The Chances

There’s a recent event which made me think about chances. About chances that we never give to the people we know. To the people who might be the best thing in our life, if only we ever gave them a chance to be a part of it.

Sometimes, we shut people down in the first place. When the first impression becomes everything to us, we don’t give them a chance to show us how good they can be. We divide people to ‘yes’ and ‘no’ right in the first sight. We just don’t care about the fact that it takes times for people to show their true colors. It takes times for us to see their true colors.

Or maybe… we do give them a chance to be a part of our life. As our friends. As our favorite colleagues. BUT… we never give them a chance to be more of it. We keep trying to convince ourselves that it’s not worthy. That we don’t really want them to be more than who they already are to us. We keep making excuses while in fact, we’re just scared. We’re just scared of the risk that we need to take just to be with them. We just don’t care about the possibility that they may be the best thing that ever happens to our life.

This thought finally reminds me to the people whom I pushed away. The people who sincerely wanted me to be a part of their lives. The people whom I easily judged as the wrong ones. I just realized that some of them, a few years later, have proven me that I was wrong. I was wrong to be afraid just to be with them. I was wrong for telling myself not to fight for them, fight for their presence in my own future.

Life is made up of choices. Somehow I still believe, even the wrong choices happened for a reason. It’s the wrong choices which finally lead me to learn how to do it right. Hence I know that I shouldn’t be drowning in regrets. Hence I know that all I need to do is starting to do it right: I should learn how to give people a chance. I should understand that when I give people a chance, I give myself a chance to get the best possible things to come.

Have you ever heard a quote that says, “If it scares you, it might be a good thing to try.” And you will never know how good it can be unless you give it a try. It may work, it may never work, but one thing for sure… at the end of the day, you will only regret the chances that you never take.

Give people a chance, take chances, and see how different your life will ever be.

What a – Grown up – Girl Really Wants

When I was younger, I thought what I really wanted was a guy who gets me. A charming guy who can make me laugh. A gentle man who knows how to treat me like a lady. The one who can make me feel pretty, make me feel special, make me feel like I’m the only girl in the world. But you know what… as the time goes by, as I’m growing up, I know that all the stuffs I just wrote down here, are no longer the number one things that I really want.

I know so many guys with charming smiles who can make me laugh and make me feel good about myself within seconds. They’re very polite, their pick-up lines are beautiful to hear. But what does it mean anyway if all they want is just to have some fun? It’s just to make them feel like a prince charming with many girls attracted to them. What does it mean to me if they never really want to stay?

In time I eventually understand that I need someone who makes me feel safe. Someone whom I believe will stay with me for better or worse. Not someone who makes me need to put so much efforts just make him stay. Not someone who only treats me as an option. Not someone who keeps making me being scared of him leaving in a blink of eyes. I simply need someone who gives me and him a chance to give our best shot. And believe me when I say, this kind of guy is not always easy to find.

Maybe he’s not someone who always understands me, but at least, he never stops trying to learn. Maybe he’s not always funny, not always nice to me, but I want him to always try to make things right for us. Maybe he’s not the smartest and richest guy I’ve ever met, but I want him to be tough enough to get through the worst possible days. He doesn’t need to be a super wise one, but I need him to accept me with all my flaws. And everytime I say “I” in this blog, believe me again when I say, it represents most of all the girls in the world, especially the mature ones.

It’s still nice to have someone who can make me laugh, who knows how to comfort me, how to make me feel special and so on, but at the end of the day, everything is nothing if he’s not willing to fight for me, fight for our chance. So that’s it; that’s all I (or all the girls on earth) really want is someone who gives his best to keep us as a part of his life. It might sound simple, yet once again, this guy is hard to find.

Girl’s Number One Mistake

Beberapa hari yang lalu, gue asyik ngobrol soal sama salah satu teman sekantor tentang kebiasaan cewek yang umumnya terlalu mudah menaruh harapan tinggi. Terlalu mudah jatuh hati. Terlalu mudah mengambil kesimpulan kalau si gebetan juga suka sama kita… Meski dimulai dengan serba mudah seperti itu, giliran akhirnya harus letting go, yang ada ngelupainnya malah susah setengah mati!

Percakapan malam itu bikin gue jadi teringat masa-masa yang lalu…

Penasaran apa dia juga suka sama gue atau enggak.

Sibuk ngumpulin ‘pertanda-pertanda’.

Sibuk nanyain pendapat orang lain tentang perasaan dia ke kita.

Hari ini optimis, besoknya pesimis.

Dan yang paling sedih, suka jadi kesel sendiri, “Kenapa gue sebegininya amat ya? Belum tentu dia juga lagi sibuk mikirin gue!”

