Friendship Is…

Lately, I’ve been learning a lot of new definitons of friendship for life. It’s easy to have a friend to hang out with, but it’s never easy  to build a friendship to share our life with. That’s the only reason why the older you are, the less bestfriends you will have around.

Why do I say building a friendship is tough? 

Because friendship is accepting your friends’ imperfections and forgiving all their mistakes.

Friendship is being there for them even when you don’t feel like having anyone around.

Friendship is listening to the same stories over and over, about the people that perhaps you don’t know, and the topics that you’re not keen on.

Friendship is having each other’s back even when we feel that we disagree. 

Friendship is swallowing our desire to envy, to revenge, and to do all the bad things that we can think of.

And friendship is sticking up together even when we hate each other. 

Now… do you still think it’s easy to build?

It’s hard, that’s why it’s being said that friendship is actually a gift from us to ourselves. When we can push ourselves to be a decent friend to someone else, then we will also get a decent friend  for ourselves as a return.

It may take only months, but most of the times, you may need quite some years just to realize who your true best friends really are.

After so many ups and downs, I’m still believing that best friends forever is not a myth. I’m so glad and I’m so grateful that all these years, I trully know that I’m already on a right way.

The Truth Is, the True Relationship Doesn’t Always Look Pretty

Waktu kecil dulu, pernah ada teman sekelas yang bilang begini sama gue, “Kata Mama, aku nggak boleh bertemen terlalu deket sama orang lain.” Alasannya? Supaya tidak malah jadi sering ribut. Supaya tidak perlu sakit hati. Dan supaya hidup jadi lebih tentram.

Lalu ceritanya beberapa bulan belakangan ini, gue sedang berusaha untuk reconnecting dengan teman-teman lama gue. Ada beberapa di antaranya yang sempat putus kontak sampai bertahun-tahun lamanya. Hidup gue, dalam sekejap, menjadi lebih ramai daripada sebelumnya. Selalu ada saja kejadian-kejadian yang membuat gue merasa tersentuh. Hanya sekedar Whatsapp di pagi hari yang isinya, “Are you ok?” saja sudah cukup untuk membuat gue merasa tidak sendirian.

And did you know? That kind of warm and deep friendship was definitely not built in just an overnight!

Gue dan sahabat-sabahat gue ini sudah melewati begitu banyak hal. Kita pernah saling mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya kita katakan. Melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Pernah saling berpikiran buruk tentang satu sama lainnya. Bahkan seperti yang tadi gue tulis sebelumnya, pernah juga sampai tidak saling berkomunikasi bertahun-tahun lamanya.

Ya, pertemanan itu, semakin dalam memang akan semakin sering ribut. Semakin dekat justru semakin berpotensi untuk bikin kita jadi sakit hati. Dan saat sedang sakit hati, hidup memang jadi terasa semakin jauh dari rasa damai. Tapi tetap saja, untuk diri gue sendiri, gue tidak lantas berkesimpulan bahwa berteman erat itu ‘haram’ hukumnya!

Bertahun-tahun yang lalu, gue pernah punya masalah ekonomi, dan tanpa gue minta, sahabat-sahabat gue datang menawarkan bantuan.

Pernah pula gue nyaris disidang skripsi oleh dosen yang terkenal membenci gue setengah mati, dan saat gue hanya berpasrah diri, malah si sahabat gue yang mengangkat issue ini ke kampus sehingga akhirnya, dosen penguji gue diganti dengan dosen penguji lainnya.

Kemudian ada lagi satu sahabat lainnya dan berkeras membela gue di depan orang-orang lain yang sedang berkumpul untuk membicarakan kejelekan gue. Dengan penuh keyakinan, dia bilang begini, “Riffa nggak kayak begitu orangnya.”

Belum lagi serangkaian kejadian kecil yang selalu berhasil bikin gue ngerasa terharu. Kejutan manis di hari ulang tahun gue. Oleh-oleh lucu yang beneran “gue banget”. Atau sekedar telinga yang tidak pernah bosan mendengar berbagai keluh-kesah dan curhatan gue.

Do you really think you can get all of those things from your just ordinary friends? 

Dari situ gue belajar… jika suatu pertemanan itu isinya hanya haha-hihi dan hal-hal manis lainnya, maka pertemanan itu masih belum seberapa dalamnya. Bukan tipe pertemanan yang akan bertahan selama-lamanya. Bukan pertemanan yang tetap erat mesti jarak dan kesibukan mulai memisahkan satu sama lainnya. Bukan pertemanan yang akan sekuat tenaga saling membantu saat hidup sedang sulit-sulitnya.

Sama halnya dengan hubungan-hubungan lain dalam hidup ini!

Saat masih kencan pertama, isinya tidak jauh dari flirting dan serangkaian pujian yang tidak ada habisnya. Saat mulai pacaran agak lama, mulai saling berani mengatakan isi hati yang sebenarnya, meskipun bisa jadi, hal itu bukan kejujuran yang enak didengar. Lalu saat sudah menikah, mulai tidak ada lagi rasa sungkan untuk menunjukan kepribadian yang sebenar-benarnya.

