Arfa, My Adorable Nephew

IMG_5597 New

Dulunya, gue bukan tipe cewek yang ngefans sama bayi-bayi lucu. Gue bahkan nggak pernah tertarik buat ngegendong bayi-bayi lucu yang gue kenal. I was not a big fan of cute babies, until my nephew was born, two years ago.

Gue dapat kabar Arfa udah lahir saat masih perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Begitu gue udah sampe di rumah sakit, Arfa sudah dimandikan, sudah terbungkus selimut di dalam kotak kaca. Saat pertama lihat si ponakan, gue berpikiran, “Bayi kalo baru lahir tampangnya mirip semua. Masih belum ada lucu-lucunya.”

I was not yet a big fan of my own nephew until he was seven days old. Waktu gue mau pergi kerja, gue lihat si ponakan baru saja dicukur rambutnya sama nyokap. The bold baby Arfa looked so cute to me 😀

Makin ke sini jelas gue makin sayang sama ponakan gue ini. Bukan karena keharusan, tapi emang karena Arfa itu bayi pintar dan lucu yang bikin gemes!

Berikut ini daftar kelucuan Arfa yang gue rangkum selama dua tahun ini.

 

Arfa si bayi yang suka gemesan!

Banyaknya orang yang gemas dengan kelucuan Arfa bikin dia jadi suka bales ngegemesin orang lain yang ada di dekat dia. Kalo Arfa gemas sama orang lain, dia akan menghampiri, menyentuh tangan atau kaki orang itu, bibirnya mengerucut sambil bilang, “Eeehhmmm, gemes!” Trus kadang-kadang di pagi hari, Arfa buka pintu kamar gue, masuk ke dalam, naik ke atas tempat tidur gue, terus dia peluk gue dengan gaya gemesnya supaya gue bangun tidur 😀 Aaah… how can I not love this baby?

 

‘Nyolot’ sama aunty-nya 😀

Sudah sejak bayi gue ngelarang Arfa masukin jari ke dalam mulut. Lucunya, si baby Arfa malah suka sengaja masukin jarinya ke mulut tiap kali dia lihat gue! Malah kalo kata maminya, pernah satu kali Arfa refleks masukin jari ke dalam mulut hanya karena dia dengar suara gue dari luar kamarnya! Kadang sambil sengaja masukin jari, si Arfa sekalian nyengir dan ngelihatin gue dengan tampang jahilnya itu 😀

 

No no no no!

Sering mendengar kata, “Arfa, no!” bikin Arfa jadi suka meniru kata yang sama. Pernah ada masanya, saat ada orang tua yang bilang “No”, Arfa akan balas bilang, “No no no no.” Terkadang, dia akan bilang begitu sambil menggoyangkan jari telunjuknya! Lucunya lagi, karena sering dilarang naik ke atas tangga, Arfa suka berdiri di bawah tangga lalu dia ngoceh sendiri, “No no no no!” Well… meskipun dia sendiri bilang ‘no’, tapi tetap saja dia nekad naik ke atas tangga!

 

 

Hobi nyanyi

Udah sejak umur satu tahun Arfa hobi nyanyi. Hebatnya, meskipun belum bisa ngomong, Arfa ini jago banget bersenandung dengan nada yang akurat! Kita bisa mengenali judul lagu yang dia nyanyikan meskipun liriknya masih asal-asalan. Sekarang, di umur dua tahun, meskipun masih cadel, lirik lagunya sudah bisa Arfa nyanyikan dengan nayris sempurna! Kurang lebih ada sepuluh lagu yang Arfa bisa, termasuk 2 lagu in English. Lucunya, Arfa suka nyanyi gini tiap kali lihat ada orang lain yang pakai topi, “Topi saya bundaar.” Terus begitu tiap kali dia lihat orang lewat yang pake topi 😀

 

Nggak suka lihat orang lain tidur

Entah kenapa, Arfa paling nggak suka lihat orang lain sedang tidur. He will do everything to wake us up. Mulai dari digemesin, dicubit, digoyang-goyang… Arfa ini juga hapal banget kalo tiap pagi, dalam perjalanan menuju kantor (yup, Arfa suka ikut nganter gue pergi kerja), gue suka ketiduran di jok belakang. Itulah sebabnya sesekali, Arfa bakal nengok ke belakang hanya untuk bilang, “Aunty bobo.” Kalo lagi kurang kerjaan, dia bisa terus-terusan ngoceh begitu sampe gue kebangun! Emang bayi yang pantang menyerah deh, hehehehe.

 

Aunty… cepet!

Setiap kali hendak pergi sekeluarga, emang nyaris selalu gue yang selesai dandan belakangan. Kemudian suatu hari, gue denger Arfa teriak begini dari bawah tangga rumah gue (kamar gue ada di lantai dua), “Aunty cepet, aunty! Aunty cepet!” Hari ini juga begitu… Padahal gue nggak berencana ikut pergi bareng Arfa dan ortunya, tapi anak itu tetep teriak gini dari bawah tangga, “Aunty cepet! Aunty lama.” Sometimes I can’t believe he’s only two years old!

 

Dua tahun terakhir ini, Arfa udah bawa warna tersendiri dalam hidup gue. There’s a kind of happiness that I never felt before. Sekedar ngelihat Arfa sedang happy pun, udah bikin gue ikutan ngerasa happy. I enjoy being an aunt and I believe that I have been the best aunt that he could ever have 😉

Happy birthday, Arfa! Grow awesome and keep making me proud of you, okay! Even though you’re not always behaving as a good kid, then that’s okay too. You will eventually learn and I’ll still love you for better or worse. Have a great life, kiddo!

You Know You’re Happy With Your Life If You…

You know you’re already happy with your job if you no longer compare it with the previous one, or when finding a new job never crosses your mind again not because you’re afraid to quit, but simply because you know you already have the best one.

You know you’re already happy with your love life when you stop talking about your Ex like all the time, or when you have stopped calling and texting them just because you still feel something is missing or just because you’re afraid that you have lost your best one.

You know you’re already happy with your friendship when you no longer have to try hard just to show off how many friends you already have, or when the warmth of true friendship touches your heart in better and worse.

You know you’re already happy with your families when you sincerely accept them as a part of your life instead of feeling trapped just because you have no other choice other than sticking with them.

You know you’re happy with who you are when you stopped trying to become someone else. You could accept and deal with your flaws, and you sincerely feel grateful for all the good things in you.

You know you’re happy with your choices when you stop constantly asking yourself, “What if I took that other decision?” You will also stop trying so hard just to convince yourself that you have made the right decisions.

You know you’re happy with your achievements when you stopped trying to bring people down just because it looks like they have achieved much more than you do. You will sincerely accept the fact that every people have their own path and their own definition of success.

Finally, you know you’re happy with your life when you could stay strong, stay positive, and stay enjoying your life even when things around you are not always pretty. You know that your life is not perfect but you also know how to deal with it. You no longer wait for perfection to come just be happy with the life you already have.

Happiness will never come to someone who just sits and hopes miracle will come and bring some joys. We have to work very hard just to be happy with our job. We have to push ourselves to become a good person if we want to be surrounded by many good friends. We have to fight and never give up in order to live happily ever after with our soulmates. In a few words, we need to work hard just to be happy.

Life is beautiful, only if you know how to live in it. Wish you have a happy life! 🙂

Self-assessment Today

Hari ini, entah kenapa, tiba-tiba aja gue ngerasa perlu mengevaluasi perjalanan hidup gue sampai saat ini. Gue pun mulai menilai berbagai aspek dalam hidup gue sendiri. Kemudian seperti biasa, gue kepingin berbagi hasil penilaian itu melalui blog ini. Rasanya kok ya belum lengkap kalo belum gue share lewat tulisan gitu, hehehehe.

Career

  1. I’m sure I’m doing well in this first year as a manager, but after this, where will I go? Setelah gue jadi manajer, selanjutnya apa? I’m suddenly afraid of standing still and going nowhere;
  2. I said I was doing well… but NOT extraordinary. Gue ngerasa bahasa Inggris gue, terutama active English, masih kurang bule, kurang keren, kurang fasih, kurang lancar… IELTS score gue aja masih 6.5, belum 8. Kemudian presentation skill dan confidence level gue juga masih harus ditingkatkan. Still have so many areas of improvement!
  3. Masih belum berhasil mendapatkan pekerjaan impian… hiiks;
  4. Anehnya, gue juga mulai bertanya-tanya… si pekerjaan impian itu, memang benar-benar sesuatu yang akan jadi passion gue, atau hanya sekedar ambisi untuk mendapatkan pekerjaan yang gue anggap bergengsi? Hmm… what is my passion, anyway?
  5. Di sisi lain, I’m also making an excellent progress. Mulai bisa nahan diri untuk enggak maki-maki anak buah (I haven’t done this in the last 10 months!), mulai belajar untuk memaafkan anak buah yang dengan teganya ngomongin gue di belakang, kemudian mencoba cari solusinya dengan kepala dingin (and I made it!), dan sekarang mulai berusaha bersikap lebih kalem terhadap klien-klien yang gue anggap menyebalkan.

Friendship

  1. I lost many best friends in the last 2 years… Kebanyakan sih karena gue udah kehilangan kepercayaan sama mereka, tapi ada juga yang karena gue mulai ngerasa, elo kok ngakunya sahabat tapi kenapa memperlakukan gue seperti musuh? Awalnya gue takut kalo begini terus, lama-lama gue cuma bakal end-up seorang diri, tapi sekarang gue sadar… gue enggak perlu takut kehilangan orang-orang yang hanya membuat gue ngerasa takut dibohongi, atau takut ditikam dari belakang. Sebetulnya gue kangen sama mereka, tapi sampai mereka belajar dari kesalahan dan berjanji untuk berubah, maka gue lebih memilih untuk tetap seperti ini saja;
  2. Di saat yang sama, gue juga mulai belajar memaafkan… Ya, gue maafkan, tapi memang untuk kembali sama persis seperti dulu, gue masih butuh waktu. Gue perlu yakin bahwa kali ini, keadaannya akan berbeda;
  3. Gue selalu yakin, di mana ada tempat baru, di situ ada sahabat baru. Baru-baru ini gue menyadari… di kantor yang sekarang, gue punya beberapa teman baik, dan di antaranya lagi, ada 2 orang yang sudah bisa gue sebut sebagai sahabat, yang juga menganggap gue sebagai sahabat baru mereka. Keberadaan mereka udah bikin hidup gue di kantor jadi sedikit lebih mudah. Tiap kali ada orang yang bicara buruk tentang gue, mereka nggak akan ragu buat bilang, “Riffa enggak gitu kok…” I really thank them for just saying such a simple statement;
  4. Oh ya… di tengah sulitnya mencari teman yang bisa dipercaya, dari hasil self assessment ini gue juga jadi menyadari bahwa gue punya 2 orang sahabat yang selalu bisa gue percaya; satu orang sahabat lama di kampus Binus, satu lagi sahabat baru di kantor yang sekarang. Gue belum pernah menangkap basah mereka sedang berbohong sehingga secara otomatis, gue enggak pernah sekalipun mempertanyakan apapun yang keluar dari mulut mereka.

