Surround Yourself with the People Who Want You

Berawal dari nonton Crazy Ex Girlfriend, gue jadi bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Kenapa ya, masih ada orang yang mau sampai sebegitunya ngejar-ngejar orang lain yang sebetulnya tidak menginginkan dia?” Bukan cuma dalam konteks cinta-cintaan, tapi juga konteks pergaulan. Ada satu episode di serial TV itu yang bercerita si tokoh utama juga lebih ngotot berteman dengan orang yang awalnya nggak berminat untuk berteman dengan dia sampai akhirnya malah melupakan teman baiknya sendiri.

Gue lupa sejak kapan persisnya, gue punya prinsip; “Surround myself with the people who want me too.”

Kenyataannya, berteman atau pacaran setelah dewasa (di saat kepribadian seharusnya sudah matang-matangnya), justru lebih complicated daripada jaman remaja dulu.

Di sekolah atau di kampus dulu, bisa jadi orang lain tidak mau berteman dengan kita karena dianggap “kurang keren”, tapi sekarang bisa jadi sebaliknya juga; orang lain enggan berteman dengan kita hanya karena menganggap kita ini “terlalu keren” buat ukuran mereka.

Atau soal pacaran, waktu SMA bahkan sampai kuliah dulu, pacaran enggak mesti terlalu banyak kriteria. Punya pacar cewek yang lebih pintar di kelas? It’s cool! Tapi kalo punya pacar cewek yang lebih sukses karier-nya di kantor? Pikir lagi dulu! Begitu pula sebaliknya, perempuan-perempuan dewasa umumnya punya syarat-syarat baru soal Mr. Right yang tidak pernah ada saat masih remaja dulu.

Sehingga kembali lagi, buat apa ngotot mempertahankan orang lain yang bahkan tidak mau repot-repot memperjuangkan kita hanya karena kita tidak masuk ke dalam kriteria mereka?

Contohnya, orang yang susah banget diajak ketemuan saking sibuknya dia. Padahal kenyataannya, terlalu sibuk itu hanya mitos! Semua orang PASTI akan menyisihkan waktu untuk hal-hal yang menjadi prioritas mereka. Dan jangan lupa, perbuatan mencerminkan prioritas! Jika mereka mengaku super sibuk tetapi di socmed malah foto-foto dinner bareng orang lain, berarti ya sudah, kita memang bukan prioritas mereka.

Kemudian tidak perlu juga bersikap seperti maniak yang terus menerus mengirimkan puluhan text kepada orang yang hanya balas sekenanya, atau, kepada orang yang tidak pernah ingat untuk menanyakan kabar kita terlebih dulu. Jika mereka ingin ada kita dalam hidup mereka, maka mereka PASTI akan berusaha untuk selalu keep in touch.

Yang paling amit-amit, jangan mau ‘disembunyikan’ oleh teman atau pacar kita sendiri! Pacaran backstreet hanya berlaku jaman ABG dulu, dan, hal yang sama TIDAK seharusnya pernah berlaku dalam urusan persahabatan. Kalau sampai mereka malu terlihat orang lain sedang bareng sama kita, ya buat apa kita bangga terus bareng sama mereka? Apapun alasannya, jangan biarkan orang lain menyembunyikan kita di dalam lemarinya!

Yang terakhir, jangan pernah menjadikan orang lain yang hanya menjadikan kita sebagai “option” mereka menjadi “priority” untuk diri kita sendiri. Misalnya, orang-orang yang hanya mencari kita di saat sedang kesepian, atau orang-orang yang datang dan pergi sesuka hati mereka saja. Bukan berarti harus dimusuhi, tapi jauh lebih baik jika tidak perlu sampai memberi tempat khusus untuk mereka dalam hidup kita. Jangan sampai merusak hubungan dengan orang-orang terdekat hanya karena mementingkan mereka yang tidak seberapa dekat.

Hidup terlalu pendek untuk merasa selalu ditolak. Jalani hidup dengan orang-orang yang juga ingin menjalani hidupnya bersama dengan kita. Perjuangkan hanya orang-orang yang memang pantas untuk diperjuangkan. Tidak perlu mendramatisir hidup kita sendiri dengan terus mengejar-ngejar orang yang tidak ingin untuk dikejar. Kenyataannya, hidup bahagia itu lebih sederhana daripada yang kita kira.

Surround yourself with the people who want you, by then you will know that I am right.

