Apakah Benar Kemajuan Jaman & Teknologi Telah Membuat Kita Lebih Duniawi, Hedonis, & Konsumtif?

Sejak e-commerce mulai booming di Indonesia, cukup banyak kalangan yang menyuarakan keprihatinan mereka soal masyakarat yang menjadi lebih konsumtif.

Apa saja contohnya?

Kehadiran Tokopedia, Lazada, dsb membuat orang lebih sering membeli barang-barang yang tidak mereka butuhkan.

Kehadiran Go-food dan Grab Food membuat orang jadi lebih sering jajan daripada sebelumnya.

Jika ruang ligkup diskusinya gue perlebar, kemajuan teknologi ini juga dikhawatirkan membuat masyarakat menjadi lebih hedonis dan duniawi.

Apa saja contohnya?

Peluang untuk selingkuh jadi lebih tinggi. Kenapa? Karena sekarang, kita bisa dengan mudah menemui orang baru dari lingkungan yang sama sekali berbeda dengan kita. Orang yang kita kenal tidak lagi melulu tetangga atau teman-teman di sekolah dan kantor kita saja. Bisa kenalan di online forum mengenai traveling misalnya, atau ada juga pertemanan yang dimulai dari social media seperti Facebook, Instagram, Twitter, atau gue akui, seperti blog gue ini misalnya. Kirim satu saja DM, perkenalan terjadi lah sudah. Kemudahan ini pula yang membuat semakin maraknya kasus selingkuh dengan kenalan dari dunia maya.

Contoh lainnya adalah aplikasi online dating seperti Tinder. Ganti-ganti teman kencan jadi semakin mudah dengan keberadaan Tinder. Hal ini mengakibatkan semakin banyak orang yang menolak untuk buru-buru “resmi” pacaran dengan gebetannya hanya karena dia masih ingin lihat-lihat lawan jenis lain yang mungkin akan dia temui melalui aplikasi itu. Ada pula yang dengan entengnya bilang putus karena toh masih ada Tinder yang akan “memberikan” dia pengganti posisi mantan pacarnya itu.

Bagaimana pandangan pribadi gue soal semua itu?

Jawaban gue sederhana saja: dalam hidup ini, tidak akan ada satu hal pun yang 100% baik untuk hidup kita. Hal yang baik pun, jika dilakukan secara berlebihan atau dilakukan dengan cara yang salah, akan merubah hal baik tersebut menjadi hal yang luar biasa buruknya.

Menolak teknologi sayangnya tetap bukan solusi terbaik. Gue pribadi malah betul-betul ogah banget jika harus kembali ke jaman sebelum ada online store, ride hailing apps, atau social media. Kemajuan teknologi membuat hidup gue terasa lebih mudah. Hidup itu sendiri saja sudah semakin berat, jika ada solusi yang dapat memudahkan berbagai aspek dalam hidup gue, ya kenapa tidak? Contohnya, fokus gue dalam pekerjaan pasti akan berkurang jika mood gue saat datang ke kantor sudah keburu rusak hanya karena sulit cari sarapan (nasib anak kost yang nggak bisa masak) atau sulit cari alat transportasi yang nyaman dan terjangkau. Selain itu, thanks to e-commerce, gue tidak perlu selalu repot-repot menyempatkan diri pergi ke mall di tengah macetnya lalu lintas kota Jakarta hanya untuk membeli barang yang gue butuhkan. Tinggal pesan di pagi hari, malamnya barang sudah tiba di rumah gue. Nyaman banget kan?

Kemudian soal teknologi yang meperbesar peluang untuk selingkuh, jika luasnya networking dan banyaknya pilihan membuat pasangan gue tergoda untuk selingkuh, berarti dia memang bukan pasangan yang tepat buat gue saja. Itu berarti, jodoh gue dan dia memang cuma sampai di situ saja. Jika dia sampai cari perempuan lain, maka dia juga harus ikhlaskan gue untuk move on supaya gue bisa mencari laki-laki lain yang lebih baik daripada dia. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya; dia bisa tetap setia meski dia punya banyak pilihan di depan mata, maka gue akan tahu dengan sendirinya; gue sudah memilih pasangan yang tepat untuk hidup gue ini.