Love Life

  1. Ini dia yang paling menyedihkan… sepanjang tahun 2012 ini, gue enggak naksir satu cowokpun. Nggak satupun! Hiiks…
  2. Ok, sekarang gue akui… dulu itu gue salah berdoa. Jadi ceritanya, setelah susah payah menuntaskan patah hati gue di hampir sepanjang tahun 2011, gue berpikiran, “It’s okay to be single, as long as not single and broken hearted.” Ternyata nggak gitu juga sih… Faktanya, being single and not in love with somebody is not okay either, hehehehe. Gue nggak bakal bisa berjodoh dengan siapapun kalo gue enggak berani ngambil resiko untuk patah hati kan?
  3. Right, kalau begitu, gue ralat doa gue… Hope God will give me another chance with another man… and please, give me a good one for this time 😀 Yaah, mau good or bad, selalu ada aja yang bisa gue pelajari kok. Intinya sih saat ini, gue kangen banget sama rasanya jatuh cinta. Senyum-senyum sendiri kalo inget dia, rasa nggak sabar kepengen cepet ketemu sama dia, nyimpen semua yang berhubungan sama dia seolah sedang menyimpan intan berlian, rasa bahagia waktu akhirnya dia bilang cinta… aaaah, I really miss those moments 😉

Health

  1. Ini dia yang masih perlu banyak banget perbaikan. Mulai sekarang gue bertekad, suka nggak suka sama makanannya, harus makan minimal setengah porsi. Jam sepuluh malam sudah harus tidur. Rajin minum vitamin, jangan cuma dijadiin pajangan doang. Perbanyak makan sayur dan bua-buahan. Perbanyak minum air putih. Dan… uhm… mulai berolahraga kali yaa;
  2. Harus daftar asuransi kesehatan, tapi kali ini harus lebih teliti. Baru aja punya pengalaman buruk sama perusahaan asuransi yang katanya nomor satu di Indonesia. Kalo nanti masalahnya udah clear, akan gue sharing di blog ini detail konfliknya, supaya teman-teman lain bisa lebih cermat memilih asuransi.

Family         

  1. Lagi betah di rumah… karena ada ponakan yang lucu dan menggemaskan (meskipun ngengeng dan suka ileran, hehehehe);
  2. Ngelihat perjuangan adek gue selama hamil, melahirkan, dan membesarkan anaknya bikin gue jadi sadar… Allah sudah merencanakan segala sesuatu tepat pada waktunya. My sister might be ready for a kid, but I’m not her, not now. Itu pula yang bikin gue semakin terpacu untuk mengejar impian gue, as soon as possible, mumpung gue masih belum punya prioritas lain selain diri gue sendiri. Gue yakin kelak, Allah juga akan memberikan gue keturunan yang baik di saat gue juga sudah siap menjadi ibu yang baik. Untuk sementara, jadi aunty yang baik aja udah cukup lah ya, hehehehe.

Rainbow After the Rain

Kemarin sore di kantor, gue menasehati salah satu teman yang tetap menghisap rokoknya meski baru saja sembuh sakit satu hari sebelumnya. Dengan entengnya, teman gue ini menjawab, “Nggak papa lah ngerokok… Hidup ini enggak enak, jadi ngepain hidup lama-lama?”

Gue malah cekikikan sambil membalas, “Hidup saya sih menyenangkan kok. Nggak papa hidup lama.”

Sambil tertawa kecil, teman gue membalas lagi, “Yakin menyenangkan? Kerja lembur melulu kayak gini emangnya enak?”

Gue malah nyengir… sambil melanjutkan dalam hati… Ya, meskipun sering lembur gila-gilaan, meskipun semakin sering ngerasa tertekan sama kerjaan sampe sempet meneteskan air mata waktu lagi sibuk ngetik di depan laptop saking stresnya, dan meskipun gue punya banyak kekurangan di sana-sini, gue tetap bahagia sama hidup gue.

Bicara soal pekerjaan… rasa-rasanya benar apa yang pernah dibilang sama teman sekantor gue yang lainnya: jika gue mau berpikir jernih, maka sebetulnya, gue punya lebih banyak hal untuk disyukuri daripada hal-hal untuk gue keluhkan. Lagipula sebetulnya wajar-wajar saja kalo makin ke sini makin banyak masalah pekerjaan yang harus gue hadapi. Memangnya apa yang gue harapkan? Posisi dan fasilitas manajer tapi beban dan tanggung jawab ala fresh graduate gitu?

Kemudian soal makin banyaknya jumlah orang yang seneng banget ngegosipin gue di belakang… yaah, gue rasa itu emang udah sepaket sama pencapaian yang gue punya lah yaa. Gue percaya bahwa dalam hidup ini, when we gain some, we will also lose some in the same time. Suatu kelebihan pasti akan satu paket dengan satu kekurangan lainnya. Jadi achiever di usia muda emang bisa bikin bangga, tapi resikonya, jadi lebih rentan sama omongan orang. Jadi ya sudahlah… Gue emang enggak bisa nutup mulut orang lain supaya enggak ngomongin gue yang jelek-jelek, TAPI, gue pasti bisa nutup telinga gue rapat-rapat dari omongan yang sengaja diucapkan hanya untuk mengurangi kebahagiaan yang gue punya.

Di luar pekerjaan dan mimpi-mimpi yang jadi bisa gue wujudkan sebagai hasil dari jerih payah gue itu, alhamdulillah… gue masih punya banyak hal kecil lainnya yang sangat patut untuk gue syukuri.

Gue punya ortu yang suka masakin gue makanan enak-enak.

Adek-adek yang meskipun tengil tapi selalu jadi supporter nomor satu buat gue.

Kucing-kucing lucu yang suka nganter gue pergi kerja dengan berdiri berjejer di pinggir garasi lalu malam harinya saat gue pulang, mereka kembali berjejer menyambut gue di tempat yang sama.

Gue juga punya sahabat-sahabat yang meskipun enggak selalu akur, tapi mereka tetep selalu siap sedia mendengar curhat gue di tengah malam sekalipun.

Di kantor gue punya teman-teman yang selalu bisa memaafkan kekhilafan gue saat sedang stres berat sama pekerjaan.

Gue juga punya bos yang meskipun tidak sempurna, tapi setidaknya bos gue yang satu ini sangat peduli dengan kenyamanan anak buahnya.

Dengan semua yang ada dalam hidup gue itu… bagaimana mungkin gue bisa bersikap tidak bersyukur?

Gue baru aja selesai buka-buka koleksi blog lama gue yang berkategori “About Life”. Membaca koleksi tulisan gue sendiri rasanya seperti melihat grafik kehidupan. Sangat jelas terlihat dari ‘grafik’ itu bahwa hidup memang selalu naik dan turun seperti roller coaster. Sehingga pada akhirnya gue jadi optimis… dulu gue pernah susah, tapi gue juga pernah senang. Kemarin gue juga baru aja ngerasa sangat susah, tapi hari ini gue kembali merasa senang. Jadi untuk selanjutnya, setiap kali gue kembali merasa hidup di bawah tekanan besar, gue hanya perlu mengingat bahwa tidak lama lagi, badai pasti akan berlalu. Yang perlu gue lakukan hanya bersabar, sambil terus berusaha sebaik-baiknya. Nanti setelah badai itu berlalu, insyaallah… gue akan kembali menemukan indahnya pelangi di langit yang biru 🙂

Dalam Suka dan Duka

Gue tipe orang yang sangat percaya bahwa “dalam suka dan duka” adalah prinsip yang paling mendasar dalam setiap jenis relationship. Bukan cuma soal cinta-cintaan, tapi juga dalam hubungan antar saudara, antar sahabat, antar rekan kerja… Gue sejak dulu selalu meyakini, di saat kita senang, semua orang bisa jadi teman. Tapi di saat kita sedang susah, itu belum tentu. Karena itulah gue selalu berusaha keras untuk mempertahankan orang-orang yang pernah sangat berjasa di masa-masa sulit gue terdahulu.

Tapi sekarang, gue mulai melihat sisi baru dari definisi suka dan duka. Dulu, gue hanya fokus pada kata “duka”, dan gue tidak menyangka… bahwa ibarat dua sisi mata uang, masih ada kata “suka” yang ternyata juga memiliki makna yang tidak kalah mendalam.

Gue punya beberapa orang, yang bukan berasal dari keluarga inti gue, yang pernah cukup sampai sangat berjasa dalam perjalanan hidup gue. Gue juga punya beberapa teman baik yang dulu menemani di masa-masa cupu gue dulu. Kata orang, teman sejati adalah teman yang sudah menemani sejak kita belum menjadi siapa-siapa. Teman yang datang setelah kita mulai bersinar bisa saja orang-orang yang mendekat karena ada maunya. Tapi kenyataannya, bukan itu yang gue dapati…

Entah kenapa, gue beberapa kali merasa dimusuhi oleh orang-orang terdekat gue dulu.

Ada teman masa kecil yang suka tiba-tiba bikin status Facebook atau Twitter yang jelas-jelas nyindir gue. Tidak menyebut nama, tapi semua yang dia sindir itu, sangat erat berkaitan dengan gue. It’s too obvious to be considered as a coincidence.

Ada pula yang tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja dia menasehati nyokap tentang gue, yang bukannya bikin nyokap berterima kasih, yang ada malah bikin nyokap jadi sewot dengan nasehatnya itu. Jelas terlihat orang ini sedang berusaha keras untuk membuat gue kelihatan jelek. Padahal dulu, orang ini pernah beberapa kali mengulurkan tangannya di masa-masa tersulit gue.

Ada lagi beberapa teman lama yang dulu suka ngajak kumpul-kumpul, tiba-tiba susah banget diajak ketemunya. Gue sampe mikir… Gue juga tipe orang yang sering kerja lembur, bukan tipe yang bisa pukang tenggo setiap harinya. Kadang weekend tetep harus berkutat sama kerjaan. Tapi gue bisa kok, nyisihin waktu buat temen-temen gue. Tapi kenapa mereka enggak bisa ngelakuin hal yang sama?

Kemudian yang paling bikin kecewa, ada teman yang entah kenapa, tidak mengundang gue ke salah satu acara pentingnya. Padahal hampir semua orang terdekat gue tahu bahwa gue berteman baik sama cewek yang satu ini. Gue sampe bingung… Kenapa? Padahal terakhir kali gue ketemu sama dia, semuanya baik-baik aja… Everything was fun as usual. Anehnya lagi, giliran teman-teman yang dia bilang suka ngomongin dia di belakang, malah diundang ke acaranya itu…

Gue sering curhat sama adek gue soal tingkah laku orang-orang itu… Kalau misalkan sedang ada konflik antara gue dengan mereka, maka gue bisa ngerti kenapa mereka bersikap seperti itu. Tapi masalahnya, jangankan ada konflik, ketemu face to face aja udah jarang kok. Setiap kali ngobrol via YM, atau bertukar comment di social media, semuanya baik-baik aja kok. Jadi sebenarnya gue salah apa sama mereka?

Setiap kali gue mempertanyakan hal itu, adek gue selalu menjawab, “Mereka cuma iri sama Kak Ifa.”

Awalnya gue enggak begitu setuju sama pendapat adek gue itu. Kenapa juga mereka harus iri sama gue? Gue belum jadi miliarder. Kerja juga belum jadi direktur. Jadi rasanya enggak mungkin mereka bersikap antipasti seperti itu hanya karena merasa iri… Lagipula sebetulnya gue agak-agak tidak percaya bahwa orang-orang baik seperti mereka bisa bersikap menyakiti hati hanya karena merasa iri. Gue juga tidak percaya bahwa mereka tidak lagi peduli dengan hubungan baik yang sudah bertahun-tahun terpelihara.

Tapi lama kelamaan, semakin gue berusaha menyangkal, semakin jelas terbukti bahwa kenyataannya, mereka tidak bisa lagi menemani gue di saat suka. Dengan berat hati gue harus akui… orang yang dulu sering menolong gue itu, sepertinya merasa terancam melihat cepatnya perjalanan karier gue. Padahal sampai hari ini, gue belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dia dan segala kekayaannya. Kemudian soal teman-teman gue… yang ini gue takut salah ngomong. Gue rasa mereka punya alasan sendiri yang belum tentu gue ketahui. Yang jelas cuma satu: they’re no longer here when I’m willing to share them the happiness I’ve gained.

Jadi kesimpulannya, orang-orang yand dulu menemani gue di masa-masa sulit, kini tidak lagi menemani gue di masa-masa bahagia. Dari sinilah gue belajar… Definisi suka dan duka bukan hanya tetap menemani di saat duka, tetapi juga tetap mendukung, tidak iri, dan juga tidak merasa terancam, di saat kita sedang mendulang suka.

Pernah ada seorang teman lama yang bilang… gue beruntung karena di manapun gue berada, pada akhirnya gue akan selalu menemukan teman-teman dan sahabat baru. Meskipun yang lama mulai menghilang, Tuhan seperti selalu memberikan orang-orang baru sebagai gantinya.

Well, teman gue itu memang benar… Meskipun di awal gue tipe orang yang sangat sulit beradaptasi, di akhir gue malah bisa berteman akrab dengan orang-orang yang awalnya terasa sangat asing buat gue itu. Tapi gue maunya… meskipun punya teman-teman baru, bukan berarti yang lama bisa dilupakan dong? Ada banyak kenangan dengan teman-teman lama yang tidak dapat tergantikan oleh teman-teman baru…

Tapiii, yaah… kalau melihat perkembangannya jadi seperti ini, ya mau bagaimana lagi? Gue enggak bisa maksa orang lain untuk tetap stay jadi teman gue kan? Jadi gue rasa, daripada sibuk mikirin mereka yang udah beranjak pergi, ya lebih baik gue nikmati kebersamaan gue dengan teman-teman baru gue. Anggap saja gugur satu tumbuh seribu… Yang penting kan, gue udah berusaha mempertahankan. Jadi kalau memang sudah tidak bisa, ya sudahlah yaa. Jangan sampai gue kehilangan teman-teman yang peduli sama gue cuma gara-gara terlalu fokus sama teman-teman yang sudah tidak lagi peduli sama gue.

Since I always do believe that everything happens for a reason, then now I’m trying to believe that this is the best way out for me. Maybe it’s true that they are no longer the right persons to stay here with me. Just let go… and move forward into our own new lives.

Lebaran, A Reminder to Be Grateful

Dulu, ada salah satu tante gue yang suka bawa fruit pie ke acara kumpul lebaran keluarga besar dari pihak Mami. Nyicipin sepotong fruit pie itu selalu jadi agenda yang sangat gue nanti-nantikan dari acara lebaran. Sayangnya setelah beberapa lama, tradisi fruit pie itu ditiadakan dan sudah diganti dengan jenis kue-kue lainnya. Sejak itu gue bertekad, kalau gue udah kerja nanti, gue akan beli sendiri fruit pie yang hanya dijual oleh sebuah toko di Jakarta Pusat itu.

Hari ini, satu hari menjelang lebaran tahun 2011, gue ditemani adik dan adik ipar, pergi ke jalan Sabang untuk membeli fruit pie favorit gue. Sempet deg-degan takut toko kue langganan keluarga gue itu udah tutup. Makanya begitu melihat papan bertuliskan “BUKA”, hati gue langsung berbunga-bunga. Begitu masuk ke dalam toko, kedua mata gue langsung hinggap ke barisan kue pie yang ingin gue beli. Aaah, wanginya yang menggoda, tampilan kue yang cantik dengan potongan buah segar di atasnya! Nggak lama-lama, gue langsung tunjuk dua jenis kue pie yang gue inginkan, satu untuk keluarga gue, satu lagi untuk dibawa ke acara kumpul lebaran keluarga besar Mami.

Fruit pie @ Sakura Anpan

Sesampainya di rumah, gue langsung sibuk memasukkan isi belanjaan: 2 pie, 2 cheesecake, 1 boks es krim, dan satu boks kecil praline ke dalam kulkas. Melihat lemari es yang penuh sesak dengan makanan (ditambah dua boks J Pops yang belum habis), gue jadi merasa bersyukur… Sekarang gue udah bukan lagi gadis kecil yang mengharapkan potongan kue dari tante gue. Alhamdulillah, sekarang gue udah mampu berbagi dengan keluarga besar gue.

Lebaran selalu mengingatkan gue untuk bersyukur. Bersyukur karena mulai dari lebaran empat tahun yang lalu, gue udah mampu membayar zakat gue sendiri. Bersyukur karena sejak itu pula gue udah keluar dari antrian bagi-bagi angpao dan berganti menjadi duduk di atas bangku untuk bagi-bagi angpao buat adik-adik sepupu. Intinya gue bersyukur, gue udah diberikan rezeki yang mencukupi oleh Allah SWT.

Tadi dalam perjalanan pulang dari toko cheesecake di Tebet, adik gue cerita ke suaminya bahwa lebaran tahun lalu gue sedang bokek berat. Jatah angpao buat adik-adik gue perkecil, dan tradisi membelikan cheesecake buat nyokap pun dengan terpaksa gue hentikan.

Gue cuma nyengir sambil mengingat-ingat… kenapa ya? Padahal lebaran tahun lalu kan gue udah jadi senior di EY? Terus gue juga jadi ingat bahwa tahun lalu itu gue sama sekali enggak belanja baju lebaran. Setelah beberapa detik lamanya, gue baru ingat… Lebaran tahun lalu, keuangan gue lagi kritis karena masih harus mencicil DP apartemen yang jumlah cicilannya lebih besar daripada gaji pokok gue per bulan. Ditambah lagi, beberapa hari setelah lebaran, gue akan pergi berlibur ke Thailand bareng temen-temen kuliah gue! Aaah, itu dia alesan yang bikin gue harus jadi pelit di hari lebaran, hehehehehe.