Kemudian dalam dunia kerja. Jika si bos hanya melulu soal pujian dan tidak sedikit pun ada kritikan, maka dijamin, kita hanya belum kerja cukup lama dan cukup dekat dengan bos kita ini. Semakin sering kerja bareng, sebagus-bagusnya hasil pekerjaan kita, ada kalanya bos akan mulai memberikan feedback. Feedback yang bisa kembali lagi kepada diri kita sendiri: mau kita anggap sebagai saran untuk perbaikan, atau kita anggap sebagai kritik yang penuh dengan kebencian?

Apa inti dari seluruh isi tulisan gue ini? Jika tidak berani sakit hati, maka kita tidak akan pernah memiliki hubungan yang berarti. Tidak akan ada persahabatan yang betul bertahan dalam suka dan duka. Tidak akan ada pernikahan yang bertahan hingga ajal memisahkan. Dan tidak akan ada pekerjaan yang bisa bertahan bertahun-tahun lamanya. Karena kenyataannya, tidak ada satupun hubungan di dunia ini yang akan selamanya terlihat indah.

Belajar meminta maaf. Belajar memaafkan. Belajar mengikhlaskan. Belajar mempertahankan. Jika dua orang dalam satu hubungan itu saling berusaha untuk melakukan semua itu, maka, yang namanya “best friends forever” atau “love until death do us part” itu insyallah, bukan hanya sekedar mitos.

My Current Life, in a Nutshell

Waktu jaman duluuu banget, gue pernah punya masalah bertubi-tubi yang akhirnya bikin gue jatuh sakit, sampe hampir dirawat di rumah sakit. Gue baru sembuh total setelah beberapa minggu lamanya, setelah tiga kali ganti-ganti dokter spesialis. Saat itu gue tahu, masalahnya bukan kecapekan, bukan kebanyakan lembur, tapi stres, tertekan, kekecewaan, sedih, patah hati, yang semuanya seolah melebur jadi satu. Waktu itu rasa-rasanya benar-benar titik terendah sepanjang hidup gue.

Daaan… tepat di saat gue berpikir tidak ada yang mungkin lebih buruk dari kejadian bertahun-tahun yang lalu itu, rentetan konflik yang baru kembali menimpa gue. Kali ini, saking tertekannya, gue sampe dateng ke tempat praktek psikolog klinis. Bukan berarti gue punya masalah kejiwaan lho yaa, hanya saja entah kenapa, saat itu gue ngerasa butuh sudut pandang orang asing yang bisa gue percaya dan bisa memberikan penilaian secara objektif. Kalau bukan psikolog, siapa lagi?

Bukannya beres sampai di situ, keadaan justru memburuk beberapa saat setelah kunjungan gue ke psikolog itu. Tapi justru di situ itu lah perfect timing menurut gue. Saat keadaan memburuk, saran si mbak psikolog itu sudah mulai gue terapkan, dan percaya tidak percaya, gue ngerasa bisa melewati ujian kali ini jauh lebih baik daripada kejadian bertahun-tahun yang lalu itu.

Berawal dari saran untuk kembali menghubungi sahabat-sahabat lama, untuk mengubah tabiat gue, untuk memberanikan diri mencari penyelesaian dari masalah gue, lama kelamaan, gue jadi ketagihan ingin mengubah cara hidup gue sendiri.

Gue mulai menyempatkan diri untuk kembali terhubung dengan sahabat-sahabat lama. Mulai kembali curhat sama mereka, mulai ketemuan, atau curi-curi waktu untuk makan siang bareng… Gue seperti kembali teringat alasan kenapa dulu gue bisa berteman sebegitu erat dengan mereka semua.

Gue yang tadinya hanya makan siang, makan malam, pergi nonton dan karoke dengan orang-orang yang itu-itu saja, mulai melebarkan sayap dengan ngobrol panjang lebar dengan lebih banyak orang. Gue berusaha lebih mengenal orang-orang yang sebelumnya hanya gue kenal sepintas saja. Wajah-wajah di socmed homepage gue jadi lebih bervariasi daripada sebelumnya!

Gue juga mulai menantang diri gue sendiri untuk bisa belajar sabar. Bukan berarti gue tidak akan pernah marah lagi, jika memang harus marah, ya gue tetap marah. Tapi setidaknya, gue lebih mengendalikan kata-kata yang gue ucapkan. Dan setidaknya, sekarang gue udah bisa marah-marah dengan suara sepelan-pelannya, hehehehe.

Lalu malam ini, untuk pertama kalinya, gue memberanikan datang ke wedding reception seorang diri! Biasanya, gue mesti banget janjian dengan minimal satu orang teman yang gue kenal dengan baik. Tapi hari ini, gue langsung datang dan sesampainya di sana, langsung cari-cari orang yang bisa gue ajak ngobrol-ngobrol. Awalnya sempat boring, tapi lama-lama, malah ada beberapa percakapan yang lumayan interesting. Tanpa terasa, dua jam di sana sudah terlewat dengan sendirinya.

Kembali ke tadi siang, setelah resepsi pernikahan pertama yang gue hadiri di hari ini, gue menyempatkan makan sore (iya, makan sore-sore, hehehehe) bareng sahabat dari kantor gue sebelumnya. Dia bilang, dia membelikan sesuatu yang menurut dia tuh bener-bener gue banget. Dia belikan barang-barang itu sebagai kado ultah gue yang jatuhnya masih sebulan lagi! Tahu apa isi kadonya? Buku berjudul The Alpha Girl’s Guide, dilengkapi dengan satu batang cokelat yang katanya bisa bikin enteng jodoh (dan nama produknya beneran Cokelat Enteng Jodoh!). Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali gue tertawa bahagia saat menerima pemberian orang lain. This gift is very thoughtful!

