Cinta Sejati ala The Hunger Games

Berawal dari nonton filmnya, gue langsung tertarik buat ngeborong 3 novelnya sekaligus. Novel yang cukup tebal, masing-masing buku berisi sekitar 400 halaman. Terdapat beberapa perbedaan detail cerita antara The Hunger Games versi film dengan novelnya. Tapi dalam kesempatan ini, gue lebih memilih untuk menulis berdasarkan sudut pandang buku. Gue enggak akan membocorkan soal akhir dari pemerintahan kejam ala Capitol, di sini gue lebih tertarik untuk membahas akhir dari kisah asmaranya. Jadi buat kamu yang yang tidak mau melihat bocoran ending kisah cinta dari trilogi ini, silahkan stop baca tulisan gue sampai di sini saja.

Mengambil setting di masa depan, The Hunger Games bercerita tentang permainan mematikan yang diadakan satu tahun sekali oleh Capitol, semacam ibu kota dari negara Panem (ceritanya, Panem ini dulunya adalah Amerika Utara). Peserta Hunger Games bukan penduduk Capitol, melainkan dua orang remaja perwakilan dari setiap distrik yang mengelilingi kota tersebut.  In total ada 12 distrik yang masih eksis, sehingga setiap tahunnya, terdapat 24 peserta Hunger Games yang biasa disebut dengan the tributes. Dalam Hunger Games ini, the tributes diharuskan untuk saling membunuh hingga tinggal tersisa satu tribute yang akan meraih gelar The Victor.

Hunger Games diselenggarakan oleh Capitol sebagai hukuman atas pemberontakan 12 distrik tersebut 74 tahun yang lalu. Hal ini dianggap efektif untuk menakut-nakuti penduduk distrik agar tidak berani mengulangi pemberontakan melawan Capitol.

Pada Hunger Games ke 74, Distrik 12 diwakili oleh gadis bernama Katniss, dan remaja pria bernama Peeta. Kemudian diketahui, ternyata Peeta sudah memendam cinta kepada Katniss sejak belasan tahun lamanya. Jadi bagaimana mungkin Peeta tega menghabisi nyawa Katniss? Karena itulah sejak awal, Peeta cenderung mengalah, dan selalu mencari cara untuk menjaga agar Katniss bisa tetap hidup di arena Hunger Games. Dalam Hunger Games, hanya ada satu pemenang… Dan Peeta ingin, satu orang pemenang itu adalah Katniss, meskipun itu berarti, Katniss harus tega membunuh Peeta.

Katniss sendiri sebetulnya sudah beberapa tahun dekat dengan laki-laki lain bernama Gale yang juga berasal dari Distrik 12. Jadi bisa ditebak… ada konflik cinta segitiga yang menjadi bumbu dalam trilogi Hunger Games. Di sini ada Katniss, gadis tangguh yang sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak usia dini. Ada Peeta, anak dari keluarga penjual roti yang termasuk berkecukupan, yang cenderung penakut dan sejak awal Hunger Games dimulai, dia sudah bertekad tidak akan pernah mau membunuh siapapun di arena itu. Makanya selama latihan, daripada mempelajari cara untuk membunuh, Peeta lebih tertarik mempelajari cara untuk melindungi diri. Kemudian ada Gale, anak penambang batu bara yang cenderung nekad dan sangat mudah tersulut amarahnya.

Logikanya, gadis manapun akan lebih memilih Gale daripada Peeta. Gale digambarkan memiliki bentuk tubuh atletis dan wajah yang sangat tampan. Kemudian Gale itu pemberani. Dia dan Katniss sama-sama berani melanggar peraturan pemerintah keluar dari pagar pembatas distrik hanya untuk berburu di dalam hutan. Berbeda dengan Peeta yang di awal permainan tampak manis dan tampak lemah. Jadi tentunya, secara kemampuan fisik, Gale jauh lebih unggul daripada Peeta yang hanya pandai membuat dan melukis roti.

However, believe it or not, gue… tipe cewek yang menggemari cowok yang ‘laki banget’, berkali-kali merasa jatuh cinta dengan sosok Peeta.

Peeta yang masih ingat warna baju dan kepang rambut Katniss di hari pertama mereka sekolah saat masih kanak-kanak.

Peeta yang hapal gerak-gerik dan kebiasaan Katniss.

Peeta yang pernah rela dipukuli orang tuanya hanya demi bisa memberikan sepotong roti kepada Katniss yang sedang kelaparan.

Peeta yang berusaha menjadikan Katniss favorit penonton hanya supaya gadis itu mendapat banyak bantuan dari penonton untuk terus bertahan hidup di arena Hunger Games.

Peeta yang setengah mati melawan Cato, tribute paling jago di arena Hunger Games, sampai mendapat luka tusukan di kakinya hanya supaya Katniss bisa melarikan diri dari kejaran Cato yang sangat bernafsu untuk membunuh Katniss.

Peeta yang jauh lebih peduli pada keselamatan Katniss daripada keselamatan dirinya sendiri… Bahkan saat sedang menjadi tawanan pemerintah pun, Peeta tetap nekad membocorkan rencana serangan pemerintah supaya Katniss dan sekutunya dapat bersikap waspada… Dan tentunya setelah itu, Peeta harus rela disika habis-habisan atas ulahnya tersebut.

Atau hal-hal kecil… seperti saat Peeta memberikan jaketnya dan mengancingkan jaket itu untuk Katniss, atau sekedar memeluk dan membelai rambut Katniss yang sedang ketakutan saat dihantui mimpi buruk dalam tidurnya.

Kedengarannya Peeta emang jagoan banget. Tapi sebetulnya, Peeta itu enggak jago bertarung. Dia cuma rela menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Katniss. Dia rela dijadikan sasaran pukulan bertubi-tubi, asalkan Katniss tetap selamat.  Berbeda dengan Gale yang selalu melindungi dengan cara melawan sekuat tenaga, yang mana Gale memang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Kelemahan Peeta membuat Katniss juga harus melakukan hal yang sebaliknya: berjuang sekuat tenaga agar Peeta tetap hidup. Pada akhirnya, Katniss sendiri juga selalu berecana untuk mengorbankan dirinya, asalkan Peeta selamat sampai akhir. Di buku terakhir, Katniss berkata pada Peeta, “Kita memang selalu saling melindungi.”

Dalam kehidupan nyata, gambaran kehidupan ala Hunger Games jelas sangat-sangat terlalu berlebihan. Jadi mari kita sederhanakan… Ambil contoh adegan saat Katniss mengajari Peeta berenang di arena Hunger Games. Dalam kehidupan nyata, mana yang kamu pilih… Cowok yang jago berenang seperti Gale, atau cowok yang kamu ajari cara untuk bisa berenang seperti Peeta?

Jika hanya satu itu saja pertanyaannya, jelas mudah menjawabnya: perempuan cenderung tidak memilih laki-laki yang tidak lebih hebat dari mereka. Gue malah kenal seorang teman yang bakal langsung ilfil saat tahu cowok yang dia suka ternyata enggak bisa nyetir mobil, sedangkan teman gue ini termasuk jago nyetir buat ukuran cewek.

Gue sendiri juga begitu… Sejak kuliah, a.k.a sejak nilai-nilai gue mulai melesat jauh di atas rata-rata, gue mulai berubah jadi pemilih. Gue enggak pernah naksir sama cowok-cowok yang pernah belajar akuntansi sama gue (jadi dulu itu, selain kerja jadi guru privat akuntansi, gue juga suka ngajarin temen-temen secara gratisan). Gue gampang ilfil sama cowok yang menurut gue shallow, dan tentunya… gue cenderung mudah mengagumi cowok-cowok yang gue anggap pintar.

Selain itu, gue mengenal sangat banyak teman perempuan yang punya prinsip, pasangan mereka harus memiliki penghasilan yang melebihi penghasilan mereka. Bukan karena matre, tapi hal itu seperti sudah jadi sesuatu yang melekat dalam daya tarik seorang cowok. Banyak cewek yang merasa, cowok dengan penghasilan di bawah mereka kelihatan kurang menarik perhatian mereka.

Intinya adalah, secara naluriah, cewek cenderung menginginkan cowok yang serba lebih daripada mereka. Well, itu kan hanya keinginan, impian, mimpi, harapan, atau yang sejenisnya. Tapi mari kita lihat kenyataannya…

Gue kenal seorang suami yang penghasilannya cukup jauh di bawah istrinya. Dan istrinya bilang, dia ngerasa beruntung punya suami sebaik suaminya itu.