Kenapa Bahasa Inggris itu Penting?

Sebetulnya menurut gue, Bahasa Inggris tidak selalu penting untuk semua orang. Misalnya, orang-orang yang sudah nyaman dengan pekerjaan yang sama sekali tidak mengharuskan untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Atau orang-orang yang tidak pernah berniat pergi bertualang ke luar negeri. Jika memang tidak akan pernah terpakai, ya buat apa juga?

Akan tetapi, lain ceritanya jika bahasa sudah mulai jadi penghalang untuk karier kita. Tidak diterima kerja di perusahaan impian hanya karena gagal interview dalam bahasa Inggris. Atau, diterima tapi tidak pernah mendapatkan promotion hanya karena tidak mampu berinteraksi dengan rekan kerja atau klien asing.

Lain pula ceritanya jika masalah bahasa menjadi penghalang kita untuk jalan-jalan keliling dunia. Kalaupun bisa jalan-jalan, jadi harus tergantung dengan orang lain atau harus rela keluar banyak uang hanya untuk bisa bayar tour guide. Bagaimanapun, traveling akan lebih seru dan juga terasa lebih mudah jika kita lancar berbahasa Inggris!

Dalam dunia kerja, bahasa Inggris yang masih terbata-bata bukan hanya rawan miskomunikasi, tapi juga bisa membuat rekan kerja memandang kita dengan sebelah mata. Rekan kerja asing tidak akan bisa melihat betapa pintarnya kita jika mereka bahkan tidak bisa mengerti kita ini sedang ngomong apa! Omong-omong soal promosi, bagaimana atasan bersedia memberikan promosi jika mereka harus menghabiskan waktu sampai satu jam hanya untuk mengoreksi grammar dan susunan kata dalam report yang kita buat?

Kemudian untuk urusan jalan-jalan, bahasa Inggris yang masih pas-pasan akan membuat kita cenderung tidak percaya diri saat harus berkomunikasi dengan turis lain yang kita temui di perjalanan. Padahal sebetulnya, ngobrol-ngobrol dengan sesama turis itu selalu ada unsur menyenangkannya lho! Jadi tahu soal kehidupan di negara lain, atau, jadi tahu soal tempat berlibur lain yang wajib kita datangi! Ada kalanya, orang-orang yang gue temui di perjalanan itu pula yang bikin petualangan gue jadi semakin indah untuk dikenang.

Sekali lagi, bahasa Inggris memang tidak selalu penting, TAPI, apa salahnya untuk dipelajari? Kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita akan merasa betah kerja di kantor yang sekarang. Jangan biarkan bahasa menjadi batu sandungan buat karier masa depan kita! Dan tentunya, kita tidak akan pernah tahu betapa indahnya punya teman-teman dari berbagai belahan dunia jika kita tidak bisa berkomunikasi dengan mereka!

Finally, if you ask me the same question, “Why is English important to you?” 

My answer, “Because good English has made my dreams come true.”

Tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai belajar… We’re never too old just to start learning something new! Jadi, jangan pernah jadikan usia sebagai alasan! Just do it start from now!

Good luck!

Life is Too Short to be a Hater

Ceritanya tadi malam, gue nonton siaran ulang Desperate Housewives season 6 yang salah satunya bercerita tentang Lynette yang sangat membenci kehamilannya. Apa alasannya? Usianya sudah kepala 4 dan sudah punya 4 orang anak! Ditambah lagi, saat itu dia sedang mengandung anak kembar pula!

Dalam episode itu diceritakan Lynette sedang duduk di ruang tunggu klinik kandungan seorang diri, sedangkan persis di sebelahnya, ada pasangan suami-istri yang terlihat sangat bahagia dengan kehamilan pertama sang istri. Saat sang suami sedang pergi mengambil minum untuk istrinya, Lynette mulai mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan kepada si calon ibu muda tentang betapa tidak enaknya mengandung, melahirkan, dan membesarkan seorang anak.

Berbagai hal buruk dilontarkan Lynette berdasarkan pengalaman pribadinya. Soal melahirkan dan menyusui merusak bentuk tubuh, soal suami tidak akan mau repot-repot ikut mengurus anak-anak di rumah, sampai soal anak-anak itu hanya akan tumbuh jadi remaja pembangkang yang mencuri uang orang tuanya. Puncaknya, Lynette juga bilang, “You will feel lonely but you will never ever have some times alone.”

