It’s Okay to Fail, but It’s NOT Okay to Feel Like a Failure

Pernah baca cerita sukses Jack Ma yang tersohor itu? Atau Oprah Winfrey, JK Rowling, Walt Disney, atau Colonel Sanders dari Kentucky Fried Chicken? Jika belum, coba Google dulu kisah sukses lima tokoh ini, baru kemudian kembali lagi ke blog saya ini.

Apa kesamaan lima tokoh besar tersebut? Mereka sama-sama pernah gagal, dan mereka sama-sama pantang menyerah, bangkit, bekerja keras, sehingga akhirnya sukses besar seperti mereka yang sekarang ini.

Tidak usah melihat jauh-jauh ke lima nama besar yang sangat jauh dari kehidupan kita, cukup lihat saja orang paling sukses yang kita kenal dalam hidup kita sendiri. Bisa jadi rekan kerja, klien, teman sepermainan, atau mungkin, anggota keluarga kita sendiri. Percayakah kalian jika saya bilang, mereka semua juga pernah mengalami kegagalan saat merintis karier mereka masing-masing?

Meski saya tidak mengenal semua orang sukses di dunia ini, saya tetap berani bilang bahwa semua orang sukses pasti pernah mengalami kegagalan. Bahkan orang yang sudah sukses pun tidak selalu menang dalam setiap ‘kompetisi’ yang mereka jalani.

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan.

Pasti pernah dipertemukan dengan orang lain yang memandang mereka sebelah mata.

Pasti pernah berhadapan dengan orang-orang yang berusaha menjatuhkan mereka.

Pasti pernah harus menghibur diri saat ada orang lain yang berusaha membuat mereka berkecil hati.

Pasti pernah mengalami keraguan. Frustasi. Putus asa. Dan lain sebagainya.

Pasti pernah mengalami penolakan yang membuat mereka nyaris merasa tidak cukup bagus untuk mimpinya sendiri.

Pasti pernah merasa takut gagal. Dan pasti pernah benar-benar gagal.

Hanya saja bedanya, orang yang sukses tidak lantas menyerah begitu saja.

Mereka berjibaku melawan rasa takutnya, mindernya, ragunya, frustasinya, stresnya, dan depresinya.

Mereka tidak pernah bosan untuk terus coba dan coba lagi. Bangkit dan bangkit lagi. Terus demikian, sampai akhirnya mereka menemukan pintu sukses mereka.

Mereka tidak mengharapkan keajaiban. Mereka tidak mengandalkan siapa-siapa. Mereka tidak menyalahkan keadaan. Mereka kuat dengan sendirinya, mereka berjuang, dan mereka tidak pernah berhenti hingga mereka benar-benar sampai di suatu tujuan.

Semua orang sukses pasti pernah gagal, tapi, mereka menolak untuk menyerah dan menganggap diri dan hidup mereka sebagai suatu kegagalan. Konon katanya, kita hanya gagal jika kita sudah berhenti mencoba!

Pemikiran itulah yang membantu saya untuk bangkit tiap kali saya merasa kalah. Tiap kali saya ragu untuk memulai terobosan baru dalam hidup saya sendiri. Mungkin saya tidak akan langsung sukses di perjalanan karier saya selanjutnya, tapi pelajaran yang saya dapatkan dari kegagalan itu akan membantu saya untuk kembali berusaha mencapai kesuksesan yang selanjutnya. Insyaaallah, selama saya terus mencoba, cepat atau lambat, saya akan sampai di tempat tujuan.

Mohon doanya, dan mari kita sama-sama mencoba!

Why do I Want to be an Entrepreneur? 

Beberapa bulan belakangan ini, gue mulai terpikir untuk menjalankan bisnis gue sendiri. Di satu sisi, gue jelas merasa sangat bersemangat, tapi di sisi lain, gue masih saja bertanya-tanya pada diri gue sendiri.

Do I really want to do this? And why would I want to do it?

Membangun perusahaan sendiri jelas jauh berbeda dengan sekedar pindah kerja ke perusahaan lain milik orang lain. Ada modal kerja yang jadi taruhan, yang kali ini dalam kasus gue, jumlahnya tidak sedikit. Dan kenapa gue sampai harus senekad itu?

