I Want to Take My Charm Back

Kemarin malam, saat menunggu lift untuk turun ke lobi gedung, gue berpapasan dengan salah satu rekan kerja dari divisi lain. Dia menyapa dengan senyum lebar, gue hanya membalas dengan senyum tipis sambil berpikir keras di dalam diam, “Who is this guy?”

Kemudian di dalam lift, cowok ini dengan ramah bertanya soal kebiasaan gue pulang malam. Gue tidak memperhatikan, mengerutkan dahi, lalu dengan dingin membalas, “Sorry?”

Dia mengulang pertanyaannya, dia juga menambahkan, dia sering melihat gue di cafeteria kantor di saat jam makan malam (Lazada menyediakan makan malam prasmanan untuk karyawan yang bekerja lembur).

Lagi-lagi, gue cuma tersenyum tipis. Dan lagi-lagi, gue bingung sendiri. “Who is this guy? I’ve never seen him in the cafeteria.”

Begitu sampai lobi, gue tidak pakai berbasa-basi. Gue berjalan lurus menuju mobil yang sudah menunggu di depan gedung. Baru saat hendak membuka pintu mobil, gue terpikir untuk saying goodbye. Setidaknya, berbasa-basi untuk bilang, “Have a nice weekend!

Sayangnya, begitu gue berbalik badan, cowok itu sudah berjalan belok ke arah lain. And just like that, I really felt bad.

Kalau diingat-ingat lagi, dulu gue tidak begitu. Dalam situasi yang sama seperti malam kemarin, gue akan melambaikan tangan sambil tersenyum lebar sebelum masuk ke dalam mobil.

Selain itu dulu, gue selalu menjawab dengan senyum tulus, terkadang dengan lelucon, tiap kali ada teman sekantor yang menyapa, “How are you doing?” atau “How was your weekend?” Kalau sekarang? Cuma senyum tipis atau bahkan langsung to the point, “What’s up?” Tidak ada lagi basa-basi untuk sekedar balas menanyakan kabar mereka. Gue sempat beranggapan, semua itu cuma basa-basi ala orang bule yang sifatnya hanya buang-buang waktu. Padahal sebetulnya, apa salahnya sih? Dan apa susahnya sih, menjawab dengan ramah?

Kemudian dulu, gue termasuk sering chatting di Skype dengan teman-teman lintas divisi hanya untuk sekedar tertawa-tawa melepas stres. Bahkan dulu, gue juga sesekali menyempatkan makan siang atau malam dengan mereka ketimbang hanya terus-terusan berkumpul dengan tim gue sendiri.

Sesampainya di kosan tadi malam, gue melihat ke arah cermin yang terletak tidak jauh dari pintu masuk kamar kos. Dan sejujurnya, gue tidak menyukai pantulan yang gue lihat di cermin itu.

I looked defeated. I lost the bright shine on my eyes. I lost that pretty smile on my lips. All that I saw was a tired, stressed, sad, and disappointed face. I don’t know when it first started, but apparently, life has slowly taken my charm.

Pertanyaannya, kenapa bisa begini? Ada begitu banyak hal yang sungguh gue syukuri dalam hidup gue, tapi kenapa gue malah kehilangan positive vibe dari diri gue ini?

Bigger responsibility, of course. At the end of the day, there’s a price I’ve got to pay just to earn my job.

And the hopes that I put high on other people. Friends who didn’t seem comfort to be seen around me. Colleagues who turned against me. “The ally” who decided to give up the fight. And all people who made me lose my trust on them.

Is that all? No, there’s one more thing: my eyes tend to focus just to the prizes. 

Rasanya gue harus jujur mengakui, gue masih sering terlalu fokus untuk mengejar hal-hal yang belum gue miliki. Gue tidak bisa mengatasi rasa penasaran dalam diri gue sendiri. My obsession consumes me. My obsession has taken my charm away!

If I look back to the past year, I have forgotten that life was not only about winning. I forgot that I had to be happy with every little thing I do.  I forgot to smile everytime I had a chance. I forgot to give some more room for new people in my life. I forgot that people would not hurt me unless I let them.  All of that, all together, has made me lose the most attractive part of me: a happy face of mine.

I am happy with my life, but I still can be happier, once I used to be happier, and I only need to put more efforts to make it happen. Now I really want to take my charm back!

Have a nice weekend!