Mendengar perkataan Lynette, si calon ibu muda yang tadinya terlihat bahagia menyambut kelahiran anak pertamanya langsung jadi sedih dan menangis tersedu-sedu.

Apa yang coba gue sampaikan dalam tulisan ini? Sesuai judul tulisan; life is too short to be a hater. Dengan kata lain, gue mencoba bilang: jangan buang-buang waktu untuk menjadi hater, alias, perusak kebahagiaan dalam hidup orang lain.

Don’t be a hater for a stranger like Lynette did, but on top of that, don’t be such a hater for someone you know in your daily life.

Jangan merusak excitement orang lain dengan mengatakan bahwa “hal itu biasa-biasa saja”. Jangan mengucapkan hal tersebut meskipun kita benar berpendapat demikian, dan terlebih lagi, jangan mengucapkan hal tersebut hanya karena kita merasa iri. It’s just shallow, isn’t it?

Jangan merusak rencana-rencana orang lain dengan selalu mencari sisi buruknya. Bukannya gue tidak realistis, tapi faktanya, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang tidak punya kekurangan! If you can’t be supportive, at least, you can be quiet.

Jangan membenci orang lain, apalagi sampai berhenti berteman atau bahkan memusuhi hanya karena iri dengan kebahagiaan dan kesuksesan mereka. It’s not their fault for having such a great life, it’s your own fault for wasting your times just to hate other people’s life rather than making a great life for yourself instead.

Kembali lagi ke judul awal; hidup terlalu singkat untuk menjadi pembenci. Orang-orang yang kita benci itu sudah terbiasa dengan hadirnya haters dalam hidup mereka. Tingkah kita untuk ‘membenci’ mereka itu sudah tidak lagi membebani hidup mereka, malah kenyataannya, hal itu justru membebani hidup kita sendiri!

Menjadi hater hanya akan mengotori hati kita sendiri. Buang-buang waktu kita sendiri. Merusak kebahagiaan kita sendiri. Dan tentunya, hanya akan membuat kita menjadi pihak yang dibenci. Sekali lagi, kita yang akan dibenci, bukan mereka! Kita hanya akan dikenal sebagai “si tukang dengki yang selalu sinis dan senang merusak kebahagiaan orang lain”.

Sebetulnya kalo menurut gue, hater is hater for a reason. Menjadi tukang benci hanya akibat dari ketidakbahagiaan dalam hati atau ketidakpuasan atas hidupnya sendiri. Itulah sebabnya gue selalu bilang; live your life into the fullest! Do what you love to do. If you want something, then you will do your best to go for it and make it real!

Antara menjadi pembenci atau menjadi orang yang berusaha meningkatkan kualitas hidup sendiri itu membutuhkan jumlah waktu dan tenaga yang sama besar. Jadi, daripada buang-buang waktu untuk mencari-cari hal buruk untuk dilontarkan, daripada buang-buang tenaga hanya ‘memikirkan’ dan ‘mengamati’ orang-orang yang kita benci, kenapa tidak mencari cara untuk membahagiakan diri sendiri? Make yourself proud is always much better than make yourself as a hater!

Finally, untuk teman-teman yang sering jadi sasaran pembenci, ingat-ingat saja lirik lagunya Taylor Swift, “Haters gonna hate hate hate.” Mereka (the haters) baca artikel ini pun belum tentu tergerak hatinya untuk memperbaiki diri, karena memang mereka sendiri yang lebih memilih untuk tetap menjadi hater. If that’s the case, no matter how kind we are, haters will hate anyway. Just make sure that we’re NOT one of those haters okay!

Have a lovely weekend!

Sometimes, All that We Need is Just a Break

Last Friday was really one of those exhausting days in life. So many things went wrong, everything ran so fast that I barely had a moment to breath, so many plans didn’t work out in a way I desired, so little times yet so many works remained undone… Not to mention that I literally feel extremely tired everytime I wake up from sleep in the morning.

At some point, I couldn’t help myself but wondering… When will this madness end? Will it ever end in the first place?

But then on Saturday, I had a lovely day. After being occupied with lots of works for a while, I finally had a chance to do one thing that I always love to do: went shopping. As much as I love shopping online; which I did a lot more often lately, walk along the mall and carry the shopping bags on my own hands are somehow irreplaceable.

