Dua Hari Tanpa “Proper Internet”

Awalnya gue bertekad akhir pekan kali ini akan gue habiskan untuk review beberapa quotation yang gue terima untuk web development bisnis gue sendiri. Setelah bolak-balik merevisi blueprint, gue harap gue tidak perlu bolak-balik ganti developer juga. Quotation dan juga PKS nantinya betul-betul harus diperhatikan baik-baik!

Selain urus quotation, ada beberapa technical cost yang ingin gue masukkan ke dalam budget. Rencananya, mau mulai cari-cari di Google dulu. Pokoknya weekend ini harus produktif! Ini dia resiko kerja kantoran sambil membangun bisnis sendiri: cuma bisa fokus urus bisnis sendiri di akhir pekan saja.

Ternyata oh ternyataa… sepanjang weekend akses data XL sedang bermasalah! Wi-fi di rumah juga sedang bermasalah! Butuh waktu hampir satu jam hanya untuk donwload lampiran dari e-mail, 1 jam untuk transfer data ke adek gue via WA, 15 menit untuk Google menampilkan hasil pencarian (itupun setelah klik “refresh” berkali-kali), dan belasan menit lainnya untuk menampilkan satu halaman website yang diberikan Google!

I really wanted to scream and cry šŸ˜¦ *lebay šŸ˜€

Hari ini gue jadi sadar betapa ketergantungannya gue dengan teknologi. Untuk sekedar menghitung berapa banyak foto yang bisa gue tampung (dengan asumsi satu foto ukurannya 5MB) jika gue hanya menyewa server dengan kapasitas 20 GB saja gue perlu bantuan Google dooong. Hapalan gue sudah menguap entah ke mana.

Lalu gue benar-benar frustasi gagal Googling untuk mengumpulkan kontak calon vendor untuk urusan lain-lainnya. Kalau bukan dari Google, dari mana lagi? Gue udah lama banget enggak lagi simpan Yellow Pages di rumah šŸ˜¦

Belum lagi istilah-istilah teknis di quotation yang tidak gue pahami. Gue kan cuma lulusan accounting, bukan computerized accounting šŸ˜¦ Frustasi, terpaksa gue tanya aja sama adek gue yang lulusan IT. Gue lalu jadi teringat buku RPAL dan setumpuk buku pelajaran lainnya yang dulu rajin gue buka untuk cari info ini-itu… Buku-buku yang sudah tergantikan mesin pencari Google.

Di satu sisi, hari ini gue merasakan dampak jelek dari teknologi: tidak ada koneksi, tidak ada informasi yang gue dapatkan. Tapi di sisi lain, gue juga jadi mensyukuri perkembangan teknologi akhir-akhir ini.

Mesin pencari Google lebih unggul bukan hanya dari segi kepraktisan saja, tapi juga kelengkapan informasinya. Saat cari vendor, bukan hanya nomor telepon yang gue dapatkan, tapi juga bisa langsung lihat hasil karya dan hasil review dari orang lain yang pernah menggunakan jasa mereka. Tetap harus selektif memilih informasi, tapi setidaknya, informasi yang gue butuhkan ada di sana. Ini dia satu hal penting yang tidak ditawarkan oleh Yellow Pages.

Kemudian soal websites yang mulai menggantikan buku-buku… Ini juga ada sisi positifnya: membuat ilmu pengetahuan jadi lebih terjangkau. Bayangkan jika gue harus membeli 10 buku yang gue butuhkan untuk membantu gue membangunĀ bisnis gue sendiri misalnya. Berapa banyak uang yang harus gue keluarkan? Padahal informasi yang gue butuhkan tidak akan sampai beratus-ratus halaman… Gue hanya perlu beberapa informasi yang mungkin tersebar dalam banyak judul buku. Gue toh, akan hire orang lain untuk buat website-nya, notaris untuk urus perijinan, PH untuk bikin video, dan masih banyak lagi yang pada intinya, tidak relevan untuk gue baca semua isi buku yang terkait dengan masing-masing topik.

Lalu bagaimana soal teknologi yang membantu gue untuk urusan matematika? Aduh, itu udah susah! Dari dulu gue emang enggak jago matematika, hehehehe. Tapi ini beneran. Gue bahkan baru belajar aljabar saat kuliah semester dua atau tiga. Gue masih takjub dulu gue bisa lulus dari SMP dan SMA tanpa ngerti apa itu aljabar, apalagi sin cos tan dan kawan-kawannya, hehehehe. Ini juga alasan kenapa gue bukan cuma lumayan jago pakai Ms. Excel, tapi juga mulai belajar sedikit-sedikit soalĀ database query: untuk mengatasi keterbatasan gue dalam urusan angka. Gue enggak perlu coding sendiri, tapi setidaknya, gue perlu tahu apa yang SQL script bisa lakukan untuk membantu gue menyelesaikan pekerjaan gue di kantor. Dan sekali lagi, gue berterima kasih pada kemajuan teknologi beserta orang-orang jenius yang menciptakannya!

Jadi kesimpulannya, apa rasanya hidup 2 hari tanpa proper internet? Three words: never again, please!

 

 

Dua Hari Tanpa “Proper Internet”

Awalnya gue bertekad akhir pekan kali ini akan gue habiskan untuk review beberapa quotation yang gue terima untuk web development bisnis gue sendiri. Setelah bolak-balik merevisi blueprint, gue harap gue tidak perlu bolak-balik ganti developer juga. Quotation dan juga PKS nantinya betul-betul harus diperhatikan baik-baik! 

Selain urus quotation, ada beberapa technical cost yang ingin gue masukkan ke dalam budget. Rencananya, mau mulai cari-cari di Google dulu. Pokoknya weekend ini harus produktif! Ini dia resiko kerja kantoran sambil membangun bisnis sendiri: cuma bisa fokus urus bisnis sendiri di akhir pekan saja.

Ternyata oh ternyataa… sepanjang weekend akses data XL sedang bermasalah! Wi-fi di rumah juga sedang bermasalah! Butuh waktu hampir satu jam hanya untuk donwload lampiran dari e-mail, 1 jam untuk transfer data ke adek gue via WA, 15 menit untuk Google menampilkan hasil pencarian (itupun setelah klik “refresh” berkali-kali), dan belasan menit lainnya untuk menampilkan satu halaman website yang diberikan Google!

I really wanted to scream and cry šŸ˜¦ *lebay šŸ˜€

Hari ini gue jadi sadar betapa ketergantungannya gue dengan teknologi. Untuk sekedar menghitung berapa banyak foto yang bisa gue tampung (dengan asumsi satu foto ukurannya 5MB) jika gue hanya menyewa server dengan kapasitas 20 GB saja gue perlu bantuan Google dooong. Hapalan gue sudah menguap entah ke mana.

Lalu gue benar-benar frustasi gagal Googling untuk mengumpulkan kontak calon vendor untuk urusan lain-lainnya. Kalau bukan dari Google, dari mana lagi? Gue udah lama banget enggak lagi simpan Yellow Pages di rumah šŸ˜¦

Belum lagi istilah-istilah teknis di quotation yang tidak gue pahami. Gue kan cuma lulusan accounting, bukan computerized accounting šŸ˜¦ Frustasi, terpaksa gue tanya aja sama adek gue yang lulusan IT. Gue lalu jadi teringag buku RPAL dan setumpuk buku pelajaran lainnya yang dulu rajin gue buka untuk cari info ini-itu… Buku-buku yang sudah tergantikan mesin pencari Google.

Di satu sisi, hari ini gue merasakan dampak jelek dari teknologi: tidak ada koneksi, tidak ada informasi yang gue dapatkan. Tapi di sisi lain, gue juga jadi mensyukuri perkembangan teknologi akhir-akhir ini. 

Mesin pencari Google lebih unggul bukan hanya dari segi kepraktisan saja, tapi juga kelengkapan informasinya. Saat cari vendor, bukan hanya nomor telepon yang gue dapatkan, tapi juga busa langsung lihat hasil karya dan hasil review dari orang lain yang pernah menggunakan jasa mereka. Tetap harus selektif memilih informasi, tapi setidaknya, informasi yang gue butuhkan ada di sana. Ini dia satu hal penting yang tidak ditawarkan oleh Yellow Pages.

Kemudian soal websites yang mulai menggantikan buku-buku… Ini juga ada sisi positifnya: membuat ilmu pengetahuan jadi lebih terjangkau. Bayangkan jika gue harus membeli 10 buku yang gue butuhkan untuk membantu gue membuat website gue sendiri misalnya. Berapa banyak uang yang harus gue keluarkan? Padahal informasi yang gue butuhkan tidak perlu sampai beratus-ratus halaman… Gue hanya perlu beberapa informasi yang mungkin tersebar dalam banyak judul buku. Gue toh, akan hire orang lain untuk buat website-nya, tidak relevan untuk gue baca semua isi bukunya.

