People in South Korea

Beberapa bulan menjelang keberangkatan ke Korsel, gue nonton video yang di-share salah satu teman Twitter gue. Isinya menampilkan reaksi penduduk Seoul saat menghadapi turis asing yang nyasar. Saat turis yang nyasar itu diperankan oleh bule berambut pirang, semua orang Korea yang ditanya menjawabnya dengan friendly. Tapi saat turisnya diperankan oleh orang Indonesia… si orang Indonesia itu selalu aja dicuekin!

Sejujurnya gue sempat worry… gimana kalo nanti gue nyasar??? Whatever it is, the show must go on, right?

Lalu benarkah isi video itu… bahwa penduduk Korsel tidak ramah terhadap turis Indonesia?

Secara singkat gue jawab, video itu TIDAK benar sama sekali!

Berikut daftar pertolongan dan keramahan yang gue terima dari Penduduk Korsel…

  1. Tidak pernah sekalipun gue dicuekin saat hendak bertanya soal jalan;
  2. Pernah ada cowok yang rela mengantar kita berjalan kaki hingga sampai di tempat tujuan;
  3. Pernah ada kakek-kakek petugas kebersihan stasiun MRT yang meskipun tidak bisa Bahasa Inggris, dia tetap berusaha keras untuk menunjukkan arah;
  4. Staf di Hongdae Guesthouse menawarkan diri membuatkan sebuah kartu yang bisa gue tunjukkan ke penjual makanan supaya gue tidak diberikan makanan yang mengandung babi;
  5. Ada pula cowok yang bersedia bantu gue ngecekin makanan beku di dalam minimarket satu per satu… hanya untuk sekedar memastikan makanan tersebut tidak mengandung unsur babi;
  6. Andy Choi, tour guide gue selama di Jeju, orangnya ramah, baik hati, dan pengertian banget. Dia juga udah banyak bantu gue cari makanan yang tidak mengandung babi;
  7. Masih soal makanan, petugas hotel di Jeju bantu kasih daftar restoran yang bisa kita kunjungi, dan menyampaikan hal itu ke supir taksi yang dia pesan khusus untuk gue dan teman-teman;
  8. Ada mahasiswi yang bantu menanyakan ke gue dalam bahasa Inggris, “Ingin makan apa?” kemudian dia menterjemahkan jawaban gue ke ibu-ibu yang berjualan makanan ringan di sana;
  9. Pramuniaga di salah satu toko di Insa-dong dengan baik hatinya membukakan payung untuk gue saat melihat gue kerepotan dengan begitu banyaknya kantong belanjaan;
  10. Ibu-ibu penjual minuman di jeju tersenyum lebar sama gue, menyentuh betis gue, kemudian mengacungkan jempol dengan wajah berseri-seri. Beginilah resiko punya kaki jenjang ala personel SNSD, hehehehe;
  11. Seorang eksmud di salah satu gedung bank membantu gue mencari mesin ATM yang bisa menerima international card. Dia juga bantu mengubah bahasa mesin menjadi English;
  12. Beberapa penduduk lokal (kebanyakan sih cowok) ngajak gue ngobrol soal negara asal, ke Korsel dalam rangka apa, dsb dsb…

Gue memang tidak sampai 2 minggu tinggal di Korsel… tapi semua itu membuat gue sangat-sangat yakin bahwa penduduk Korsel mempunyai keramahan yang luar biasa. Sama sekali tidak benar mereka mendiskriminasi turis dari Indonesia.

Kemudian soal penampilan gue yang berjilbab… ya memang sering jadi pusat perhatian sih. Suka ada aja orang-orang yang terang-terangan melihat gue dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tapi kalo gue sih enggak ambil pusing. Gue menganggapnya sama kayak orang Indonesia ngelihat turis bule di Jakarta; suka dilihatin tapi bukan bermaksud untuk melecehkan. Ada sih, satu bapak-bapak yang setelah diterjemahkan oleh turis lain, bapak-bapak itu berkomentar bahwa gue akan lebih cantik kalo nggak pake jilbab. Tapi daripada sewot, gue dengan pedenya menjawab, “I’m beautiful just the way I am.”

Well, kalo mau positive thinking… sebetulnya itu sama aja dengan pujian kalo gue ini cantik kaaan? Hehehehe.

Penginapan di Seoul

Selama berlibur di Seoul, gue dan teman-teman sempat menginap di 2 tempat yang berbeda. Yang pertama di Sky Hotel Incheon, dan satu lagi Hongdae Guest House yang terletak dekat dengan Hongik University. Berikut ulasannya!

 

Sky Hotel

Sky

Kamar mandi Sky Hotel yang girly banget itu…

Untuk 2 malam pertama, kita memutuskan untuk menginap di kawasan bandara. Kenapa? Karena di hari pertama, kita baru tiba nyaris tengah malam, kemudian besok lusanya, kita harus naik penerbangan pertama dari Seoul menuju Jeju.

Sky Hotel ini sebetulnya tidak terletak di dalam kawasan bandara, tapi enaknya, kita bisa minta dijemput dari bandara, jam berapapun, tanpa dikenakan biaya tambahan. Jadi begitu mendarat di Incheon, gue tinggal cari ‘Tourist Information’, lalu pinjam telepon untuk menghubungi Sky Hotel, setelah itu kita tinggal menunggu jemputan di pintu keluar yang telah ditentukan. Sayangnya mereka hanya melayani free shuttle to Incheon, tidak ke Gimpo (bandara tempat Jeju Air beroperasi). Untunglah mereka setuju untuk mengantar kita sampai stasiun MRT supaya kita tidak usah jalan kaki sambil bawa-bawa koper.

Dari segi kebersihan dan kualitas furniture, gue dan teman-teman tidak menemukan masalah. Air panasnya mengalir dengan lancar dan petugas hotelnya pun terbilang ramah untuk ukuran hotel dengan harga terjangkau seperti ini. Makin menyenangkan karena dekorasinya yang girly; teman-teman gue sampai bergantian foto sendiri-sendiri di dalam kamar mandi imutnya, hehe…

Dari segi lokasi juga cukup menyenangkan kalo menurut gue. Persis di seberang hotel, terdapat 2 minimarket tempat gue beli sarapan, dan kita hanya perlu berjalan kaki sekitar lima sampai sepuluh menit untuk sampai ke stasiun MRT terdekat. Saat malam harinya pun, tidak sulit buat kita mencari tempat untuk makan. Lokasi yang strategis untuk kita yang membutuhkan penginapan dekat bandara dengan harga yang masih terjangkau.