Mengingat hal itu, lagi-lagi, bikin gue ngerasa bersyukur. Tahun ini, gue diberikan pekerjaan baru yang setingkat lebih mapan daripada pekerjaan gue sebelumnya. Tahun ini gue juga bisa beli baju lebaran (berapa pieces ya? antara 7 atau 8, hehehehehe, anggap aja bales dendam karena tahun lalu enggak beli baju sama sekali), dan bisa kembali beli cheesecake buat Mami dan beli fruit pie buat diri gue sendiri. Dan kabar baik buat adik-adik gue… budget buat bagi-bagi angpao udah gue naikkin lho, hehehehehe.

Lebaran tahun ini yang Alhamdulillah enggak perlu pake acara berhemat bukan berarti gue menyesali lebaran gue satu tahun yang lalu. Malah sebenarnya, liburan tahun lalu tetap libur lebaran terbaik yang pernah gue lewati hingga saat ini. Have fun with the girls, menikmati keindahan kokohnya batu karang di Phi-phi Island yang seolah membingkai cantiknya air laut yang masih jernih, langit biru, dan pasir pantai putih bersih. How can I not be grateful for that?

Anyway… gue menulis blog ini sama sekali bukan berniat untuk pamer. Gue hanya ingin membagi rasa syukur gue, dan siapa tahu, bisa menginspirasi teman-teman untuk ikut menyukuri anugerah yang Tuhan berikan. Hidup memang tidak sempurna, dan tidak akan pernah bisa sempurna. Akan tetapi, jika kita pandai bersukur, maka anugerah dan rezeki sekecil apapun, akan bisa menjadi sumber kebahagiaan yang tidak ternilai harganya.

Sekalian lewat tulisan ini, gue mau mengucapkan minal aidzin walfaidzin buat semua blog readers, baik yang gue kenal maupun yang tidak gue kenal, baik yang sesama muslim maupun nonmuslim. Mohon maaf kalau ada isi dari blog ini yang tidak berkenan di hati teman-teman semua. Wish you all have a great holiday 🙂

Kalo Gue Punya Keponakan…

Lagi asyik bengong di kantor… sambil nunggu tim IT posting database gue, sambil nunggu si OB beliin makan malem gue juga… tiba-tiba gue teringat sama obrolan dengan salah satu sahabat gue sore ini. Sahabat gue ini baru aja dinyatakan positif hamil! Woow, gue bakal punya ‘ponakan’ baru niiih.

Terus gue jadi inget sama adek gue yang juga baru aja married sebulan yang lalu. Hmm, kalo adek gue juga hamil, gue bisa punya ponakan beneran! Jadilah gue berkhayal soal daftar keinginan gue kalo nanti punya keponakan…

  1. Kalo ponakannya cewek, dia bakal gue beliin semua yang warnanya pink! Kebetulan adek gue itu sama banci pinky-nya kayak gue, jadi dia sih pasti setuju-setuju aja;
  2. Kalo baby-nya udah enggak dibedong dan udah bisa pake baju-baju lucu… gue kan jadi punya alesan buat mampir-mampir ke toko baju bayi 🙂
  3. Nggak mau kalah sama temen-temen gue yang udah punya ponakan… menuhin hp dan Facebook sama foto-foto si ponakan. Nanti gue upload foto mulai dari umur sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, tiga tahun… hehehehehe;
  4. Nanti gue mau belajar gendong anak bayi… Hitung-hitung latihan buat ngilangin keengganan gue berurusan sama bayi-bayi. Tapi kalo si baby tiba-tiba nangis, poop, atau pee, ya tetep bakal langsung gue balikin ke emak-bapaknya, hehehehehe;
  5. Gue mau bawa si ponakan ke photo studio yang khusus nyediain paket foto bayi. Biasanya nanti si baby dipakein kostum lucu-lucu (misalnya kostum lebah, kostum jagung, atau baju putri-putrian) terus difoto dengan backgroud yang juga lucu-lucu!
  6. Kalo ponakannya cewek, pas ulang tahun yang ke tiga bakal gue hadiahin boneka Barbie! Abis itu jangan lupa beli rumah-rumahan Barbie sama perabotannya juga!
  7. Kalo ponakannya cowok, pas ulang tahun yang ke tiga bakal gue hadiahin miniatur benteng lengkap sama tentara dan senjatanya juga! Gue pernah lihat mainan kayak gini di Pacific Place dan kepengen banget bisa beli… abisnya keren sih!
  8. Kalo udah agak gede, gue mau ajak main ke Kidzania 🙂 Gue emang agak-agak terobsesi pengen liat bagian dalemnya Kidzania itu, tapi sayangnya gue enggak punya anak kecil yang bisa dibawa pergi, hehehehehe;
  9. Kalo udah masuk usia SD, dia mau gue ajakin traveling. Waktu kecil dulu, gue juga sering diajakin jalan-jalan sama om-tante gue. Jadi kalo nanti gue punya ponakan, gue juga mau ajakin mereka pergi jalan-jalan; dan
  10. Kalo emak-bapaknya enggak sempet jemput si ponakan pulang dari sekolah, biar gue aja yang gantiin jemput. Kayaknya dalam bayangan gue keren aja gitu… jam makan siang gue nyetir sendiri ke sekolahan buat jemput si ponakan tersayang, hohohohoho. Terus nanti kalo weekend, si ponakan bakal gue ajak nginep di apartemen gue! Sounds perfect 🙂

Remember When I Was a Kid

Kemarin malam, dalam perjalanan menuju farewell party manajer gue waktu di EY, gue banyak ngobrol sama si supir taksi.

Supir taksi itu cerita, setiap siang, dia suka menyempatkan diri untuk mampir pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, anak-anaknya akan langsung datang menghampiri si supir taksi, menagih bungkusan makanan yang dibawa pulang olehnya.

