- When you reminded him to eat on time, take his medicines, and to be careful while he drives, you did this not to pretend like you were a caring person, not also just to pull his attention, but you did this because you were afraid something wrong would happen to him if he didn’t obey;
- You still cared of him no matter how mad you were with him at that moment;
- You had found so many imperfections which you never thought exist in him, but you still loved him just the way he was;
- He was not always nice, not always helpful, not always understood you, not always be there for you, not always be honest and told you the truth, however you always found a way to forgive him and still tried your best to believe in him;
- When he left or let go or gave up something which used to make you proud of him, you were still proud and loved him sincerely;
- You could accept his past, no matter how bad it was;
- You never listened to everyone else … You kept holding on when everyone stood against you;
- Your world suddenly felt like hell after he left;
- You are tough, independent, unbreakable… but your heart was broken and you found your tears dropped down from your eyes when you knew you already lost him; and
- When it took you months, or even took you years, until you finally got rid of him.
Category: Love Story
Being a Fabulous Single, Not a Desperate One
Baru-baru ini, gue asyik ngobrol sama salah satu temen gue, cowok, yang udah hampir dua tahun menikah. Waktu gue sedang bercerita soal pengalaman traveling gue, temen gue ini bilang, puas-puasin keliling dunia sebelum nanti gue menikah. Karena dia bilang, setelah menikah, terutama kalau udah punya anak, keadaan akan berbeda. Ada tanggung jawab yang membuat kita enggak lagi leluasa seperti waktu masih single, ditambah lagi, belum tentu pasangan kita itu juga punya hobi traveling yang sama gilanya. Kemudian di lain topik, saat gue mencetuskan ide buat dia ambil S3 di luar negeri, lagi-lagi dia menjawab, udah terlambat… karena dia udah married dan punya anak.
Di berbagai kesempatan lainnya, gue cukup sering ngobrol soal pernikahan sama teman-teman cewek gue yang masih single. Dan… yap, sebagian besar dari mereka, sedang sangat pusing mencari-cari jodoh. Mereka takut jadi perawan tua, mereka merasa kesepian dan kurang bahagia, dan mereka sibuk bertanya-tanya apa yang salah dalam diri mereka sehingga mereka masih aja menjomblo.
Setiap kali berhadapan sama teman-teman yang sedang pusing dengan urusan jodoh, gue cuma bisa bilang bahwa rugi banget kalo kita buang-buang waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk mencari jodoh. Jangan sampe saat kita tua nanti, hal yang paling kita ingat dari masa muda kita adalah seorang gadis muda yang desperate mencari jodohnya. Jangan sampe saat tua nanti, kita malah ngerasa malu sama diri kita sewaktu muda dulu. Hal-hal yang seharusnya bisa kita nikmati pun jadi terasa seperti beban yang membuat kita merasa capek dan sia-sia.
Misalnya… orang yang matian-matian diet dan berolahraga hanya supaya dirinya cepat mendapatkan jodoh. Diet, jika kamu mengalami kelebihan berat badan, memang bagus untuk kesahatan, begitu pula dengan olahraga rutin setiap minggunya. Tapi, kalo kita melakukan semua itu hanya semata-mata demi mencari pasangan hidup, yang kita perhatikan bukan proses dan manfaat dari diet serta olahraga itu, melainkan seberapa berhasilnya upaya keras kita itu untuk menarik perhatian lawan jenis. Saat kita merasa semua usaha itu tidak membuahkan hasil, yang ada kita jadi merasa jengkel karena semua kerja keras itu menjadi sia-sia. Kita jadi merasa rugi udah buang banyak uang demi nge-gym misalnya. Sehingga saat tua nanti, yang kita ingat dari masa-masa itu bukan kita yang menjadi bugar dan sehat berkat olahraga, cantik dan terawat berkat facial and body treatment, melainkan diri kita yang dulu jengkel karena merasa sia-sia tetep aja ngejomblo meskipun udah capek berolahraga dan udah buang-buang duit demi facial yang terasa sangat menyiksa itu.
Gue sendiri, kelak ingin mengingat diri gue semasa muda sebagai gadis yang energik, yang tampil cantik, modis, dan percaya diri, yang bekerja keras dan berhasil menikmati hasil kerja kerasnya itu dengan mewujudkan mimpi untuk pergi melihat dunia, yang juga hidup bahagia dikelilingi teman-teman yang luar biasa. Intinya, I want to remember myself as a single fabulous lady who lived her life into the fullest.
Bukan berarti gue enggak kepingin hidup berumah tangga… Gue juga amit-amit banget kalo harus terus berstatus single seumur hidup gue. Tapi masalahnya, apa sih manfaat yang bisa gue dapetin dari terus-terusan panik dengan status jomblo gue? Lagipula, berpanik dan berpusing ria juga nggak bakal bikin gue jadi lebih cepat untuk medapatkan pasangan hidup kan?
Biasanya kalo gue udah kasih temen-temen gue pernyataan yang sama seperti tulisan gue di atas, maka umumnya mereka akan bilang begini sambil ketawa-tawa, “Kalo elo emang tipe orang yang enjoy hidup sendiri sih, Fa. Bukan tipe yang kepengen berkomitmen, hehehehe.”
Soal enjoy hidup sendiri ya gue sih emang selalu berusaha menikmati hidup yang gue punya yah. Tapi ya itu tadi, bukan berarti gue kepingin seterusnya hidup sendiri. Malah sebenernya belakangan ini, gue udah mulai membayangkan asyiknya hidup gue kalo udah punya pacar. Pengen aja punya orang yang bisa bikin gue ngerasa nyaman buat bermanja-manja, yang bisa gue telepon kapan aja kalo gue lagi ngerasa kangen, yang bisa bikin gue ketawa setiap kali pergi kencan…
Tapi ya itu tadi… Masalahnya enggak pernah ada yang tau apa yang persisnya harus kita lakukan supaya cepat dapat pacar. Kalaupun misalkan gue melihat peluang besar untuk dapet pacar, ya bukan berarti gue bakal langsung nerima semua orang yang deketin gue. Gue punya kehidupan yang alahamdulillah baik di saat masih sendiri. Dan gue ingin, memiliki pasangan akan membuat hidup gue jadi lebih baik dari sebelumnya. Jadi gue enggak mau gegabah dalam mengambil keputusan.
Balik lagi soal tradisi cewek pusing mencari cowok… Bukannya gue selalu ngerasa benar dengan pendapat gue… Tapi pertanyaan gue, apakah kehebohan mencari pasangan itu bikin hidup kalian jadi bahagia? Hidup bahagia emang bukan jaminan kita sudah hidup dengan benar. Tapi kalo kita enggak bisa merasakan kebahagiaan yang seharusnya bisa kita rasakan, maka itu berarti ada sesuatu yang salah dalam cara kita menjalani hidup.
Teman cowok yang gue ceritakan di awal tulisan ini pada akhirnya bilang… Gimanapun, dia tetap sangat menikmati kehidupan barunya. Dia bilang, sekedar bermain dengan anaknya yang masih bayi itu pun udah bisa bikin dia ngerasa senang. Salah satu sahabat cewek gue juga bilang hidup dia jadi jauh lebih bahagia setelah menikah dan punya anak. Dan gue percaya bahwa asalkan Tuhan masih memberikan gue usia yang cukup, maka insyaallah kelak gue juga akan merasakan kebahagiaan yang saat ini mereka rasakan. Lalu sampai saat itu tiba, gue ingin melakukan hal-hal positif yang bisa gue lakukan selagi masih single. Masih ada banyak banget impian yang ingin gue wujudkan di usia dua puluhan ini.