Lalu bagaimana soal teknologi yang membantu gue untuk urusan matematika? Aduh, itu udah susah! Dari dulu gue emang enggak jago matematika, hehehehe. Tapi ini beneran. Gue bahkan baru belajar aljabar saat kuliah semester dua atau tiga. Gue masih takjub dulu gue bisa lulus dari SMP dan SMA tanpa ngerti apa itu aljabar, apalagi sin cos tan dan kawan-kawannya, hehehehe. Ini juga alasan kenapa gue bukan cuma lumayan jago pakai Ms. Excel, tapi juga mulai belajar sedikit-sedikit soal database query: untuk mengatasi keterbatasan gue dalam urusan angka. Gue enggak perlu coding sendiri, tapi setidaknya, gue perlu tahu apa yang SQL script bisa lakukan untuk membantu gue menyelesaikan pekerjaan gue di kantor. Dan sekali lagi, gue berterima kasih pada kemajuan teknologi beserta orang-orang jenius yang menciptakannya!

Jadi kesimpulannya, apa rasanya hidup 2 hari tanpa proper internet? Three words: never again, please!

It’s Okay to Fail, but It’s NOT Okay to Feel Like a Failure

Pernah baca cerita sukses Jack Ma yang tersohor itu? Atau Oprah Winfrey, JK Rowling, Walt Disney, atau Colonel Sanders dari Kentucky Fried Chicken? Jika belum, coba Google dulu kisah sukses lima tokoh ini, baru kemudian kembali lagi ke blog saya ini.

Apa kesamaan lima tokoh besar tersebut? Mereka sama-sama pernah gagal, dan mereka sama-sama pantang menyerah, bangkit, bekerja keras, sehingga akhirnya sukses besar seperti mereka yang sekarang ini.

Tidak usah melihat jauh-jauh ke lima nama besar yang sangat jauh dari kehidupan kita, cukup lihat saja orang paling sukses yang kita kenal dalam hidup kita sendiri. Bisa jadi rekan kerja, klien, teman sepermainan, atau mungkin, anggota keluarga kita sendiri. Percayakah kalian jika saya bilang, mereka semua juga pernah mengalami kegagalan saat merintis karier mereka masing-masing?

Meski saya tidak mengenal semua orang sukses di dunia ini, saya tetap berani bilang bahwa semua orang sukses pasti pernah mengalami kegagalan. Bahkan orang yang sudah sukses pun tidak selalu menang dalam setiap ‘kompetisi’ yang mereka jalani.

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan.

Pasti pernah dipertemukan dengan orang lain yang memandang mereka sebelah mata.

Pasti pernah berhadapan dengan orang-orang yang berusaha menjatuhkan mereka.

Pasti pernah harus menghibur diri saat ada orang lain yang berusaha membuat mereka berkecil hati.

Pasti pernah mengalami keraguan. Frustasi. Putus asa. Dan lain sebagainya.

Pasti pernah mengalami penolakan yang membuat mereka nyaris merasa tidak cukup bagus untuk mimpinya sendiri.

Pasti pernah merasa takut gagal. Dan pasti pernah benar-benar gagal.

Hanya saja bedanya, orang yang sukses tidak lantas menyerah begitu saja.

Mereka berjibaku melawan rasa takutnya, mindernya, ragunya, frustasinya, stresnya, dan depresinya.

Mereka tidak pernah bosan untuk terus coba dan coba lagi. Bangkit dan bangkit lagi. Terus demikian, sampai akhirnya mereka menemukan pintu sukses mereka.

Mereka tidak mengharapkan keajaiban. Mereka tidak mengandalkan siapa-siapa. Mereka tidak menyalahkan keadaan. Mereka kuat dengan sendirinya, mereka berjuang, dan mereka tidak pernah berhenti hingga mereka benar-benar sampai di suatu tujuan.

Semua orang sukses pasti pernah gagal, tapi, mereka menolak untuk menyerah dan menganggap diri dan hidup mereka sebagai suatu kegagalan. Konon katanya, kita hanya gagal jika kita sudah berhenti mencoba!

Pemikiran itulah yang membantu saya untuk bangkit tiap kali saya merasa kalah. Tiap kali saya ragu untuk memulai terobosan baru dalam hidup saya sendiri. Mungkin saya tidak akan langsung sukses di perjalanan karier saya selanjutnya, tapi pelajaran yang saya dapatkan dari kegagalan itu akan membantu saya untuk kembali berusaha mencapai kesuksesan yang selanjutnya. Insyaaallah, selama saya terus mencoba, cepat atau lambat, saya akan sampai di tempat tujuan.

Mohon doanya, dan mari kita sama-sama mencoba!

Why do I Want to be an Entrepreneur?Ā 

Beberapa bulan belakangan ini, gue mulai terpikir untuk menjalankan bisnis gue sendiri. Di satu sisi, gue jelas merasa sangat bersemangat, tapi di sisi lain, gue masih saja bertanya-tanya pada diri gue sendiri.

Do I really want to do this? And why would I want to do it?

Membangun perusahaan sendiri jelas jauh berbeda dengan sekedar pindah kerja ke perusahaan lain milik orang lain. Ada modal kerja yang jadi taruhan, yang kali ini dalam kasus gue, jumlahnya tidak sedikit. Dan kenapa gue sampai harus senekad itu?

Ada satu kekhawatiran yang sebetulnya gue simpan diam-diam… Bagaimana jika ternyata bisnis gue ini hanya pelarian gue saja? Masalahnya, gue punya kebiasaan over excited terhadap hal-hal baru sebelum akhirnya gue merasa bosan dengan sendirinya. Pernah ada yang bilang, yang paling sulit itu bukan saat harus menentukan pilihan, tetapi lebih pada saat harus bertahan pada satu pilihan. Teori yang sangat mengena buat diri gue ini.

Kemudian beberapa hari yang lalu, gue menemukan artikel keren ini via Linkedin. Dari semua gambar yang ditampilkan, ada satu gambar yang paling menarik perhatian gue. Berikut ini gambar yang gue maksud!


Sambil membaca tulisan di dalam gambar, sambil gue menilai diri gue sendiri. Masih belum cukup sampai di situ, gue juga mengirimkan gambar ini ke adik dan beberapa teman terdekat gue. Gue tanya sama mereka, “Menurutlo, gue yang mana?”

Lalu apa hasilnya?

Pendapat gue:

  1. Easily bored. Seperti yang gue tulis di atas: gue tipe orang yang pembosan. Di mana pun gue bekerja, gue selalu aja mulai merasa jenuh tiap kali sudah memasuki tahun ke tiga. Pernah satu kali bisnis kecil-kecilan, tapi hanya bertahan sebentar saja hanya karena gue cepat merasa bosan;
  2. Too impatient. Tiap kali gue punya ide yang gue anggap brilian, gue akan mulai tidak sabaran ingin cepat-cepat mewujudkannya. Hanya saja sayangnya, mewujudkan ide akan jadi lebih sulit saat harus berhadapan dengan begitu banyak kepentingan yang berbeda-beda. Benar-benar bikin gemas!
  3. Wants freedom above all. Entah kenapa, gue seringkali merasa “terbelenggu” sepanjang perjalanan karier gue selama 9 tahun belakangan ini. Meskipun banyak yang bilang bahwa gue ini an agent of change, tapi tetap saja… gue belum pernah menemukan freedom sampai pada tingkat yang gue inginkan dalam dunia kerja;
  4. Too ambitious. Bukan cuma gue ingin ini dan ingin itu, gue juga tipe orang yang senang membuktikan bahwa gue masih bisa menjadi lebih baik daripada diri gue di hari sebelumnya. Gue betulan bisa merasa kecewa jika gue sampai melewati satu tahun tanpa prestasi apa-apa; dan
  5. Been through school of hard knocks. Meski terdengar aneh, tapi pengalaman jatuh-bangun di dunia kerja malah membuat gue semakin yakin untuk memulai bisnis sendiri. Seringkali gue berpikir, “Is there anything that is even worse than what I’ve already been through?” Pernah melewati hal-hal sulit membuat gue lebih optimis bahwa insyaallah, gue juga akan bisa melewati rintangan-rintangan lainnya di masa depan nanti.

Bagaimana dengan jawaban adik dan teman-teman gue?

  1. Can’t have a boss. Mungkin karena gue sering banget curhat soal bos, siapapun bosnya, hehehehe;
  2. Too educated. Wow, this is flattering, hehehehe;
  3. Can sell ice to eskimos. This is flattering too. Entah kenapa ada saja orang yang menilai gue punya bakat sales;
  4. Addicted to risk. Ah, really?
  5. Wants freedom above all (akhirnya ada jawaban yang sama persis kayak jawaban gue sendiri, hehehehe).

Setelah mengevaluasi diri dengan cara seperti ini, gue mulai merasa lebih baik. Maybe, this is just meant to be, isn’t it?

Semoga bisnis ini bisa memberikan hal-hal yang belum pernah bisa diberikan oleh pekerjaan-pekerjaan gue sebelumnya, membuka jalan untuk hal-hal luar biasa lainnya, dan juga mempertemukan gue dengan orang-orang baru yang akan menemani petualangan gue selanjutnya. šŸ™‚

What If?

So I’ve been on something big, like really really big, in the past couple of months… and I’ve started to doubt myself.

Am I really going to do this?

Do I really know how to do it all?

Do I really have what it takes to make it happen?

Tried to treat myself a movie to distract me from all that crazy thoughts, but here I am… sitting on a wooden bench in Starbucks, wandering and still wondering all the things I’ve done to pursue this one big dream.

I know that I’m not a coward, I’ve never been one in my entire life, but still… doing what I’m doing at this age is beyond brave! What made me think I could survive this one too? It’s gonna change my life, but what if, it’s not gonna change my life in a good way?

I’m actually a believer that if I believe I will, then I will. But what if I’m wrong this one time? What if I’m wrong and I miserably fail? 

I really want to tell you that I go back home 100% sure that I will be just fine. But the truth is, I’m still doubting myself. Yes, I doubt myself, but make no mistake, it doesn’t mean I no longer believe in me. 

Yes, I might be wrong, BUT… what if I’m right? What if I’m right and I can make it all happen?

I don’t know, and neither does anyone else. I’ll never know, unless I try. Hence at least for now, if I believe I will, I will. Insyaallah.

My English Teacher, 14 Years Ago

Banyak yang bilang, bahasa Inggris gue bagus. Walau hasil tes IELTS gue masih belum sesuai harapan, tapi ok lah, sekali ini gue akui, bahasa Inggris gue memang lumayan. Dan kali ini, gue akan mengungkap rahasia di balik English skill gue itu, yang belum pernah gue ceritakan pada satu orang pun.

14 tahun yang lalu, gue baru memulai tahun pertama gue di bangku SMA. Waktu itu, jam sekolah gue masih masuk siang dan pulang sore. Dua kali dalam seminggu, gue ikut kursus bahasa Inggris, kelas pagi di ILPĀ PondokĀ Gede.

Sebetulnya saat itu gue sudah malas pergi kursus. Sebelum ILP, gue pernah kursus 1 tahun di BBC. Bahkan, pernah pula ikut kursus sampai lulus – kurang lebih 2 tahun – di IEC. Tapi toh tetap saja Bahasa Inggris gue hanya segitu-gitu saja! MungkinĀ bukan salah tempat kursusnya, tapi emang gue aja yang enggak berbakat.

Capek dan bosan kurus terus menerus bikinĀ gue jadi malas pergi kursus ke ILP. Ditambah lagi waktu itu, gue ngerasa enggak punya teman di tempat les. Tiap kali menunggu kelas dimulaiĀ atau saat sedang istirahat, gue hanya duduk diam atau pura-pura tertarik mendengar percakapan orang lain. Benar-benar bukan masa-masa yang menyenangkan!

Saking malas dan bosannya, lama-lama gue mulai suka bolos. Gue tetap pergi les dari rumah, tapi tidak selalu sampaiĀ ke gedung ILP. Selama sekitar dua jam, gue hanya jalan berkeliling mall sampai tiba waktunya pergi ke sekolah. Gue masih ingat masa-masaĀ itu gue sering bolak-balik melewati toko jam hanya untuk melihat saat itu sudah jamĀ berapa. Lega banget rasanya saat tahu sudah waktunya gue naik angkot menuju SMA gue! At least kalau di sekolah, gue punya teman-teman baik yang bisa bikin gue ngerasa terhibur.

Gue terus saja sesekali membolos (gue akal-akali supaya jangan sampai menembus batas absensi maksimum), sampai tiba waktunya pengambilan raport pertama gue di ILP. Siang itu, gue duduk berdua saja dengan guru les gue. It surprised me that somehow I still got pretty good grades in that score report.

Saat gue masih temenung meratapi nilai gue itu, si guru les bilang begini sama gue, “Sebetulnya kamu itu punya potensi, tapi saya nggak ngerti… kenapa kamu terlihat sangat menarik diri? Absensi kamu nyaris membuat kamu gagal di term ini. Tapi buat saya, kamu masih layak untuk lulus karena memang sebetulnya kamu itu jauh lebih baik daripada ini.”

Suara si pak guru yang sangat tenang itu bikin gue nyaris meneteskanĀ air mata persis di depan dia. Gue cuma diam, dan saat gue melangkah keluar ruangan, air mata gue menetes tidak tertahankan… Masa-masa bolos gue cukup berakhir sampai di situ saja.

And you know what? In the following termsĀ after that, I managed to earn “The Best Student” certificates from ILP Pondok Gede. I kept winning that title multiple times in a row, over and over again.

Beberapa waktu yang lalu, dalam rangkaĀ evaluasi kinerja tim gue di Lazada, gue memberi nasehat begini kepada salah satu tim gue yang tengah mengalami trauma cukupĀ berat dalamĀ perjalanan karier-nya, “Dulu juga saya pernah ada di posisi yang sama seperti kamu. Dan kalo kamu tanya gimana caranya saya bisa move on sampaiĀ di sini, kuncinya ya hanya diri saya sendiri. Kenyataannya, enggak ada orang yang datang lalu Ā ngerubah hidup saya begitu aja.”

Meskipun saat itu gue bilang begitu, sebetulnya kalau dipikir lagi, kenyataanya memang pernah ada orang-orang yang mengubah hidup gue, dan guru les gue itulah salah satunya. Memang benar, nasehat dia siang itu tidak begitu saja bikin gue langsungĀ mahir berbahasaĀ Inggris, gue tetap harus belajar dengan keras untuk mengejarĀ ketertinggalan gue saat itu, tapi mungkin bisa jadi, jika saatĀ itu guru gue bukanlah dia, maka gue tetap hanya gueĀ yang buang-buang uang untuk les Bahasa Inggris tanpa hasil yang memuaskan.

So I think I have to admit… Sometimes, we only need ‘someone’ to wake us up. To remind us. To motivate us for being a better one and to unleash the very best of us. My English teacher was my ‘someone’ and I hope, I can also be that ‘someone’ for anyone else.

My English teacher may already forget me since many years ago, but I will always remember him as someone who made me believeĀ the good things in me. And again I hope, someday there will be someone I know who remember me the way I remember my English teacher.

Thank you, Pak Uyung! I am not who I am today without my pretty good English. And maybe my English would never be this good, if it was not because of you šŸ™‚

 

I Finally Find My Pace

I can’t really share the details here, but there’s one thing or two I’ve been thinking a lot, confused me for a little while, but just out of the blue, I simply knew what I should do. I finally know what I want, and I finally find my pace to make it happen. Or maybe, to let it all just slip away.

I have come to realize how I used to rush many things in my life. I have to do it NOW. ASAP. Immediately. And so on. For some things in life, for instanceĀ working environment, it can be a good thing. But apparently, that’s not always the case for all other aspects in life.

When you want to pursue your dreams, it’s not about how fast you get there, but how you have prepared yourself to make it happen, unless, you’re happy enough for being just a mediocre.

Or when you fall in love, it’s not about how fast you make him yours, but how many years you will spend with him afterward. Not all people meet each other and stay together just in a month, some other stillĀ needs to be convinced before they move forward.

We simply need to remember that sometimes, good things take time. Rome was not built overnight, remember?

Hence I would say, just enjoy the ride! No need to speed up and risk it all. ThenĀ on the other hand, no need to freak out and take a u-turnĀ when the road is bumpy. Just go with it, believe in yourself, do your best, and see how it turns out. Maybe, you will arrive in your destination, but maybe, God will lead you to somewhere else even beyond your imagination.

After spending many years in the same drama over and over again, it really feels good to finally found my pace.Ā Now, it’s your turn to find yours!

You’re More Successful than You Realize

Last night, I had a quite long chat with an old friend and I told him how I felt like I hadn’t had enough in my career path. I said, “I’m not yet satisfied with my career achievement. It’s not that I’m not grateful, it’s just that I haven’t reached a point where I think; this is it.”