Cerita si supir taksi mengingatkan gue sama masa kecil gue sendiri. Dulu, setiap kali bokap gue pulang kerja, gue akan langsung menghampiri bokap untuk melihat apakah ada oleh-oleh dibawain bokap buat anak-anaknya. Pada tanggal-tanggal terbitnya majalah Bobo dan Donal Bebek, gue pasti akan memeriksa isi tas kerja bokap untuk mencari majalah favorit gue waktu itu. Kalo bokap baru pulang kerja setelah gue tertidur pulas, hal pertama yang akan gue lakukan setelah bangun tidur adalah berlari menghampiri tas kerja bokap yang biasanya terletak di ruang tamu.

Seiring berjalannya waktu, gue udah enggak lagi berlangganan Bobo dan Donal Bebek. Dan sejak SMP, gue mulai membeli sendiri majalah yang gue inginkan. Entah itu hasil menyisihkan uang jajan, atau hasil bisnis jualan kecil-kecilan. Kemudian setelah SMA dan kuliah, gue juga mulai bisa membeli majalah, novel, dan kosmetik gue sendiri menggunakan uang hasil mengajar privat. Lalu sekarang setelah kerja, alhamdulillah gue udah sanggup membiayai semua kebutuhan gue dengan uang hasil jerih payah gue sendiri.

Jujur gue akui… Serba bisa melakukan segala hal dengan hasil kerja gue sendiri seringkali membuat gue jadi seperti kacang yang lupa dengan kulitnya. Gue lupa bahwa dulu, gue hanya seorang gadis kecil yang bisa terpekik kegirangan hanya dengan menemukan majalah Bobo terbaru di dalam tas kerja milik bokap gue.

Gue juga jadi teringat cerita seorang teman tentang ibunya yang suka sekali ngeberesin rumahnya dia setiap kali sang ibu mampir ke tempat tinggalnya itu. Waktu itu, kurang lebih temen gue itu bilang begini, “Sebenernya gue juga enggak enak ngelihat nyokap beres-beres rumah gue. Tapi dia emang seneng banget ngelakuin itu buat gue. Dia pengen masih bisa jadi berguna buat gue karena sekarang kan, secara finansial gue udah nggak bergantung lagi sama mereka.”

Bokap dan nyokap gue juga suka begitu. Ngupasin mangga buat gue, beresin kamar tidur gue, masakkin semua menu kesukaan gue setiap kali gue pulang ke rumah… Mengingat semua itu, membuat gue jadi menyadari betapa besarnya perhatian kedua orang tua gue selama ini.

Sama seperti orang tua lainnya, orang tua gue bukanlah orang tua yang sempurna. Begitu pula dengan gue… Gue juga masih jauh banget dari kata sempurna. Makanya enggak heran kalo ada banyak banget konflik yang merintangi hubungan gue sama mereka.

Meski begitu, bagaimanapun dan sampai kapanpun, gue nggak akan bisa membayar lunas hutang-hutang gue kepada Papi dan Mami. Karena setelah gue hidup mapan dengan karier gue sendiri pun, Papi dan Mami tidak pernah berhenti melimpahkan kasih sayangnya meskipun bentuknya tidak lagi berupa materi.

Jadi lain kali… Kalo gue lagi bete sama bokap dan nyokap, mengingat masa kecil bisa jadi senjata yang ampuh untuk menahan diri dalam menghadapi orang tua gue sendiri. Gue nggak boleh sombong karena gimanapun, waktu kecil dulu, gue hanya seorang anak yang menggantungkan hidup dari pemberian kedua orang tua gue.

I’m not that loveable kid who ever tell my parent that I love them back. It feels so awkward for me to express such a feeling like that. Tapi lewat tulisan ini, gue pengen ortu gue tau bahwa of course, I love them too 🙂

My Sister’s Wedding Day

Hari ini, Yantri – adik gue, memulai hidup barunya sebagai seorang istri. Pagi harinya, tumben-tumbenan gue bisa bangun Subuh tanpa bantuan alarm. I don’t want to come late to her wedding. Dan emang dasar gue ini orangnya heboh, begitu sampai lokasi, ruang rias yang tadinya sunyi senyap langsung ramai dengan celotehan dan keribetan gue. Gila ya… bukan gue yang married tapi gue juga yang ikutan ribet. Ribet sama make-up, ribet sama baju, ribet sama keluhan orang-orang di sekitar gue pula… Kebayang lah, kalo nanti gue yang married, gue bakal menjelma jadi bridezilla, hehehehe.

Ada yang unik di upacara pernikahan adik gue hari ini. Untuk pertama kalinya, gue ngelihat kedua orang tua gue pake baju tradisional Jawa saat menjalani prosesi upacara pernikahan adat. Jadi bisa dibilang, pernikahan hari ini merupakan perpaduan sempurna antara adat Jawa dengan adat Sunda. Well, it’s a win-win solution right?

Buat kalian yang tidak mengenal gue secara langsung, well yes… my sister gets married before me. Jadi sudah pasti… pertanyaan yang paling sering mampir ke telinga gue adalah, “Kapan nyusul?” atau “Yang berikutnya acara kamu dong, Fa?” atau “Kok bisa siih, dilangkahin sama adiknya?”

Lalu apa jawaban gue? Berikut lima jawaban ala gue…

  1. Gaya andalan: cuma nyengir;
  2. Kalo yang nanya masih ngotot dengan mengulang pertanyaan yang sama: mengibaskan tangan kanan, sambil senyum, terus kabur…
  3. Kalo sama temen yang cukup deket, gue jawab gini, “Yah… gue sama adek gue punya perbedaan purpose of life.
  4. Atau… “Hush, iseng aja… Nggak mau ah, ditanyain kayak gitu.”
  5. Atau… “Nggak papa lah, dilangkahin… Enak kan, dapet langkahan? Hehehehe.”
  6. Waktu malah adek ipar gue yang nanya, gue jawab… “Loh, Yantri belum bilang yah? Gue maunya kalo bisa, married pas udah mepet 30.”