Gue juga kenal sama istri yang sedang sambil kuliah S3, sedangkan suaminya, hanya seorang lulusan S1. Might sounds strange, tapi mereka adalah salah satu pasangan yang paling bahagia yang pernah gue kenal.

Ada temen gue yang orangnya berani banget. Semua wahana permainan paling mengerikan di Dufan, dia berani coba. Sedangkan suaminya… sangat takut sama ketinggian.

Gue kenal cowok yang penakut banget… Takut sama hal-hal seperti hantu maksud gue. Dan kalo ketakutan… dia suka minta temenin ke mana-mana sama ceweknya.

Gue sering lihat banyak cewek cantik yang malah married sama cowok-cowok yang biasa banget, dan cenderung kurang gaul. Bahasa kasarnya… cupu dan kuper. Padahal, cewek-cewek itu dulunya punya sederet mantan pacar yang ganteng dan keren banget.

Kembali lagi ke Hunger Games, Katniss sangat sulit menentukan kepada siapa cintanya berlabuh… Peeta… atau Gale? Katniss sangat takut kehilangan dua orang tersebut, dia menyayangi keduanya dengan sepenuh hati. Akan tetapi sebetulnya, kita sebagai pembaca semakin lama akan semakin yakin dengan sendirinya tentang siapa yang sesungguhnya dicintai oleh Katniss.

Di buku ke tiga, dikisahkan Peeta menjadi korban cuci otak pemerintahan Capitol. Otak Peeta ditanamkan ingatan-ingatan palsu yang membuat dia jadi membenci Katniss setengah mati. Saat sudah kembali ke tangan sekutu Katniss, ingatan Peeta berangsur membaik. Akan tetapi, Peeta tetap suka sulit membedakan… antara yang nyata dengan tidak nyata. Untuk mengatasinya, orang-orang memainkan sesi tanya-jawab. Si penanya akan menceritakan suatu hal, dan Peeta diminta menebak… apakah hal itu nyata atau tidak nyata? Peeta juga akan mengungkapkan isi pikirannya dan bertanya kepada orang lain, nyata atau tidak nyata? Strategi ini pula yang akhirnya berhasil menyembuhkan Peeta.

Saat Peeta baru saja pulih dari masalah ingatannya, Peeta bilang kepada Katniss bahwa dia ingat pernah rela dipukuli orang tuanya hanya demi memberikan sepotong roti untuk Katniss yang sedang kepalaran. Setelah mengingat hal tersebut, Peeta berkata, “Aku pasti sangat mencintaimu.”

“Memang,” jawab Katniss.

“Dan apakah kau mencintaiku?”

“Semua orang bilang aku mencintaimu. Semua orang bilang itu sebabnya Presiden Snow menyiksamu. Untuk menghancurkanku.”

“Itu bukan jawaban,” kata Peeta.

Ya, meskipun pembaca tahu, dan semua orang dalam kisah itu tahu tentang perasaan Katniss kepada Peeta, tetap saja Katniss tidak pernah mau mengakui perasaannya itu. Dari buku pertama hingga ke tiga dipenuhi keraguan Katniss akan hal itu. Sampai akhirnya, pada paragraf penutup di buku ke tiga, Katniss mengakui perasaannya itu. Berikut cuplikan pargraf yang gue maksud, satu paragraf yang paling gue sukai dari buku ini. (P.s.: beberapa kata gue edit supaya mudah dipahami oleh kalian yang tidak pernah mengikuti jalan cerita Hunger Games).

“Aku dan Peeta kembali bersama. Ada saat-saat ketika dia memegangi sandaran kursi sampai kilasan-kilasan ingatan palsu yang ada dalam benaknya lenyap. Aku masih bangun sambil menjerit-jerit karena mimpi buruk dengan mahluk mutan dan anak-anak yang hilang. Tapi lengan Peeta selalu ada untuk menghiburku. Hingga akhirnya bibirnya juga. Pada malam ketika aku merasakannya lagi – rasa lapar untuk terus menciumnya yang pernah menguasaiku di pantai arena Hunger Games – aku tahu memang ini yang akan terjadi. Bahwa yang kubutuhkan untuk bertahan hidup bukanlah api Gale, yang dikobarkan oleh kemarahan dan kebencian. Aku sendiri sudah punya banyak api dalam diriku. Yang kubutuhkan adalah bunga dandelion pada musim semi. Warna kuning cerah yang berarti kelahiran kembali, dan bukannya kehancuran. Janji bahwa hidup bisa berlanjut, tak peduli seburuk apa pun kami kehilangan. Bahwa hidup bisa menjadi baik lagi. Dan hanya Peeta yang bisa memberiku semua itu.”

Setelah paragraf itu, Peeta berbisik kepada Katniss, “Kau mencintaiku. Nyata atau tidak?”

Akhirnya, Katniss menjawab, “Nyata.”

Gale memang lebih kuat… dan lebih tampan. Tapi Peeta, hanya Peeta, yang bisa memberi Katniss rasa aman, serta hanya Peeta… yang bisa melengkapi kekurangan dalam diri Katniss.

Dalam kehidupan nyata, pada akhirnya, hanya itulah yang akan dicari oleh wanita dewasa dari laki-laki pilihannya: rasa aman untuk terus hidup bersama dengan dia. Laki-laki itu bisa jadi tidak lebih kaya, tidak lebih pintar, tidak lebih rupawan… tetapi, laki-laki itulah yang paling mampu memberikan rasa aman. Buat apa kita cari cowok pintar dan kaya… kalau dia tidak pernah mau berusaha untuk memperjuangkan keberadaan kita dalam hidupnya? Buat apa pula pintar dan kaya… kalau kita tidak yakin, dia akan selamanya mencintai kita dengan tulus dan apa adanya…

Gue tidak bilang the most wanted bachelor yang ganteng, pintar, dan kaya itu tidak layak jadi pendamping hidup. Itu kan tergantung orangnya… But the thing is… in fact, it’s not the most important consideration. Sekedar keren dan kaya raya saja tidak cukup. Make her feel safe, comfort, and feel like being sincerely loved, then she’s gonna be truly yours.

The Amazing Spiderman on IMAX

Awalnya, gue enggak ngeh bakal ada film reboot dari Spiderman. Tapi waktu lagi mampir di Sency, gue terkejut juga ngelihat poster besar filmnya… Spidey yang baru ganteng banget booo… Jauh lebih ganteng dari Peter Parker versi pertama! Gue pun langsung enggak sabar pengen nonton filmnya. Dan waktu tahu ada versi 3D untuk film ini, gue tambah penasaran. Film 3D yang satu ini pasti akan diputar di IMAX Gandaria City. Pasti bakalan perfect banget kalo gue nonton the new Spidey di layar IMAX.

Kesan pertama gue begitu masuk ke studio IMAX itu adalah bentuk layarnya agak melengkung ke depan. Kalo bentuk kacamata sih mirip-mirip lah yaa. Enggak ngerti juga apakah ada bedanya sama kacamata 3D yang biasa. Kemudian sound system juga lebih kenceng, lebih mampu menggetarkan lantai studio. Kemudian saat tulisan tanda kacamata 3D sudah harus digunakan, mulai terasa betapa istimewanya IMAX… Nyaris sesuai dengan yang dijanjikan, nonton di IMAX itu rasanya emang seperti be a part of the movie. Meskipun bangkunya hanya diam saja, tapi rasa-rasanya tuh kayak kita ikut bergerak seirama dengan adegan di dalam film!

Tapi efek spektakuler itu enggak selalu terasa sepanjang film pastinya. Tergantung apa yang sedang ditampilkan di layar juga. Untuk film The Amzaing Spiderman itu sendiri, jumlah 3D effect-nya udah cukup banyak lah ya. Terlalu banyak efek yang spektakuler bisa bikin pusing juga soalnya.

Bicara soal cerita film… secara garis besar sih masih sama aja kayak versi pertama. Soal Peter Parker culun yang berubah jadi superhero gara-gara digigit laba-laba, serta soal Peter yang dibesarkan Paman dan Bibi-nya, yang kemudian sang Paman meninggal gara-gara tertembak penjahat yang sebetulnya bisa saja dihentikan oleh power-nya Peter.

