad sampe bikin gue deg-degan, bahkan sempet ada pengemudi yang membuka kaca mobilnya karena marah sama kita! Apapun yang terjadi, gue tetap senang dan tidak menyesal sudah bayar cukup mahal untuk sewa mobil mini tersebut.

Kalo suatu hari gue balik lagi ke pulau Jeju, gue mau aaah, sewa mobil mini di tempat itu lagi. Oh ya, harga sewa di sana bisa ditawar loh. Jadi jangan ragu untuk menawar harga ok!

Jeju Ripley’s Believe It or Not Museum

Museum Ripley’s Believe It or Not berisi berbagai foto, lukisan, video, atau patung replika tentang hal-hal yang unik tapi nyata di seluruh penjuru dunia. Museum ini tersebar di beberapa negara di berbagai penjuru dunia, salah satunya yang gue kunjungi bulan lalu di pulau Jeju, Korea Selatan. Museum Ripley’s Jeju berlokasi di dalam kawasan Jungmun Resort, persis berseberangan dengan Teddy Bear Museum.

Di dalam museum ini, ada beberapa exhibit yang sudah pernah gue lihat sebelumnya, tapi banyak pula hal-hal baru yang bikin gue berpikir, “Ya ampun… kasihan banget orang-orang ini.”

Ada 2 hal yang menurut gue paling menarik dari museum ini:

  1. Hasil rekaman CCTV yang bisa di rollback. Di sana ada beberapa photo spot yang memang khusus disediakan untuk turis berfoto, salah satunya berfoto di samping patung Indian. Gue dan teman-teman pun enggak ketinggalan ikut berfoto di tempat itu. Dan ternyata, tidak jauh dari tempat itu, ada kamera CCTV yang menyorot persis ke arah patung Indian itu. Nah, kalau kita naik kita ke lantai 2, ada sebuah ruangan kecil yang menyediakan monitor dan sebuah tuas supaya kita bisa lihat hasil rekaman CCTV sampai beberapa menit yang lalu! Kalau kita cepat, kita bisa melihat diri kita di layar monitor CCTV saat sedang berpose dengan sang Indian! It was fun for me; dan
  2. Exhibits tentang ‘hukuman mati’ di berbagai penjuru dunia. Pada horror section ini, salah satunya ada semacam alat di mana sang objek digantung dikelilingi berbagai macam alat penyiksaan. Sang eksekutor tinggal memencet tombol untuk memilih cara menyiksa yang diinginkan. Ada pula exhibit yang menunjukan hukuman mati menggunakan kursi setrum. Kalau kita pencet tombol merah di depannya, kursi itu akan mulai menyetrum patung yang duduk di atasnya, dan si patung akan berteriak kesakitan! Trus dari situ juga gue baru tau bahwa dulu di Cina, pernah ada hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup untuk setiap orang yang ketahuan berbohong. Hmm, nggak heran kalau sampai sekarang pun, koruptor masih suka dihukum mati oleh pemerintah RRC.

Meskipun sebenarnya museum ini terbuka untuk semua kalangan usia, tetap saja menurut gue, bagian horor dalam museum berpotensi bikin anak-anak jadi takut dan bertanya-tanya. Kenapa ada tengkorak digantung? Cowok yang cuma pake underwear dibakar hidup-hidup? Cowok yang kepalanya ditutup karung kecil disetrum pakai bangku? Malah gue sempat lihat anak kecil yang menangis ketakutan saat ortunya memencet tombol merah untuk mengaktifkan kursi setrum… Jadi kalo menurut gue, misalkan pergi ke sana bawa anak, cukup dilewatkan saja lah, bagian yang satu ini.

Overall, menurut gue museum ini not bad and still worth to visit. Bukan salah satu favorit gue, tapi gue cukup menikmati kok. Malah ada salah satu teman seperjalanan gue yang suka banget sama tempat ini. Hampir semua exhibit dilihat dan dibaca history-nya satu per satu. Jadi tentu saja, bagus atau enggak bagus, itu sifatnya relatif. Tapi sepertinya sih, orang yang suka nonton show Ripley’s di televisi juga akan menyukai kunjungan ke museum ini. So just give it a try!