Oh ya… terakhir gue mau ngebocorin satu rahasia yang gue dapet dari temen-temen cowok gue… Kata mereka, cewek yang frustasi nyari cowok itu justru kelihatan menakutkan! Kalo istilah mereka sih, jadi nggak ada seksi-seksinya. Lagipula katanya siih, cinta justru datang menghampiri saat kita sedang asyik menikmati kehidupan kita sendiri. So love yourself first, enjoy your life, and I’m sure that the rest will follow 🙂
Serba Serbi Playboy
Ciri-ciri playboy pada umunya:
- Punya image bad boy. Misalnya, terkenal sebagai pemasok film berbau seks di kalangan teman-temannya atau terkenal sebagai rule breaker. Makanya penting untuk mengenal setidaknya satu orang dari lingkungan pergaulan gebetan/pacar kita. Biasanya, teman-teman sepergaulan cukup tahu cowok mana aja yang pantas masuk kategori bad boy dan/atau playboy;
- Enggak pernah lama-lama jomblo dan/atau punya banyak banget mantan pacar;
- Punya banyak teman cewek yang jumlahnya di atas rata-rata. Cowok ya normalnya lebih banyak bergaul dengan sesama cowok, sama kayak kita, cewek-cewek, yang umumnya lebih banyak punya teman dekat cewek daripada teman dekat cowok. Secara minat dan topik obrolan cowok-cewek itu kan jauh beda! Jadi kalo sampe dia punya banyak banget temen deket cewek, perlu diwaspadai. Bisa aja sebenernya dia cuma lagi iseng-iseng berhadiah sama temen-temen ceweknya itu;
- Dia suka pura-pura punya minat, kesukaan, atau hobi yang sama kayak kita, sampai hal-hal sepele sekalipun. Misalnya, kalo kita nggak suka makan seafood, dia juga akan bilang dia pun nggak suka seafood. Hal ini sengaja mereka lakukan supaya kita jadi ngerasa cocok sama mereka;
- Pintar memuji. Mereka ini tahu banget timing yang tepat untuk memuji incarannya. Jangan kaget kalo tiba-tiba dia menyelipkan kata ‘cantik’ pada saat yang tidak kita duga. Bedanya sama cowok baik-baik, playboy itu kalo lagi memuji gebetannya nggak pake acara nervous segala. Secara jam terbang udah tinggi makanya udah terbiasa;
- Dia pinter akting dan pinter memilih kata-kata yang bisa bikin kita terbuai. Pinter kelihatan peduli dan perhatian sama kita, pinter kelihatan memelas kalo kita lagi marah sama mereka, dan pinter bikin kita berpikir kalo mereka serius sayang sama kita. Cowok baik-baik yang beneran sayang sama kita justru enggak sejago itu mengekspresikan perasaannya di awal hubungan. Kalo belum apa-apa udah kelihatan segitu dalemnya, kita justru harus waspada!
- Perhatikan kata-kata yang keluar dari mulut dia, dan coba cari tahu apakah dia juga mengucapkan kata-kata yang sama ke cewek lain. Biasanya, playboy akan mengulang kalimat yang serupa kepada semua cewek incarannya;
- Kalimat favoritnya, “Elo itu beda kalo dibandingin cewek-cewek lain.” Atau, “Nggak tau kenapa, gue ngerasa ada yang kurang kalo lagi sama cewek-cewek itu.” Atau, “Cuma sama elo doang gue bisa bebas cerita soal apa aja.” Intinya, dia akan berusaha bikin kita percaya kalo kita ini cewek yang istimewa. Padahal siih, balik lagi ke point 6, dia juga ngucapin kalimat yang sama persis ke cewek-cewek lainnya;
- Akan sangat marah kalau kita berani buka-buka isi komputer dan ponselnya;
- Dia akan sering bilang bahwa pada dasarnya, semua cowok itu kepingin punya banyak pacar. Bedanya adalah, ada cowok yang berani bilang terus terang, ada pula yang cuma menyimpan keinginan itu di dalam hatinya saja. Hati-hati… jangan sampe percaya dengan omongan ngawur model begini. Omongan ini sebetulnya hanya pembenaran dari mereka aja, supaya kita percaya bahwa cowok yang jujur kayak mereka masih lebih mendingan daripada cowok-cowok yang pura-pura baik;
- Umumnya, cewek incaran playboy itu cewek-cewek cantik yang udah biasa diperlakukan istimewa sama cowok-cowok di sekitar mereka. Makanya, trik playboy justru dengan tidak terlalu memanjakan cewek incarannya dengan harapan, hal itu akan bikin si incaran jadi penasaran. Lagipula sebetulnya menurut gue, mayoritas playboy itu cowok pemalas! Sama kayak bad habit mereka yang males banget mempertahankan suatu komitmen; dan
- Sesekali, cowok ini akan membandingkan kita sama cewek lain. Meski di lain waktu dia suka memuji kita, suatu waktu dia juga bisa bikin kita ngerasa kurang cantik. Hal ini emang sengaja mereka lakukan untuk menarik perhatian kita dengan harapan, kita akan terpancing untuk jadi sewot dan lantas enggak mau kalah sama cewek-cewek lain.
Ciri-ciri playboy ‘kelas berat’:
- He tries to seduce you with sexual jokes. Sebenernya hal ini hanya satu cara terselubung supaya kita jadi naksir dan penasaran sama mereka. Atau enggak menutup kemungkinan, memang inilah cara yang mereka pakai untuk menggiring perempuan ke atas tempat tidur;
- Pernah atau bahkan cukup sering sesumbar bahwa he’s good in bed. Misalnya, “Kalo sampe gue sentuh, elo pasti ketagihan deh.” Meski kedengarannya sedang bercanda, sebenernya mereka sedang berusaha memunculkan ketertarikan seksual kita sama mereka; dan
- Playboy yang lebih nekad nggak sungkan-sungkan menyentuh incarannya, mulai dari yang seolah-olah enggak disengaja sampai sentuhan yang terang-terangan.
Playboy by natures:
High quality playboy
Ganteng + tajir + karier menjanjikan (terkenal pintar kalo masih sekolah/kuliah) + postur tubuh ideal. Tipe kayak gini enggak bakal terima kalo sampe ditolak cewek incarannya. Setelah ditolak, dia bakal lebih gencar mendekati si cewek seolah dia itu bener-bener cewek paling cantik sedunia.
Low quality playboy
Dengan sok berbesar hati mereka akan bilang bahwa ditolak itu udah biasa. Padahal sebenernya mereka cuma sedang menghibur diri supaya nggak kehilangan muka. Selain itu mereka juga akan sesumbar ngejar cewek yang udah nolak mereka itu cuma buang-buang waktu. Padahal sebenernya mereka cuma takut ditolak berkali-kali karena pada dasarnya mereka sadar kalo mereka itu nggak hebat-hebat amat.
Playboy betulan
Kelihatan cool dan nggak banyak omong. They are charming without trying. Buat urusan Facebook, mereka sering banget di-tag lagi foto bareng cewek-cewek.
Playboy wannabe
Sering memuji-muji diri sendiri, membanggakan prestasi sendiri, dan buat urusan Facebook, mereka sendiri yang hobi upload foto mereka yang sedang dikelilingi cewek-cewek. Playboy model begini juga suka dengan bangga melabelkan diri mereka sebagai bad boy, player, playboy, dsb dsb…
High pride playboy
Mereka nggak akan membiarkan kita mengetahui daftar kelemahan yang mereka miliki. Mereka enggak mau kelihatan insecure dan enggak keren.
Playboy yang hobi cari simpati
Golongan ini enggak segan-segan curhat sama kita soal permasalahan yang tengah mereka hadapi. Mereka ingin membuat kita percaya bahwa kita adalah cewek istimewa yang mereka percayai untuk berbagi cerita. Gue pernah terjebak sama playboy model begini. Tadinya gue pikir, enggak mungkin dia berniat jelek secara gue ini kan tempat curhat favorit dia. Tapi ternyata… semua itu dia lakuin cuma buat narik simpati gue doang!
Saat hubungan kita dan dia mulai lebih dari sekedar teman…
- Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi: si cowok blak-blakan bilang saat ini dia belum ingin berkomitmen dan sedang dekat dengan banyak cewek, ATAU, dia akan bilang bahwa dia yakin KELAK pasti bisa merubah sifat bandelnya;
- Waspadalah kalo sampe dia enggak mau ngasih kita kepastian. Misalnya, pasang status ‘It’s complicated’ instead of ‘In a relationship”;
- Lebih waspada lagi kalo dia berkesan menyembunyikan kita dari publik. Misalnya, dia ngelarang kita upload apalagi nge-tag foto-foto kita dengan dia; dan
- Jangan keburu geer kalo dia membawa kita lingkungan pergaulan atau bahkan keluarganya. Kadang ada sekelompok pertemanan yang saling jaga rahasia brengsek mereka, atau bahkan, keluarga yang bersedia untuk menyembunyikan kelakuan jelek anggota keluarganya dengan alasan menutupi aib keluarga. Boleh geer kalo dia memperkenalkan kita ke hampir semua orang yang dia kenal.