 

Hongdae Guesthouse

Sepulangnya dari Jeju, gue dan teman-teman langsung check-in ke Hongdae Guesthouse. Memang hanya Guesthouse, tapi lokasinya sangat-sangat dekat dengan stasiun MRT. Sederhana tapi fasilitasnya cukup memadai, ada water heater, water dispenser, bahkan seperangkat komputer yang dilengkapi dengan high-speed wi-fi! Dari segi kebersihan tidak kita temukan ada masalah, dan keramahan staf di sana terasa berkesan buat kita semua. Benar-benar melebihi ekspektasi kita banget deh.

Kamar yang kita tempati itu modelnya mirip-mirip loft apartment; terdiri dari 2 lantai, dan sebetulnya bisa menampung sampai 7 orang. 4 orang di lantai bawah, dan 3 orang di lantai atas. Untuk yang tidur di lantai atas harus hati-hati… ceiling-nya sangat rendah sehingga tidak memungkinkan untuk berdiri. Intinya sih, rawan kejedot kalo belum terbiasa, hehehe… Oh ya, meskipun kapasitas kamar untuk 7 orang, kamar mandi dalam kamar tetap cuma ada satu sehingga butuh waktu yang cukup lama sampai gue dan 5 orang teman seperjalanan selesai mandi.

Lantai bawah...

Lantai bawah

Hongdae 2

Lantai atas

Hongdae Guesthouse letaknya berseberangan dengan kompleks pertokoan yang ramai dikunjungi oleh mahasiswa dan mahasiswi dari Hongik University. Banyak café, fast food restaurant, bahkan, Hello Kitty Café favorit gue itu juga letaknya tidak jauh dari sini. Ada pula semacam warung tenda yang menjual berbagai jenis camilan khas Korea. Favorit gue itu malah okonomiyaki yang sebetulnya makanan khas Jepang. Pulang dari Korea, gue langsung pesan okonomiyaki saat tengah makan siang di Sushitei, hehehehe.

Hongdae Guesthouse ini sebetulnya memang cukup populer di kalangan backpackers Indonesia. Staf di sana bahkan mengaku kenal dengan salah satu penulis traveling book di Indonesia yang memang pernah mengulas tentang guesthouse ini di salah satu buku perjalanannya. Isi buku itu emang bener banget deh… Hongdae Guesthouse is highly recommended for budget travelers.

Shopping in Seoul

Dalam setiap aktivitas traveling, biasanya gue selalu punya satu hari khusus untuk belanja oleh-oleh. Saat hendak berangkat ke Korsel pun, gue udah list down shopping area di Seoul yang ingin gue kunjungi. Berikut laporannya!

Namdaemun market

Kalo mau belanja oleh-oleh murah meriah, di sini tempatnya! Tipe pasar yang harganya bisa ditawar, terutama kalau kita beli dalam jumlah besar. Tapiii, nawarnya jangan kelewat sadis ya! Pedagang di sana suka tersinggung kalo kita nawar terlalu murah. Mereka bakal bilang, “This is made in Korea, not China!” Oh ya, pedagang di sana umumnya menguasai basic English. Nggak jago, tapi sudah cukup untuk mempermudah transaksi jual-beli.

Toko-toko di Namdaemun umumnya menjual jenis barang yang sama persis, jadi jangan malas compare harga sebelum membeli. Oleh-oleh favorit gue di sini set sendok + sumpit (ada banyak jenis, makin bagus kualitas bahan, ukiran, dan kemasannya, harganya juga makin mahal), gantungan boneka Teddy Bear yang pake hanbok (jangan beli gantungan jenis ini di tempat lain, karena di Namdaemun udah paling murah dan kualitasnya juga bagus), dan berbagai macam gantungan kunci (dari semua negara yang pernah gue kunjungi, gantungan kunci khas Korea ini yang paling lucu). Untuk oleh-oleh makanan, nori di sana enak banget. Ada banyak jenisnya, jadi jangan ragu untuk minta sampel sebelum membeli. Trus banyak dijual teh ginseng, tapi… rasa tehnya nggak enak banget! Kalo kata yang jual siih, teh ini berkhasiat untuk menyehatkan jantung.

Namdaemun terbagi jadi dua: area indoor dan outdoor. Take note area indoor tutup di hari Minggu. Tapi nggak usah khawatir, belanja di area outdoor-nya saja udah cukup kok. Gue juga dateng ke sana waktu hari Minggu. Hanya saja kata penjual di sana, aksesoris yang berbau Korean pop star lebih banyak dijual di dalam gedung.

Untuk sampai ke Namdaemun market, naik kereta line 4, turun di stasiun Hoehyeon dan keluar di Exit 5. Begitu melangkah keluar dari stasiunnya, di situlah Namdaemun market. Banyak turis yang bilang Namdaemun market itu kumuh, tapi kalo menurut gue, masih lebih bagus daripada pasar Tanah Abang lama, hehehehe. Gue pribadi suka belanja di sini, dan cuma Namdaemun saja satu-satunya shopping area yang gue kunjungi sampai 2 kali.

This slideshow requires JavaScript.

 

Dongdaemun

Dongdaemun ini terkenal sebagai pusat grosirnya Seoul. Mirip-mirip tanah abang, satu kompleks pusat perbelanjaan yang terdiri dari beberapa shopping mall. Hanya saja bedanya, Dongdaemun ini ukurannya jauh lebih luas daripada Tanah Abang. Saking luasnya, di kawasan shopping complex ini sampai ada 2 MRT station. Meski begitu, nggak usah takut nyasar! Kita dapat dengan mudah menemukan peta di dalam stasiun MRT yang menampilkan berbagai pusat perbelanjaan di kawasan tersebut.

Untuk sampai di Dongdaemun shopping complex, kita bisa memilih untuk turun di statsiun Dongdaemun History & Culture Park. Saat hendak mencari jalan keluar stasiun, gue menemukan pintu masuk menuju Goodmorning City. Jadilah Goodmorning City tempat pemberhentian pertama gue untuk belanja.

Konsep Goodmorning City dan juga shopping malls lainnya di Dongdaemun itu menyerupai ITC di Jakarta. Isinya deretan toko yang menjual berbagai jenis fashion items yang harganya masih bisa ditawar. Kalo kamu penggemar baju-baju Korea yang sering dijual di online shops itu, maka di sinilah pusat belanjanya!

Melihat baju-baju lucu itu, sudah tentu gue tidak sabar ingin segera membeli. Tapi saat itu gue berpikir… Goodmorning City terlihat terlalu bagus untuk tempat belanja murah (dan memang harganya enggak semurah Namdaemun) sehingga gue memutuskan untuk terlebih dulu membandingkan harga dengan mall lain di Dongdaeumun. Tapi sayangnya, begitu gue keluar gedung, ternyata sedang turun hujan yang cukup deras. Gue pun kembali lagi ke dalam mall untuk mencari payung… and thank God it was raining… pencarian payung membawa gue pada payung Hello Kitty yang lucuuuu banget. Untuk barang yang kemungkinan besar memang asli Sanrio itu, harga yang hanya Rp. 120.000 sudah tentu termasuk murah. Gue pernah lihat payung setipe ini dijual dengan harga di atas Rp. 300.000 di salah satu Facebook online shop. Such a tempting profit huh?

Keluar dari Goodmorning City, gue masuk ke AM/PM. Mall ke dua ini terlihat lebih tua dan lebih sederhana daripada Goodmorning City. Barang-barang yang dijual hampir sama persis, dan di sinilah akhirnya gue putuskan untuk membeli baju-baju dan sepatu lucu untuk dibawa pulang. Gue juga menyempatkan makan siang di foodcourt dalam mall ini.

Puas belanja di AM/PM, gue putuskan untuk beralih ke Insa-dong. Padahal sebetulnya, masih banyak mall di Dongdaemun yang belum gue datangi. Ada pula satu mall yang seluruh lantainya khusus menjual sepatu! Tapi karena keterbatasan waktu, gue lebih memilih untuk beralih ke Insa-dong.

 

Insa-dong

Insa-dong ini sebetulnya daerah yang khusus menjual barang-barang seni. Ada beberapa art gallery, atau sekedar toko kecil yang khusus menjual kerajinan tangan yang umumnya bernuansa tradisional Korea. Jangan bayangkan Insa-dong ini seperti pasar grosir ala Tanah Abang yah, karena Insa-dong ini konsepnya beberapa ruas jalan yang di kanan-kirinya berjejer toko-toko. Suasananya jauh lebih rapih daripada Namdaemun, lebih bersih, dan kualitas barang-barangnya juga lebih bagus. Tapi tentu saja, harganya pun bisa berkali-kali lipat lebih mahal daripada Namdaemun.

Dua hal yang paling gue suka dari Insa-dong adalah premium Korean t-shirt dan berbagai souvenir Hello Kitty. Gue berhasil menemukan boneka Hello Kitty yang mengenakan hanbok di salah satu toko souvenir di Insa-dong (barang-barang HK di toko itu semuanya asli Sanrio, jadi jangan heran jika melihat label harganya). Di toko yang sama, gue juga membeli beberapa buah t-shirt yang bertuliskan kaligrafi Korea. Tanpa perlu melihat label harga, sudah jelas terlihat t-shirt ala Insa-dong ini mempunyai kualitas yang lebih baik dan juga terlihat lebih mewah daripada t-shirt ala Namdaemun. Padahal t-shirt yang gue beli di Namdaemun itu saja kualitas produknya udah termasuk bagus lho.

Saat berkunjung di Insa-dong, gue beberapa kali bolak-balik menyusuri jalan yang sama, just to make sure I did not miss anything out there. Gue suka sama suasananya, suka pula sama keramahan pramuniaganya, kualitas produknya, yang mana semua itu membuat gue ngerasa apa yang gue beli itu emang worth the price. So if you have more budgets to buy something for your families, lovers, or best friend, this is definitely the right place to shop.

P.s.: salut buat badan pariwisata Korea… mereka sadar di Insa-dong ini banyak turisnya, sehingga jangan kaget kalau melihat ada 2 orang yang menyusuri jalan dengan payung bertuliskan “Tourist Information”. They were so helpful to find the shop I was looking for. Thanks!

 

Myeong-dong

Myeong-dong ini konsepnya lebih mirip ke Insa-dong daripada Namdaemun, hanya saja, Myeong-dong ini lebih luas, lebih ramai, produknya lebih bervariasi, dan lebih banyak menjual barang-barang dengan well-known brand. Jangan heran jika kalian menemukan ada lebih dari satu toko Etude dan Face Shop di shopping area ini. Gue berhasil melengkapi daftar titipan make-up teman-teman gue saat berbelanja di Myeong-dong. Sekedar info, kosmetik made-in Korea dijual dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga jual di Indonesia. Selisih harganya bisa lebih dari 50% lho.

Selain menyediakan merk-merk yang terbilang populer, ada pula beberapa toko kecil yang menjual  produk-produk yang sifatnya eksklusif. Ada satu toko yang harga handmade souvenir-nya luar biasa mahal, tapi ada juga yang masih terjangkau. I bought two very cute pens in that store. Ada pula toko sepatu kecil, yang letaknya agak tersembunyi di ujung jalan, yang menjual koleksi sepatu yang tampak manis dan feminim. Hanya saja sayangnya, bahkan ukuran sepatu terbesar di sana pun masih nggak muat buat gue 😦

Oh ya, gue juga sempat menemukan beberapa toko pakaian yang konsepnya mirip-mirip factory outlet di Indonesia. Toko-toko ini biasanya terdiri dari 2 lantai yang cukup luas dengan berbagai koleksi t-shirt yang lucu-lucu, mulai dari t-shirt bergambar Hello Kitty sampai Korean premium t-shirt ala di Insa-dong. So if you want to do some fashion shopping, then Myeong-dong could be a good choice.

 

Everland Souvenir Shop

Sama seperti kegemaran gue belanja di Disneyland, gue juga seneng banget waktu belanja di Everland. Di sana gue beli satu boneka little fox yang baru pertama kali gue lihat di kebun binatang Everland, dan beberapa souvenir Teddy Bear. Saking lucunya benda-benda itu, dalam hati gue berujar… “Aduh… ikhlas nggak yaa, gue kasih ini ke orang lain? Apa gue simpen buat diri gue sendiri aja yaah?” Hehehehe.

