My Appreciation to Lazada

IMG_4569Today is exactly one year since the very first day I started working at Lazada Indonesia. One year working with Lazada, one year I met with so many new colleagues along the journey. The colleagues who shared these crazy workloads together, the ones who have my back everytime this ‘world’ seems to turn against me, and also the ones who keep me laugh even in the worst possible times.

My highest gratitude goes to my team who have sincerely accepted me as their leader. This one team who understands how I can be so cranky early in the morning, how I can be so annoying when something goes very wrong; it’s simply a team who supports me to fight the barriers and run toward the finish lines. I am nothing without their hard works, their contributions, their long hours at work, and their patience to constantly deal with this ‘tough life’, all together as a team.

Despite all of my grumpy attitudes, I’m so thankful for having these bosses as my boss. They trust my capability more than I trust myself, they give me chances to grow and prove myself, and they do everything in their powers to help me out everytime I’m in a big trouble. We’re not always aligned, not always being nice to each other, but at the end of the day, I know that once again in my career path, I am blessed to have them as my bosses.

I’m also thankful for other teammates in my department, especially the ones who end up as my good friends along the way. The chit chat, the encouragement, the jokes and laugh that we share together are just priceless! Having a helpful colleague is one thing, but having a good friend is one other extraordinary thing in life. I rarely find a place where many people sincerely support each other with no envy.

I’m also lucky enough to have a few friends from other departments who helped me a lot during my early times working for Lazada. I knew nothing about e-commerce and all systems involved in it back then, but they were all glad to let me know how it worked, as detailed as possible. They were all busy, but they always had times to answer my questions, to solve my problems, and of course, to share that not-so-important ‘news’ in between.

The last one, I’m also glad to have a few colleagues in regional team that have helped me so many times in the past few months. Sometimes I bother them with stupid questions that apparently I can answer by myself, yet they are still willing to find me the answers to my questions. I’m also glad that we still manage to have a good laugh apart from our crazy pressures at work.

I know that the tittle to this post is my appreciation to Lazada, yet all that I wrote is the people who work with me. But the thing is, what does define a company anyway? Company is only a name written on a piece of paper, and why should I say thank you to a piece of paper? It’s the people who work with me that has made Lazada a company that matters to me.

So guys, even though it looks like I’m angry all the time, the truth is I’m so happy to work with you. And yes, if you think that I wrote about YOU in this post, then this post is indeed all about you 😉

Let’s keep on rocking!

Be Grateful for Every Little Thing We Have

Dua minggu yang lalu, saat kebetulan enggak ada orang rumah yang bisa jemput gue pulang kerja, gue terpaksa pulang naik taksi biru. Saking macetnya, perut gue keburu lapar. Gue lalu bilang begini sama bapak supirnya, “Pak, saya nggak jadi pulang deh. Tolong cari mall terdekat aja ya, saya mau cari makan.”

Si pak supir itu dengan polosnya lalu menjawab, “Emangnya di semua mall itu pasti ada tempat makan ya, Mbak?”

Gue sempet terdiam… Pertanyaan yang agak aneh kalo menurut gue. “Hmm… ya iya, Pak… Udah pasti.”

Ngelihat gue kebingungan, si bapak supir menjelaskan, “Saya udah hampir dua tahun kerja di Jakarta belum pernah mampir ke mall, Mbak.”

Gue jadi kaget… “Oh ya? Kenapa, Pak?”

“Ya boro-boro mikirin ke mall, Mbak… Hasil kerja aja cuma ngepas buat hidup sehari-hari.”

Gue terdiam… Hal ini mengingatkan gue saat bertahun-tahun lalu, ada salah satu ART gue yang mengaku belum pernah nonton film di bioskop. Padahal, rumah dia hanya berjarak beberapa ratus meter dari mall terdekat di daerah Grogol!

Pikiran gue lalu melompat ke cerita si Mami soal anak-anak yang berebut baju bekas pakai yang sudah tidak gue inginkan. Kegembiraan mereka itulah yang membuat gue tidak pernah tertarik untuk bikin garage sales atau yang semacamnya. I’m glad if such simple thing can make other people so happy like that.

