Apa yang Paling Bikin Ilfil dari Cowok yang Gue Suka?

Jawaban atas pertanyaan ini tergantung dari usia gue saat menjawabnya.

Saat gue masih lebih muda (bukan berarti sekarang gue udah tua, hehehe): penampilan berantakan, ngerokok, terlalu bandel, kurang pinter, dan lain sebagainya.

Saat sudah lebih dewasa: masih gak suka sama beberapa hal di atas, asal tidak parah dan dia bersedia memperbaiki diri, maka tidak masalah.

TAPI, di usia sekarang ini, gue akan cepat ilfil dengan cowok yang tidak jelas apa maunya.

Tarik-ulur? Kesannya kok kayak main-main ya? Kayak orang yang nggak punya pendirian.

Teman tapi mesra? Man, he’s only using me! Hell no!

Gimana kalo dia aktif kasih kode? Sering menunjukkan “tanda-tanda” suka sama gue? Well, cowok bukan sih? Bisanya kok cuma kasih kode-kode yang ambigu!

Atau yang paling parah: masih jelalatan sama cewek lain! Mungkin waktu masih ABG dulu, rasanya kayak tantangan. Kalau sekarang? It’s not a Bachelor TV show, dude! Jangan kegantengan deh!

Makanya sekarang, penyebab ilfil nomor satu lebih soal ketidakpastian. Dia jadi kelihatan not man enough for me. Rasa suka gue jadi lebih cepat menguap dengan sendirinya. Di usia sekarang ini, logika sudah lebih mampu mengimbangi emosi dan perasaan gue sendiri. And that’s actually good for me!

Gue malah jadi sering berharap “the younger me” bisa sampai di titik pemahaman ini jauh lebih cepat supaya gue nggak buang-buang begitu banyak waktu untuk cowok-cowok yang akhirnya cuma walked away.

I’m looking for a man, not a boy, and I’m just too old for silly dramas like I used to have. Either you take it, or leave it like a man!

Sometimes, You’ve Got to See The Worst Just to Realize You’ve Once Had The Best

Gue tipe orang yang sering bilang begini saat tahu ada orang lain balikan lagi sama mantan pacarnya, “Kenapa elo balikan sama dia? Bukannya sama aja kayak mengulang masalah yang sama ya? Orang nggak segampang itu berubah lho.”

Sama halnya saat melihat ada orang yang balik lagi ke perusahaan lamanya. What makes them think the second time around will be any different?

Pokoknya buat gue saat itu, yang namanya “kembali ke masa lalu” itu sama sekali enggak masuk akal. Tipe orang yang tidak mengambil pelajaran dari pengalaman dia sendiri, pikir gue saat itu.

Gue terus berpikiran demikian, sampai suatu hari, gue mengerti dengan sendirinya alasan kenapa seseorang bisa saja memutuskan untuk kembali ke masa lalu yang sudah pernah mereka tinggalkan.

Alasan apa persisnya? Yaitu bahwa ada kalanya, kita baru akan menyadari kita pernah punya yang terbaik hanya pada saat kita sudah melihat pilihan yang jauh lebih buruk daripada masa lalu kita itu.

Ya, mantan pacar memang tidak semudah itu berubah, tapi sejelek-jeleknya dia, ternyata, di luar sana masih banyak yang jauh lebih buruk.

Atau bisa juga, masalah di kantor lama tidak akan pernah berubah sama sekali, tetap akan ada hal-hal yang dulu pernah mendorong kita untuk resign. Tapi setelah move on ke perusahaan lain, baru kita bisa menyadari bahwa masalah di kantor lama ternyata sama sekali tidak sebegitu buruknya.

Meski begitu, gue tetap tidak lantas menyalahkan diri gue sendiri atas keputusan yang dulu gue ambil. Keputusan itu dulunya gue ambil berdasarkan best knowledge gue saat itu. Jika saat itu gue sudah tahu bahwa di luar sana tidak ada lagi yang lebih baik daripada masa lalu gue itu, maka manalah mungkin gue mau repot-repot cari yang lain!

Satu-satunya pelajaran yang bisa gue petik kali ini adalah pentingnya belajar untuk bersabar sebelum mengambil keputusan untuk mengakhiri sesuatu yang sebetulnya sudah more than good enough. Masih susah sih buat gue belajar bersabar, tapi setidaknya kali ini, gue punya self-reminder. Tiap kali gue hampir kabur lagi, gue akan bertanya pada diri gue sendiri, “Do I really want this? Do I really have to do this? How will it be better than what I already have right now?”

Lalu apa yang harus kita lakukan jika si masa lalu itu datang memanggil?

Jawabannya sederhana saja: kesempatan ke dua belum tentu datang dua kali!

If you have the chance to get what’s best for your life, then you can just go and get it! Sometimes, it’s as simple as just that.