Jeju Teddy Bear Museum

One of my dream destinations in South Korea is the Teddy Bear Museum. Gue emang bukan kolektor Teddy, tapi berpose di tempat yang penuh dengan boneka lucu pasti akan menghasilkan sekumpulan foto yang imut-imut 😀 Lalu bagaimana kesan yang gue dapatkan setelah berkunjung ke sana?

Fyi, di Korsel terdapat 4 museum Teddy Bear yang tersebar di 4 kota. Pada kesempatan yang lalu, gue hanya mengunjungi museum Teddy Bear terbesar di Korsel, yang berlokasi di Jungmun Resort di Jeju island. Jadi… review ini hanya berlaku untuk museum Teddy Bear di Jeju saja yaa.

Begitu baru masuk menuju exhibition hall, kita langsung disambut sama sepasang boneka Teddy seukuran manusia yang berpakaian ala pengantin barat, lengkap sama tudung pengantinnya. Kemudian di dalam, kita akan menemukan banyak Teddy Bear dalam berbagai tema. Ada Teddy Bear yang menyerupai artis dan tokoh internasional legendaris, tema film seperti Princess Hour dan Titanic, ada pula yang bertemakan sejarah nasional maupun internasional. Yang tifak kalah menarik; boneka Teddy bertahta berlian, dan boneka Teddy yang pake LV fashion items!

 

 

 

 

 

 

Selain exhibition indoor, ada pula lokasi outdoor-nya. Di taman ini jelas enggak mungkin ada banyak boneka Teddy asli, hampir semua cuma patungnya saja… tapi ada beberapa setting yang lucu banget buat dijadikan tempat foto. So don’t miss it! Buat nemuin taman ini, cari café di dalam museum dan keluar lewat pintu yang ada di café tersebut. Setelah itu turun tangga, then you will see the Teddy Park.

 

 

 

 

 

 

Mengenai mana yang lebih bagus antara Teddy Bear Museum Jeju atau Seoul, sayangnya gue nggak jadi mampir ke museum Teddy di NSeoul Tower sehingga enggak bisa kasih pendapat tentang hal ini. Tapi menurut cerita yang didapatkan salah satu teman seperjalanan gue dari teman sekantornya, museum di Jeju lebih besar, tetapi museum di Seoul lebih bagus dan baru sehingga bonekanya pun masih terlihat baru. However, gue enggak lantas ngerasa boneka di Jeju udah pada dekil seperti yang dibilang sama temennya temen gue itu sih… Toh sebagian besar bonekanya tersimpan dalam etalase kaca, sehingga tidak mungkin bisa disentuh oleh pengunjung.

Oh ya, perbedaan lainnya antara museum Teddy Bear Jeju versus Teddy Bear Seoul adalah soal keragaman tema. Berbeda dengan museum Jeju yang menampilkan banyak banget tema, museum di Seoul lebih mengedepankan perjalanan bangsa Korsel dari masa ke masa, mulai dari masa penjajahan sampai masa modern sekarang ini. Atau kalau masih bingung… yaah, dateng aja ke dua-duanya, hehehehe.

Kenapa Traveling Saat Remaja Justru Terasa Lebih Mudah?

Hari ini gue dan Nitya, teman baik gue di bangku SMA, flash back tentang beberapa perjalanan yang dulu pernah kita lakukan bersama-sama.

Selintas gue bertanya sama Nitya, “Kenapa ya… traveling di usia yang sekarang ini rasanya jadi lebih ribet? Sekarang ini gue jadi ngerasa harus selektif banget pilih teman seperjalanan, dan jadi punya prinsip untuk enggak pergi dengan jumlah orang terlalu banyak. Padahal dulu waktu SMA, pergi sama siapapun asyik-asyik aja, dan waktu pergi belasan orang pun, rasanya tetap asyik-asyik aja.”

Adik ipar gue menimpali, “Mungkin karena waktu jaman dulu itu kalo liburan tinggal terima beres… Jadi semuanya udah lancar.”

