The People I Need in My Life

One of the greatest lessons I learned from getting  older is to learn the things I like, want, and need for my own life. I’ve come to learn quality over quantities, and it includes the people that I need to have around.

I don’t need a thousand friends on my social media, I only need a smaller circle of people who truly care.

I don’t need dozens of social event invitations, I only need unforgettable moments with the loved ones.

And I don’t need a bunch of bride maids on my wedding day, I only need a couple of best friends who are always there in my ups and downs.

Why can’t I have all of that with more of people in my life? Because it takes a great amount of effort just to have a few of them in a longer run and that makes all of them very hard to find!

And why did I say they were hard to find? What precisely do I need from the people that count to me?

Here’s the short list!

  1. I need the people who is genuinely happy for me when my life is up on the sky (and not the ones who let their envy consumes themselves);
  2. The people who is genuinely upset when my life knocks me down (and not the ones who are secretly happy to see me fail);
  3. The people who think of my problems as if it were theirs;
  4. The people who can keep my secrets carefully;
  5. The people who never get bored with the stories and problems I share with them repeatedly;
  6. The people who always reply my text, even the not so important ones (and just because they understand it’s really important for me);
  7. The people who are always willing to forgive my flaws;
  8. The people who still believe in me and capable to see my lights even in my darkest times;
  9. The people who are always in my corner (even when I’m doing all the wrong things in public); and
  10. The people who make time for me, no matter how busy they are.

What makes it even more difficult? Because when I know how hard they try to do all that for me, I will also put my very best effort to do all that for them back. That’s why I said; quality over quantities. I would rather to spend my times and energy to the ones that really matter.

It would be great if you can have dozens of people like that in your life, but to me, I’m beyond grateful just to have a couple of them. I don’t know what I ever did in my past that makes me deserve every single one of them. Not only they are the people I need, they’re also the people I want and I love to have to be a part of my life. I hope, I really hope, we’re going to have each other for the rest of our life.

Someday, Somebody Will See Me the Way My Best Friends See Me

Have I ever told you how lucky I am for having incredible friends who somehow, choose to stay with me inspite of all my flaws?

They always see the good things in me. They believe that I must have a very good reason behind everything I do, even when it doesn’t always look pretty.

They are hurt, they are angry, they feel my pain everytime I’m wounded inside. Say something horrible about me, they will be the first ones who stand up for me, without being asked.

They care about me even when I don’t feel like I deserve any of that. They think of my problems as if those problems were theirs. They step up, they do something, just to make my problems go away. They really go beyond my imagination, a lot more than I ever expect from a best friend.

They have my name in their prayers, they sincerely wish nothing but the best for me, my life, and my future.

They know how cranky, grumpy, annoying, and moody I can be, but they also know that no matter how bad things go, I’ll never ever be one bad person. I’m no angel, but I’m not an evil either.

They understand I can be extremely noisy, pushy, demanding, and brutally honest, all of that just because I care. They also understand how weird and mellow and stubborn I can be, and all of that just because the way I am. It’s just the trait that has made me who I really am.

Can’t you see it now? For some reasons, they always find a way to believe in me. To forgive me. To accept me for being who I am. They help me to evolve, to be the very best of me. Not only they support me when life knocks me down, they also celebrate with me when this life raises me up. And everytime I feel so bad about myself, they constantly remind me that I am never as bad as I think I am.

They; my very best friends, make me believe that someday, a right man will come along and see me they way they see me. Treats me the way they treat me. Cares about me, fights for me, and chooses to always stay here right by my side. He will always stay, no matter what.

As my best friends always tell me all the way, “Hang on! You’ll get there, someday.”

Friendship Is…

Lately, I’ve been learning a lot of new definitons of friendship for life. It’s easy to have a friend to hang out with, but it’s never easy  to build a friendship to share our life with. That’s the only reason why the older you are, the less bestfriends you will have around.

Why do I say building a friendship is tough? 

Because friendship is accepting your friends’ imperfections and forgiving all their mistakes.

Friendship is being there for them even when you don’t feel like having anyone around.

Friendship is listening to the same stories over and over, about the people that perhaps you don’t know, and the topics that you’re not keen on.

Friendship is having each other’s back even when we feel that we disagree. 

Friendship is swallowing our desire to envy, to revenge, and to do all the bad things that we can think of.

And friendship is sticking up together even when we hate each other. 