Do not despise the existence of technology, despise the way we use it instead. We are smarter than our apps, it’s as simple as that.

4 Hal yang Gue Pelajari dari Bos-bos Bule

Selama hampir 4 tahun bekerja di Lazada, gue kerja di bawah kepemimpinan 5 bos bule (European & American). Ini belum termasuk bos bule di regional office atau bos bule di divisi lainnya. Ada kesamaan di antara mereka yang kemudian tanpa gue sadari, mulai terserap sebagai bagian dari diri gue sendiri.

Apa saja?

Kebiasaan bertanya; apa kabar? Tiap kali baru berjumpa, tiap harinya

Kebanyakan bule itu memang menanyakan kabar untuk basa-basa saja sih, tapi tanpa gue sadari, gue jadi ketularan. Tidak sampai separah mengulang pertanyaan yang sama beberapa kali setiap harinya, tapi setidaknya, gue rutin menanyakan kabar rekan kerja yang sudah beberapa hari tidak gue jumpai atau yang gue tahu sedang melewati masa-masa penuh perjuangan dalam pekerjaannya.

Pertanyaan “apa kabar” ini juga sudah gue modifikasi menjadi…

  1. How’s life?
  2. How’s your project going?
  3. All good in the office?

Dan bedanya gue dengan bule kebanyakan, gue mencampur budaya peduli ala orang Indonesia ke dalam sapaan gue itu. Gue bukan hanya bertanya sambil lalu saja, tapi gue juga tertarik dan sungguh-sungguh ingin mendengarkan jawabannya.

Sedikit Sentuhan Fisik

Beberapa bos gue di Lazada memang bisa kelewat friendly. Bukan cuma menepuk di punggung, tapi bisa sampai merangkul pundak atau bahkan sampai cium pipi! Untuk cium pipi itu tidak pernah gue alami sendiri sih. Meski tidak sampai sebegitunya, awalnya gue tetap merasa agak risih. Tapi lalu tanpa gue sadari, gue sendiri jadi ketularan suka sesekali menepuk pundak rekan kerja atau bawahan gue di kantor!

Pada dasarnya jika kita tidak merasa nyaman, kita punya hak untuk menyuarakannya. Tapi menurut gue, tidak perlu sampai heboh dibesar-besarkan juga (kecuali jika sifatnya sudah mengarah ke pelecehan seksual). Coba berpikiran positif karena sebetulnya, saat mereka menepuk pundak kita, itu adalah cara mereka untuk mengatakan, “I’ve got your back!”

Tidak pelit pujian

Dibanding bos-bos gue yang orang Indonesia asli, bos-bos bule ini lebih terbuka bukan hanya saat memberikan kritik, tapi juga saat memberikan pujian baik itu pujian lisan atau pujian melalui tulisan yang mereka kirimkan via Skype messenger. Sangat sering gue menerima pujian seperti, “You’re so good, you know?” Atau “Wow, that’s impressive. You’re impressive.” Atau, “Nobody in this room understands this as well as Riffa does.”

It’s flattering, isn’t it?

Tanpa gue sadari, pujian-pujian itu membuat gue jadi sangat percaya diri. Gue yang dulunya minder sekarang malah jadi orang yang sangat yakin dengan kemampuan diri gue sendiri. Gue jadi sadar kualitas baik apa saja yang harus gue pertahankan dalam diri gue ini. Kepercayaan diri ini pula yang kemudian banyak membantu gue melewati masa-masa sulit dalam perjalanan karier gue. Gue sekarang meyakini, “Jika mereka saja percaya sama kemampuan gue, kenapa gue tidak mempercayai kemampuan diri gue sendiri?”

They didn’t take no as an answer

Dulu, bos-bos gue itu sering dengan bangganya bilang bahwa mereka tidak menerima jawaban tidak sebagai jawaban atas pertanyaan atau permintaan mereka. Pikir gue saat itu, “They’re sooo stubborn!” Sifat mereka yang satu itu udah bikin gue harus kerja mati-matian untuk menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang datang sebagai efek samping dari ide dan inovasi mereka.