I love the sounds of the hangers in a small boutique. The smell of new books in a bookstore. I love hunting, fitting, and paying for the stuffs I love to buy. And just like that, I forgot my things to do back at work. I forgot how stressful this life can be. I forgot all the disappointment and failure that brought me down. And then at the end of the day, I asked myself, why should I want this madness to end? My life is running so fast, but thanks to that, it also brought me faster to the things I always dreamed of in life.

You know… that last shopping day was actually no ordinary shopping day. It was a shopping trip to buy the things I need for the upcoming vacation trip by the end of this week.

I bought a pair of sandals, and when I did, I picture myself walking on a white sandy beach. I also bought a new beach bag that fits my snorkel, and when I saw it, all that I could think of was the beauty of under the sea. I also bought a sunblock, travel size toiletries, medicines, all of the small things that will come in handy during my trip!

All that joys on last Saturday has told me this one big thing: I simply need a break. It’s not about my job, it’s not about the battles I’ve lost, it’s not about me having no idea about my own life. It’s simply about me doing all other things that I love to do. I love working and pursuing my dreams, but a nonstop run will only kill myself. It’s just like traveling. No matter how much I love it, a nonstop trip will only make me dying over a boredom.

I need to wake up in a beautiful place knowing that a new adventure will soon begin. I need to wander and get lost and made a discovery along the way. I need to jump off to the water and make that blue sea as my pool. I need to go to bed at night knowing that I still have another day to travel and even later in my last night, I will be able to tell myself that I’m ready to get back to my real and wonderful life back at home.

Again sometimes, all that we need is just a break, a very good one. Reward ourselves for all the hard works, the sleepless nights, and all the pain and tears we had along the journey. Relax, have fun, and when I’m back, I will be in my very best state to figure out the next best thing in life. What’s next? What do I really want? And how do I get there? Well, let’s keep those questions until my vacations ends! 😉

Happy Monday and happy holiday for those who celebrate! 🙂

Let’s Forgive Our Friends for Saying All of Those Stupid Stuffs

Hari ini gue menemukan satu friendship quote yang kemudian menginspirasi gue untuk menulis blog ini. Dikutip dari serial TV A to Z episode 11: “Best friends are the ones who stay supportive even when the other one says something idiotic.”

Hal ini mengingatkan gue kepada orang-orang yang sudah menjadi sahabat gue bertahun-tahun lamanya. What makes them so special? Because they forgive me for saying so many idiotic stuffs all these years!

Misalnya, gue cenderung mengulang pola yang sama tiap kali sedang jatuh cinta. Bingung harus gimana, sibuk mengumpulkan dan menebak ‘pertanda-pertanda’, naik-turun emosi gue yang seolah tidak ada habisnya, dsb dsb. You know… those stupid things that you say and do when you fall in love.

Atau kemudian, curhatan mellow dan lebay-nya gue di saat sedang patah hati. Gue bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk mencurahkan hal yang itu-itu saja. Hal-hal yang kalo dipikir sekarang-sekarang ini, “Kenapa dulu gue mesti sampe sebegitunya amat ya?”

I know that all of them sound stupid, boring, wasting time and so on… but my best friends just never push me away. They keep listening and being supportive all the times!

Itu juga sebabnya, saat gantian teman-teman yang sedang punya masalah, gue tidak lantas nge-judge, bersikap sinis, membalas dengan sindiran, apalagi bersikap tidak peduli dengan gue cuekin begitu aja… Gue enggak mau membuat suasana hati mereka malah jadi lebih buruk daripada sebelumnya. I’m just trying to understand… saying stupid things can happen to anyone of us, including the smartest ones.

Makanya kalo menurut gue, sebagai sesama manusia biasa, maklumi saja hal-hal bodoh dan tidak penting yang diucapkan oleh teman-teman kita di saat-saat sulit dalam hidup mereka. Jika tidak ada yang bisa kita bantu, maka sekedar mendengarkan saja sudah lebih dari cukup. Malah sebetulnya kadang-kadang, seseorang itu hanya butuh untuk didengarkan. It’s simply everything they need just to feel better.

Begitu pula soal curhatan teman yang isinya itu-itu saja. Misalnya, mereka sering curhat soal bosnya tapi toh masih saja bekerja di perusahaan yang sama. Atau curhat soal kelakuan pacarnya tapi masih saja pacaran dengan cowok yang sama. Sering mengeluh belum tentu berarti mereka ingin menyerah! Mereka hanya ingin melepas beban guna menguatkan hati untuk tetap bertahan. They want to fix the situation and they need our support as their best friend!

