My Favorite “What If”

I know that I often said that we should live this life with no regret, we should be grateful for all we have in life, we should be happy for who we are, and bla bla bla. But did you know? Me too, sometimes have some kind of “what if” questions deep in my mind. There’s always some times my mind wandering and wondering how my life would be if I were not who I really am.

What if I chose to work just like many other people who can always leave on time?

What if I just wrote books and blogs and poems for a living?

What if I didn’t say no to – too – many guys back in my past?

What if I didn’t overthink so many things in my whole life?

What if I was not too hard on myself?

What if I stopped being such a perfectionist?

What if I just went on with the flow and followed whatever seemed easy to me?

If I did all that, would my life become any less happier? Would I become any less wiser? Would I become any less better than who I am?

Somehow I know, the answer to all that questions is definitely a yes. I will be a lot less than who I am without all those struggles. I know that the more battles I fight, the more battles I’ll win. But well, I’m only a human anyway. Is it ungrateful if I say that sometimes me too want to have a break from my own life? Is it childish if I say that I want to set myself free for a while? Is it stupid if I say that I want to rest my brain from all the troubles and my heart from all the pains just for a little time?

Seriously, I forget when was the last time I managed to be ignorance, careless, and simply said, “That’s not my problem anyway.”

I forget when was the last time my heart just jumped from one crush to another.

I forget when was the last time my life felt easy, less drama, less chaos, and less stuffs to think about.

I simply really forget how a simple life felt like.

I’ve been spending a couple of weeks asking myself, “If I could turn back the time, would I ever choose to live my life any differently?” This question has really been my favorite what if question recently. I know that the answer is simply a big no, but seriously, I’m really thinking that maybe, it would be good for me to stop being me for a while.

I need a break, a time off, an escape, just for a little while.

The Right Person Will Come Along

Bertahun-tahun yang lalu, gue sempat dekat dengan satu cowok yang terkenal sangat sangat mencintai dirinya sendiri. Tipe cowok yang sangat menikmati kesendiriannya, fokus dengan diri sendiri, hidup, dan masa depannya. Saat akhirnya dia memutuskan untuk pergi, gue menghibur diri sendiri dengan berpikiran, “It’s not me, it’s him. Cowok kayak dia emang nggak akan pernah bisa berkomitmen dengan siapapun.”

Lalu apa yang terjadi? Beberapa tahun kemudian, ternyata malah dia yang married duluan! Beberapa bulan sebelum hari pernikahannya, gue sempat BBM-an agak lama sama dia, membahas soal gue yang masih santai-santai saja hidup sendirian. Saat itu, nggak disangka-sangka, cowok ini malah bilang begini, “Elo cuma belum nemuin cowok yang tepat aja. Dulu juga gue enggak kebayang kepengen married dan berkeluarga, sampe akhirnya gue ketemu tunangan gue.”

Waktu itu, rasanya seperti disambar petir. Buat gue, itu sama saja dia bilang bahwa masalahnya sederhana saja: gue bukanlah cewek yang tepat buat dia. Tidak dulu, tidak sekarang, tidak pula selamanya.

Meski demikian, gue tidak lantas berpikiran bahwa ada yang salah dalam diri gue ini. Saat itu gue justru belajar bahwa pasangan yang tepat adalah pasangan yang dapat menerima gue dengan segala kekurangan dan yang tidak kalah penting, dengan segala kelebihan gue juga. Dan sekali lagi, masalahnya hanya lah, apa yang gue punya bukanlah apa yang dia cari untuk hidupnya sendiri.

Pria yang tepat tidak akan menganggap gue terlalu cerewet, terlalu judes, terlalu serius, terlalu banyak mikir, dan lain sebagainya. Dia akan bisa melihat bahwa segala kekurangan gue itu sudah jadi satu paket dengan segala kelebihan yang kemudian membentuk kepribadian gue ini.

Pria yang tepat juga tidak akan menganggap gue terlalu kurus, terlalu tinggi, dan lain sebagainya. Dia hanya akan melihat hal-hal yang dia sukai dari diri gue ini. He will look at me as if I am the prettiest girl on earth.

Pria yang tepat tidak akan melihat sederetan cita-cita dan ambisi gue sebagai suatu masalah besar. Dia akan bisa mengerti bahwa karier dan sederet wish lists gue itu adalah hal-hal yang telah sangat membahagian gue, dan dia tidak akan berkeinginan untuk mengambil kebahagiaan itu dari masa depan gue.

Yang terakhir, pria yang tepat tidak akan melihat pencapaian hidup gue sebagai suatu ancaman. Dia akan memiliki kebesaran hati bukan hanya untuk menerima kelebihan gue tersebut, tetapi juga untuk mampu menjadi pendukung terbaik dalam perjalanan karier gue ke depannya.

Pria yang tidak bisa menerima semua itu bukan berarti pria paling payah sejagad raya, dia hanya bukan pria yang tepat buat gue, dan gue juga bukan wanita yang tepat untuk hidupnya. Seringkali, kita hanya harus bisa menerima kenyataan bahwa memang tidak semua orang dapat menjadi pasangan yang tepat untuk satu sama lainnya.

I’m still a believer that someday, the right person will come along. The one who celebrates me, the one who really wants to be a part of my future, the one who never let me feel anything less than who I am. Someday I’ll find him, and I’m on my way.