7 Tricks to Reduce My Anger

Akhir-akhir ini, gue sedang coba beberapa trik baru untuk mengurangi kebiasaan marah-marahnya gue. Kadang, marah itu perlu. Bisa jadi cara yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah. Tapi kalau sampai terlalu sering, apalagi kalau marahnya sampai kelewat batas, kebiasaan buruk ini malah bisa jadi bumerang buat diri gue sendiri! Gue yakin bisa dikurangi, tapi agak susah untuk hilang sepenuhnya… secara marah-marah rasanya udah kayak bagian dari ‘jati diri’ gue, hehehehehe.

  1. Saat ada e-mail yang menyebalkan, langsung ketik balasannya untuk meluapkan rasa kesal, tapi setelah itu, simpan dulu di draft. Buka lagi draft-nya 2 atau 3 jam kemudian, dijamin gue akan memperhalus isi balasan e-mail gue itu, hehehehe. Setelah isinya terlihat lebih sopan, baru balasannya gue kirim!
  2. Saat ada orang lain yang mengajak berdebat kusir, entah itu dengan cara texting atau meeting in person, maka gue akan lebih memilih untuk mengakhirinya saja. Gue bisa bilang ada urusan lain dan harus segera pergi. Berdebat kusir itu hanya akan buang-buang waktu! Walking out justru akan lebih efektif untuk membuat si lawan bicara berpikir jernih dengan sendirinya;
  3. Tahu tipe orang yang suka menyindir dengan cara bercanda dan ketawa-tawa? Tidak usah ambil hati. Balas dengan santai, blak-blakan saja, setelah itu langsung tinggalkan. Sama kayak si tukang debat kusir, menghadapi orang seperti ini tidak akan pernah ada habisnya!
  4. Ganti marah-marah dengan senyum kecil yang agak-agak sinis. Selain senyum, bisa juga mengganti marah-marah dengan cara yang lebih cerdas. Misalnya, “Oh ya? Tulisan saya kurang jelas? Bagian yang mana? Coba kita tanya pendapat orang lain.”
  5. Saat ada orang lain merasa bisa mengerjakan pekerjaan kita dengan lebih baik, biarkan saja. Tinggalkan saja dan biarkan dia berusaha sendiri. Enggak usah diambil hati. Saat nanti orangnya datang untuk tanya bagaimana cara mengerjakannya, tertawakan saja! It feels even better than yelling at them, hehehehe;
  6. Jangan memprioritaskan orang lain yang hanya menjadikan kita sebagai option. Mencoba bertahan hanya akan membuat kita jadi cranky. Dikit-dikit berantem lagi, marah-marah lagi… It’s wasting our time and energy! Ibaratnya pesan makan, orang-orang seperti mereka cukup dijadikan sebagai side dish saja, jangan malah dijadikan main course!
  7. Jangan suka memendam perasaan. Lebih baik diutarakan sedikit demi sedikit, di saat emosi masih cenderung tenang dan kata-kata masih terjaga, ketimbang ditumpuk dan berujung dengan marah-marah besar. Kalau sudah dibilang terus terang tapi masih saja diulang-ulang, itu namanya mereka tidak respect! Kalau sudah begitu, baru lah kita boleh marah-marah sama mereka, hehehehe.

Gue tahu marah-marah akan terus jadi kebiasaan jelek gue sampai kapanpun. Secara tidak ada manusia yang sempurna, maka itulah salah satu ketidaksempurnaan gue. Hanya saja masalahnya, kebiasaan jelek yang satu itu adalah kebiasaan yang paling sering membawa penyesalan. Pengen banget bisa dikurangi, dan 7 langkah di atas adalah usaha gue untuk bisa sampai ke sana. Misal ada tips tambahan, please let me know yaa!

Someone Who Changed My Life

A few weeks back, a guy from my past congratulated me for my recent promotion at work. He seemed impressed with my achievement. I only said thanks, but deep in my heart, I whispered, “Maybe, I wouldn’t make it this far if it was not because of you.”

So many years ago, my life was completely a boring one. I didn’t have any passion, dream, ambition, not either a simple purpose in life. I didn’t even understand what a true happiness felt like. My life was okay, but not wonderful. My life was very plain in so many ways, until I met him.

What makes him so special? Well, a very long time ago, he was the only person who believed in my potential even a lot more than I believed in myself. He said, I could be anything I wanted if only I tried hard enough to make it happen. And somehow, he made me believe in that!

So there I started to picture my own future. I pictured myself as a successful young woman with a pretty dress working in a high rise building (sounds stupid, I know 😉 ). She has a happy life, she travels the world, and she is surrounded by the people she loves. For the first time in my life, I had something to pursue. I had many good reasons to wake up in the morning, and I had a strong belief that someday I’d get there.

