Cerita Lucu Tentang Tragedi Pesawat Terbang

Berhubung masa sibuk audit interim udah lewat tapi audit year end belum dimulai, alhasil gue dan beberapa orang teman nggak ada kerjaan lain di kantor selain chatting dan kirim-kiriman e-mail. Nah, kemaren sore, gue terima e-mail dari Nova, salah satu temen di Medco Audit Team, yang menurut gue isinya tuh lucu banget! Begini isi e-mailnya…

Sebuah pesawat udara, yang dipenuhi artis artis indonesia sedang terbang untuk tour musik bersama. Tiba tiba mesin pesawat rusak satu .

“Pesawat kehilangan tenaga, kita bisa jatuh, cepat semua barang bawaan harap di buang keluar” perintah Pilot.

Setelah barang bawaan di buang pesawat bisa terbang lagi walau dengan tiga mesin. Tapi sialnya tak lama mesin mati lagi. Kembali pesawat kehilangan tenaga.

“Beban mesti di kurang, harus ada yang rela berkorban”, kata pilot

Tak lama kemudaian Titik Puspa berdiri, “Saya yang paling senior, saya lakukan demi generasi muda”.

Lalu dia melompat keluar
Aaaaaa…… .!!!!

Tapi pesawat masih tetap kekurangan tenaga, karena beban berat.
Sang pilot meminta supaya beban kembali dikurangi.

Lalu penyanyi, Ello, dengan gagah berdiri dan berkata, “Pergi untuk kembali”
Lalu dia juga melompat keluar
Aaaaaaaaa… …!!!!!

Tapi, pesawat tetap keberatan.
“Masih ada satu orang harus berkorban”, kata pilot

Penumpang lain pun tampak pucat, ketakutan.
Lalu Rhoma Irama berdiri, semua mata menatapnya.
“Demi moral bangsa”, katanya.
Penumpang terharu…

Lalu dia mendorong Inul keluar pesawat
Aaaaaaa….. ….!!!!

Kita Berbeda, Lalu Kenapa?

Gara-gara beberapa hari yang lalu ada acara potong kambing kurban di lapangan sebelah rumah, sampe sekarang bau khas kambing masih tercium dari rumah kontrakan gue itu. Dan hari ini gue baru nyadar bahwa bau itu tercium semakin kuat di siang hari. Bau kambing itu pula yang ngingetin gue sama obrolan bareng Stievan, salah satu best friend yang beragama Budha, satu minggu yang lalu.

Sore itu, via telepon…

“Fa… hari ini elo ngerayain Idul Adha kan? Jadi gue harus ngucapin sesuatu dong? Tapi apa yaa?”

Gue ketawa. “Hehe, sebabnya elo nggak tau kan Idul Adha itu ngerayain apa?”

“Hmmm…” Mikir sebentar. “Kalo gitu selamat makan kambing deh.”

Hah? Selamat makan kambing? Gue ketawa makin kenceng ngedenger ucapan selamat dari si Stievan. Daripada repot-repot menjelaskan, gue lebih memilih untuk ngejawab,

“Haha… gue nggak suka makan kambing tau, abis bau sih.”

“Ya kalo gitu selamat makan sapi deh, hehe…”

Well, semenjak kuliah di Binus gue banyak menemukan berbagai macam orang dari beragam latar belakang budaya dan agama. It’s so nice to see how people appreciate diversities between us. Selalu ada rasa haru setiap kali terima ucapan lebaran dari teman-teman yang non-Islam. Nggak penting apakah mereka paham makna di balik hari raya agama gue itu. Yang penting adalah fakta bahwa perbedaan besar itu tidak pernah menghalangi persahabatan di antara kita. Besides, bisa jadi hiburan tersendiri juga kalo terjadi hal-hal seperti yang gue ceritakan dalam tulisan ini, hehe. Keep being friends yaa guys!

Tentang Aku, Kamu, dan Dia

Aku tahu cara mendaki gunung itu

Aku tahu cara merintangi laut nan maha luas itu

Aku juga tahu, bagaimana menyakiti ia yang tak berdosa

Aku tahu aku bisa,

Namun aku adalah aku

Aku tak kan tertawa di atas deritanya

Aku tak bahagia di atas lukanya

Tak kan kunodai harap dan percayanya,

Karena aku adalah aku

Derita pasti kan datang menghampiriku

Luka, air mata, dan kecewa akan hiasi hari esokku

Tapi tak mengapa,

Aku akan bertahan menjadi aku

Bila terus berhembus napasku ini,

Kuyakin bahagia akan kembali menghampiririku

Aku tak meminta balas budi,

Ku hanya percaya Tuhan selalu ada bersama denganku

Kuyakin Ia maha melihat,

Bahwa aku tetap menjadi aku

Siapakah aku?