Now… do you still think it’s easy to build?

It’s hard, that’s why it’s being said that friendship is actually a gift from us to ourselves. When we can push ourselves to be a decent friend to someone else, then we will also get a decent friend  for ourselves as a return.

It may take only months, but most of the times, you may need quite some years just to realize who your true best friends really are.

After so many ups and downs, I’m still believing that best friends forever is not a myth. I’m so glad and I’m so grateful that all these years, I trully know that I’m already on a right way.

The Truth Is, the True Relationship Doesn’t Always Look Pretty

Waktu kecil dulu, pernah ada teman sekelas yang bilang begini sama gue, “Kata Mama, aku nggak boleh bertemen terlalu deket sama orang lain.” Alasannya? Supaya tidak malah jadi sering ribut. Supaya tidak perlu sakit hati. Dan supaya hidup jadi lebih tentram.

Lalu ceritanya beberapa bulan belakangan ini, gue sedang berusaha untuk reconnecting dengan teman-teman lama gue. Ada beberapa di antaranya yang sempat putus kontak sampai bertahun-tahun lamanya. Hidup gue, dalam sekejap, menjadi lebih ramai daripada sebelumnya. Selalu ada saja kejadian-kejadian yang membuat gue merasa tersentuh. Hanya sekedar Whatsapp di pagi hari yang isinya, “Are you ok?” saja sudah cukup untuk membuat gue merasa tidak sendirian.

And did you know? That kind of warm and deep friendship was definitely not built in just an overnight!

Gue dan sahabat-sabahat gue ini sudah melewati begitu banyak hal. Kita pernah saling mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya kita katakan. Melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Pernah saling berpikiran buruk tentang satu sama lainnya. Bahkan seperti yang tadi gue tulis sebelumnya, pernah juga sampai tidak saling berkomunikasi bertahun-tahun lamanya.

Ya, pertemanan itu, semakin dalam memang akan semakin sering ribut. Semakin dekat justru semakin berpotensi untuk bikin kita jadi sakit hati. Dan saat sedang sakit hati, hidup memang jadi terasa semakin jauh dari rasa damai. Tapi tetap saja, untuk diri gue sendiri, gue tidak lantas berkesimpulan bahwa berteman erat itu ‘haram’ hukumnya!

Bertahun-tahun yang lalu, gue pernah punya masalah ekonomi, dan tanpa gue minta, sahabat-sahabat gue datang menawarkan bantuan.

Pernah pula gue nyaris disidang skripsi oleh dosen yang terkenal membenci gue setengah mati, dan saat gue hanya berpasrah diri, malah si sahabat gue yang mengangkat issue ini ke kampus sehingga akhirnya, dosen penguji gue diganti dengan dosen penguji lainnya.

Kemudian ada lagi satu sahabat lainnya dan berkeras membela gue di depan orang-orang lain yang sedang berkumpul untuk membicarakan kejelekan gue. Dengan penuh keyakinan, dia bilang begini, “Riffa nggak kayak begitu orangnya.”

Belum lagi serangkaian kejadian kecil yang selalu berhasil bikin gue ngerasa terharu. Kejutan manis di hari ulang tahun gue. Oleh-oleh lucu yang beneran “gue banget”. Atau sekedar telinga yang tidak pernah bosan mendengar berbagai keluh-kesah dan curhatan gue.

Do you really think you can get all of those things from your just ordinary friends? 

Dari situ gue belajar… jika suatu pertemanan itu isinya hanya haha-hihi dan hal-hal manis lainnya, maka pertemanan itu masih belum seberapa dalamnya. Bukan tipe pertemanan yang akan bertahan selama-lamanya. Bukan pertemanan yang tetap erat mesti jarak dan kesibukan mulai memisahkan satu sama lainnya. Bukan pertemanan yang akan sekuat tenaga saling membantu saat hidup sedang sulit-sulitnya.

Sama halnya dengan hubungan-hubungan lain dalam hidup ini!

Saat masih kencan pertama, isinya tidak jauh dari flirting dan serangkaian pujian yang tidak ada habisnya. Saat mulai pacaran agak lama, mulai saling berani mengatakan isi hati yang sebenarnya, meskipun bisa jadi, hal itu bukan kejujuran yang enak didengar. Lalu saat sudah menikah, mulai tidak ada lagi rasa sungkan untuk menunjukan kepribadian yang sebenar-benarnya.