Hari ini, gue juga sempat ngobrol panjang lebar dengan sahabat baik gue di bangku kuliah dulu. Gue sempat mengenalkan sahabat kuliah dengan sahabat di kantor lama sambil makan-makan sore itu. Melihat mereka bisa akur dan saling bercanda satu sama lainnya, hati gue jadi tersentuh! Gue jadi menyadari betapa beruntungnya diri gue ini. Gue jadi sadar bahwa ternyata, seumur hidup gue, gue tidak pernah benar-benar sendiri.

Ternyata, gue memiliki hal-hal yang belum tentu dimiliki orang lain pada umumnya: sahabat dan keluarga yang tulus mengasihi, orang-orang luar biasa yang selalu bisa menerima gue dengan segala kekurangan dalam diri gue ini. Menghabiskan waktu bersama mereka membuat gue menyadadari bahwa seburuk apapun situasi gue saat ini, setidaknya, gue tidak pernah seorang diri.

Gue selalu punya orang-orang yang ikut marah saat gue sedih dan tersakiti.

Gue selalu punya orang-orang yang tidak putus menyemangati untuk gue bangkit lagi.

Gue selalu punya orang-orang yang menyempatkan waktu, bahkan di tengah malam sekalipun, untuk mendengar keluh kesah gue.

Gue selalu punya orang-orang yang betulan serius memutar otak bagaimana caranya untuk menghibur dan membuat gue kembali tertawa.

Gue selalu punya orang-orang yang menemani tiap langkah gue, dalam suka-duka, dalam titik terbaik dan juga titik terburuk sepanjang hidup gue.

Banyak orang yang bilang, karier gue adalah anugerah terbaik dalam hidup gue. Tanpa mengurangi rasa syukur gue untuk kemudahan karier gue, kali ini gue mau bilang… Kenyataannya, sahabat dan keluarga gue adalah anugerah terbesar dalam hidup gue ini. Tanpa mereka, gue pastilah bukan siapa-siapa.

Thanks for the love, the patience, the never ending support, and on top of all that, thanks for always being there for me. You guys are the best! And I just cannot ask for more.

Terkadang, Orang-orang Tertentu Hanya Tepat Untuk Waktunya Masing-masing Saja

Beberapa minggu yang lalu, ada kenalan yang berprofesi sebagai psikolog bilang begini sama gue, “Coba kamu datangi kembali orang-orang yang pernah kamu tinggalkan, lalu minta honest feedback. Untuk bisa survive di relationships selanjutnya, kita harus bisa belajar dari relationships sebelumnya.”

Berawal dari situ, ceritanya gue menghubungi kembali dua sahabat lama yang dulu rasa-rasanya sudah seperti saudara gue sendiri. Ngobrol panjang-lebar, saling update kabar kehidupan masing-masing, dan alhamdulillah, persahabatan yang sempat kandas itu mulai perlahan terjalin kembali.

Dari situ gue belajar bahwa gue tidak boleh terlalu mudah memutuskan hubungan baik hanya karena keadaan tidak lagi selalu menyenangkan, karena kenyataannya, memang tidak akan pernah ada relationships yang selalu menyenangkan sepanjang waktu. Kalau gue terbiasa walking away di saat situasi sedang sulit-sulitnya, maka lama kelamaan, tidak akan ada lagi orang yang tersisa dalam hidup gue ini.

Di saat yang nyaris bersamaan, ironisnya, hubungan gue dengan dua orang teman terbaik gue beberapa tahun belakangan ini justru mulai merenggang. Tidak sampai benar-benar putus kontak atau berhenti saling menyapa, tapi karena beberapa alasan, keadaan sudah tidak bisa kembali sama seperti sebelumnya. Semakin gue berusaha memperbaiki keadaan, justru semakin memperburuk keadaan di antara gue dengan mereka. Lalu entah kenapa, meskipun sebetulnya gue luar biasa sedih dengan keadaan ini, tetap saja berusaha kembali berbaikan seperti sedia kala rasa-rasanya malah seperti memaksakan keadaan. Gue justru merasa lebih lega dengan keadaan di mana gue bisa ‘terbebas’ dari mereka setidaknya untuk beberapa saat ini.

Apakah itu artinya gue kembali memutuskan untuk back-off? Bisa jadi. Hanya saja bedanya kali ini, gue sudah pernah berusaha untuk memperbaiki keadaan. Gue sudah coba mengutarakan isi hati gue dengan harapan friendships gue dengan mereka bisa kembali seperti sebelumnya. Gue sudah coba, tapi tidak berhasil. Haruskah gue berusaha lebih keras lagi? Rasanya percuma, karena bagaimanapun, keadaan tidak akan pernah membaik jika hanya gue saja yang berusaha untuk memperbaikinya.

Pada akhirnya gue sadar… tidak semua orang akan tepat untuk gue pada setiap waktu sampai dengan selama-lamanya… Bisa jadi, mereka hanya tepat pada waktu-waktu tertentu saja. Begitu pula sebaliknya, gue juga hanya tepat untuk mereka pada waktu-waktu tertentu saja.