Meskipun secara garis besar masih mirip-mirip, ada juga beberapa perbedaan yang sangat mencolok:

  1. Yang paling mencolok adalah cewek yang disukai oleh Peter Parker. Di Amazing Spiderman, tidak ada Mary Jane. Yang ada malah Gwen Stacy, teman sekolah Peter yang cantik dan cerdas. Di versi lama, Gwen Stacy ini pernah muncul di seri ke tiga… Ingat kan, cewek pirang yang juga pernah dicium dengan posisi terbalik oleh Spiderman?
  2. Musuh pertama Spiderman tidak langsung berhadapan dengan Norman Osborn, melainkan seorang profesor yang pernah menjadi rekan kerja ayahnya Peter. Osborn itu sendiri masih belum benar-benar muncul… Hanya diceritakan bahwa Osborn adalah orang yang men-support dana penelitian sang profesor. Gue yakin banget, Osborn baru muncul di seri yang ke dua nanti; dan
  3. Di seri terbaru ini, ada cuplikan masa kecil Peter, dan… ada misteri soal hilangnya kedua orang tua Peter. Dan misteri ini masih menjadi teka-teki sampai akhir cerita… Sengaja digantung di akhir, supaya penonton jadi penasaran dan akan kembali menonton sekuelnya kelak. Oh ya, kalau nanti nonton film ini, jangan langsung pulang begitu filmnya selesai. Tunggu agak lama, akan ada satu scene kemunculan Osborn yang menyebut-nyebut soal orang tua Peter. Just stay tune until the end!

Satu hal yang terasa kurang sreg dari film ini buat gue adalah dua tokoh utama yang tampak ketuaan untuk ukuran usia 17 tahun. Udah gitu entah kenapa, karakter Peter Parker dan Gwen Stacy itu juga terlalu dewasa buat ukuran ABG. Aneh aja kalo bisa ada ABG sedewasa, seberani, dan secerdas mereka berdua… Untunglah akting Andrew Garfield dan Emma Stone sebagai dua tokoh utama itu terlihat sangat meyakinkan. Chemistry antara mereka juga lumayan dapet kalo menurut gue. Garfield kelihatan lebih ganteng daripada waktu dia main di Social Network. Tapi kadang-kadang… gue ngerasa gerak-gerik Peter Parker ala Garfield itu kok jadi mirip-mirip Edward Cullen ala Robert Pattinson yaah?

The Amazing Spiderman jelas juara untuk ukuran special effect. Jalan cerita juga lebih menarik dan ada beberapa adegan yang sangat mendebarkan. Ada satu adegan yang bikin gue cukup terharu… Ceritanya saat harus mencegah The Lizard menyebarkan racun, sang Spidey malah sedang cedera. Dia kesulitan melompat-lompat untuk menuju menara tempat The Lizard hendak menyebar racun. Melihat Spidey kesulitan, seorang operator tower crane yang pernah diselamatkan anaknya oleh Spidey, mengkoordinasi semua operator tower crane agar mengarahkan alat berat mereka untuk digunakan sebagai tempat Spidey bergelantungan… supaya dia bisa cepat sampai ke menara tujuan.

Gue bisa bilang… reboot Spiderman seri pertama ini udah cukup berhasil. Memikat penonton, dengan cara yang berbeda. Pemilihan Garfield sebagai the new Spidey juga udah tepat banget kalo menurut gue… ya walaupun itu tadi, agak ketuaan buat jadi anak SMA. Gimana enggak ketuaan kalo orang yang umurnya udah 29 disuruh memerankan ABG umur 17 tahun? Tapi yang penting sih, gantengnya itu lho… Jangkung dan body yang atletis pulaaa… Calon idola baru cewek-cewek sepertinya, hehehehe.

Overall… Spiderman on IMAX was pretty impressive for me. Sempet bikin mata gue terasa agak perih dan capek di awal… tapi cuma sebentar. Selanjutnya, gue sangat menikmati jalan cerita plus efek 3D yang jauh berbeda dengan studio 3D yang biasa. The 3D effect has made the movie became more amazing to me. Totally worth the price… in my opinion.

Oh ya, just in case you have this question in your mind… nonton di IMAX tetap ada subtitle-nya kok. So you don’t need to worry about getting lost in translation, hehehehe.

P.s.: Buat yang belum tau, sampai saat tulisan ini gue publish, studio IMAX di Indonesia baru ada di Gandaria City aja ya, guys.

The Vow; Pentingnya Menjaga Janji Pernikahan

Awalnya, gue ngebet kepengen nonton The Vow cuma karena satu alasan: there is Chaning Tatum in this movie. Gue emang udah ngefans banget sama aktor ganteng ini sejak pertama kali nonton G.I. Joe. Baru sejak itu gue sadar bahwa dia adalah cowok ganteng yang sama yang sebelumnya pernah membintangi She’s the Man! Dari situ gue pun mulai mencari-cari film yang pernah dia bintangi, dan kebetulan, gue emang selalu suka sama film-filmnya dia. Sebut aja Step Up dan Dear John, 2 filmnya Chaning Tatum yang paling gue sukai setelah G.I. Joe.

Now let’s go to talk about The Vow; film yang terinspirasi dari kisah nyata yang dialami pasangan Carpenters di New Mexico, pada tahun 1993.

The Vow bercerita tentang kecelakaan tragis yang menimpa sepasang suami isteri, Leo (Chaning Tatum) dan Paige (Rachel McAdams), yang mengakibatkan Paige sempat terbaring koma beberapa minggu lamanya. Saat sang isteri bangun dari tidur panjangnya, diketahui bahwa ternyata, dia mengalami lupa ingatan yang menghapus semua memori jangka pendeknya, termasuk memori mengenai Leo, suaminya sendiri.

Pada saat terbangun, Paige merasa dia masih Paige yang dulu: anak praktisi hukum kaya raya yang juga sedang mengambil pendidikan hukum di universitas ternama, yang bahkan ironisnya, Paige merasa masih bertunangan dengan mantan kekasihnya yang dulu!

Leo yang terlihat sangat-sangat mencintai istrinya itu lalu berusaha keras untuk mengembalikan ingatan Paige, serta berusaha keras untuk membuat sang istri kembali jatuh cinta kepadanya seperti sebelum kecelakaan itu terjadi. Hal ini seolah pembuktian dari “the vow” atau janji yang dulu diucapkan Leo pada hari pernikahannya bahwa dia akan mencintai Paige dalam keadaan apapun, dan bahwa cinta yang dia miliki adalah cinta untuk selama-lamanya.

Saat membaca resensi film The Vow, gue mengharapkan ada banyak adegan romantis yang menunjukkan usaha Leo untuk kembali memenangkan hati istrinya. Adegan seperti itu memang ada, tapi tidak sebanyak yang gue harapkan. Sepanjang film ini, Leo hanya mengajak Paige yang lupa ingatan itu untuk berkencan sebanyak satu kali saja. Bagaimana mungkin Paige bisa jatuh cinta kepada Leo hanya setelah satu kali berkencan? Bagi Leo, kencan itu bisa jadi sudah kencan yang ke puluhan atau ratusan kali, tapi bagi Paige, that was her first date with Leo. Jadi kenapa usaha Leo hanya sampai di situ saja?

Masih ingat film 50 First Dates yang dibintangi oleh Adam Sandler dan Drew Barrymore? Film ini juga bercerita tentang wanita yang mengalami gangguan pada ingatannya. Dalam 50 First Dates malah jauh lebih parah; Lucy sang wanita akan melupakan Henry sang pria satu hari sesudahnya! Akhirnya, setiap hari, Henry selalu mencari cara-cara baru untuk membuat Lucy kembali jatuh hati kepada dirinya. Hubungannya dengan The Vow, menurut pendapat gue pribadi, usaha sekeras Henry itulah yang mungkin penonton harapkan akan senantiasa dilakukan oleh Leo, tanpa pernah mengenal kata menyerah.

Jadi kalau menurut pendapat pribadi gue, film The Vow terasa agak-agak mengecewakan. Akhirnya Leo menyerah dan memutuskan untuk bercerai dengan Paige. At that point, his vow in his wedding day has been broken. Memang mengharukan melihat Leo menitikkan air mata saat memutuskan untuk menyerah dan melepaskan Paige. Tapi akan lebih mengharukan jika bisa melihat Leo pantang menyerah untuk mendekati istrinya kembali.

