One Year Anniversary With Niro Indonesia

Hari ini, sudah tepat satu tahun sejak pertama kali gue bergabung dengan Niro Granite Indonesia. Awalnya, gue bekerja untuk NCSI, kemudian awal tahun 2012, gue dipindahkan ke SRG, perusahaan induk dari NCSI.

Gue masih ingat saat dulu hendak memulai karier di Niro, tidak semua orang terdekat gue menyetujui ide tersebut. Ada yang bilang, skill yang gue punya akan terbuang sia-sia kalau gue hanya bekerja di perusahaan kecil seperti ini. Malah ada lagi yang bilang, sayang kalo gue sampe hanya kerja di perusahaan yang bertempat di ruko (entah dari mana dia dapet info NCSI itu kantornya cuma di ruko). Akan tetapi saat itu, gue punya prioritas gue sendiri, sehingga akhirnya gue putuskan untuk bergabung dengan NCSI.

Bulan-bulan pertama, jujur… gue sempat ngerasa enggak betah. Perbedaan lingkungan dan budaya kerja sempat membuat gue ngerasa kaget (kalo istilah kerennya: culture shock, hehehehe). Gue sampe sempet mempertanyakan keputusan gue untuk bekerja di perusahaan ini. Tapi pada akhirnya, dalam hati gue selalu meyakini bawha everything happens for a reason. Waktu itu gue bilang sama diri gue sendiri, “Mungkin sekarang gue enggak ngerti alasan kenapa gue harus kerja di sini, tapi suatu saat gue pasti tau bahwa memang ini yang terbaik untuk gue saat ini.”

Sekarang, satu tahun kemudian, gue mengetahui jawaban dari pertanyaan gue saat itu.

Di Niro, gue menemukan jenis teman-teman yang belum pernah gue temukan di tempat lain. Gue nggak mau sharing detailnya di sini, takut mereka geer (soalnya gue tau mereka suka baca blog gue), hehehehehe.

Di Niro, gue mendapatkan beberapa pengalaman kerja yang kemungkinan, tidak akan pernah gue dapatkan seandainya gue tetap bekerja jadi auditor.

Dan pastinya di Niro, gue jadi bisa merasakan bagaimana rasanya jadi manajer di usia 25.

Ada lagi teman gue yang blak-blakan bilang… lebih baik jadi staf di perusahaan oil & gas sekelas Medco daripada jadi manajer di SRG. Sepertinya teman gue itu masih saja menganggap bahwa perusahaan gue ini hanya perusahaan kecil yang tidak patut gue pertahankan.

Well… gue sih enggak akan tersinggung kok, dengan statement teman-teman gue itu. Gue yaking semua itu hanya bentuk dari kepedulian mereka sama gue. Tapi 3 hal yang ingin gue luruskan:

  1. Niro bukan lagi perusahaan kecil. Perusahaan dengan hampir 600 karyawan tetap (belum termasuk ratusan karyawan kontrak), yang kini sedang melakukan ekspansi, pastinya bukan perusahaan yang bisa dibilang kecil;
  2. Kantor NCSI itu di gedung Honey Lady Pluit, bukan di salah satu ruko dekat Emporium, hehehehe; dan
  3. Gue sama sekali tidak merasa lebih baik gue kerja jadi staf di Medco daripada jadi manajer di SRG. Bagaimanapun, jabatan ini merupakan suatu prestasi yang bisa gue banggakan.

Jadi terlepas dari masa-masa up and down selama gue bekerja di sini, gue tetap percaya bahwa bekerja di sini telah membuat gue jadi lebih baik dari sebelumnya. Gue sama sekali tidak menjadi lebih bodoh hanya karena pindah ke perusahaan yang ukurannya lebih kecil. Kalo nggak percaya, tanya aja sama auditor-auditor gue, hohohoho, sombooong.

Konon katanya, terkadang kita hanya punya 2 pilihan dalam dunia kerja:

  1. Menjadi ikan besar di kolam kecil; atau
  2. Menjadi ikan kecil di kolam besar.

Gue tidak tahu akan sampai kapan gue tetap bekerja untuk SRG. Satu hal yang gue yakini, pengalaman kerja gue di sini akan mempersiapkan gue untuk kelak, berpindah menjadi ikan besar yang berenang di kolam besar. Kesimpulannya… di manapun kita bekerja, selama kita melakukannya penuh dengan totalitas, maka tidak akan pernah ada yang namanya pekerjaan sia-sia.

Life is a choice… and I am so happy with choice I’ve made one year ago. Happy one year anniversary for me then 🙂

Disney on Ice: Let’s Celebrate!

Tahun 2010, gue pertama kali denger soal pertunjukan Disney on Ice yang sedang mampir di Jakarta. Sayangnya, saat periode show itu ceritanya gue lagi bokek. Maklum, waktu itu masih jamannya kerja jadi junior auditor, duit masih serba ngepas. Satu tahun kemudian, Disney on Ice kembali mampir ke Jakarta. Sayangnya lagi, bentrok sama rencana liburan gue ke Hongkong dan sekitarnya. Jadi ya sudahlah… gue pikir tunggu tahun depan lagi. Sampai akhirnya tibalah bulan April 2012… sudah saatnya gue nonton live show ini!

Tadinya gue nyaris batal nonton pertunjukan ini. Susah banget cari orang yang mau temenin gue nonton karena bermacam-macam alasan. Kebanyakan karena faktor harga yang relatif mahal, ada pula yang jadwalnya bentrok, atau tidak tertarik nonton karena katanya, ini pertunjukan buat anak-anak kecil, hehehehehe.

Sampai Minggu pagi tanggal 22 April 2011 (hari terakhir Disney on Ice Jakarta 2012 digelar), sudah gue ikhlaskan nggak jadi nonton Disney on Ice tahun ini. Insyaallah masih ada tahun depan. Tapi tiba-tiba si Nana, teman baik gue waktu di EY, kirim Whatsapp ngajakin nonton live show ini! Yaaay, akhirnya gue jadi nonton^^

Soal jalan cerita sih nggak terlalu penting lah yaa. Intinya sih tokoh-tokoh Disney itu menampilkan berbagai jenis perayaan. Ada perayaan ultah, Halloween, Valentine, Natal, dsb… Tokoh-tokoh Disney itu menampilkan tarian di atas arena ice skating menggunakan kostum yang berbeda-beda, disesuaikan dengan tema perayaannya.

Berikut ini, plus-minus dari Disney on Ice: Let’s Celebrate yang gue saksikan minggu lalu.

PLUS:

  1. Para pemainnya benar-benar terlatih. Saat nonton, dalam hati gue berpikir… “Kalo dia sampe jatuh atau kepeleset gimana ya?” Tapi ternyata sampai akhir acara, nggak ada satu pemain pun yang gue lihat mengalami kecelakaan saat pentas;
  2. Atraksinya memukau. Penonton selalu bertepuk tangan dengan riuhnya setiap kali para pemain di depan baru saja menampilkan atraksi yang rasa-rasanya impossible untuk bisa kita lakukan sendiri. Kalo kata Nana, ada beberapa pemain yang terlihat seperti sedang ‘terbang’ saking lincahnya;
  3. Kostumnya lucu-lucu! Disney benar-benar all out buat urusan kostum. Terlihat mewah, cute, dan sangat sesuai dengan tema yang sedang ditampilkan;
  4. Simple but looks sweet decorations. Kereta-kereta esnya juga lumayan lucu, walau jumlahnya tidak terlalu banyak;
  5. Gue suka banget sama tema Valentine. Pada tema ini, setiap pasangan dalam keluarga besar Disney (misalnya Cinderella dengan pangerannya, Jasmine dengan Aladdin, dsb…) ditampilkan untuk menari berpasang-pasangan. Suasananya romantis, diiringi lagu-lagu yang sudah familiar di telinga kita (misalnya, A Whole New World, Beauty and the Beast, Reflection, dsb…). Gue sampe sempet agak-agak merinding waktu nonton tema ini, hehehehehe; dan
  6. Mayoritas pemainnya cantik dan ganteng. Ada cowok di tema Hawaii yang tampil topless. Gila yaa, perutnya six pack dan tampangnya mirip-mirip Ashton Kutcher gituu, hihihihihi.