Kemudian dalam dunia kerja. Jika si bos hanya melulu soal pujian dan tidak sedikit pun ada kritikan, maka dijamin, kita hanya belum kerja cukup lama dan cukup dekat dengan bos kita ini. Semakin sering kerja bareng, sebagus-bagusnya hasil pekerjaan kita, ada kalanya bos akan mulai memberikan feedback. Feedback yang bisa kembali lagi kepada diri kita sendiri: mau kita anggap sebagai saran untuk perbaikan, atau kita anggap sebagai kritik yang penuh dengan kebencian?

Apa inti dari seluruh isi tulisan gue ini? Jika tidak berani sakit hati, maka kita tidak akan pernah memiliki hubungan yang berarti. Tidak akan ada persahabatan yang betul bertahan dalam suka dan duka. Tidak akan ada pernikahan yang bertahan hingga ajal memisahkan. Dan tidak akan ada pekerjaan yang bisa bertahan bertahun-tahun lamanya. Karena kenyataannya, tidak ada satupun hubungan di dunia ini yang akan selamanya terlihat indah.

Belajar meminta maaf. Belajar memaafkan. Belajar mengikhlaskan. Belajar mempertahankan. Jika dua orang dalam satu hubungan itu saling berusaha untuk melakukan semua itu, maka, yang namanya “best friends forever” atau “love until death do us part” itu insyallah, bukan hanya sekedar mitos.

My Current Life, in a Nutshell

Waktu jaman duluuu banget, gue pernah punya masalah bertubi-tubi yang akhirnya bikin gue jatuh sakit, sampe hampir dirawat di rumah sakit. Gue baru sembuh total setelah beberapa minggu lamanya, setelah tiga kali ganti-ganti dokter spesialis. Saat itu gue tahu, masalahnya bukan kecapekan, bukan kebanyakan lembur, tapi stres, tertekan, kekecewaan, sedih, patah hati, yang semuanya seolah melebur jadi satu. Waktu itu rasa-rasanya benar-benar titik terendah sepanjang hidup gue.

Daaan… tepat di saat gue berpikir tidak ada yang mungkin lebih buruk dari kejadian bertahun-tahun yang lalu itu, rentetan konflik yang baru kembali menimpa gue. Kali ini, saking tertekannya, gue sampe dateng ke tempat praktek psikolog klinis. Bukan berarti gue punya masalah kejiwaan lho yaa, hanya saja entah kenapa, saat itu gue ngerasa butuh sudut pandang orang asing yang bisa gue percaya dan bisa memberikan penilaian secara objektif. Kalau bukan psikolog, siapa lagi?

Bukannya beres sampai di situ, keadaan justru memburuk beberapa saat setelah kunjungan gue ke psikolog itu. Tapi justru di situ itu lah perfect timing menurut gue. Saat keadaan memburuk, saran si mbak psikolog itu sudah mulai gue terapkan, dan percaya tidak percaya, gue ngerasa bisa melewati ujian kali ini jauh lebih baik daripada kejadian bertahun-tahun yang lalu itu.

Berawal dari saran untuk kembali menghubungi sahabat-sahabat lama, untuk mengubah tabiat gue, untuk memberanikan diri mencari penyelesaian dari masalah gue, lama kelamaan, gue jadi ketagihan ingin mengubah cara hidup gue sendiri.

Gue mulai menyempatkan diri untuk kembali terhubung dengan sahabat-sahabat lama. Mulai kembali curhat sama mereka, mulai ketemuan, atau curi-curi waktu untuk makan siang bareng… Gue seperti kembali teringat alasan kenapa dulu gue bisa berteman sebegitu erat dengan mereka semua.

Gue yang tadinya hanya makan siang, makan malam, pergi nonton dan karoke dengan orang-orang yang itu-itu saja, mulai melebarkan sayap dengan ngobrol panjang lebar dengan lebih banyak orang. Gue berusaha lebih mengenal orang-orang yang sebelumnya hanya gue kenal sepintas saja. Wajah-wajah di socmed homepage gue jadi lebih bervariasi daripada sebelumnya!

Gue juga mulai menantang diri gue sendiri untuk bisa belajar sabar. Bukan berarti gue tidak akan pernah marah lagi, jika memang harus marah, ya gue tetap marah. Tapi setidaknya, gue lebih mengendalikan kata-kata yang gue ucapkan. Dan setidaknya, sekarang gue udah bisa marah-marah dengan suara sepelan-pelannya, hehehehe.