And then today, after so many years have passed me by, anytime I look back to my past, I still can’t believe how that insecure, lazy, and grumpy girl can live the life I live in now. It’s not a perfect one, not either an easy one, but it’s nearly everything I’ve always dreamed of. And most of the times I think, I might not be who I am today if it was not because of that boy I met so many years ago.

Last week, I was sitting in a blue taxi taking me to Grand Indonesia, just by myself. As I just said, my life is everything I’ve always dreamed of, except when it comes to love.  Then out of the blue, I thought of him, and it just hit me… he was actually the biggest loss I’ve ever had in life.

Back to the past, I was only a teenager when the first time I met him. So many things made me decide that he was not good enough for me. I mean, he and his tons of girlfriends! Could I ever trust him? So that I thought, I was still young, I would still meet a lot of new boys at school, college, and later at work!

Then what about my real life after that? Is it true that I would meet another boy in another chance?

It’s true that I met a lot of new guys after that one guy, but recently I just realized… none of those new guys treated me the way he did. I don’t know how deep their feelings to me, but one thing I know, there was nobody ever fought for me and wanted to be with me as much as he did. I rarely doubt my own decision, yet this time, I began to wonder, “What my life would be if I did it differently?”

Does it mean that I regret my decision? Well, I’m actually still a believer that everything happens for a reason. I don’t think this guy regrets the ending of our story since now he is happily married anyway. So no, I don’t think it’s something to regret. Yet if there is one thing I’ve learned, I simply learned that I should have given him a chance. I should have given myself a chance, not only back then, but also to the chances to come! At least even if it fails, I know that I have given my very best fight. Failure may haunt me for years, but a regret for never trying may haunt me for a lifetime!

However, regardless how it was ended between us, I’m still so grateful that I met him. And somehow I believe, each and everyone of us got one, didn’t we? We all had that someone who brought out the very best in us, the one who enhanced us, the one who made us a better us. And if everything happens for a reason, I believe he happened to become my wake-up call. He was not someone who was meant to be with me, but he was still someone who changed my life.

Finally, as I believe he has no regret on me, I really hope that someday I’ll prove myself that I also have nothing to regret on him. I hope that someday, I will meet someone that makes me realize that all those heartbreaks have finally made a perfect sense. A perfect sense that brings me to someone who is meant to be with me, forever and ever 🙂

I Choose to Be Happy

Entah sejak kapan persisnya, tiap kali dihadapkan pada keputusan-keputusan sulit dalam hidup gue, pada akhirnya gue akan bertanya sama diri gue sendiri, “Keputusan mana yang akan bikin gue lebih bahagia?”

Waktu kuliah dulu, awalnya gue sempat lebih memilih berteman dengan orang-orang yang mempunyai kesamaan latar belakang dengan gue. Masalahnya saat itu, di kampus gue memang begitu kecenderungannya; orang-orang berteman sesuai dengan ras dan agamanya masing-masing. Tapi tidak berapa lama, gue malah menemukan kelompok kecil yang membuat gue lebih merasa nyaman dan juga membuat gue lebih sering tertawa dibanding sebelumnya. One Indian girl, one Chinese girl, and me; a Moslem girl with a hijab, we could make it until graduation.

Kemudian saat baru memulai perjalanan karier gue, dulunya gue pikir, uang adalah hal terpenting dalam memilih pekerjaan. Saat memilih pekerjaan pertama setelah kelulusan, jujur gue masih memilih perusahaan dengan tawaran gaji yang paling tinggi pada saat itu. Tapi sekarang, gaji tinggi bukan lagi segala-galanya. Jika baru tahap interview saja gue sudah luar biasa ragu, atau sederhananya, tidak merasakan ada chemistry dengan perusahaan tersebut setelah hal-hal yang gue temukan selama proses interview itu sendiri, maka buat apa dipaksakan?

Masih dalam hal karier, gue sudah sering membuktikan bahwa hal yang paling mudah belum tentu hal yang akan paling membawa kebahagiaan. Percaya nggak percaya, tugas dan proyek yang awalnya terlihat hampir mustahil pada akhirnya malah menjadi tantangan karier yang paling membuat gue ngerasa puas dengan pencapaian diri gue sendiri. And you know what? I feel happy when I’m satisfied! Itu pula sebabnya, pekerjaan yang terasa sangat mudah adalah pekerjaan yang kemudian gue tinggalkan meskipun sebetulnya, pekerjaan itu punya masa depan yang sangat menjanjikan untuk diri gue ini.