Terkadang, kita perlu waktu untuk bisa menerima kekurangan orang lain. Atau bisa jadi, kita juga perlu waktu untuk menyadari kesalahan yang pernah kita perbuat. Itulah sebabnya, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti, kita akan menyadari bahwa kita sudah pernah memiliki yang terbaik saat di kemudian hari kita justru berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih buruk dari orang-orang yang pernah kita tinggalkan itu.

Lalu terkadang, ada pula orang yang perlu waktu hanya untuk bisa menerima kita dengan segala kelebihan dan pencapaian dalam hidup kita ini. Tidak semua orang memiliki kebesaran hati  untuk menerima hal tersebut, dan bagaimanapun, jika keberhasilan kita justru membuat mereka merasa tidak nyaman untuk menyaksikannya, maka tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka menerima kita dengan tangan terbuka.

Lantas bagaimana dengan teori jika gue masih saja membiarkan orang-orang pergi dari hidup gue, lama-lama gue hanya akan tersisa sendiri saja?

Well, memang di situ tantangannya! Yang penting, gue sudah berusaha, dan gue akan terus berusaha, sampai gue menemukan orang-orang yang juga bersedia untuk mempertahankan gue sepanjang hidup mereka.

Gue tidak akan selamanya 100% menyenangkan untuk mereka. Gue punya banyak sifat jelek. Gue punya keterbatasan. Gue punya naik-turun kehidupan yang mungkin membuat gue jadi terlihat sangat-sangat menyebalkan. Dengan demikian adanya, gue hanya perlu orang-orang yang tidak lantas pergi meski di saat-saat terburuk dalam hidup gue.

Begitu pula sebaliknya. Semakin gue mengenal seseorang, semakin banyak pula sisi jelek mereka yang akan gue temukan dengan mata kepala gue sendiri. Akan selalu ada saja hal-hal baru yang membuat gue merasa tersakiti. Jika sudah demikian, gue hanya perlu memilih… mana orang-orang yang sepenuhnya bukan ‘my person’, mana orang-orang yang sangat harus gue pertahankan, serta mana orang-orang yang mungkin, harus gue lepaskan untuk sesaat atau bisa jadi, harus gue ikhlaskan untuk selama-lamanya…

Menyadari fakta pahit bahwa tidak semua orang akan selalu ada untuk selamanya justru membantu gue untuk lebih menghargai hari-hari yang gue lewati. Hal-hal kecil saja, gue nikmati, gue syukuri, dan gue anggap sudah cukup untuk membuat gue merasa bahagia. Prinsip gue sekarang, “Love it when I have it, and let it go, if my very best is just never good enough for them.”

Stop Taking People for Granted!

Seringkali, gue merasa sedih saat melihat realita di depan mata. Kita – termasuk diri gue sendiri – seringkali taking others for granted. Memperlakukan mereka secara semena-mena, tidak menghargai mereka sebagaimana mestinya, dan ironisnya, seringkali kita melakukan hal tersebut justru kepada orang-orang terdekat kita. Kepada orang-orang yang tulus menyayangi dan selalu ada buat kita.

Contohnya anggota keluarga. Kita paling sering berkata seenaknya kepada mereka. Meluapkan apa saja yang ada di dalam perasaan. Kita bisa bersikap lebih sopan kepada orang asing ketimbang anggota keluarga kita sendiri. Kenapa demikian? Karena kita tahu, keluarga akan tetap jadi keluarga. Mereka akan selalu menerima kita dengan segala keburukan dalam diri kita ini. Kita malah dengan enteng berpikiran, “Toh mereka sudah terbiasa dengan kelakuan gue!”

Tanpa kita sadari, hal yang sama juga kita lakukan dalam lingkungan pergaulan. Kita lebih mementingkan teman-teman yang kelihatan lebih keren. Lebih asyik. Lebih kaya raya. Dan lain sebagainya. Teman-teman yang selalu ada dalam suka dan duka justru jadi prioritas selanjutnya. Teman-teman yang menyediakan bahunya untuk tangisan kita justru teman-teman yang kita lupakan saat kita tertawa bahagia.

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam dunia kerja. Menggaji karyawan seenaknya. Memperlakukan mereka bukan berdasarkan kontribusi, tapi malah berdasarkan rasa suka tidak suka yang sifatnya sangat subjektif. Mengkambinghitamkan tim yang tidak bersalah hanya demi keuntungan pribadi. Dan masih banyak lagi hal-hal buruk lainnya.

Kemudian yang terakhir, dalam hal percintaan. Terkadang, kita merasa bisa memperlakukan mereka sesuka suasana hati karena kita tahu mereka tidak akan ke mana-mana. Kita merasa boleh datang dan pergi sesuka hati karena toh mereka akan selalu bersedia menerima kita kembali. Kita seolah lupa bahwa jika kita tidak bisa balas mencintai, maka dilepaskan saja. Biarkan mereka mendapatkan orang lain yang bisa mencintai mereka sama besarnya.

Cintailah orang lain sebagaimana mestinya.

Jangan biarkan anggota keluarga kita menyayangi kita hanya karena terpaksa; hanya karena mereka tidak punya pilihan lain selain menerima kita sebagai bagian dari keluarga.

Jangan pula biarkan teman-teman terbaik kita perlahan pergi dari hidup kita ini. Memangnya kita pikir kita ini siapa? Lama-lama mereka juga akan gerah jika kita hanya datang saat ada maunya.

Kita juga harus belajar berlaku adil kepada rekan kerja. Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tanggung jawabnya. Jangan hanya mau terima gajinya saja!

Yang terakhir, hargailah orang lain yang mencintai kita dengan setulus hatinya. Jika ingin menolak, lakukan dengan penuh perasaan. Jangan malah jadi congkak! Dan bagaimanapun, menolak tetap jauh lebih baik daripada menggantung tanpa ada keputusan.

Kenapa di awal gue bilang gue merasa sedih melihat realita ini? Karena sebetulnya, memperlakukan orang lain secara semena-mena justru menjauhkan diri kita sendiri dari kebahagiaan. Kita menjauhkan diri dari orang yang paling mampu menerima kita apa adanya. Kita menjauhkan diri dari orang-orang yang kemungkinan besar, paling mampu membuat kita bahagia.

Stop taking people for granted, let’s start from the closest ones. Let’s start from saying sorry for all the pain that we put them through. Let’s start to treat them right! And always remember, what comes around goes around.

Have a lovely week ahead!

 

 

Terlalu Sibuk itu Hanya Mitos!

Gue pernah baca satu quote di Instagramnya Mandy Hale, “Too busy is just a myth.”

Baca quote itu mengingatkan gue sama teman-teman lama yang sangat sulit diajak meet up. Alasannya, karena terlalu sibuk. Ada yang sibuk dengan pekerjaan, ada yang sibuk dengan acara keluarga.

Mari kita bahas satu per satu. Gue punya alasan kuat untuk meyakini bahwa terlalu sibuk itu betulan hanya ‘mitos’ semata.

Yang pertama soal terlalu sibuk bekerja. Well, gue sendiri kebetulan bukan tipe orang yang bekerja hanya 9 to 5 alias datang tenggo dan pulang tenggo. Gue kerja lembur hampir tiap hari. Selalu ada saja kesibukan yang bikin gue harus pulang lebih larut. Malah terkadang, pekerjaan bisa saja mengganggu akhir pekan gue. Texting soal pekerjaan saat sedang asyik nonton di bioskop? Harus cepat pulang ke rumah hanya untuk buka laptop dan kirim report? Mendadak harus datang ke kantor di hari Sabtu dan Minggu? Sudah bukan hal baru buat gue. Tapi apakah ada sahabat gue yang mengeluh sangat sulit bikin janji ketemuan sama gue? Dijamin tidak ada!

Kemudian soal acara keluarga. Gue kebetulan terlahir di keluarga yang sangat besar. Bokap dan nyokap masing-masing punya 6 saudara kandung. Belum lagi saudara jauh dari kakek-kakek dan nenek-nenek gue yang masih cukup erat kekerabatannya. Saking banyaknya, misal gue married dan mau mengundang semua keluarga, bisa-bisa 500-600 undangan akan habis untuk keluarga gue saja. Nah, meski gue belum married, jumlah keluarga gue sendiri sudah cukup banyak, bukan? Jadi banyak acara keluarga? Memang. Tapi tidak sebanyak 30 hari dalam sebulan! Belum tentu ada yang married, tunangan, sunatan atau merayakan ulang tahun tiap bulannya. Arisan keluarga juga paling banyak hanya 2 acara tiap bulannya. Itupun jujur, gue jarang banget menghadirinya. Makanya gue suka penasaran apa benar ada keluarga besar yang selalu punya hajatan setiap akhir pekan setiap minggunya? Hehehe.

See? Terlalu sibuk itu hanya mitos. Gue selalu punya waktu untuk teman-teman gue. Gue toh bukan selebritis yang sibuk tur, bukan bula presiden RI yang sangat padat agenda kerjanya. Bahkan selebriti pun masih sering posting foto hanging out bareng teman-temannya kan!

By the way, jika hal ini juga terjadi dalam pertemanan kamu, sebetulnya tidak perlu berkecil hati. Hal ini bisa terjadi sama semua orang yang sudah beranjak dewasa. Yang penting cukup pastikan saja bahwa kita tidak ketularan pura-pura sibuk! Jangan jadi teman yang egois. Sibuk cari teman saat hanya sedang kesepian atau butuh pertolongan. It’s a big no no!

Finally, sisi positif dari fenomena ini adalah kesediaan untuk meluangkan waktu sebetulnya bisa jadi kriteria yang memudahkan kita untuk menyeleksi teman-teman lama kita. Kita jadi tahu mana yang sahabat sejati serta mana sahabat yang hanya datang saat ada maunya. Atau mana sahabat yang masih menganggap kita penting serta mana sahabat yang hanya menganggap kita bagian dari masa lalunya. If we still matter to them, they will make time for us. Period.

I Love My Life, Myself, with All the Flaws that Come with It

This morning, I woke up late. With the dress I wore all day yesterday, with the makeup stayed still on my face. I woke up for a while, changed my dress, cleansed my face, put some masker on, and went back to sleep. I skipped breakfast and lunch, and I had no idea how I could find a dinner with empty wallet and the rain dropped outside my windows.

So there I texted my best friends, looking for a company so that I no longer felt empty. One friend who tried to console me with his jokes, and another one who tried to figure out if there was anything he could do to deliver some foods to my doorstep. And just like that, I felt better.

I may lose many things in life, but I never lose my very best friends. And believe me, such a friend like them, is hard to find. Especially when it comes to me. I’m not an easy person to be with. I’m not always as kind and as wise as I write in this blog. I could totally relate when someone else told me, “I’m not surprised when people leave, I’m more surprised when they stay.”