Yang terakhir, pikiran gue melompat lagi ke cerita Mami soal anak tetangga yang terlihat sangat menikmati cheesecake pertamanya. Kata Mami, matanya sampai terpejam sambil bilang, “Ehhhmmm… enak banget ya, kuenya.”

Guys… mall yang sudah kita anggap membosankan itu masih menjadi misteri bagi begitu banyak saudara kita di luar sana. Tiket bioskop yang affordable untuk kita masih dianggap terlalu mahal oleh mereka. Dan makanan yang sering tidak kita habiskan itu merupakan suatu kemewahan tersendiri untuk mereka semua…

Intinya, syukurilah hal-hal terkecil yang kita punya, karena bagi begitu banyak orang di luar sana, semua itu adalah anugerah. Untuk teman-teman sesama Muslim… bersyukurlah, maka niscaya Allah akan menambah nikmatmu 🙂

There is No Such a Thing like “Perfect Timing” at Work

Baru-baru ini, gue ngerasa bahwa yang namanya “perfect timing” itu sebetulnya nyaris enggak pernah ada dalam dunia kerja. Berusaha cari “the right time” ujung-ujungnya malah bikin kita melupakan atau menelantarkan hal penting yang ingin kita lakukan tersebut.

Contohnya…

Kita ingin menegur kinerja anak buah yang kita anggap kurang teliti, tapi karena tim kita sedang sibuk kejar deadline, kita lantas berpikiran, “Jangan sekarang ditegurnya, supaya dia fokus dulu menyelesaikan pekerjaannya.” Lalu kenyataannya? Selalu ada saja deadline yang baru lagi dan lagi, sehingga pada akhirnya, kita malah jadi lupa untuk memberikan feedback untuk si anak buah. Akibatnya? Hasil kerja dia terus saja banyak salahnya karena dia tidak merasa ada yang perlu dia perbaiki.

Contoh lain, gue pernah menyarankan tim gue untuk ambil kursus Bahasa Inggris di luar jam kerja. Tapi karena masih masa sibuk, kita pikir ya sudah nanti saja kursusnya. Kenyataannya? “Nanti saja” terus menjadi “nanti saja”, kesibukan seolah tidak pernah ada akhirnya, sehingga lewat enam bulan kemudian, masih belum ada satupun yang memulai kursusnya.

Atau contoh yang terjadi sama diri gue sendiri… gue pengen banget ambil cuti panjang, pengen refreshing, pengen jalan-jalan… tapi gue pikir nanti saja kalau ini dan itu sudah selesai gue kerjakan. Lalu kenyataannya? Cuti gue terancam hangus sembilan hari 😦

So guys… if we always wait for the right time just to do the right things at work, then maybe, we will have no time at all. Who knows that tomorrow you’ll be much busier than you are today? I don’t know how it goes somewhere else, but in my workplace, that working madness just never ends.

Emang sih, sangat tidak mungkin kita melakukan SEMUA hal dalam satu waktu yang bersamaan. Yang namanya prioritas tetap selalu ada. Hanya saja kembali lagi, jangan jadikan ‘waktu yang tepat’ sebagai satu-satunya pertimbangan untuk menentukan prioritas. Do what you’ve got to do, no need to wait that right time to come and make your own time instead!

Work smart and make time to do what you need to do TODAY.

10 Things I Always Like from a Guy

The more and more I think about it, the more I know the things that I always like from a guy. A combination of ten things listed below will make myself end up falling for someone. And the more I think about it again, I believe it’s not only working for me, but also for millions of girls out there. Must read for the guys, these are the things that will make you loveable 😉

  1. He knows how to console me and how to make me laugh, especially in my very bad days;
  2. Knows the details about me: what I like, I dislike, the things I do and I will never do, then… it will be nice if he lets me know that he knows me well;
  3. Gives up his seat for me, holds the door, carries my heavy boxes… you know, the gentleman things will never get old;
  4. Offers me some help when I need the most without being asked. It will make him some kind of superhero, hehehehe;
  5. Successfully solving my problems that I’m still struggling with. It just impresses me;
  6. Trying so hard to fulfilling his promises to me. It’s hard to find nowadays so that it impresses me too;
  7. Looks for me when I’m not around. It will let me know that I matter to him. It may not apply in certain conditions such as working environment though;
  8. He doesn’t yell me back when I’m so angry to him. It touches my heart and cools me down in no time;
  9. Treats me differently. I like nice guys, but he MUST be nicer with me rather than any other girls. It’s important to make me feel special 😉
  10. He knows how to flirt without being cheesy. I love it more when he flirts and makes me laugh in the same time. The more creative he is, the more chances he steals my attention.