Ada satu kekhawatiran yang sebetulnya gue simpan diam-diam… Bagaimana jika ternyata bisnis gue ini hanya pelarian gue saja? Masalahnya, gue punya kebiasaan over excited terhadap hal-hal baru sebelum akhirnya gue merasa bosan dengan sendirinya. Pernah ada yang bilang, yang paling sulit itu bukan saat harus menentukan pilihan, tetapi lebih pada saat harus bertahan pada satu pilihan. Teori yang sangat mengena buat diri gue ini.

Kemudian beberapa hari yang lalu, gue menemukan artikel keren ini via Linkedin. Dari semua gambar yang ditampilkan, ada satu gambar yang paling menarik perhatian gue. Berikut ini gambar yang gue maksud!


Sambil membaca tulisan di dalam gambar, sambil gue menilai diri gue sendiri. Masih belum cukup sampai di situ, gue juga mengirimkan gambar ini ke adik dan beberapa teman terdekat gue. Gue tanya sama mereka, “Menurutlo, gue yang mana?”

Lalu apa hasilnya?

Pendapat gue:

  1. Easily bored. Seperti yang gue tulis di atas: gue tipe orang yang pembosan. Di mana pun gue bekerja, gue selalu aja mulai merasa jenuh tiap kali sudah memasuki tahun ke tiga. Pernah satu kali bisnis kecil-kecilan, tapi hanya bertahan sebentar saja hanya karena gue cepat merasa bosan;
  2. Too impatient. Tiap kali gue punya ide yang gue anggap brilian, gue akan mulai tidak sabaran ingin cepat-cepat mewujudkannya. Hanya saja sayangnya, mewujudkan ide akan jadi lebih sulit saat harus berhadapan dengan begitu banyak kepentingan yang berbeda-beda. Benar-benar bikin gemas!
  3. Wants freedom above all. Entah kenapa, gue seringkali merasa “terbelenggu” sepanjang perjalanan karier gue selama 9 tahun belakangan ini. Meskipun banyak yang bilang bahwa gue ini an agent of change, tapi tetap saja… gue belum pernah menemukan freedom sampai pada tingkat yang gue inginkan dalam dunia kerja;
  4. Too ambitious. Bukan cuma gue ingin ini dan ingin itu, gue juga tipe orang yang senang membuktikan bahwa gue masih bisa menjadi lebih baik daripada diri gue di hari sebelumnya. Gue betulan bisa merasa kecewa jika gue sampai melewati satu tahun tanpa prestasi apa-apa; dan
  5. Been through school of hard knocks. Meski terdengar aneh, tapi pengalaman jatuh-bangun di dunia kerja malah membuat gue semakin yakin untuk memulai bisnis sendiri. Seringkali gue berpikir, “Is there anything that is even worse than what I’ve already been through?” Pernah melewati hal-hal sulit membuat gue lebih optimis bahwa insyaallah, gue juga akan bisa melewati rintangan-rintangan lainnya di masa depan nanti.

Bagaimana dengan jawaban adik dan teman-teman gue?

  1. Can’t have a boss. Mungkin karena gue sering banget curhat soal bos, siapapun bosnya, hehehehe;
  2. Too educated. Wow, this is flattering, hehehehe;
  3. Can sell ice to eskimos. This is flattering too. Entah kenapa ada saja orang yang menilai gue punya bakat sales;
  4. Addicted to risk. Ah, really?
  5. Wants freedom above all (akhirnya ada jawaban yang sama persis kayak jawaban gue sendiri, hehehehe).

Setelah mengevaluasi diri dengan cara seperti ini, gue mulai merasa lebih baik. Maybe, this is just meant to be, isn’t it?

Semoga bisnis ini bisa memberikan hal-hal yang belum pernah bisa diberikan oleh pekerjaan-pekerjaan gue sebelumnya, membuka jalan untuk hal-hal luar biasa lainnya, dan juga mempertemukan gue dengan orang-orang baru yang akan menemani petualangan gue selanjutnya. 🙂

What If?

So I’ve been on something big, like really really big, in the past couple of months… and I’ve started to doubt myself.

Am I really going to do this?

Do I really know how to do it all?

Do I really have what it takes to make it happen?