Kemudian belum lama ini di kantor gue, saat bos baru (yang juga orang bule), menyampaikan kabar soal kenaikan jabatan gue, dia bilang begini, “You are the right person for this job because you are very determined and you don’t take no as an answer.”

Wait, what? Damn it! I’m exactly like my bosses back at Lazada!

Pada akhirnya gue mulai berubah pikiran. Doesn’t take no as an answer itu tidak selalu berarti keras kepala, tapi lebih kepada persistence. Lebih kepada sikap pantang menyerah meskipun banyak rintangan yang datang menghadang. Bagaimanapun pada akhirnya, diperlukan keteguhan hati yang seperti itu untuk bisa sampai ke tujuan akhir yang kita inginkan. Dan tentunya, suatu tujuan tidak akan tercapai jika hanya sang pimpinan perusahaan yang memiliki persistence seperti itu! Itulah sebabnya mereka tidak mau menerima jawaban tidak dari timnya sendiri: supaya semuanya bisa bersama-sama making goals happen!

Semakin ke sini, semakin gue melihat peningkatan kualitas dalam kapasitas diri gue sebabai leader. Dan baru sekarang gue menyadari, para mantan bos bule gue itu pula yang sebetulnya sudah banyak membantu gue untuk bisa menjadi pemimpin yang lebih baik. Ini yang gue maksud dengan, “Saat mengenal orang lain, ambil yang baik-baiknya untuk menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya!”

How Did You Know That She/He was The One?

Berawal dari curhat gue ke salah satu sahabat, gue jadi mulai mempertanyakan: yang namanya Mr. Right atau The One atau apapun julukannya itu benar ada atau tidak?

Gue hapal banget tiap kali gue curhat soal cowok-cowok yang bikin gue patah hati, teman curhat gue itu akan bilang begini, “Biarin aja… he’s just not the one. Sabar, elo cuma belum ketemu cowok yang tepat.”

Nah lagi-lagi pertanyaannya, cowok yang tepat itu betulan ada atau enggak sih?

Akhir pekan ini, tiba-tiba saja gue jadi sadar betapa gue selalu punya alasan soal kenapa serentetan mantan gebetan gue itu tidak pernah good enough bahkan untuk sekedar menjadi pacar gue (dan ya, jumlahnya ada banyak banget!). Semakin lama dan semakin dalam gue mengenal mereka, semakin besar dorongan dalam diri gue untuk jaga jarak saja. Selalu ada saja hal-hal dalam diri mereka yang bikin gue berpikiran, “Kalaupun diteruskan, hubungan gue dengan dia enggak akan bertahan lama.”

Sok tahu banget nggak sih gue? Bukannya gue ini tipe orang yang sering bilang “you will never really know until you try”? Tapi entah kenapa, jika ada sangkut pautnya dengan romantic relationship, gue tipe orang yang enggak pernah berani ambil resiko. Gue suka dengan gegabahnya langsung mengambil kesimpulan “It won’t work between me and him” tanpa mau repot-repot untuk mencoba terlebih dulu.

Per sekarang ini, sudah puluhan cowok berlalu dan masih belum ada yang good enough buat gue. Dan ini bukan berarti gue ngerasa diri gue ini sudah perfect loh ya. Soalnya cukup sering juga gue memutuskan “he’s not the one” hanya karena gue ngerasa mereka nggak akan bisa handle me at my worst. Kesadaran besar atas rentetan kekurangan dalam diri gue ini juga yang akhirnya malah jadi deal breaker secara gue yakin banget nggak semua orang akan bisa awet menjalin hubungan erat sama gue.

Pada titik ini, akhirnya gue mulai bertanya-tanya. Apakah orang yang gue cari itu betulan ada di muka bumi ini? Apakah akan ada orang yang akan tanpa keraguan sedikit pun dapat gue pilih sebagai pasangan hidup gue nantinya? I surprisingly doubt that.