Kembali ke pasangan Carpenters; pasangan yang mengilhami lahirnya film layar lebar ini, kenyataannya, perceraian itu tidak pernah terjadi di anatara mereka. Jika merujuk pada kisah nyata keluarga ini, sang suami benar-benar tidak pernah menyerah menghadapi istrinya yang sudah melupakan dirinya itu. Dia bukan cuma harus berusaha mendapatkan kembali cinta sang istri, melainkan juga harus bersabar menghadapi perubahan tingkah laku yang dialami istrinya pasca trauma otak.

Pada saat-saat tersulitnya, Mr. Carpenter berkata, “I’m no hero. I made a vow.”

Begitu pula dengan Mrs. Carpenter. Selama lupa ingatan (yang sampai sekarang ingatan yang hilang itu masih belum kembali lagi), dia tetap berusaha mempertahankan pernikahannya hanya karena dia merasa harus memegang teguh janjinya kepada Tuhan, yang dia ucapkan di hari pernikahannya.

Kesimpulannya kali ini, The Vow tidak berhasil masuk ke daftar film favorit sepanjang masa yang gue punya. Alur ceritanya kurang rapih, jalan pikiran tokoh-tokohnya agak sulit dimengerti, dan jalan ceritanya tidak sesuai dengan ekspektasi. Padahal film ini bisa jauh lebih bagus, dan seharusnya, film ini bisa memberikan inspirasi tentang pentingnya menjaga janji pernikahan.

Menurut gue, janji adalah sesuatu yang terkadang diperlukan usaha keras hanya untuk dapat memenuhinya. Begitu pula dengan jodoh… Tuhan hanya mempertemukan, tetapi tetap manusia yang harus berusaha untuk mendapatkan dan mempertahankannya. Itulah alasannya gue tidak setuju dengan pernyataan Leo saat memutuskan untuk melepas Paige. Dia bilang, jika mereka memang ditakdirkan untuk bersama, maka mereka akan kembali bersama.

Memang pada akhirnya, Paige sendiri yang datang kembali kepada Leo. But the thing is… the vow has been broken and in real love, having just faith is not enough. You have to fight for it, no matter what the barrier is. Berkacalah pada pasangan Carpenter… yang benar-benar berjuang sekuat tenaga instead of hanya sekedar pasrah kepada takdir.

At the end… The Vow movie is not too bad for me. At least… seeing the cute Chaning Tatum could be so much entertaining, hehehehehe.

Don’t Bring Your Kids to Watch Breaking Dawn!

Gue akui gue tipe orang yang suka mengolok-olok jalan cerita Twilight tapi anehnya, gue tetep aja baca keempat novelnya sampe habis, dan… gue juga enggak pernah ketinggalan nonton filmnya di masa-masa awal penayangan di layar lebar. Kenapa gue suka mengolokg-olok? Karena menurut gue, ada beberapa hal aneh yang enggak well connected dalam cerita berseri ini.

Kenahean pertama soal tidak konsistennya keistimewaan Bella sebagai manusia biasa: dia tidak bisa dibaca isi pikirannya oleh Edward, tidak bisa pula ditembus oleh berbagai keistimewaan para keluarga vampir Volturi, tapi anehnya, si vampir Alice masih bisa menggunakan kemampuannya dalam meramal masa depan untuk menerawang hal-hal buruk yang akan menimpa Bella.

Keanehan yang ke dua, kok bisa vampir yang seluruh organ tubuhnya sudah membeku, yang juga tidak lagi mempunyai denyut jantung dan darah mengalir dalam tubuhnya itu masih bisa memproduksi sperma yang kemudian membuahi sel telur istrinya?

Yang paling aneh menurut gue, bener-bener enggak kebayang gimana kesakitannya Bella saat malam pertama mereka, dan lebih enggak kebayang lagi gimana bisa dia malah jadi ketagihan? I have heard from so many friends that their first time sex didn’t work as easy as they thought mostly because it was very painful for the women. Ada beberapa dari mereka yang memutuskan untuk menunda ‘percobaan’ berikutnya sampai mereka kembali siap. Jadi gimana mungkin Bella si manusia biasa yang ceritanya masih virgin itu malah jadi ketagihan setelah dibuat memar di sana-sini sama Edward si powerful vampire setelah malam pertama mereka?

Lupakan semua keanehan itu dan mari kita bahas esensi dari judul tulisan gue di blog ini: don’t bring your kids to watch Breaking Dawn. In my opinion, berikut ini daftar alasannya:

  1. As you know, ada adegan seks pertama kalinya antara Edward dengan Bella selama honeymoon mereka. Dan ternyata, adegan seks itu ditampilkan sang sutradara film dengan cara yang melebihi imajinasi gue. Nggak nyangka aja Kristen Stewart berani tampil almost naked di film itu. Lagian bukannya Twilight ini banyak digemari oleh anak-anak dan ABG di seluruh dunia yah? Kalo buat gue sih enggak terlalu vulgar lah ya, tapi tetep aja… I don’t think it’s appropriate for the children;
  2. Adegan Bella melahirkan juga bukan sesuatu yang boleh dilihat sama anak-anak. Bayangin aja… ada perut hamil dibelah pisau bedah, sebuah suntikan besar yang ditancapkan sekuat tenaga langsung ke jantungnya Bella, serta kondisi Bella yang terlihat sangat mengerikan setelah melahirkan anaknya. Jangan aja anak-anak jadi berpikir memang seperti itulah proses melahirkan yang sewajarnya; dan
  3. Yang terakhir, adegan-adegan sepele kayak isi mimpinya Bella satu malam menjelang pernikahan, adegan Edward menghisap darah manusia yang masih hidup, atau waktu Bella minum segelas besar darah manusia selama kehamilannya. I’m afraid those scenes would harm the children’s mind.

Terlepas dari semua review negatif yang gue sebutkan di atas (oh iya, masih ada satu lagi negative review dari gue: special effect saat para serigala ‘menggelar meeting’ terlihat sangat fake… seems like the producer didn’t spent a lot of money for this), tetap ada beberapa hal yang gue sukai dari film Breaking Dawn.

Yang pertama adegan pernikahan pernikahan Bella dengan Edward. Berlokasi di taman belakang rumah The Cullens yang dihiasi dengan bunga-bunga rampai yang turun dari langit-langit. To be honest… that is the wedding decoration I’ve been dreaming of. Dan meski gue bukan tipe cewek yang pengen cepet-cepet getting married, gue tetep ngerasa adegan pernikahan di film ini terlihat sangat mempesona. Sederhana, sakral, dan menyentuh hati.

Yang ke dua, bayi Renesmee di film ini bener-bener sesuai sama imajinasi gue saat baca novelnya: bayi mungil yang cantik, lucu, dan menggemaskan. Sayang banget bayi ini cuma muncul sebentar di akhir film…

Yang ke tiga, interior cantik rumah Edward dan juga cantiknya villa pribadi tempat Edward dan Bella menghabiskan bulan madu. I guess everyone is dreaming of such a beautiful place to spend their honeymoon.

Yang terakhir adalah akting Robert Pattinson yang berhasil menunjukkan betapa Edward sangat-sangat mencintai Bella. Dan menurut gue, alasan kenapa banyak cewek tergila-gila sama Twilight adalah keinginan dalam hati kecil mereka untuk dicintai sampai sebesar itu. Apalagi ada pula si Jacob sang serigala yang juga tergila-gila sama Bella Swan. Gue rasa semua cewek pernah punya semacam khayalan diperebutkan dua cowok yang sama-sama ganteng dan keren kayak Edward dan Jacob.

Overall, this movie is still entertaining for me. Buat cowok-cowok yang ngerasa males nemenin ceweknya nonton juga enggak usah sebegitu ogahnya. Lagian gue yakin, hanya dengan baca review dari gue di blog ini aja udah cukup bikin cowok-cowok jadi penasaran pengen nonton, hehehehehe. Finally gue cuma mau bilang… dibanding tiga film pendahulunya, film Breaking Dawn inilah yang realisasinya paling mendekati imajinasi para pembaca. Two thumbs up for the movie makers.

Real Steel

Yesterday, I’ve just watched another awesome Hollywood movie. Dari awal, gue udah tau dari temen-temen kalo Real Steel ini bagus. Setelah gue nonton sendiri, gue setuju bahwa film ini emang bagus, keren, dan gue suka banget!