There’s nobody happy for being left behind. And neither am I. It makes me feel unwanted. It makes me feel like I do have something wrong in me. But think again! My imperfection doesn’t necessarily mean that it is wrong for being me!

Yes, I’m a workaholic and it may never change. That’s only because I love how it has changed my life and how it has put a lot of smiles on my parents’ faces. Yet it doesn’t mean that I have no space to have a life aside from my career life!

Yes, I can be so annoying when I’m angry. I’ve tried so hard to deal with it but I guess it will always be a part of me. It will always be my imperfection. Yet it doesn’t mean that I’m a cruel evil! It’s not like I have an intention to hurt other people.

Yes, I can be so fancy sometimes. I’m a big fan of branded handbag, I don’t want to take picture with the same outfits twice, I can’t leave home without any makeup on my face. But seriously, does it all make me a bad person? Does it hurt anyone else if I do all these?

And yes, I’m a high maintenance person. I can’t stand too much heat, I hate too much walks, and I’m always craving for a comfort bed. After all hard works I’ve done, I really need to soothe myself. Yet it doesn’t mean that I’m not in for any adventure in life!

Finally, all I want to say is that I love my life, myself, with all the flaws that come with it. All I need to have is solely the people who is willing to be a part of it. I believe it’s true when Marilyn Monroe once said, “I’m selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard to handle. But if you can’t handle me at my worst, then you sure as hell don’t deserve me at my best.”

Cewek dan Cowok Tidak Bisa Hanya Berteman Saja?

Ceritanya kemarin malam, untuk pertama kalinya gue posting foto gue berdua dengan salah satu sahabat cowok gue ke Path. Maksudnya sih cuma untuk meramaikan Path gue aja, sama seperti yang biasa gue lakukan saat jalan bareng teman-teman cewek gue misalnya, tapi ternyata efeknya sampai ke mana-mana! Sampai ada yang PM gue hanya untuk tanya dia itu pacar gue atau bukan! Padahal jelas-jelas di caption fotonya gue tulis, “This friendship must last forever.”

Lucunya adalah, semakin gue coba menjelaskan bahwa gue dan dia hanya berteman saja, justru semakin orang yang bereaksi tidak percaya. Sepertinya masih banyak orang yang berpendapat, cewek dan cowok itu tidak bisa hanya berteman saja. Padahal kenyataannya, gue ini punya sampai tiga sahabat cowok lho. Dan bener deh, kita ini hanya berteman saja!

Terinspirasi dari kehebohan itu, gue jadi kepengen cerita soal teman-teman baik gue ini. Semoga setelah baca tulisan ini, orang-orang di sekitar gue bisa mulai percaya kalo kita memang murni hanya berteman saja, hehehehe.

.

My High School Best Friend

Sahabat cowok pertama yang gue punya tidak lain teman gue di bangku SMA dulu. Dan sebetulnya dia bukan cuma berteman dekat dengan gue saja, tapi juga berteman dengan 3 cewek lainnya.

Tanggal 8 Agustus tahun 2001, kita berlima bikin semacam perjanjian tertulis untuk pembentukan gank yang hari itu kita beri nama Wannabe; singkatan dari tiga nama boybands kesukaan kita saat itu: Westlife, Nsync, dan Backstreet Boys.

Sahabat gue yang satu ini bisa dibilang salah satu orang yang paling lucu yang pernah gue kenal. He never failed to make me laugh! Dia udah jadi satu dari hanya sedikit orang yang tahu betul hal-hal bodoh yang pernah gue lakukan waktu SMA dulu. Dan terutama, soal betapa gue tergila-gilanya sama salah satu teman sekelas kita dulu, hehehehe.

.

My Office Mate in Accurate

Sebelum mulai bekerja full time jadi auditor di EY, sebetulnya gue pernah kerja freelance sebagai konsultannya Accurate, 8 tahun yang lalu. Awalnya, gue dan dia hanya saling ngobrol soal pekerjaan saja, tapi lama-lama, kita mulai suka ngobrol soal begitu banyak hal. Dari dulu sampai sekarang, dia masih jadi tempat curhat favorit gue, biasanya kalo gue lagi pusing urusan cowok dan ngerasa perlu persepektif cowok.

Gue dan teman cowok yang satu ini boleh dibilang punya begitu banyak perbedaan, tapi dia juga udah jadi satu dari sedikit orang yang bisa bikin gue ngerasa bebas jadi diri gue sendiri, dan bebas untuk mengucapkan apapun yang ingin gue ucapkan. As much as it may seem impossible, I still really wish that my friendship with him will last forever. Masalahnya, enggak ada banyak orang yang bisa gue ajak curhat di tengah malam di saat weekdays, hehehehehe.

.

My Office Mate in Niro

Entah sejak kapan persisnya, gue dan cowok yang satu ini udah jadi teman karib di kantor kita dulu. Dia bukan cuma udah jadi teman berbagi terbaik untuk gue saat itu, tapi udah banyak bantu untuk urusan pekerjaan juga. My life at work was so much easier because of him.

This one guy always has a belief in me. Dia selalu bisa melihat sisi positif dari diri gue di saat orang lain berkata sebaliknya, selalu support gue meski di saat dia tidak sependapat dengan gue, dan selalu bisa memaafkan kejelekan-kejelekan gue terutama di masa-masa sulit gue dulu, hehehehe.