Aku hanya manusia biasa

Yang ingin kita bahagia bersama

Ingin yang terbaik untuk diriku,

Untukmu,

Dan untuk dia

Lupakan aku

Aku akan tetap di sini menjadi aku,

Sahabat terbaikmu.

Statement Menyebalkan

Ini nih omongan orang yang paling terasa panas di kuping gue…

“Elo kok kurus banget sih?” Bertanya sambil menatap seolah gue ini mahluk langka yang aneh gimanaaa gitu. Fyi, porsi makan gue normal, minum susu tiap hari, lumayan suka ngemil, enggak punya penyakit kronis, DAN gue rutin minum obat cacing 1 tahun 2 kali. Jadi please ya, kurus begini bukan maunya gue!

“Jerawatlo kok jadi tambah banyak???” Biasanya yang suka ngomong begitu akhirnya ikut ditumbuhin jerawat juga, hoho, kualat tuh… Sebaliknya sekarnag justru muka gue udah mulai bersih nih, hohohohohoho…

“Di Binus itu gampang dapet nilai.” Hellllooooo, kalo di Binus segampang itu dapet nilai gue udah lulus dengan IPK 4!

“Gue sih nggak mau punya IP terlalu tinggi, takut jadi nggak gaul. Nggak mau kerja di perusahaan bonafid, gaji gede, tapi stres terus…” Sayang banget orang yang suka ngomong gitu. Ucapan itu doa lho guys…

“Cewek itu nggak usah terlalu ambisius ngejar karier. Toh ujung-ujungnya masuk dapur juga.” Ampun ya, hari gini masih ada orang berpikiran begitu? Ibu Kartini bisa nangis di dalam kuburnya kalo begitu terus…

“Jangan suka terlalu pilih-pilih cowok. Nanti keburu perawan tua.” Untuk beberapa orang tertentu yang ngomong begitu, nggak tau kenapa kedengeran di kuping gue kayak begini, “Mending pacaran sama siapa aja yang mau daripada jadi perawan tua.” Terkadang jadi perempuan itu memang menyedihkan…

“Sssst, berisik amat sih?” Teguran ini selalu sukses memporakporandakan kegembiraan gue dkk. Hidup itu enggak fun kalo cuma diem aja!

“Lho, kok adeklo cantik sih Fa?” Oh God.. jadi maksudnya gue jelek gitu???

Again… “Fa, adiklo apa kabarnya?” Gue nggak keberatan ditanyain kayak gitu, tapi gue nggak ngerti kenapa cowok-cowok yang lagi ngedeketin gue juga suka nanya kayak gitu. Jadi sebenernya dia mau deketin gue atau adek gue?

Dan statement yang paling menyebalkan adalah… “Ah, elo Fa, nasehatin gue tapi sendirinya elo juga kayak begitu!”

Haha, itu artinya gue juga suka mengeluarkan statement yang menyebalkan;) Let’s forgive each other aja lah yaa… Atau elo pada ikutin jejak gue aja… tulis hal-hal yang enggak suka elo denger supaya next time gue nggak ngucapin kalimat it di depan elo, hohoho. Thanks for reading!

Daftar Kejelekan DIA

Karena nyaris desperate gara-gara bingung gimana caranya ngelupain cowok yang gue suka, iseng-iseng gue punya ide untuk bikin daftar kejelekan dari cowok ybs. Harapan gue, menulis dan membaca berulang-ulang daftar kejelekan dia itu bisa bikin gue ilfeel sehingga gue akan ngelupain dia dengan sendirinya. Tapi belum sempat gue menuliskan kejelekan-kejelekan dia, yang ada gue malah flashback dan merenungkan segala hal yang pernah terjadi di antara gue dan dia.

Faktanya, bukan sekali dua kali gue ngelihat sendiri betapa dia sama sekali BUKAN tipe cowok yang gue idam-idamkan. Gue pernah beberapa kali ngerasa syok saat mengetahui kelakuan dan segala sifat aslinya. Setiap gue tengah syok itu pula gue berpikiran untuk segera angkat kaki dari kehidupan dia. Tapi toh faktanya, sampe sekarang gue masih-di-sini dan masih suka memikirkan kelanjutan hubungan gue dan dia ke depannya nanti.

Kenapa begitu? Karena selain segala kejelekan dia, ada juga beberapa sisi positif dari diri dia yang bikin gue males beranjak ke cowok lain. Malah pada akhirnya gue berpikiran, toh setiap cowok punya kekurangan, tapi masalahnya, belum tentu gue bisa menerima kekurangan cowok lain seperti gue bisa menerima cowok ini apa adanya…

Padahal ya, kalau mau dihitung-hitung pake angka, mempertahankan hubungan yang enggak jelas masa depannya seperti ini sebetulnya akan banyak membuang waktu dan tenaga gue. Belum lagi possibility bahwa apa yang gue pertaruhkan itu hanya akan sia-sia belaka… Sampe sini gue kembali berpikir ulang; apa iya segala kelebihan dia itu cukup layak untuk membuat gue bertaruh segila ini?