Gue tipe orang yang percaya keakraban pasti akan memunculkan sisi lain dari semua orang yang pernah kita kenal. Jika kita masih belum menemukan sisi ‘unik’ dari seseorang, maka artinya kita belum benar-benar mengenal orang tersebut. Bahkan orang yang paling pendiam dan tertutup sekalipun akan mulai menunjukkan sisi ‘bodohnya’ hanya kepada orang-orang yang mereka percaya.

Makanya kalau menurut gue, jika teman kita mempercayakan kita untuk melihat sisi lain dalam diri mereka, sudah seharusnya kita lebih merasa tersanjung daripada malah merasa terganggu. Atau yang lebih buruk lagi, jangan merasa terganggu dengan kebodohan teman-teman kita tapi malah tetap menuntut mereka untuk bisa mengerti kebodohan kita sendiri. It’s really not fair!

As we all know, living as a grown up is very tough. Yet I am still a believer that a good friend who listens will always make our life easier. And once again, good friends are the ones who stay supportive even when the other one says something idiotic. So guys, let’s forgive our friends for saying something stupid as well as they forgive us for wasting their times for the same silly stuffs. It’s Eid week and it’s perfect chance to forgive each other, isn’t it? 😉

Read a Book, Start from Now!

Believe it or not, there is a different quality between people who read and the one who rarely read a book.

Have you ever met a person who looks like a walking Wikipedia? Or someone who tends to know the answer to every question. The one that’s so damn good at their job with lots of knowledge in their brain. And maybe, the one whose attitude only keeps them going further with their accomplishments in life. Well, I can tell, they are the ones who read a lot of books along their life.

And who says reading does necessarily mean you’ve got to have a lot of books on your shelves at home?

When you’ve just joined a Company, find the SOP or any other guideline that you can read.

When you’ve just used a new software for your job, read the FAQ, browse online to learn more about the feature, or why don’t you buy an e-book to help you learn some more?

When you’ve got to handle a project that you used to learn back in the college, find your old book and reread until you recall all of the information needed.

When you have a leisure time, it’s a good time to read the newspaper to keep yourself updated. And it’s always important to read an article about leadership, self-motivation, or any kind of article that can help you to become a better person.

Or maybe, let’s just start with this little thing at work: read your e-mails! And don’t forget to read the attachment as well.

Too busy to read a book? I believe that’s just a myth. If you have plenty of times to scroll down your social media, to browse online, to chat over Skype, to watch your favorite TV show, then you do have a time to read a book.

The people who looks smart with their knowledge is not becoming that good just by an overnight. They’ve read and they’ve learned their entire life.

So guys, there’s no doubt, start reading a book! Start from now! Read more and gain some more.

Happy reading!

The Best Decision in Life

imageThere are so many things happened recently that pushes me to make some kind of life-changing decisions. And I really hate it when it comes to make such important decision. It feels like I no longer know myself. I suddenly don’t know what I really want for my own life. I was confused until this morning, I looked into my phone screen and realized that I hadn’t changed the wallpaper for ages. I still used the picture of my previous office room’s decoration that I took over than one year ago!

Then I opened the picture gallery in my phone, looking for a new picture to be set as my wallpaper. I kept scrolling up until I found a candid photo shoot from a couple months ago. That was not the first time I saw that picture of me yet somehow, it still blew my mind. It was just an ordinary picture taken by my cousin using my iPhone 5. A candid picture taken right while I was laughing outloud. I looked so happy and my life seems so easy! I did still remember how I ever loved this picture just because of that reason.

That day, I had a fine afternoon with my families in a beautiful place in Bandung. I happened to visit its playground to look after my little nephew. When my sister came to play with his son, I walked to a wooden swing and played with it for a while. The breeze on my face, the beautiful surrounding, and the euphoria of playing with a swing after a quite long time made me feel so happy. I laughed at my nephew from the swing and right at that moment, my cousin captured this beautiful picture.

I know that it’s not an award winning photo or something, but seeing that picture is somehow comforting to me. It’s not that I have an awful life, it’s just that I’m happy to see me happy. I decided to use that picture as my new wallpaper and everytime I looked at it all day today, this picture just never failed to attract myself.