Finally about my love life. Ortu gue pernah bertanya kenapa gue enggak jadian aja sama si A dan si B yang bla bla bla. Jawaban gue pendek saja, “Sama mereka cuma teman aja.” Tapi jawaban sebenarnya, gue hanya tidak menemukan kebahagiaan yang gue cari dengan mereka. Wajah ganteng dan karier yang sudah mapan entah kenapa sudah tidak lagi menjadi prioritas gue. Percuma punya pasangan yang bisa bikin cewek-cewek lain iri sama gue jika berpasangan dengan cowok itu hanya akan sering membuat gue tidak bisa tidur nyenyak di malam hari…

Singkatnya, dalam setiap keputusan yang gue ambil, gue hanya memilih untuk bahagia. Bisa jadi bukan keputusan yang tampak ideal, terlihat unusual, akan banyak rintangannya, dsb dsb… Tapi jika memang itu yang gue butuhkan untuk bisa hidup bahagia, maka itu pula yang akan gue pilih untuk hidup gue ini.

Why do I do that?

Because I’ve come to learn that happiness is also a work. As much as I believe that there are so many little things that we can be happy with, I also believe that the greater happiness we want to pursue, the greater efforts needed to take us there. That’s why again, everytime I need to make a tough decision, I don’t care what most people will do about it, I simply think and ask myself, “What will I do about it? Which one will make me happier?”

Life can be anything, and I just choose to be happy. That’s it.

 

Unconditional Happiness

Pernah dengar istilah unconditional love a.k.a cinta tanpa syarat? Kita harus bisa mencintai orang lain dengan tulus tanpa banyak syarat dia harus begini dan dia harus begitu. Nah, gue juga punya istilah ala gue sendiri: unconditional happiness a.k.a kebahagiaan tanpa syarat. Nggak perlu tunggu ini dan tunggu itu hanya untuk bisa ngerasa bahagia.

Dan hari ini, gue kembali membuktikan kalo gue benar bisa tetap hidup bahagia tanpa banyak syarat ini dan itu. Today, I could stay happy even though I didn’t get what I really want to have in this particular day: a Valentine date.

Sebelum gue teruskan, maaf banget ya, buat teman-teman yang tidak merayakan Valentine… I really really respect your point of view. Tapi menurut gue, kalaupun ada yang salah dari perayaan Valentine, yang salah itu prilaku orangnya, bukan event-nya. It’s debatable, I know… but please let us just agree to disagree, okay? 😉

Back to the blog… what makes me feel happy apart from just staying at home all alone all day long? It’s just those simple things in life!

Dimulai dengan nyobain restoran dim sum baru yang rasanya enak banget! Pesan antar pakai Klikeat!

Lalu nonton film dan serial TV kesukaan sambil duduk bersandar di atas tempat tidur, berselimut hangat diiringi suara rintik hujan…

Nulis satu lagi judul blog yang bikin gue bangga banget sama diri gue sendiri, hehehehe… Please pardon my narcissism, ok! 😉

Dapat satu lagi comment di blog yang bikin gue ngerasa senang dan puas dengan blog gue yang hanya ala kadarnya ini…

Dapat kiriman video lucu dari salah satu sahabat yang disertai caption, “Maybe this is the reason why your crush didn’t ask you out today, hahahaha.” And it really made me laugh outloud 😀

Kemudian bertukar comment agak-agak flirty di Path sama sahabat gue yang lainnya… Comment yang bikin gue berpikir, “It looks like I’m a flirting expert! Tapi giliran ngomong sama gebetan, gue speechless berat!”

Dan diakhiri dengan bikin tulisan tentang unconditional happiness ini yang udah bikin gue jadi senyum-senyum sendiri! 😉

See? I’m home alone today, but I’m not lonely at all. I would be very happy if I had a candle light dinner tonight or maybe just a casual lunch would do, but even without it all, I’m okay too. I want to be able to stay happy in all conditions in life, that’s why I mentioned this as an ‘unconditional happiness’, get it now? 🙂

At the end of the day, love is not only about your crush, boyfriend, fiance, or husband. I love my families, my friends, my career, my comfort home, my hobbies, my life! And I think, that’s Valentine is all about: a reminder on how grateful I am for being able to love this much!

So guys… merayakan atau tidak merayakan Valentine, gue sungguh berharap semoga hidup kita selalu dilingkupi kasih sayang dan kebahagiaan, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun.