Nitya langsung bereaksi, “Enggak juga… liburan kita dulu nggak begitu.”

Dan cerita-cerita itu pun kembali meluncur dari mulut gue…

Tentang liburan naik bis umum dari Kampung Rambutan.

Naik bis antar kota yang penuh sesak sampai tidak semua orang kebagian tempat duduk.

Numpang duduk di kantor polisi, selama berjam-jam, sambil nunggu teman yang akan datang menjemput.

Sewa kopaja untuk sampai ke Anyer, dan di tengah jalan tol, eeeh… si Kopaja malah mogok!

Kemudian begitu tiba di Anyer, cuaca super panaaas… Kita pun terpaksa tidur dengan semua jendela dan pintu terbuka lebar demi mendapatkan hawa segar.

Terdengar seperti bencana? But it was fun! Kita malah asyik foto-foto di pinggir jalan tol sambil menunggu Kopaja diperbaiki dan bukannya sibuk ngedumel karena kepanasan.

Coba lihat hal-hal tidak menyenangkan yang pernah gue alami saat traveling di usia dewasa…

Teman yang wajahnya cemberut setiap kali nyasar di jalan.

Teman yang wajahnya cemberut saat mengunjungi tempat yang tidak dia sukai.

Masih mending kalau cuma cemberut, ada pula yang tidak mau menemani gue ke tempat yang sangat-sangat ingin gue datangi tapi tidak mereka sukai.

Teman yang terus mengeluh tentang buruknya fasilitas ini-itu padahal sebetulnya, mereka sendiri yang tidak mau keluar banyak uang untuk biaya liburan.

Teman yang enggak mau ikutan sibuk mempersiapkan ini-itu, tetapi giliran sepanjang liburan kerjaannya merintah ini-itu seenak udel.

Teman yang sangat perhitungan, tidak mau dia sampai rugi, tapi tidak keberatan bikin temannya jadi rugi.

Atau yang paling mengherankan, gue pernah dua kali mengalami ‘nightmare’ saat mengunjungi amusement park. Datang beramai-ramai, tapi semua orang tidak mau beli tiket terusan (entah dengan alasan bad mood atau harga tiket yang lebih mahal) dan dengan baik hatinya bilang mereka akan tunggu di luar selagi gue naik wahana-wahana itu SENDIRIAN. Padahal ya… mana enak sih, ngantri mainan sendirian? Dan buat apa gue datang ke sana bawa teman kalau gue hanya asyik bermain sendirian?

Insiden amusement park itu terjadi sama gue dua kali, dengan dua rombongan yang berbeda… sehingga sampai sekarang gue masih heran… kenapa? Kenapa selalu kesannya, mengunjungi amusement park itu adalah ide pribadi gue dan bukan atas kesepakatan bersama? Malah pada salah satu kejadian tersebut, sebenarnya saat itu gue sendiri tidak begitu kepingin datang ke sana. Bukannya gue enggak suka amusement park, tapi masalahnya pada saat itu ada 2 amusement park yang akan kita datangi sedangkan menurut gue, cukup pilih satu yang terbaik saja. Akhirnya gue tetap ikut ke kedua amusement park itu karena ada salah satu teman yang bilang dia suka amusement park dan ingin mencoba keduanya. Tapi saat sudah tiba, orang yang dulu memberi statement ingin main di sana malah bersikap seolah-olah datang ke sana adalah idenya gue!

Saat usia kanak-kanak sampai remaja dulu, amusement park yang gue datangi dengan teman-teman tidak pernah jauh-jauh dari Dufan. Hanya Dufan, tapi selalu menyenangkan. Kenangan rasa gembira yang selalu gue rasakan saat mengunjungi Dufan adalah hal yang membuat gue selalu menyukai amusement park. Tapi kenapa sekarang bisa lain ceritanya?

Anyer, 11 tahun yang lalu… Salah satu perjalanan yang paling menyenangkan semasa gue SMA.

Gue akui sekarang ini, gue sendiri bukan orang yang selalu bersikap menyenangkan sepanjang liburan… Gue suka ngerasa capek kalo nyasar melulu. Apalagi gue ini emang tipe orang yang malu bertanya sehingga sesat di jalan. Gue juga suka kesal kalau teman seperjalanan gue tidak disiplin dan serba ngaret, atau terlalu sering ceroboh sehingga mengganggu rencana perjalanan. Makanya gue heran… dulu, gue tidak begini. Atau setidaknya, gue tidak pernah merasa jengkel hanya karena hal-hal tidak berjalan sesuai rencana.

Jadi kenapa? Kenapa sekarang ini, gue sampai mengalami perjalanan yang malah bikin gue pengen pulang, mendapatkan teman perjalanan yang menyebalkan, atau bahkan, kenapa gue sendiri bisa bersikap sebagai teman perjalanan yang tidak menyenangkan?

Traveling nightmare seperti ini bukan hanya pernah terjadi sama gue… Sebelum gue mengalaminya sendiri, gue sudah pernah beberapa kali mendengar keluhan sejenis dari teman-teman atau dari beberapa travel writers. Dan kalau gue ingat-ingat kembali… semua keluhan orang lain pun, terjadi saat usia mereka sudah masuk kepala 2.

Jadi kenapa? Apa yang membuat perjalanan ala remaja terasa lebih mudah?

Sampai saat tulisan ini gue post, gue masih belum menemukan jawabannya. Tapi daripada repot-repot mencari jawabannya, gue lebih memilih untuk tetap bersikap selektif. Teman seperjalanan yang gue anggap menyenangkan akan gue pertahankan, untuk diajak pergi lagi di kemudian hari. Kemudian gue juga sedang berpikir… gimana kalo gue coba bepergian dengan travel mate semasa remaja dulu? Gue kepingin tahu apakah bepergian dengan mereka setelah dewasa masih sama menyenangkannya seperti dulu?

Jika ternyata jawabannya adalah YA (bebepergian dengan mereka tetap menyenangkan meski sudah sama-sama berusia dewasa), berarti kemungkinan besar, I was simply a lucky teenager: I had a lot of friends who were fun to travel with. Tapi jika jawabannya adalah TIDAK… well, mungkin gue harus kembali menganalisis, atau mungkin, justru gue yang harus instropeksi.

Traveling is supposed to be fun, and it supposed to make you closer to your friends, not breaking up with them as the journey end. Back to the past, traveling was always an unforgettable memory between me and my old friends.

Intinya gue cuma ingin punya cerita perjalanan yang menyenangkan, yang bisa kembali gue ceritakan kepada anak-cucu gue nanti, atau… untuk sekedar kembali dikenang saat gue berkumpul dengan teman-teman seperjalanan. I did it very well when I was a teenager, and I shall do it better after I’m a grown up. Otherwise, my traveling activity is just a waste of time, money, and energy. That’s it.

The Beauty of Jeju Island

Pulau Jeju dikenal oleh penduduk Korea Selatan sebagai pulau vulkanis yang memiliki pemandangan spektakuler, yang merupakan objek wisata lokal favorit mereka. Ibaratnya, Jeju itu adalah Bali-nya Indonesia. Saat pertama kali meng-Google Jeju Island, hasil gambar yang pertama kali menarik perhatian gue adalah foto pantai yang dikelilingi oleh bunga-bunga berwarna kuning! Cantiknyaaa… I want to see it and take picture between the yellow flowers!

Setelah gue googling lebih lanjut, kemungkinan bunga-bunga kuning itu bisa gue temukan di Sunrise Peak. Jadilah gue memasukkan Sunrise Peak ke dalam itinerary. Lalu bagaimana kenyataannya? Berhasilkan gue menemukan si bunga-bunga kuning yang cantik itu?

Foto bunga kuning yang gue dapet via Google.

Begitu sampai di bandara Jeju, gue mendapatkan pembatas buku yang menampilkan foto bunga-bunga kuning di pinggir pantai. Kemudian sepanjang perjalanan menuju berbagai objek wisata di Jeju, gue beberapa kali melihat bunga kuning itu tumbuh liar di pinggir jalan. Musim semi itu musimnya bunga bermekaran bukan? Semakinlah gue yakin gue akan melihat hamparan luas bunga kuning yang sampai sekarang, gue tidak tahu apa nama bunganya.

Akhirnya gue pun tiba di Sunrise Peak. Begitu turun dari mobil, gue belum melihat si bunga kuning. Ketika gue mulai menanjak… oh my God… yang terlihat hanya hamparan rumput luas berwarna hijau 😦 Begitu gue sampai ke puncak pun, tidak ada satupun bunga kuning yang gue temukan di tempat itu! Hiiks, kecewa 😦

Begitu kembali lagi ke mobil, gue bertanya pada Andy, tour guide gue, soal bunga-bunga kuning itu. Dan dia bilang, dia sudah lama tidak melihat bunga kuning di Sunrise Peak. Seingat dia, terakhir kali dia melihat bunga itu di sana sudah hampir 10 tahun yang lalu! Kemungkinan, bunga itu tidak banyak tumbuh karena udaranya masih dingin.

Well, I guess I was not lucky then 😦

Meskipun gagal menemukan hamparan bunga kuning, gue tetap menganggap pulau Jeju sebagai pulau yang cantik. Berikut ini gue capture daftar keindahan Jeju yang sempat gue nikmati selama berlibur 3 hari 2 malam di pulau itu.

Sunrise Peak

Most of people say, Sunrise Peak is number one tourist attraction in Jeju. It’s a must visit place. Yang tidak gue sangka, ternyata, untuk bisa menikmati cantiknya Sunrise Peak, kita harus naik ke atas lembah sekitar lima belas menit lamanya! Begitu sampai di parkiran, gue langsung melirik ke arah puncak lembah… dan gue pun bergidik ngeri. Gue sanggup nggak yaa, naik sampai ke atas? Angin sedang berhembus cukup kencang dan udaranya juga sedang terasa sangat dingin!

But the good thing of the cold wind is it helps avoiding you from easily get tired! Capek itu sudah pasti, tapi gue enggak keringatan sama sekali lho. Bahkan saat sudah hampir sampai atas, gue malah tidak menyangka sudah mau sampai atas. Tidak seberat yang gue kira juga ternyata. Yaaa, walaupun dikit-dikit gue memilih untuk berhenti atau duduk sejenak, hehehehe.

Setiap sisi di Sunrise Peak menampilkan keindahan yang berbeda-beda. Ada yang menampilkan tampak atas perkotaan pinggir laut, pemandangan batu karang yang menjulang kokoh, laut yang tampak tenang, atau sekedar hamparan rerumputan. Memang tidak seindah yang gue kira, but still I think that Sunrise Peak was beautiful.

Tiara, my travel mate, in Sunrise Peak.

Masih menurut Andy, Sunrise Peak sore itu tampak kurang cantik karena langit sedang tidak cukup cerah. Sudah bunga kuningnya sedang tidak tumbuh, langitnya sedang tidak cukup cerah pulaaa. Gue benar-benar kurang beruntung! Setidaknya saat itu tidak turun hujan, sehingga gue bisa menikmati Sunrise Peak sampai ke atas puncak 🙂

Oeldogae Rock

Batu karang raksasa ini diberi nama Oeldogae yang artinya “kesepian”. Nggak ngerti juga asal-usul nama tersebut, yang jelas, tempat ini merupakan salah satu lokasi syuting Jewel in the Palace. Yup… gue sengaja datang ke tempat ini hanya karena Jang Geum pernah ada di sini, hehehehehe.

Begitu gue melangkah turun ke objek wisata yang satu ini, gue langsung terpukau… Pemandangannya cantik, melebihi ekspektasi gue sendiri. Bahkan menurut gue, pemandangan di sini masih lebih cantik daripada pemandangan di Sunrise Peak.

 

 

 

 

 

 

Tempat ini punya jalur tracking yang kelihatannya cukup makan waktu. Yang gue dan teman-teman lakukan hanya terus berjalan sampai menemukan lokasi syuting Jewel in the Palace. Setelah puas berfoto di sana, kita berputar balik dan kembali menuju mobil di parkiran.

Manjang Cave

Alasan gue mengujungi gua ini hanya satu: karena katanya, this is the longest lava tube in the world. Panjangnya sekitar 1 kilomoter. Sebagai traveler, gue selalu ngerasa wajib mengunjungi tempat yang serba “paling” di dunia. Setelah sebelumnya pernah mengunjungi patung Budha dan patung Dewa terbesar di negara-negara lainnya, kali ini di Korea, gue mengunjungi lava tube yang paling panjang di dunia.

Yang namanya gua, ya pemandangannya hanyalah gua. Langit-langitnya tinggi, gelap, dan sangat dingin! Untunglah masih ada lampu-lampu sorot yang dipasang di dalam membuat gua ini jadi terlihat lebih terang dan juga lebih cantik.

Tips buat kalian yang ingin mengunjungin Manjang Cave:

  1. Bawa pakaian hangat. Tangan gue sampai terasa beku gara-gara cuma mengenakan t-shirt dilapis sweater tipis; dan
  2. Pakai sepatu, jangan sandal. Yang namanya gua, sudah tentu track-nya tidak mulus. Tambah risky karena banyak tetesan air yang membuat permukaan menjadi licin.

Pada saat gue hendak memasuki mulut gua, petugas di sana, via Andy, mengingatkan gue tentang tidak baik mengenakan sandal ke dalam gua. Maka gue pun dipersilahkan meminjam, secara gratis, salah satu sepatu karet yang khusus disediakan untuk tamu. Sayangnya ukuran sepatu di sana kecil-kecil, sehingga malah bikin kaki gue jadi lecet. Dan tau nggak siiih, setelah gue keluar dari dalam gua, gue beberapa kali menemukan cewek-cewek yang pakai high heels masuk ke dalam gua! Woow…

Three Beautiful Waterfalls

Ada 3 air terjun yang cukup populer di pulau Jeju. Pada kesempatan yang lalu, karena keterbatasan waktu, gue hanya sempat mengunjung 1 air terjun saja: Jeongbang waterfall. Gue dan teman-teman memilih air terjun ini berdasarkan rekomendasi dari Andy dan gadis remaja yang kami temui di sebuah restoran.

Sayangnya saat melihat air terjun ini… gue dan teman-teman serempak berpikiran, “Cuma begini doang? Apa bagusnya???”

Kalau dilihat sepintas, memang biasa-biasa saja. Rasanya gue pernah melihat air terjun yang lebih cantik di daerah Sukabumi. Tapi setelah melihat hasil foto yang diambil oleh Andy, wah… fotonya bagus! That has become one of my favorite photos in Jeju.

Ukuran air terjun Jeongbang relatif lebih besar jika dibandingkan Cheonjeyeon dan Cheonjiyeon. Memang bukan yang paling cantik, tapii, Jeongbang ini merupakan satu-satunya air terjun di Asia yang turun langsung menuju lautan. Sayangnya pada foto di atas, tidak terlihat bahwa sebetulnya saat itu, gue sedang berfoto di pinggir laut.

Oh ya, meskipun gue tidak mengunjungi 2 waterfall lainnya, akan tetap gue share di sini foto keduanya yang gue dapatkan via Google.

Cheonjeyeon Waterfall

Cheonjiyeon Waterfall

Overall, I agree that Jeju is beautiful. Apalagi kata Andy, masih ada banyak tempat seperti Oeldogae di daerah Jeju! Sayangnya tentu saja, 3 hari tidak cukup untuk explore kecantikan Jeju. Gue masih belum mengunjungi Halla Mountain yang juga terkenal dengan keindahannya, dan tentunya, gue belum berhasil menemukan hamparan bunga kuning di pinggir lautan itu, hehehehe.

Well, let’s just hope that someday I’ll be back to experience more of Jeju beauty 🙂