Gue langsung teringat dengan serentetan kenalan yang pernah ragu dengan rencana pernikahan mereka sendiri. Akhirnya memang tetap menikah juga, tapi bukankah itu berarti, mereka menikahi orang yang tidak 100% mereka yakini sebagai their Mr. Right?

Serius deh… bagaimana sih rasanya tahu dan yakin bahwa seseorang itu Mr. Right buat kita? Secara manusia itu tidak ada yang sempurna, dan secara sifat manusia itu sangat kompleks dan bervariasi antara satu orang dan yang lainnya, apa iya kita akan pernah menemukan seseorang yang sangat kompatibel dengan diri kita ini? Seseorang yang punya segala yang kita mau untuk kita jadikan sebagai pasangan hidup… Apakah orang seperti itu betulan ada?

Alasan lain gue mulai ragu soal keberadaan Mr. Right adalah fakta bahwa cowok-cowok yang dulu pernah gue kira sebagai “the one” ternyata hanya another jerk who broke my heart. Pernah ada momen-momen di mana dengan polosnya gue berpikir, “Akhirnya gue menemukan my Mr. Right!” Gue saat itu betul-betul yakin seyakin-yakinnya deh, tapi ternyata, semua itu cuma semacam false alarms belaka. Awalnya gue masih optimis, masih hopeful, tapi sekarang ini gue mulai berpikiran, “Maybe, it’s not them, it’s me.”

Kenapa gue malah menyalahkan diri gue sendiri? Karena mungkin, ekspektasi gue soal definisi Mr. Right yang menjadi akar permasalahannya. Mungkin, apa yang gue sebut sebagai “Mr. Right” ini memang tidak pernah ada di muka bumi ini (yang artinya, selama ini gue sudah sibuk mencari sesuatu yang nggak ada!). Mungkin memang sebetulnya, yang namanya the one itu cuma sekedar orang yang kita pilih untuk menjadi pasangan hidup meskipun dia tidak sepenuhnya kompatibel dengan diri kita ini.

What do you think, guys? Bagi yang pernah menemukan pasangan impiannya, tolong comment atau DM gue di socmed gue ya. Gue beneran bingung apakah memang benar “gue hanya belum menemukan cowok yang tepat” atau malah sebetulnya “tidak akan pernah ada cowok yang gue anggap 100% tepat sehingga sudah seharusnya gue mengubah pola pikir gue.”

Ditunggu pendapatnya!

Bisa Nggak, Cewek & Cowok Murni Bersahabat?

Judul blog ini boleh dibilang topik yang termasuk sering dibahas di berbagai media sejak jaman gue masih ABG sampai gue menginjak usia dewasa saat ini. Jawabannya pun selalu cenderung terbagi dua: bisa dan tidak bisa.

Lalu bagaimana pendapat pribadi gue?

Gue tentu tidak bisa menjawab pertanyaan ini atas nama semua orang di muka bumi ini, tapi gue tentu bisa menjawab berdasarkan pengalaman pribadi gue sendiri yang kebetulan, awet bersahabat dengan 3 lawan jenis mulai dari teman SMA (yang baru saja wafat 3 hari yang lalu, may he rest in peace), sampai teman yang gue temui di tempat gue pernah bekerja.

Siapa saja mereka? Berikut ini cerita singkatnya!

My high school buddy: Junet

Yang pertama namanya Junet; almarhum Junet, sahabat gue dari kelas 1 SMA. Dulu ceritanya gue dan dia bergabung dalam satu gank yang sama dengan 3 orang perempuan lainnya. Gue masih ingat saat SMA dulu, sempat ada gosip beredar soal gue pacaran sama Junet. Gosip yang tidak bertahan lama karena kemudian marak beredar kabar soal siapa cowok yang beneran gue suka di kelas kita itu, hehehe.

Junet ini orangnya selalu ceria. Setiap ada dia, gue pasti bisa ketawa sampai sepuas-puasnya. Junet juga sangat helpful, mulai dari bantu gue menyelesaikan skripsi sampai bantu gue supaya biaya liburan gue ke Bali bisa di-reimburse ke kantor gue sebelumnya (di sana memang ada program yang memberikan gue pilihan antata gadget, education, atau travel reimbursement).