And then tonight, I was on the way back home, I took my phone from my bag, and there I saw this picture again. I looked at how bright and shiny and happy I was. Then again, it reminded me to that one beautiful afternoon with my families. Just like that, I suddenly knew what I really wanted in life. I only want to have a lot more beautiful days in my life. I want to smile and laugh a lot more and more. I want to have more of that moment where I whisper to myself, “I’m so happy with my life and I can’t be more grateful than this.”

Again, it doesn’t mean that there’s something wrong with the life I already have, it’s just that now I know how a best decision looks like. It may not look glamorous, fancy, or anything like that, not either the easiest or prettiest option I may ever have, but it should be the one that I know will bring joy into my life. I know that I may be wrong, but I will also know that I have chosen what’s best to myself. I think it’s one of the moments where people say when you know, you know.

Now that I know what I want, then it’s time for me to go and get what I really want! Finger cross!

Why Should People Lie?

Dari segala jenis dosa yang sering kita pelajari sejak kecil hingga dewasa, entah kenapa, ada satu dosa yang seolah sudah tidak lagi dianggap berdosa oleh manusia pada umumnya. Dosa apa? Dosa karena berbohong.

Di bulan puasa ini misalnya. Memang banyak yang jadi mengurangi hura-hura, mencoba lebih sabar, dsb dsb. Tapi anehnya tetap saja, mulut masih dengan mudah membesar-besarkan cerita. Atau memutarbalikkan fakta. Atau yang paling buruk, mengarang cerita yang sebetulnya tidak pernah ada.

Kemudian gue juga kenal beberapa orang yang sangat taat beragama. Sangat takut berbuat dosa. Tapi giliran sedang terjepit, kebohongan pun bisa dengan mudah terucap dari mulutnya. Sepertinya, mereka lebih berani menanggung dosa sebagai akibat dari kebohongannya ketimbang menanggung konsekuensi dari kesalahan yang dia perbuat sebelumnya.

Ada pula beberapa orang yang selalu berusaha bersikap mulia. Selalu ingin berpikiran positif, anti membicarakan keburukan orang lain, tapi lagi-lagi, giliran sedang terjepit, mereka tidak sungkan menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Bersikap defensive dengan menempatkan dirinya sebagai ‘korban’ sehingga orang lain yang tidak bersalah akan terlihat sebagai ‘penjahatnya’.

Yang terakhir, sebagian besar dari kita sudah pernah melakukan ini, termasuk diri gue sendiri, dengan mengatasnamakan kebaikan di atas kebohongan tersebut. Satu jenis kebohongan yang dikenal dengan istilah ‘white lies’. Memang benar ada hadits-nya Nabi Muhammad tetap mengatakan bahwa masakan istrinya terasa enak meski tidak demikian keadaannya, tapi benarkah semua white lies kita masih berada dalam koridor kemuliaan hati seorang manusia?

Kenyataannya seringkali, white lies kita lakukan untuk menutupi kesalahan yang kita perbuat. Alasannya: supaya dia tidak marah atau demi menjaga hubungan baik. Ada pula orang yang suka melontarkan white lies dengan alasan: people won’t be able to handle the truth. Padahal sebetulnya, mereka hanya takut terlihat buruk. Jika sudah demikian, masihkan white lies itu bersifat ‘wajib’ untuk dilakukan?

Berbohong adalah berbohong. Jarang sekali benar ada alasan baik untuk berbohong. Kenyataannya, menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lain hanya akan memperburuk keadaan. Sekali, dua kali, lama-lama akan jadi kebiasaan. Sehingga sekali lagi, pada akhirnya, kita seolah lupa, bahwa berbohong juga perbuatan dosa.

Bagi teman-teman yang sesama muslim, mari kita jaga kesucian bulan Ramadhan dengan menjunjung tinggi makna kejujuran. Jangan hanya di bulan suci ini saja! Mari jadikan kejujuran sebagai kebiasaan.

Mengaku salah jika memang salah. Man up and be responsible for the damage you’ve done!

Tahan diri dari hal-hal yang hanya akan membuat kita merasa malu, sehingga nantinya, kita tidak perlu berbohong untuk menutupinya.

Sampaikan berita sesuai dengan kenyataan yang kita dengar sebelumnya. Jangan ditambah-tambah dan jangan mengubah asumsi menjadi fakta!

