Kita Berbeda, Lalu Kenapa?

Gara-gara beberapa hari yang lalu ada acara potong kambing kurban di lapangan sebelah rumah, sampe sekarang bau khas kambing masih tercium dari rumah kontrakan gue itu. Dan hari ini gue baru nyadar bahwa bau itu tercium semakin kuat di siang hari. Bau kambing itu pula yang ngingetin gue sama obrolan bareng Stievan, salah satu best friend yang beragama Budha, satu minggu yang lalu.

Sore itu, via telepon…

“Fa… hari ini elo ngerayain Idul Adha kan? Jadi gue harus ngucapin sesuatu dong? Tapi apa yaa?”

Gue ketawa. “Hehe, sebabnya elo nggak tau kan Idul Adha itu ngerayain apa?”

“Hmmm…” Mikir sebentar. “Kalo gitu selamat makan kambing deh.”

Hah? Selamat makan kambing? Gue ketawa makin kenceng ngedenger ucapan selamat dari si Stievan. Daripada repot-repot menjelaskan, gue lebih memilih untuk ngejawab,

“Haha… gue nggak suka makan kambing tau, abis bau sih.”

“Ya kalo gitu selamat makan sapi deh, hehe…”

Well, semenjak kuliah di Binus gue banyak menemukan berbagai macam orang dari beragam latar belakang budaya dan agama. It’s so nice to see how people appreciate diversities between us. Selalu ada rasa haru setiap kali terima ucapan lebaran dari teman-teman yang non-Islam. Nggak penting apakah mereka paham makna di balik hari raya agama gue itu. Yang penting adalah fakta bahwa perbedaan besar itu tidak pernah menghalangi persahabatan di antara kita. Besides, bisa jadi hiburan tersendiri juga kalo terjadi hal-hal seperti yang gue ceritakan dalam tulisan ini, hehe. Keep being friends yaa guys!

One thought on “Kita Berbeda, Lalu Kenapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s