8 Hal yang Dapat Memicu Perselingkuhan

Ada tayangan tv hari ini, yang membuat gue jadi terinspirasi buat menulis blog yang membahas tentang hal-hal yang dapat memicu perselingkuhan. Blog ini gue tulis berdasarkan pengamatan pribadi terhadap hal-hal nyata yang terjadi di sekitar gue. Memang belum tentu bisa dipukul rata, tapi tidak ada salahnya jika kita semua menjadikan hal-hal di bawah ini sebagai pertimbangan.

  1. Pasangan tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Ada tipe orang yang jauh lebih suka didengar daripada mendengar. Saat orang lain curhat, dia cuma bereaksi, “Oh… Iya sih… I see.” Tidak lama kemudian, dia akan langsung ganti topik menjadi cerita tentang diri dia sendiri. Saat gantian dia yang bercerita, dia maunya orang lain mendengar baik-baik dan memberi pendapat yang bukan hanya satu atau dua kalimat saja. Nah… saat seseorang tidak menemukan tempat untuk berbagi pada pasangannya, maka secara naluriah, dia akan mencari orang lain yang bisa dia jadikan teman berbagi. Sharing selalu menjadi salah satu cara paling efektif untuk membuat dua orang asing menjadi sahabat. Dan jika hal ini terjadi pada pertemanan lawan jenis… maka hati-hati. Dari sekedar berbagi cerita, bisa berkembang menjadi berbagi hati;
  2. Punya prinsip untuk tidak bercerita tentang pekerjaan kepada pasangan. Sebetulnya, prinsip ini ada sisi positifnya: urusan kerja cukup terjadi di kantor saja, tidak perlu bikin hidup tambah lama menderita dengan dibawa-bawa ke luar kantor. Jangan saja keluhan soal pekerjaan malah bikin pasangan jadi merasa tidak nyaman… Hal ini tidak jadi masalah, asalkan kita tidak malah menjadikan teman lawan jenis di kantor sebagai pelarian curhat kita soal pekerjaan! Sama seperti point satu… perselingkuhan bisa saja dimulai dari sekedar curhat. Apalagi sebetulnya, saat kita sudah mulai bekerja, maka pekerjaan pasti akan menjadi salah satu penyumbang masalah terbesar dalam hidup kita. Ujung-ujungnya, makin banyak masalah di kantor, makin terbuka lebar pula peluang buat kita selingkuh sama si teman curhat. Tidak heran jika konon katanya, mayoritas orang berselingkuh dengan rekan kerjanya;
  3. Karena pasangan tidak akan bisa mengerti jika diajak ngobrol soal pekerjaan. Masih sambungan point 2 di atas, tidak curhat soal pekerjaan kepada pasangan belum tentu karena tidak mau, tapi lebih karena pasangan memang tidak bisa diajak ngobrol soal pekerjaan. Makanya kalau menurut gue, tidak ada salahnya jika berusaha memahami seluk beluk pekerjaan pasangan kita. Tapi biasanya siih, hal seperti ini lebih jarang terjadi pada pasangan yang sama-sama mempunyai pekerjaan. Jadiii, yah… punya pasangan yang tetap bekerja setelah menikah itu ada juga sisi positifnya kan? Hehehehe;
  4. Sering pergi berduaan dengan lawan jenis selain pasangan. Pergi hanya berdua otomatis membuat perhatian kita hanya terpusat sama dia, berkomunikasi hanya sama dia, melewati banyak hal juga hanya berdua sama dia saja… Semakin sering berduaan, semakin sering terbawa suasana, semakin besar pula peluang untuk terjadinya perselingkuhan… Jangan lupa bahwa katanya, kebersamaan bisa menumbuhkan cinta;
  5. Ada perempuan lain yang bisa membuat pasangan merasa ‘lebih cowok’. Si perempuan lain itu tidak selalu berwujud perempuan penggoda yang berbaju seksi. Karena seringkali, perempuan kalem yang cewek banget, bisa menjadi ancaman tersendiri buat mengalihkan perhatian pasangan. Mungkin ini sebabnya, perempuan seringkali dinasehati untuk tidak tumbuh terlalu mandiri, dan tidak meninggalkan hal-hal yang identik dengan perempuan (misalnya, minimal masih bisa masak). Aah… jadi perempuan itu emang enggak selalu mudah. Tetep masak setelah capek seharian kerja di luar rumah itu bukan hal yang mudah kan? Oh yaa, satu lagi… Menurut salah satu teman cowok gue, keunggulan dari ‘perempuan bayaran’ adalah mereka tau banget gimana cara bikin cowok ngerasa tersanjung! Hmm…
  6. Mulai merasa tergantung dengan sekertaris/asisten di kantor. Bos yang selingkuh sama sekretarisnya itu jelas bukan cerita baru. Masih nyambung sama point 4 di atas, job description sekretaris yang harus melayani bos dalam urusan pekerjaan memang berpotensi bikin seseorang ngerasa lebih superior sebagai seorang cowok. Apalagi kalo si bos mulai ngerasa sangat nyaman sampai jadi ketergantungan sama sekretarisnya… Hal yang sama bisa berlaku juga buat bos cewek yang punya asisten cowok. Soalnya terkadang, staf cowok itu tetap punya naluri buat melindungi atasannya. Sometimes he doesn’t see his boss as a boss, he sees his boss as a woman whom he has to treat her right. Gue nggak bilang punya asisten lawan jenis itu haram hukumnya. Hanya saja saran gue, ketahuilah batas-batasnya dan pertahankan profesionalitas!
  7. Tetap bertahan dengan pasangan hanya karena keterpaksaan. Jika kita bertahan dengan si dia hanya karena keterpaksaan, maka kita akan lebih rentan merasa tertarik dengan orang lain yang memiliki hal-hal yang tidak dimiliki pasangan kita. Makanya kalo menurut gue, kalau ada masalah, carilah solusinya! Jangan hanya bersikap pasrah dan berprinsip yang penting hubungan tetap awet… Sekedar awet saja tidak cukup. Harus awet, dan harus bahagia dalam menjalaninya; dan
  8. Karena tidak pandai menahan diri. Sebetulnya, tidak masalah kerja dengan lawan jenis, curhat dengan mereka, bahkan hang out bareng mereka, asalkan kita bisa menahan diri. Gue cukup sering curhat atau dijadikan tempat curhat sama teman-teman cowok yang sudah punya pacar, ada pula yang sudah menikah. Gue juga sering banget kerja bareng cowok-cowok  yang sudah tidak berstatus single. Tapi sampai sekarang, tidak pernah sekalipun gue mencoreng reputasi gue sendiri dengan lantas selingkuh sama mereka. Intinya kita harus tahu kapan kita harus menahan perasaan kita. Kalau akhirnya tidak sengaja jadi jatuh hati, maka kita harus tahu diri… kapan saatnya kita harus memaksa diri untuk mematikan perasaan dalam hati.

Ketika kita mulai mengikat diri dalam suatu komitmen, maka ingatlah selalu bahwa komitmen itu adalah janji antara dua orang, bukan bertiga, apalagi berempat dan berlima. Jangan pula pernah terpikir untuk menjadi orang ke tiga. Bersedia menempatkan diri sebagai orang ke tiga  menunjukkan rendahnya respek kita terhadap diri kita sendiri. Dan ingatlah selalu… laki-laki atau perempuan yang baik, apapun alasannya, tidak akan pernah menempatkan siapapun sebagai orang ke tiga dalam hidup mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s