Ciri-ciri playboy yang ingin serius pacaran sama kita:
- Menjilat ludah mereka sendiri… Jika yang tadinya mereka bilang takut berkomitmen, maka kini sebaliknya mereka sesumbar bahwa mereka bisa setia sama kita;
- Menjauhkan diri dari habitat dan peredaran normal… Misalnya club tempat biasa mereka nongkrong buat tebar pesona, atau dari kelompok teman yang sama-sama bandelnya;
- Berusaha nunjukin sekuat tenaga dengan cara memberikan bukti-bukti bahwa dia udah enggak lagi berhubungan sama cewek-cewek lain;
- Berusaha mengumumkan sama sebanyak mungkin orang yang mereka kenal bahwa mereka serius jatuh cinta sama kita. Dia juga nggak akan sungkan sering-sering muncul di Facebook kita atau bahkan, membuat status yang mencurahkan isi hatinya kepada kita;
- Saat kita memaki-maki dan mengusir mereka, mereka hanya akan diam, bukannya membalas atau walk away; dan
- Mulai rela melakukan apapun, sampai hal-hal yang kesannya fantastis banget, hanya untuk menarik perhatian kita.
Lalu apakah ini berarti gue percaya bahwa playboy itu bisa berubah? No, I don’t think so… Menurut pengalaman gue, mereka kelihatan segitunya hanya karena masih penasaran aja. Kalo nanti udah dapet sih, belum tentu mereka ingat dengan apa yang pernah mereka sesumbar itu. Selain itu bicara soal habit, playboy itu udah terbiasa menjadikan flirting sebagai suatu hiburan kalo mereka lagi punya banyak masalah. Nah, biasanya, seiring berjalannya waktu, setiap hubungan itu kan pasti akan ada banyak konflik… Dan gue sih enggak gitu yakin mereka bisa tetep menjaga kesetiaannya saat mereka lagi sebel-sebelnya sama kita nanti. So you’d better think twice. Meanwhile, bolehlah berbangga diri kalo sampe ada playboy yang rela segitunya demi kita. It’s achievement girls, hehehehe.
Yang paling jahat adalah playboy yang seolah-olah menawarkan persahabatan.
Kenapa gue bilang paling jahat? Karena sebetulnya, persahabatan itu hanya topeng yang mereka pakai untuk mengelabui kita. Mereka enggak peduli perbuatan mereka itu akan merusak persahabatan karena yang mereka cari hanya kepuasaan saat kelak berhasil mendapatkan kita sebagai satu dari sekian banyak koleksinya. Rasanya pasti syok dan bisa bikin kita ngerasa bodoh karena udah salah menilai mereka. Tapi lagi-lagi, sebetulnya kita perlu berbangga hati kalo hal seperti ini sampai terjadi sama kita. Kita ini pasti hebat banget di mata dia makanya dia sampe rela berakting sejauh itu hanya untuk bisa dapetin kita.
So girls, you’d better be careful with this kind of guy. What makes you think he would change forever for you? Just keep this one thing in your mind: he does not love you, he only wants to get a satisfaction when he finally could deceive you. Don’t ever believe in whatever he says or does because trust me, he also says or does exactly the same things to those other girls. Move on and keep a faith that you deserve better.
Don’t Go Breaking My Heart
Entah kenapa, gue kepengen banget nonton film Don’t Go Breaking My Heart di Blitz Megaplex. Walaupun pilihan jam tayangnya tinggal sedikit, gue tetep bela-belain nonton film yang diputar jam setengah sepuluh malam itu.
Don’t Go Breaking My Heart bercerita tentang Zhi En, gadis yang baru saja putus karena dikhianati pacarnya setelah 7 tahun pacaran. Saat sedang patah hati itu, Zhi En berkenalan dengan 2 cowok baru dalam waktu yang hampir bersamaan. Cowok pertama namanya Shen Ran, cowok charming yang sangat sukses di usia muda. Shen Ran ini ceritanya udah cukup lama naksir sama Zhi En yang sering dia lihat dari jendela kantornya. Cowok yang ke dua bernama Qi Hong, seorang arsitek berbakat yang sedang mengalami depresi saat bertemu dengan Zhi En.
Setelah patah hati habis-habisan di awal film, akhirnya Zhi En mulai benar-benar move on setelah berkenalan dengan Qi Hong. Cowok ini mengarahkan Zhi En untuk mengubah penampilannya, mengajaknya bersenang-senang, serta bersedia menampung semua barang peninggalan mantan pacar yang masih tertinggal di apartemen Zhi En. Selain semua benda mati, Zhi En juga memberikan Qi Hong seekor kodok yang dulu dipelihara mantan pacarnya.
Di akhir pertemuan mereka, Zhi En membelikan satu set pensil warna untuk Qi Hong. Dia ingin Qi Hong menggunakan pensil warna itu untuk kembali berkarya. Dia juga memotivasi Qi Hong untuk berhenti minum-minum dan juga bangkit dari keterpurukannya. Pada saat itulah, Qi Hong mulai jatuh cinta kepada Zhi En. Qi Hong lalu mengajak Zhi En untuk bertemu lagi beberapa hari kemudian, dan dia berjanji, pada pertemuan selanjutnya itu, Qi Hong akan menunjukan hasil karya terbarunya.
Sayangnya di hari yang sudah dijanjikan, Zhi En juga punya janji kencan dengan Shen Ran untuk yang pertama kalinya. Ternyata Zhi En lebih tertarik pada Shen Ran sehingga melupakan janjinya kepada Qi Hong. Jadilah Qi Hong menunggu Zhi En yang tidak pernah datang ke tempat pertemuan mereka pada waktu yang telah dijanjikan.
Ironisnya, pada saat Zhi En tengah menunggu Shen Ran di café yang telah disepakati, Shen Ran malah tidak datang karena tergoda dengan ajakan kencan semalam dari cewek lain yang berpenampilan sangat menggoda. Tapi dasar Shen Ran cowok penggoda… Meski awalnya Zhi En sangat marah dengan ketidakhadiran dia di kencan pertama mereka, toh akhirnya mereka berdua jadian juga.
Akting Louis Koo si pemeran Shen Ran cukup berhasil memesona penonton. Aura bad boy-nya itu kerasa banget. Ngelihat betapa kerasnya usaha Shen Ran mengejar Zhi En bikin penonton jadi terbius… Zhi En disuruh bantu memillih mobil mewah, apartemen mewah sekaligus furniture-nya, yang ternyata, semua itu dibelikan Shen Ran untuk Zhi En! Saat itu gue sempet berpikir, cewek mana juga yang bisa menolak? Ya pantes aja lah kalo akhirnya Zhi En tetep jatuh ke pelukan Shen Ran…
Tiga tahun kemudian, Zhi En merasa curiga dengan Shen Ran yang menyimpan banyak kondom di dalam mobilnya. Padalah selama berpacaran, mereka berdua tidak pernah melakukan hubungan intim. Setelah ditanya, Shen Ran pun mengakui bahwa selama ini dia memang masih berkencan dengan perempuan-perempuan lain. Saat Zhi En menjadi murka, dengan entengnya Shen Ran bilang begini, “Aku tidak mau berbohong! Lagipula di dunia ini cuma ada dua jenis lelaki: lelaki yang berselingkuh dan yang ingin berselingkuh. Kamu lebih memilih yang mana?”
Zhi En menjawab, “Aku memilih lelaki yang ke tiga!”
Shen Ran membalas, “Cari saja di planet Mars!”
Tidak lama setelah putusnya Shen Ran dengan Zhi En, cewek ini kembali bertemu dengan Qi Hong, si arsitek depresi yang kini sudah mampu mendirikan perusahaannya sendiri. Qi Hong pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kembali mendekati Zhi En. Dan tentu saja, Shen Ran tidak tinggal diam. Ada beberapa adegan yang menunjukan dua cowok ini saling berlomba menarik perhatian Zhi En.
Ada satu adegan yang sangat mengharukan di film ini. Ceritanya meski sudah tiga tahun berlalu, Qi Hong masih menyimpan kodok pemberian Zhi En. Saking sayangnya dengan si kodok, Qi Hong menamakan perusahaannya Qi Hong & Frog! Nggak heran kalo semua orang yang mengenal Qi Hong juga tahu bahwa kodok itu merupakan pemberian wanita yang dicintai Qi Hong, dan, bahwa meskipun ada banyak wanita yang mengidolakan Qi Hong, cowok ini tetap menaruh harapan kepada sang pemberi kodok yang sudah tiga tahun putus kontak dengannya itu.
Nah, suatu hari, Zhi En memutuskan pulang ke rumah orang tuanya karena merasa tertekan harus memilih di antara Shen Ran dan Qi Hong. Menghilangnya Zhi En itu kemudian memicu perkelahian antara Shen Ran dengan Qi Hong. Saat mereka sedang berkelahi itulah, si kodok tidak sengaja terinjak hingga mati dalam keadaan yang mengenaskan.