Hal yang sama berlaku juga di dunia kerja… Jangan sampai kerasnya politik kantor mengubah kita jadi si tukang bohong. Berpolitik boleh saja, tapi tetap harus ada batasnya! Gue tahu yang ini memang susah banget, dan kadang ini juga masih jadi PR untuk diri gue sendiri, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan!

Kemudian yang tidak kalah pentingnya, buat apa sih, kita suka mengarang ceirta yang tidak pernah ada? Apa tidak malu jika kelak kita tertangkap basah sudah lupa dengan cerita karangan kita itu?

Lakukanlah hal-hal yang bermanfaat, buatlah diri kita ini bangga dengan diri sendiri, sehingga kita tidak perlu repot-repot mengarang cerita hanya supaya terlihat hebat di mata orang lain. Saat kita sudah punya hidup yang luar biasa, kita akan dengan sendirinya punya segudang hal menyenangkan untuk diceritakan!

Lain kali, saat hendak berbohong, ingat prinsip dasar yang satu ini: butuh waktu lama untuk mendapatkan kepercayaan orang lain, tapi hanya butuh sekejap mata untuk kehilangan kepercayaan itu.

Orang yang sudah dicap ‘tukang bohong’ akan tetap dianggap berbohong meskipun dia sedang mengatakan yang sebenarnya. Tukang bohong akan sulit mendapatkan tempat entah itu di pertemanan atau juga lingkungan pekerjaan. Rumah tangga juga akan sulit sekali menjadi harmonis jika salah satunya suka sekali melakukan kebohongan.

Mari kita mulai berkata jujur, bersikap jujur, dimulai dari hal-hal yang sekecil-kecilnya. Dan percaya deh, mengakui kesalahan itu tidak seseram yang kita kira. Mengakui kesalahan justru akan menyelesaikan masalah kita dalam waktu yang jauh lebih singkat! Dan hati juga akan langsung lega.

Let’s use this Ramadhan opportunity to start fresh. Let’s start with a blank page and never fill in the new pages with new lies. Why should we lie if we have a truth to be told? Let’s be honest and be proud of it!

10 Alasan Untuk Tidak Selalu Mendengar Pendapat Orang Lain

Setahun belakangan ini, gue mulai belajar untuk tidak selalu mendengarkan pendapat orang lain tentang diri gue sendiri. I know that it sounds arrogant and stubborn, but believe it or not, it has made my life feel lighter, happier, and for some reasons, it has even brought myself to the next level of my life.

Semakin gue bertahan dengan prinsip ini, semakin gue yakin bahwa gue sudah melakukan hal yang benar. Apa alasannya?

  1. 99% pendapat orang lain akan tetap ada unsur subjektifnya. Mereka berpendapat berdasarkan sudut pandang, pengalaman, dan pola pikir mereka sendiri. Padahal kenyataannya, sesuatu yang baik untuk mereka belum tentu baik untuk gue juga;
  2. Bagaimanapun, pengalaman pribadi tetap merupakan guru terbaik untuk diri gue sendiri. I’m open for any suggestion, but I should be the one who decides since I know better what works and will never work to me;
  3. Satu-satunya orang yang pernah merasakan semua suka duka dalam hidup gue juga tetap hanya gue seorang. Orang lain boleh saja ngotot, tapi tetap gue yang paling tahu kapasitas diri gue sendiri. What is acceptable to me, what makes me happy, what I like and dislike, and so on;
  4. Tidak semua pendapat yang diberikan orang lain bersifat membangun. Selalu ada saja pendapat yang hanya diucapkan atas dasar rasa iri dan sifat-sifat buruk lainnya. Jika niatnya saja sudah tidak baik, maka untuk apa didengarkan?
  5. Banyak kritik yang diberikan orang lain dengan tujuan untuk membuat gue jadi ‘turun level’. Misalnya, orang-orang yang menganggap gue terlalu strict padahal sebenarnya, mereka hanya malas untuk melakukan sesuatu dengan benar. It’s not worth listening, not at all;
  6. Ada pula kritik yang gue terima hanya demi keuntungan pribadi mereka sendiri. They try to make me feel so bad that I’ll be willing to do everything in their favor;
  7. Mendengarkan aspirasi tim bukan berarti harus bisa mewujudkan keinginan semua orang. Berusaha menyenangkan semua orang hanya akan membuat gue menjadi leader yang tidak punya pendirian. Selain tidak efektif, hal seperti ini juga hanya akan bikin gue jadi capek sendiri;
  8. Terkadang, orang lain terlalu mudah menarik kesimpulan tentang hidup yang gue jalani. Hanya curhatan sesekali, mereka langsung bilang hidup gue unhappy. Kalau mau didengarkan, dari yang tadinya baik-baik saja, gue malah bisa jadi berpikiran, “Is there something wrong with my life?”
  9. Membuat keputusan berdasarkan my best judgment akan menutup peluang gue untuk menyalahkan orang lain jika segala sesuatunya tidak berjalan mulus. Lagipula toh, belum tentu orang yang ngotot memberi saran kelak mau bertanggung jawab atas pendapatnya itu…
  10. Gue sudah sangat sibuk dengan ‘to do list’ dari diri gue sendiri. Gue udah punya banyak banget hal-hal yang sedang gue coba perbaiki dari diri gue ini. Memenuhi personal goals gue saja sudah luar biasa susahnya, apalagi kalau gue harus memenuhi ‘to do list’ dari orang lain juga?

Beda orang, beda pula pendapat pribadinya. Kalau mau selalu didengarkan, maka tidak akan pernah habisnya! Gue sudah tidak pernah lagi membuat keputusan penting murni hanya karena pendapat orang lain. Kalau pun akhirnya gue menerima pendapat orang lain, maka keputusan itu gue buat atas kesadaran dan keinginan dari gue sendiri, bukan semata-mata demi memenuhi keinginan orang lain…

Jadi kalo menurut gue, selama kita sudah berupaya untuk memperbaiki diri kita sendiri, maka tidak usah pedulikan pendapat orang lain soal kepribadian kita ini. Hal yang sama juga berlaku dalam dunia kerja. Jika usaha terbaik kita juga sudah membuahkan hasil yang baik untuk perusahaan, maka tidak perlu lagi dibuat pusing dengan pendapat orang lain. Lalu yang paling penting, jangan biarkan pendapat orang lain membuat kita merasa serba kurang! Gaji kita kurang besar, pacar kita kurang ganteng, baju kita kurang keren, dsb dsb.

Whatever we do in life, people will always have something to say and hater will hate anyway. Since we can’t change the way people will behave, at least, we can definitely change the way we react and deal with the situation. We know better, God knows best, and I believe, it’s all that we need to keep going in live.

Have a nice Sunday!

My New Personal Goals

In the past few weeks, I’ve been thinking about the person that I want to become. About the way I talk, the way I react, the way I express everything I feel inside my heart… I can’t help but wondering… have I done the right things? The best things for myself? Have I tried hard enough to pursue my personal goals?

The more achievements you’ve won, the more pressures you’ve got to deal in life. And the more pressures you have, the more difficult for you to handle yourself. It’s so human and it can happen to anyone of us. Yet again, I just can’t help questioning myself… have I done my very best to be the very best version of me?

Most of the time I think, it will be very elegant if I’m capable to stay clam even when all things around me are going crazy. People may annoy me, deadlines may be just around the corner, but I wish I could just stay calm. I want to be able to focus with the problem solving rather than yelling at the people for the things that they did wrong. Fix the problems first and talk later.

I also want to find a way to say, “You’re stupid” without being sarcastic. It’s always important to stop people doing the stupid things that will put everyone in trouble, but I really need to find a better way to deliver the words. It’s not cool if preventing stupid things to happen made me end up as a jerk myself. You know… people may forget the things that we say and do, but they will never forget the way that we make them feel.

And finally, I really need to find a way to quit from the dramas. Most of the time, it’s not me creating those dramas in the first place. It’s other people looking for small trouble, annoys me behind everyone’s back, and then when I’m pissed, they will tell the world with their innocent faces, “She’s such a drama queen.”

Being in tough situation is of course nothing new to me, but somehow, it feels like I’ve got to find a new way to deal with it. What lead me to that thought?

  1. Society can be so unfair. The bad guy is always the one who punches first, and the victim is always the one who cries the loudest. If I want to win the game, then I need to be the expert on it; and
  2. Being out of control brings me regret afterward. The sarcasm, the yells, the uncontrolled anger, and the decisions I made when I was angry… those are the things that I wish I never did.

I know that people won’t believe that I’m capable of achieving these new personal goals. Anger problems are indeed on my blood already. However, even if it takes months, years, or maybe forever, but as long as I try to do my best, then I believe there will be no such a thing like wasted effort.

Best of luck to me!