Have a lovely life, everyone! And please, be happy unconditionally! 🙂

Let Life Surprise Me

A few nights ago, I went home to my kost place and found something that froze me for a while. I looked at an empty shoe rack and smiled alone. And just like that, it reminded me to many random memories on how life could be so unpredictable sometimes. I may be known for having a strong guts feeling on anything, anything… but my own love life.

I still remembered over fifteen years ago, I had to join a Yogyakarta tour for my final exam at IEC. My classmates had joined the previous trip so that I had to go there alone. I told myself that night before departure, “That’s okay… Who knows I would be in the same group with a cute guy? And he would be my first boyfriend!” And I was right… that night in that bus, I met my first love. But then I was wrong… He only thought of me as a fourteen years old kid. My first love ended as my first heartbreak.

One year later, I met a new guy in high school. The time was not right in the beginning, but I believed someday we would be together because for so many reasons, it seemed like we were meant to be. But then again, I was wrong. Now everytime I looked back, I couldn’t help but wondering, “How could I fall that deep for this guy?”

Many years after that, I met a guy in the office and for the first time ever, right at our first met, I looked at him and it just crossed my mind, “This guy is going to be my soulmate.” We did have a chance, but we didn’t make it until the end. Right after that, I gave up. I no longer trust my own guts when it comes to love. People says when you know, you know. Yet somehow, I just never know!

The funny thing is that, my guts feeling is rarely wrong on many other things in life.

I knew that I would succeed my career. I used to write down what I wanted to be in my 20’s, and here I am… 29 years old and pretty much living my own dream.

I knew that my younger sister would get married before me and I would have a loveable nephew or niece from her. And I was right. Now I’m a happy auntie for my beloved 3.5 years old nephew.

I also knew that unlike many others, my friendship with a classmate back in college would last long, and here we are… we’ve been friends for 12 years and still counting.

I knew it all, but I never know how my love life would end.

Back to my kost place, so I just moved into that place around 4 months ago. I used to have an imagination that I would live right next to a cute neighbor. And then we would get to know each other. And then I would have finally found my Mr. Right!

It sounds stupid, I know… but you know what? I was indeed having a cute neighbor right next to my door! We ran into each other in some chances but we never managed to get to know each other. I always thought that I would always have another chance to say hi. And then 2 nights ago, after leaving the kost for 2 weeks for my Umrah trip, I went back to that place and I was frozen seeing his empty shoe racks. He had moved out even before I knew his name.

So there I was, 2 nights ago… Standing alone, looking at an empty shoes rack, and bitterly smiled to myself. I’m always wrong about this one.

That empty shoe racks moment was actually not about that guy next door at all. It was merely about being tired for being wrong all the times. Having the same disappointments over and over again was just frustrating to me. It was frustrating, until last night, an officemate showed me a post on her Facebook. That picture on her phone says, “Sometimes you fall in love with the most unexpected person and the most unexpected time.”

So there I smiled again…

Maybe, that’s how I’m going to get my happy ending. It’s not gonna be someone I have in mind, not someone I mention repeatedly in my prayers, and maybe, not anytime soon like I want it to be. I may never see it coming, but it will come! Sooner or later, all of that past disappointments would only make a perfect sense. And if I think about it again, my life would be less interesting if I can always predict anything that will happen to me, wouldn’t it?

Hence I guess for this one, just let life surprises me. So life, bring it! 😉

Kenapa Kita ‘Harus’ Pergi Umrah?

Jeddah, 27 Januari 2016

Awalnya, gue agak ragu-ragu untuk menulis perjalanan Umrah perdana gue ini. Gimana kalo jatuhnya seperti riya? Gimana kalo gue malah dianggap pamer, sombong, dsb dsb… Tapi setelah gue pikir kembali, jika tulisan gue ini bisa membawa manfaat untuk orang lain, kenapa tidak?

Jadi ceritanya, ortu gue udah menyarankan untuk pergi Umrah sejak beberapa tahun yang lalu. Hanya saja sayangnya, gue selalu punya alasan untuk menunda rencana Umrah gue itu. Yang penting target gue, gue harus pergi Umrah sebelum menginjak usia 30. Secara November tahun ini akan jadi ultah gue yang ke 30, akhirnya gue putuskan untuk berangkat tahun 2016. Sengaja berangkat di bulan Januari di saat cuaca di Mekah sedang sejuk-sejuknya.

Sejak tahu akan segera pergi Umrah, gue mulai merenung di dalam hati… Nanti selama Umrah, gue ingin berdoa soal apa saja ya? Nggak mungkin dong, gue berdoa hanya soal jodoh gue saja? Secara tujuan gue Umrah kan sama sekali bukan demi cepat-cepat dapat jodoh! Tapi jika gue masih saja meminta banyak hal lainnya dalam doa-doa gue itu, kesannya gue ini serakah banget nggak sih?

Tanpa bermaksud sombong, gue betulan merasa sudah punya lebih dari cukup dalam usia gue yang masih terbilang muda ini. Bukan hanya soal materi, tapi lebih soal hidup gue yang semakin dewasa justru semakin bahagia, mimpi-mimpi gue yang sudah menjadi nyata, sahabat-sahabat yang gue jumpai sepanjang jalan kehidupan gue, dan yang paling penting, soal transformasi kepribadian dari gue yang dulu menjadi gue yang sekarang ini. Kalau menurut kalian gue masih punya banyak sifat jeleknya, kalian pasti bakal syok berat kalau sampai tahu kepribadian gue yang dulu. Tanpa perubahan kepribadian gue itu, entah hanya jadi apa diri gue yang sekarang ini.

If I already have this much, how can I still ask for more?

Tapi ya sudahlah, pergi ya pergi saja dulu. Soal doa biar nanti mengalir dengan sendirinya. Dan ternyata benar saja, doa itu; doa yang paling tulus dari lubuk hati itu, akhirnya benar datang dengan sendirinya.

Gue memulai perjalanan ibadah gue dari Madinah terlebih dahulu. Doa pertama, ke dua, ke tiga dan seterusnya mulai gue panjatkan. Soal rezeki yang halal, kesehatan, kebahagiaan, dan nggak munafik, soal minta diberikan jodoh yang terbaik pada waktu yang terbaik juga. Gue coba khusuk berdoa, tapi entah kenapa, rasa haru yang biasa dirasakan jamaah-jamaah Umrah pada umumnya masih belum gue rasakan. Masih belum, sampai akhirnya gue menginjakkan kaki di Raudhoh masjid Nabawi, Madinah.

Bagi yang belum tahu, Raudhoh adalah satu area khusus di dalam masjid Nabawi di mana doa-doa yang kita panjatkan Insyaallah akan dikabulkan. Satu area kecil yang diperlukan kesabaran ekstra hanya untuk masuk, shalat, dan berdoa di dalamnya.

Sebelum masuk area Raudhoh, gue diberitahu bahwa ciri-ciri area Raudhoh adalah beralaskan sajadah berwarna hijau. Setelah menunggu selama hampir 3 jam lamanya, akhirnya, tiba giliran gue menginjakkan kaki di karpet hijau itu.

Sambil berdiri dan menunggu giliran untuk shalat sunnah di area Raudhoh, gue mulai memanjatkan doa di dalam hati. Doa-doa yang kurang lebih sama dengan doa-doa gue sebelumnya, kecuali satu doa yang secara spontan gue ucapkan, persis saat tinggal satu langkah menuju giliran gue untuk menjalankan shalat sunnah di sana.

Saat itu, gue berdoa agar tetap menjadi orang yang hidup dengan penuh rasa syukur. Berawal dari doa itu, gue lanjutkan dengan mengucapkan syukur atas segala anugerah yang telah Allah berikan. Rasa syukur yang teramat besar untuk karier gue, impian-impian gue, dan semua kebahagiaan yang gue dapatkan dalam hidup gue ini.

Gue terus mengucap syukur, sampai tanpa terasa, air mata turun membasahi kedua tangan yang sedang gue tenggadahkan untuk berdoa. Entah kenapa, bukannya menangisi hal-hal yang gue inginkan untuk hidup gue, gue malah meneteskan air mata haru atas hidup yang telah Allah anugerahkan kepada gue sampai dengan usia 29 tahun ini.

Setelah genap seminggu gue menjalankan ibadah ini, sudah begitu banyak doa yang gue panjatkan, tapi tidak ada satu doa lain pun yang berhasil mendatangkan keharuan yang sama besarnya dengan doa gue di Raudhoh itu. Gue sungguh berharap, sekedar doa guna senantiasa diingatkan untuk mengucap syukur pun, akan jadi doa yang mencukupi segala doa lainnya.

Persis kemarin siang, gue sudah menuntaskan ibadah Umrah gue. Rasa haru yang gue rasakan di Raudhoh dan rasa damai yang gue rasakan selama Sai buat gue mulai bertanya-tanya di dalam hati, “Kenapa gue tidak pergi Umrah sejak awal ya? Kenapa harus tunggu usia 29 tahun terlebih dulu?”

Banyak orang yang sering titip doa minta diberikan panggilan untuk datang ke tanah suci. Buat sebagian orang, Umrah memang bukan sesuatu yang mudah. Biayanya, waktunya, kekuatan fisiknya… Tapi berkaca dari diri gue sendiri, kedatangan gue ke sini bukan soal dipanggil atau tidak dipanggil, tapi lebih kepada mau datang atau tidak mau datang. Mau keluar uang sekarang atau nanti-nanti saja. Mau menunda, atau pergi sekarang juga.

Haruskah kita pergi Umrah? Memang bukan ibadah wajib, tapi jika sudah mampu, kenapa tidak? Tidak perlu menunggu kita butuh sesuatu untuk diminta kepada Allah, sekedar mengucap syukur atas segala anugerah-Nya, menurut gue, sudah lebih dari cukup. Dan tidak perlu direpotkan dengan pikiran, bagaimana jika sepulangnya dari Umrah, perilaku dan ketaatan kita tetap sama-sama saja dengan sebelumnya? Tetap pergi saja, karena jika kita baru pergi setelah merasa siap untuk pergi, maka bisa jadi, kita tidak akan pernah merasa cukup siap untuk pergi.

So I think I would say, if you can afford it, just do it. Your Europe trip can wait. Your new car can wait. Or maybe, your exclusive leather LV handbag can wait. If you can afford all of this, you can afford Umrah. Do it and experience the chills I got when I was there.

What is My Greatest Prayer?

If you ask me, “What are your greatest prayers?”

Here is my answer…

I always pray for a happy life. A good life, as a good person.

I always pray for a happiness even in every single pain I feel inside. Smile and laugh between the tears. Another sunshine after the rain and storms.

I always pray for a reminder to never stop trying to be a good person. Life can be rough, so cruel, so unfair… Yet I always pray that I would stay strong. I should never give up on being a good person.

I always pray that every problem I have will only make me better and wiser than before. I may cry and hide for a while, just a little while, but I always pray thay God will give me strength to move on and let it go.

I always pray that I will be strong enough to survive the rejections that will break my heart. I need to believe that when I am rejected by something good, I’m actually redirected to something better.

I always pray that I would genuinely accept the imperfections in me. No matter how hard I try, I cannot always get what I want to have. And no matter how sure I am, I can’t always be right all the times in my life.

I also pray that I will be forgiven. For all my flaws, my temper. For all the wrongs that I have said and done. For all the pains that I’ve put people through.

Finally, I always pray that God will never stop reminding me to be thankful for all I have. To always always put my feet on the ground. I pray that God will always bless every little step that I take in life.

 

My English Teacher, 14 Years Ago

Banyak yang bilang, bahasa Inggris gue bagus. Walau hasil tes IELTS gue masih belum sesuai harapan, tapi ok lah, sekali ini gue akui, bahasa Inggris gue memang lumayan. Dan kali ini, gue akan mengungkap rahasia di balik English skill gue itu, yang belum pernah gue ceritakan pada satu orang pun.

14 tahun yang lalu, gue baru memulai tahun pertama gue di bangku SMA. Waktu itu, jam sekolah gue masih masuk siang dan pulang sore. Dua kali dalam seminggu, gue ikut kursus bahasa Inggris, kelas pagi di ILP Pondok Gede.

Sebetulnya saat itu gue sudah malas pergi kursus. Sebelum ILP, gue pernah kursus 1 tahun di BBC. Bahkan, pernah pula ikut kursus sampai lulus – kurang lebih 2 tahun – di IEC. Tapi toh tetap saja Bahasa Inggris gue hanya segitu-gitu saja! Mungkin bukan salah tempat kursusnya, tapi emang gue aja yang enggak berbakat.

Capek dan bosan kurus terus menerus bikin gue jadi malas pergi kursus ke ILP. Ditambah lagi waktu itu, gue ngerasa enggak punya teman di tempat les. Tiap kali menunggu kelas dimulai atau saat sedang istirahat, gue hanya duduk diam atau pura-pura tertarik mendengar percakapan orang lain. Benar-benar bukan masa-masa yang menyenangkan!