Lalu malam ini, untuk pertama kalinya, gue memberanikan datang ke wedding reception seorang diri! Biasanya, gue mesti banget janjian dengan minimal satu orang teman yang gue kenal dengan baik. Tapi hari ini, gue langsung datang dan sesampainya di sana, langsung cari-cari orang yang bisa gue ajak ngobrol-ngobrol. Awalnya sempat boring, tapi lama-lama, malah ada beberapa percakapan yang lumayan interesting. Tanpa terasa, dua jam di sana sudah terlewat dengan sendirinya.

Kembali ke tadi siang, setelah resepsi pernikahan pertama yang gue hadiri di hari ini, gue menyempatkan makan sore (iya, makan sore-sore, hehehehe) bareng sahabat dari kantor gue sebelumnya. Dia bilang, dia membelikan sesuatu yang menurut dia tuh bener-bener gue banget. Dia belikan barang-barang itu sebagai kado ultah gue yang jatuhnya masih sebulan lagi! Tahu apa isi kadonya? Buku berjudul The Alpha Girl’s Guide, dilengkapi dengan satu batang cokelat yang katanya bisa bikin enteng jodoh (dan nama produknya beneran Cokelat Enteng Jodoh!). Rasanya udah lama banget sejak terakhir kali gue tertawa bahagia saat menerima pemberian orang lain. This gift is very thoughtful!

Hari ini, gue juga sempat ngobrol panjang lebar dengan sahabat baik gue di bangku kuliah dulu. Gue sempat mengenalkan sahabat kuliah dengan sahabat di kantor lama sambil makan-makan sore itu. Melihat mereka bisa akur dan saling bercanda satu sama lainnya, hati gue jadi tersentuh! Gue jadi menyadari betapa beruntungnya diri gue ini. Gue jadi sadar bahwa ternyata, seumur hidup gue, gue tidak pernah benar-benar sendiri.

Ternyata, gue memiliki hal-hal yang belum tentu dimiliki orang lain pada umumnya: sahabat dan keluarga yang tulus mengasihi, orang-orang luar biasa yang selalu bisa menerima gue dengan segala kekurangan dalam diri gue ini. Menghabiskan waktu bersama mereka membuat gue menyadadari bahwa seburuk apapun situasi gue saat ini, setidaknya, gue tidak pernah seorang diri.

Gue selalu punya orang-orang yang ikut marah saat gue sedih dan tersakiti.

Gue selalu punya orang-orang yang tidak putus menyemangati untuk gue bangkit lagi.

Gue selalu punya orang-orang yang menyempatkan waktu, bahkan di tengah malam sekalipun, untuk mendengar keluh kesah gue.

Gue selalu punya orang-orang yang betulan serius memutar otak bagaimana caranya untuk menghibur dan membuat gue kembali tertawa.

Gue selalu punya orang-orang yang menemani tiap langkah gue, dalam suka-duka, dalam titik terbaik dan juga titik terburuk sepanjang hidup gue.

Banyak orang yang bilang, karier gue adalah anugerah terbaik dalam hidup gue. Tanpa mengurangi rasa syukur gue untuk kemudahan karier gue, kali ini gue mau bilang… Kenyataannya, sahabat dan keluarga gue adalah anugerah terbesar dalam hidup gue ini. Tanpa mereka, gue pastilah bukan siapa-siapa.

Thanks for the love, the patience, the never ending support, and on top of all that, thanks for always being there for me. You guys are the best! And I just cannot ask for more.

Terkadang, Orang-orang Tertentu Hanya Tepat Untuk Waktunya Masing-masing Saja

Beberapa minggu yang lalu, ada kenalan yang berprofesi sebagai psikolog bilang begini sama gue, “Coba kamu datangi kembali orang-orang yang pernah kamu tinggalkan, lalu minta honest feedback. Untuk bisa survive di relationships selanjutnya, kita harus bisa belajar dari relationships sebelumnya.”

Berawal dari situ, ceritanya gue menghubungi kembali dua sahabat lama yang dulu rasa-rasanya sudah seperti saudara gue sendiri. Ngobrol panjang-lebar, saling update kabar kehidupan masing-masing, dan alhamdulillah, persahabatan yang sempat kandas itu mulai perlahan terjalin kembali.