MINUS

  1. Atraksinya emang keren, tapi banyak pengulangan, sehingga lama-lama kelihatannya biasa-biasa saja;
  2. Formasi tariannya kurang rapih. Ada pula beberapa tarian yang sebetulnya masih bisa dipercantik. Tapi mungkin memang lebih sulit ya, menari ala ice skating kayak gitu, makanya jadi kelihatan kurang all out;
  3. Nggak ada acara foto bareng para pemainnya. Padahal gue pengen banget foto bareng Minnie Mouse yang pake kostum kimono warna pink;
  4. They speak English all the times. Suasana pasti akan jauh lebih meriah jika mereka menggunakan bahasa yang dimengerti oleh seluruh penontonnya. Tapi gue amazing juga sih sama anak-anak jaman sekarang. Ada cukup banyak anak yang bisa menjawab yang diajukan oleh Mickey Mouse dalam bahasa Inggris yang menurut gue tuh lumayan rumit; dan
  5. Kurang banyak unsur kejutan. Kalaupun ada, sifatnya masih nanggung. Tapi setelah gue pikir-pikir, mungkin karena keterbatasan ruangan aja kali yaa. Tapi lebih banyak kejutan (misalnya kembang api warna-warni yang meriah) bisa bikin pertunjukan tambah berkesan.

Kesimpulannya, buat gue nonton pertunjukan ini udah masuk kategori lumayan. Lumayan buat menjawab rasa penasaran gue, lumayan buat cuci mata, dengan harga yang lumayan mahal juga, hehehehe.

However kalo menurut gue, if you want to make your kids happy, you could just bring them to watch this show! Anak-anak kecil di sana tuh ya, baru ngelihat Mickey dadah-dadah aja udah histeris saking senengnya. Mirip-mirip lah sama ABG kalo ngelihat artis idolanya di panggung konser… Jadi nanti kalo ponakan gue udah gedean, atau kalo gue sendiri udah punya anak, gue bakal bawa mereka nonton pertunjukan ini. Tapi sebelumnya, mereka bakal gue kasih kursus Bahasa Inggris dulu supaya bisa ngejawab pertanyaan yang diajukan Mickey Mouse, hehehehehe.

Mimpi yang Aneh

Ada lagi nih, satu tulisan lama yang kepengen gue sharing di sini… Agak-agak jayus dan nggak lucu, tapi tetep pengen gue share, hehehehe.

 

Mimpi yang Aneh

Jakarta, 31 Juli 20xx

 

Semalem gue mimpi aneh banget… Aneh tapi anehnya lagi, mimpi itu terasa jelas dan urutan ceritanya pun masih gue inget sampe sekarang.

Di mimpi itu, gue nginep bareng temen-temen kantor di hotel yang mewah banget. Ruang makannya outdoor di tengah-tengah taman dan kolam renangnya luaaas banget.

Nah, pas lagi asyik makan malem, gue dapet kabar bahwa pacarnya temen baik gue di kantor baru aja meninggal dunia! Saking sedihnya, temen gue itu ngumpet terus di dalem kamar dan tiba-tiba, dia menghilang ke dalam hutan!

Orang-orang heboh nyari si temen gue ke dalam hutan. Dan gue masih inget, sebelum adegan nyari temen ke dalam hutan, gue sempet-sempetnya mampir ke dapur hotel nyariin dessert yang tinggal sisa dua biji doang. Gue sempet diomelin sama kokinya, “Taruh kuenya di nampan, jangan di piring!”

Balik lagi ke hutan, di sana kita nemuin semacem rumah kecil dengan fasilitas AC yang masih berfungsi dengan baik. Tapi ternyata, temen gue itu gak ada di sana.

Nggak lama kita ketangkep basah sama petugas yang nyuruh kita bubar (dan disuruh balik ke hotel kali ya).

Tinggallah satu orang entah siapa di tengah hutan yang masih terus mencari. Ternyata orang itu bisa berubah jadi beruang! Si beruang lalu nemuin gerombolan orang di tengah hutan sedang beramai-ramai menyiapkan sesuatu.

Tiba-tiba, ada seseorang di tengah gerombolan itu yang berteriak, “Itu beruang mencurigakan! Masa’ beruang bawa-bawa boneka??”

Si beruang pun dikejar-kejar oleh gerombolan itu. Beruang berlari kencang, masuk ke gedung hotel, terjebak di lantai atas yang ternyata cuma berisi kamar-kamar hotel, sampai akhirnya dia punya ide.. Beruang ini berubah wujud lagi jadi manusia lalu terjun ke kolam renang lewat saluran toilet (jangan tanya gimana caranya, gue juga bingung tau-tau aja dari saluran toilet munculnya udah di perosotan panjangnya kolam renang hotel!).

