Do We Need a Backup Plan in Love?

Pernah ada seorang teman yang menyarankan supaya gue juga punya backup plan untuk urusan cowok. Apa yang dia maksud dengan backup plan? Semacam cowok ‘cadangan’ just in case gue enggak berhasil mendapatkan gebetan yang gue suka. Pertanyaannya sekarang, “Do I really need that?

Omongan si teman itu awalnya hanya gue anggap sebagai angin lalu. It sounds like a crazy plan to me. Sampai kemudian, tiba-tiba gue sadar dengan sendirinya… Gue sendiri pun, satu atau dua kali sebelumnya, pernah melakukan yang namanya backup plan untuk urusan cinta-cintaan.

Kenapa gue melakukan hal itu?

Karena gue enggak yakin hubungan gue dengan si gebetan ‘inti’ akan jadi kenyataan. Gue enggak yakin dia juga punya perasaan yang sama kayak gue.

Dengan adanya backup planat least, hidup gue enggak sedih-sedih banget. Jadi ada hiburan yang bisa bikin gue lebih cepat melupakan rasa sedih akibat patah hati.

Kemudian ada juga yang bilang, hadirnya si cowok ke dua bisa membuat si cowok pertama jadi merasa ‘terpancing’. You know… Guys’ competitive instinct; they will work even harder when they know they have a competitor.

And finally, a backup plan could save a little bit of my remaining dignity after being ‘rejected’ by the one whom I really wanted.

Jika demikian, apa benar berarti backup plan itu wajib hukumnya?

Baru-baru ini, ada satu kejadian yang bikin gue jadi malu sendiri. Singkat cerita, gue jadi bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Bagaimana kalau gue sendiri yang dijadikam ‘cadangan’ oleh orang lain? Will I be happy with that?”

Senangkah gue saat tahu cowok yang rajin telepon gue itu nantinya akan berhenti cari-cari gue setelah berhasil mendapatkan cewek impiannya itu?

Senangkah gue saat tahu cowok yang dinner date sama gue itu juga pergi nge-date dengan cewek lain dalam waktu yang hampir bersamaan?

Bisakah gue mempercayai omongan manis cowok yang bisa jadi juga mengucapkan gombalan yang sama persis kepada gebetan-gebetan dia yang lainnya?

Dan apa kabar harga diri gue kalau gue sampai tahu bahwa gue hanya satu dari sekian orang lainnya dalam hati dia?

What makes he think he can do that to me? Who does he think he is?

If I don’t like being treated as an option, then why should I treat other people like that? I don’t want to be just an option, not even the number one option, I want to be the only one. 

Beda orang bisa jadi beda pendapatnya. And it doesn’t matter if you still find its necessary to have a backup plan. Yang penting buat gue, kalo gue enggak suka diperlakukan sebagai ‘option‘, jangan pula menempatkan orang lain dalam posisi yang sama!

Lalu bagaimana jika nanti kita tidak berhasil mendapatkan gebetan yang kita inginkan itu?

Well, we’re a grown up, aren’t we? Just man up and deal with it! Don’t play with fire if you’re afraid of getting burned, don’t fall in love if you’re afraid of getting hurt.

4 thoughts on “Do We Need a Backup Plan in Love?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s