Tried to treat myself a movie to distract me from all that crazy thoughts, but here I am… sitting on a wooden bench in Starbucks, wandering and still wondering all the things I’ve done to pursue this one big dream.

I know that I’m not a coward, I’ve never been one in my entire life, but still… doing what I’m doing at this age is beyond brave! What made me think I could survive this one too? It’s gonna change my life, but what if, it’s not gonna change my life in a good way?

I’m actually a believer that if I believe I will, then I will. But what if I’m wrong this one time? What if I’m wrong and I miserably fail? 

I really want to tell you that I go back home 100% sure that I will be just fine. But the truth is, I’m still doubting myself. Yes, I doubt myself, but make no mistake, it doesn’t mean I no longer believe in me. 

Yes, I might be wrong, BUT… what if I’m right? What if I’m right and I can make it all happen?

I don’t know, and neither does anyone else. I’ll never know, unless I try. Hence at least for now, if I believe I will, I will. Insyaallah.

My English Teacher, 14 Years Ago

Banyak yang bilang, bahasa Inggris gue bagus. Walau hasil tes IELTS gue masih belum sesuai harapan, tapi ok lah, sekali ini gue akui, bahasa Inggris gue memang lumayan. Dan kali ini, gue akan mengungkap rahasia di balik English skill gue itu, yang belum pernah gue ceritakan pada satu orang pun.

14 tahun yang lalu, gue baru memulai tahun pertama gue di bangku SMA. Waktu itu, jam sekolah gue masih masuk siang dan pulang sore. Dua kali dalam seminggu, gue ikut kursus bahasa Inggris, kelas pagi di ILP Pondok Gede.

Sebetulnya saat itu gue sudah malas pergi kursus. Sebelum ILP, gue pernah kursus 1 tahun di BBC. Bahkan, pernah pula ikut kursus sampai lulus – kurang lebih 2 tahun – di IEC. Tapi toh tetap saja Bahasa Inggris gue hanya segitu-gitu saja! Mungkin bukan salah tempat kursusnya, tapi emang gue aja yang enggak berbakat.

Capek dan bosan kurus terus menerus bikin gue jadi malas pergi kursus ke ILP. Ditambah lagi waktu itu, gue ngerasa enggak punya teman di tempat les. Tiap kali menunggu kelas dimulai atau saat sedang istirahat, gue hanya duduk diam atau pura-pura tertarik mendengar percakapan orang lain. Benar-benar bukan masa-masa yang menyenangkan!

Saking malas dan bosannya, lama-lama gue mulai suka bolos. Gue tetap pergi les dari rumah, tapi tidak selalu sampai ke gedung ILP. Selama sekitar dua jam, gue hanya jalan berkeliling mall sampai tiba waktunya pergi ke sekolah. Gue masih ingat masa-masa itu gue sering bolak-balik melewati toko jam hanya untuk melihat saat itu sudah jam berapa. Lega banget rasanya saat tahu sudah waktunya gue naik angkot menuju SMA gue! At least kalau di sekolah, gue punya teman-teman baik yang bisa bikin gue ngerasa terhibur.

Gue terus saja sesekali membolos (gue akal-akali supaya jangan sampai menembus batas absensi maksimum), sampai tiba waktunya pengambilan raport pertama gue di ILP. Siang itu, gue duduk berdua saja dengan guru les gue. It surprised me that somehow I still got pretty good grades in that score report.

Saat gue masih temenung meratapi nilai gue itu, si guru les bilang begini sama gue, “Sebetulnya kamu itu punya potensi, tapi saya nggak ngerti… kenapa kamu terlihat sangat menarik diri? Absensi kamu nyaris membuat kamu gagal di term ini. Tapi buat saya, kamu masih layak untuk lulus karena memang sebetulnya kamu itu jauh lebih baik daripada ini.”

Suara si pak guru yang sangat tenang itu bikin gue nyaris meneteskan air mata persis di depan dia. Gue cuma diam, dan saat gue melangkah keluar ruangan, air mata gue menetes tidak tertahankan… Masa-masa bolos gue cukup berakhir sampai di situ saja.

And you know what? In the following terms after that, I managed to earn “The Best Student” certificates from ILP Pondok Gede. I kept winning that title multiple times in a row, over and over again.