Work Hard When We Are Young

Gue sering banget mendengar curhatan dari para fresh graduates yang dilema dalam memilih pekerjaan pertamanya. Banyak yang kepingin coba kerja di consulting company atau KAP Big 4 buat yang lulusan akuntansi, tapi pertimbangan mereka selalu saja soal bakal sering lembur dan work-life balance.

Well, harus gue akui… pernah bekerja di salah satu Big 4 udah jadi plus point di CV gue sendiri. Hanya sampai Senior Auditor, tapi tetap sudah membuka banyak peluang karier untuk gue ke depannya. Gue tahu banget alasan para headhunter menghubungi gue karena klien mereka secara spesifik meminta kandidat yang pernah bekerja untuk Big 4. Di Lazada sekarang pun, si bos yang tahun lalu merekrut gue juga menjadikan hal yang sama sebagai pertimbangan. Jadi gue bisa bilang… mungkin, jika bukan karena pernah bekerja di EY, maka gue belum tentu bisa sampai ke senior managerial level di usia 27 tahun saja.

Memang sih, tidak semua lulusan Big 4 atau top consulting firm pasti sukses karier ke depannya. Bukan pula berarti kita enggak akan pernah bisa sampai ke top level jika enggak pernah bekerja jadi konsultan atau auditor di firma papan atas. Tapi kenyataannya, pengalamana kerja seperti itu memang benar bisa menjadi stepping stone terbaik yang kita punya.

Jadi kalo saran gue… jika memang ada kesempatan untuk kerja di top consulting or auditing firms, ya kenapa tidak? Kalau memang karier itu adalah salah satu prioritas utama dalam hidup kita, maka sudah tentu ada harga yang harus kita bayar. Gue berani bilang, tidak mungkin kita bisa sukses berkarier dengan hanya duduk santai dan nyaman setiap harinya. Malah sebetulnya, hal yang sama juga berlaku untuk orang-orang yang bekerja di perusahaan non-consulting. Ada perbedaan opini atasan terhadap karyawan yang pantang lembur dengan karyawan yang tidak suka hitung-hitungan dengan perusahaan.

So guys, work hard, especially when we are young. Di saat tubuh masih lebih kuat untuk pulang malam. Saat belum ada suami/istri dan anak-anak yang juga harus dipikirkan… Bukan berarti boleh malas-malasan kalau sudah lebih tua lho ya. Hanya saja, kalau masih muda pun sudah pemalas, bagaimana kalau sudah tua nanti? Dan ingat selalu… usia kepala 2 pada umumnya adalah usia penentu. What we have done in our 20-s will determine what we will become for the rest of our lives.

Jadi mulai sekarang, get up and work harder! Jangan menolak satu peluang emas hanya karena banyak lemburnya. Jangan kerja asal selesai tepat waktu saja. Make improvement! Give more contributions, new ideas, bring your Company to the next level! Dan yang nggak kalah penting, jangan bisanya hanya mengeluh dan mengeluh saja! Kita digaji bukan untuk mengeluh sepanjang waktu. Curhat tentu saja boleh, tapi jangan sampai jumlah curhatan kita itu melebihi jumlah kontribusi yang kita berikan kepada perusahaan.

Akan tetapi, jika buat kita karier justru tidak sebegitu pentingnya, jika kita sudah puas dengan pencapaian kita saat ini, maka ya sudah… the decision is yours. Nikmati hidup yang kita pilih dan jangan jadi orang yang mengaku sudah puas dengan hidupnya tapi malah menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk menjelek-jelekan orang lain yang sedang sibuk mengejar cita-citanya.

Whatever we choose, whatever we do, make sure that it all has made you proud of being you. Have an awesome life!