Real Steel bercerita tentang Charlie, cowok urakan yang tiba-tiba harus mengasuh anak kandungnya untuk sementara waktu. Jadi ceritanya, semenjak Max – anak Charlie, lahir sebelas tahun yang lalu, Charlie tidak pernah ikut membesarkan anak itu. Baru setelah sang mantan pacar a.k.a ibunya Max meninggal dunia, Charlie jadi harus berhadapan kembali dengan puteranya itu.

Charlie ini berprofesi sebagai fighter yang mengendalikan robot-robot canggih dalam pertandingan tinju. Tadinya Charlie hampir saja bangkrut. Satu per satu robot yang dimilikinya malah jadi hancur berantakan karena kalah bertanding melawan robot-robot lainnya. Tetapi berkat robot bekas yang ditemukan Max di pembuangan sampah, yang kemudian dimodifikasi dan dilatih oleh Charlie dan Max, Atom sang robot bekas berhasil membawa nama kedua orang itu ke puncak popularitas dalam dunia pertandingan robot profesional.

Yang paling gue suka dari film ini adalah kekuatan karakter tokoh-tokoh utamanya. Penonton bisa dengan mudah mendalami karakter mereka tanpa perlu banyak-banyak berpikir. Misalnya memahami dengan sendirinya bahwa karakter Max itu benar-benar sama persis dengan karakter ayah kandungnya: menyukai robot boxing, gambling freak, keras kepala, serta sangat suka menjadi pusat perhatian . Akting para pemainnya, termasuk akting pemeran si kecil Max benar-benar sangat memukau penonton. Karakter Charlie dan Max jadi terasa benar-benar nyata.

Meskipun tema utama film ini adalah action robot, unsur drama tetap cukup terasa menyentuh hati. Konflik emosi antara Charlie dengan Max lumayan bisa bikin penonton jadi mengharu-biru. Hanya saja sayangnya, unsur ikatan emosi yang sama tidak tampak dalam hubungan Charlie dan Max dengan Atom sang robot binaan mereka. Beda banget sama ikatan emosi antara Bumblebee dengan Sam di Transformers misalnya. Adek gue bilang, dia sempet sampe nangis waktu melihat adegan Bumblebee hampir saja musnah saat bertarung melawan musuh-musuhnya. Hal yang sama tidak begitu terasa saat melihat Atom babak belur karena dipukuli oleh Zeus saingan terberatnya.

Biasanya, suatu film bisa jadi film favorit gue karena ada unsur moral of the story yang sangat mengena di hati gue. Tapi untuk film yang satu ini, rasa-rasanya hampir tidak ada moral of the story yang bisa gue bawa pulang. Tidak ada pula inspirational quotes yang berkesan banget buat gue. Satu-satunya kalimat yang lumayan mengena di hati gue adalah pada saat dialog sebagai berikut:

Charlie  : “What do you want from me?”

Max       : “I only want you to fight for me all the way.”

I simply think that deep in their hearts, everyone is longing for someone who is willing to always fight for their existences.

Meskipun enggak ada moral of the story yang gue anggap penting, hal ini sama sekali tidak mengurangi kesenangan yang gue rasakan saat dan setelah nonton film ini. Ada cukup banyak adegan lucu, pertandingan yang seru, special effect yang semakin keren, serta adegan yang tanpa banyak bicara sudah mampu menyentuh hati para penontonnya. Kesimpulannya, it’s a must watch movie, and yes… I have just added this movie title as one of my favorite movies.

Green Lantern Review

Pernah ngerasa takut terhadap kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi di masa yang akan datang? Yang saking takutnya, pada akhirnya kamu lebih memilih untuk lari dari masalah? Kemudian dalam urusan relationship, pernahkah kamu tiba-tiba merasa takut memiliki kedekatan emosional dengan orang-orang di sekitar kamu? Kalau pernah adalah jawaban kamu untuk satu atau dua pertanyaan di atas, berarti kamu wajib nonton film Green Lantern.

Sama seperti film superhero lainnya, Green Lantern bercerita tentang cowok yang tadinya bukan siapa-siapa tiba-tiba aja mendapatkan kekuatan super sehingga mulai dikenal sebagai pahlawan. Terus sama standarnya dengan film-film lainnya, di film ini juga ada cewek yang diam-diam dicintai sang hero yang kemudian dijadikan sandera oleh musuhnya, dan adegan bertarung di mana jagoan pasti kalah duluan, baru setelah kita berpikir, “Ah, mustahil! Gimana dia bisa menang?” eh ternyata ada aja cara buat si jagoan mengalahkan musuh bebuyutannya. Dan pastinya, di akhir film ada adegan tambahan yang menunjukkan bahwa meskipun musuh besar sudah musnah, bukan berarti dinasti kejahatannya sudah habis sampai di situ.

Yang membedakan Green Lantern dari film sejenis pada umumnya adalah karakter tokoh utamanya. Biasanya, sosok manusia biasa seorang superhero itu identik dengan cowok baik-baik, dan kebanyakan sih, kelihatan cupu dan nerd alias enggak ada keren-kerennya sampe mereka berubah menjadi sosok jagoan. Nah, kalo di film ini, jangan harap bakal ngelihat Ryan Reynolds tampil cupu dengan kacamata tebal! Sejak awal, Ryan Reynolds sudah tampil keren seperti biasanya, hehehehe.

Hal Jordan yang diperankan oleh si ganteng Ryan Reynolds itu dikisahkan memiliki kepribadian yang suka memberontak dengan image playboy yang suka ganti-ganti teman kencan. Di luar sifat selengeannya, sebetulnya, Hal menyimpan rasa takut yang begitu besar dalam menjalani hidupnya. Dan bila rasa takut itu sudah mulai menghantui pikirannya, maka Hal akan lebih memilih untuk lari dari masalah. Dia lebih suka play safe dan menghindar dari kemungkinan terburuk di masa yang akan datang. Akan tetapi lucunya, Hal ini kelewat gengsi untuk mengakui rasa takutnya itu. Dia enggak mau ada seorang pun yang tahu soal insecurity dalam diri dia itu.

Meskipun diam-diam Hal menyimpan begitu banyak rasa takut dalam dirinya, anehnya, cincin sakti yang kemudian menjadi sumber kekuatannya itu malah memilih Hal untuk dijadikan superhero perwakilan dari planet Bumi. Padahal syarat utama dari terpilihnya sang superhero oleh cincin itu adalah seseorang yang tidak memiliki rasa takut sama sekali. Karena ceritanya, rasa takut akan melemahkan mereka dan menguatkan musuh pada saat yang bersamaan. Makanya di awal-awal, Hal sempat merasa pesimis dan menilai bahwa cincin sakti itu telah salah memilih perwakilan.

Soal jalan cerita enggak perlu gue jabarkan secara detail lah yaa. Yang gue bisa bilang cuma overall menurut gue, filmnya bagus, ada pula beberapa dialog yang lumayan lucu, special effect-nya keren dan lumayan bikin kita jadi tiba-tiba kaget, dan ya itu tadi, Ryan Reynolds-nya ganteng banget, hehehehe. Buat cowok-cowok, tenang aja… di film ini juga ada Blake Lively (pemeran Serena di serial Gossip Girl) yang juga cantik dan seksi banget. Cowok yang duduk di sebelah gue sampe ngomong begini sama ceweknya, “Tuh kamu kalo punya badan kayak gitu dong.”

Lagi-lagi buat gue, the best part of the movie is the moral of the story. Film ini mengajarkan kita bahwa rasa takut adalah suatu hal yang sifatnya sangat-sangat manusiawi. Akan tetapi, bukan berarti kita boleh dikalahkan oleh rasa takut kita itu! Karena sebenarnya, tidak ada orang di dunia ini yang tidak memiliki rasa takut. Yang ada hanyalah orang-orang yang berani untuk melawan rasa takutnya sendiri.

Balik lagi ke paragraf pembuka, film ini mengingatkan gue untuk tetap berani menghadapi apapun yang terjadi dalam hidup gue. Berani menghadapi kemungkinan terburuk demi mendapatkan kemungkinan yang terbaik, berani mengambil resiko, serta berani untuk mengakui kekurangan yang sudah pasti kita miliki.