Beberapa waktu yang lalu, dalam rangka evaluasi kinerja tim gue di Lazada, gue memberi nasehat begini kepada salah satu tim gue yang tengah mengalami trauma cukup berat dalam perjalanan karier-nya, “Dulu juga saya pernah ada di posisi yang sama seperti kamu. Dan kalo kamu tanya gimana caranya saya bisa move on sampai di sini, kuncinya ya hanya diri saya sendiri. Kenyataannya, enggak ada orang yang datang lalu  ngerubah hidup saya begitu aja.”

Meskipun saat itu gue bilang begitu, sebetulnya kalau dipikir lagi, kenyataanya memang pernah ada orang-orang yang mengubah hidup gue, dan guru les gue itulah salah satunya. Memang benar, nasehat dia siang itu tidak begitu saja bikin gue langsung mahir berbahasa Inggris, gue tetap harus belajar dengan keras untuk mengejar ketertinggalan gue saat itu, tapi mungkin bisa jadi, jika saat itu guru gue bukanlah dia, maka gue tetap hanya gue yang buang-buang uang untuk les Bahasa Inggris tanpa hasil yang memuaskan.

So I think I have to admit… Sometimes, we only need ‘someone’ to wake us up. To remind us. To motivate us for being a better one and to unleash the very best of us. My English teacher was my ‘someone’ and I hope, I can also be that ‘someone’ for anyone else.

My English teacher may already forget me since many years ago, but I will always remember him as someone who made me believe the good things in me. And again I hope, someday there will be someone I know who remember me the way I remember my English teacher.

Thank you, Pak Uyung! I am not who I am today without my pretty good English. And maybe my English would never be this good, if it was not because of you 🙂

 

I Finally Find My Pace

I can’t really share the details here, but there’s one thing or two I’ve been thinking a lot, confused me for a little while, but just out of the blue, I simply knew what I should do. I finally know what I want, and I finally find my pace to make it happen. Or maybe, to let it all just slip away.

I have come to realize how I used to rush many things in my life. I have to do it NOW. ASAP. Immediately. And so on. For some things in life, for instance working environment, it can be a good thing. But apparently, that’s not always the case for all other aspects in life.

When you want to pursue your dreams, it’s not about how fast you get there, but how you have prepared yourself to make it happen, unless, you’re happy enough for being just a mediocre.

Or when you fall in love, it’s not about how fast you make him yours, but how many years you will spend with him afterward. Not all people meet each other and stay together just in a month, some other still needs to be convinced before they move forward.

We simply need to remember that sometimes, good things take time. Rome was not built overnight, remember?

Hence I would say, just enjoy the ride! No need to speed up and risk it all. Then on the other hand, no need to freak out and take a u-turn when the road is bumpy. Just go with it, believe in yourself, do your best, and see how it turns out. Maybe, you will arrive in your destination, but maybe, God will lead you to somewhere else even beyond your imagination.

After spending many years in the same drama over and over again, it really feels good to finally found my pace. Now, it’s your turn to find yours!

You’re More Successful than You Realize

Last night, I had a quite long chat with an old friend and I told him how I felt like I hadn’t had enough in my career path. I said, “I’m not yet satisfied with my career achievement. It’s not that I’m not grateful, it’s just that I haven’t reached a point where I think; this is it.”

I do really feel that way about myself. It feels like I haven’t done much enough for the companies I’ve worked for. As much as I’m proud of being a part of my current Company, I still feel like I haven’t found that one thing I really want to do for the rest of my life. I also don’t feel like I’ve learned much enough in my life, I’m not yet as good as I want me to be, and I still have a so long way to go before defining my career as a success.

And then a few hours later, I found this video. I watched it, and it gave me chills! And yeah… a little bit of tears came out, just a little bit 😉

I don’t know how much score will be given by my families or best friends about my success, but it got me thinking… maybe, I’ve been too tough to myself. It’s good to be the hardest critic to myself, but maybe, it’s been over the top. And again, it reminded me once again to be thankful for all I have.

Yes, it’s still true that it takes a really long time for me just to figure out the next best thing in life. But hey, good things take time, don’t they?

And yes, it’s also true that I haven’t been somewhere I really want me to be… but I’ll get there! I know I’ll get there.