Nggak lama setelah obrolan dengan teman gue itu, ceritanya ada cowok yang tiba-tiba suka ngajakin gue ngobrol. Sekali, dua kali, berkali-kali… sampe ujung-ujungnya ngajakin dinner bareng. Reaksi gue? Biasa aja. Secara ngajakin dinner-nya juga rame-rame kok. Tapi ternyata, hal itu bikin temen-temen gue jadi pada heboh. Mereka bilang, “Mau bawa temen itu cuma alibi dia buat jalan bareng elo!”

Gue nggak nanggepin serius. Gue yakin temen-temen gue juga enggak serius. Gue beneran nganggep ajakan dinner itu ya cuma antar teman aja. Tapi gue terus kepikiran… kenapa gue sama sekali enggak kegeeran yah? Bukan karena ini cowok kurang keren atau apa. Malah, dia itu boleh dibilang salah satu cowok paling cakep yang pernah gue kenal. Tapi kenapa gue ngerasa biasa-biasa aja? Dan gue lalu teringat… seandainya cowok itu adalah cowok yang gue suka, berikut ini isi kepala gue jika hal yang sama juga terjadi antara gue dan si gebetan…

  1. Jangan-jangan dia itu sengaja nanya-nanya soal kerjaan gue cuma buat cari topik supaya bisa ngobrol sama gue!
  2. Tadi dia muji-muji gue kayak gitu maksudnya apa ya?
  3. Lalu puncaknya: wah, dia ngajakin gue dinner! Jangan-jangan dia bilang bakal bawa temen-temennya itu cuma alibi buat jalan bareng gue aja! Siapa tau pas hari H, dia bilang temen dia mendadak cancel semua, hehehehe.

Jadi kesimpulannya, masalah cewek-cewek pada umumnya adalah, kalo udah mulai suka sama satu cowok, kita cenderung suka bereaksi berlebihan. Hal-hal kecil yang dilakukan si gebetan jadi kita besar-besarkan. Jadi masuk ke dalam pikiran. Jadi kegeeran. Jadi bikin senyum-senyum sendiri… Buktinya, giliran cowok yang kita nggak suka, mereka melakukan hal besar pun, bisa jadi kelihatan kecil dan enggak ada artinya di mata kita.

Malam itu, gue bilang begini sama teman yang gue ceritakan di awal…

Pada dasarnya, ada dua tanda cowok itu suka sama kita:

  1. Kalau dia memperlakukan kita secara berbeda jika dibandingkan dengan perlakuan dia ke cewek-cewek lainnya, dan
  2. Kalau dia berusaha menunjukkan rasa sukanya itu. Contoh yang paling jelas: ngajak kita untuk nge-date. Further more, he will make it very clear that he wants us to be his girlfriend.

Gue juga bilang sama teman gue itu, “Tapi sayangnya, kalo kita udah suka sama satu cowok, kita cuma fokus sama point 1 itu aja. Kita hanya fokus untuk mengumpulkan fakta-fakta bahwa dia juga suka sama kita, fakta bahwa dia memperlakukan kita secara berbeda. Kita sibuk menebak-nebak. Padahal kenyataannya, kalo dia beneran suka sama kita, dia pasti akan ngelakuin apapun buat jadian sama kita.

As I’ve ever written in this blog, when a guy likes you, it’s obvious. Dengan kata lain, kalo kita masih harus nebak-nebak isi hati dia, maka kemungkinan besar, kita hanya bertepuk sebelah tangan. Kalaupun misalnya, dia juga ada rasa suka sama kita tapi dia tetap tidak melakukan something real untuk menjadikan kita sebagai pasangannya, maka tetap lupakan saja. Kalau sudah begtitu jalan ceritanya, maka hanya soal waktu saja sampai akhirnya nanti dia benar-benar meninggalkan kita.

That’s why I think, girl’s number one mistake in love life is to let herself fall for a guy who is not there, or who is not willing, to ever catch her fall.

Ketika ‘Golongan Darah O’ Jatuh Cinta

Baru-baru ini, berdasarkan rekomendasi seorang teman, gue baca buku komik tentang karakter golongan darah. Judul bukunya: “Simple Thinking About Blood Type” volume 1 & 2 by Park Dong Sun.

Nah, berdasarkan kedua buku itu, gue ingin merangkum karakteristik golongan darah O (golongan darah gue tentunya) saat sedang jatuh cinta. Berikut summary-nya!

  • Golongan darah O yang cenderung mengelompokkan orang berdasarkan teman atau lawan, akan langsung memberikan penilaian pada saat pertemuan pertama. Yang ini asli tipikal gue banget. Saat baru kenal, gue cenderung secara otomatis ‘memisahkan’: yang ini tipe gue, yang ini bukan tipe gue. Dan umumnya, gue cenderung konsisten dengan ‘pembagian’ itu. Cowok yang kemudian gue suka pastilah cowok yang emang sejak awal masuk kategori tipe gue banget itu;
  • Karena semangat hidupnya tinggi, mereka tidak akan melewatkan jam makannya, meskipun terlukai atau berpisah dengan pacarnya. Tipikal yang berusaha membuktikan, “Lihat saja, aku akan hidup dengan baik!” Kalo yang ini nggak seratus persen mirip dengan karakteristik gue. Kalo gue udah bener-bener suka sama seseorang, di awal perpisahan gue tetep cenderung jadi nggak nafsu makan. Tapi untungnya, hal itu enggak pernah berlangsung lama. Sama seperti yang digambarkan oleh buku ini, gue tipe orang yang berusaha keras untuk membuktikan bahwa hidup gue akan baik-baik saja;
  • Golongan darah O yang realistis tidak mengorbankan hidupnya untuk cintaAda ilustrasi di buku ini yang menggambarkan, golongan darah O bukan tipe orang yang rela terjun ke jurang hanya demi cinta, hehehehe. Bisa jadi ada benarnya, tapi… perumpamaannya rada lebay juga sih ini… Emangnya ada gitu, golongan darah yang beneran rela terjun ke jurang? Hehehe;
  • Bila golongan darah O yang realistis diumpamakan dengan puteri duyung, maka ia tidak akan menerima tawaran dari sang penyihir untuk menukar suara dengan sepasang kaki. Ada ilustrasi di buku ini yang menggambarkan si puteri duyung berkomentar, “Kayak enggak ada laki-laki lain saja!” Gambar yang ini bener-bener bikin nyengir 😀
  • Karena bersifat realistis terhadap kehidupan, mereka tidak mengenal permintaan kekanak-kanakan seperti “ambilkan bulan di langit”. This is completely true! Gue bukan cuma enggak pernah mengorbankan ini dan itu, tapi juga enggak (atau mungkin belum, hehehe) pernah menuntut orang lain untuk mengorbankan ini dan itu buat gue;
  • Cewek golongan darah O yang lebih dewasa dan mapan secara finansial bebas bersosialisasi dan sukses. Mereka tidak menganggap penting seorang cowok. Ini kalo buat gue, bisa jadi banyak benarnya, tapi kadang-kadang, tetap ada aja cowok yang gue anggap sebegitu pentingnya. Tapi ya gitu deh… Kadang gue suka lama sadarnya. Di awal-awal, gue cenderung cuek bebek. Not priority, I’m busy with my life, etc etc… Tapi ternyata, giliran udah nyaris saying goodbye, barulah gue panik dan nyadar bertapa pentingnya dia buat gue… I guess it’s something I need to change;
  • Ketika golongan darah O jatuh cinta, bum! Cepat sekali mendidihnya. Tetapi bila menguap, wus! Cepat sekali manjadi dinginnya. Ini juga ada benar dan tidaknya, tergantung seberapa gue suka suka sama cowok-cowok itu. Tapi emang bener sih, di saat sudah ‘mendingin’, gue beneran bisa bertemen sama mereka tanpa bawa-bawa perasaan sedikitpun; dan
  • Daya tarik cewek golongan darah O: ceria, penuh semangat, cerdas. Entah ini bener apa enggak, tapi gue nyadar banget… eskpresi muka gue saat sedang sedih, marah, dan stres itu bener-bener bikin gue enggak ada menarik-menariknya, hehehehe.

Jadi kesimpulannya… seberapa akurat sih, pembagian karakteristik berdasarkan golongan darah ini? Sebenernya gue tipe orang yang realistis banget. Gue enggak percaya zodiak, shio, dsb dsb. Gue enggak percaya karakteristik jutaan manusia di dunia ini bisa dibagi hanya berdasarkan beberapa golongan tertentu saja. Tapi entah kenapa, pembagian karakter ala golongan darah ini terasa lebih akurat buat gue ketimbang pembagian karakter menurut zodiak atau shio. Emang nggak sepenuhnya benar, tapi emang sifat dasar gue mirip-mirip sama isi buku ini. Kesimpulannya sih, menurut gue buku ini cukup menarik dan lumayan menghibur. Hanya saja sayangnya, terjemahannya suka agak aneh! Overall, you can put this book in you to read list.

Recently I’ve Learned…

Recently I’ve learned…

When you really love somebody, you won’t really have an exact reason why you love him that much.

You might be in love with his kindness, yet you’re still in love with him when he’s careless in his very bad day.

When you really love somebody, you might be surprised, or maybe shocked, with the real him that you never knew before. However at the end of the day, you still love him for who he is.

You can’t stop loving this person just because he doesn’t dress the way you want to. Not either just because he doesn’t always behave like a prince charming. You love him just the way he is.

When you find the one whom you really love with all of your heart, you will understand the reasons why people say that love is blind. He might lie to you, break his promises, even break your heart… but you still love him anyway.

A real love is not always easy to understand. It may come unexpectedly. Not to someone whom you ever imagine. Not at the time that you choose to fall in love.

Yet real love is real love. Now that I understand it, next I’m hoping to feel it, to someone, who feels it back to me.

The Dream Guy; Based on a Popular Chick Flick

Ceritanya gue baru aja selesai baca novel yang sangat-sangat populer di kalangan kaum hawa. Awalnya gue kira, cuma cowok-cowok aja yang seneng baca novel model begitu, tapi ternyata…. mayoritas penggemarnya justru kalangan perempuan! Saat novel ini hendak diangkat ke layar lebar pun, cewek-cewek dari berbagai kalangan mulai heboh setengah mati saking nggak sabarnya pengen lihat visualisasi dari novel favorit mereka itu.

Novel kontroversial yang enggak bisa gue sebutkan namanya ini kalo dari segi jalan cerita sih bukan salah satu yang terbaik yang pernah gue baca. Mirip-mirip novel Harlequin kalo menurut gue. Kalo nanti udah jadi film, menurut gue ini bisa jadi salah satu film yang pantes masuk kategori ‘chick flick’. Lalu kenapa novel ini bisa begitu mendunia dan bikin cewek-cewek jadi tergila-gila? Jawabannya sederhana: novel ini menampilkan si cowok impian yang diam-diam diidamkan oleh perempuan pada umumnya.

Apa aja sih, kriteria cowok dalam novel ini yang bikin para pembaca perempuannya jadi sebegitu terpesona? Berikut ini daftar kriteria-nya 😉

 

Gentleman and treat us like a lady

Meskipun sekarang ini sudah jamannya emansipasi, perempuan pada umumnya tetap senang diperlakukan sebagai perempuan. Bantuin bawa barang-barang berat, bukain pintu, dan tentu saja, jangan biarkan kita (para perempuan) keluar uang buat biaya kencan, hehehehe. Cowok yang masih model begini kelihatan keren dan cowok banget di mata perempuan pada umumnya.  

 

Caring and put our safety first

Lagi-lagi, meski udah jaman emansipasi, perempuan tetap saja perempuan; tetap senang diperhatikan, tetap senang dijaga, dan tetap senang diperlakukan seolah ‘barang pecah belah’. Ngelihat si dia peduli banget sama kesehatan dan keselamatan kita bisa bikin kita jadi jatuh cinta. Bahkan cewek yang paling mandiri dan paling pemberani pun, akan merasa nyaman dan aman saat menemukan tipikal pasangan yang seperti ini. Seems like that prince charming concept will never get old.

 

Protective (or maybe just a little bit) and get jealous (also just a little bit please) easily

Harus gue akui, cowok yang lagi cemburu itu kelihatan sexy and cute 😉 Efeknya emang jadi protefktif, suka jadi banyak aturan soal kedekatan kita dengan cowok-cowok lain (mulai dari teman hingga rekan kerja). However, it feels good to see how someone can be so afraid of losing us to another man. It secretly makes us feel loved 😉 Tapiii, untuk yang satu ini harus hati-hati banget sih. Beda cewek beda pula kadar toleransinya. It’s okay to be protective, but don’t make us feel suffocated just because of it.

 

Spoil us with gifts and surprises (addition from me, give us the thoughtful one, not the expensive one)

Senang banget rasanya saat dikasih surprise sama si dia, terutama kalo kado yang dikasih sifatnya thoughtful. Misalnya, sesuatu yang sudah lama kita idam-idamkan, sesuatu yang benar-benar sedang kita butuhkan, sesuatu yang tidak terduga dan unforgettable, atau sesuatu yang bisa jadi pengingat atas kenangan lampau kita dengan si dia. Emang asyik juga sih, punya pasangan yang bisa kasih Audi untuk hadiah ulang tahun seperti yang diceritakan dalam novel ini, tapi realitanya, ada berapa banyak sih cowok yang setajir itu? Hehehe.

 

Good looking and well groomed

Just like the boys, girls are also proud to be with someone who can make any other girl envies us just at a blink of eyes. Itulah sebabnya, meskipun katanya penampilan bukan yang nomor satu, cowok ganteng dan keren tetap bisa bikin kita tergila-gila. Ditambah lagi kalo mereka tipikal yang pinter pilih baju, rapih, wangi, dan rajin cukuran, hehehe. However for me, all of the good qualities inside can beat all of the outside 😉

 

Good id bed

No comment for this one, hehehehe.

 

Pertanyaan berikutnya… cowok kayak dalam novel ini beneran ada nggak sih? Pertanyaan yang sulit secara gue enggak mengenal SEMUA cowok yang ada di muka bumi ini. But one thing for sure: expectation could kill our happiness. Boleh aja tergila-gila sama cowok dalam chick flick kayak gini, tapii, jangan menjadikan tokoh utama di dalam cerita sebagai standar cowok impian!

Ingat cerita tentang teman gue yang diberi setangkai bunga oleh pacarnya? Tadinya gue kira dia akan sangat hepi dengan bunga itu, tapi ternyata, dia malah merasa biasa-biasa saja karena dikiranya, si pacar akan membawa satu buket bunga mawar di perayaan anniversary mereka, dan bukan hanya satu tangkai. Dari situ gue belajar… ekspektasi yang terlalu tinggi dapat mengecilkan segala sesuatu yang tidak menyerupainya meskipun sebetulnya, hal kecil itu pun, merupakan satu hal kecil yang dapat membahagiakan kita.

That’s why for me, chick flick is an entertainment, but reality is reality. Though if someday I end up with this kind of guy, well… just consider it as a bonus for me then, hehehehe.

Tu Me Manques

il_570xN.371987770_stnnPeople says, we don’t really know what we feel about somebody until we start missing their presences in our life. And it can happen in every kind of relationships on earth.

I knew how much I cared about my nephew in my first out of town trip after he was born. Knowing that he was sick during my departure made me feel worried all the time. It felt like I wanted to go back home soon just to see that he was okay.

I knew how wonderful my best friends were after I realized how lousy other friends could be. Too bad that the terrible fight we had before made me couldn’t text them just to say hi. There were some times I really wanted to share the news about my life but I couldn’t. When I finally made up with them, it felt like a few parts of me were coming back.

I knew what a great boss that I used to have after knowing that other people might not do the same favors he did to me. It felt bad to realize that he had no obligation to be that good to me but he did. I’m happier with my new life now, I’m okay with my new boss, but frankly sometimes I think, “It would be different if it were him.”

Finally, most of the time, I knew that I loved somebody when they start missing from my life. In the worst scenario, it could happen when they left me for good. My life was falling apart, broken heart, and bla bla bla.  But sometimes, it could also happen in such an unexpected time. If I feel bad knowing that he will leave just for a holiday trip for instance, at that moment I will know I have that one feeling for him.

Unfortunately, I’m not good on missing somebody. I hope I could just grab my phone and text them first. But all that I can do is mourning the long gone past or looking at the calendar and counting days if I know for sure they will still come back. That’s why I really hate missing somebody.

I hate wondering whether they’re also thinking of me. I hate wondering whether they will say hello to me first. I hate wondering whether something will change upon their return. I also hate knowing that I no longer have somebody to talk those stupid things, to laugh those hilarious jokes, to work things out together, or simply just to see them somewhere in my daily life. And for me, it’s not a pleasant thing to feel this way.

Do you know in French, you don’t really say “I miss you” when you actually miss somebody? They will say instead, “Tu me manques” which means “You are missing from me”. It sounds nice to me, and, it describes better how I feel about missing somebody. I miss them, simply because they are missing from my life. And I really really… want to have them back.

When a Guy Likes You, It’s Obvious

Berawal dari suggested page di Facebook, gue jadi nemuin artikel ini. Artikel yang bikin gue senyum-senyum sendiri, yang tanpa gue sadari, ada beberapa wajah cowok yang melintas di benak gue selagi membaca artikel itu sampai habis. Selesai membaca, gue langsung share ke Facebook page gue dengan menambahkan comment, What do you think? I think it will be nice if it’s true ;)”

Seperti yang diakui oleh penulis artikel tersebut, cewek-cewek itu umumnya gemar sekali bertanya-tanya… “He likes me, he likes me not…” Tampaknya artikel “10 Signs He’s Into You” jauh lebih populer ketimbang artikel “10 Signs She’s Into You.” Padahal kalo menurut gue, bener juga apa yang dibilang oleh si penulis di paragraf pertama artikelnya, “When a guy likes you, it’s obvious.”

Dulu, gue pernah menghabiskan begitu banyak waktu untuk mempertanyakan isi hati cowok yang sedang dekat dengan gue. Bahkan bodohnya, gue hobi menanyakan pendapat teman-teman gue yang juga mengenal si cowok itu. Dan bodohnya lagi, gue lebih percaya pendapat teman-teman cewek yang bilang, “Elo cuma salah sangka” meskipun sebenarnya, teman-teman cewek gue itu sama sekali enggak akrab dengan gebetan gue itu.

Ironisnya, seiring berjalannya waktu, barulah sedikit demi sedikit gue menyadari bahwa si mantan gebetan itu emang beneran pernah suka sama gue. Semakin lama justru semakin gue berpikiran, “Enggak mungkin dia sampe segitunya kalo bukan karena suka sama gue!” And at the time where I realized that I was wrong, I was already too late.

Jadi bener deh, girls… When a guy likes you, it’s obvious.

Saat ketertarikan mereka masih terbatas ketertarikan fisik (biasanya di awal-awal kenal), mungkin mereka tidak akan langsung melakukan aksi pendekatan yang sifatnya disengaja. Tapi memang benar, tanpa mereka sadari, bahasa tubuh mereka sudah akan terlihat berbeda dengan sendirinya. Mereka akan berdiri atau duduk dengan jarak yang sangat dekat dengan kita, posisi tubuh selalu condong ke arah kita, dan tentunya, dia nyaris tidak pernah bisa mengalihkan pandangan matanya.

Kemudian saat mereka sudah berniat untuk melakukan pendekatan, mereka akan mulai selalu mencari cara untuk bertemu dengan kita, as often as possible. Jika kamu mengenal mereka di tempat kerja, jangan heran jika mereka tiba-tiba datang ke ruang kerja kamu hanya untuk membahas topik-topik yang nggak ada penting-pentingnya. Mereka akan mulai berusaha mengenal kita lebih dalam, hingga akhirnya, he will text you first, call you first, and he will ask you out for your first date. As simple as that.

Jadi kesimpulannya, kalo kamu jarang melihat wajah dia, kalo dia cuma cari kamu saat ada perlunya, kalo bahasa tubuhnya terlihat sama saja dengan bahasa tubuh dia saat sedang berinteraksi dengan cewek-cewek lainnya, then forget him, you’re likely having no hope.

But the tricky part is… sudah menunjukkan ciri-ciri ketertarikan pun, belum tentu itu berarti mereka punya niat untuk menjalin hubungan dengan kita lho. Ada beberapa cowok yang kalo suka banget duduk dan berdiri dengan posisi yang sangat dekat dengan gue. Ada pula beberapa yang saat duduk bersebelahan, mereka malah suka bersandar ke lengan kursi gue ketimbang lengan kursi mereka sendiri. Ada pula yang sampe suka menyentuh bahu atau tangan gue saat sedang ngobrol berdua, baik yang sifatnya sengaja dan ‘tidak sengaja’. Belum lagi pandangan mata yang dengan intens mengamati tiap sudut di wajah gue ini…

Secara gue tahu betul bahwa mereka tidak bereaksi seperti itu saat sedang berinteraksi dengan cewek-cewek lainnya, maka gue bisa dengan yakin menyimpulkan bahwa mereka memang tertarik sama gue entah secara fisik atau secara personality, TAPI, bukan berarti mereka juga tertarik untuk melakukan pendekatan lebih. Dengan kata lain, kalo baru sampe tahap ini, jangan keburu menaruh harapan tinggi! Apalah artinya tatapan mata yang sedemikian intens jika mereka tidak berminat untuk menjadikan kita lebih dari sekedar teman, kenalan, atau rekan kerja?

Honestly sekarang ini, gue pribadi lebih memilih untuk menikmati up and down yang gue rasakan di masa-masa awal perkenalan dan pendekatan. Trying to guess how he feels about me is fun! Rasanya seru dan bikin deg-degan kayak lagi naik roller coaster 😀

Pokoknya udah nggak ada lagi deh tuh… rasa frustasi karena nggak bisa berhenti bertanya-tanya, “Dia suka nggak sih sama gue?” Atau, “Mau dibawa ke mana sih hubungan gue sama dia ini?” Karena bisa jadi, rasa frustasi kita itu sendiri yang justru menutup jalan untuk bisa jadian sama si gebetan… Kalo belum apa-apa udah kelihatan ribet, rumit, dan sulit, gimana ke depannya nanti coba?

So just take it simple… if he really likes you, it’s obvious. He will sure try to let you know. Then if he really wants to be with you, he will find a way, no matter what and no matter how. But if you end up questioning his feeling for you until months, then maybe, you’ve got to move on.

Have You Been a Ms. Right for Your Future Mr. Right?

Belakangan ini, sejak usia gue mulai melewati seperempat abad, gue semakin sering menemukan teman-teman perempuan yang sudah mulai harap-harap cemas soal pasangan hidupnya. Ada yang jadi rajin ikut aerobic, nge-gym, rajin facial, diet ketat, dengan harapan, tubuh yang ideal akan menarik perhatian cowok-cowok di sekitar mereka. Ada pula yang hobi menyemangati diri dengan follow begitu banyak Twitter Account yang khusus membahas soal jodoh. Dan tentunya, semakin banyak pula teman-teman cewek yang gencar minta dicarikan jodoh oleh teman-teman terdekatnya.

Gue tidak bilang bahwa apa yang mereka lakukan itu salah… Bukan pula berarti gue ingin jomblo selama-lamanya…Gue juga tentunya tidak mau menghabiskan sisa hidup gue tanpa sang Mr. Right. It’s fun to live my life as a single lady, but it’s always merrier when I have someone to share my life with. Jadi pada dasarnya, gue cuma ingin bilang, gue mempunyai pendekatan yang berbeda dengan teman-teman perempuan gue itu.

Lalu apa pendekatan yang gue lakukan dalam rangka cepat-dapat-jodoh? Sebetulnya nyaris tidak ada… Karena yang gue lakukan hanya satu, dan yang hanya satu itu pun, tidak secara khusus gue lakukan semata-mata agar enteng jodoh. Yang gue lakukan itu sifatnya sederhana saja: berusaha memperbaiki diri gue sendiri dulu. Kenapa begitu? Karena gue ingin, saat gue bertemu dengan my Mr. Right, gue sendiri juga sudah siap menjadi the Mrs. Right buat si dia.

Dalam hati kecil, gue mengakui bahwa jika gue bertemu ‘si dia’ sekarang, mungkin, gue masih belum cukup baik untuk dia dan malah akan berakhir patah hati seperti sebelum-sebelumnya. Saat ini, gue masih jadi gue yang mementingkan karier di atas segala-galanya. Gue masih gue yang sulit mengekspresikan perasaan gue yang sebenarnya. Gue masih suka curigaan dan suka mendramatisir keadaan. Gue masih belum cukup sabar, toleransi masih belum cukup tinggi, sehingga dengan besar hati gue menyadari, gue belum bisa menjadi ‘the right one’ for someone out there.

Sejujurnya, kesadaran bahwa I’m not yet good enough itu justru gue dapati saat mengamati teman-teman yang gue sebutkan di awal tulisan ini. Ada beberapa di antara mereka yang menurut gue, bukan diet ketat yang mereka perlukan, melainkan upaya keras untuk berhenti bertingkah kasar di saat sedang marah, kelewat egois, kelewat manja, kelewat demanding, dan masih banyak sifat-sifat jelek lainnya.

Gue tidak bilang bahwa semua orang yang sudah berpasangan itu berarti mereka sudah punya behavior yang sangat baik. Jika semua orang yang sudah married punya sifat yang sudah sempurna, maka tidak akan pernah ada yang namanya perceraian, iya kan? However… I prefer to look at this positively. Setidaknya buat gue, saat Tuhan tidak kunjung mengabulkan doa yang gue panjatkan, selalu terbukti bahwa hal tersebut terjadi semata hanya karena satu hal: gue belum siap untuk menerima anugerah tersebut. And sincerely… I’m okay with that. Gue justru senang jika benar Tuhan tidak asal mengabulkan doa gue tanpa peduli apakah hal itu baik atau buruk untuk kehidupan gue ini…

Selain itu buat gue, sekedar menjadi someone’s girlfriend or someone’s wife saja sama sekali tidak cukup. I want to be a girl who makes him feels like at home everytime he’s right next to me. I want to be a girl who makes his worst days better than before. I want to be his best friend, his best supporter, his best listener, and his best partner in better and worse. I simply want him to feel proud to have me in his life, and I want to be someone whom he says in his prayers, “Thank God for giving her as a part of my life.” And honestly… I am not yet that girl whom I wish I could be.

Nah, sekarang, daripada sibuk bertanya-tanya, “Where is my Mr. Right?” lebih baik, cobalah bertanya dulu kepada diri sendirinya, “Have I been a Ms. Right for my future Mr. Right?”

Kriteria Cowok Idaman Gue

Waktu jamannya masih ABG dulu, gue pernah nulis begini di buku diary gue…

Kriteria cowok idaman:

  1. Ganteng;
  2. Senyumnya manis;
  3. Humoris… harus jago bikin gue ketawa;
  4. Badannya atletis;
  5. Lebih tinggi dari gue;
  6. Perhatian;
  7. Pinter;
  8. Bisa main gitar;
  9. Jago main basket (sumpah deh… kayaknya dulu itu gue kebanyakan nonton FTV, hehehehe);
  10. Ngetop di sekolah… misalnya, pengurus OSIS;
  11. Bisa nyetir mobil;
  12. Sabar; dan
  13. Penyayang binatang, khususnya kucing.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Apa kriteria cowok idaman gue sekarang?

Tadinya gue berniat nulis di blog ini tentang kriteria cowok idaman gue setelah beranjak dewasa… Jauh berbeda dengan rangkaian kriteria di atas tentunya, tapi entah kenapa… gue malah bingung mau nulis apa.

Ganteng nggak lagi penting? Tapi mayoritas gue naksirnya sama cowok-cowok ganteng. Lalu soal bentuk badan yang harus atletis… kenyataannya naksir cowok chubby pun gue udah pernah. Soal tinggi badan sih ya pengennya tetep yang lebih tinggi yah, tapi gimana kalo nanti gue malah naksir sama cowok yang enggak lebih tinggi dari gue? Gue juga tetep paling suka sama cowok lucu yang jago bikin gue tertawa lebar, tapi enggak menutup kemungkinan kelak gue malah berjodoh sama cowok cool yang lebih pendiam daripada gue kan?