Yang paling unik, Junet ini semacam gay radar buat gue. Berawal dari sebuah penelitian yang menyatakan 1 dari 10 cowok Indonesia itu ada kecenderungan homoseksual, gue jadi parno sendiri. Jadilah (hampir) tiap kali gue naksir cowok baru, gue akan kirim socmed link cowok itu ke Junet hanya untuk bertanya, “Do you think he’s gay?

Sejujurnya gue ini bukan tipe orang yang mudah mendapatkan sahabat. Ada banyak banget orang yang mengenal gue di sekolah dan di kantor gue, tapi hanya sedikit yang bisa awet dan tahan lama menjadi sahabat gue. Sifat keras gue bukan sifat yang bisa dimaklumi oleh semua orang. Itu pula sebabnya kehilangan Junet sudah jadi kehilangan terbesar dalam hidup gue; sahabat yang bisa menerima gue apa adanya (termasuk sahabat yang tidak pernah cemburu dengan pencapaian hidup gue), sudah berkurang jumlahnya satu orang. Gugur sudah rencana gue untuk menjadikan dia sebagai salah satu “best man” gue di pernikahan gue suatu saat nanti. He’s gone, but I will always remember him as my friend; my best friend (literally) forever.

My Playboy Best Friend: Steven

Jujur awalnya, gue enggak berniat menjadikan Steven sebagai sahabat. Kenapa? Karena awalnya gue langsung naksir sama dia, hehehe. Semacam naksir pada pandangan pertama. Kenapa gue berani nulis di sini? Ya karena orangnya juga sudah tahu. Dia malah pernah bilang cinta sama gue via telepon bertahun-tahun yang lalu (walau sekarang gue ragu apakah saat itu dia sedang dalam keadaan sober, hehehe). Perasaan gue ke Steven enggak bertahan lama selain karena dia sudah punya pacar, tapi juga karena gue menemukan gebetan baru di kantor gue yang selanjutnya (iya, gue emang gampang kena cinlok, hehe). Gebetan setelah Steven itu malah bukan sekedar gebetan sih. Kalau dipikir sekarang, dari semua cowok yang pernah gue suka, cuma satu orang itu saja yang pernah sampai tahap gue beneran cinta sama dia.

Kisah cinta gue itu sayangnya tidak berakhir baik. Gue patah hati habis-habisan. Dan saat itu, Steven banyak bantu gue untuk move on. Dari situ gue sadar, Steven akan lebih baik menjadi sahabat buat gue ketimbang pacar apalagi calon suami. Dan benar saja… sudah 10 tahun gue dan dia saling mengenal, dan dia selalu ada untuk mendengar kisah-kisah patah hati gue yang tidak pernah ada habisnya itu, hehehe.

With that being said, pertemanan gue dengan Steven ini ada pasang-surutnya. Kalau sedang berantem, kita bisa lose contact sampai setahun lamanya. Meski begitu hebatnya, tiap kali gue ngerasa butuh teman ngobrol setelah lose contact dengan dia berbulan-bulan lamanya, dia tetap bisa langsung meluangkan waktu untuk mendengarkan curhatan gue. Beda sama Junet yang sering gue jadikan sebagai gay radar, kalau Steven malah tanpa ditanya bisa langsung seenaknya menuduh begitu banyak mantan gebetan gue sebagai gay. Kadang bete sih, tapi berhubung gue butuh teman curhat (and again, teman gue itu jumlahnya nggak banyak), jadi ya sudahlah, terima saja resiko diceramahi, “I’ve told you, he’s gay!”

Yang namanya perasaan itu memang aneh ya. Rasa naksir gue ke Steven ini seperti sudah menguap dengan sendirinya. Gue bisa santai saja kenalan atau bahkan hang out bareng pacar terbarunya dia. Gue juga pernah dengan santainya membawa dia sebagai wedding date gue. Gue bahkan pernah datang ke rumah orang tua dia sebagai teman dan sama sekali enggak ada yang terasa aneh dari itu semua. He is my friend and will always be my platonic friend.