So maybe, I just need to be a little bit more kind to myself. Just one rejection doesn’t necessarily mean the whole years I’ve been working on is a failure. Other mediocre gets the same job with mine doesn’t make me out of the blue on the same average level with them. Been struggling in pursuing my big dreams doesn’t necessarily mean that I have failed either. I only fail once I give it up, right?

Life is still a long way to go. I haven’t failed, I just haven’t arrived in my final destination because I’m a little bit lost along the way. But that’s okay! As long as I keep on going, then I’m already on a right direction. For now, all I need to do is taking a deep breath, smile, give applause for myself, and continue running toward my finish line. I still don’t think that I have been as successful as I wish I were, but perhaps it’s true, I’m actually more successful than I realize.

And well, maybe, it’s a sign that it’s okay to reward myself a fancy trip, a little bit over budget, in my Greece trip this month, no? 😉

P.s.: Tomorrow is another Monday, let’s continue the race!

My Sunday Thought

It might be sad but in fact, not everyone deserves their success at work. That kind of people that leaves us wondering… how could this life be so unfair?

Some people are easily on top because their dads owning the company. Or some kind of reputable people in the country. Some of them have proven that they deserve that tittles on their name cards, but some of them are simply the ones who make people think, “This is the generation where the empire will go down.”

I also spotted so many people going far and faster than everyone else just because they went to some school abroad. Vacancies for cool jobs in Indonesia sometimes only open for overseas graduates. I’ve worked with so many overseas graduates, even the bachelors or MBAs from ivy schools, but trust me, it doesn’t make them so smart that they deserve to lead the team. Some of them are indeed have learned so much more than us, but some of them are just the ones who apparently did not really do well in their colleges.

Another heart breaking reality is how a foreigner can be out of the blue our new boss at work. Some people from developed countries working in developing countries thinking that they know what they’re doing here. Some of them are amazing, but some of them are better going home. I’ve come to learn that it’s not about our nationalities, it’s instead our capabilities to prove ourselves.

I write this post not because I envy. I may be everything but envy. I simply want to share my thought that it happens. It happens and there’s nothing we can do to change this reality. There’s no such a spell that can reveal the ‘real’ them. Hating and hoping they will miserably fail is completely a waste of time. It is what it is and I’m afraid, we just need to live with it. Wherever we work, we may always find some people like them.

However, I’m not saying that it’s okay to let them win from us. It’s NOT okay to give up just because we were not born rich, not either born somewhere in western part of this world, not even believing that we would be nothing just because we only went to ordinary schools. Even though our countries and schools are a part of our identities, I’m a strong believer that they don’t necessarily define who we really are.

Even if we didn’t manage to study in a fancy school, it doesn’t mean we cannot get the fancy job we always dream of. If we also want to get into that fancy school, then go for it! We’ll get there, maybe longer and harder, but we’ll get there. And about the not-so-goof expatriates… just show them what a smart Indonesian we are! Learn from the good ones, but don’t be too much irritated by the annoying ones. At the end of the day, this is OUR country. They can’t be so cocky, they earn a living in our country.

So guys… never ever feel inferior for who we are. Do our best and be proud of it! Be so fabulous that people can’t ignore you. Make people want you! Do not envy, just grow gracefully and let people envy you back, even before you know it 😉

Have a great Monday and one great week ahead!

Apa Kabar Aplikasi Beasiswa MBA Gue?

Rencananya, tahun ini gue kepengen coba, sekali lagi, apply beasiswa MBA entah itu ke US, UK, atau Aussie. Awal tahun 2014, dengan penuh semangat, gue pernah menulis blog yang ini. Pertanyaannya sekarang, berhasil kah gue menembus beasiswa yang gue idam-idamkan itu?

Well, jangankan berhasil atau gagal… sekedar coba mengirimkan aplikasinya pun enggak jadi gue realisasikan di tahun 2014 ini! Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana: gue ngerasa masih belum siap.

Hari pertama gue ikut GMAT Preparation Class, gue masih menikmati tiap menit dalam kursus itu. Gue excited ketemu teman-teman baru yang juga mempunyai cita-cita yang sama dengan gue. Senang bisa berbagi cita-cita, berbagi cerita, informasi, serta tips dan trik terkait big dreams kita itu. Ada beberapa teman yang terlihat luar biasa pintar, dan beberapa teman lainnya yang bisa berbahasa Inggris dengan luar biasa fasihnya.

