Kenapa Orang Jujur itu Sulit Ditemukan?

Beberapa waktu yang lalu, gue pernah dengar salah satu kenalan yang bilang begini, “Di Indonesia ini, banyak orang taat agama. Rajin ibadahnya. Banyak amalnya. Tapi enggak tahu kenapa, enggak banyak orang yang jujur sifatnya.”

Semakin ke sini, semakin gue membenarkan teori teman gue itu. Orang yang sangat takut dengan dosa pun, entah kenapa, bisa-bisanya tidak merasa takut untuk berbohong. Saking banyaknya orang yang suka berbohong, gue sampai nyaris tidak lagi menganggap suka berbohong sebagai kekurangan dalam sifat orang lain.

Lalu bagaimana dengan teman gue itu sendiri? Termasuk orang jujur kah? Well… enggak usah jauh-jauh menilai orang lain. Diri gue sendiri pun, harus gue akui, tidak benar-benar 100% jujur.

Ada kalanya, gue sedikit berbohong untuk menyelamatkan orang lain. Berbohong untuk mendamaikan dua kubu yang sedang bertengkar, atau setidaknya, supaya keadaan di antara mereka tidak semakin buruk. Atau sedikit berbohong dalam rangka “damage control“.

Kadang, gue merasa tidak ada yang salah dari white lies gue itu. Tapi lebih seringnya, gue menyesal dan balik mempertanyakan diri gue sendiri. Apakah memang benar ada yang namanya berbohong untuk kebaikan? Jika iya, demi kebaikan siapa persisnya?

Jika dibilang untuk kebaikan diri gue sendiri, khawatirnya, lama-kelamaan gue jadi kebiasaan. Satu kebohongan kecil bertumbuh menjadi besar. Sampai lama-lama, satu kebohongan harus selalu ditambal dengan kebohongan lainnya. Itukah jenis “kebaikan” yang gue inginkan untuk diri gue ini?

Coba kita pikirkan kembali. Kenapa kita berbohong?

Saat berbohong di kantor misalnya. Apa benar demi kebaikan tim, atau hanya demi melindungi karier kita semata? Hanya karena takut kena marah bos, atau yang lebih buruk, takut kena SP, misalnya?

Atau saat kita mengarang cerita. Apa benar hanya sekedar seru-seruan, atau sebetulnya, ada kah masalah serius di balik kebohongan yang kita ucapkan itu? Bukankah mengarang cerita seru sama artinya kita tidak punya cukup banyak hal dalam hidup yang bisa kita banggakan? Bukankah itu artinya kita harus bekerja lebih keras untuk membahagiakan dan membanggakan diri kita sendiri?

Dalam kasus gue, berbohong untuk damage control. Oh God, this is really the worst! Ini yang gue maksud bisa berujung menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya! Meskipun niatnya mulia, rasanya benar-benar tidak mengenakkan deh!

Jangan biasakan berbohong. Mulai kendalikan diri dari ucapan-ucapan bohong, mulai dari hal yang paling kecil sekecil-kecilnya. Jangan sampai hal-hal baik dalam diri kita di kemudian hari tertutup begitu saja hanya karena satu kebohongan yang terbongkar di depan orang lain.

Tips terakhir dari gue: belajar jadi orang yang pemberani. Banyak kebohongan yang lahir dari rasa takut. Jadilah pemberani. Berani mengutarakan isi pikiran, berani melakukan hal yang benar, berani mengakui kesalahan, berani mengakui ketidaksempurnaan, dan berani meminta maaf ketimbang mangarang alasan yang hanya akan buat orang lain tambah kesal!

Why should we lie if we have a truth to tell? Be brave enough to tell the truth, and only the truth.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s