Best of the best: Chrisnata

Maaf yah Steven, tapi Chris ini emang best of the best, hehehe. Gue mengenal Chris sekitar 7 tahun yang lalu dan persahabatan gue dengan dia terjalin secara konsisten sampai sekarang. Dari semua sahabat gue, cuma Chris yang pernah mendengar segala-galanya. Biasa gue curhat ke Steven cuma kalo Chris sudah tidur dan nggak balas Whatsapp gue (gue tipe pekerja yang sering lembur dan cuma sempat curhat di malam hari, dan kebetulan Steven ini tipe orang yang meleknya malah di malam hari, hehehe).

Chris ini so sweet banget deh orangnya. Mengambilkan obat saat gue sakit, nemenin gue belanja baju, dan ingat cerita soal teman yang datang menjenguk saat gue sakit sambil membawa DVD Grey’s Anatomy kesukaan gue itu? Yup, that was Chris who did that. Beda sama Steven dan Junet yang lebih blak-blakan, Chris ini lebih berusaha untuk menjaga perasaan gue tiap kali dia menyatakan pendapatnya soal curhatan gue. That what makes him the best of the best, hehehehe.

Gue ingat banget beberapa tahun yang lalu, Chris bilang begini saat baru jadian dengan pacarnya, “Gue udah bilang sama cewek gue kalo elo itu temen baik gue.” Jadi ceritanya, saat itu dia merasa enggak nyaman jika harus kehilangan gue sebagai temannya hanya karena keberadaan pacarnya. Gue dan dia sama-sama berharap, kita berdua bisa terus bersahabat, untuk selama-lamanya. Amiin!

Jadi apa kesimpulannya?

Gue jelas meyakini bahwa cewek dan cowok bisa murni bersahabat bahkan hingga usia dewasa. Menurut gue, chemistry untuk sahabat dengan chemistry untuk pasangan hidup itu dua hal yang jauh berbeda. Bagaimanapun, ketetertarikan fisik itu komponen penting dalam romantic relationship, dan ketertarikan fisik itu yang tidak gue rasakan pada sahabat-sahabat gue ini (dan begitu pula sebaliknya). Kita juga bukan tipe sepasang sahabat yang punya pikiran, “Kalo sampe usia 40 kita masih single, kita married aja lah.” Karena memang bukan itu arah, niat, dan tujuannya! Kedudukan mereka buat gue sama persis dengan semua sahabat perempuan gue: kita hanya ingin menjalin persahabatan yang long lasting, yang bisa kita wariskan sampai ke generasi anak-anak kita nanti.

Ya, gue memang tidak punya banyak teman, tapi syukur alhamdulillah, gue punya cukup banyak sahabat yang luar biasa. Merusak persahabatan itu dengan unsur cinta-cintaan? Big no no!

September Kelabu, Lagi…

Jakarta, 5 September 2018

Jakarta macet… gue dalam perjalanan menuju Bekasi… ingin cepat sampai sana. Ingin segera ketemu sahabat-sahabat gue… ingin ketemu dengan keluarga dari sahabat gue yang lainnya… yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya.

Namanya Rudi Junaidi. Biasa kita panggil Junet. Sahabat satu gank sedari SMA. Orang yang kenal dekat sama gue pasti pernah mendengar nama Junet dari mulut gue. Cerita-cerita gue soal keunikan-keunikan sahabat gue yang satu ini.

Junet masih jadi teman curhat favorit gue. Teman yang bisa dengan santainya gue tanya, “Do you think that my crush is gay?” atau berbagai pertanyaan random yang hanya gue rasa nyaman untuk ditanyakan kepada Junet saja. He never judged, he was one of a few people who made me feel like I could really be myself just the way I really am.

Sudah belasan tahun saling mengenal, silaturahmi gue dan Junet tidak pernah putus… sampai akhirnya dia meninggalkan gue dan sahabat-sahabat lainnya terlebih dulu.