I do really feel that way about myself. It feels like I haven’t done much enough for the companies I’ve worked for. As much as I’m proud of being a part of myĀ current Company, I still feel like I haven’t found that one thing I really want to do for the rest of my life. I also don’t feel like I’ve learned much enough in my life, I’m not yet as good as I want me to be, and I still have a so long way to go before definingĀ my career as a success.

And then a few hours later, I found this video. I watched it, and it gave me chills! And yeah… a little bit of tears came out, just a little bit šŸ˜‰

I don’t know how much score will be given by my families or best friends about my success, but it got me thinking… maybe, I’ve been too tough to myself. It’s good to be the hardest critic to myself, but maybe, it’s been over the top. And again, it reminded me once again to be thankfulĀ for all I have.

Yes, it’s still true that it takes a really long time for me just to figure out the next best thing in life. But hey, good things take time, don’t they?

And yes, it’s alsoĀ true that I haven’t been somewhere I really want me to be… but I’ll get there! I know I’ll get there.

So maybe, I just need to be a little bit more kind to myself. Just one rejection doesn’t necessarily mean the whole years I’ve been working on is a failure. Other mediocre gets the same job with mine doesn’t make me out of the blue on the same average level with them. Been struggling in pursuing my big dreams doesn’t necessarily mean that I have failed either. I only fail once I give it up, right?

Life is still a long way to go. I haven’t failed, I just haven’t arrived in my final destinationĀ because I’m a little bit lost along the way. But that’s okay! As long as I keep on going, then I’m already on a right direction. For now, all I need to do is taking a deep breath, smile, give applause for myself, and continue running toward my finish line. I still don’t think that I have been as successful as I wish I were, but perhapsĀ it’s true, I’m actually more successful than I realize.

And well, maybe, it’s a sign that it’s okay to reward myself a fancy trip, a little bit over budget, in my Greece trip this month, no? šŸ˜‰

P.s.: Tomorrow is another Monday, let’s continue the race!

My Sunday Thought

It might be sad but in fact, not everyone deserves their success at work. That kind of people that leaves us wonderingā€¦ how couldĀ this life be so unfair?

Some people are easily on top because their dads owning the company. Or some kind of reputable people in the country. Some of them have proven that they deserve that tittles on their name cards, but some of them are simply the ones who make people think, ā€œThis is the generation where the empire will go down.ā€

I also spotted so many people going far and faster than everyone else just because they went to some school abroad. Vacancies for cool jobs in Indonesia sometimes only open for overseas graduates. Iā€™ve worked with so many overseas graduates, even the bachelors or MBAsĀ from ivy schools, but trust me, it doesnā€™t make them so smart that they deserve to lead the team. Some of them are indeed have learned so much more than us, but some of them are just the ones who apparently did not really do well in their colleges.

Another heart breaking reality is how a foreigner can be out of the blue our new boss at work. Some people from developed countries working in developing countries thinking that they know what theyā€™re doing here. Some of them are amazing, but some of them are better going home. Iā€™ve come to learn that itā€™s not about our nationalities, itā€™s instead our capabilities to prove ourselves.

I write this post not because I envy. I may be everything but envy. I simply want to share my thought that it happens. It happens and thereā€™s nothing we can do to change this reality. Thereā€™s no such a spell that can reveal the ‘real’ them. Hating and hoping they will miserably fail is completely a waste of time. It is what it is and Iā€™m afraid, we just need to live with it. Wherever we work, we mayĀ always find some people like them.

However, Iā€™m not saying that itā€™s okay to let them win from us. Itā€™s NOT okay to give up just because we were not born rich, not either born somewhere in western part of this world, not even believing that we would be nothing just because we only went to ordinary schools. Even though our countries and schools are a part of our identities, I’m a strong believer that they donā€™t necessarilyĀ define who we really are.

Even if we didnā€™t manage to study in a fancy school, it doesnā€™t mean we cannot get the fancy job we always dream of. If we also want to get into that fancy school, then go for it! Weā€™ll get there, maybe longer and harder, but weā€™ll get there. And about the not-so-goofĀ expatriatesā€¦ just show them what a smart Indonesian we are! Learn from the good ones, but donā€™t be too much irritated by the annoyingĀ ones. At the end of the day, this is OUR country. They canā€™t be so cocky, they earn a living in our country.

