Terkadang, Perasaan Kita itu Hanya Soal Sudut Pandang

Spoiler alert! Tulisan ini membocorkan akhir cerita dari Oceans 8.

Minggu lalu, gue dan ortu gue nonton bareng film Oceans 8 yang bercerita tentang sekelompok perampok profesional. Tokoh utamanya perampok, tapi tetap saja, para penonton – termasuk gue – antusias mendukung aksi kawanan perampok ini. Wajah penonton tampak sumringah saat melihat para perampok di film itu berhasil melakukan perampokan yang sudah mereka rencanakan matang-matang itu.

Saat itu gue berpikir… kenapa kita “mendukung” si perampok? Jawabannya sederhana: karena film itu diceritakan dari sudut pandang si perampok!

Akan lain ceritanya jika film yang sama diceritakan dari sudut pandang petugas keamanan dan detektif yang bertugas misalnya. Kita tentu akan ikut sedih melihat rasa frustasi yang dialami oleh mereka semua saat gagal mengatasi perampokan itu. Penonton jadi tidak simpati kepada mereka karena dalam film itu, mereka adalah “the badguys” yang tidak disukai oleh tokoh utamanya.

Hal ini mengingatkan gue pada kehidupan kita sehari-hari. Seringkali, kita hanya mendengar cerita dari satu pihak saja. Ini yang membuat kita ikut-ikutan membenci orang yang dibenci oleh sahabat kita misalnya. Dan bukan cuma ikutan sebal, kita juga bahkan bisa ikutan menyudutkan dan memusuhi pihak lawan ybs. Padahal bisa jadi, pendapat kita atas kasus yang sama akan sangat jauh berbeda jika kita mendengar cerita dari pihak lawannya.

Pertanyaannya: bijaksanakah?

Kenyataannya, banyak perselisihan antar kelompok, aksi bully, dan gosip kantor yang beredar hanya karena sudut pandang yang sifatnya hanya sepihak saja.

Lalu pertanyaan selanjutnya: apa solusinya?

Gampang saja: jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan!

Saat ini, tiap kali mendengar curhat orang lain, gue hanya mengangguk-angguk simpatik saja. Saat situasi sudah mulai tenang, gue akan mulai tanya-tanya untuk menggali lebih dalam. Jika konflik ini mengharuskan gue untuk ikut turun mengambil tindakan, maka gue akan ngobrol dengan pihak lawannya untuk mendengar sudut pandang mereka. Gue cuma akan mengambil kesimpulan dan membuat keputusan setelah gue mendapatkan gambaran dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini penting khususnya jika menyangkut konflik di dunia kerja. Penting juga dalam kehidupan pribadi supaya tidak mudah menghakimi orang lain dan menyakiti perasaan mereka begitu saja.

Learn how to see from multiple angles, it will enrich your soul, widen your horizon, and make you a bigger and bigger person inside. Give it a try and see how it will surprise you!

Life is a Take and Give

Tahukah kamu? Hidup itu “take” and “give“. Kita memberi belum tentu balas diberi, TAPI, kita tidak akan pernah menerima apapun jika tidak pernah memberi sesuatu apapun.

Jika kita pernah merasa sulit mendapatkan teman baik, bisa jadi, kita sendiri yang belum berhasil menjadi teman yang baik untuk orang lain.

Jika kita merasa sangat jarang menerima perhatian dari orang lain, bisa jadi, kita sendiri belum cukup memberikan perhatian dan kehangatan pada orang-orang di sekitar kita.

Jika kita sangat jarang menerima pemberian dari orang lain, bisa jadi, kita juga terlalu pelit kepada orang-orang yang kita kenal.

Jika jarang ada orang yang setia dan tulus menemani dalam saat-saat tersulit dalam hidup kita, bisa jadi, karena kita juga jarang meluangkan waktu untuk orang lain.

Dan yang paling penting, jika ingin dicintai, kita juga harus mampu mencintai dengan baik dan tulus.

Pada dasarnya, rasa sendiri, kesepian, ketidakbahagiaan, semuanya bermula dari diri kita sendiri. Semuanya berakar dari tingkah laku dan keputusan-keputusan kita sendiri.

Pantaskan diri untuk mendapatkan segala yang terbaik dalam hidup ini. Belajar memberi, belajar lupakan apa yang pernah kita beri, dan biarkan Tuhan yang membalas pemberian kita itu dengan cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya.