Kenapa Bad Boy Itu Menarik?

Apa sih definisi bad boy itu? Bad boy itu tipe cowok yang suka break the rule, bukan tipe cowok alim yang serba strict. Soal level kebandelan, tergantung lingkungan masing-masing. Buat lingkungan yang cenderung baik-baik, cowok yang suka dugem aja udah masuk kriteria bad boy. Tapi buat lingkungan yang lebih bebas, seseorang baru dicap ‘bad’ kalo kenakalannya udah lebih dari sekedar dugem di akhir pekan.

Nah, entah kenapa, biasanya bad boy itu termasuk bandel juga buat urusan cewek. Bukan tipe cowok yang bisa dipercaya, diragukan kesetiannya, punya track record sama banyak cewek, dan bukan juga cowok yang punya prospek baik buat dijadikan pendamping hidup. Tapi kenapa tetap saja, bad boy itu malah kelihatan menarik di mata cewek-cewek pada umumnya? Alasannya karena…

  1. Mereka pintar bikin cewek merasa diinginkan;
  2. Mereka pintar bikin cewek ngerasa cantik;
  3. Bad boy is not a good listener, mereka bisa aja selalu lupa kalo kita ini enggak suka makanan pedas misalnya. Tapi, mereka itu pinter banget baca pikiran cewek. Gue sampe suka heran, “Lho, kok dia tau ya, gue punya pikiran seperti itu?”
  4. Cewek-cewek suka ngerasa tertantang buat ngebuktiin bahwa mereka bisa mengubah bad boy itu;
  5. Bad boy justru bukan tipe cowok yang selalu memperlakukan cewek seperti ratu sepanjang waktu. Tapi anehnya, justru hal ini yang bikin cewek jadi penasaran. Biasanya, justru cewek-cewek populer yang suka punya pikiran seperti itu;
  6. They know what to do to make us smile and laugheven in our worst day and worst mood;
  7. Mereka pintar mencari timing yang tepat. Makanya walaupun mereka suka datang dan pergi sesuka hati, pada akhirnya, kita cenderung tetap menerima mereka kembali kan?
  8. Mereka pintar cari kata-kata yang ingin kita dengar… termasuk, yang bisa bikin kita luluh kalo lagi marah sama mereka;
  9. Mereka justru lebih pemaaf daripada cowok baik-baik. Kita ini kan emang suka terharu banget tuh, sama orang yang bisa maafin ledakan-ledakan emosional kita itu…
  10. Mereka bukan tipe cowok yang ngerasa minder sama cewek-cewek superior (baca: cerdas dan karier memukau). Kepercayaan diri itulah yang bikin bad boy jadi kelihatan lebih menarik di mata cewek-cewek superior itu;
  11. Sebaliknya, bad boy juga bukan tipe cowok yang gampang ilfil sama cewek-cewek lemot. Jarang terjadi mereka ilfil sama cewek yang nggak sengaja saying something stupid di depan mereka;
  12. Biasanya bad boy bukan tipe cowok yang suka banget ngatur-ngatur. Kemungkinannya cuma 2: kita jadi ngerasa nyaman karena diberi keleluasaan, atau… kita malah jadi penasaran sama sikap mereka yang kelihatan cuek bebek itu; dan
  13. Katanya siiih, some of them are good in bed. Tapi serius deh, misalkan bener mereka good in bed, apa enggak pernah kepikiran bahwa hal itu berkat hasil practice sama banyak cewek di masa lalu mereka? Belum lagi cewek-cewek yang nggak jelas asal-usulnya… euuwww…

Dengan 13 nilai plus di atas (kecuali point ke 13 yah… I don’t really think it’s an advantage), pastinya emang cenderung lebih sulit buat lepas dari mereka. Padahal kalo menurut gue, emang udah seharusnya kita walk away dari cowok model begini. Tanpa berpasangan sama mereka aja hidup itu udah banyak banget masalahnya. Jadi buat apa sih, cari cowok yang kemungkinan besar bakal nambahin daftar masalah dalam hidup kita? Ini pula alasan kenapa pada akhirnya, cewek tetap lebih memilih menikahi cowok baik-baik yang bener-bener sayang sama mereka. Secara yaa, setelah capek sakit hati diperlakukan seenaknya sama cowok-cowok bandel itu, begitu ketemu sama cowok yang memperlakukan kita dengan baik pastilah rasanya kayak heaven on earth. Nah, gimana kita mau ngerasain that heaven on earth kalo kita masih aja bolak-balik terjebak sama bad boy?

Tips dari gue yang mau get rid of bad boy, jangan kasih mereka peluang sedikit pun untuk ambil bagian/untuk hadir kembali dalam hidup kita. Sekali aja kita bales SMS/YM/BBM mereka, maka pasti deh ujung-ujungnya mereka berhasil merebut hati kita lagi. Most of bad boy is not a fighter… tolak aja sekali dua kali, nanti mereka juga nggak bakal balik-balik lagi. Mungkin nanti, berbulan-bulan dari sekarang, mereka bisa aja iseng-iseng mencoba dateng lagi. Tapi tetep jangan terpengaruh! Mereka itu cuma lagi iseng-iseng berhadiah aja. Asal kita konsisten, kita pasti bisa lepas dari mereka. Good luck ya, girls!

Susahnya Jadi Atasan…

  1. Bosen setiap hari harus tanda tangan setumpuk dokumen…
  2. Kerja tidak lagi tinggal menerima instruksi… melainkan mencari sendiri pemecahan atas setiap masalah yang tengah terjadi;
  3. A leader shall work as perfect as possible. Beda banget sama anak baru lulus kuliah yang masih bisa dimaklumi seperti, “Maklum lah masih banyak salah… namanya juga anak baru.”
  4. Semakin tinggi jabatan, semakin tinggi pula ekspektasi dari big boss. Kerjaan makin aneh, makin banyak, dan makin susah;
  5. Susah konsentrasi kerja, dikit-dikit ada yang datang meminta bantuan;
  6. Harus rela meluangkan waktu buat membagi ilmu sama anak buah… di tengah pekerjaan yang sedang padat-padatnya;
  7. Susah ngendaliin emosi kalo anak buah salah melulu, ngajuin pertanyaan yang sama berulang-ulang, kerjanya super lama pula! Sigh…
  8. Setelah heboh marah-marah, yang ada nyesel sendiri… Jadi malu sama diri sendiri, serta sama orang-orang di sekitar gue juga;
  9. Kadang suka dihantui pikiran, “Aduh, jangan aja nanti nih anak resign gara-gara gue!”
  10. Anak buah yang bikin kesalahan, atasan juga yang disalahin dan atasan juga yang harus nanggung akibat dari kesalahan anak itu…
  11. Peluang buat disebelin orang jadi makin besar, hehehehe; dan
  12. Suka penasaran… pernah nggak ya, staf-staf gue itu ngomongin gue yang jelek-jelek waktu mereka lagi di toilet?
  13. Dilema saat harus menilai kinerja bawahan yang tidak memuaskan;
  14. Lebih dilema lagi kalo harus memecat, menyatakan demosi, atau tidak mengangkat bawahan sebagai staf permanen; dan
  15. Semakin tinggi jabatan, biasanya semakin sedikit pula teman dekatnya. Berteman dekat dengan bawahan semakin lama menjadi semakin sulit.

Singkatnya sih, semakin tinggi semakin besar pula angin yang menerpa. 15 hal di atas mungkin belum tentu dialami oleh semua orang, tapi gue yakin, setiap atasan pasti punya permasalahan tersendiri yang dulunya tidak pernah mereka alami waktu posisi mereka masih berada di level staf biasa. It’s not as easy as we thought it was.

Jadi kalo menurut gue, daripada sibuk menghitung-hitung renumerasi yang diterima atasan, lebih baik kita hitung-hitung berapa besar tanggung jawab yang harus mereka pikul. Begitu pula kalo kita punya cita-cita untuk duduk di bangku pimpinan. Daripada keseringan berkhayal soal fasilitas yang akan kita dapatkan, lebih baik kita instropeksi diri… sudahkah kita memiliki kualitas yang diperlukan untuk dipercaya menjadi seorang leader?