Barang yang dijual di toko ini ya tipikal toko-toko dalam amusement park lah yaa. Ada t-shirt, mug, boneka, pulpen, pensil, aksesoris rambut, dan masih banyak lagi! Untuk harga jelas relatif mahal. Gue beli oleh-oleh di sini cuma untuk teman-teman yang gue anggap teman baik aja. Yup… pada akhirnya, semua benda lucu itu berhasil gue ikhlaskan untuk orang lain, hohohoho.

 

Kesimpulannya, gue bisa bilang Namdaemun itu the best place buat belanja oleh-oleh, Insa-dong the best place buat belanja barang-barang yang sifatnya unik, dan Dongdaemun the best place untuk beli baju dan sepatu lucu dengan harga relatif murah. Buat yang niat bisnis, sudah tentu harus datang ke Dongdaemun. Pedagang di sana sudah terbiasa mengekspor barangnya ke negara lain. Jika kita serius mau jadi partner bisnis, mereka akan kasih kartu nama dan katalog produk terbaru akan selalu mereka kirim via e-mail.

If someday I go back to Seoul, I definitely will go back to Insa-dong and Dongdaemun. My shopping day in Seoul was my best day during that trip and I simply want to have such another great day like that! And maybe next time… I’ll be there for a business purpose too, hehehehe.

Jeju Glass Castle

Oh my God… udah tepat setahun sejak liburan gue ke Korsel tapi rangkaian trip story di blog gue ini masih aja belum selesai! So here I am… bertekad buat menyelesaikan tulisan gue itu di minggu ini, hehehehe.

Today I’m going to write about Jeju Glass Castle, sejenis museum yang menampilkan berbagai jenis masterpieces yang terbuat dari kaca. Cuma di tempat ini gue pernah melihat taman bunga yang terbuat dari kaca, kereta labu Cinderella, mirror maze, dan berbagai jenis exhibit cantik lainnya. Kumpulan benda-benda kaca itu tersebar mulai dari museum indoor sampai dengan outdoor park. Favorit gue tentu saja outdoor park-nya 🙂

Check the slide below for my favorite pictures in this place!

This slideshow requires JavaScript.

Jeju Glass Castle mungkin bukan atraksi yang menarik buat semua orang, tapi kalo buat gue, it felt like a new experience. Menyenangkan buat cuci mata, menyenangkan juga buat foto-foto. Lokasi Jeju Glass Castle relatif dekat ke bandara dan agak jauh dari Jungmun Resort. Hope this could give you a clue in preparing the itinerary.

 

DMZ Tour, South Korea

Di Seoul, terdapat 2 wisata perbatasan Korsel-Korut yang paling populer: Joint Security Area (JSA) dan Demilitarized Zone (DMZ). Sesuai namanya, JSA merupakan satu area di mana terdapat tentara Korsel dan Korut yang sedang bertugas menjaga perbatasan, sedangkan DMZ merupakan wilayah tidak berpenghuni yang terletak di antara Korsel dan Korut.

Pada saat tahap persiapan, gue sempat bingung… pilih DMZ atau JSA? Masing-masing tur memakan waktu sekitar 6 s/d 8 jam, sehingga sayang rasanya jika belasan jam habis untuk wisata yang berbau-bau perbatasan Korea.

Salah satu travel agent yang gue hubungi (untuk kedua jenis tur ini wajib menggunakan jasa travel agent) mengatakan bahwa JSA lebih menarik daripada DMZ. Based on review yang gue baca pun, atmosfer tur di JSA itu menegangkan tapi menyenangkan. Bayangin aja… sederet tentara Korsel dan sederet tentara Korut saling berdiri tegak berhadapan… Banyak orang suka berlelucon, jika sampai kembali pecah perang, maka orang-orang yang sedang berada di JSA itulah yang nanti akan mati duluan 😀

Setelah diskusi panjang lebar dengan teman-teman seperjalanan, akhirnya pilihan jatuh kepada DMZ. Alasannya, durasi tur DMZ lebih singkat dari JSA. Kemudian ada teman gue yang penasaran kepingin masuk ke dalam terowongan bawah tanah sisa masa-masa perang di jaman dulu, dan terowongan ini hanya bisa kita temui di DMZ, bukan JSA. Pertimbangan lainnya, prosedur memasuki JSA itu lebih ribet daripada DMZ. Harus ada digital passport segala (bingung juga… apa sih yang mereka maksud dengan digital passport?).

Ya, JSA memang lebih strict, itu sebabnya tidak semua agent boleh menjadi penyelenggara utama dari tur ini. Untuk mengakalinya, ada banyak travel agent yang menjadi ‘feeder’ di mana turis yang mereka bawa akan diserahkan kepada penyelenggara berlisensi itu.

Tiba pada hari H, rombongan dibawa mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang berlokasi di sana. Selama berada di sana, gue selalu aja nemuin orang-orang yang berusaha buat ‘mengintip’ negara Korut di seberang sana. Mulai dari memasukkan uang koin untuk mengaktifkan teleskop, sampai ada juga cowok yang sampe sengaja gendong ceweknya di atas pundak hanya supaya si cewek bisa mengambil gambar Korut dengan lebih jelas!

Korut terletak persis di ujung sana… di belakang gue.

Yang paling gue suka dari DMZ adalah pada saat berkunjung ke Dorasan Station. Bukan karena gue bisa lihat bangkai kereta jaman perang dulu (jangankan keretanya, ngelihat rel keretanya juga enggak tuh, enggak sampe diajak  masuk ke dalem banget sih), melainkan karena di sana ada beberapa tentara ganteng! Tinggi, putih, perut rata, dada yang bidang… ouch, rasanya udah kayak ngelihat artis Korea, hehehehe.

My favorite army 😉

Kemudian yang paling gue nggak suka dari tur DMZ malah si terowongan itu sendiri. Awalnya gue excited mau masuk ke ex war tunnel untuk pertama kalinya, tapi ternyataa, tunnel-nya itu rendah banget! Cewek jangkung kayak gue mau nggak mau harus jalan sambil bungkukin badan. Nggak keitung berapa kali kepala gue kejedot terowongan (thank God semua pengunjung diwajibkan pakai helm), sehingga lama-lama gue jadi stres takut kejedot lagi. Dalam hati gue berharap supaya cepet-cepet sampe ujungnya dan bisa puter balik ke mulut terowongan.