Awalnya, suasana kelas yang seperti itu masih membuat gue ngerasa bersemangat, sampai akhirnya gue masuk ke pertemuan ke dua, ke tiga… semakin lama, gue semakin ngerasa tertinggal di belakang. Dan yang paling enggak pernah gue sangka-sangka, gue ketinggalan pelajaran justru karena kendala bahasa!

Jadi di tempat kursus GMAT gue itu, pengajarnya orang Amerika asli, dan tentunya, dia selalu membawakan materi kursus dalam bahasa Inggris. Gue sering ngerasa dia bicara terlalu cepat serta banyak menggunakan istilah-istilah yang enggak bisa gue pahami. Yang bikin gue ngerasa makin down, nyaris semua teman sekelas gue terlihat bisa mengikuti materi pelajaran dengan mudahnya!

That was the first time in my life I realized that my English is not good enough. MY 6.5 IELTS score is far from enough.

Saat sedang luar biasa frustasi dengan ketertinggalan gue itu, gue menemukan satu lagi hal yang bikin gue jadi makin patah semangat: kampus yang gue minati mewajibkan seluruh international students untuk punya skor IELTS minimum 7.0.

Gue tahu, skor 6.5 itu gue dapatkan sudah lebih dari 2 tahun yang lalu, saat gue masih baru bergabung dengan Niro, perusahaan gue sebelumnya. Setelah hampir 3 tahun kerja di Niro, gue yakin English gue sudah mengalami kemajuan secara di sana gue lebih aktif berbahasa Inggris untuk keperluan pekerjaan. Memang cuma ada 2 expatriates di sana, plus sesekali berkomunikasi dengan HQ team di Malaysia, tapi gue yakin itu pun udah banyak improve English skill gue. Tapi tetap saja, semua itu toh nyatanya nggak bikin gue bisa survive di kelas GMAT! I mean, if I’m not good enough for the preparation class, then what makes me think I will survive in the real class? Apalagi ceritanya, gue ngincer kampus-kampus yang masuk dalam World Top 10

Akhirnya dengan berat hati gue putuskan… gue masih harus menunda, satu tahun lagi. Tapi tentu saja, gue enggak pengen satu tahun berikutnya itu jadi satu tahun yang sia-sia! Gue pun memutuskan… untuk pekerjaan gue selanjutnya HARUS pekerjaan yang mewajibkan gue speaking English setiap harinya. Itulah sebabnya, di awal tahun ini gue menghadiri 3 job interview yang gue tahu sejak awal, gue akan berhadapan langsung dengan expatriates di sana. Lalu kenapa akhirnya gue lebih memilih kerja untuk Lazada? Karena saat interview, gue lihat di sini paling banyak jumlah bulenya 😀

Gue nggak tahu apakah kerja di sini bisa bantu gue mencapai big dream gue itu… Tapii, yah… at least, I’m doing something real to get there. Once again, please wish me luck!

Even if I Fail a Hundred Times…

Sejak kecil dulu, bokap sering bilang gue ini enggak jago matematika. Gue butuh waktu yang luar biasa lama hanya untuk menghapal perkalian 1 sampai 10. Nilai matematika gue sampe pernah dapet merah waktu SMA dulu. Gue juga gampang banget lupa sama segala sesuatu yang berhubungan dengan angka. Gue cuma ingat tanggal lahir gue sendiri, dan gue cuma hapal luar kepala nomor hp gue dan nomor hp bokap gue. Itupun nomor bokap pernah sengaja gue hapalkan buat keperluan future emergency aja.

Kelemahan gue terkait angka terus terbawa sampai gue mulai kerja. Gue bukan tipe accounting manager yang akan langsung ingat saat ditanya, “Tahun lalu PBT kita berapa ya?” Duh… jangankan net income tahun lalu… Net income bulan ini pun, bisa jadi gue udah lupa lagi. Nggak heran kalo gue jadi ketergantungan banget sama kalkulator dan Excel sheet. Makanya tiap kali meeting, bisa dipastikan gue masuk ke ruang meeting dengan membawa si laptop dalam pelukan, hehehe.