Mimpi berpindah lokasi ke rumah gue. Ceritanya gue lagi packing, besok pagi gue mau pergi ke Phuket sama temen-temen kuliah. Anehnya, di sana ada satu orang temen sekantor nemenin gue packing. Dan ternyata, dia juga bawa satu orang temen SMP-nya. Si temen SMP-nya temen gue itu terus-terusan manggil gue ‘Ceu’. Gue bilang, “Jangan panggil gue Ceu dong. Panggil Ipeh aja.”

Temennya temen gue itu ketawa, terus dia nanya, “Liat passport elo dong.”

Temen gue juga nimpalin, “Iya Peh, liat passport elo dong.”

Dan gue pun jadi panik.. Besok pagi gue mau pergi ke Phuket tapi gue belum punya passport! Aarrrgghh!!!

Pesan moral dari mimpi gue: gue harus bikin passport, secepatnya, hehehe.

 

Faktanya: Gue baru bikin passport 2 minggu menjelang keberangkatan gue ke Phuket, hehehehehe.

My Best Wishes

Iseng-iseng lagi baca ulang koleksi tulisan lama gue, tiba-tiba aja gue nemuin tulisan yang pernah gue ketik beberapa tahun yang lalu. Tulisan yang ngingetin gue betapa dulu gue pernah sayang sama seseorang sampe sebegitunya, hehehehe. Really hope that someday I would find someone else who can make me feel this way 🙂

 

My Best Wishes

Jakarta, August 25, 20xx

 

I sincerely wish that you will find a girl who understands you. A girl who knows the things that you don’t want to hear, and a girl who knows every little thing you like and you hate.

You also need a girl who knows what to do when you’re silent. Your various kind of silence. A girl who gets herself noticed when you are scared, you worry a thing, you are feeling bad and screwed…

Then I really wish that you will find a girl whom you are willing to tell her your dreams. A girl who’s gonna be your first person who hears your stories. You’ll find a girl to share your life with.

It’s gonna be great if you find a girl who understands your jokes. Who appreciates your thoughts. Who will never laugh at your future plans, and who supports you toward your dreams.

I also wish that you will find a girl who is wise enough to tell you what goes wrong. A girl who grows a little kid inside your heart. A girl who fully believes that you can do better at anything. And a girl whom you are respect to listen.

Finally, in my best wishes, I sincerely hope that you will find a girl who loves you as much as I do. A girl who doesn’t need you to love her back just to keep her love alive. A girl who doesn’t hate you when you walk away. And a girl who still hopes you for the best before she gets going with her own life… her own life without you inside.”

8 Hal yang Dapat Memicu Perselingkuhan

Ada tayangan tv hari ini, yang membuat gue jadi terinspirasi buat menulis blog yang membahas tentang hal-hal yang dapat memicu perselingkuhan. Blog ini gue tulis berdasarkan pengamatan pribadi terhadap hal-hal nyata yang terjadi di sekitar gue. Memang belum tentu bisa dipukul rata, tapi tidak ada salahnya jika kita semua menjadikan hal-hal di bawah ini sebagai pertimbangan.

  1. Pasangan tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Ada tipe orang yang jauh lebih suka didengar daripada mendengar. Saat orang lain curhat, dia cuma bereaksi, “Oh… Iya sih… I see.” Tidak lama kemudian, dia akan langsung ganti topik menjadi cerita tentang diri dia sendiri. Saat gantian dia yang bercerita, dia maunya orang lain mendengar baik-baik dan memberi pendapat yang bukan hanya satu atau dua kalimat saja. Nah… saat seseorang tidak menemukan tempat untuk berbagi pada pasangannya, maka secara naluriah, dia akan mencari orang lain yang bisa dia jadikan teman berbagi. Sharing selalu menjadi salah satu cara paling efektif untuk membuat dua orang asing menjadi sahabat. Dan jika hal ini terjadi pada pertemanan lawan jenis… maka hati-hati. Dari sekedar berbagi cerita, bisa berkembang menjadi berbagi hati;
  2. Punya prinsip untuk tidak bercerita tentang pekerjaan kepada pasangan. Sebetulnya, prinsip ini ada sisi positifnya: urusan kerja cukup terjadi di kantor saja, tidak perlu bikin hidup tambah lama menderita dengan dibawa-bawa ke luar kantor. Jangan saja keluhan soal pekerjaan malah bikin pasangan jadi merasa tidak nyaman… Hal ini tidak jadi masalah, asalkan kita tidak malah menjadikan teman lawan jenis di kantor sebagai pelarian curhat kita soal pekerjaan! Sama seperti point satu… perselingkuhan bisa saja dimulai dari sekedar curhat. Apalagi sebetulnya, saat kita sudah mulai bekerja, maka pekerjaan pasti akan menjadi salah satu penyumbang masalah terbesar dalam hidup kita. Ujung-ujungnya, makin banyak masalah di kantor, makin terbuka lebar pula peluang buat kita selingkuh sama si teman curhat. Tidak heran jika konon katanya, mayoritas orang berselingkuh dengan rekan kerjanya;
  3. Karena pasangan tidak akan bisa mengerti jika diajak ngobrol soal pekerjaan. Masih sambungan point 2 di atas, tidak curhat soal pekerjaan kepada pasangan belum tentu karena tidak mau, tapi lebih karena pasangan memang tidak bisa diajak ngobrol soal pekerjaan. Makanya kalau menurut gue, tidak ada salahnya jika berusaha memahami seluk beluk pekerjaan pasangan kita. Tapi biasanya siih, hal seperti ini lebih jarang terjadi pada pasangan yang sama-sama mempunyai pekerjaan. Jadiii, yah… punya pasangan yang tetap bekerja setelah menikah itu ada juga sisi positifnya kan? Hehehehe;
  4. Sering pergi berduaan dengan lawan jenis selain pasangan. Pergi hanya berdua otomatis membuat perhatian kita hanya terpusat sama dia, berkomunikasi hanya sama dia, melewati banyak hal juga hanya berdua sama dia saja… Semakin sering berduaan, semakin sering terbawa suasana, semakin besar pula peluang untuk terjadinya perselingkuhan… Jangan lupa bahwa katanya, kebersamaan bisa menumbuhkan cinta;
  5. Ada perempuan lain yang bisa membuat pasangan merasa ‘lebih cowok’. Si perempuan lain itu tidak selalu berwujud perempuan penggoda yang berbaju seksi. Karena seringkali, perempuan kalem yang cewek banget, bisa menjadi ancaman tersendiri buat mengalihkan perhatian pasangan. Mungkin ini sebabnya, perempuan seringkali dinasehati untuk tidak tumbuh terlalu mandiri, dan tidak meninggalkan hal-hal yang identik dengan perempuan (misalnya, minimal masih bisa masak). Aah… jadi perempuan itu emang enggak selalu mudah. Tetep masak setelah capek seharian kerja di luar rumah itu bukan hal yang mudah kan? Oh yaa, satu lagi… Menurut salah satu teman cowok gue, keunggulan dari ‘perempuan bayaran’ adalah mereka tau banget gimana cara bikin cowok ngerasa tersanjung! Hmm…
  6. Mulai merasa tergantung dengan sekertaris/asisten di kantor. Bos yang selingkuh sama sekretarisnya itu jelas bukan cerita baru. Masih nyambung sama point 4 di atas, job description sekretaris yang harus melayani bos dalam urusan pekerjaan memang berpotensi bikin seseorang ngerasa lebih superior sebagai seorang cowok. Apalagi kalo si bos mulai ngerasa sangat nyaman sampai jadi ketergantungan sama sekretarisnya… Hal yang sama bisa berlaku juga buat bos cewek yang punya asisten cowok. Soalnya terkadang, staf cowok itu tetap punya naluri buat melindungi atasannya. Sometimes he doesn’t see his boss as a boss, he sees his boss as a woman whom he has to treat her right. Gue nggak bilang punya asisten lawan jenis itu haram hukumnya. Hanya saja saran gue, ketahuilah batas-batasnya dan pertahankan profesionalitas!
  7. Tetap bertahan dengan pasangan hanya karena keterpaksaan. Jika kita bertahan dengan si dia hanya karena keterpaksaan, maka kita akan lebih rentan merasa tertarik dengan orang lain yang memiliki hal-hal yang tidak dimiliki pasangan kita. Makanya kalo menurut gue, kalau ada masalah, carilah solusinya! Jangan hanya bersikap pasrah dan berprinsip yang penting hubungan tetap awet… Sekedar awet saja tidak cukup. Harus awet, dan harus bahagia dalam menjalaninya; dan
  8. Karena tidak pandai menahan diri. Sebetulnya, tidak masalah kerja dengan lawan jenis, curhat dengan mereka, bahkan hang out bareng mereka, asalkan kita bisa menahan diri. Gue cukup sering curhat atau dijadikan tempat curhat sama teman-teman cowok yang sudah punya pacar, ada pula yang sudah menikah. Gue juga sering banget kerja bareng cowok-cowok  yang sudah tidak berstatus single. Tapi sampai sekarang, tidak pernah sekalipun gue mencoreng reputasi gue sendiri dengan lantas selingkuh sama mereka. Intinya kita harus tahu kapan kita harus menahan perasaan kita. Kalau akhirnya tidak sengaja jadi jatuh hati, maka kita harus tahu diri… kapan saatnya kita harus memaksa diri untuk mematikan perasaan dalam hati.