Gue senang dan sangat bersyukur meskipun sekarang gue sudah tidak lagi bekerja di kantor yang sama, gue dan dia masih tidak menjadi orang asing untuk satu sama lainnya. Dan tentunya, dia ini masih jadi konsultan pajak favorit gue sampai sekarang, hehehehe.

.

Have I ever had a feeling for one of them?

Sebetulnya, ada cukup banyak orang yang menanyakan hal tersebut ke gue. Pernah nggak gue suka sama mereka? Atau sebaliknya, mungkin nggak, mereka punya rasa suka sama gue?

Jawabannya sederhana saja: I totally don’t think so.

Mereka bisa jadi sahabat yang baik buat gue, begitu pula sebaliknya, tapi akan lain halnya kalo gue sampe pacaran dengan mereka. Lagipula emang udah pada dasarnya, gue ini jelas-jelas bukan tipe cewek kesukaan mereka juga sih. On the other side, I’m not that kind of girl who keeps someone I crush in a friend zone anyway.

Itulah sebabnya kalau menurut gue, cewek dan cowok tidak bisa murni berteman itu sebetulnya hanya mitos saja! Enggak ada salahnya berteman dengan lawan jenis, malah banyak manfaatnya, asal tahu batasnya dan tidak pernah ada unsur pura-pura ingin berteman padahal maksudnya hanya ingin pdkt saja, hehehehe.

Surround Yourself with the People Who Want You

Berawal dari nonton Crazy Ex Girlfriend, gue jadi bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Kenapa ya, masih ada orang yang mau sampai sebegitunya ngejar-ngejar orang lain yang sebetulnya tidak menginginkan dia?” Bukan cuma dalam konteks cinta-cintaan, tapi juga konteks pergaulan. Ada satu episode di serial TV itu yang bercerita si tokoh utama juga lebih ngotot berteman dengan orang yang awalnya nggak berminat untuk berteman dengan dia sampai akhirnya malah melupakan teman baiknya sendiri.

Gue lupa sejak kapan persisnya, gue punya prinsip; “Surround myself with the people who want me too.”

Kenyataannya, berteman atau pacaran setelah dewasa (di saat kepribadian seharusnya sudah matang-matangnya), justru lebih complicated daripada jaman remaja dulu.

Di sekolah atau di kampus dulu, bisa jadi orang lain tidak mau berteman dengan kita karena dianggap “kurang keren”, tapi sekarang bisa jadi sebaliknya juga; orang lain enggan berteman dengan kita hanya karena menganggap kita ini “terlalu keren” buat ukuran mereka.

Atau soal pacaran, waktu SMA bahkan sampai kuliah dulu, pacaran enggak mesti terlalu banyak kriteria. Punya pacar cewek yang lebih pintar di kelas? It’s cool! Tapi kalo punya pacar cewek yang lebih sukses karier-nya di kantor? Pikir lagi dulu! Begitu pula sebaliknya, perempuan-perempuan dewasa umumnya punya syarat-syarat baru soal Mr. Right yang tidak pernah ada saat masih remaja dulu.

Sehingga kembali lagi, buat apa ngotot mempertahankan orang lain yang bahkan tidak mau repot-repot memperjuangkan kita hanya karena kita tidak masuk ke dalam kriteria mereka?

Contohnya, orang yang susah banget diajak ketemuan saking sibuknya dia. Padahal kenyataannya, terlalu sibuk itu hanya mitos! Semua orang PASTI akan menyisihkan waktu untuk hal-hal yang menjadi prioritas mereka. Dan jangan lupa, perbuatan mencerminkan prioritas! Jika mereka mengaku super sibuk tetapi di socmed malah foto-foto dinner bareng orang lain, berarti ya sudah, kita memang bukan prioritas mereka.

Kemudian tidak perlu juga bersikap seperti maniak yang terus menerus mengirimkan puluhan text kepada orang yang hanya balas sekenanya, atau, kepada orang yang tidak pernah ingat untuk menanyakan kabar kita terlebih dulu. Jika mereka ingin ada kita dalam hidup mereka, maka mereka PASTI akan berusaha untuk selalu keep in touch.

Yang paling amit-amit, jangan mau ‘disembunyikan’ oleh teman atau pacar kita sendiri! Pacaran backstreet hanya berlaku jaman ABG dulu, dan, hal yang sama TIDAK seharusnya pernah berlaku dalam urusan persahabatan. Kalau sampai mereka malu terlihat orang lain sedang bareng sama kita, ya buat apa kita bangga terus bareng sama mereka? Apapun alasannya, jangan biarkan orang lain menyembunyikan kita di dalam lemarinya!

Yang terakhir, jangan pernah menjadikan orang lain yang hanya menjadikan kita sebagai “option” mereka menjadi “priority” untuk diri kita sendiri. Misalnya, orang-orang yang hanya mencari kita di saat sedang kesepian, atau orang-orang yang datang dan pergi sesuka hati mereka saja. Bukan berarti harus dimusuhi, tapi jauh lebih baik jika tidak perlu sampai memberi tempat khusus untuk mereka dalam hidup kita. Jangan sampai merusak hubungan dengan orang-orang terdekat hanya karena mementingkan mereka yang tidak seberapa dekat.