So guysā€¦ never ever feel inferior for who we are. Do our best and be proud of it! Be so fabulous that people canā€™t ignore you. Make people want you!Ā Do not envy, just grow gracefully and letĀ people envy you back, even before you know it šŸ˜‰

Have a great Monday and one great week ahead!

Apa Kabar Aplikasi Beasiswa MBA Gue?

Rencananya, tahun ini gue kepengen coba, sekali lagi, apply beasiswa MBA entah itu ke US, UK, atau Aussie. Awal tahun 2014, dengan penuh semangat, gue pernah menulis blog yang ini. Pertanyaannya sekarang, berhasil kah gue menembus beasiswa yang gue idam-idamkan itu?

Well, jangankan berhasil atau gagalā€¦ sekedar coba mengirimkan aplikasinya pun enggak jadi gue realisasikan di tahun 2014 ini! Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana: gue ngerasa masih belum siap.

Hari pertama gue ikut GMAT Preparation Class, gue masih menikmati tiap menit dalam kursus itu. Gue excited ketemu teman-teman baru yang juga mempunyai cita-cita yang sama dengan gue. Senang bisa berbagi cita-cita, berbagi cerita, informasi, serta tips dan trik terkait big dreams kita itu. Ada beberapa teman yang terlihat luar biasa pintar, dan beberapa teman lainnya yang bisa berbahasa Inggris dengan luar biasa fasihnya.

Awalnya, suasana kelas yang seperti itu masih membuat gue ngerasa bersemangat, sampai akhirnya gue masuk ke pertemuan ke dua, ke tigaā€¦ semakin lama, gue semakin ngerasa tertinggal di belakang. Dan yang paling enggak pernah gue sangka-sangka, gue ketinggalan pelajaran justru karena kendala bahasa!

Jadi di tempat kursus GMAT gue itu, pengajarnya orang Amerika asli, dan tentunya, dia selalu membawakan materi kursus dalam bahasa Inggris. Gue sering ngerasa dia bicara terlalu cepat serta banyak menggunakan istilah-istilah yang enggak bisa gue pahami. Yang bikin gue ngerasa makin down, nyaris semua teman sekelas gue terlihat bisa mengikuti materi pelajaran dengan mudahnya!

That was the first time in my life I realized that my English is not good enough. MY 6.5 IELTS score is far from enough.

Saat sedang luar biasa frustasi dengan ketertinggalan gue itu, gue menemukan satu lagi hal yang bikin gue jadi makin patah semangat: kampus yang gue minati mewajibkan seluruh international students untuk punya skor IELTS minimum 7.0.

Gue tahu, skorĀ 6.5 itu gue dapatkan sudah lebih dari 2 tahun yang lalu, saat gue masih baru bergabung dengan Niro, perusahaan gue sebelumnya. Setelah hampir 3 tahun kerja di Niro, gue yakin English gue sudah mengalami kemajuan secara di sana gue lebih aktif berbahasa Inggris untuk keperluan pekerjaan. Memang cuma ada 2 expatriates di sana, plus sesekali berkomunikasi dengan HQ team di Malaysia, tapi gue yakin itu pun udah banyak improve English skill gue. Tapi tetap saja, semua itu toh nyatanya nggak bikin gue bisa survive di kelas GMAT!Ā I mean, if Iā€™m not good enough for the preparation class, then what makes me think I will survive in the real class? Apalagi ceritanya, gue ngincer kampus-kampus yang masuk dalam World Top 10ā€¦

Akhirnya dengan berat hati gue putuskanā€¦ gue masih harus menunda, satu tahun lagi. Tapi tentu saja, gue enggak pengen satu tahun berikutnya itu jadi satu tahun yang sia-sia! Gue pun memutuskanā€¦ untuk pekerjaan gue selanjutnya HARUS pekerjaan yang mewajibkan gue speaking English setiap harinya. Itulah sebabnya, di awal tahun ini gue menghadiri 3 job interview yang gue tahu sejak awal, gue akan berhadapan langsung dengan expatriates di sana. Lalu kenapa akhirnya gue lebih memilih kerja untuk Lazada? Karena saat interview, gue lihat di sini paling banyak jumlah bulenya šŸ˜€

Gue nggak tahu apakah kerja di sini bisa bantu gue mencapai big dream gue ituā€¦ Tapii, yahā€¦ at least, Iā€™m doing something real to get there. Once again, please wish me luck!