Entah ini monumen apa… nggak ngerti sama tulisannya 😀

Oh ya, selain menderita karena harus jalan bungkuk sambil kejedot-jedot, penderitaan lainnya adalah jalan menanjak menuju pintu keluar. Makanya saat gue melihat ada tempat duduk, rasanya kayak melihat surga! Gue biarin temen-temen jalan duluan sementara gue beristirahat dulu. Kemudian saat gue ngelirik ke kanan dan ke kiri… ya ampuuun, gue itu satu-satunya anak muda yang duduk istirahat di deretan bangku itu! Whoaa, jadi malu, hehehehe.

Overall, meskipun gue tidak menilai DMZ as one of the best destinations in Korea, tapi kalo dipikir-pikir lagi… pengalaman yang gue dapatkan lumayan seru. Gue jadi bisa pamer ke orang-orang, “Gue pernah lho, masuk ke dalem terowongan bawah tanah sisa perang jaman dulu di Korea.” At least, it’s one life time experience lah yaa 🙂 Tapi tetep aja sih… kalo saran gue, misal kalian juga punya keterbatasan waktu, lebih baik pilih JSA daripada DMZ.

Karimunjawa Trip: The Last Day

Sudah baca cerita hari pertama dan ke dua gue di sini? Kalau sudah, ini lanjutannya!

Sunrise at Nirwana Resort

Secara dadakan, gue dan roommates minta dibawa lihat sunrise ke Nirwana Resort. Ada extra charges, secara hal ini tidak include di dalam itinerary, tapi nggak mahal dan hasil foto-fotonya bikin gue ngerasa sangat puas 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain menikmati sunrise, gue dan teman-teman juga diajak naik ke atas batu karang. Dan bukan cuma itu… kita bahkan nekad masuk ke dalam gedung resort meskipun sebetulnya, kita bukan tamu hotel tersebut. Tapi sepertinya nggak masalah… Secara untuk masuk ke sana pun, gue dikenakan entrance fee. Lagipula resort ini memang sering dijadikan tourist destination, bahkan oleh mereka yang tidak menginap di sana.

Nah, masih belum puas foto… kita tetep sibuk foto-foto di area luar resort. Selalu adaaa aja objek yang bisa kita jadikan background foto. Hasil fotonya? Check these out!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekedar info, Nirwana Resort merupakan satu dari sedikit sekali hotel ‘berbintang’ di Karimunjawa. So if you wish to have a decent place to stay, this resort could be a right choice.

Snorkeling on the last day

Niat awalnya, gue nggak kepengen nyemplung lagi di hari berikutnya. Percuma nyemplung kalo setiap kali gue coba snorkeling yang ada malah mulut gue kemasukan air laut. Tapi waktu gue lagi asyik ngasih makan ikan dari atas perahu, tiba-tiba gue kepikiran… gue belum punya foto sedang dikelilingi ikan-ikan kecil itu. Akhirnya gue pun melepas kain pantai, mengenakan jaket pelampung, dan langsung nyebur ke dalam air laut. Dan ternyata fish feeding could be so fun!

Selesai fish feeding, tiba-tiba aja gue tergoda buat kembali mencoba snorkeling. Strateginya, sebelum masuk ke dalam air, gue latihan napas menggunakan snorkel gue di daratan. Waktu masih di atas, rasanya mudah. Tapi pas udah sampe bawah, yang ada gagal lagi dan lagi! Meskipun gagal, ceritanya gue belum nyerah. Gue bahkan setuju ikutan pake fin, dibantuin sama Pauline. Sulitnya pake fin dalam air juga udah jadi memory yang bisa bikin gue jadi malu sendiri, hehehehe.

Fin berhasil terpasang, gue coba lagi snorkeling, dan yah… masih gagal juga. Trus tau-tau aja gue udah sampe tempat yang karangnya tuh besar-besar banget. Dengkul gue sempet nabrak karang, legging gue sampe sobek di bagian lutut. Yang ada gue malah jadi ngeri… tambah ngeri saat dengar di karang-karang itu suka ada bulu babinya! Gue pun memutuskan untuk putar balik dan kembali naik ke perahu.

Dalam perjalanan kembali ke perahu, setelah terbebas dari karang-karang besar, gue kembali mencoba snorkeling. Cantiknya pemandangan bawah laut kembali membuat gue terpesona, hingga tanpa gue sadari… gue udah berhasil snorkeling dalam waktu yang cukup lama! Saat gue kembali ke permukaan, ternyata gue sudah dekat ke perahu. Dan bukannya meneruskan niat awal balik ke perahu, yang ada gue malah balik badan dan kembali mencari pemandangan bawah laut yang bisa gue nikmati. Yaaay, I finally could do it right, hehehehe.

Setelah berputar-putar cukup lama, acara snorkeling gue terpaksa berakhir gara-gara nggak sengaja nabrak perahu gue sendiri. Waktu terbentur perahu, snorkel gue sampe copot, otomatis air laut pun berebut masuk ke tenggorokan dan telinga gue. Keasyikan snorkeling bener-bener bikin gue lupa daratan, dalam artian yang sebenarnya, hehehehe.

Begitu naik ke atas perahu, gue bilang sama Lili, “Gue jadi pengen balik lagi ke Phuket… nyesel waktu itu nggak snorkeling di sana.”

To be honest, pemandangan alam Phuket jauh lebih cantik daripada Karimunjawa. Pikiran sederhana gue, bisa jadi pemandangan bawah lautnya pun, jauh lebih cantik Phuket daripada Karimunjawa kan? Kalau tidak ada hambatan, insyaallah, tahun depan gue akan kembali lagi ke Phuket dan mencoba snorkeling untuk yang ke dua kalinya. Ada yang mau ikut? 🙂

The last stop

Setelah selesai acara snorkeling yang terakhir, kita dibawa ke sebuah pulau yang perairannya cenderung dangkal. Lagi-lagi, tempat yang bagus untuk berfoto. Dan kalo menurut gue, warna laut di pulau inilah yang paling cantik jika dibandingkan dengan pulau-pulau kecil lainnya. Perpaduan warnanya sedikit mirip dengan Phi-phi Island. Hanya saja sayangnya, dari beberapa kali foto yang gue ambil, tidak satupun yang berhasil mencerminkan cantiknya perpaduan warna yang gue maksud itu. Hal ini baru bisa tertangkap kamera dalam rekaman video, hanya saja sayangnya, gue nggak berlangganan fitur blog yang supaya bisa upload video. Jadi… gue cuma bisa share foto-foto yang seadanya saja lah yaa.