Awalnya, kelemahan gue yang satu ini sama sekali tidak gue anggap sebagai a big thing. At least, gue udah terbukti bisa more than survive kerja di bidang finance and accounting yang notabene sangat identik dengan angka-angka. Dengan modal jago Excel saja sudah cukup bikin gue ngerasa safe dalam menjalani pekerjaan sehari-hari. Everything was fine, until I found out that I need to obtain GMAT score if I wish to apply for MBA program. Right when I knew about this, I was dead inside. Masalahnya adalah: GMAT terkenal dengan tes matematika yang luar biasa susahnya 😦

Gue menghabiskan waktu lebih dari satu tahun lamanya hanya untuk apply for GMAT preparation class. Tidak pernah terbayang di benak gue bahwa someday gue harus ikutan ‘kursus matematika’. Dengan alasan sibuk dan sering lembur, gue menunda aplikasi gue itu. Gue terus menunda… sampai pada akhir tahun 2013, gue seperti mendapatkan ‘a wake-up call’. Dalam sekejap, gue langsung sadar… kalo gue bener-bener pengen kejar beasiswa MBA, maka suka nggak suka, gue harus bersedia menghadapi GMAT. Maka tanpa pikir panjang, gue langsung daftar kursusnya dan langsung bayar di muka keesokan harinya.

Sejak kemarin, ceritanya gue terpaksa ikut motivational training and annual sales meeting yang diselenggarakan selama 3 hari 2 malam di salah satu hotel di Jakarta. Padahal besok itu hari pertama gue kursus, eh gue malah harus nginep di hotel segala. Jadilah tadi malam gue lembur di kamar hotel hanya untuk belajar GMAT. Maksud gue at least, saat hari pertama kursus, gue udah punya bayangan lengkap GMAT itu seperti apa. Ibaratnya jaman kuliah dulu, gue harus baca bukunya dulu, minimal satu bab, sebelum kelasnya dimulai.

Tadi malam, dalam rangka belajar, gue download software simulasi GMAT yang disediakan MBA.com. Lalu tanpa pikir panjang, gue memulai simulation test perdana gue. Session pertama masih gampang, karena writing itu kan emang udah hobi gue banget. Tapi begitu gue mulai masuk ke sesi qualitative… baru soal pertama, gue langsung frustasi. Banyak soal yang saking susahnya, gue asal nge-klik aja salah satu pilihan yang ada. Badan langsung terasa capek, kepala panas, pusing, stres, pesimis dan putus asa…

Berbagai pikiran negatif langsung melintas di benak gue…

“Aduh… besok lusa di tempat kursus, udah pasti gue yang paling oon.”

“Aduh… jangan-jangan GMAT score gue di bawah rata-rata manusia pada umumnya.”

“Aduh… mana mungkin gue bisa dapet beasiswa MBA kalo perkalian 1 sampe 10 pun gue udah ada yang lupa-lupa inget.”

“Apa mendingan gue apply beasiswa tahun depan aja ya? Tahun ini udah nggak keburu kayaknya… GMAT gue pasti masih jeblok gini nilainya…”

Sampai akhirnya… “Aduh sudahlah… gue kerja jadi Accountant seumur hidup juga nggak papa lah. Mungkin, gue cuma belum menemukan accounting job yang tepat?

Dalam keadaan putus asa, gue tekan “Pause Exam” di layar laptop gue. Gue hentikan sejenak simulasi GMAT gue itu. Gue langsung beranjak ke kamar mandi, bersihin make-up, cuci muka, dan ganti baju tidur. Saat itulah, tiba-tiba gue teringat dengan video yang diputar di motivational training kemarin pagi. Pernah dengar Nick Vujicic? Pria asal Australia yang terlahir tanpa lengan dan kaki…

Di video itu, Nick memperagakan dirinya tengah terjatuh. Dan dalam keadaan tengkurap, dia berkata kepada audience-nya, “I’m down here. Face down. And I have no arms, no legs. It should be impossible for me to get back up. But it’s not. You see, I’ll try 100 times to get up.  And if I fail 100 times… if I fail and I give up, do you think I’m ever going to get up? No. But if I fail, I try again, and again, and again.”

Setelah mengingat video itu, gue bilang sama diri gue sendiri, “Even if I fail a hundred times, I will try again a hundred times. Again, and again, and again.”