I finally realized… writing down my dream guy criteria is no longer as easy as it used to be.

Ada banyak pengalaman buruk dengan Mr. Wrongs (Mr. Wrong with ‘s’… karena jumlahnya lebih dari satu, hehe) yang bikin gue merubah pikiran soal kriteria cowok idaman. Some of them already had almost all the things I need from a guy, but our relationship still failed to work. Tapi masalahnya, bukan berarti gue udah nggak kepengen cari cowok yang sama idealnya juga sih…

Nah… see? It’s complicated!

Setelah gue pikir-pikir sejenak… ya, gue memang kesulitan menulis hal-hal yang gue inginkan dari my future Mr. Right. Tapi ternyata, jauh lebih mudah untuk gue menuliskan hal-hal yang tidak akan pernah gue inginkan dari pasangan gue nanti. Sepertinya pengalaman buruk dengan Mr. Wrongs itu udah banyak membuka mata gue soal hal-hal yang sifatnya unacceptable buat gue. Berikut ini daftarnya!

7 things I will never want to have in my future Mr. Right:

  1. He treats me like an option. Gue nggak pernah berhasil menjalani hubungan dengan cowok yang sejak awal sudah terlihat ragu-ragu. Sepertinya buat mereka, gue ini bukan priority, melainkan hanya sekedar option. Ada pula yang jelas-jelas cuma ‘balik’ ke gue di saat dia sedang down, feel lonely, stress, dsb dsb… Finally… I realized this fact: they will always keep an option until finally, they find their own priority out there;
  2. Has a HUGE security issue. Cowok yang kayak gini umumnya punya sifat yang complicated dan menjalani hubungan sama mereka itu jadi cenderung banyak ‘drama’-nya. Bisa dikit-dikit ribut hanya karena hal-hal kecil yang bikin mereka ngerasa terancam;
  3.  Has a too HUGE ego issue. Cowok yang egonya terlalu tinggi cenderung suka menghalalkan berbagai cara untuk memuaskan ego dalam diri mereka. Nggak boleh gue salah dikit, mereka langsung sakit hati dan melampiaskannya dengan malakukan hal-hal yang bisa melambungkan ego mereka setinggi-tingginya;
  4. Easily gives up in his life. What if someday he gives up on me?
  5. Suka bersikap pasrah dalam menjalani hidup. Tipe kayak gini bukan tipe yang gigih mencari solusi, melainkan tipe orang setiap kali ada masalah, mereka cenderung berharap masalah itu akan selesai dengan sendirinya. They are simply not my type of persons;
  6. Terbiasa berbohong dengan mudahnya, bahkan tanpa dipikir terlebih dulu. Gue cuma nggak mau menghabiskan sisa hidup gue dengan selalu berpikir dalam hati, “Ini dia lagi ngomong jujur atau cuma lagi bohong seperti biasanya?”
  7. Tidak mampu memaafkan kesalahan orang lain. Sekuat apapun gue berusaha untuk memperbaiki diri, gue tetap tidak akan pernah bisa menjadi manusia yang sempurna. Kelak pasti ada kalanya, gue menyakiti perasaan orang yang benar-benar gue sayangi. Makanya, lebih baik sejak awal gue cari cowok yang punya sifat pemaaf daripada menjalin hubungan yang hanya akan bertahan seumur jagung.

Nggak munafik, punya cowok ganteng bisa bikin gue ngerasa bangga, tapi… itu nggak jaminan akan bikin gue jadi lebih bahagia. Buat apa ganteng kalo sifatnya lembek, gampang nyerah, dan cuma bisa pasrah sama nasib? Tapi ya itu tadi… bukan berarti gue udah nggak pengen punya pacar ganteng lho ya, hehehehe.

Intinya sih, sama seperti cewek-cewek pada umumnya, setelah dewasa gue jadi lebih wise dalam menilai lawan jenis. Berdasarkan pengalaman pribadi, gue tahu betul bahwa romance relationship dengan cowok yang punya setidaknya 1 dari 7 issues di atas tidak akan pernah berhasil buat gue. Bisa saja berhasil untuk orang lain, tapi tidak untuk gue. If it totally failed in my past, I do believe it will always fail again in nearest future.

Seperti yang pernah gue tulis di sini, penting untuk kita ‘merumuskan’ kriteria cowok idaman di usia 20-an supaya kita tidak malah berakhir dengan cowok yang salah. Nah… sekarang… apa kriteria cowok atau cewek idaman kamu? Just think and write it down in your own book!