Liburan membumi, but it was fun!

Dari semua perjalanan gue, sejak kecil hingga dewasa, liburan Karimunjawa inilah yang boleh dibilang paling membumi, alias paling sederhana, dan… yah… paling murah meriah. Kepanasan di hotel, menu makanan seadanya, makan malam beralaskan tikar, island hoping naik perahu ala nelayan… Belum lagi surrounding area yang masih tampak seperti Indonesia tahun 80-an. Tapi setelah gue pikir lagi, justru di situ letak serunya! Gue jadi punya hal yang bisa gue ceritakan selain percobaan snorkeling dan foto underwater gue yang gagal itu, hehehehe.

P.s.: Selain paket hotel (yang mana gue dapat hotel yang lebih mirip kamar kos-kosan), ada pula pilihan paket homestay di Karimunjawa. Sedikit lebih murah, tapi gue sangat-sangat tidak merekomendasikan. Ada beberapa teman yang memilih homestay, dan mereka nyaris tidak bisa tidur saking panasnya. Jadi kecuali kamu tipe orang yang sangat tahan panas, lebih baik pilih paket hotel, cuma beda Rp. 150.000 per malamnya dengan hotel ala kos-kosan gue itu. Tapi jangan lupa yah, itu AC cuma nyala di jam-jam tertentu aja, hehehehe.

Karimunjawa Trip: First & Second Day

Buat yang belum tahu, Karimunjawa merupakan bagian dari kabupaten Jepara. Untuk sampai ke sana, gue naik pesawat ke Semarang. Dari Semarang, gue sewa mobil plus driver menuju pelabuhan Jepara (Semarang-Jepara kira-kira 2 jam perjalanan). Barulah dari Jepara, gue naik kapal cepat menuju Karimunjawa dengan jarak tempuh kurang lebih satu setengah jam.

Hari pertama lebih banyak gue habiskan di hotel saja. Gue kaget banget saat tahu listrik baru akan tersedia jam setengah 5 sore sampai dengan jam 5 Subuh. Artinya, AC baru bisa dinyalakan di jam-jam tersebut saja… hiiiks. Untunglah sebagai gantinya, kita masih boleh minta dinyalakan kipas angin.

Makan malam di bawah cahaya rembulan

Saat hari sudah menjelang sore, gue dan teman-teman pergi berjalan kaki menuju alun-alun. Niatnya mau lihat sunset di bukit Joko Tuo, tapi ternyata si tour guide malah missing in action. Akhirnya gue dan teman-teman lebih memilih untuk duduk-duduk menikmati angin sore, ngobrol-ngobrol, makan gorengan, minum es cendol, dan foto-foto di dermaga dekat alun-alun. And you know what… the sunset was also looked pretty from the pier. Siluet perahu-perahu tua dan cahaya sunset itu terlihat fotogenik.

Sunset @ the pier.

Malam harinya, gue dan rombongan kembali lagi ke alun-alun untuk cari makan malam. Surprise-nya adalah… kita semua makan malam hanya beralaskan tikar di tengah lapangan aja dong… Saat itu gue berpikir… ini sih bener-bener one life time experience. Kapan lagi coba, gue makan malam beralaskan tikar di tengah lapangan kayak gitu? Bahkan rombongan bule di sana pun terlihat menikmati acara makan malam mereka. Kalau mau pake istilah romantisnya… kita semua makan malam di bawah cahaya rembulan, hehehehe.

Wahana ala laut Karimunjawa

Keesokan paginya, gue langsung dandan cantik buat island hoping. Gue sengaja beli satu summer dress, dan repair koleksi kalung lama jaman kuliah dulu, hanya demi mendapatkan dress code yang sesuai untuk liburan kali itu. Jadilah hari itu gue pakai manset hitam, legging hitam, dan summer dress berwarna orange dipadu dengan kalung kayu dan sunglasses. Tapi begitu sampai di dermaga… ternyata kita semua udah langsung disuruh pake jaket pelampung. Terpaksa lah gue copot dress dan kalung gue… Supaya terasa lebih nyaman aja gitu.

Me and my island hoping team^^

Tidak lama setelah boat melaju… barulah gue mengerti alasan kenapa kita semua disuruh pakai life vest. Ombaknya itu lho… dahsyat banget! Secara gue duduk di barisan paling depan, gue benar-benar merasakan betapa serunya saat ombak datang menerjang dari depan. Naik-turunnya boat, atau saat boat miring ke kanan dan ke kiri dihajar ombak, rasanya tuh lebih seru daripada wahana kora-kora di Dufan! Setiap kali melihat gelombang yang cukup tinggi di depan sana, gue dan teman-teman langsung berteriak heboh. Dan saat ombak itu mengguyur wajah dan tubuh kita semua… gue malah ketawa girang sambil bertepuk tangan. Ternyata naik boat yang lebih mirip perahu nelayan itu cukup seru juga loh. Masih goyang-goyang tiap kali ada ombak 😀

Pemberhentian pertama kita bernama pulau Gosong (entah pulau Gosong atau pulau Kosong, not sure). Cuma pulau kecil yang nggak ada apa-apanya, tapi ternyata foto di pulau itu hasilnya cukup seru juga. Gue sempet keseleo waktu berhenti di sana, untunglah ada Lili, dan kemudian ada juga Pauline yang megangin gue saat jalan balik ke perahu. Masalahnya nggak boleh ada ombak dikit, jalan gue langsung miring-miring, hehehehe.

Setelah insiden keseleo di Pulau Gosong… giliran difoto, harus tetep bergaya, hehehehe.

Snorkeling and underwater picture taking

Pada pemberhentian selanjutnya, barulah kita mulai snorkeling babak pertama. That was my first time snorkeling anyway. Sayangnya, pada percobaan pertama, gue gagal terus. Entah kenapa, air terus menerus masuk ke mulut gue. Tapi meskipun sebentar, gue sempat menikmati indahnya pemandangan bawah laut. Batu karang, tanaman laut, ikan-ikan kecil… Bener-bener kelihatan indah! Sekarang gue jadi bisa ngerti kenapa banyak banget orang yang tergila-gila sama snorkeling dan diving. Pemandangan atas dan bawah laut memang benar menyajikan 2 jenis keindahan yang jauh berbeda.

Pada waktu makan siang, kita berhenti di sebuah pulau yang menurut feeling gue, bakal kelihatan fotogenik. Gue pun melepas pelampung dan kembali mengenakan dress dan kalung gue. Hasil fotonya? Look at these pictures below!

Oh ya, hari itu gue sempat memberanikan diri ikutan foto underwater. It was pretty scary for a person who cannot swim like me. Masalahnya untuk dapat hasil foto yang memuaskan, sudah tentu life vest harus dilepas supaya badan tidak terus terapung di permukaan air. Nggak heran kalo foto underwater gue nggak ada bagus-bagusnya. Setiap kali sedang difoto, yang ada dalam pikiran gue cuma, “Where is my life vest? Where is it?” Bawaannya pengen cepet-cepet naik ke atas dan meraih kembali pelampung gue itu, hehehehe.

Napping time!

Pada aktivitas snorkeling setelah makan siang, gue putuskan buat enggak ikutan nyemplung. Gue lebih memilih untuk tidur siang di atas perahu yang sedang kosong. Cuma tidur siang, tapi rasanya menyenangkan. Tidur di atas perahu serasa tidur di atas ayunan, tambah sempurna dengan aroma laut yang lembut, hembusan angin, dan suara tawa teman-teman dari kejauhan seolah jadi ‘lagu’ pengiring tidur. Boleh dibilang, itu salah satu tidur siang terbaik dalam hidup gue, hehehehe.

Berfoto bersama hiu, dilanjutkan crazy banana boat

Satu hal yang paling gue nanti-nantikan adalah befoto bersama baby sharks. Jadi di sana itu ada satu penangkaran, di dalam sebuah kolam, yang berisi hiu-hiu jinak berukuran kecil. Asalkan kita tidak sedang datang bulan, maka foto-foto di kolam itu dijamin aman!

Meskipun dijamin aman, herannya suka ada aja orang yang takut masuk ke sana. Padahal hiu-hiu itu enggak bakalan ngegigit kok. Malah yang suka gigit itu ikan-ikan kecil yang berada di kolam yang sama. Digigitnya juga nggak sakit kok, so you don’t need to worry! Gue sebetulnya malah kecewa… pada gilirannya gue foto-foto di kolam hiu, ikan-ikannya malah berenang menjauh ke pinggiran. Hasil fotonya jadi enggak sekeren foto lain yang gue temuin via googling.

In the shark pool… Cuma ada satu ekor hiu melintas di depan gue >,<

Setelah mampir ke penangkaran hiu, gue dan teman-teman tergoda buat naik banana boat. It was not my first time, but that was the craziest banana boat I’ve ever ride! Awalnya masih asyik, nyemplungnya juga masih bikin ketawa-tawa… Tapi setelah itu, ada teman gue yang terbawa suasana dan bilang begini, “Mas… yang ngebut dong!”

Memang seru kalau dibawa ngebut, tapi saat jatuh ke air… sakitnya bukan main! Kuping kanan gue rasanya seperti bertabrakan dengan air, dan air laut pun langsung menyerbu masuk ke tenggorokan gue. Batuk-batuk nggak terhindarkan, dan betenya, sekarang gue kena infeksi di THT sebelah kanan… hiiiks.

Untuk cerita Karimunjawa di hari selanjutnya, baca blog gue yang setelah ini yaa.

Hello Kitty Cafe in Seoul

It might sounds funny, tapi salah satu most wanted place gue di Seoul adalah Hello Kitty Café. Gue sampe nyiapin satu baju warna pink buat dateng ke sini 😀 Gue suka banget sama warna pink, dan suka banget pula sama Hello Kitty. No wonder kalo gue pengen banget dateng ke tempat ini. Dan benar saja… gue enggak kecewa menyempatkan diri datang ke café ini!

Interior-nya serba pink, serba Hello Kitty, dan serba cute! Bukan cuma dekorasi ruangannya, bahkan makanan dan minumannya pun bernuansa Hello Kitty. Asyiknya lagi, makanan dan minuman itu bukan cuma enak dilihat, tetapi terasa enak juga di lidah. Wafel yang gue pesan rasanya enak, manisnya pas, dan sandwich yang dipesan sama teman gue Tiara juga nggak kalah enaknya! Aaah, jadi pengen makan lagi 😀

Selain menjual makanan, Hello Kitty Café juga menjual cukup banyak pernak-pernik Hello Kitty. Di sana, gue beli satu strap buat kamera gue, dan satu tumbler yang sampe sekarang masih suka gue bawa ke kantor. Kayak anak kecil? Well, emang agak kontradiktif sama kepribadian gue yang cenderung serius dan suka sok tua, tapi buat gue, Hello Kitty itu penyeimbang dalam diri gue, biar nggak cepet tua gitu, hehehehe.

Tapi bicara seriusnya sih, alasan kenapa gue masih suka Hello Kitty meskipun umur sudah 26, karena tokoh ini udah jadi teman bermain gue sejak kecil. Waktu kecil, gue pernah bercita-cita kayak gini, “Kalo nanti aku udah punya banyak uang, aku mau beli Hello Kitty yang banyak!” Jadi jelas, dateng ke tempat yang serba Hello Kitty kayak café ini serasa a dream comes true 😀

Hello Kitty Café Seoul terletak di kawasan Hongik/Hongdae University. Peta yang ada di official website-nya cukup jelas, atau kalau tidak jago baca peta, begitu keluar dari stasiun Hongik, tinggal tanya-tanya saja sama orang-orang yang jualan di sana. Lokasinya memang agak tersembunyi, but once I found it, the little girl inside me screamed, “Hoooray… I found it I found it!”