Matinya si kodok langsung mengakhiri perkelahian antara Shen Ran dengan Qi Hong. Shen Ran bahkan meminta maaf kepada Qi Hong yang berlutut terpaku menatap kematian kodoknya. Saat kabar perkelahian tersebut sampai ke telinga Zhi En, cewek ini langsung kirim SMS turut bersedih kepada Qi Hong.
Berdasarkan pengalaman gue pribadi, cowok jaman sekarang ini bawaannya suka ngambek. Makanya saat Zhi En kirim SMS, gue sempat nebak, Qi Hong tidak akan menghiraukan SMS-nya itu. Tapi ternyata, meski si kodok baru saja mati gara-gara ulah mantan pacar Zhi En, dan meski Zhi En baru saja meninggalkan Qi Hong beberapa saat sebelum perkelahian itu, Qi Hong tetap membalas SMS dari Zhi En. Qi Hong bertanya, “Kamu di mana? Di mana alamatnya?”
Segera setelah menerima balasan dari Zhi En, QI Hong langsung naik pesawat menuju rumah orang tua Zhi En. Sesampainya di sana, begitu Zhi En membuka pintu rumahnya, Qi Hong langsung berkata, “Si kodok sudah mati.”
Zhi En yang merasa tersentuh langsung memeluk Qi Hong dengan erat…
Apakah Shen Ran sudah menyerah? Hampir saja dia menyerah sampai di situ. Dia sudah kembali beredar di club langganannya, dan mulai tebar pesona mencari perempuan yang bisa dia ajak tidur. Tapi ternyata, saat dia dan teman kencannya sudah naik taksi menuju hotel, Shen Ran berubah pikiran. Dia kehilangan minat untuk kencan dan memutuskan untuk kembali mengejar Zhi En.
Emang dasar film drama yang menjual mimpi… Bisa-bisanya di akhir cerita, Shen Ran dan QI Hong melamar Zhi En dalam waktu yang bersamaan! Dengan dua cara berbeda yang dua-duanya tuh romantis banget. Lucunya, saat melamar itu, Shen Ran bilang begini, “Sekarang aku sudah jadi mahluk Mars!”
Sampai adegan itu… Yantri – adek gue, bergumam, “Awas aja kalo dia malah nerima Shen Ran!”
Padahal ya… di awal film, adek gue ini juga sempet terpesona banget sama sosoknya Shen Ran. Bahkan, Yantri yang suka ngomelin gue karena sering naksir cowok bandel itu akhirnya mengaku bisa mengerti alesan kenapa gue sampe jatuh hati sama mereka. Tapi begitu ngelihat betapa jelalatannya Shen Ran setiap kali melihat cewek seksi… saat melihat kebiasaan dia mencari pelarian dengan kencan semalam… adek gue kembali lagi pada akal sehatnya. “Hidup itu kan panjang… Masa’ iya sih, Zhi En mau selamanya hidup enggak tenang bareng cowok model Shen Ran? Dia kan bisa janji bakal setia hanya karena masih penasaran sama Zhi En. Belum tentu kalo nanti udah balik lagi dia tetep setia, terutama kalo mereka lagi berantem misalnya.”
Dan lucunya… Gue yang punya kecenderungan naksir bad boy pun, ngerasa ogah banget kalo Zhi En sampe memilih Shen Ran. Walau cuma fiksi belaka, rasanya gue tetep enggak rela kalo Zhi En malah ninggalin Qi Hong. Qi Hong yang penyayang, setia, baik hati, pemaaf pula…
Berkat film ini gue jadi sadar bahwa cowok-cowok bandel emang bisa jadi kelihatan charming (kecuali bad boy wannabe yang lagaknya malah bikin eneg), tapi kalo kita berpikir panjang… kita harusnya lebih memilih cowok yang bisa memberi kita rasa aman. Karena benar kata Zhi En, mencintai playboy itu sangat sulit, dan… sangat sulit dipercaya bahwa playboy bisa berubah jadi setia.
Jadi saran gue buat penggemar-penggemar bad boy lainnya… Kasih kesempatan lah, buat cowok baik-baik yang sayang sama kalian. Cowok terakhir yang gue taksir sama sekali bukan bad boy, dan ternyata rasanya malah lebih menyenangkan loh. Good guy itu lebih caring, lebih pengertian, dan malah sebenarnya, justru good guy ini yang punya potensi buat jadi idol without trying. Cowok baik hati model gini justru ngerasa bersalah kalo tau ada banyak cewek yang bertepuk sebelah tangan karena dia. Beda banget lah sama golongan bad boy yang menganggap hal menyedihkan kayak gitu sebagai suatu kebanggaan.
Kalo masih nggak percaya, langsung ajalah, nonton film ini di Blitz Megaplex. Gue yakin kalo film ini bisa bikin kita jadi sadar kalo sebenernya, bad boy is disgusting. Uups, no offense yah guys, hehehehe.
Crazy Little Thing Called Love
Sebenernya karena suatu hal yang terjadi baru-baru ini, gue berniat untuk enggak lagi nulis soal my personal love life experience di blog ini. Tapi gara-gara film Crazy Little Thing Called Love yang baru aja gue tonton, jadi ada satu hal lagi yang ingin gue share di sini.
Crazy Little Thing Called Love bercerita tentang Nam, cewek culun yang naksir sama Shone, kakak kelas yang ganteng dan cool banget. Selama tiga tahun cewek ini memendam perasaannya, sampe akhirnya, dia malah sempet jadian sama sahabatnya Shone! Ceritanya Nam bersedia jalan sama sahabatnya Shone itu ya supaya bisa deket-deket sama Shone terus.
Setelah putus sama pacarnya, Nam memberanikan diri buat bilang suka ke Shone di hari kelulusan mereka. Sayangnya saat itu, Shone baru saja jadian sama cewek lain persis satu minggu sebelum Nam bilang suka!
Yang mengejutkan… ternyata selama tiga tahun itu, Shone juga tergila-gila sama si Nam! Dia masih nyimpen cokelat pertama yang diberikan Nam tiga tahun yang lalu, dan bahkan, dia punya satu scrap book berisi foto-foto candid Nam disertai caption yang isinya curahan hati Shone kepada Nam.
Sayangnya ternyata, Shone tidak pernah punya cukup keberanian untuk menyatakan perasaannya kepada Nam. Pada hari valentine, Shone memberikan bunga buat Nam… Tapi bukannya bilang, “This is flowers from me,” si Shone ini malah bilang, “This is flowers from my friend.” Shone pernah beberapa kali berbuat baik untuk Nam, tapi tetap tidak cukup untuk menunjukkan rasa sukanya sama cewek itu. Sampai akhirnya, Shone bener-bener keduluan sahabatnya nembak si Nam.
Lalu bagaimana ending ceritanya? Nam pindah sekolah ke Amerika, dan baru kembali ke Thailand 9 tahun kemudian. Dan… ya, Shone dan Nam baru jadian 9 tahun setelah perpisahan mereka di bangku sekolah.
Nonton film ini serasa mengenang kebodohan semasa ABG dulu yah… Dulu gue juga pernah tuh, iseng nelepon gebetan gue tapi enggak ngaku kalo itu telepon dari gue. Dan gue juga pernah, semangat pergi sekolah cuma supaya bisa ketemu sama si gebetan, hehehehe.
Tapi bukan soal kebodohan ala ABG yang pengen gue bahas di sini. Gue cuma ingin membagi isi pikiran gue: kenapa cowok harus segitu takutnya bilang suka sama cewek yang mereka suka? Karena menurut gue, rasa takut yang sampe segitunya itu belongs to a girl, not a guy! Kalo mengutip dari serial Gossip Girl, guts makes a man a man.
Gue cukup sering berpikiran, dilahirkan sebagai cowok, khususnya di Indonesia, rasanya jauh lebih enak daripada jadi cewek. Di Indonesia, cowok yang pantang menyerah ngejar cewek incarannya bisa dianggap keren dan cowok banget. Dan gue sering lihat pada akhirnya, cowok itu berhasil juga memenangkan hati gebetannya itu. Tapi kalo sebaliknya, cewek yang pantang menyerah ngejar-ngejar cowok idamannya… Haduuuh, yang ada cowok itu bakalan kabur atau yang lebih parah, si cewek bakal langsung dikasih label cewek murahan yang udah desperate.