Dari situ gue belajar bahwa gue tidak boleh terlalu mudah memutuskan hubungan baik hanya karena keadaan tidak lagi selalu menyenangkan, karena kenyataannya, memang tidak akan pernah ada relationships yang selalu menyenangkan sepanjang waktu. Kalau gue terbiasa walking away di saat situasi sedang sulit-sulitnya, maka lama kelamaan, tidak akan ada lagi orang yang tersisa dalam hidup gue ini.

Di saat yang nyaris bersamaan, ironisnya, hubungan gue dengan dua orang teman terbaik gue beberapa tahun belakangan ini justru mulai merenggang. Tidak sampai benar-benar putus kontak atau berhenti saling menyapa, tapi karena beberapa alasan, keadaan sudah tidak bisa kembali sama seperti sebelumnya. Semakin gue berusaha memperbaiki keadaan, justru semakin memperburuk keadaan di antara gue dengan mereka. Lalu entah kenapa, meskipun sebetulnya gue luar biasa sedih dengan keadaan ini, tetap saja berusaha kembali berbaikan seperti sedia kala rasa-rasanya malah seperti memaksakan keadaan. Gue justru merasa lebih lega dengan keadaan di mana gue bisa ‘terbebas’ dari mereka setidaknya untuk beberapa saat ini.

Apakah itu artinya gue kembali memutuskan untuk back-off? Bisa jadi. Hanya saja bedanya kali ini, gue sudah pernah berusaha untuk memperbaiki keadaan. Gue sudah coba mengutarakan isi hati gue dengan harapan friendships gue dengan mereka bisa kembali seperti sebelumnya. Gue sudah coba, tapi tidak berhasil. Haruskah gue berusaha lebih keras lagi? Rasanya percuma, karena bagaimanapun, keadaan tidak akan pernah membaik jika hanya gue saja yang berusaha untuk memperbaikinya.

Pada akhirnya gue sadar… tidak semua orang akan tepat untuk gue pada setiap waktu sampai dengan selama-lamanya… Bisa jadi, mereka hanya tepat pada waktu-waktu tertentu saja. Begitu pula sebaliknya, gue juga hanya tepat untuk mereka pada waktu-waktu tertentu saja.

Terkadang, kita perlu waktu untuk bisa menerima kekurangan orang lain. Atau bisa jadi, kita juga perlu waktu untuk menyadari kesalahan yang pernah kita perbuat. Itulah sebabnya, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti, kita akan menyadari bahwa kita sudah pernah memiliki yang terbaik saat di kemudian hari kita justru berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih buruk dari orang-orang yang pernah kita tinggalkan itu.

Lalu terkadang, ada pula orang yang perlu waktu hanya untuk bisa menerima kita dengan segala kelebihan dan pencapaian dalam hidup kita ini. Tidak semua orang memiliki kebesaran hati  untuk menerima hal tersebut, dan bagaimanapun, jika keberhasilan kita justru membuat mereka merasa tidak nyaman untuk menyaksikannya, maka tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka menerima kita dengan tangan terbuka.

Lantas bagaimana dengan teori jika gue masih saja membiarkan orang-orang pergi dari hidup gue, lama-lama gue hanya akan tersisa sendiri saja?

Well, memang di situ tantangannya! Yang penting, gue sudah berusaha, dan gue akan terus berusaha, sampai gue menemukan orang-orang yang juga bersedia untuk mempertahankan gue sepanjang hidup mereka.

Gue tidak akan selamanya 100% menyenangkan untuk mereka. Gue punya banyak sifat jelek. Gue punya keterbatasan. Gue punya naik-turun kehidupan yang mungkin membuat gue jadi terlihat sangat-sangat menyebalkan. Dengan demikian adanya, gue hanya perlu orang-orang yang tidak lantas pergi meski di saat-saat terburuk dalam hidup gue.

Begitu pula sebaliknya. Semakin gue mengenal seseorang, semakin banyak pula sisi jelek mereka yang akan gue temukan dengan mata kepala gue sendiri. Akan selalu ada saja hal-hal baru yang membuat gue merasa tersakiti. Jika sudah demikian, gue hanya perlu memilih… mana orang-orang yang sepenuhnya bukan ‘my person’, mana orang-orang yang sangat harus gue pertahankan, serta mana orang-orang yang mungkin, harus gue lepaskan untuk sesaat atau bisa jadi, harus gue ikhlaskan untuk selama-lamanya…

Menyadari fakta pahit bahwa tidak semua orang akan selalu ada untuk selamanya justru membantu gue untuk lebih menghargai hari-hari yang gue lewati. Hal-hal kecil saja, gue nikmati, gue syukuri, dan gue anggap sudah cukup untuk membuat gue merasa bahagia. Prinsip gue sekarang, “Love it when I have it, and let it go, if my very best is just never good enough for them.”