Hidup terlalu pendek untuk merasa selalu ditolak. Jalani hidup dengan orang-orang yang juga ingin menjalani hidupnya bersama dengan kita. Perjuangkan hanya orang-orang yang memang pantas untuk diperjuangkan. Tidak perlu mendramatisir hidup kita sendiri dengan terus mengejar-ngejar orang yang tidak ingin untuk dikejar. Kenyataannya, hidup bahagia itu lebih sederhana daripada yang kita kira.

Surround yourself with the people who want you, by then you will know that I am right.

Life is Too Short to be a Hater

Ceritanya tadi malam, gue nonton siaran ulang Desperate Housewives season 6 yang salah satunya bercerita tentang Lynette yang sangat membenci kehamilannya. Apa alasannya? Usianya sudah kepala 4 dan sudah punya 4 orang anak! Ditambah lagi, saat itu dia sedang mengandung anak kembar pula!

Dalam episode itu diceritakan Lynette sedang duduk di ruang tunggu klinik kandungan seorang diri, sedangkan persis di sebelahnya, ada pasangan suami-istri yang terlihat sangat bahagia dengan kehamilan pertama sang istri. Saat sang suami sedang pergi mengambil minum untuk istrinya, Lynette mulai mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan kepada si calon ibu muda tentang betapa tidak enaknya mengandung, melahirkan, dan membesarkan seorang anak.

Berbagai hal buruk dilontarkan Lynette berdasarkan pengalaman pribadinya. Soal melahirkan dan menyusui merusak bentuk tubuh, soal suami tidak akan mau repot-repot ikut mengurus anak-anak di rumah, sampai soal anak-anak itu hanya akan tumbuh jadi remaja pembangkang yang mencuri uang orang tuanya. Puncaknya, Lynette juga bilang, “You will feel lonely but you will never ever have some times alone.”

Mendengar perkataan Lynette, si calon ibu muda yang tadinya terlihat bahagia menyambut kelahiran anak pertamanya langsung jadi sedih dan menangis tersedu-sedu.

Apa yang coba gue sampaikan dalam tulisan ini? Sesuai judul tulisan; life is too short to be a hater. Dengan kata lain, gue mencoba bilang: jangan buang-buang waktu untuk menjadi hater, alias, perusak kebahagiaan dalam hidup orang lain.

Don’t be a hater for a stranger like Lynette did, but on top of that, don’t be such a hater for someone you know in your daily life.

Jangan merusak excitement orang lain dengan mengatakan bahwa “hal itu biasa-biasa saja”. Jangan mengucapkan hal tersebut meskipun kita benar berpendapat demikian, dan terlebih lagi, jangan mengucapkan hal tersebut hanya karena kita merasa iri. It’s just shallow, isn’t it?

Jangan merusak rencana-rencana orang lain dengan selalu mencari sisi buruknya. Bukannya gue tidak realistis, tapi faktanya, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang tidak punya kekurangan! If you can’t be supportive, at least, you can be quiet.

Jangan membenci orang lain, apalagi sampai berhenti berteman atau bahkan memusuhi hanya karena iri dengan kebahagiaan dan kesuksesan mereka. It’s not their fault for having such a great life, it’s your own fault for wasting your times just to hate other people’s life rather than making a great life for yourself instead.

Kembali lagi ke judul awal; hidup terlalu singkat untuk menjadi pembenci. Orang-orang yang kita benci itu sudah terbiasa dengan hadirnya haters dalam hidup mereka. Tingkah kita untuk ‘membenci’ mereka itu sudah tidak lagi membebani hidup mereka, malah kenyataannya, hal itu justru membebani hidup kita sendiri!

Menjadi hater hanya akan mengotori hati kita sendiri. Buang-buang waktu kita sendiri. Merusak kebahagiaan kita sendiri. Dan tentunya, hanya akan membuat kita menjadi pihak yang dibenci. Sekali lagi, kita yang akan dibenci, bukan mereka! Kita hanya akan dikenal sebagai “si tukang dengki yang selalu sinis dan senang merusak kebahagiaan orang lain”.

Sebetulnya kalo menurut gue, hater is hater for a reason. Menjadi tukang benci hanya akibat dari ketidakbahagiaan dalam hati atau ketidakpuasan atas hidupnya sendiri. Itulah sebabnya gue selalu bilang; live your life into the fullest! Do what you love to do. If you want something, then you will do your best to go for it and make it real!

Antara menjadi pembenci atau menjadi orang yang berusaha meningkatkan kualitas hidup sendiri itu membutuhkan jumlah waktu dan tenaga yang sama besar. Jadi, daripada buang-buang waktu untuk mencari-cari hal buruk untuk dilontarkan, daripada buang-buang tenaga hanya ‘memikirkan’ dan ‘mengamati’ orang-orang yang kita benci, kenapa tidak mencari cara untuk membahagiakan diri sendiri? Make yourself proud is always much better than make yourself as a hater!

Finally, untuk teman-teman yang sering jadi sasaran pembenci, ingat-ingat saja lirik lagunya Taylor Swift, “Haters gonna hate hate hate.” Mereka (the haters) baca artikel ini pun belum tentu tergerak hatinya untuk memperbaiki diri, karena memang mereka sendiri yang lebih memilih untuk tetap menjadi hater. If that’s the case, no matter how kind we are, haters will hate anyway. Just make sure that we’re NOT one of those haters okay!

Have a lovely weekend!