Ketika kita mulai mengikat diri dalam suatu komitmen, maka ingatlah selalu bahwa komitmen itu adalah janji antara dua orang, bukan bertiga, apalagi berempat dan berlima. Jangan pula pernah terpikir untuk menjadi orang ke tiga. Bersedia menempatkan diri sebagai orang ke tiga  menunjukkan rendahnya respek kita terhadap diri kita sendiri. Dan ingatlah selalu… laki-laki atau perempuan yang baik, apapun alasannya, tidak akan pernah menempatkan siapapun sebagai orang ke tiga dalam hidup mereka.

Rainbow After the Rain

Kemarin sore di kantor, gue menasehati salah satu teman yang tetap menghisap rokoknya meski baru saja sembuh sakit satu hari sebelumnya. Dengan entengnya, teman gue ini menjawab, “Nggak papa lah ngerokok… Hidup ini enggak enak, jadi ngepain hidup lama-lama?”

Gue malah cekikikan sambil membalas, “Hidup saya sih menyenangkan kok. Nggak papa hidup lama.”

Sambil tertawa kecil, teman gue membalas lagi, “Yakin menyenangkan? Kerja lembur melulu kayak gini emangnya enak?”

Gue malah nyengir… sambil melanjutkan dalam hati… Ya, meskipun sering lembur gila-gilaan, meskipun semakin sering ngerasa tertekan sama kerjaan sampe sempet meneteskan air mata waktu lagi sibuk ngetik di depan laptop saking stresnya, dan meskipun gue punya banyak kekurangan di sana-sini, gue tetap bahagia sama hidup gue.

Bicara soal pekerjaan… rasa-rasanya benar apa yang pernah dibilang sama teman sekantor gue yang lainnya: jika gue mau berpikir jernih, maka sebetulnya, gue punya lebih banyak hal untuk disyukuri daripada hal-hal untuk gue keluhkan. Lagipula sebetulnya wajar-wajar saja kalo makin ke sini makin banyak masalah pekerjaan yang harus gue hadapi. Memangnya apa yang gue harapkan? Posisi dan fasilitas manajer tapi beban dan tanggung jawab ala fresh graduate gitu?

Kemudian soal makin banyaknya jumlah orang yang seneng banget ngegosipin gue di belakang… yaah, gue rasa itu emang udah sepaket sama pencapaian yang gue punya lah yaa. Gue percaya bahwa dalam hidup ini, when we gain some, we will also lose some in the same time. Suatu kelebihan pasti akan satu paket dengan satu kekurangan lainnya. Jadi achiever di usia muda emang bisa bikin bangga, tapi resikonya, jadi lebih rentan sama omongan orang. Jadi ya sudahlah… Gue emang enggak bisa nutup mulut orang lain supaya enggak ngomongin gue yang jelek-jelek, TAPI, gue pasti bisa nutup telinga gue rapat-rapat dari omongan yang sengaja diucapkan hanya untuk mengurangi kebahagiaan yang gue punya.

Di luar pekerjaan dan mimpi-mimpi yang jadi bisa gue wujudkan sebagai hasil dari jerih payah gue itu, alhamdulillah… gue masih punya banyak hal kecil lainnya yang sangat patut untuk gue syukuri.

Gue punya ortu yang suka masakin gue makanan enak-enak.

Adek-adek yang meskipun tengil tapi selalu jadi supporter nomor satu buat gue.

Kucing-kucing lucu yang suka nganter gue pergi kerja dengan berdiri berjejer di pinggir garasi lalu malam harinya saat gue pulang, mereka kembali berjejer menyambut gue di tempat yang sama.

Gue juga punya sahabat-sahabat yang meskipun enggak selalu akur, tapi mereka tetep selalu siap sedia mendengar curhat gue di tengah malam sekalipun.

Di kantor gue punya teman-teman yang selalu bisa memaafkan kekhilafan gue saat sedang stres berat sama pekerjaan.