Dan berikut ini adalah alasan kenapa gue menjawab dengan 5 cara di atas:

  1. Menurut gue, nyengir adalah cara paling mudah untuk menjawab. Masalahnya, pacar aja gue belum punya kok. Jadi kan nggak mungkin gue jawab, “Tahun depan,” atau “Dua tahun lagi” atau “Tiga tahun lagi,” dst dst…
  2. Kenapa kalo si penanya masih ngotot, gue malah lebih memilih untuk kabur? Ya abisnya… gue mau jawab apa juga nggak bakalan ada abisnya deh. Gue pernah jawab, yang dibalas dengan pertanyaan lagi, yang ujung-ujung mengaitkan status jomblo gue dengan aktivitas karier gue yang dinilai terlalu workaholic, atau dibilang terlalu pemilih, atau pernah juga, dibilang terlalu dominan sehingga enggak ada cowok yang bisa tahan sama gue. Wooow…
  3. Orang yang cukup mengenal gue, biasanya udah tau kalo gue ini tipe orang yang punya banyak keinginan. Jadi cukup dengan menjawab seperti point 3 ini, mereka pasti mengerti tanpa banyak tanya lagi;
  4. Gue jawab kayak gini waktu ditanya sama pacarnya adek-adek cowok gue. Sengaja gue jawab begitu dengan harapan, kalo next time mereka dengar ada orang lain yang mengajukan pertanyaan serupa, mereka bisa jadi penyambung lidah buat gue, hehehehe;
  5. Yang ini emang beneran loh… asyiknya dilangkahin itu bakal dikasih kado pelangkah 🙂 Dan gue udah minta BB Gemini warna pink buat langkahan dari adek gue dan suaminya, hehehehe; dan
  6. Kenapa gue bisa dengan yakinnya bilang kepengen married mepet usia 30? Karena memang itu yang gue inginkan. Ada banyak cita-cita yang ingin gue penuhi selagi masih muda dan merdeka. Gue berpikirnya simpel aja, once gue getting married, gue udah nggak bisa balik jadi single lagi kan?

So actually, dilangkahin nggak pernah jadi big deal buat gue. Rasanya udah sejak dulu gue tau bahwa kelak, Yantri akan menikah terlebih dahulu. Makanya waktu dia cerita mau married dalam waktu dekat, concern gue bukan rela atau nggak rela dilangkahin sama dia, melainkan, siap nggak dia dan calonnya untuk menikah?

Hari ini gue ikut berbahagia buat adik gue tersayang. She looks very beautiful today. Dan pastinya, gue juga lega karena tadi nggak ada tamu yang kehabisan makanan 🙂 Gue juga senang karena hampir semua teman-teman yang gue undang menyempatkan diri untuk hadir. Keberadaan mereka berarti banget buat gue hari ini. Karena ada mereka, gue jadi punya tempat kabur kalo ada tamu yang usil nanyain soal kapan gue nyusul, hehehehe. Berkat mereka juga gue jadi nggak mati gaya sepanjang acara. Thank you for coming yaa guys. You’re all the best 🙂

Terakhir gue cuma mau bilang sama adik gue… selamat menempuh hidup baru! I guess that I can’t call you my little sister anymore right? Terus buat Dhici, adik ipar gue… Sabar-sabar deh lo yaa, ngadepin adek gue yang satu ini. Tadinya gue berniat ngasih doa yang puitis lewat blog ini… Tapi entah kenapa otak gue lagi buntu nih, hehehehe. Paling gue juga mau bilang, happy honeymoon yaa, hihihihihi.

Start From Zero

Setelah sukses dengan satu stand di food court Pasar Kranggan, tiga hari yang lalu nyokap gue buka cabang Pondok Ratu di Warung Tenda Kota Wisata Cibubur. Nyokap dan bokap optimis banget omset di sana bakalan lebih besar daripada yang mereka dapatkan di food court Pasar Kranggan. Lalu lima jam setelah pembukaan di Kota Wisata, bokap nelepon buat bilang bahwa baru ada tiga pengunjung yang mampir ke Warung Tenda mereka itu… Baru keesokan harinya gue tahu bahwa sepanjang hari pertama buka, tidak satupun ayam bakar jagoan nyokap gue yang terjual di Warung Tenda…

Gila ya, ayam bakar yang selama di food court bisa mendatangkan uang jutaan rupiah setiap bulannya malah nggak laku satu biji pun di tempat yang baru. Nyokap pasti sedih hari pertamanya enggak sukses seperti yang dia bayangkan. Untung si babe mau repot-repot nemenin emak di sana…

Lalu tadi malam, bokap nelepon gue lagi, kali ini dengan suara yang terdengar ceria. Bokap gue bilang, “Dagangan hari ini laris manis, makanannnya habis semua!”

Gue jelas kaget, “Kok bisa?”

Bokap ketawa. “Iya, tadi kan sodara-sodara pada mampir makan ke sini. Terus gara-gara tenda kita kelihatan ramai, orang-orang jadi pada penasaran pengen nyobain ayam bakar Mami.”

Gue ikut tertawa mendengar cerita bokap. Dalam begitu banyak hal, seringkali kita harus memulai segala sesuatunya dari nol. Soal seberapa cepat kita bisa merangkak naik, rentang waktunya berbeda-beda untuk setiap orang. Dan seringkali, dukungan dari orang-orang terdekat bisa mempercepat laju pencapaian itu. Dalam kasus ini, para keluarga besar gue adalah ‘sang dewa penyelamat’🙂

Duh, gue jadi malu nih. Gue aja yang anaknya ortu belum sempet mampir ke Warung Tenda dengan alasan sibuk kerja. Meski begitu, doa dan dukungan gue akan selalu menyertai jejak langkah mereka berdua…

Makanya… temen-temen semua bantuin gue juga yaa! Kalo main ke Kota Wisata jangan lupa mampir ke Pondok Ratu! Buka setiap hari dari jam 3 sore sampai jam 12 malam. Kalo mampir, tinggal sebut nama gue aja. Siapa tahu bakal dikasih diskon sama ortu gue, hehe. Ditunggu kedatangannya ya guys!