Jadi, jangan sebut gue norak kalo gue foto di berbagai pelosok Hello Kitty Café, bahkan sampe ke toiletnya juga, hehehehe.

Gyeongbokgung Palace

Sebetulnya, gue bukan tipe orang yang menyukai wisata sejarah. Gue enggak gitu tertarik buat dateng ke tempat-tempat peninggalan sejarah. It always looks old and boring for me. Akan tetapi, anehnya, gue tetep memilih untuk datang ke Gyeongbokgung Palace, salah satu istana yang masih tersisa di tengah kote Seoul. And you know what… gue tertarik datang ke sana hanya karena foto sebuah danau yang tampak cantik dengan warna-warni daunnya. Tapi saat gue datang ke sana… yang ada cuma warna hijauh di mana-mana… Tapi tetep aja, gue ngerasa lumayan excited saat berhasil menemukan danau yang gue cari itu. Memang enggak secantik yang gue kira, tapi gue tetap suka!

Yang namanya istana, ya nggak banyak yang bisa gue ceritakan sebenarnya. Tapi sebetulnya, yang istimewa dari kunjungan ini, sebetulnya kita bisa lho, pinjam hanbok secara cuma-cuma dan kita diperbolehkan berkeliling istana mengenakan hanbok itu! Kebayang nggak sih… berfoto pakai hanbok berlatarbelakang kerajaan Korea asli? Sayangnya… karena keterbatasan waktu, gue dan teman-teman tidak sempat meminjam hanbok gratisan itu 😦

 

 

 

 

 

 

 

Ada satu hal unik yang gue temukan di stasiun kereta Gyeongbok. Di dekat pintu keluar stasiun, ada satu gerbang yang namanya “Gerbang Panjang Umur”. Katanya, kalau kita sekali melintasi gerbang itu, maka kita akan panjang umur. Nah, karena saat berfoto di gerbang itu gue jadi 2 kali ngelewatin gerbang, maka setelah foto, gue lewat sekali lagi, supaya tetap panjang umur, hehehehe.

Pada akhirnya menurut gue, suka nggak suka sama wisata sejarah dan budaya, datang ke Geyongbokgung tetap wajib hukumnya. Kayaknya belum sampe Korea kalo belum dateng ke salah satu istananya gitu. Tempatnya masih terpelihara dengan baik, begitu pula dengan originalitass dan kebersihan lingkungannya. So I think you won’t regret visiting this place. Dan kalau berminat, kita bisa sewa semacam alat pemandu berbentuk mirip MP3 player. Tinggal sentuhkan ujung alat ke salah satu tempat dalam peta, maka alat itu akan bercerita tentang sejarah tempat yang kita sentuh nomornya itu. Dan pastinya… kalau datang ke Gyeongbokgung, jangan lupa befoto pakai hanbok ok! Ini juga akan jadi to do list gue kalo someday balik lagi ke Korsel 🙂

P.s.: Ada traveler lain yang bilang pertunjukan pergantian pengawal penjaga gerbang di istana ini menarik untuk turis, tapi kalo menurut gue sih biasa-biasa aja.

Cooking Nanta VS Jump Show

Salah satu pemicu gue beli tiket berlibur ke Korsel adalah film Hello Stranger, yang bercerita tentang gadis asal Thailand yang berlibur ke Korsel sendirian. Dalam film itu, ceritanya dia nonton live show bernama ‘Jump’ dan dia sangat tergila-gila sama show itu. Jadi sudah pasti, saat gue berkunjung ke Seoul pun, gue tidak boleh melewatkan live show yang satu itu.

Kemudian saat persiapan liburan, gue menemukan satu live show lain yang tidak kalah populernya di Korea Selatan, namanya Cooking Nanta.

Jump dan Cooking Nanta menyajikan 2 jalan cerita yang berbeda. Jump menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang jago taekwondo, sedangkan Nanta bercerita tentang kehidupan para koki di dalam dapur sebuah restoran. Perbedaan lainnya, Jump itu semacam pertunjukan bisu, berbeda dengan Nanta yang masih memperdengarkan beberapa baris kalimat, campuran antara bahasa Inggris dengan bahasa Korea.

Yang pertama gue tonton adalah Jump. Pertunjukan dibuka dengan kemunculan seorang kakek di tengah-tengah penonton. Usaha si kakek untuk naik ke atas panggung sudah cukup efektif memancing tawa para penonton. Overall ceritanya lucu, ada unsur cinta-cintaannya juga, tapi sempat terasa membosankan saat bagian mengejar maling yang masuk ke dalam rumah. Untuk pertunjukan taekwondo-nya lumayan memukau, tapi masih bisa dibikin lebih keren lagi kalo menurut gue.

Di hari lainnya, gue nonton Nanta Show. Pertunjukan musiknya terkadang rasanya terlalu lama, tetapi atraksi-atraksinya, misalnya saat atraksi memotong sayuran dengan cepat dan atraksi lempar-tangkap piring-piring yang bertumpuk, buat gue terasa lebih mengesankan daripada martial arts ala Jump. Selain itu ada juga beberapa adegan lucu yang berhasil bikin gue ketawa sampe sakit perut… Hanya saja sayangnya, menurut gue dan teman gue… pusar si koki cewek itu bisa bikin penonton jadi distracted, hehehehe. Oh ya, satu kekurangan lain dari Nanta Show adalah pengucapan kata dalam bahasa Inggris yang tidak tepat. Misanya cabbage yang harusnya dibaca ‘kebej’ malah dibaca ‘kebiji’ sama si koki cowok. Tapi ternyata kesalahan pronunciation itu jatuhnya malah bikin gue jadi cekikikan juga sih. Rasanya malah kayak extra entertainment, hehehehe.

Jika dibandingkan mana yang lebih bagus antara Jump dengan Nanta… gue pribadi lebih memilih Nanta. Alasannya, gue tertawa lebih kencang saat nonton live show ini. Pertunjukan memasaknya yang akrobatis itu juga terlihat baru buat gue ketimbang pertunjukan berantem yang sudah sering gue lihat di acara televisi. Akan tetapi, bagus tidak bagus itu tergantung selera masing-masing. Berbeda dengan gue, kelima teman seperjalanan gue lebih menyukai Jump daripada Nanta. Jadi kalo saran gue sih… lebih baik nonton aja dua-duanya, hehehehe.