Gue juga punya bos yang meskipun tidak sempurna, tapi setidaknya bos gue yang satu ini sangat peduli dengan kenyamanan anak buahnya.

Dengan semua yang ada dalam hidup gue itu… bagaimana mungkin gue bisa bersikap tidak bersyukur?

Gue baru aja selesai buka-buka koleksi blog lama gue yang berkategori “About Life”. Membaca koleksi tulisan gue sendiri rasanya seperti melihat grafik kehidupan. Sangat jelas terlihat dari ‘grafik’ itu bahwa hidup memang selalu naik dan turun seperti roller coaster. Sehingga pada akhirnya gue jadi optimis… dulu gue pernah susah, tapi gue juga pernah senang. Kemarin gue juga baru aja ngerasa sangat susah, tapi hari ini gue kembali merasa senang. Jadi untuk selanjutnya, setiap kali gue kembali merasa hidup di bawah tekanan besar, gue hanya perlu mengingat bahwa tidak lama lagi, badai pasti akan berlalu. Yang perlu gue lakukan hanya bersabar, sambil terus berusaha sebaik-baiknya. Nanti setelah badai itu berlalu, insyaallah… gue akan kembali menemukan indahnya pelangi di langit yang biru 🙂

One Year After Leaving EY

4 April  2011, gue efektif mengundurkan diri setelah 3 tahun bekerja untuk EY. Waktu itu, dalam hati gue cukup sering bertanya-tanya… akan jadi seperti apa hidup gue setelah resign dari EY? Gue bukan tipe orang yang akan langsung resign hanya karena satu alasan tertentu saja. Gue punya banyak pertimbangan, plus dan minus, dari setiap pilihan yang gue punya. Ada banyak sisi positif yang gue harap akan gue dapatkan dengan resign dari EY, tapi… ada juga beberapa sisi positif EY yang gue takut akan sulit gue temukan di perusahaan lainnya. Intinya gue takut, resign dari EY bukannya bikin hidup jadi lebih baik, yang ada malah bikin hidup gue jadi mengalami kemunduran.

Lalu bagaimana realisasinya? Bagaimana hidup gue setelah satu tahun resign dari EY? Berikut summary-nya…