Masih nyambung sama judul blog gue sebelumnya, Green Lantern semakin memantapkan gue untuk menerapkan prinsip baru gue: setelah memutuskan satu pilihan yang terbaik, gue harus tetap konsisten sampai akhir, apapun rintangan dan apapun resikonya. Karena sebetulnya, alasan terbesar gue gampang berubah-ubah pikiran itu berasal dari rasa takut terhadap kemungkinan terburuk yang melekat dalam pilihan awal gue itu, sehingga akhirnya, gue lebih memilih untuk berubah pikiran a.k.a melarikan diri.

It’s okay to fear of something, but it’s not okay to walk away just because of being afraid to face the risk.

Surat Kecil Untuk Tuhan

Awalnya, gue enggak gitu tertarik nonton film Surat Kecil Untuk Tuhan. Jalan ceritanya udah ketebak: penderitaan cewek pengidap kanker sampai akhirnya dia meninggal dunia. Entah udah ada berapa banyak cerita sejenis ini yang pernah gue baca atau tonton di film lain. Tapi hari ini, entah kenapa kaki gue malah melangkah ke XXI. Padahal tadinya, gue naik ke atas mall CL cuma buat cari makan. Kemudian waktu gue lihat film ini akan segera dimulai, tanpa pikir panjang gue langsung beli tiket nonton diikuti dengan satu porsi popcorn caramel dan es cokelat Oreo.

Ternyata emang bener… Dari segi cerita sih emang biasa dan standar banget. Plot cerita sengaja diatur untuk menguras air mata penonton. Gue sendiri sempet netesin air mata waktu ngelihat pacar si tokoh utama menangis sambil memeluk boneka kenangan mereka sesaat menjelang kematian pacarnya itu.

Alesan kenapa gue ikut sedih di adegan terakhir itu adalah rasa kagum gue sama sosok cowok dalam film ini. Secara film ini diangkat dari kisah nyata, makin tersentuhlah gue karena ternyata, masih ada cowok yang meskipun masih ABG, sudah bisa mencintai pacarnya dalam suka maupun duka. Bayangin aja… si cowok ini tetep setia sama pacarnya meskipun wajah si pacar sempat rusak berat yang disebabkan oleh kanker ganasnya itu. Makanya waktu di akhir film ditunjukkan foto asli dari masing-masing tokoh dalam kehidupan nyata, gue langsung excited banget. Jadi itu toh… wajah asli cowok yang luar biasa itu…

Moral of the story, film ini ngingetin gue untuk tidak menyerah dalam mengejar mimpi-mimpi gue. Gue ini emang tipe orang yang punya begitu banyak daftar keinginan dan gue udah banyak berusaha keras buat mencapai semua itu. Gue ingin bisa mewujudkan semua cita-cita gue sebelum nantinya gue tutup usia. Tapi gimanapun, tetep ada kalanya gue ngerasa capek. Gue sampe mikir, kenapa sih… gue seneng banget nyusahin diri gue sendiri? Kenapa juga gue harus takut mati sebelum sempat mencapai cita-cita gue? Toh kalo gue udah mati, gue nggak bakal ngerasa apa-apa lagi soal kegagalan gue itu…

Tapi berkat film ini, pola pikir gue jadi kembali lagi ke jalan yang benar. Setelah mati, mungkin gue emang nggak bakal lagi ambil pusing soal segala keinginan yang belum tercapai itu… Tapi gimana kalo gue tetap hidup tanpa memiliki pencapaian apapun? Atau gimana kalo kelak – amit-amit knock on the wood 3 kali – hal buruk yang sama seperti Keke dalam film ini juga menimpa diri gue?

Ada satu adegan lagi yang sangat membekas di benak gue. Ceritanya, udah sejak lama Keke mengimpikan tampil menari bersama sahabat-sahabatnya di salah satu acara tv. Tapi sayangnya, saat tiba giliran mereka untuk tampil, Keke hanya bisa menyaksikan keenam sahabatnya menari di acara itu dari pinggir panggung.

Jadi intinya, gue enggak mau sampai terjadi di masa yang akan datang, gue cuma bisa duduk pasrah menyaksikan sesuatu yang seharusnya dulu bisa gue miliki. Termasuk kalau sampai ada hal buruk yang menimpa gue, maka gue ingin pada saat itu, gue enggak memiliki penyesalan dalam bentuk apapun. Gue enggak mau ngerasa udah menyia-nyiakan masa lalu gue yang berharga itu. So from now on, I will try my best to pursue my dreams, whatever the risk is, and no matter how tired I am to deal with this.

Balik lagi soal film ini sendiri… Gue cukup terkesan sama akting natural para pemainnya, terutama akting pacarnya Keke yang tadi gue ceritakan. Muka cowok ini juga lumayan ganteng, ngingetin gue sama cowok imut-imut yang pernah gue lihat di film-film produksi Thailand. Kemudian selain akting para pemainnya, gue juga cukup terkesan sama special make-up yang berhasil bikin kanker di wajah tokoh Keke kelihatan real.

Pada akhirnya gue menyimpulkan, this movie is worth to watch. Apalagi di masa-masa film papan atasnya Hollywood masih belum balik lagi ke layar lebar kita… Jelas masih jauh lebih mending nonton film ini ketimbang nonton si pocong dkk! Oh iya, sekedar saran buat cowok-cowok. Kalo enggak mau kelihatan kurang macho, ya mendingan jangan pergi nonton film ini di bioskop ya, hehehehe.

Don’t Go Breaking My Heart

Entah kenapa, gue kepengen banget nonton film Don’t Go Breaking My Heart di Blitz Megaplex. Walaupun pilihan jam tayangnya tinggal sedikit, gue tetep bela-belain nonton film yang diputar jam setengah sepuluh malam itu.

Don’t Go Breaking My Heart bercerita tentang Zhi En, gadis yang baru saja putus karena dikhianati pacarnya setelah 7 tahun pacaran. Saat sedang patah hati itu, Zhi En berkenalan dengan 2 cowok baru dalam waktu yang hampir bersamaan. Cowok pertama namanya Shen Ran, cowok charming yang sangat sukses di usia muda. Shen Ran ini ceritanya udah cukup lama naksir sama Zhi En yang sering dia lihat dari jendela kantornya. Cowok yang ke dua bernama Qi Hong, seorang arsitek berbakat yang sedang mengalami depresi saat bertemu dengan Zhi En.

Setelah patah hati habis-habisan di awal film, akhirnya Zhi En mulai benar-benar move on setelah berkenalan dengan Qi Hong. Cowok ini mengarahkan Zhi En untuk mengubah penampilannya, mengajaknya bersenang-senang, serta bersedia menampung semua barang peninggalan mantan pacar yang masih tertinggal di apartemen Zhi En. Selain semua benda mati, Zhi En juga memberikan Qi Hong seekor kodok yang dulu dipelihara mantan pacarnya.

Di akhir pertemuan mereka, Zhi En membelikan satu set pensil warna untuk Qi Hong. Dia ingin Qi Hong menggunakan pensil warna itu untuk kembali berkarya. Dia juga memotivasi Qi Hong untuk berhenti minum-minum dan juga bangkit dari keterpurukannya. Pada saat itulah, Qi Hong mulai jatuh cinta kepada Zhi En. Qi Hong lalu mengajak Zhi En untuk bertemu lagi beberapa hari kemudian, dan dia berjanji, pada pertemuan selanjutnya itu, Qi Hong akan menunjukan hasil karya terbarunya.

Sayangnya di hari yang sudah dijanjikan, Zhi En juga punya janji kencan dengan Shen Ran untuk yang pertama kalinya. Ternyata Zhi En lebih tertarik pada Shen Ran sehingga melupakan janjinya kepada Qi Hong. Jadilah Qi Hong menunggu Zhi En yang tidak pernah datang ke tempat pertemuan mereka pada waktu yang telah dijanjikan.

Ironisnya, pada saat Zhi En tengah menunggu Shen Ran di café yang telah disepakati, Shen Ran malah tidak datang karena tergoda dengan ajakan kencan semalam dari cewek lain yang berpenampilan sangat menggoda. Tapi dasar Shen Ran cowok penggoda… Meski awalnya Zhi En sangat marah dengan ketidakhadiran dia di kencan pertama mereka, toh akhirnya mereka berdua jadian juga.