Waktu usia gue masih lebih muda, cieee:p, gue pernah tuh, berusaha bersikap manis buat menarik perhatian gebetan gue. Makanya gue bilang, tingkahnya si Nam di film itu mengingatkan gue sama diri sendiri, hehehehe. Bedanya dalam kasus gue, no matter how hard I tried to touch his heart, he would never get it and change his mind. Sampe akhirnya gue keburu capek dan mulai lupa sama dia dengan sendirinya. Makanya tadi gue bilang… Saking gemesnya, gue sering berpikiran, keadaannya pasti akan jauh berbeda kalo gue dilahirin sebagai cowok.
Terus ya… emang dasar gue kurang hoki atau apa… Setelah lewat beberapa tahun, setelah gue udah capek dan bener-bener lupa sama cowok-cowok itu, eeeh, baru kemudian gue tau kalo sebenernya mereka juga suka sama gue! Kalo gue juga pernah suka balik sama dia, dalam hati gue akan berpikiran gini… “Aduuuh, udah terlambat. Kenapa baru sekarang sih?”
Hal terakhir dari film ini yang agak-agak related sama gue adalah usaha buat jadi cewek yang lebih baik demi menarik perhatian si gebetan. Nam yang tadinya buruk rupa berubah jadi cantik, dan Nam yang tadinya bodoh berubah jadi pintar, hanya supaya bisa jadi cewek yang cukup pantas untuk Shone.
Dulu gue pernah punya gebetan yang orangnya tuh baiiik banget. Bener-bener tipe everybody’s sweetheart lah. Saking baiknya, dia tuh bisa tetep bisa bersikap ramah dan sopan even sama orang-orang yang dia benci. Gara-gara suka sama dia, gue juga jadi kepengen punya kepribadian yang lebih baik. Gue mulai memperbaiki intonasi bicara gue sedikit demi sedikit, belajar menahan emosi, dan belajar mentoleransi sifat jelek orang-orang di sekitar gue. Udah gitu, gara-gara dia juga gue jadi mulai nonton saluran berita dan rajin baca artikel di Detiknews dan Kompas.com… Maksudnya supaya bisa nyambung kalo ngobrol sama dia gitu, hehehehe.
Menurut gue sih, enggak ada salahnya ya, memperbaiki diri demi orang yang kita suka. Toh selama perubahan itu sifatnya positif, yang akan diuntungkan tetap diri kita sendiri juga. Dalam kasus gue, meskipun enggak ada happy ending antara gue sama dia, perubahan positif yang udah gue dapetin itu tetep gue pertahankan sampe sekarang. Karena nyatanya, gue jadi ngerasa lebih bahagia dengan kepribadian gue yang baru ini. Dengan bersikap lebih ramah dan mengelola emosi dengan baik, gue jadi bisa berteman dengan lebih banyak orang. Terus soal rajin nonton dan baca berita… Well, itu udah berhasil banget bikin gue kelihatan smart dan berwawasan luas, hehehehe.
Patah Hati Itu Cuma Soal Waktu
Pernah ngalamin patah hati sampe ngerasa takut nggak akan pernah bisa nemuin cowok lain yang seperti dia? Yang sampe bikin kita pesimis kelak bakal bisa ngelupain dia, hidup nggak akan sama kalo nggak ada dia, dsb dsb…
Sebelumnya, gue nggak pernah ngerasa benar-benar tertekan cuma gara-gara patah hati. Nggak pernah ada tuh cerita gue netesin air mata buat cowok manapun… Sampai akhirnya tahun kemaren, nggak disangka-sangka gue ngerasain juga yang namanya patah hati dalam artian yang sebenarnya.
Awalnya gue masih ragu-ragu… apa mungkin gue sama dia punya peluang buat jadian? Dan apa iya dia bener suka sama gue seperti yang gue kira? Bisa aja kan, itu semua cuma gue-nya aja yang kegeeran… Sampe akhirnya, tiba-tiba aja gue harus say goodbye sama dia dalam waktu dekat. Dari situlah gue tau, semuanya akan segera berakhir begitu aja.
Hari itu gue sedih banget… Untuk pertama kalinya gue mikirin sesuatu sampe nggak bisa tidur. Dan waktu gue telepon adek gue buat curhat, untuk pertama kalinya pula gue netesin air mata buat cowok yang gue suka.
Biasanya saat patah hati, gue selalu yakin bahwa nanti juga gue bakal lupa dengan sendirinya. Gue bener-bener yakin masih ada banyak cowok lain di luar sana. Gue kan masih muda, dan masih akan ketemu banyak orang baru… Jadi kenapa harus khawatir?
Tapi lagi-lagi, untuk pertama kalinya pula gue ngerasa takut nggak bakal bisa nemuin cowok lain yang kayak dia. Yang sama kerennya, sama baiknya, sama pinternya, yang sangat helpful, thoughtful, yang selalu bisa jadi pendengar yang baik buat gue… Dan gue takut, gue nggak akan bisa lagi suka sama cowok lain sebesar rasa suka gue sama cowok ini.
Hal paling berat dari patah hati yang satu itu adalah gue harus pretending that I’m fine. Gue nggak ngebiarin semua orang tahu betapa sedihnya gue waktu itu. Di depan orang lain gue bisa aja cengengesan seperti biasa, tapi kalo lagi sendiri, jangan ditanya segimana murungnya muka gue selama masa-masa suram itu. Bahkan di Facebook pun gue bisa kelihatan baik-baik aja, tapi coba tengok isi Twitter gue yang penuh dengan curhatan itu… (Kenapa Twitter? Karena follower gue di sana boleh dibilang hampir enggak ada, dan account-nya pun gue fully protect, hehehehe).
Setelah agak lama, rasa suka dan kangen gue ke dia sifatnya udah mulai come and go. Tapi tetep aja, pada titik itu gue masih ngerasa takut kalo harus berhadapan sama dia. Gue takut dari yang tadinya udah mulai lupa jadi bakal kepikiran lagi cuma karena baru aja ketemu sama orangnya. Ditambah gue males banget harus bersikap seolah nggak pernah ada apa-apa di depan dia. Makanya, kalo misalkan gue tau bakal ketemu sama dia, bukannya seneng yang ada gue malah jadi takut sendiri… Karena pada dasarnya gue tahu, gue sama dia itu will never be. Meski kadang-kadang gue masih sedikit nyimpen harapan, tapi pada dasarnya gue tetep yakin bahwa mustahil banget kelak dia bisa berubah pikiran… not even in a thousand year I think.
Intinya sih gue bener-bener sempet having no clue tentang apa yang harus gue lakukan supaya bisa bener-bener ngelupain dia. Karena faktanya, berusaha ngehindarin dia juga nggak bikin gue jadi cepet lupa sama dia kok.
Sampai beberapa menit yang lalu, gue masih menatap layar laptop dengan muka berkerut… Udah hampir jam 12 malem tapi kerjaan gue masih jauh dari kata selesai. Lalu tiba-tiba aja, gue teringat sama dia… Lalu… hei, gue baru sadar… Udah beberapa hari belakangan ini gue enggak mikirin dia sama sekali!
Menurut gue bulan Februari ini udah kayak keajaiban. Ada beberapa kejadian yang secara berturut-turut mengikis rasa suka gue ke dia sedikit demi sedikit. Sempat ada pula kejadian nggak terduga yang berhasil mengalihkan pikiran gue dari cowok ini. Ditambah lagi, kerjaan yang sedang menggila bikin gue tetep aja mikirin kerjaan meskipun lagi enggak duduk di depan laptop. Rasanya semua kejadian itu timing-nya pas banget buat gue ngelupain dia.
Gue tahu bisa jadi masih terlalu dini buat gue menyimpulkan udah nggak suka lagi sama cowok ini. Tapi intinya, yang ingin gue sampaikan lewat blog kali ini, patah hati itu cuma soal waktu. Entah kapan dan gimana caranya, kita pasti bisa ngelupain mereka. Jadi daripada parno nggak bakal bisa nemuin cowok lain selain dia, lebih baik kita bilang sama diri kita sendiri bahwa semua badai pasti akan berlalu… pasti.
At the end… gue bertanya-tanya sama diri gue sendiri… Seberapa buruk sih, hidup gue tanpa ada dia? Well, emang terasa ada yang kurang dan ngelupain dia pun enggak pernah jadi hal yang mudah buat gue. Tapi bukan berarti gue nggak bisa hidup tanpa dia, dan, bukan berarti gue nggak bisa hidup hepi kalo nggak ada dia! I might be pretending that I was fine, but I never fake my happiness at all. Karena justru dari patah hati ini gue banyak belajar gimana caranya tetap hidup bahagia meskipun gue tidak berhasil mendapatkan apa yang gue inginkan.
