A journey to remember

The Branded Bags

Posted on: June 3, 2018

Jadi ceritanya, akhir-akhir ini gue sedang terobsesi dengan branded bag yang harganya satu digit lebih banyak dari tas-tas kulit yang biasa gue beli. Sebetulnya, gue masih ngerasa berat keluar uang sebanyak itu hanya untuk satu buah tas. Tapi melihat orang lain tampak keren dengan tas super mahal itu bikin gue jadi kepengen!

Awalnya gue bingung kenapa lumayan banyak teman gue yang bisa beli tas-tas super mahal itu. Padahal setahu gue, penghasilan bulanan mereka tidak seberapa jumlahnya. Barulah saat gue buka aplikasi Tokopedia, gue langsung menemukan jawabannya: tas-tas yang dulu cuma dijual via Instagram oleh importirnya kini bisa dibeli dengan cicilan 0% melalui Tokopedia.

Setelah gue hitung-hitung lagi, jika dicicil 6-12 bulan memang tidak terasa berat sih ya. Tidak terasa “keluar banyak uang”.

Gue pun mulai tanya-tanya ketersediaan tas super mahal yang gue ingin beli ke penjualnya. Model tas yang gue mau ternyata masih belum banyak dijual oleh importir individual di Indonesia ini. Belum sempat menemukan tas super mahal yang gue inginkan, gue lebih dulu menemukan dua tulisan yang langsung mengubah jalan pikiran gue.

Pada tulisan yang pertama, penulis bercerita tentang kelahiran anak ke tiganya. Ceritanya si penulis sedang pusing memikiran biaya lahiran anak bungsunya yang jumlahnya mencapai dua juta rupiah. Eh, tunggu dulu. Gue berhenti membaca sampai di situ. Gue baca ulang kalimat yang baru gue baca itu. Biaya melahirkan cuma dua jutaan? Kok murah banget yah? Lanjut baca… ternyata hanya habis dua jutaan karena hanya melahirkan di bidan saja. Hanya dua juta, tapi si penulis masih kesulitan mengumpulkan uangnya. Gue seperti baru menyadari bahwa dua juta rupiah bisa jadi jumlah yang sangat besar untuk begitu banyak orang di luar sana. Kembali ke cerita penulis, sayangnya, bidan kemudian merujuk istri sang penulis ke rumah sakit karena penyakit yang diderita istrinya itu. Biaya persalinan jadi jauh lebih mahal, dan si penulis terpaksa menjual motor untuk menutup biaya persalinan.

Gue menghela napas. Gue heran bagaimana bisa si penulis menulis kisah mengharukan seperti itu dengan cara yang sangat jenaka? Menurut cerita si penulis, dia dan istrinya tetap mampu melewati masa krisis itu penuh dengan canda dan tawa seperti mereka yang biasanya. Gue jadi teringat betapa grumpy-nya gue dulu saat uang di dompet mulai menipis! Boro-boro menjaga selera humor… gue enggak marah meledak-ledak aja sudah bagus banget!

Lanjut baca ke tulisan ke dua… tulisan yang kemudian membatalkan niat gue untuk segera beli tas super mahal itu.

Singkatnya, tulisan ke dua ini menceritakan rasa haru si penulis atas kesederhanaan istrinya. Pakai tas rombeng yang sudah rusak bagian dalamnya, pakai bedak yang sudah retak, dan juga lipstik yang sudah patah. Terharu, si penulis membawa istrinya untuk beli tas baru di Ramayana dengan modal uang di dompet yang jumlahnya tidak seberapa. Istrinya ikut terharu, dia sampai tidak bisa menahan tangis di depan kasir Ramayana sambil memeluk tas barunya. Tas baru… yang harganya hanya ratusan ribu saja.

Selesai baca tulisan soal tas baru dari Ramayana itu, gue langsung membuka lemari tempat gue menyimpan koleksi tas gue. Ya, gue punya satu lemari yang penuh dengan berbagai jenis, berbagai ukuran, dan berbagai warna tas. Pandangan gue lalu beralih ke tas terbaru yang sedang senang gue pakai dua bulan belakangan ini. Tas yang bukan hanya cantik tapi juga praktis dan muat banyak! Gue jadi ingat tadi malam, saat sedang cari-cari tas baru yang super mahal itu, sebetulnya gue sempat mengeluh dalam hati. “Kalo gue beli tas super mahal ini, gue jadi nggak akan pakai lagi tas kesayangan gue yang super praktis ini dong ya?”

Gue mulai menghela napas… What made me think that I needed a new bag to begin with?

Akhirnya gue menyadari… ini bukan soal gue kepingin beli tas baru… ini cuma soal gue enggak mau kalah keren, cuma soal gengsi yang sifatnya sangat tidak perlu. Lucunya, gue bahkan lebih suka sama tas gue yang sekarang ketimbang calon tas baru yang harganya selangit itu!

Sebetulnya tidak ada yang salah dari membeli tas mahal yang gue sukai, tapi jika membeli tas itu mengharuskan gue berpikir panjang, apalagi mengharuskan gue sampai berhutang berbulan-bulan, maka tas itu belum waktunya untuk gue beli dan gue miliki. Sebetulnya gue punya prinsip, gue hanya bersedia mengeluarkan uang untuk apapun itu sampai dengan batas di mana gue tidak merasa berat untuk menghabiskannya. Jika sebelumnya gue bisa disiplin, kenapa harus berubah sekarang?

Orang lain boleh membuat pilihannya sendiri, tapi ini pilihan gue pribadi, yang ingin gue bagi melalui blog gue ini. Gue tulis untuk gue bagi, sekaligus sebagai pengingat untuk diri gue sendiri.

Selamat bagi kamu yang baru saja menerima THR… mari kita sama-sama gunakan dengan bijaksana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My Blog Counter

  • 988,491 visits since May 2011

My Blog Categories

My Blog Archives

Click here to read my tweets…

Click the pictures below to visit my Instagram...

From classmates to travelmates! Been friends since we were only 15 years old! Met them up today and we’ve made a lot of plans for our coming trips. Let’s make it happen!
I don’t know why but I couldn’t seem to get any new outfit for Lebaran this year. I went to three shopping malls but then I went home with empty hands. So here I am... wearing one old dress I bought a couple years ago. Today before Eid prayer was begun, I saw something that made me smile. I instantly knew that I’ve had something way more important than a new dress for myself. I’d be happy if I had a new dress, but I’m still perfectly happy even without any of it. God has been incredibly kind to me and Ramadhan this year couldn’t be more miraculous to me. I am full of flaws, but I’ve had way more than enough, and I couldn’t ask for more. Eid mubarak and please do forgive me for all the wrong said and done. Let’s celebrate this holly day as the new beginning for each and everyone of us. Love - Riffa.
Arfa, my very first nephew, is turning six today! Just two days ago, he told me, “Aunty, when I grow up, I want to be vey rich so that I can buy for you anything you want!” He’s lovable, isn’t he? It never ceases to amaze me to see all the new things he learned, said, and did in the past 6 years. He’s growing up so fast and I can’t be prouder of him! Happy birthday, Arfa! Wish you’ll always be a loving kid and may Allah always bless you in every step of the way. So much love - your proud Aunty ❤️

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

About Me

What my blog is all about? It's all about my life; my very own fairy tale, that I would love to share. This is my story, my ups and downs, it's a journey to remember.

Advertisements
%d bloggers like this: