Traveling Tips #1: How to Save Your Energy & Stay Comfort During the Trip

Gue udah sering baca traveling tips standar soal pakai alas kaki yang nyaman, tata cara packing yang efisien dan masih banyak lagi… Traveling tips yang udah banyak bantu gue di masa-masa masih newbie beberapa tahun yang lalu. Kemudian kali ini, gantian gue sendiri yang kepingin berbagi traveling tips yang gue pelajari dari pengalaman gue pribadi. Siapa tahu, ini bisa jadi tips yang bermanfaat!

  1. Legging yang pas badan (jangan terlalu ketat) akan terasa lebih nyaman daripada celana jeans. Kalau mau pakai jeans, cari ukuran pas badan yang tidak memerlukan ikat pinggang. Tekanan dari ikat pinggang bisa bikin kita menjadi cepat pegal;
  2. Pilih koper dengan empat roda di bawahnya. Jika sudah punya koper roda empat, jangan dibawa dengan cara ditarik dari depan! Letakkan koper dengan posisi tegak sejajar di samping kita dan genggam ujung handle-nya sambil terus berjalan. Ini betul-betul menghemat tenaga lho;
  3. Bawa toiletries dan produk kecantikan lainnya dalam ukuran serba mini. Jangan membebani koper kita dengan cairan yang tidak akan habis selama perjalanan. Save your energy!
  4. Gunting kuku kaki sebelum perjalanan. Semakin sering kita berjalan kaki, semakin besar kemungkinan kuku kaki kita yang panjang itu melukai kulit jari lain yang berada persis di sebelahnya;
  5. Jika bepergian menggunakan sandal terbuka atau alas kaki lain yang tidak memerlukan kaus kaki, ada baiknya pakai body lotion dulu beberapa menit sebelum bepergian tiap harinya. Cukup efektif untuk mengurangi resiko kaki lecet;
  6. Tidak perlu jalan kaki terburu-buru. Atur jadwal perjalanan sedemikian rupa sehingga kita tidak perlu berjalan cepat untuk mengejar jadwal keberangkatan kereta, misalnya. Cukup jalan santai dan nikmati suasana kota!
  7. Hati-hati saat mengangkat dan membawa koper, jangan sampai koper kita itu membentur badan kita sendiri. Hal inilah yang seringkali tanpa kita sadari meninggalkan memar di badan kita ini;
  8. Selain obat untuk luka luar, jangan juga lupa bawa Counterpain atau yang sejenisnya. Ini ampuh banget untuk mengurangi rasa pegal;
  9. Harus tetap makan seperti biasa! Jika sudah terbiasa makan sehari 3 kali, maka mau seburuk apapun makanan di tempat liburan, kita tetap harus makan sehari 3 kali. It’s simply your basic need to help you surviving the day; dan
  10. Jika ada budget lebih, maka jangan pelit untuk membayar extra baggage di pesawat, terutama jika perjalanan kamu melibatkan multiple flights. Semakin lama kita berurusan dengan beban berat, maka kita akan semakin cepat merasa capek selama di perjalanan.

Save your energy, stay healthy, and enjoy your trip!

Let’s Forgive Our Friends for Saying All of Those Stupid Stuffs

Hari ini gue menemukan satu friendship quote yang kemudian menginspirasi gue untuk menulis blog ini. Dikutip dari serial TV A to Z episode 11: “Best friends are the ones who stay supportive even when the other one says something idiotic.”

Hal ini mengingatkan gue kepada orang-orang yang sudah menjadi sahabat gue bertahun-tahun lamanya. What makes them so special? Because they forgive me for saying so many idiotic stuffs all these years!

Misalnya, gue cenderung mengulang pola yang sama tiap kali sedang jatuh cinta. Bingung harus gimana, sibuk mengumpulkan dan menebak ‘pertanda-pertanda’, naik-turun emosi gue yang seolah tidak ada habisnya, dsb dsb. You know… those stupid things that you say and do when you fall in love.

Atau kemudian, curhatan mellow dan lebay-nya gue di saat sedang patah hati. Gue bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk mencurahkan hal yang itu-itu saja. Hal-hal yang kalo dipikir sekarang-sekarang ini, “Kenapa dulu gue mesti sampe sebegitunya amat ya?”

I know that all of them sound stupid, boring, wasting time and so on… but my best friends just never push me away. They keep listening and being supportive all the times!

Itu juga sebabnya, saat gantian teman-teman yang sedang punya masalah, gue tidak lantas nge-judge, bersikap sinis, membalas dengan sindiran, apalagi bersikap tidak peduli dengan gue cuekin begitu aja… Gue enggak mau membuat suasana hati mereka malah jadi lebih buruk daripada sebelumnya. I’m just trying to understand… saying stupid things can happen to anyone of us, including the smartest ones.

Makanya kalo menurut gue, sebagai sesama manusia biasa, maklumi saja hal-hal bodoh dan tidak penting yang diucapkan oleh teman-teman kita di saat-saat sulit dalam hidup mereka. Jika tidak ada yang bisa kita bantu, maka sekedar mendengarkan saja sudah lebih dari cukup. Malah sebetulnya kadang-kadang, seseorang itu hanya butuh untuk didengarkan. It’s simply everything they need just to feel better.

Begitu pula soal curhatan teman yang isinya itu-itu saja. Misalnya, mereka sering curhat soal bosnya tapi toh masih saja bekerja di perusahaan yang sama. Atau curhat soal kelakuan pacarnya tapi masih saja pacaran dengan cowok yang sama. Sering mengeluh belum tentu berarti mereka ingin menyerah! Mereka hanya ingin melepas beban guna menguatkan hati untuk tetap bertahan. They want to fix the situation and they need our support as their best friend!

Gue tipe orang yang percaya keakraban pasti akan memunculkan sisi lain dari semua orang yang pernah kita kenal. Jika kita masih belum menemukan sisi ‘unik’ dari seseorang, maka artinya kita belum benar-benar mengenal orang tersebut. Bahkan orang yang paling pendiam dan tertutup sekalipun akan mulai menunjukkan sisi ‘bodohnya’ hanya kepada orang-orang yang mereka percaya.

Makanya kalau menurut gue, jika teman kita mempercayakan kita untuk melihat sisi lain dalam diri mereka, sudah seharusnya kita lebih merasa tersanjung daripada malah merasa terganggu. Atau yang lebih buruk lagi, jangan merasa terganggu dengan kebodohan teman-teman kita tapi malah tetap menuntut mereka untuk bisa mengerti kebodohan kita sendiri. It’s really not fair!

As we all know, living as a grown up is very tough. Yet I am still a believer that a good friend who listens will always make our life easier. And once again, good friends are the ones who stay supportive even when the other one says something idiotic. So guys, let’s forgive our friends for saying something stupid as well as they forgive us for wasting their times for the same silly stuffs. It’s Eid week and it’s perfect chance to forgive each other, isn’t it? 😉

Redefining My Dream Job

Jadi ceritanya, keponakan gue yang umurnya baru 3 tahun itu udah mulai pergi sekolah. Awalnya, Arfa enggak mau disuruh sekolah, tapi lalu di hari-hari berikutnya, dia justru semangat banget pergi ke sekolah. Tiap bangun pagi, saat Mami-nya bilang sudah waktunya Arfa sekolah, si ponakan langsung bangun tidur dengan penuh semangat.

Antusiasme Arfa mengingatkan gue dengan pekerjaan pertama gue dulu. Hanya pekerjaan freelance dengan penghasilan yang tidak seberapa, tapi seingat gue, hanya pekerjaan itu saja yang pernah membuat gue semangat untuk bangun di pagi hari. Gue penasaran ingin ketemu klien baru, atau, penasaran ingin menyelesaikan masalah yang belum berhasil gue pecahkan di hari sebelumnya.

Gue lalu jadi berpikir… Sebenarnya seperti apa sih, pekerjaan impian menurut gue? Gue mulai mengingat-ingat hari-hari yang pernah gue lewati selama lebih dari 7 tahun meniti karier… Pada saat-saat seperti apa gue paling menikmati pekerjaan gue selama ini?

Yang pertama, gue paling suka dengan pekerjaan yang memungkinkan gue untuk menuangkan ide-ide baru. Entah itu ide untuk hal yang benar-benar baru atau sekedar development idea untuk sesuatu yang sudah berjalan. Dan bukan hanya sekedar menuangkan ide… gue juga ingin ikut terlibat di dalam proses pengembangannya. It’s challenging and so much fun!

Setelah itu gue juga suka dengan tugas yang mengharuskan gue untuk memecahkan masalah rumit. Bukan sembarang rumit, tapi juga sesuatu yang akan sangat bermanfaat jika gue berhasil menemukan jalan keluarnya. Rasa puas setelah berhasil menemukan solusi yang terbaik itu betul-betul bikin ketagihan! Itu juga sebabnya gue paling enggak suka dengan pekerjaan yang sering berulang… Lebih baik gue dikasih tugas yang bikin stres daripada tugas yang bikin gue jadi bosan!

Selanjutnya, gue sangat menikmati interaksi dengan banyak orang. Hari yang penuh dengan jadwal meeting justru hari yang paling menyenangkan buat gue. Hanya sekedar a call over Skype pun bisa jadi warna tersendiri buat gue. Selain senang bertukar pikiran, sejujurnya gue juga senang ‘memamerkan’ isi kepala gue kepada orang lain. It just makes me feel good. Duduk diam di belakang meja 8 jam dalam 1 minggu non-stop hanya akan bikin gue jadi desperate!

Kemudian gue juga sangat senang bertemu dengan orang-orang baru. Gue senang mendengar cerita di balik perjalanan karier orang lain, senang berbagi pengalaman gue sendiri, dan gue juga senang belajar dari pengetahuan orang-orang yang baru saja gue temui. And don’t forget, networking is power!

Yang terakhir, gue pengen banget punya pekerjaan yang mengharuskan gue untuk sering-sering business traveling. Meski hanya kota kecil atau bahkan pedalaman sekalipun, selalu terasa lebih baik ketimbang datang ke kantor yang sama setiap harinya. Rasanya lebih tidak membosankan dan bisa memberikan lebih banyak pengalaman buat gue juga.

Nah, pertanyaannya sekarang… sudahkah gue menemukan pekerjaan impian gue itu? Jika belum, di mana gue bisa mendapatkan pekerjaan yang seperti itu?

Waktu kuliah dulu, saat ditanya cita-cita setelah kelulusan, jawaban gue gampang saja: ingin jadi auditor. Ternyata seiring waktu, yang sulit itu bukan menentukan profesi impian, melainkan pekerjaan impian. Barulah setelah itu kita pikirkan… profesi apa yang bisa memberikan pekerjaan impian kita tersebut? Hanya saja sayangnya, dibutuhkan bertahun-tahun pengalaman kerja untuk gue bisa memahami apa yang paling gue inginkan untuk perjalanan karier gue sendiri.

Once again, I’m a believer that finding a dream job is just like us finding a dream man. We’ve got to meet the wrong ones and it may take a while until we finally find the one. Until then, let’s make the best of the job that we already have, because who knows, it will bring us to that one job we’ve been looking for.

Good luck!

Read a Book, Start from Now!

Believe it or not, there is a different quality between people who read and the one who rarely read a book.

Have you ever met a person who looks like a walking Wikipedia? Or someone who tends to know the answer to every question. The one that’s so damn good at their job with lots of knowledge in their brain. And maybe, the one whose attitude only keeps them going further with their accomplishments in life. Well, I can tell, they are the ones who read a lot of books along their life.

And who says reading does necessarily mean you’ve got to have a lot of books on your shelves at home?

When you’ve just joined a Company, find the SOP or any other guideline that you can read.

When you’ve just used a new software for your job, read the FAQ, browse online to learn more about the feature, or why don’t you buy an e-book to help you learn some more?

When you’ve got to handle a project that you used to learn back in the college, find your old book and reread until you recall all of the information needed.

When you have a leisure time, it’s a good time to read the newspaper to keep yourself updated. And it’s always important to read an article about leadership, self-motivation, or any kind of article that can help you to become a better person.

Or maybe, let’s just start with this little thing at work: read your e-mails! And don’t forget to read the attachment as well.

Too busy to read a book? I believe that’s just a myth. If you have plenty of times to scroll down your social media, to browse online, to chat over Skype, to watch your favorite TV show, then you do have a time to read a book.

The people who looks smart with their knowledge is not becoming that good just by an overnight. They’ve read and they’ve learned their entire life.

So guys, there’s no doubt, start reading a book! Start from now! Read more and gain some more.

Happy reading!

The Best Decision in Life

imageThere are so many things happened recently that pushes me to make some kind of life-changing decisions. And I really hate it when it comes to make such important decision. It feels like I no longer know myself. I suddenly don’t know what I really want for my own life. I was confused until this morning, I looked into my phone screen and realized that I hadn’t changed the wallpaper for ages. I still used the picture of my previous office room’s decoration that I took over than one year ago!

Then I opened the picture gallery in my phone, looking for a new picture to be set as my wallpaper. I kept scrolling up until I found a candid photo shoot from a couple months ago. That was not the first time I saw that picture of me yet somehow, it still blew my mind. It was just an ordinary picture taken by my cousin using my iPhone 5. A candid picture taken right while I was laughing outloud. I looked so happy and my life seems so easy! I did still remember how I ever loved this picture just because of that reason.

That day, I had a fine afternoon with my families in a beautiful place in Bandung. I happened to visit its playground to look after my little nephew. When my sister came to play with his son, I walked to a wooden swing and played with it for a while. The breeze on my face, the beautiful surrounding, and the euphoria of playing with a swing after a quite long time made me feel so happy. I laughed at my nephew from the swing and right at that moment, my cousin captured this beautiful picture.

I know that it’s not an award winning photo or something, but seeing that picture is somehow comforting to me. It’s not that I have an awful life, it’s just that I’m happy to see me happy. I decided to use that picture as my new wallpaper and everytime I looked at it all day today, this picture just never failed to attract myself.

And then tonight, I was on the way back home, I took my phone from my bag, and there I saw this picture again. I looked at how bright and shiny and happy I was. Then again, it reminded me to that one beautiful afternoon with my families. Just like that, I suddenly knew what I really wanted in life. I only want to have a lot more beautiful days in my life. I want to smile and laugh a lot more and more. I want to have more of that moment where I whisper to myself, “I’m so happy with my life and I can’t be more grateful than this.”

Again, it doesn’t mean that there’s something wrong with the life I already have, it’s just that now I know how a best decision looks like. It may not look glamorous, fancy, or anything like that, not either the easiest or prettiest option I may ever have, but it should be the one that I know will bring joy into my life. I know that I may be wrong, but I will also know that I have chosen what’s best to myself. I think it’s one of the moments where people say when you know, you know.

Now that I know what I want, then it’s time for me to go and get what I really want! Finger cross!

Why Should People Lie?

Dari segala jenis dosa yang sering kita pelajari sejak kecil hingga dewasa, entah kenapa, ada satu dosa yang seolah sudah tidak lagi dianggap berdosa oleh manusia pada umumnya. Dosa apa? Dosa karena berbohong.

Di bulan puasa ini misalnya. Memang banyak yang jadi mengurangi hura-hura, mencoba lebih sabar, dsb dsb. Tapi anehnya tetap saja, mulut masih dengan mudah membesar-besarkan cerita. Atau memutarbalikkan fakta. Atau yang paling buruk, mengarang cerita yang sebetulnya tidak pernah ada.

Kemudian gue juga kenal beberapa orang yang sangat taat beragama. Sangat takut berbuat dosa. Tapi giliran sedang terjepit, kebohongan pun bisa dengan mudah terucap dari mulutnya. Sepertinya, mereka lebih berani menanggung dosa sebagai akibat dari kebohongannya ketimbang menanggung konsekuensi dari kesalahan yang dia perbuat sebelumnya.

Ada pula beberapa orang yang selalu berusaha bersikap mulia. Selalu ingin berpikiran positif, anti membicarakan keburukan orang lain, tapi lagi-lagi, giliran sedang terjepit, mereka tidak sungkan menjadikan orang lain sebagai kambing hitam. Bersikap defensive dengan menempatkan dirinya sebagai ‘korban’ sehingga orang lain yang tidak bersalah akan terlihat sebagai ‘penjahatnya’.

Yang terakhir, sebagian besar dari kita sudah pernah melakukan ini, termasuk diri gue sendiri, dengan mengatasnamakan kebaikan di atas kebohongan tersebut. Satu jenis kebohongan yang dikenal dengan istilah ‘white lies’. Memang benar ada hadits-nya Nabi Muhammad tetap mengatakan bahwa masakan istrinya terasa enak meski tidak demikian keadaannya, tapi benarkah semua white lies kita masih berada dalam koridor kemuliaan hati seorang manusia?

Kenyataannya seringkali, white lies kita lakukan untuk menutupi kesalahan yang kita perbuat. Alasannya: supaya dia tidak marah atau demi menjaga hubungan baik. Ada pula orang yang suka melontarkan white lies dengan alasan: people won’t be able to handle the truth. Padahal sebetulnya, mereka hanya takut terlihat buruk. Jika sudah demikian, masihkan white lies itu bersifat ‘wajib’ untuk dilakukan?

Berbohong adalah berbohong. Jarang sekali benar ada alasan baik untuk berbohong. Kenyataannya, menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lain hanya akan memperburuk keadaan. Sekali, dua kali, lama-lama akan jadi kebiasaan. Sehingga sekali lagi, pada akhirnya, kita seolah lupa, bahwa berbohong juga perbuatan dosa.

Bagi teman-teman yang sesama muslim, mari kita jaga kesucian bulan Ramadhan dengan menjunjung tinggi makna kejujuran. Jangan hanya di bulan suci ini saja! Mari jadikan kejujuran sebagai kebiasaan.

Mengaku salah jika memang salah. Man up and be responsible for the damage you’ve done!

Tahan diri dari hal-hal yang hanya akan membuat kita merasa malu, sehingga nantinya, kita tidak perlu berbohong untuk menutupinya.

Sampaikan berita sesuai dengan kenyataan yang kita dengar sebelumnya. Jangan ditambah-tambah dan jangan mengubah asumsi menjadi fakta!

Hal yang sama berlaku juga di dunia kerja… Jangan sampai kerasnya politik kantor mengubah kita jadi si tukang bohong. Berpolitik boleh saja, tapi tetap harus ada batasnya! Gue tahu yang ini memang susah banget, dan kadang ini juga masih jadi PR untuk diri gue sendiri, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan!

Kemudian yang tidak kalah pentingnya, buat apa sih, kita suka mengarang ceirta yang tidak pernah ada? Apa tidak malu jika kelak kita tertangkap basah sudah lupa dengan cerita karangan kita itu?

Lakukanlah hal-hal yang bermanfaat, buatlah diri kita ini bangga dengan diri sendiri, sehingga kita tidak perlu repot-repot mengarang cerita hanya supaya terlihat hebat di mata orang lain. Saat kita sudah punya hidup yang luar biasa, kita akan dengan sendirinya punya segudang hal menyenangkan untuk diceritakan!

Lain kali, saat hendak berbohong, ingat prinsip dasar yang satu ini: butuh waktu lama untuk mendapatkan kepercayaan orang lain, tapi hanya butuh sekejap mata untuk kehilangan kepercayaan itu.

Orang yang sudah dicap ‘tukang bohong’ akan tetap dianggap berbohong meskipun dia sedang mengatakan yang sebenarnya. Tukang bohong akan sulit mendapatkan tempat entah itu di pertemanan atau juga lingkungan pekerjaan. Rumah tangga juga akan sulit sekali menjadi harmonis jika salah satunya suka sekali melakukan kebohongan.

Mari kita mulai berkata jujur, bersikap jujur, dimulai dari hal-hal yang sekecil-kecilnya. Dan percaya deh, mengakui kesalahan itu tidak seseram yang kita kira. Mengakui kesalahan justru akan menyelesaikan masalah kita dalam waktu yang jauh lebih singkat! Dan hati juga akan langsung lega.

Let’s use this Ramadhan opportunity to start fresh. Let’s start with a blank page and never fill in the new pages with new lies. Why should we lie if we have a truth to be told? Let’s be honest and be proud of it!

How Can’t We Love the Company We Work for?

Lots of people says recently to never love your company. Don’t love it because it may not love you back and bla bla bla. That kind of sense that I fail to understand. I just can’t get the point why shouldn’t we love the Company where we work?

I have so many reasons why we MUST love our company.

For starter, we spend at least 8 hours a day in that place, at least 5 days a week. How does it feel to spend that much amount of time in a place that you hate? It must feel like hell!

Second, we earn a living from the job provided by our company. Don’t you feel like dating or marrying a guy just for his money with no love included?

And the most important thing is that we learn and we grow during our tenures in our companies. I don’t know if it’s you, but to me, the companies I’ve worked has really made me who I am today. The ups and downs has made me wiser, the experiences has made me skillful, and the chances I’ve got has discovered the competence that I never thought I had in me. How can’t I love something that has given all of that good things into my life?

Say no more, I know how it feels when the pressures killing us inside. The politics, the drama, the crazy deadlines, and so on; you mention it, I know it. But again, all of those office disasters are just the things that make us learn. It’s a precious lesson that we didn’t get in schools. Not only it has helped us to become a better employee, but also it has made us a better person inside. Trust me, it will come in handy in our personal lives too.

Loving our company doesn’t necessarily mean we spend 24 hours with it and make it our priority on top of all other important things in life. That’s NOT my point at all.

Love your company by being proud for being a part of it. Love it by ALWAYS doing your very best at work. And always remember… your company is your identity; if you spit on it, you spit on yourselves. Love it by keeping its name clean. Watch your behavior as a professional, because whatever you do may represent the entire Company as well. That’s how you love your company.

Believe it or not, loving our company will actually do good to us instead of to the Company itself. It will make us eager to learn every detail about our job; the business, the environment, and so on. Such business acumen will really help us to become an achiever at work. And of course, someone who loves their company will naturally make them look loyal to the Company and wherever we work, loyalty point is always a big plus.

What if your company is a bloodsucker that makes you suffer? Well, before I’m suggesting you to move on, I would rather asking this to yourself again, “Is it really the problem with the Company, or maybe… it’s just you?” If you keep jumping from one company to another over and over again, then maybe, the problem is yourself.

Loving a company is just like loving our families and friends. None of them is perfect. They will annoy us, upset us, piss us off, stress us out… Yet at the end of the day, we’ve got to live with it. No matter where we work, it will be just the same.

I’m not saying that we’ve got to stay with that current employer for forever though. If our best effort to fit in just never works, then it’s okay to move on. I believe finding a dream job in a dream company is like finding a Mr. Right. They won’t be perfect but they’re out there!

Life is too short to be spent with the things that we hate. Either love it or leave it! Have a great Monday, folks!