And you know what… apa yang gue rasain saat ini enggak lain hanya rasa bangga bahwa pada akhirnya, gue bisa melewati semua itu dengan baik. Dan rasanya sekarang ini, gue udah nggak takut lagi kalo kelak masih harus berhadapan sama dia. We were not meant to be doesn’t mean I have to treat him like an enemy right? Again, gue jadi bangga sama diri gue sendiri karena udah punya niat untuk berdamai sama masa lalu gue sendiri, hehehehe.
Di Mana Sih, Ngumpetnya Cowok-cowok Dalam Majalah Itu?
Gue seringkali mempertanyakan akuransi artikel-artikel di majalah wanita yang ngebahas soal attitude kaum pria. Saat baca artikel-artikel itu, gue langsung bertanya-tanya dalam hati, “Masa’ sih? Emang ada, cowok kayak begini?” Berikut ini gue kutip 3 artikel majalah yang menurut gue paling nggak sesuai dengan fakta yang gue temukan di kehidupan nyata. Buat cowok-cowok yang baca tulisan ini, terutama yang identitasnya gue sebut, please no hard feeling yaa.
Artikel 1:
“Pria itu menyukai tantangan.”
Faktanya:
Menyukai tantangan itu identik dengan sifat berani dan pantang menyerah dong? Tapi entah kenapa, gue jarang banget nemuin cowok yang berani terang-terangan pdkt sama gue. Contoh sederhana soal ajakan jalan berdua. Gue seriiiiing banget berhadapan sama cowok yang suka muter-muter cuma buat ngajakin gue jalan. Gue suka sampe gemess. Apa susahnya sih, tinggal bilang begini, “Kita jalan yuk, Fa.” Kenapa gitu mesti mancing-mancing supaya gue duluan yang ngajakin mereka jalan? Sekedar informasi aja, selama satu tahun belakangan, gue udah berhadapan sama 5 cowok model begini. Kadang kalo udah kelewat gemes, akhirnya jadi gue duluan yang bilang, “Ya udah, kita ke sana yuk!” Kalo udah gitu, baru deh, dia kelihatan excited ngebahas mau jemput jam berapa, abis itu mau ke mana lagi, dsb dsb…
Tapi biasanya, kalo gue bener-bener suka sama cowok itu, gue pantang ngajakin dia jalan duluan. Mau dia mancing-mancing kayak gimana juga, gue maunya tetep dia yang maju duluan. Sayangnya, yang selama ini terjadi, bukannya memberanikan diri bilang terus terang, yang ada mereka malah nyerah begitu aja… Nah, sekarang pertanyaannya, apa benar kalo cowok itu menyukai tantangan? Mungkin gue emang nggak bisa pukul rata, tapi kalo cuma berdasarkan pengalaman gue, menurut gue mayoritas cowok itu punya prinsip, “Lebih mudah, lebih baik.”
Artikel 2
Gue sering banget nemuin profil-profil cowok di majalah yang bilang, “Tipe wanita idaman saya harus mandiri dan smart.” Malah ada juga yang dengan lebaynya bilang begini, “Menurut saya, cewek pintar itu seksi.”
Faktanya:
Berikut 3 kalimat yang gue dengar dari 3 cowok yang berbeda beberapa minggu belakangan ini:
Mr. A, married, kalo nggak salah usia belum sampai 30, manajer di perusahaan besar.
Dia bilang ke gue, “Elo itu kalo sama cowok harus mau ngalah sedikit. Jangan kelihatan terlalu pinter, dan jangan suka mendominasi. Ngerendah sedikit nggak ada salahnya.”
Mr. B, single, usia 27, gue kurang tau posisinya di kantor sekarang itu apa, tapi yang jelas cowok ini terkenal pintar dan tipikal karyawan favorit bos.
“Gue justru ngeri sama cewek pinter. Nanti gue diem aja di rumah sementara dia sibuk di luar. Bisa-bisa gue jadi duda.”
Mr. C, single, usia 26, udah punya gelar S2, manajer di perusahaan kecil-menengah.
“Elo tuh kalo ngadepin cowok harus pura-pura bego. Percaya deh sama gue.”
See? Tingkat pendidikan tinggi, tingkat intelegensia tinggi, bahkan, jabatan yang juga tinggi, enggak bikin mereka mengimpikan cewek yang mandiri dan smart. Makanya gue sampe bertanya-tanya… pada ngumpet di mana sih, cowok-cowok yang katanya menyukai cewek yang pintar dan mandiri itu?
Artikel 3
“Pria menginginkan pasangan yang tetap memiliki dunianya sendiri, yang tidak terlalu bergantung pada dirinya. Sehingga pada saat ia dan pasangannya sedang menghabiskan waktu bersama, mereka berdua sama-sama punya hal menarik untuk diceritakan. Oleh karena itulah, sebaiknya, wanita tetap berkarier meskipun sudah berumah tangga.”
Faktanya:
Coba lihat lagi statement Mr. A, B, dan C di atas… Kalo dari statement mereka, kayaknya kok mereka justru lebih suka sama cewek yang bergantung sama mereka?
Sebetulnya gue enggak bilang pemikiran Mr. A, B, dan C di atas itu sebagai sesuatu yang keliru. Gue memahami keinginan mereka untuk punya istri yang konsen ngurusin rumah tangga, yang selalu menyambut mereka pulang kerja setiap harinya, yang enggak disibukkan sama urusan pekerjaan. Sama seperti gue yang nggak mau diganggu gugat soal cita-cita gue, maka gue juga enggak akan mengganggu gugat impian orang lain tentang rumah tangga yang ideal. Gue enggak akan memaksakan pendapat gue sama seperti gue enggak mau dipaksa untuk berhenti kerja. Dan itu berarti, gue harus mencari cowok yang bisa menerima gue dengan segala cita-cita gue.
Salah satu sahabat yang akan menikah tahun ini, pernah bilang bahwa faktanya, akan selalu ada pengorbanan yang harus dilakukan dalam suatu hubungan. Dia bilang, kalo gue bener-bener cinta sama seseorang, ada kalanya gue harus mau mengalah karena kecil kemungkinan SEMUA idealisme gue itu akan terwujud. Malah temen gue ini yakin banget, kalo gue udah nemuin cowok yang tepat, gue akan melunak dengan sendirinya.
Well, mungkin di situ permasalahannya: gue belum menemukan cowok yang tepat. Gimana dia bisa jadi pemimpin buat gue kalo ngadepin gue aja dia nggak berani? Gimana gue mau respek kalo sekedar nepatin janji-janji kecil aja dia nggak bisa? Gimana gue bisa melunak dan buat apa gue terpikir untuk mengorbankan sesuatu demi cowok yang nggak mau fight buat gue? Yang bahkan gue enggak yakin seberapa besar rasa suka dia ke gue…
Karena sebetulnya, kalo gue mau berbesar hati, harus gue akui bahwa kemungkinan besar, mereka bersikap setengah hati seperti itu karena mereka enggak benar-benar suka sama gue. Atau mungkin, karena gue bukan tipe cewek yang benar-benar mereka inginkan. Sedih sih, kalo bener kayak begitu… Tapi gue juga nggak bakal nyalahin mereka kok. Yang punya kriteria pasangan idaman itu kan, bukan cuma gue doang. Jadi kalo gue tega nolak orang lain yang nggak sesuai kriteria gue, maka sebaliknya, gue juga nggak boleh sewot kalo ada orang lain yang nolak gue hanya karena gue nggak sesuai dengan kriteria mereka.
At the end, sekali lagi gue mohon maaf kalo ada isi artikel ini yang bikin kalian, para pembaca cowok, jadi tersinggung. Gue cuma ingin menyuarakan isi hati cewek-cewek pada umumnya lewat blog ini. Pesan dari gue, jangan pernah memulai sesuatu kalo dari awal kalian tahu kalian enggak akan pernah bisa terima dia apa adanya. Kalo mengutip dari Facts About Boys di Twitter, “Leading a girl without any intentions of dating her is worse than rejecting her.”
10 Things I Learn From Life Recently
Beberapa bulan terakhir di tahun 2010, ada banyak banget masalah yang menimpa gue. Mulai dari masalah pekerjaan, konflik keluarga, sakit-sakitan, sampe patah hati dalam waktu yang hampir bersamaan. Gue sendiri sampe bingung… masalah yang mana yang paling bikin gue down saat itu? Syukurlah setelah pergantian tahun, keadaan mulai membaik sedikit demi sedikit. Bukan berarti gue udah berhasil menuntaskan semua masalah gue itu… Ada beberapa yang udah benar-benar tuntas, ada yang baru sekedar menemukan titik terang, tapi ada juga yang meskipun belum ada kejelasan, seenggaknya gue udah mulai terbiasa dan udah bisa nerima kenyataan yang nggak menyenangkan itu.
Selama beberapa bulan belakangan itu pula gue jadi banyak mengevaluasi diri gue sendiri. Selain itu, gue juga jadi lebih rajin mengamati orang-orang di sekitar gue. Cuma untuk memastikan… yang hidupnya banyak masalah itu bukan cuma doang kan? Hehehehe. Sehingga pada akhirnya, gue bukan cuma menemukan something to learn from my problems, tapi juga something to learn from others’ life.
And here are ten things I have just learned recently. Semoga bisa jadi input buat teman-teman semua…
1. Jangan takut menganggap seseorang sebagai teman karib kita. Asalkan ada rasa nyaman, rasa percaya untuk berbagi, dan rasa gembira saat menghabiskan waktu dengan mereka, maka mereka adalah teman karib kita. Nggak perlu takut jangan-jangan mereka enggak menganggap kita hal yang sama. Terbiasa membatasi diri dengan orang lain cuma bikin kita end up with nobody. Although in fact they don’t think so about us, then that is their loss, not ours;
2. We don’t know how much we love somebody until they’re gone. Makanya mulai sekarang, gue ingin mengurangi kebiasaan push people away saat gue sedang merasa insecure. Ini juga sama… terbiasa take people for granted cuma bakal bikin kita end up with nobody. Akan tetapi pada akhirnya, the people who’s gonna stay with us forever are the ones who keep coming back no matter how hard we try to push them away;
3. Love ourselves first before we love someone else. Tanamkan sama diri kita bahwa kita berhak mendapatkan seseorang yang memperlakukan kita dengan baik, yang menjadikan kita prioritas (dan BUKAN ban serep), yang rela menempuh resiko apapun, dan bersedia mengambil semua kesempatan yang ada hanya untuk bisa ambil bagian dalam hidup kita. Terlalu lama mempertahankan orang yang tidak ingin tinggal dalam hidup kita cuma buang-buang waktu dan tenaga kita aja;
4. Sebaliknya, pertahankan sekuat tenaga orang-orang yang dengan tulus ingin terus ambil bagian dalam hidup kita. If we have a fight with them, it’s ok to have some break as long as we always try to find a way to come back;
5. Ingat baik-baik bahwa saat kita mencampakkan orang lain, maka saat itu kita sama saja sedang mengajarkan mereka bagaimana hidup bahagia meski tanpa kehadiran kita. Jangan kaget dan kecewa kalo suatu hari kita ketemu lagi sama mereka, ternyata hidup mereka tetap baik-baik saja meskipun sudah kita tinggalkan;
6. Saat mengambil keputusan tentang sesuatu yang berhubungan dengan orang lain, maka pertimbangkan juga perasaan orang itu. Begitu pula dalam mempertimbangkan timing. Right time buat kita belum tentu right time buat mereka. Be wise;
7. Seringkali, kenyataan itu tidak terlihat dan tidak terdengar. Makanya jangan cuma menilai berdasarkan apa yang kita lihat, dan jangan hanya berpegangan terhadap apa yang kita dengar. Akan tetapi sebaliknya, saat berhadapan dengan orang lain, it’s gonna be better to show people who we are and tell them what we feel. Dengan begitu, hidup pasti akan jadi jauh lebih mudah;
8. Kita tidak perlu mendapatkan semua yang kita inginkan hanya untuk merasa bahagia. Kebahagiaan sejati itu bukan kebahagiaan saat segalanya berjalan sempurna, melainkan tetap bahagia meskipun banyak masalah yang sedang menimpa kita;
9. Ada beberapa prinsip yang harus dipertahankan setengah mati. Akan tetapi, ada pula prinsip yang harus rela kita anulir seiring berjalannya waktu. Bukan berarti tidak berpendirian… hanya saja kadang-kadang, memang seperti itulah proses pendewasaan menuju pribadi yang lebih baik; dan
10. Sekuat apapun kita berusaha untuk memperbaiki diri, kita tetap tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Maka carilah orang-orang yang bisa menerima kita dengan segala ketidaksempurnaan itu, dan sayangi orang lain dengan segala ketidaksempurnaan mereka.
Pencapaian Kecil Sepanjang Tahun 2010
This is my first blog in 2011! Masih dalam suasana tahun baru, kali ini gue ingin sharing pencapaian-pencapaian kecil gue sepanjang tahun 2010, yang belum sempat gue tuliskan di blog sebelumnya. Happy reading and happy new year again!
Berat badan naik 6 kg!
Awalnya kenaikan berat badan gue masih nggak stabil, bisa naik-turun dalam kisaran 3-5 kg. Tapi menjelang akhir tahun, kenaikan berat badan gue mulai stabil dan tetap naik sedikit demi sedikit. Per 31 Desember 2010, berat badan gue total naik 6 kg selama tahun 2010! Semua ini berkat makan malam dua kali (satu kali menjelang Maghrib, satu kali lagi setelah pulang kerja) ditambah minimal satu jenis cemilan dalam satu hari. Kalo kata temen gue, porsi makan sebanyak itu bisa bikin dia jadi babon, hehehehe. Thanks to my damn difficult job which makes me get hungry easily!
Rajin minum air putih.
Udah sejak jaman kuliah gue sering dinasehatin buat lebih banyak minum air putih. Soalnya gue ini tadinya cuma minum air putih kalo haus doang. Sebagai gambaran, satu botol Aqua ukuran sedang bisa awet nangkring di meja kerja gue selama dua-tiga hari! Tapi gara-gara belakangan ini gue sering sakit tenggorokan, akhirnya gue ikutin saran temen-temen buat lebih banyak minum air putih. Dan bener aja lho… Akhir tahun kemaren gue batal sakit tenggorokan setelah gue lawan dengan minum berbotol-botol air putih! Sekarang gue bisa refill botol minum gue berkali-kali dalam sehari.
Punya beberapa temen ngobrol baru.
Gue kenal banyak orang baru sepanjang tahun 2010. Beberapa di antaranya, nggak disangka-sangka langsung cocok bertemen sama gue. Misalnya Luzy, senior di EY yang tiba-tiba ditugasin buat kerja satu tim sama gue. Awalnya gue bingung… bukannya bakal lebih efektif kalo gue kerja bareng orang yang udah kenal sama gue? Tapi nggak disangka-sangka, akhirnya gue sama Luzy bukan cuma cocok jadi partner kerja, tapi juga cocok buat jadi temen ngobrol. Ada pula pendatang-pendatang baru di EY yang langsung cocok jadi partner gosip gue, hehehe. Yang paling aneh, ada satu cewek yang sebelumnya gue enggak pernah nyangka bakalan bisa asyik chatting berjam-jam sama dia! Ternyata berteman dengan lebih banyak otang itu rasanya menyenangkanJ
Semakin menghargai persahabatan yang udah lama gue miliki.
Selama 2010, entah kenapa ada lebih banyak orang yang suka nge-judge gue seenaknya. Terkadang, emang suka ada situasi yang bisa bikin gue kelihatan jahat. Dan sebenarnya hal yang sama juga pernah terjadi antara gue dengan sahabat-sahabat gue. Tapi bedanya dengan orang lain, mereka selalu berusaha memahami alasan di balik tindakan atau ucapan gue. Kalaupun pada akhirnya mereka enggak ngerti-ngerti kenapa gue sampe bertindak seperti itu, mereka tetap berusaha buat percaya bahwa pada dasarnya, gue bukan tipe orang yang suka dengan sengaja menyakiti perasaan orang lain. Beda banget sama orang-orang yang langsung ngasih gue cap hitam tanpa berusaha untuk klarifikasi terlebih dahulu! Intinya gue jadi sadar… orang yang bisa menerima gue apa adanya itu sangat hard to find.
Lagi, semakin menghargai persahabatan yang udah lama gue miliki.
Ada satu hal lagi yang bikin gue seolah baru menyadari betapa istimewanya sahabat-sahabat gue di tahun 2010 kemarin. Gue baru sadar kalo selama ini, apapun yang terjadi, dan meskipun mereka enggak selalu sependapat sama gue, pada akhirnya mereka akan tetap mendukung gue. Mereka selalu berusaha untuk percaya bahwa apapun yang gue lakukan sama hidup gue, itu semua udah melewati pertimbangan yang panjang. Kalaupun ternyata nasehat mereka yang gue abaikan itu terbukti benar, mereka enggak bakalan menertawakan atau berpuas diri. Mereka tau banget… my life, my risk, and all I need from them is only a friendly support. Sayangnya, enggak semua orang bisa bersikap supportif seperti itu.
Akhirnya gue tahu apa yang gue cari dari seorang cowok.
Ini bukan sesuatu yang gue banggakan, tapi faktanya, entah udah berapa kali gue tiba-tiba menghindari cowok yang lagi dekat sama gue. Awalnya gue juga bingung, kenapa seperti apapun tipe cowoknya, ujung-ujungnya gue selalu aja punya alasan buat ‘kabur’. Sampai akhirnya di tahun 2010, gue berhasil menemukan benang merahnya: gue selalu ‘kabur’ karena ada hal-hal yang bikin gue jadi ragu sama cowok-cowok itu. Gue ngerasa, daripada nanti gue yang ditinggalin, mendingan gue duluan yang ninggalin mereka. Kesimpulannya, sekarang gue jadi tahu bahwa yang gue cari bukan cuma sekedar cowok yang bisa bikin gue jatuh hati, tapi juga cowok yang bisa bikin gue yakin bahwa apapun yang terjadi, dia akan tetap berada di samping gue. Dan itu harga mati.
Tipe Cowok Favorit Cewek Dari Masa ke Masa
Gara-gara obrolan singkat sama Arlene sore ini, gue jadi kepikiran buat nulis tentang cowok-cowok favorit cewek dari jaman mereka masih SD, SMP, sampai akhirnya mulai memasuki usia dewasa. Mungkin nggak selalu applicable buat semua orang, tapi at least, this is the result of my own observations. Hope you enjoy reading and please no offense for any guys who read this, hehehehe.
Waktu masih SD
Biasanya, cinta monyet cewek-cewek itu nggak jauh-jauh dari teman sepermainannya sendiri (bisa jadi tetangga atau teman sekelas). Kalo gue inget-inget, biasanya cowok-cowok cilik itu suka banget ngisengin cewek-cewek yang mereka taksir. Makanya, tipe cowok favorit cewek yang masih SD biasanya cowok-cowok jahil yang bisa jadi pernah bikin mereka nangis karena diisengin.
Cinta monyet gue namanya Wanda, teman sekelas dari kelas 1 sampai 3 SD. Dulu si Wanda ini suka banget nyubitin tangan gue. Nyokap gue sampe marah-marah dan kepengen nyamperin Wanda ke sekolah gara-gara suka nyubit gue sampe berbekas. Naik ke kelas 4 SD, gue pindah sekolah ke Bekasi dan sampe sekarang enggak pernah ketemu lagi sama cowok ini. Terakhir denger cerita dari Kiki, satu-satunya teman dari SD itu yang masih keep contact sama gue sampe sekarang, setelah lulus SMA Wanda kuliah di luar negeri, entah di negara mana…
SMP
Setelah SMP dan mulai puber, biasanya cewek-cewek suka banget sama cowok yang suka ngegombal. Mulai dari gombalan yang ditulis pake kapur di atas meja di ruang kelas, surat-surat cinta, nitip-nitip salam lewat temen, sampe nyanyiin lagu sambil main gitar. Nggak heran kalo cowok-cowok model begini naik daun banget waktu masih SMP. Beda sama cowok-cowok pemalu yang di usia ini sering naksir cewek secara diam-diam.
Waktu SMP kelas 3, gue nemuin cowok yang sampe sekarang pun, gue anggap sebagai cowok paling romantis yang pernah deketin gue. Selain suka ngegombal, ini cowok emang asli baik banget kalo sama gue. Bisa habis satu halaman sendiri kalo gue mau nyeritain usaha pdkt dia waktu itu. Sayangnya cowok ini playboy banget sih… pacarnya ada banyak! Walaupun pada akhirnya gue enggak pernah jadian sama dia, gue akan selalu mengingat dia sebagai orang yang sangat berpengaruh dalam hidup gue. Kalo mengutip lagunya boyband Blue, this guy brought out all the best in me.
Oh ya, setelah kuliah gue sempet ada kontak lagi sama cowok ini. And you know what… sifat gombalnya udah bener-bener ilang loh. Seems like gombalan yang kayak dulu itu emang cuma dimiliki sama cowok-cowok yang baru puber deh, hehehe.
SMA
Cowok favorit anak-anak SMA itu biasanya terbagi dalam dua tipe: cowok populer (biasanya anak basket) sama cowok-cowok yang pinter ngelucu. Nggak penting pinter atau bodoh, cakep atau cupu, tajir atau pas-pasan, yang penting populer atau pinter bikin cewek-cewek ketawa terbahak-bahak.
Gebetan gue waktu SMA sebenernya ada banyak (hahahaha, ketauan genitnya deh gue!), tapi cuma ada satu yang bolak-balik gue taksir dari awal sampe lulus SMA. Soal cowok ini sih, hampir semua temen gue udah tau lah, kalo gue dulu naksir banget sama dia. Ibaratnya novel/film Cintapuccino, cowok ini adalah Nimo buat gue. Bedanya dengan Cintapuccino, setelah lulus SMA ya udah, gue enggak pernah lagi nginget-nginget si cowok ini. However, it’s always funny if my high school pals remind me how crazy I was because of this guy, hehehe.
Kuliah
Entah kenapa, cowok-cowok bandel alias bad boy naik daun di jaman-jamannya kuliah S1. Gue kenal cukup banyak cowok model begini yang enggak pernah berlama-lama menyandang status jomblo. Mereka selalu gampang aja nemuin cewek baru buat dipacarin. Udah gitu herannya, udah tau mereka itu bad boy yang suka ganti-ganti pacar tapi tetep aja tuh, mereka diterima jadi pacar sama cewek-cewek itu…
Kalo yang gue rasain sih, pada usia kuliah itu kan hidup udah mulai kerasa susahnya. Udah enggak se-nothing to lose kayak jaman SMA gitu. Nah, pas lagi stres sama kehidupan baru as a college babe itulah kehadiran bad boy jadi terasa menyenangkan. As we know, most of the bad boy (I even can say ALL of those bad boys) exactly know how to have fun with their life.
Setelah kerja
Sorry to say, pada akhirnya, setelah tumbuh dewasa, cewek-cewek akan tetap lebih memilih cowok yang mapan secara finansial serta cowok yang bisa memberikan mereka rasa aman dan nyaman. Cowok-cowok yang cupu waktu SMA tetapi mapan setelah bekerja akan gantian jadi favoritnya cewek-cewek yang udah dewasa.
Mungkin cowok-cowok ini enggak pinter ngegombal kayak cowok-cowok SMP itu. Atau enggak pinter ngelucu kayak cowok-cowok SMA. Dan enggak seatraktif cowok-cowok bandel di bangku kuliah. Tapi tetap saja, cewek yang udah mulai dewasa akan berpikiran panjang dan mencari cowok yang bisa dipercaya, bisa melindungi, dan bisa dijadikan pemimpin, bukan sekedar cowok buat bersenang-senang.
Makanya gue sih enggak heran kalo ngelihat cewek super cantik dengan deretan mantan yang keren abis akhirnya malah married sama cowok tajir yang biasa banget. Kalo gue lihat sih, enggak selalu karena cewek-cewek itu matre yah. Biasanya mereka itu udah capek sama cowok-cowok terdahulu yang suka menguras air mata mereka (entah kenapa, mayoritas cowok mapan yang biasa banget itu kelihatan cinta banget sama pacarnya), cowok-cowok yang masih kepengen bebas (enggak jelas mau nikahin mereka apa enggak), atau cowok-cowok yang masih berprinsip work less play more.
Kalo gue sendiri sih, bukan bermaksud untuk nyombong nih ya, gue bukan tipe cewek yang ngerasa harus nemuin cowok tajir buat meningkatkan taraf kehidupan gue. I simply think that if I want to change my life in financial aspect, I can do it by my own effort at work. So if I fall in love in love with a man, I love him just the way he is, not because of his car, house, and bank accounts. Meski begitu, gue dan cewek-cewek yang berkarier lainnya tetap lebih memilih cowok yang penghasilannya minimal setara dengan kita. Bukannya kenapa-napa, kalo gue sih cuma belajar dari pengalaman orang lain yang pada umumnya, akan sulit berhasil kalo si cewek masih lebih sukses daripada cowoknya. Lagipula, kalian cowok-cowok juga enggak kepengen sampe punya cewek yang lebih kaya raya kan?