10 Things I Like About EY

Berdasarkan pengalaman hampir 3 tahun kerja di EY, gue mau bikin daftar 10 kelebihan yang dimiliki oleh KAP Big Four ini. Dan sebenernya sih… sebagian besar dari hal-hal yang akan gue sebutkan di bawah ini bisa juga dimiliki oleh 3 KAP Big Four lainnya (PWC, KMPG, Deloitte). Tapi berhubung gue enggak pernah kerja di 3 KAP lainnya itu, ya akan lebih akurat kalo tulisan ini gue kasih judul 10 Things I Like About EY. And here they are

 

Salary Increase every year

Semakin tinggi levelnya, semakin signifikan pula kenaikan gaji yang akan diterima pada saat promotion. Kalaupun pada tahun ini kita enggak dapet promotion, kita tetap akan menerima kenaikan gaji.

Sufficient medical coverage policy

Gue tau medical coverage-nya EY ini bukanlah yang paling mewah yang pernah ada di Indonesia. Tapi kalo mau dibandingin secara rata-rata perusahaan di sini, then EY’s medical coverage is one of the best.

Sufficient training programs

Selama kerja di EY, nggak perlu takut nggak update sama new applicable policy/standards/regulations. Pasti selalu ada aja training invitations setiap tahunnya.

Great information database

Kalo butuh PSAK baru, nggak perlu repot-repot cari di Google. Almost everything is available in here.

You don’t need to be old just to be promoted

Kenaikan pangkat di EY tidak pernah melihat usia. Ada temen gue yang punya peluang jadi manajer di usia 26. Gue juga baru sadar bahwa tidak semua perusahaan bisa melakukan yang sama seperti ini.

Discrimination doesn’t exist

As we know, ada cukup banyak perusahaan di Indonesia yang lebih menomorsatukan karyawan dari golongan ras/agama tertentu. Cuma orang-orang dari golongan ras/agama itu saja yang bisa terus naik sampai level top management. As long as I know, such a thing like this doesn’t exist at EY. You don’t need to be born in a specific race just to be a high-rated employee.

Gender equalization

Ada cukup banyak perempuan di level manajer sampai partner di EY. Malah mungkin, jumlahnya berimbang antara leader perempuan dan laki-laki? Sayangnya gue nggak punya data statistik yang akurat soal ini. Tapi gue yakin, every woman in this firm will always have an equal chance to be promoted.

Friendship

Berhubung tulisan ini sifatnya subjektif (alias gue tulis menurut pandangan gue secara pribadi), gue mau menambahkan friendship sebagai salah satu hal yang gue sukai dari EY. Dan bukan cuma gue, ada pula bebeberapa kelompok pertemanan lainnya yang gue tau masih sangat erat meskipun udah ada banyak anggotanya yang resign dari EY. Being best friends at work is not something impossible in this place.

Dynamic working environment

Sekali lagi, karena tulisan ini sifatnya subjektif, maka gue juga mau nulis kalo gue suka sama lingkungan kerja yang dinamis kayak waktu gue kerja di EY. Lingkungan seperti ini menurut gue udah berhasil membentuk working attitude yang impressive. Misalnya, kerja cepat, mandiri, terbiasa dengan otodidak, tahan banting, penuh dengan inisiatif, dsb dsb.

Only the qualified ones who will survive until the top

Bukan sesuatu yang perlu gue jelaskan karena sifatnya agak-agak sensitif. Tapi dari semua partner yang gue kenal di EY, none of them were less than a qualified auditor.

 

Mungkin pertanyaannya sekarang, kalo EY sebegitu bagusnya, kenapa gue malah resign? It’s easy to answer: because I did not belong to this place. I did not feel that passion any longer at work. Ditambah lagi, gue punya cita-cita lain yang ingin gue kejar. And to be fair enough, selain 10 kelebihan di atas, pastinya ada juga kekurangan-kekurangan yang pernah jadi bagian dari pertimbangan gue buat resign dari sana. Tapi prinsipnya, gue cuma pengen inget EY yang baik-baiknya aja, sama seperti gue ingin diingat orang lain cuma yang baik-baiknya aja 🙂

 

 

Uang Bukan Segalanya? Think Twice!

Kantor gue baru aja menggelar HRD training buat para pendatang baru, termasuk buat gue yang baru kerja satu bulan di perusahaan ini. Ada beberapa hal yang cukup menarik dari training ini. Salah satunya, saat trainer menanyakan kepada para peserta training, “Dari skala 1 sampai 10, seberapa setuju kamu terhadap statement bahwa uang adalah segala-galanya?”

Mayoritas peserta menyebut angka 7 sampai 9. Gue sendiri, menyebut angka 8. Enggak ada satupun di antara peserta training yang memberi nilai 10.

Jawaban teman-teman training ini cukup mengejutkan gue. Karena setahu gue, pada umumnya, orang Indonesia itu tipe orang yang sering menyatakan pendapat bahwa uang bukanlah segala-galanya. Range jawaban 7 sampai 9 menunjukkan bahwa di mata kami, uang hampir mendekati segala-galanya.

Yang lebih mengejutkan gue adalah statement trainer yang menyatakan bahwa yang benar itu, uang memang segala-galanya. Dengan kata lain, dia sendiri menyebut angka 10 untuk menjawab pertanyaannya sendiri.

Wow, matre banget nggak sih kedengarannya?

Well, coba deh, kita simak alasan dari orang-orang yang kontra dengan pendapat bahwa uang bukan segala-galanya:

  1. Percuma banyak uang kalo hidup enggak bahagia;
  2. Percuma banyak uang kalo sakit-sakitan; dan
  3. Percuma banyak uang kalo hidup kesepian.

Pembelaan dari trainer gue itu…

  1. Untuk hidup bahagia, dibutuhkan uang. Sebut deh, hal-hal apa saja yang bisa bikin kita jadi happy. Kalo buat gue: traveling, nonton film, shopping, hangout bareng temen-temen, main sama si mpus, dan ngeblog. Untuk traveling, shopping, dan hanging out, gue jelas butuh uang. Untuk bisa main si mpus pun, gue harus keluar uang. Gue harus beliin makanan, vitamin, dan obat-obatan. Kalo si mpusnya mati karena nggak terurus, gimana gue bisa main sama dia? Untuk ngeblog pun, gue harus bayar biaya tahunan, dan pastinya, ada biaya listrik buat menghidupkan laptop atau buat nge-charge batre hp supaya bisa gue pake buat ngeblog;
  2. Supaya enggak sakit, kita juga perlu uang. Harus makan sehari tiga kali, kalo perlu menerapkan 4 sehat 5 sempurna. Kalo sampe sakit pun, untuk sembuh kita pasti perlu uang buat beli obatnya. Dan bener kata si trainer, masih mending pengidap HIV yang kaya raya daripada yang hidupnya pas-pasan. Kalo si kaya bisa menikmati sisa hidupnya dengan keliling dunia misalnya. Atau nggak usah selebay itu deh… Enaknya jadi orang kaya, kalo sakit bisa cari pengobatan sampai ke ujung dunia kan?
  3. Supaya kita nggak kesepian, kita nggak bisa selamanya hidup sendirian alias harus punya pasangan hidup. Nah, jangan sebut gue matre kalo gue bilang, untuk berumah tangga, sekedar cinta saja tidak akan pernah cukup. Untuk bisa melangsungkan pernikahan pun, kita membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi kalo nanti sudah lahir anak. Kita perlu beli susu, bayar segala jenis imunisasi, trus mesti mikirin biaya pendidikan si anak juga… Dan lagi-lagi, enaknya jadi orang kaya, mereka bisa memilih pendidikan terbaik – tanpa peduli berapapun biayanya – untuk anak-anaknya.

Uang, memang tidak bisa menjadi single factor untuk membahagiakan hidup kita. Tapi masalahnya, untuk bisa hidup bahagia, segala-galanya pasti akan membutuhkan uang.

Jadi gue setuju, bahwa bagaimanapun, uang adalah segala-galanya.

Akan tetapi tetap saja… gue tidak mau meralat nilai 8 menjadi 10. Saat gue menjawab 8, gue punya pertimbangan tersendiri. 10 itu angka sempurna… dan bagaimanapun, uang – sebanyak apapun jumlahnya, tidak akan pernah bisa membuat hidup gue jadi sempurna. Kenapa?

  1. Untuk dapat banyak uang, diperlukan extra effort yang tidak mudah. Harus rela kerja lembur yang ujung-ujungnya, mengancam kesehatan gue sendiri;
  2. Semakin tinggi pohon, semakin tinggi anginnya. Yang udah gue alami, semakin tinggi jabatan, semakin banyak pula rintangan yang harus gue hadapi. Jadi kalo kamu melihat ada orang-orang yang sangat kaya raya, trust me, there must be so many prices they have to pay to be rich, and it’s not easy at all; dan
  3. Cowok dengan banyak uang jauh lebih beruntung daripada cewek dengan banyak uang. Cewek yang ingin menuai sukses dengan karier-nya sendiri harus ikhlas saat kelak, ada cowok yang ninggalin dia cuma karena gaji atau jabatan si cewek lebih tinggi, karena si cewek kerjaannya lembur melulu, atau karena si cowok enggak merestui pasangannya untuk terus bekerja.

See? Dengan tiga permasalahan di atas, gimana caranya uang bisa bikin hidup gue jadi sempurna? Jadi kalo versi gue… uang memang segala-galanya, karena segala-galanya dalam hidup gue, sudah pasti memerlukan uang. Tapi tetap saja, uang tidak memiliki segala yang gue butuhkan untuk bisa hidup bahagia.

 

33 Things I Learned From My EY Teammates

Ada banyak hal yang terjadi selama 2 tahun 7 bulan gue kerja di EY. Ada banyak pula hal-hal mulai dari yang penting sampe yang nggak penting, yang gue pelajari selama gue kerja di sini. Nah, di blog kali ini, gue udah menuliskan hal-hal yang gue pelajari dari teman-teman setim gue di EY. Here we go

  1. Belajar vlook-up dari Monyk, uncheck allow editing directly in cells dari Aga, berbagai hotkey dari Arlin, pivot table dan berbagai fitur Excel lainnya dari Odel;
  2. Ngikutin Ricky bikin folder khusus file yang udah nggak terpakai;
  3. Dapet banyak pengetahuan baru dari trio managers gue, terutama dari Mas Austa dan Ko Dennie;
  4. Tau banyak hal soal oil & gas industry dari bang Ferdy…
  5. Belajar cara ngakalin timesheet dari Odel, hehehehe;
  6. Kalo gue punya folder yang berisi banyak banget file, maka file yang gue anggap paling penting akan gue kasih angka 1 di depan file name-nya, supaya gampang dicari. Yang satu ini gue nyontek idenya Dandy;
  7. Terinspirasi Monyk… Kalo niat resign ditunda-tunda, yang ada malah bakal lama terwujudnya, hehehehe;
  8. Restoran yang pertama kali gue datengin bareng temen-temen di EY: Pancious, Pan O, Takigawa, Ajitei, My Hanoi Villa, Y&Y, Ootoya, Sopra, Cafe Cartel, Pizza Marzano, Sushitei, The King Palace, Spaghetti House, Syailendra, Dcore,  Sop Buntut Borobudur (yang dengan dodolnya gue pesen hotdog di restoran sop buntut), serta beberapa restoran Sunda. Berkat kalian yang doyan banget makan itu gue jadi banyak nyobain jenis makanan baru. Sayangnya sampe akhir gue tetep aja kurus seperti dulu, hehehehe;
  9. Kepengen punya investasi kayak Monyk dan Dandy. Tapi ternyata sampe akhir gue tetep aja belum punya investasi apa-apa (ya kecuali si apartemen dodol itu sih);
  10. Banyak nanya sama Ntep soal pergi ke luar negeri waktu menjelang pertama kalinya gue pergi ke luar negeri. Waktu itu gue takut bakal ada something wrong. Maklum lah, kalo newbie emang emang masih suka stupid, hehehehe;
  11. Pas mau pergi ke Shenzhen, gue nanya lagi sama si Ntep… bahasa mandarinnya makanan ini ada babinya apa enggak itu apa yah?
  12. Baru tau dari Dini bedanya Korsel sama Korut, sama baru tau dari Dini juga kalo Mesir itu letaknya di Benua Afrika, bukan Asia, hehehehehe;
  13. Berkat Luzy dan Dini… gue jadi tau kalo LARD itu artinya lemak babi! Gara-garanya waktu belanja oleh-oleh di Macau, gue udah baca labelnya nyari tulisan pork atau pig di kue kering yang mau gue beli. Pas udah sampe Jakarta… baru ketauan di label itu ada tulisan LARD yang artinya lemak babi… Huhuhu, maaf yaah teman-temanL
  14. Tau dari Dandy cara asyik kalo mau download lagu: dengerin sample lagunya di Top 100 Billboard.com abis itu baru download lagunya via 4Shared;
  15. Entah kenapa, gue udah nggak bisa lagi download lagu dari 4Shared. Abis itu gue jadi bingung mau download di mana lagi. Ada banyak website yang ujung-ujungnya tetep ambil lagu dari 4Shared. Sampe akhirnya gue dikasih tau sama Dini buat download di beemp3.com yang nggak kalah lengkapnya sama 4Shared;
  16. Gue baru tau dari Ica kalo subtitle buat serial tv itu bisa di-download lewat internet;
  17. Dikasih tau Avi kalo pake face paper itu nggak boleh diseret, bisa bikin kotoran yang nempel pindah dari satu sisi ke sisi yang lain. Terjawab lah sudah pertanyaan gue kenapa kok kalo gue pake face paper malah suka bikin muka jadi berjerawat, hehehehe;
  18. Jadi rajin minum air putih… Banyak banget temen di tim yang negur gue gara-gara cuma minum sedikit air dalam sehari;
  19. Soal cinta-cintaan, banyak belajar dari si Nova. Cuit cuiitt…
  20. Berkat Djong, gue jadi makin nggak percaya sama ramalan. Soalnya dulu si Djong pernah ngeramal gue yang sampe akhir nggak pernah terbukti kebenarannya, hehehehehe;
  21. Mendapatkan jawaban jujur dari Aga kalo cowok itu emang suka bohong, huehehehehe. Biasanya kalo cowok lain jawabannya nggak jauh-jauh dari, “Tergantung cowoknya… Nggak semuanya suka bohong kok, Fa.”
  22. Berkat ngobrol-ngobrol  bareng Luzy, gue jadi ngerasa punya teman senasib… Denger ceritanya dia kayak ngedenger cerita diri gue sendiri, hehehehe;
  23. Niru kebiasaannya si Ica… kalo nerima bon di restoran, harus dicek dulu. Sebelumnya gue selalu langsung bayar aja setiap terima bon di restoran… Tapi tetep aja sih, kalo jumlah pesenannya terlalu banyak gue ngecek isi bonnya juga percuma aja secara gue udah lupa sama pesenan gue sendiri, hehehehe;
  24. Berkat kerja di tim ini, gue jadi tau bahwa bisa berteman baik, bahkan bersahabat dengan rekan kerja itu bukan sesuatu yang mustahil. Boleh aja ada gesekan saat kerja bareng, tapi konflik pekerjaan itu tetap enggak boleh merusak pertemanan yang sudah terjalin… cieee;
  25. Dari Hendra, Yoga, dan Jerry, gue jadi tau bahwa baru atau udah lama kenal enggak menentukan panjang-pendek dan personal touch dalam isi kartu ucapan farewell. Meskipun baru kenal sama mereka bertiga, tapi gue suka banget sama amplop yang berisi ucapan dari mereka… Kalimatnya panjang-panjang, lucu, dan personal banget, hehehehe;
  26. Jadi terharu sama si Rini… Bukan cuma bisa memaklumi jelek-jeleknya gue, tapi dia juga rela jadi panitia farewell gue tanpa pernah gue minta. Udah gitu kata Arlin, anehnya Rini yang masih baru itu malah lancar buat urusan penagihan, hehehehe. I really want to have such a big heart like Arlin, Rini, and Nana also:D
  27. Jadi terlatih buat ngomong dengan suara pelan. Secara temen-temen di sini kupingnya udah kayak kelelawar… Cuma ngomong bisik-bisik aja mereka bisa denger loh…
  28. Kecepatan makan gue jadi meningkat… Walau tetep selesai paling akhir, seenggaknya udah lebih cepet daripada dulu;
  29. Gara-gara Dini bilang gini, “Elo kan sama kayak ‘mami’ lo Peh, drama queen.” Gue langsung mikir, “Oh no! I don’t wanna be a drama queen!” Gue udah berusaha berubah, tapi ternyata sampe seminggu yang lalu, Aga masih aja bilang begini, “Gue kira cuma ‘mami’ lo aja Peh yang drama queen, huahahahaha.”
  30. Terinspirasi Dandy yang suka ngobrol sama banyak orang… Tadinya gue tipe orang yang lebih suka nempel sama beberapa orang tertentu aja. Tapi ternyata berteman sama banyak orang itu rasanya menyenangkan^^
  31. Terpacu buat jadi orang sabar, terutama kalo lagi kerja, kayak Nana, Arlin, Dandy, Rini, dan Ko Adi;
  32. Secara nggak sadar kerja di EY bikin gue jadi lebih tangguh. Ngangkat-ngangkat kardus berisi ratusan voucher, ngangkut WP dari dan ke kantornya klien, sama jadi lebih mandiri setelah kerja di sini. Secara cewek-cewek lain di tim ini tangguh-tangguh semua gitu, hehehehe;
  33. Selama kerja di EY, gue banyak belajar gimana cara mendapatkan apa yang gue inginkan, sekaligus belajar nerima kenyataan bahwa kadang-kadang, sekeras apapun gue berusaha, tetep ada hal-hal yang enggak akan pernah bisa gue dapetin. And I think they’re all the things which grew me up🙂

My EY Farewell Dinner

Hari ini, sekitar satu bulan sejak gue resign dari EY, gue baru sempat menggelar farewell dinner buat temen-temen setim. Karena udah terlanjur janji, jadilah gue nraktir farewell di Sopra Ristorante Pacific Place.

Senang rasanya hari ini kumpul lagi sama wajah-wajah yang udah lama gue kenal, yang dulu gue lihat hampir tiap hari, yang kalo lagi musim lembur, gue bisa lihat muka mereka mulai dari pagi sampe pagi lagi. Nyaman juga rasanya kembali denger suara-suara yang tanpa perlu melihat mukanya, gue bisa langsung tau siapa yang lagi berbicara. Setelah seminggu berusaha keras beradaptasi di kantor baru, balik lagi ke tengah-tengah mereka rasanya udah kayak pulang ke rumah, hehehehe.

Berikut ini gue bikin summary hal-hal yang gue sukai dari acara farewell gue hari ini:

  • Gue seneng hari ini banyak yang dateng. Tambah seneng lagi, teman-teman yang gue kira nggak bakal dateng (karena sebelumnya mereka suka absen di acara kantor), hari ini menyempatkan diri untuk hadir di acara gue;
  • Tadinya gue khawatir nggak ada kamera untuk mengabadikan acara ini. Tapi ternyata, akhirnya gue malah punya dua kamera sekaligus. Yang satu minjem sama Dini, satu lagi minjem sama si Luzy, hehehehe;
  • Gue seneng sama kado-kado yang gue terima… Kadonya ada banyak! Serasa lagi berulang tahun, hehehehe. Udah gitu uniknya, barang-barang yang gue terima sebagai kado farewell itu barang-barang yang gue banget atau barang-barang yang emang udah berniat gue beli beberapa hari belakangan ini. Misalnya:
  1. Gue pengen beli dompet baru… Soalnya dompet pinky yang gue beli di Hongkong itu gampang banget kotor. Tapi waktu gue mau beli, gue mikir… Siapa tau nanti dapet dari kado farewell. Dan ternyata bener aja… gue dikasih dompet sama mereka, hehehehe;
  2. Motif tas dan dompet Charles & Keith (merk tas dan sepatu favorit gue) itu bener-bener gue banget: warna hitam dengan pola quilt alias pola yang biasa ditemukan di bed cover;
  3. Dalem sehari gue dapet 3 barang Hello Kitty sekaligus! Yang paling lucu itu penggorengan Hello Kitty. Awalnya gue bingung… kenapa gue dikasih penggorengan yah? Apa maksudnya gue diksuruh belajar masak gitu? Ternyata pas penutupnya dibuka, itu penggorengan berbentuk kepala Kitty! Gue jadi bisa bikin telor atau pancake berbentuk kepala Kitty pake peggorengan ini:D
  4. Kado bajunya juga berguna banget. Soalnya gue tipe orang yang jarang beli baju buat di rumah. Makanya pas mau ngekos gue jadi panik… Baju rumah gue jelek semua! Kebanyakan tangan pendek pula… Ini kado bener-bener berguna banget, hehehehe;
  5. Gue lumayan kaget waktu liat isi kado dari Nana… piring Hello Kitty yang sempet gue taksir waktu lagi browsing di online shop yang ada di Facebook. Ini juga berguna banget buat gue yang baru aja ngekos. Tapi di satu sisi gue ngerasa agak sayang… Takut piringnya dipecahin sama tetangga kamar sebelah, hehehehe;
  6. Gue juga sempet kepikiran mau beli jam buat di kosan. Lagi-lagi gue mikir… Kayaknya jangan belanja apa-apa dulu sampe terima kado farewell. Siapa tau nanti udah dibeliin sama temen-temen gue… Dan yang surprised dari kado jam meja ini, pas jamnya gue balik, eeh, ada dua foto cantik gue di dalam bingkainya! Pasti bakal langsung gue pajang di rak kamar kosan; dan
  7. Kado terakhir isinya kayak parcel… Ada facial wash Acnes, obat jerawat Acnes, kapas Acnes, dan 2 face paper merk Acnes juga (bisa buat stok gue sebulan nih!). Gue sempet mikir-mikir, siapa yang bisa tau gue pake merk ini? Ternyata idenya si Rini yang pernah pergi stocktaking bareng gue. Trus di parcel itu ada satu bungkus cokelat Bueno: cokelat yang gue sering sesumbar cokelat paling enak sedunia, hehehehe.
  • Hal Lain yang bikin gue seneng banget adalah membaca isi kartu ucapan dari teman-teman. Rasanya kayak dapet surat cinta, hehehehe. Ada yang isinya lucu (favorit gue kartu dari Yoga, Hendra, dan Jerry), mengharukan (ada beberapa yang gue nggak sangka mereka punya pandangan seperti itu soal gue… jadi geer, hehehee), ada pula yang bikin kreasi tulisan di kartu ucapan… Yang gue nggak kalah seneng waktu baca kartu dari Ko Dennie, mantan manajer gue. Biasanya dia itu kalo nulis ucapan pendek-pendek banget. Isinya cuma semoga sukses dan tanda tangan. Tapi di kartu gue, Ko Dennie nulis sampe 3 baris, ditambah satu baris bertuliskan ‘good luck’ dan satu baris nama di bawah tanda tangan. Sebenernya yang ini sih gara-gara dulu gue pernah bilang, “Ko, kalo buat gue nanti, harus tulis yang panjang yah, hehehehehe.”
  • Gue seneng hari ini berhasil memberanikan diri untuk melakukan apa yang ingin gue lakukan di farewell ini. Cuma hal kecil, tapi biasanya, gue nggak bakal berani bertindak kayak gitu. Tapi gue pikir, toh gue udah resign. Mau beredar gosip yang aneh-aneh juga gue udah nggak bakalan denger. Jadi ya udah, hajar aja, hehehehe.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah, di dalam taksi gue banyak merenung… I had a great life, great friends, great job at EY… Dan jujur aja, gue justru semakin menyadari hal itu setelah gue resign dari EY. EY selalu jadi topik pembicaraan favorit gue di kantor baru. Gue ternyata ngerasa bangga pernah kerja di sini. Dan gue selalu ngerasa happy kalo ditanya begini sama temen-temen baru gue, “Enak nggak kerja di EY?” Karena kalo ada yang nanya kayak gitu, gue jadi punya kesempatan buat menceritakan masa-masa menyenangkan selama gue kerja di kantor ini.

Lalu di akhir perenungan gue itu (aduh, gaya bahasa gue mulai nggak banget nih, hehehehe), gue bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “What was that the big reason which pushed me to leave my life in such a great place like this?”

Isi kartu ucapan bisa menjawab pertanyaan gue itu… Gue resign dari EY untuk mengejar cita-cita gue yang lebih besar… Rencana kuliah S2, atau kalo perlu berusaha kejar beasiswa ke luar negeri, dan pastinya, rencana buat merampungkan novel perdana gue. Tapi coba dicatat yah, wishes kalian semoga dengan resign dari EY gue bisa cepet cari jodoh itu sama sekali enggak bener. Nggak pernah tuh, gue punya alesan resign dari EY karena ngerasa susah cari jodoh gara-gara lembur melulu. Tapiii, ya amin aja deh kalo berkat resign status Facebook gue jadi bakal berubah jadi ‘in a relationship’ hehehehehe.

Jadi karena gue udah ninggalin satu bagian yang istimewa dalam hidup gue itu, maka hasilnya harus setimpal. Gue harus segera mengejar impian-impian gue yang sempat terbengkalai semenjak gue mulai kerja di EY. Gue harus make sure bahwa resignation gue tidaklah sia-sia.

All guest, minus Ko Adi yang udah pulang duluan.

Balik lagi ke topik farewell… gue mau ngucapin terima kasih buat semua yang udah dateng. Special thanks buat dua EO gue: Rini sang bendahara dan Arlin yang udah dengan baik hatinya minta dikirimkan daftar menu Sopra langsung ke restorannya. Terima kasih juga buat kado-kadonya, terutama buat temen-temen yang udah menyisihkan waktu buat beli semua kado farewell itu. One additional thanks buat Nana yang ngasih gue private present yang lucu banget itu (si mbak yang kerja di rumah gue langsung histeris ngelihat kado itu saking lucunya, hehehehe). Nggak lupa terima kasih banyak untuk kartu ucapannya… I will keep those cards carefully and I think I will read them again anytime I need support when my life is knocking me down. Wishes di kartu itu juga akan selalu jadi suntikan semangat buat gue mewujudkan impian-impian gue.

Oh iya, buat yang belum tahu, gue berencana bikin reuni 10 tahun sejak tanggal resignation gue. Gue harap sih, kita nggak perlu ya nunggu 10 tahun untuk kumpul-kumpul lagi. Tapi tetep aja, nanti tanggal 4 April 2021, gue pengen kita semua kumpul-kumpul full team. Semoga saat tanggal itu tiba, kita semua udah berhasil mencapai apa yang ingin kita capai dalam 10 tahun ke depan.

Wish you all the best dan jangan lupa mampir-mampir ke Pluit yaaa, hehehehehe.

My First Week in The New Office

 Hari ini tepat seminggu sejak hari pertama gue kerja di kantor baru. Lalu gimana, seminggu pertama gue di kantor ini?

For your information, induk perusahaan dari tempat gue kerja ini dulunya mantan klien gue waktu masih di EY. Jadi boleh dibilang gue udah cukup lama kenal sama atasan gue di sini. Dan sejauh ini, belum ada masalah antara gue dengan atasan. No surprise karena sejak awal, hubungan gue sama dia emang terbilang sangat baik.

Lalu sama rekan-rekan kerja… ini dia yang nggak gue sangka. Dulu, minggu-minggu pertama gue kerja di EY, gue sempet pendiem banget. Sampe dikasih julukan anak autis sama salah satu teman yang lebih senior. Waktu itu gue masuk kerja sendirian, sedangkan tiga anak baru lainnya udah masuk beberapa bulan lebih awal daripada gue. Di sana gue nggak kenal siapa-siapa, dan awalnya, mereka semua kelihatan cool banget gitu. Mau ngobrol juga gue bingung mau ngomongin apa. Bener-bener nggak nyangka pada akhirnya gue bisa berteman baik sama mereka semua, dan, berteman karib dengan beberapa di antaranya. 

Nah, seminggu yang lalu gue sempat khawatir penyakit pendiam gue itu bakal kumat lagi di kantor baru. Udah terbayang hari-hari pertama yang terasa sangat-sangat menyebalkan itu. Gue juga sempat khawatir, gue yang termasuk minoritas di tempat ini (bukan bermaksud untuk rasis, but it does happen so many times in so many places in Indonesia) akan agak-agak tersisih dari pergaulan kantor. Dan yang paling bikin gue panik… Nanti gue makan siang sama siapa??? Tapi ternyata, semua itu cuma sekedar ketakutan gue belaka.

Gue senang hampir semua orang di sini menyambut gue dengan senyum saat gue berkenalan dengan mereka. Ada cukup banyak yang terlebih dahulu membuka obrolan sama gue. Bukannya gue sombong, tapi soal pergaulan gue ini termasuk kaku kalo baru kenal. Rasanya susah banget gitu mau ngajakin orang lain ngobrol duluan. Terus hebatnya lagi, ada orang-orang yang saat berpapasan dengan gue entah di jalan, WC, atau lorong kantor, dengan ramah menyapa gue terlebih dahulu. Sekali lagi bukannya gue nggak mau negur duluan… Masalahnya dalam satu hari gue kenalan dengan begitu banyak orang dan gue enggak bisa langsung inget wajah dan nama mereka satu per satu. Bagian yang paling asyik, gue bisa langsung ngobrol seru bareng dengan beberapa orang teman baru di kantor ini!

Selain lingkungan kantor yang so far cukup menyenangkan, gue juga menyukai kawasan baru tempat gue tinggal. Mall yang terletak persis di sebelah kantor adalah bagian favorit gue dari kawasan ini. Ada banyak toko favorit gue di Emporium Pluit; mall yang bersebelahan sama kantor gue itu. Kalaupun bukan toko favorit gue, kebanyakan toko di sana range harganya masih masuk akal, alias masih terjangkau oleh gaji bulanan gue. Beberapa kali gue nggak sabar pengen cepet pulang cuma karena kepengen mampir ke mall sebelah kantor. Alasannya sih, harus belanja buat keperluan kosan, hehehehe.

The best part of my new job is my new daily routine. Sekarang gue bisa tidur minimal 6 jam setiap hari. Bisa sarapan santai sambil nonton tv, dandan santai sambil nonton tv juga, terus pulang kerja sempet nonton sinetron di RCTI pula. Udah gitu sekarang ini gue enggak lagi mengalami stres dan capek di jalan secara kantor gue cuma 5 menit jalan kaki dari tempat kos. Pulang kerja juga bisa sering tenggo. Kalopun lembur nggak pernah sampe menyentuh jam 10 malam. Dan yang nggak kalah serunya, sekarang gue bisa tampil gaya setiap hari!

Dulu waktu masih di EY, lembur yang bisa sampe lewat tengah malam bikin gue selalu bangun kesiangan. Sadar diri udah kesiangan, yang ada gue jadi jarang banget dandan. Pergi ke kantor cuma pake bedak dan lipbalm aja. Soal pilihan baju juga yang standar-standar aja. Dalam bayangan gue, males banget pake baju keren-keren kalo harus kepanasan di angkot, trus abis itu lanjut lagi desak-desakan di dalam bis TransJ. Jadi gue jelas lebih prefer baju yang nyaman dan nggak bikin ribet, nggak peduli keliatan biasa dan enggak fashionable… Tapi bukan berarti sekarang ini gue dandan abis-abisan loh yaa. Gue tetep dandan natural aja kok. Cuma eye shadow dan maskara, ditambah sedikit eyeliner kalo lagi centil. Soal baju juga enggak yang segimana hebohnya. Bedanya sama dulu cuma soal variasi bajunya aja. Kalo dulu kan cuma kemeja plus celana panjang aja tuh, nah kalo sekarang gue padu sama cardigan/vest/bolero/shoulder cape/syal/obi/kalung panjang.

Hal menyenangkan lainnya, jumlah jerawat di wajah gue udah berkurang drastis karena udah jarang lembur dan jarang tersentuh polusi Jakarta (baca: jarang kena semprot asap bis kota waktu lagi nunggu kendaraan umum). Untuk yang satu ini ditunjang juga sama perawatan intensif yang udah gue mulai sejak beberapa bulan belakangan ini sih. Tapi semenjak resign sampe sekarang, kulit wajah gue jadi lebih mulus lagi dari sebelumnya. Sekarang gue tinggal konsen memudarkan bekas-bekas jerawatnya aja, atau terkadang mengoles obat jerawat untuk mencegah jerawat kecil jadi besar.

Dan ternyata, tampil cantik dan gaya itu rasanya menyenangkan! Gue bukannya nggak sadar ada semakin banyak orang yang sekedar ngelirik atau terang-terangan menatapi gue… Atau orang-orang yang bener-bener nengok waktu gue lewat. Yang paling lucu itu kejadian hari ini… ada satpam gedung kantor yang terus menatapi gue sambil nahan pintu lift buat gue. Saat gue udah masuk lift, dia menoleh sambil bilang begini kepada temannya di luar lift, “Gila cakep banget!” Dan semua orang di dalam lift itu langsung serempak ngelihat ke arah gue, hohohohoho. Tapi sebenernya gue ngerasa si satpam itu agak berlebihan juga sih. Karena muka gue sih masih begini-begini aja, nggak juga super cantik kayak si Julie Estelle, hehehehe.

Anyway… sebenernya enggak pernah terpikir di benak gue untuk kerja di divisi accounting. Jujur saat menerima pekerjaan ini pun, gue masih dihantui rasa takut akan kebosanan yang mungkin mendera. Tapi sejauh ini, gue belum melihat ada peluang untuk bosan. Di sini gue enggak punya tanggung jawab untuk input apapun ke dalam sistem. Gue cuma bertugas untuk monitoring dan review aja. Masalahnya, I’m not good at clerical job such as input transaction into the system. Gue cepet ngerasa jenuh sehingga akhirnya malah jadi enggak teliti saat mengerjakan hal yang berulang itu. Dan yang paling menyenangkan dari pekerjaan ini, gue diberi keleluasaan untuk merapihkan sistem pembukuan di kantor ini. Gue jadi punya ruang untuk berinovasi, mencetuskan ide-ide, yang juga sekaligus menguji dan mengembangkan accounting skill yang gue miliki. Big boss gue cuma bilang, “I want everything in this place is complied with PSAK. I expect you to contribute any change and improvement. Make sure that everything will be ok in the next audit. Since you are an ex-auditor, I’m sure you know what you have to do.”

I know it probably to early for me to conclude that my life is getting better in this place. Lama kelamaan pasti akan ada up and down, berbagai macam konflik, rasa bosan, atau mungkin, rasa ingin segera resign dari kantor ini.  However, sebelum semua itu terjadi, all I want to say is so much thanks to God for this opportunity. Eks bos gue di EY bilang, dia nggak nyangka pada akhirnya gue malah pindah jadi klien. Dan sejujurnya gue juga nggak nyangka bakal bersedia pindah ke kantor klien. Karena sejak awal bekerja, gue enggak pernah mau direkrut sama klien. Tapi di satu sisi gue merasa beruntung… Hanya beberapa hari setelah pulang liburan pasca resign, dalam keadaan CV masih berantakan, gue langsung mendapatkan pekerjaan baru yang dalam beberapa hal tetap sesuai dengan keinginan gue.

Anyway… masih ada banyak plan yang belum gue sempat wujudkan. Gue belum cari dokter gigi baru, belum sempet cari tempat les buat TOEFL preparation, belum mulai nerusin novel gue lagi, bahkan, blog edisi liburan gue masih belum selesai diketik! Well, semoga setelah closing pertama gue nanti, gue bisa mulai mewujudkan rencana-rencana itu, satu per satu. Dan semoga, keputusan gue untuk bekerja di perusahaan ini adalah keputusan terbaik yang bias gue ambil. Well, let us wait and see.

Last Day at EY

Akhirnya… setelah tertunda satu tahun lamanya, hari ini udah hari terakhir gue kerja di EY. Kadang rasanya masih nggak nyangka, akhirnya gue berani resign dari EY… Padahal gue belum dapet kerjaan baru loh. Terus gimana, rasanya resign dari EY?

Well… jujur semenjak seminggu yang lalu, mulai terasa sedihnya mau ninggalin EY. Tiba-tiba seminggu yang lalu, waktu mau tidur gue terbayang sama gedung BEJ lantai 5 di zone 2 (tempat gue dan teman-teman biasa duduk kalo lagi di kantor). Gue ngebayangin gue keluar dari lift di lantai 5, nempelin id card ke alat sensor di depan pintu masuk, masukkin password supaya pintunya bisa dibuka, kemudian melangkah masuk menuju zone 2… ngelewatin booth manajer-manajer gue (yang biasa diiringi deg-degan kalo gue datengnya kelewat siang), sampai akhirnya celingak-celinguk di zone 2 nyari tempat duduk yang masih kosong.

Terus tiba-tiba gue sedih harus berpisah sama laptop yang udah dua tahun nemenin gue. Nemenin gue lembur, chatting berjam-jam, nulis novel, ngetik personal diary… Ini laptop bener-bener saksi perjalanan hidup gue 2 tahun belakangan ini banget deh. Nggak nyangka pisah sama si laptop lemot bisa bikin gue sedih juga. Padahal kemaren-kemaren gue sering marahin si laptop karena suka lemot di saat yang genting, hehehehe.

Sebenernya gue seneng akhirnya berani membuat langkah baru dalam hidup gue. Kalo pagi hari selama seminggu belakangan ini juga rasanya langkah gue enteng banget. Tapi entah kenapa kalo udah malem, gue suka ngerasa agak-agak gimanaaa gitu. Terus sedih rasanya waktu mulai beresin meja kerja gue di kantor klien, beresin loker gue di kantor EY, beresin file kerjaan buat ditransfer ke temen setim…

Semalem gue sampe mikir begini di dalam hati, “Kenapa gue ngerasa sedih yah? Ini kan keputusan gue sendiri! Dan kenapa temen-temen gue yang udah duluan resign nggak ada yang kelihatan sedih di hari terakhir mereka?”

Tadi sore, setelah gue balikin laptop dan id card ke asset management EY, gue balik lagi ke lantai 5 buat pamit sama temen-temen yang ada di sana. Aneh banget rasanya waktu tadi mau masuk ke kantor harus nunggu dibukain pintu dari dalem sama orang lain… Dan waktu melangkah menuju zone 2… entah kenapa gue jadi deg-degan.

Yang pertama gue hampiri itu si Arlene, temen yang udah dua kali kerja satu engagement sama gue, pernah juga satu kali tugas ke luar kota bareng gue. Gue sempet bingung, enaknya bilang apa… Suara gue juga sempet agak gemeteran waktu pamit sama Arlin. Entah dia nyadar apa enggak sama perubahan suara gue itu… Abis dari Arlin, gue keliling zone 2 buat nyalamin temen-temen yang gue kenal. Abis itu, barulah gue pamit sama 3 manajer gue… Sempet ngobrol-ngobrol sama mereka, haha-hihi seperti biasa, salaman, abis itu gue naik ke lantai 7, nyari Luzy, temen seperjuangan gue di engagement terakhir. Terus di lantai 7, gue, Luzy, dan Listya asyik foto-foto narsis yang sempet ngalangin orang-orang yang mau lewat, hehehehe.

Pintu kaca... saksi bisu setiap perpisahan.

Abis dari EY gue langsung beranjak ke kantor klien yang kebetulan letaknya deket banget sama kantor EY di BEJ. Gue sengaja ke sana karena sebagian besar temen-temen setim gue masih sibuk di kantor klien. Sampe sana gue langsung ngajak mereka foto bareng. As usual kalo mau foto-foto pastilah pake acara heboh dulu. Setelah foto-foto, again, gue salamin temen gue satu per satu…

Setelah selesai bersalam-salaman, gue pun pulang ke rumah… Tadinya sempet mau pergi nonton, tapi nggak jadi karena filmnya nggak ada yang menarik. Kemudian sambil nunggu bis, gue bikin status begini di Facebook gue, “Biasanya orang lain kalo hari terakhir kerja sibuk bawa-bawa kardus dan kantong plastik. Kalo gue malah sibuk nenteng-nenteng kamera digital buat foto-foto, hehehehe.”

Begitu sampe rumah… gue menyadari satu hal: hari ini pun, di mata orang lain, gue enggak kelihatan sedih sama sekali. Malah ada beberapa teman di kantor yang bilang, “Si Ipeh mukanya sumringah banget.” Waktu gue lagi ngobrol-ngobrol sama si bos, ada temen yang lewat, sempet ngegodain gue yang mau resign sambil ketawa-tawa. Gue juga ikut ketawa, nyengir-nyengir, cekikikan… Ditambah lagi isi status Facebook gue itu juga sama sekali enggak menunjukkan kesedihan yang gue rasakan…

Jadi ternyata, begitulah rasanya resign dari EY… Lega, seneng, dan bangga sama diri sendiri karena udah berani mengambil keputusan besar, tapi tetap sedih, khawatir, dan sedikit takut untuk melangkah pergi.

Gimana kalo kerjaan baru gue malah nggak lebih baik dari EY?

Gimana kalo temen-temen di tempat baru nggak asyik kayak di EY?

Gimana kalo tiba-tiba gue kangen sama temen-temen di EY?

Gimana kalo resign dari EY nggak bikin gue jadi lebih happy?????

Ternyata yah, ada untungnya juga temen-temen yang paling deket sama gue di EY udah pada resign duluan. Seandainya hari ini gue yang resign duluan dan ninggalin mereka semua sekaligus… haduuuh, nggak kebayang deh gimana rasanya. Dan sekarang gue jadi tau… Gue rasa waktu itu mereka  (temen-temen yang udah resign duluan) juga sama kayak gue: sedih, tapi nggak mau kelihatan sedih.

Gimanapun, dan apapun yang gue rasakan beberapa hari belakangan ini, insyaallah gue enggak nyesel mutusin untuk resign. Kalo emang gue udah tau nggak ingin selamanya kerja di sini, ya kenapa harus nunggu lagi? Life is short, dan gue takut nggak keburu mencapai apa yang gue inginkan kalo nggak buru-buru resign. Lagipula toh, gue udah nunggu cukup lama untuk resign dari sini. So I do believe this is a right thing for me to do.

Bye bye EY… Sure I’m gonna miss you so:)

Things To Do Before Resignation & Upcoming Holiday

 Iseng-iseng, gue pengen post di sini daftar things to do yang tadinya cuma gue buat sebagai personal reminder di laptop gue. Oh ya, sebelumnya jangan heran kalo daftar things to do before resignation dan holiday ini gue gabung jadi satu… Soalnya minggu depan, gue pergi liburan hanya satu hari setelah resign, hehehehe. Lagipula karena sebagian besar persiapan liburan itu melibatkan komputer dan printer, maka lebih baik semuanya gue kerjakan sebelum resign, mumpung laptop Lenovo kesayangan gue ini belum dikembalikan ke EY untuk selama-lamanya…

 

Things to do for resignation:

Kumpulin alamat e-mail temen-temen kantor buat dikirimin farewell notes à Done.

Bikin farewell notes yang buat dikirimin ke seluruh penjuru EY Jakarta à Done.

Bikin farewell notes khusus buat temen-temen setim gue à Partially done.

Pindahin koleksi foto dan MP3 dari laptop kantor ke external hard disk-nya Dini (ceritanya numpang dulu sampe nanti gue punya laptop pribadi, hehehehe…) à Not yet done.

Pindahin data-data kerjaan dari laptop kantor ke USB no. 1 (gara-garanya si Dini nggak mau gue titipin file kerjaan, jadi terpaksa di-split ke USB juga deeh, hohohoho) à Not yet done.

Pindahin data-data pribadi (kayak personal diary, unpublished blog, draft novel, foto-foto ‘rahasia’) dari laptop kantor ke USB no. 2 à Not yet done.

Ngerapihin file kerjaan, dipilihin yang penting dan nggak penting, buat diwariskan ke penerus kerjaan gue di kantor à Partially done.

Burn CD berisi file kerjaan buat si bos à Not yet doneActually, gue masih belum tau gimana cara nge-burn CD pake laptop kantor gue ini… Sigh…

Settle utang-piutang sama temen-temen sekantor (efek kalo makan rame-rame suka gantian nalangin, jadi utang-piutang suka bersifat net-off, hehehe) à Not yet done.

Beresin loker di kantor à Not yet done.

Ngisi formulir feedback buat EY à Not yet done.

Melengkapi prosedur clearance di EY (buat yang satu ini aja daftarnya udah panjang banget!) à Not yet done.

 

Things to do for holiday:

Booking hotel di Malasyia (Yup, masih belum booking karena sempet kehabisan ruangan di hotel incaranL Terpaksa cari hotel lain deh!) à Not yet done.

Print booking voucher hotel di Hongkong à Not yet done.

Cari travel agent buat 1 hari di Macau à Not yet done.

Print rencana perjalanan à Not yet done.

Print tiket pesawat à Not yet done.

Print daftar restoran halal di Hongkong à Not yet done.

Tuker duit ke HKD à Partially done… Masih kurang banyak nukernya.

Tuker duit ke MYR à Not yet done.

Packing à Not yet done.

 

My Last Peak Season At EY

 Musim lembur terakhir gue di EY bener-bener musim lembur paling parah yang pernah gue alami. Sebelumnya, gue lembur sampe lewat tengah malem cuma selama dua minggu untuk satu engagement. Itu puh di tengah-tengah minggu, gue masih suka curi-curi waktu pulang cepet (baca: pulang jam 9 malem itu sama aja pulang cepet!). Kalo lembur di hari Sabtu pun, gue enggak pernah lewat dari jari jam 9 malem.

Tapi musim lembur gue tahun ini bener-bener bikin capek! Dari bulan pertama peak sesason (sekitar bulan November 2010) gue udah mulai lembur sampe antara jam 10-12 malam. Padahal waktu itu, yang lain masih bisa santai-santai. Jadilah gue cukup sering lembur sendirian di kantor klien!

Kemudian akhir bulan November gue pergi stock take, sampe dua kali stock take ke dua kota yang berbeda. Stock take yang ke dua di tahun ini jauh lebih berat daripada stock take yang sebelum-sebelumnya. Bayangin aja, pulang stock take sekitar jam 5 sore, sampe guest house gue langsung kerja lagi sampe jam 12 malem… Terus besokannya gue mesti ngikutin jam kerja klien yang udah masuk jam 7 pagi!

Pertengahan bulan Desember sampe awal Januari gue pindah dulu ke klien lain. Karena awal tahun 2011 gue udah harus balik lagi ke klien utama gue, lagi-lagi gue terpaksa kerja lembur setiap hari. Paling cepet pulang jam 10, paling lama pernah sampe jam 4 Subuh. Gila banget jam lemburnya? Tunggu dulu cerita gue di bulan Februari dan Maret.

Sampe pertengahan Februari, gue masih kerja santai. Gue masih bisa pulang sebelum jam 10 malam. Minggu ke tiga Februari, gue mulai lembur sampe sekitar jam 12 malem. Lalu mulai minggu ke empat Februari… haduh, jangan tanya deh. Paling cepet pulang jam 2, dan paling lama pulang jam 4 Subuh! Sampe nyari taksi buat pulang ke rumah aja udah susah setengah mati.

Pertengahan Maret gue sempet santai sedikit. Setiap hari bisa pulang sebelum jam 2 pagi. Pernah juga di tengah minggu gue pulang sebelum jam 12 malem saking capeknya.

Waktu mulai bikin report, lembur kembali gila-gilaan… Sampe hari Minggu pun gue tetep kerja sampe jam 6 pagi keesokan harinya! Tidur nggak sampe 4 jam, Senin siang gue udah sampe kantor lagi. Lembur lagi sampe jam 5 pagi, abis itu tidur sebentar lagi, dan dateng siang lagi. Sampai akhirnya… Rabu malem gue resmi sakit. Badan panas, hidung tersumbat sampe susah napas, batuk, pilek, pusing dan agak mual pula!

Yang paling gue benci dari peak season itu setiap pagi jadi susah banget bangun tidur. Nggak pernah bisa tuh, alarm bunyi gue langsung bangun dari tempat tidur. Pernah pagi-pagi gue bilang begini sambil guling-guling di atas tempat tidur: “Aduuuh, sebentar lagi gue mati deh.” Yang ada gue malah diketawain sama pembantu di rumah…

Banyak orang yang menduga, gue resign dari EY karena capek dengan ritme kerja gila-gilaan seperti ini. Ya emang capek sih, tapi sama sekali bukan itu yang bikin gue kepengen resign. Bukan mustahil setelah ini, gue kerja di tempat lain yang sama gilanya. Buat gue, nggak papa kerja lembur, asalkan gue menikmati pekerjaannya! Seringkali selama kerja di EY, gue mengeluh gini di depan laptop, “Aduuh, sumpaah, gue udah bosen banget ngerjain beginian.” Dan terus terang aja… gue males banget ngebayangin selama gue masih kerja di EY, maka di engagement berikutnya gue akan kembali mengulang pekerjaan yang sama.

Sebenernya nggak ada yang salah ya, dengan profesi auditor. Gue sendiri suka kagum sama manajer dan partner gue yang kelihatan sangat-sangat menikmati pekerjaan ini. Dan gue juga kepengen, bekerja dengan sepenuh hati kayak mereka… Hanya saja, tempatnya bukan di EY. Semoga blog ini bisa menjawab pertanyaan kenapa gue memutuskan untuk resign.

Well, berhubung waktu gue di EY tinggal seminggu lagi, masih banyak yang harus diberesin! Thank you for reading!

My Plan After Resignation

 

Akhirnya… hari ini gue jadi juga mengajukan surat resign. Gila ya… pertama kali gue bikin surat resign di laptop gue itu udah hampir setahun yang lalu loh. Sekitar bulan April 2010 kalo nggak salah. Waktu itu akhirnya batal karena suatu hal yang nggak bisa gue sharing di public space kayak gini, hehehe… Abis itu sempet bikin lagi bulan Desember 2009, udah sampe kasih tau manajer-manajer tapi dinego buat stay sampe report klien gue release bulan Maret tahun ini. Naah, berhubung udah masuk ke bulan Maret, jadilah gue masukin surat di awal bulan supaya udah bisa efektif resign di bulan April! And you know what… my effective date will be only one day before my trip to Malasyia, Hongkong, Macau, and Shenzhen! I’m definitely gonna start fresh, hehehehe.

Well, pertanyaan standar dari tiap orang yang baru tau gue mau resign apa lagi kalo bukan: “Mau pindah ke mana?”

Actually, I haven’t found a new job yet. Tapi kalo cuma sekedar rencana, gue punya banyak! Nah, berikut ini daftar pilihan rencana gue setelah resign bulan depan…

Kalo gue ngincer jabatan… gue bakal apply ke perusahaan yang ukurannya sedang. Kayaknya susah dapet jabatan tinggi di perusahaan besar (i.e. oil & gas company sekelas Medco) dengan pengalaman kerja gue yang baru 3 tahun.

Kalo gue ngincer gaji gede… gue bakal apply ke perusahaan besar dalam industri khusus (again, in example Medco) atau bisa juga perusahaan kecil-menengah dengan resiko gue mesti kerja multi-tasking.

Kalo gue ngincer career and self developmentgue bakal apply ke perusahaan lain yang sifatnya memberikan jasa konsultasi, audit, atau due diligence. Gue tertarik banget sebenernya kerja di consulting group. Tapi sayangnya, kualifikasi gue saat ini belum mencukupi. Mesti ambil S2 dulu kayaknya sih.

Kalo gue ngincer jenjang pendidikan… ya otomatis gue harus kuliah lagi. Sayangnya belum ada cukup dana untuk itu, hehehehe.

Kalo gue ngincer kepengen bikin bisnis sendiri secepatnya… again, dana belum mencukupi… Ditambah lagi, gue ngerasa belum cukup berpengalaman untuk mendirikan bisnis yang sifatnya serius.

Kalo gue ngincer novel gue cepet diterbitin… gue bakal cari kerja santai yang memungkinkan gue ngetik novel setiap hari.

Nah, pertanyaannya sekarang… gue lebih cenderung ke pilihan yang mana? Udah berhari-hari gue pikirin… dan udah gue putusin, gue ingin mencoba pilihan terakhir. Nerbitin novel itu salah satu my life purpose. Bahasa lebaynya sih, I have to publish my novel before I die. Ditambah lagi gue dapet begitu banyak dukungan dari orang-orang di sekitar gue yang bikin gue jadi tambah semangat buat nerbitin novel perdana ituJ

Life is short… and I want to fill it with the things I’d love to do. Masih ada banyak keinginan lain… Gue kan emang terkenal punya banyak keinginan tuh… Dan gue ingin memulainya dari novel perdana gue. So far sih, gue udah nyelesain sekitar 70% cerita, jadi tinggal sedikit lagi! Jadi hopefully, dengan gue resign dan ganti kerja yang lebih santai, nantinya gue akan bisa segera mewujudkan impian gue itu! Doakan gue yaa! Dan kalo nanti novelnya udah terbit, jangan lupa dibeli, hehehehe.

 

12 Things I Like About Nana

 

Nama aslinya Budi Ratna Hapsari, biasa dipanggil Nana. Pertama gue mulai deket sama Nana waktu kerja bareng dia di salah satu klien EY di Gunung Putri. Berawal dari curhat soal cowok, makin lama gue makin akrab sama si Nana.

 

Sebenernya orang yang suka ngobrol sama gue di EY bukan cuma Nana doang. Partner gosip dan teman yang suka curhat sama gue juga bukan cuma dia doang. Dan teman yang suka nolong gue, yang baik sama gue, juga bukan cuma Nana doang. Soalnya temen-temen setim gue yang lain juga baik dan bersahabat banget kok. Tapi apa yang membuat gue lebih dekat sama Nana?

 

Nah, selama dua minggu belakangan, gue bikin daftar hal-hal yang membuat Nana lebih istimewa di mata gue. Berikut ini isi dari daftar gue itu, dimulai dari hal-hal yang paling kecil sampai hal-hal yang paling besar:

 

  1. Setiap ada acara kantor, selalu Nana yang duluan bilang, “Kita pergi bareng yuk, Peh.”
  2. Misalkan Nana baru dateng dari tempat lain, hal pertama yang suka dia tanya ke orang lain begitu sampe ke ruangan kita, “Ipeh mana?”
  3. Kalo ada Nana, gue nggak usah pusing-pusing nyari orang buat nemenin gue beli cemilan. Meskipun dia nggak ikut beli, dia tetep mau nemenin gue. Tapi seringnya siih, ujung-ujungnya dia ikutan jajan juga, hohohohoho;
  4. Sesibuk apapun, Nana itu selalu bales semua SMS atau YM gue sampe tuntas. Seinget gue, enggak pernah ada kalimat gue yang masih diakhiri tanda tanya yang nggak dijawab sama Nana;
  5. Pernah beberapa kali Nana nanya ke gue yang intinya, “Elo nggak papa?” Dia suka tau kapan dan situasi seperti apa aja yang bisa bikin gue bad mood;
  6. Nana ini orangnya tertutup banget. Termasuk tertutup level parah kalo menurut gue. Tapi kalo sama gue, beberapa kali Nana curhat tanpa perlu gue pancing terlebih dahulu;
  7. Meski nggak selalu sependapat, Nana bisa memahami ambisi gue yang aneh-aneh itu;
  8. Sama Nana itu selalu ada win-win solution. Misalkan gue sama dia lagi kepengen makan di restoran yang berbeda. Kalo orang lain mungkin akhirnya bakalan mencar. Dan sebenernya gue juga nggak bakal maksa, mau mencar juga ya nggak masalah. Tapi kalo sama Nana, gue nemenin dia dulu, baru abis itu dia nemenin gue, atau sebaliknya;
  9. Gue sama Nana itu nggak pernah putus kontak. Meskipun gue sama dia lagi kerja di dua klien yang berbeda, kita tetep suka chatting atau pernah juga teleponan buat update gosip-gosip terbaru, hehehehe;
  10. Gue ini kalo lagi stres sama kerjaan, jatuhnya suka jadi jutek dan nyebelin banget. Dan selama kerja bareng gue, dia bisa memaklumi bad habit gue itu dan enggak bawa-bawa masalah kerjaan dalam urusan pertemanan. Menurut gue nggak semua orang bisa kayak begitu (walau selain Nana, Arlin sama Rini juga begitu sih, how lucky I am, hehehehe);
  11. Nana itu nggak pernah bosen menampung keluh kesah gue. Dan gue percaya kalo dia bisa menjaga semua rahasia gue dengan baik. Dalam hal ini, Dandy sama Nova juga sama baiknya siih… Again, how lucky I am, hohohoho; dan
  12. Cuma Nana doang yang menawarkan diri untuk nerima telepon dari gue jam 12 malam, hanya untuk mendengarkan curhatan gue. Inilah yang membedakan Nana sama temen curhat gue yang lainnya di EY.

 

Sama seperti semua pertemanan lainnya, pertemanan gue dengan Nana juga bukannya nggak ada masalah. Kadang gue masih suka nggak ngerti sama jalan pikirannya dia. Kadang gue masih harus mikir dulu… apa maksud Nana yang sebenarnya? Belum lagi gue suka gemes kalo nungguin dia… lamaaa! Kalo gue ngelucu, dia juga suka lama loading-nya, hehehe.

 

Gue yakin, sebaliknya Nana juga suka sebel sama sifat-sifat jelek gue. Tapi justru itu yang gue suka sama Nana… Dia tahu apa aja daftar kejelekan gue tapi masih mau berteman dekat sama gue. Padahal kalo mau, dia bisa aja kok nggak usah deket-deket sama gue. Temen dia di kantor kan bukan gue doang. And a friend who can accept me just the way I am is hard to find.

 

Well, hari ini hari terakhirnya Nana di EY. Rasanya masih nggak nyangka dia bakal resign lebih dulu daripada gue. Meski begitu, ya sudahlah… Jadi PNS itu kan emang udah cita-cita dia dari dulu. Pesen gue, elo jangan jadi tipikal PNS yang gue sebelin yah, Na! Inget pesan Nova juga, elo harus jadi PNS yang baik, hohohoho.

 

Sukses selalu buat Nana.