Akting Louis Koo si pemeran Shen Ran cukup berhasil memesona penonton. Aura bad boy-nya itu kerasa banget. Ngelihat betapa kerasnya usaha Shen Ran mengejar Zhi En bikin penonton jadi terbius… Zhi En disuruh bantu memillih mobil mewah, apartemen mewah sekaligus furniture-nya, yang ternyata, semua itu dibelikan Shen Ran untuk Zhi En! Saat itu gue sempet berpikir, cewek mana juga yang bisa menolak? Ya pantes aja lah kalo akhirnya Zhi En tetep jatuh ke pelukan Shen Ran…

Tiga tahun kemudian, Zhi En merasa curiga dengan Shen Ran yang menyimpan banyak kondom di dalam mobilnya. Padalah selama berpacaran, mereka berdua tidak pernah melakukan hubungan intim. Setelah ditanya, Shen Ran pun mengakui bahwa selama ini dia memang masih berkencan dengan perempuan-perempuan lain. Saat Zhi En menjadi murka, dengan entengnya Shen Ran bilang begini, “Aku tidak mau berbohong! Lagipula di dunia ini cuma ada dua jenis lelaki: lelaki yang berselingkuh dan yang ingin berselingkuh. Kamu lebih memilih yang mana?”

Zhi En menjawab, “Aku memilih lelaki yang ke tiga!”

Shen Ran membalas, “Cari saja di planet Mars!”

Tidak lama setelah putusnya Shen Ran dengan Zhi En, cewek ini kembali bertemu dengan Qi Hong, si arsitek depresi yang kini sudah mampu mendirikan perusahaannya sendiri. Qi Hong pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kembali mendekati Zhi En. Dan tentu saja, Shen Ran tidak tinggal diam. Ada beberapa adegan yang menunjukan dua cowok ini saling berlomba menarik perhatian Zhi En.

Ada satu adegan yang sangat mengharukan di film ini. Ceritanya meski sudah tiga tahun berlalu, Qi Hong masih menyimpan kodok pemberian Zhi En. Saking sayangnya dengan si kodok, Qi Hong menamakan perusahaannya Qi Hong & Frog! Nggak heran kalo semua orang yang mengenal Qi Hong juga tahu bahwa kodok itu merupakan pemberian wanita yang dicintai Qi Hong, dan, bahwa meskipun ada banyak wanita yang mengidolakan Qi Hong, cowok ini tetap menaruh harapan kepada sang pemberi kodok yang sudah tiga tahun putus kontak dengannya itu.

Nah, suatu hari, Zhi En memutuskan pulang ke rumah orang tuanya karena merasa tertekan harus memilih di antara Shen Ran dan Qi Hong. Menghilangnya Zhi En itu kemudian memicu perkelahian antara Shen Ran dengan Qi Hong. Saat mereka sedang berkelahi itulah, si kodok tidak sengaja terinjak hingga mati dalam keadaan yang mengenaskan.

Matinya si kodok langsung mengakhiri perkelahian antara Shen Ran dengan Qi Hong. Shen Ran bahkan meminta maaf kepada Qi Hong yang berlutut terpaku menatap kematian kodoknya. Saat kabar perkelahian tersebut sampai ke telinga Zhi En, cewek ini langsung kirim SMS turut bersedih kepada Qi Hong.

Berdasarkan pengalaman gue pribadi, cowok jaman sekarang ini bawaannya suka ngambek. Makanya saat Zhi En kirim SMS, gue sempat nebak, Qi Hong tidak akan menghiraukan SMS-nya itu. Tapi ternyata, meski si kodok baru saja mati gara-gara ulah mantan pacar Zhi En, dan meski Zhi En baru saja meninggalkan Qi Hong beberapa saat sebelum perkelahian itu, Qi Hong tetap membalas SMS dari Zhi En. Qi Hong bertanya, “Kamu di mana? Di mana alamatnya?”

Segera setelah menerima balasan dari Zhi En, QI Hong langsung naik pesawat menuju rumah orang tua Zhi En. Sesampainya di sana, begitu Zhi En membuka pintu rumahnya, Qi Hong langsung berkata, “Si kodok sudah mati.”

Zhi En yang merasa tersentuh langsung memeluk Qi Hong dengan erat…

Apakah Shen Ran sudah menyerah? Hampir saja dia menyerah sampai di situ. Dia sudah kembali beredar di club langganannya, dan mulai tebar pesona mencari perempuan yang bisa dia ajak tidur. Tapi ternyata, saat dia dan teman kencannya sudah naik taksi menuju hotel, Shen Ran berubah pikiran. Dia kehilangan minat untuk kencan dan memutuskan untuk kembali mengejar Zhi En.

Emang dasar film drama yang menjual mimpi… Bisa-bisanya di akhir cerita, Shen Ran dan QI Hong melamar Zhi En dalam waktu yang bersamaan! Dengan dua cara berbeda yang dua-duanya tuh romantis banget. Lucunya, saat melamar itu, Shen Ran bilang begini, “Sekarang aku sudah jadi mahluk Mars!”

Sampai adegan itu… Yantri – adek gue, bergumam, “Awas aja kalo dia malah nerima Shen Ran!”

Padahal ya… di awal film, adek gue ini juga sempet terpesona banget sama sosoknya Shen Ran. Bahkan, Yantri yang suka ngomelin gue karena sering naksir cowok bandel itu akhirnya mengaku bisa mengerti alesan kenapa gue sampe jatuh hati sama mereka. Tapi begitu ngelihat betapa jelalatannya Shen Ran setiap kali melihat cewek seksi… saat melihat kebiasaan dia mencari pelarian dengan kencan semalam… adek gue kembali lagi pada akal sehatnya. “Hidup itu kan panjang… Masa’ iya sih, Zhi En mau selamanya hidup enggak tenang bareng cowok model Shen Ran? Dia kan bisa janji bakal setia hanya karena masih penasaran sama Zhi En. Belum tentu kalo nanti udah balik lagi dia tetep setia, terutama kalo mereka lagi berantem misalnya.”

Dan lucunya… Gue yang punya kecenderungan naksir bad boy pun, ngerasa ogah banget kalo Zhi En sampe memilih Shen Ran. Walau cuma fiksi belaka, rasanya gue tetep enggak rela kalo Zhi En malah ninggalin Qi Hong. Qi Hong yang penyayang, setia, baik hati, pemaaf pula…

Berkat film ini gue jadi sadar bahwa cowok-cowok bandel emang bisa jadi kelihatan charming (kecuali bad boy wannabe yang lagaknya malah bikin eneg), tapi kalo kita berpikir panjang… kita harusnya lebih memilih cowok yang bisa memberi kita rasa aman. Karena benar kata Zhi En, mencintai playboy itu sangat sulit, dan… sangat sulit dipercaya bahwa playboy bisa berubah jadi setia.

Jadi saran gue buat penggemar-penggemar bad boy lainnya… Kasih kesempatan lah, buat cowok baik-baik yang sayang sama kalian. Cowok terakhir yang gue taksir sama sekali bukan bad boy, dan ternyata rasanya malah lebih menyenangkan loh. Good guy itu lebih caring, lebih pengertian, dan malah sebenarnya, justru good guy ini yang punya potensi buat jadi idol without trying. Cowok baik hati model gini justru ngerasa bersalah kalo tau ada banyak cewek yang bertepuk sebelah tangan karena dia. Beda banget lah sama golongan bad boy yang menganggap hal menyedihkan kayak gitu sebagai suatu kebanggaan.

Kalo masih nggak percaya, langsung ajalah, nonton film ini di Blitz Megaplex. Gue yakin kalo film ini bisa bikin kita jadi sadar kalo sebenernya, bad boy is disgusting. Uups, no offense yah guys, hehehehe.

Crazy Little Thing Called Love

 

Sebenernya karena suatu hal yang terjadi baru-baru ini, gue berniat untuk enggak lagi nulis soal my personal love life experience di blog ini.  Tapi gara-gara film Crazy Little Thing Called Love yang baru aja gue tonton, jadi ada satu hal lagi yang ingin gue share di sini.

Crazy Little Thing Called Love bercerita tentang Nam, cewek culun yang naksir sama Shone, kakak kelas yang ganteng dan cool banget. Selama tiga tahun cewek ini memendam perasaannya, sampe akhirnya, dia malah sempet jadian sama sahabatnya Shone! Ceritanya Nam bersedia jalan sama sahabatnya Shone itu ya supaya bisa deket-deket sama Shone terus.

Setelah putus sama pacarnya, Nam memberanikan diri buat bilang suka ke Shone di hari kelulusan mereka. Sayangnya saat itu, Shone baru saja jadian sama cewek lain persis satu minggu sebelum Nam bilang suka!