  1. Resign dalam keadaan belum punya pekerjaan pengganti bikin gue sempat merasakan yang namanya pusing mencari kerja. Ternyata memang benar… mencari pekerjaan dengan benefit yang sesuai keinginan itu bukan perkara mudah. Perusahaan besar tidak jaminan gajinya juga besar. Untunglah tidak lama kemudian, salah satu mantan klien di EY nelepon hp gue untuk menawarkan pekerjaan. Seminggu setelah itu, gue datang ke sana untuk interview dengan sang big boss, dan voilaa, keesokan harinya, 27 April 2011, gue sudah resmi jadi bagian dari NCSI, subsidiary company yang perusahaan induknya pernah gue audit itu;
  2. Hal paling sulit setelah memulai pekerjaan baru adalah menyesuaikan jam biologis gue. Udah terbiasa lembur bikin gue tetap baru bisa tidur paling cepat jam 11, tetapi bedanya, mau enggak mau, keesokan paginya gue tetep harus udah sampe kantor jam 8 pagi. Padahal waktu di EY, gue bisa dateng ke kantor jam berapa saja! Sulitnya adaptasi itu berhasil bikin gue mendapatkan rangking 3 di NCSI untuk urusan keterlambatan. Sigh…
  3. Banyak yang bilang, kerja jadi company accountant itu justru lebih membosankan daripada kerja jadi auditor. Padahal alasan utama gue resign dari EY itu justru karena bosan! Saking bosannya, dulu itu gue sering banget ngerasa ngantuk sepanjang hari. Awalnya gue masih ragu… gue sering ngantuk itu karena kurang tidur atau memang karena bosan? Empat bulan belakangan ini, gue kembali sering lembur gila-gilaan (yang mana lembur kali ini jadi semakin berat karena besoknya harus tetep bangun pagi), tapi ternyata… penyakit ngantuk sepanjang hari gue itu jarang banget kumat lagi! Dari situ gue tau… gue ngerasa lebih cocok kerja jadi company accountant daripada jadi auditor. Lebih stressful,  tapi yang penting tidak bosan gila-gilaan;
  4. Gue bukan tipe orang yang mudah beradaptasi. Perbedaan budaya kerja antara EY dengan NCSI sempat bikin gue ngerasa enggak nyaman. Gue sampe sempet pesimis bisa punya teman baik seperti teman-teman yang gue punya di EY. Tapi nggak disangka-sangka… semakin lama gue justru semakin dekat dengan beberapa teman di NCSI. Bulan lalu, gue pergi menginap satu malam ke Bandung dengan beberapa teman cewek di kantor; satu hal sederhana yang selalu gagal gue realisasikan dengan teman-teman di EY;
  5. Enaknya kerja di EY adalah sistem training yang memadai, yang bikin para auditornya jadi tidak pernah ketinggalan ilmu-ilmu accounting terbaru. Cuma training in house, tapi tidak pernah ada habisnya. Makanya gue sempet worry ilmu gue bakal out of date setelah resign dari EY. Tapi ternyata tidak juga… Meskipun kantor gue tidak punya in house training untuk bidang akuntansi, bos selalu mendorong gue buat ikutan training di luar kantor. Gue juga didaftarkan kantor untuk jadi member IAI (Ikatan Akuntan Indonesia). Kantor gue sendiri suka bikin in house training yang sifatnya mengasah soft-skill; satu jenis training yang tidak pernah gue dapatkan selama kerja di EY. Dan sekarang ini gue menyadari… mengasah soft-skill itu justru jauh lebih sulit daripada sekedar mengasah technical-skill;
  6. Gue juga sempat takut ‘tingkat kepintaran’ gue akan menurun drastis setelah resign dari EY. Bervariasinya jenis klien udah banyak mengasah ilmu pengetahuan gue selama kerja di sana. Beda sama company accountant yang cuma berkecimpung di satu industri yang itu-itu saja… Tapi ternyata bukan itu pula yang gue dapatkan. Gue justru merasa udah banyak berkembang dari segi technical skill selama satu tahun belakangan ini. Tanggung jawab yang besar bikin gue jadi semakin terpacu untuk mengembangkan diri. Selain itu nggak disangka-sangka, gue juga menemukan beberapa peluang untuk mempelajari dan menangani hal-hal baru yang tidak pernah gue temui sebelumnya. Thank God that I’m still smart like I used to be, hehehehehe;
  7. Satu hal yang bikin gue sempat ragu untuk resign dari EY adalah soal jenjang karier. Di EY, tiap tahunnya pasti ada promosi, dan juga ada kenaikan gaji yang terkadang, jumlahnya bisa sangat-sangat signifikan. Dan sejak awal gue tahu bahwa hal seperti itu jarang sekali bisa kita temukan di perusahaan-perusahaan lain. Tapi alhamdulillah buat gue, setidaknya untuk tahun pertama, kekhawatiran gue itu tidak terbukti benar.  Per akhir November 2011, gue dipastikan mendapatkan promosi ke SRG (induknya NCSI), untuk posisi yang sudah pasti tidak akan bisa gue dapatkan tahun ini seandainya gue masih kerja di EY.

Jadi kesimpulannya, nyaris semua rasa takut yang dulu gue rasakan itu tidak terbukti kebenarannya. Sehingga pada akhirnya gue belajar bahwa sebenarnya, bagaimana hidup kita (gue dan ex-auditor atau soon-to-be-ex auditor lainnya) setelah resign dari EY, pada akhirnya semua itu kembali lagi kepada diri kita masing-masing. Hidup kita setelah resign dari EY akan sangat tergantung dari pikiran dan sikap yang kita tentukan setelah itu.

Jika tidak ingin bosan selepas kerja jadi auditor, maka jangan mencari pekerjaan yang banyak menuntut clerical things to do. Jika ingin tetap menjadi expert di bidang akuntansi, maka carilah pekerjaan yang job description-nya dapat mengasah accounting skill yang sudah kita punya. Jika ingin terus mengembangkan knowledge and skill, maka carilah perusahaan yang bersedia men-support kita untuk jadi lebih pintar. Dan jika tidak ingin karier jalan di tempat, maka carilah perusahaan yang masih punya peluang untuk berkembang.

Gue nulis blog ini sama sekali bukan berniat untuk bilang bahwa EY itu jelek. Gimanapun berkat EY, gue jadi dapat banyak pengalaman baru yang telah berkontribusi besar untuk perjalanan karier gue selanjutnya.  I used to have a good life at EY, but thank God that I have a better life afterward. So yes… one year ago, I have made a right decision to leave EY for my better life. For me, it was simply a right choice in the right time.