Awal minggu ini, Miko, salah satu teman sekantor Junet yang kebetulan gue kenal mengabari soal Junet masuk rumah sakit. Junet memang sudah sebulan ini mengeluh sakit kepala. Ingin segera jenguk, tapi kantor sedang migrasi sistem, tim gue sedang bekerja siang-malam, 7 hari dalam seminggu… gue putuskan jenguknya nanti saja di hari Sabtu. Tidak terpikir penyakit Junet sebegitu parahnya… padahal hasil tes MRI dia itu bersih, tidak ditemukan penyakit atau kelainan apapun.

Tadi sore, saat sedang sibuk berdiskusi dengan tim gue, Miko telepon ke hp gue… Dari situ gue mulai khawatir… something might have gone wrong. Gue tidak dengar jelas Miko bilang apa, gue hanya mendengar dia tengah menangis tersedu-sedu. Meski tidak terdengar jelas, gue tahu dengan sendirinya, Junet sudah tiada…

Telepon terputus, Miko tidak bisa dihubungi kembali. Gue kontak Nitya, sahabat gue yang lainnya, yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk Junet. Gue masih berpikiran, “Mungkin gue salah dengar, mungkin Junet masih kritis, mungkin Junet masih ada…”

Nitya ternyata baru sampai parkiran rumah sakit. Dia tiba persis sesaat sebelum Junet pergi meninggalkan kita semua. Nitya juga yang kemudian mengkonfirmasi kabar buruk itu, dan baru pada saat itu semuanya jadi terasa nyata buat gue; Junet, sahabat baik kita semua, sudah pergi untuk selama-lamanya.

Gue mulai fokus atur rencana untuk langsung pergi ke rumah orang tua Junet. Gue hubungi supir gue minta dijemput. Setelah beres urusan penjemputan, pikiran gue rasanya kosong. Gue bingung harus bagaimana. Dan tiba-tiba saja, mata gue mulai terasa hangat… gue cepat-ceat beranjak ke toilet kantor, masuk ke bilik toilet, menutup dudukan toilet, duduk di atasnya… dan air mata pertama gue untuk Junet mulai menetes dengan sendirinya.

Junet yang selalu ceria. Yang selalu menghibur kita semua. Yang selalu tertawa meskipun jokes gue enggak ada lucu-lucunya. Yang selalu menyemangati gue tiap kali sedang patah hati. Yang selalu jadi satu dari sedikit teman lama yang masih gue sebut sebagai “sahabat”… kini sudah tiada. Segala rencana meet-up selanjutnya, acara jalan-jalan selanjutnya, semua tinggal rencana saja. Lambaian tangan Junet saat terakhir kali gue bertemu dia 2 bulan yang lalu telah menjadi lambaian perpisahan terakhir dia, untuk selama-lamanya…

Gue nggak sangka Junet pergi secepat ini… di usia yang masih sangat muda. Yang lebih gue nggak sangka, gue merasa kehilangan sampai sebesar ini. This has been the biggest lost to me and it really really broke my heart. Jadi terasa banget betapa berartinya 17 tahun persahabatan gue dengan dia, jadi sebegitu terasa, justru setelah dia benar-benar pergi dari hidup kita semua.

This is one of the moments that make me realize that “life is short” is so true! Gue jadi kepikiran cita-cita dan rencana-rencana Junet yang belum tercapai… kepikiran anak perempuannya yang masih balita… Kepikiran betapa cepat semua itu hilang, hanya dalam sekejap mata.

Sampai sini gue bingung mau tulis apa lagi… Gue pengen bilang thanks atas segala bantuan dia dari hal kecil sampai besar, dari dulu sampai sekarang, ingin juga bilang thanks atas persahabatan gue dan dia selama ini… tapi bagaimana caranya gue bilang thanks? Junetnya udah nggak bisa lagi mendengar gue…

Gue udah hampir sampe ke rumah ortunya Junet. Rumah yang terakhir gue datangi untuk menjenguk kelahiran anak pertamanya akan menjadi rumah tempat gue melihat wajahnya, untuk terakhir kalinya…

Rest in peace, Junet. You will be forever missed.