Stop Taking People for Granted!

Seringkali, gue merasa sedih saat melihat realita di depan mata. Kita – termasuk diri gue sendiri – seringkali taking others for granted. Memperlakukan mereka secara semena-mena, tidak menghargai mereka sebagaimana mestinya, dan ironisnya, seringkali kita melakukan hal tersebut justru kepada orang-orang terdekat kita. Kepada orang-orang yang tulus menyayangi dan selalu ada buat kita.

Contohnya anggota keluarga. Kita paling sering berkata seenaknya kepada mereka. Meluapkan apa saja yang ada di dalam perasaan. Kita bisa bersikap lebih sopan kepada orang asing ketimbang anggota keluarga kita sendiri. Kenapa demikian? Karena kita tahu, keluarga akan tetap jadi keluarga. Mereka akan selalu menerima kita dengan segala keburukan dalam diri kita ini. Kita malah dengan enteng berpikiran, “Toh mereka sudah terbiasa dengan kelakuan gue!”

Tanpa kita sadari, hal yang sama juga kita lakukan dalam lingkungan pergaulan. Kita lebih mementingkan teman-teman yang kelihatan lebih keren. Lebih asyik. Lebih kaya raya. Dan lain sebagainya. Teman-teman yang selalu ada dalam suka dan duka justru jadi prioritas selanjutnya. Teman-teman yang menyediakan bahunya untuk tangisan kita justru teman-teman yang kita lupakan saat kita tertawa bahagia.

Hal yang sama juga bisa terjadi dalam dunia kerja. Menggaji karyawan seenaknya. Memperlakukan mereka bukan berdasarkan kontribusi, tapi malah berdasarkan rasa suka tidak suka yang sifatnya sangat subjektif. Mengkambinghitamkan tim yang tidak bersalah hanya demi keuntungan pribadi. Dan masih banyak lagi hal-hal buruk lainnya.

Kemudian yang terakhir, dalam hal percintaan. Terkadang, kita merasa bisa memperlakukan mereka sesuka suasana hati karena kita tahu mereka tidak akan ke mana-mana. Kita merasa boleh datang dan pergi sesuka hati karena toh mereka akan selalu bersedia menerima kita kembali. Kita seolah lupa bahwa jika kita tidak bisa balas mencintai, maka dilepaskan saja. Biarkan mereka mendapatkan orang lain yang bisa mencintai mereka sama besarnya.

Cintailah orang lain sebagaimana mestinya.

Jangan biarkan anggota keluarga kita menyayangi kita hanya karena terpaksa; hanya karena mereka tidak punya pilihan lain selain menerima kita sebagai bagian dari keluarga.

Jangan pula biarkan teman-teman terbaik kita perlahan pergi dari hidup kita ini. Memangnya kita pikir kita ini siapa? Lama-lama mereka juga akan gerah jika kita hanya datang saat ada maunya.

Kita juga harus belajar berlaku adil kepada rekan kerja. Semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tanggung jawabnya. Jangan hanya mau terima gajinya saja!

Yang terakhir, hargailah orang lain yang mencintai kita dengan setulus hatinya. Jika ingin menolak, lakukan dengan penuh perasaan. Jangan malah jadi congkak! Dan bagaimanapun, menolak tetap jauh lebih baik daripada menggantung tanpa ada keputusan.

Kenapa di awal gue bilang gue merasa sedih melihat realita ini? Karena sebetulnya, memperlakukan orang lain secara semena-mena justru menjauhkan diri kita sendiri dari kebahagiaan. Kita menjauhkan diri dari orang yang paling mampu menerima kita apa adanya. Kita menjauhkan diri dari orang-orang yang kemungkinan besar, paling mampu membuat kita bahagia.

Stop taking people for granted, let’s start from the closest ones. Let’s start from saying sorry for all the pain that we put them through. Let’s start to treat them right! And always remember, what comes around goes around.

Have a lovely week ahead!