Yang mengejutkan… ternyata selama tiga tahun itu, Shone juga tergila-gila sama si Nam! Dia masih nyimpen cokelat pertama yang diberikan Nam tiga tahun yang lalu, dan bahkan, dia punya satu scrap book berisi foto-foto candid Nam disertai ­caption yang isinya curahan hati Shone kepada Nam.

Sayangnya ternyata, Shone tidak pernah punya cukup keberanian untuk menyatakan perasaannya kepada Nam. Pada hari valentine, Shone memberikan bunga buat Nam… Tapi bukannya bilang, “This is flowers from me,” si Shone ini malah bilang, “This is flowers from my friend.” Shone pernah beberapa kali berbuat baik untuk Nam, tapi tetap tidak cukup untuk menunjukkan rasa sukanya sama cewek itu. Sampai akhirnya, Shone bener-bener keduluan sahabatnya nembak si Nam.

Lalu bagaimana ending ceritanya? Nam pindah sekolah ke Amerika, dan baru kembali ke Thailand 9 tahun kemudian. Dan… ya, Shone dan Nam baru jadian 9 tahun setelah perpisahan mereka di bangku sekolah.

Nonton film ini serasa mengenang kebodohan semasa ABG dulu yah… Dulu gue juga pernah tuh, iseng nelepon gebetan gue tapi enggak ngaku kalo itu telepon dari gue. Dan gue juga pernah, semangat pergi sekolah cuma supaya bisa ketemu sama si gebetan, hehehehe.

Tapi bukan soal kebodohan ala ABG yang pengen gue bahas di sini. Gue cuma ingin membagi isi pikiran gue: kenapa cowok harus segitu takutnya bilang suka sama cewek yang mereka suka? Karena menurut gue, rasa takut yang sampe segitunya itu belongs to a girl, not a guy! Kalo mengutip dari serial Gossip Girl, guts makes a man a man.

Gue cukup sering berpikiran, dilahirkan sebagai cowok, khususnya di Indonesia, rasanya jauh lebih enak daripada jadi cewek. Di Indonesia, cowok yang pantang menyerah ngejar cewek incarannya bisa dianggap keren dan cowok banget. Dan gue sering lihat pada akhirnya, cowok itu berhasil juga memenangkan hati gebetannya itu. Tapi kalo sebaliknya, cewek yang pantang menyerah ngejar-ngejar cowok idamannya… Haduuuh, yang ada cowok itu bakalan kabur atau yang lebih parah, si cewek bakal langsung dikasih label cewek murahan yang udah desperate.

Waktu usia gue masih lebih muda, cieee:p, gue pernah tuh, berusaha bersikap manis buat menarik perhatian gebetan gue. Makanya gue bilang, tingkahnya si Nam di film itu mengingatkan gue sama diri sendiri, hehehehe. Bedanya dalam kasus gue, no matter how hard I tried to touch his heart, he would never get it and change his mind. Sampe akhirnya gue keburu capek dan mulai lupa sama dia dengan sendirinya. Makanya tadi gue bilang… Saking gemesnya, gue sering berpikiran, keadaannya pasti akan jauh berbeda kalo gue dilahirin sebagai cowok.

Terus ya… emang dasar gue kurang hoki atau apa… Setelah lewat beberapa tahun, setelah gue udah capek dan bener-bener lupa sama cowok-cowok itu, eeeh, baru kemudian gue tau kalo sebenernya mereka juga suka sama gue! Kalo gue juga pernah suka balik sama dia, dalam hati gue akan berpikiran gini… “Aduuuh, udah terlambat. Kenapa baru sekarang sih?”

Hal terakhir dari film ini yang agak-agak related sama gue adalah usaha buat jadi cewek yang lebih baik demi menarik perhatian si gebetan. Nam yang tadinya buruk rupa berubah jadi cantik, dan Nam yang tadinya bodoh berubah jadi pintar, hanya supaya bisa jadi cewek yang cukup pantas untuk Shone.

Dulu gue pernah punya gebetan yang orangnya tuh baiiik banget. Bener-bener tipe everybody’s sweetheart lah. Saking baiknya, dia tuh bisa tetep bisa bersikap ramah dan sopan even sama orang-orang yang dia benci. Gara-gara suka sama dia, gue juga jadi kepengen punya kepribadian yang lebih baik. Gue mulai memperbaiki intonasi bicara gue sedikit demi sedikit, belajar menahan emosi, dan belajar mentoleransi sifat jelek orang-orang di sekitar gue. Udah gitu, gara-gara dia juga gue jadi mulai nonton saluran berita dan rajin baca artikel di Detiknews dan Kompas.com… Maksudnya supaya bisa nyambung kalo ngobrol sama dia gitu, hehehehe.

Menurut gue sih, enggak ada salahnya ya, memperbaiki diri demi orang yang kita suka. Toh selama perubahan itu sifatnya positif, yang akan diuntungkan tetap diri kita sendiri juga. Dalam kasus gue, meskipun enggak ada happy ending antara gue sama dia, perubahan positif yang udah gue dapetin itu tetep gue pertahankan sampe sekarang. Karena nyatanya, gue jadi ngerasa lebih bahagia dengan kepribadian gue yang baru ini. Dengan bersikap lebih ramah dan mengelola emosi dengan baik, gue jadi bisa berteman dengan lebih banyak orang. Terus soal rajin nonton dan baca berita… Well, itu udah berhasil banget bikin gue kelihatan smart dan berwawasan luas, hehehehe.

 

Letters to Juliet Movie Quote

 

Letters to Juliet bercerita tentang Sophie yang bekerja sebagai ‘sekretaris Juliet’. Pekerjaannya adalah membalas surat yang dikirimkan cewek-cewek untuk Juliet. Konflik bermula saat Sophie menemukan surat yang ditulis lima puluh tahun yang lalu oleh grandma Claire. Nggak disangka, gara-gara balasan surat dari Sophie, grandma Claire jadi bertekad buat mencari true love dia lima puluh tahun yang lalu itu!

 

Menurut gue sih, dari segi cerita termasuk biasa-biasa aja yah. Tokoh utama cowoknya juga kurang ganteng, hehehe. Tapi, yang gue suka dari film ini ada quotes-nya. Sejak nonton film ini sekitar dua minggu yang lalu, gue udah bertekad bakal langsung nyari kumpulan quotes dari film ini. And here they aremy favorite quotes from this movie:

 

Sophie’s letter to grandma Claire:

“Dear Claire… ‘What’ and ‘If’ are two words as non-threatening as words can be. But put them together side-by-side and they have the power to haunt you for the rest of your life: What if? What if? What if? I don’t know how your story ended but if what you felt then was true love, then it’s never too late.”

 

Sophie to Charlie (cucunya grandma Claire yang sangat menentang niat neneknya untuk mencari true love sang nenek 50 tahun yang lalu itu):

“I’m sorry, I didn’t know love had an expiration date.”

 

Charlie to Sophie (quote yang ini, dua kalimat pertamanya cuma based on ingatan gue aja… soalnya yang gue dapetin dari internet kurang lengkap sih):

“I’m glad I’m not Romeo. I don’t want to just stand and whisper in the garden. If I were Romeo, I would have grabbed her from that blasted balcony and been done with it.”

 

Between Charlie and Sophie (gue lupa siapa persisnya yang ngomong begini, hehe):

Sometimes, perfectionist is just another word of chicken.”

 

Grandma Claire to Charlie:

“How many Sophies do you think there are on this planet? Don’t wait for 50 years before you find her. Go, Charlie, go!”

 

However, meskipun gue suka sama quotes dalam film ini, di satu sisi gue tetep ngerasa film ini agak-agak berlebihan. Jangankan 50 tahun deh… nyari first love gue 10 tahun yang lalu aja gue ogah, hehe…

 

Terus tagline film ini kan bahwa cinta sejati itu nggak akan pernah kadaluarsa yah. Masalahnya kalo yang terjadi sama gue, setiap cinta yang pernah gue rasain pasti punya expired date. Pernah beberapa kali, gue menolak kesempatan buat ‘balik’ sama cowok-cowok yang DULU pernah gue sayang dengan sepenuh hati.

 

Tapiii, yah… secara gue juga masih muda. Siapa tau besok-besok gue nemuin cowok yang bisa bikin gue ngerasain true love sedahsyat itu kali yaa, hehehe. So I guess lucky for you who already have one.