Waktu di Binus dulu, gue pernah terpaksa mengikuti mata kuliah matematika bisnis. It was a nightmare for me… but you know what? Gue bukan cuma berhasil lulus dari mata kuliah itu, tapi juga bisa bawa pulang angka 90 di transkip nilai gue. Gimana caranya? Gue belajar dari 0; belajar dari buku matematika anak SMP (atau SD?) yang membahas soal aljabar dasar. Satu buku matematika bisnis pun gue lalap habis dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Gue lalu berpikir… jika waktu kuliah dulu gue bisa dapat nilai 90, kenapa sekarang tidak?

GMAT memang jauh lebih sulit daripada matematika bisnis, tapi jika tidak dicoba dulu, bagaimana gue bisa tahu berapa nilai yang akan gue bawa pulang? Kalaupun nantinya gue gagal mendapatkan skor yang gue inginkan, bukankah gue masih bisa mencoba lagi?

Gue pun bertekad… gue akan mengikuti kursus gue dengan baik. Apapun yang terjadi, gue akan selalu berusaha datang tepat waktu. Gue akan memanfaatkan waktu luang yang gue punya untuk berlatih lagi dan lagi. Kemudian daripada bengong, lebih baik gue melatih otak gue untuk berhitung tanpa bantuan kalkulator. Gue juga bertekad akan kembali mencari buku-buku matematika anak sekolah untuk mengingat kembali rumus-rumus luas dan volume.

Besok, gue akan memulai hari pertama gue kursus GMAT. Kursus memang tidak jaminan gue akan dapat skor bagus. Sudah dapat skor bagus pun, tidak jaminan gue berhasil mendapatkan beasiswa. Bahkan dengan gelar MBA di tangan pun, belum tentu gue bakal diterima kerja di perusahaan impian… Tapi apapun yang terjadi nanti, malam ini gue kembali merasakan satu hal: rasa bahagia karena gue tahu gue sedang mengejar sesuatu yang berarti dalam hidup gue ini.

Malam ini gue sibuk berceloteh soal kursus GMAT gue ke teman-teman kantor. Soal essay yang sudah gue tulis sejak satu tahun yang lalu, soal masih bingung mau minta referensi sama siapa, soal beasiwa dan cita-cita besar gue… Hanya dengan bercerita, sudah bikin gue ngerasa bahagia.

So here I go again… I tell myself again that I will never ever give up my big dreams. Even if I fail a hundred times, I will try again a hundred times.

Please pray for me yaa, guys. Wish me luck!

The Climb

Kemarin pagi, dalam perjalanan menuju kantor, tiba-tiba gue teringat lagu The Climb yang sempat gue nyanyikan berdua dengan seorang teman di acara karaoke dalam rangka ultah gue beberapa minggu yang lalu. Waktu itu, teman gue bilang, “Liriknya keren yaa.”

When I started singing the lyrics on my head… it felt like the song really speaks my mind. Sesampainya di kantor, gue langsung buka laptop dan googling lirik lengkap lagu The Climb by Miley Cyrus itu. Dan benar saja… gue terkesima banget dengan lirik yang gue baca. Semua yang gue rasakan akhir-akhir ini seperti terangkum dalam satu lagu. I really really like the lyrics! Saking sukanya, gue sampe kepengen berbagi isi lirik yang sangat inspiring itu.

So here we go… The Climb by Miley Cyrus.

I can almost see it
That dream I am dreaming
But there’s a voice inside my head saying
You’ll never reach it

Every step I’m taking
Every move I make feels
Lost with no direction
My faith is shaking

But I gotta keep trying
Gotta keep my head held high

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose

Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb

The struggles I’m facing
The chances I’m taking
Sometimes might knock me down
But no, I’m not breaking

I may not know it
But these are the moments that
I’m gonna remember most, yeah
Just gotta keep going

And I, I got to be strong
Just keep pushing on

Keep on moving, keep climbing
Keep the faith, baby
It’s all about, it’s all about the climb
Keep the faith, keep your faith, oh oh oh whoa

Berbekal lirik lagu ini… berbekal doa dan keyakinan dalam hati, gue pun mulai kembali mengejar mimpi. Bismillahirahmanirrahim 🙂