Saking malas dan bosannya, lama-lama gue mulai suka bolos. Gue tetap pergi les dari rumah, tapi tidak selalu sampai ke gedung ILP. Selama sekitar dua jam, gue hanya jalan berkeliling mall sampai tiba waktunya pergi ke sekolah. Gue masih ingat masa-masa itu gue sering bolak-balik melewati toko jam hanya untuk melihat saat itu sudah jam berapa. Lega banget rasanya saat tahu sudah waktunya gue naik angkot menuju SMA gue! At least kalau di sekolah, gue punya teman-teman baik yang bisa bikin gue ngerasa terhibur.

Gue terus saja sesekali membolos (gue akal-akali supaya jangan sampai menembus batas absensi maksimum), sampai tiba waktunya pengambilan raport pertama gue di ILP. Siang itu, gue duduk berdua saja dengan guru les gue. It surprised me that somehow I still got pretty good grades in that score report.

Saat gue masih temenung meratapi nilai gue itu, si guru les bilang begini sama gue, “Sebetulnya kamu itu punya potensi, tapi saya nggak ngerti… kenapa kamu terlihat sangat menarik diri? Absensi kamu nyaris membuat kamu gagal di term ini. Tapi buat saya, kamu masih layak untuk lulus karena memang sebetulnya kamu itu jauh lebih baik daripada ini.”

Suara si pak guru yang sangat tenang itu bikin gue nyaris meneteskan air mata persis di depan dia. Gue cuma diam, dan saat gue melangkah keluar ruangan, air mata gue menetes tidak tertahankan… Masa-masa bolos gue cukup berakhir sampai di situ saja.

And you know what? In the following terms after that, I managed to earn “The Best Student” certificates from ILP Pondok Gede. I kept winning that title multiple times in a row, over and over again.

Beberapa waktu yang lalu, dalam rangka evaluasi kinerja tim gue di Lazada, gue memberi nasehat begini kepada salah satu tim gue yang tengah mengalami trauma cukup berat dalam perjalanan karier-nya, “Dulu juga saya pernah ada di posisi yang sama seperti kamu. Dan kalo kamu tanya gimana caranya saya bisa move on sampai di sini, kuncinya ya hanya diri saya sendiri. Kenyataannya, enggak ada orang yang datang lalu  ngerubah hidup saya begitu aja.”

Meskipun saat itu gue bilang begitu, sebetulnya kalau dipikir lagi, kenyataanya memang pernah ada orang-orang yang mengubah hidup gue, dan guru les gue itulah salah satunya. Memang benar, nasehat dia siang itu tidak begitu saja bikin gue langsung mahir berbahasa Inggris, gue tetap harus belajar dengan keras untuk mengejar ketertinggalan gue saat itu, tapi mungkin bisa jadi, jika saat itu guru gue bukanlah dia, maka gue tetap hanya gue yang buang-buang uang untuk les Bahasa Inggris tanpa hasil yang memuaskan.

So I think I have to admit… Sometimes, we only need ‘someone’ to wake us up. To remind us. To motivate us for being a better one and to unleash the very best of us. My English teacher was my ‘someone’ and I hope, I can also be that ‘someone’ for anyone else.

My English teacher may already forget me since many years ago, but I will always remember him as someone who made me believe the good things in me. And again I hope, someday there will be someone I know who remember me the way I remember my English teacher.

Thank you, Pak Uyung! I am not who I am today without my pretty good English. And maybe my English would never be this good, if it was not because of you 🙂

 

I Finally Find My Pace

I can’t really share the details here, but there’s one thing or two I’ve been thinking a lot, confused me for a little while, but just out of the blue, I simply knew what I should do. I finally know what I want, and I finally find my pace to make it happen. Or maybe, to let it all just slip away.

I have come to realize how I used to rush many things in my life. I have to do it NOW. ASAP. Immediately. And so on. For some things in life, for instance working environment, it can be a good thing. But apparently, that’s not always the case for all other aspects in life.

When you want to pursue your dreams, it’s not about how fast you get there, but how you have prepared yourself to make it happen, unless, you’re happy enough for being just a mediocre.

Or when you fall in love, it’s not about how fast you make him yours, but how many years you will spend with him afterward. Not all people meet each other and stay together just in a month, some other still needs to be convinced before they move forward.

We simply need to remember that sometimes, good things take time. Rome was not built overnight, remember?

Hence I would say, just enjoy the ride! No need to speed up and risk it all. Then on the other hand, no need to freak out and take a u-turn when the road is bumpy. Just go with it, believe in yourself, do your best, and see how it turns out. Maybe, you will arrive in your destination, but maybe, God will lead you to somewhere else even beyond your imagination.

After spending many years in the same drama over and over again, it really feels good to finally found my pace. Now, it’s your turn to find yours!