Tiba-tiba gue teringat sama kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat itu gue juga lagi desperate gara-gara selalu aja bolak-balik naksir sama satu cowok yang enggak pernah jelas apa maunya. Gue pun memutuskan buat bikin daftar kejelekan dia yang bisa bikin gue ilfeel. Dan kalo enggak salah, begini isi daftar gue waktu itu…

  1. Dia itu aneh, udah dua kali deketin gue tapi udah dua kali pula ngejauhin gue tanpa sebab yang jelas;
  2. Dia tuh hobi flirting ke begitu banyak cewek di sekitar dia;
  3. Dia itu kalo ngerokok udah kayak cerobong asap;
  4. Dia tuh mantan pacarnya musuh bebuyutan gue. Males banget kalo gue dapet bekasnya cewek nyebelin itu!
  5. (Sampe sini gue mulai bingung apa lagi yang bisa gue tulis). Hmm, dia itu kan kurang ganteng dan kurang tinggi;
  6. (Gue makin bingung mau nulis apa lagi). Oh iya, dia itu hobi gambar pup kerbau… (Sambil nulis gue sambil membayangkan gambar pup yang bertebaran di buku dan tasnya itu… Dan, yang ada gue malah ketawa terpingkal-pingkal!);
  7. (Masih sambil senyum-senyum, gue mencoba menulis point ke tujuh). Duh duh… dia itu pernah ketangkep bawa VCD porno ke sekolah! Dia itu kan terkenal sebagai bandar blue film… (Lagi-lagi gue malah ketawa cekikikan. Yang satu ini emang sangat memalukan, tapi justru kejadian pas sidak (pemeriksaan mendadak) itulah yang bikin dia tambah ngetop di sekolahan);
  8. (Sampe sini gue enggak tau lagi mau nulis apa. Buntu).

So the point is, emang benar bahwa seringkali dalam cinta itu tidak ada logika. Rumus matematika yang paling canggih atau perhitungan akuntansi tentang untung-rugi enggak akan pernah bisa menjelaskan alasan kenapa kita bisa bertingkah gila saat sedang jatuh cinta. Orang yang benar-benar sedang jatuh cinta rela merugi demi mengejar orang yang dia cintai.

Jadi rasanya, kali ini pun ujung-ujungnya akan sama saja; menulis daftar kejelekan dia tidak akan membawa hasil! Mungkin gue perlu pukulan yang lebih telak lagi yang bisa menyeret gue pergi jauh-jauh dari hidup cowok yang satu ini. Atau hopefully, gue menemukan cowok lain yang bisa mengalihkan kegilaan ini dari si dia ke cowok baru yang entah siapa orangnya itu… Kenapa begitu? Karena segila-gilanya, gue masih cukup waras dengan berharap akan menemukan orang lain yang bisa mencintai gue setulus gue mencintai dia…

Ah, orang yang lagi jatuh cinta emang mellow abis, haha…

Minutes to Minutes in My Passage Day

Minutes to minutes in my passage day…

1.     Jam 6.30 si Puja heboh nanyain baju toga itu resletingnya di depan apa di belakang. Dalam keadaan setengah sadar karena baru bangun tidur, gue bilang aja letak resleting itu kan normalnya di belakang;

2.     Setengah jam kemudian, si Puja nelepon lagi dan bilang bahwa resletingnya itu di depan. Katanya dia udah tanya ke anak-anak lain. Tapi gue tetep teguh pada pendirian; gue pake toga dengan resleting di belakang;

3.     Beberapa jam kemudian gue sampe JCC dan menemukan fakta bahwa yang bener itu resletingnya di depan! Arrrghhh…

4.     Jadwal make-up gue ngaret sampe DUA jam! Untungnya gue sampe JCC tepat waktu, hehe;

5.     Seluruh hadirin disuruh nyanyi lagu Indonesia Raya. Awalnya gue ikutan nyanyi, tapi baru bait ke tiga tiba-tiba gue terdiam. Rasanya tuh gue terharu banget berdiri di ruangan itu sambil nyanyiin lagu kebangsaan kita… Saking terharunya sampe nggak bisa ngeluarin suara buat nyanyi, hehe;

6.     Acara pelantikan dimulai dengan pelantikan untuk dua mahasiswa summa cum laude. Salut buat mereka berdua, IPK-nya 3,9 sekian, gila banget deh. IP gue yang cuma segini aja belajarnya mati-matian apalagi yang nyampe 3,9???

7.     Giliran gue maju ke panggung buat dilantik. Pas dipindahin tali topi wisuda sama Dekan, dia nanya gini, “Oh… ini Riffa ya?” Gue jawab, “Iya, Pak,” sambil senyum pastinya. Terus Pak Dekan ngomong lagi, “Selamat yaa, Riffa.” Gue senyum lagi (secara gue nyadar waktu itu gue lagi difoto sama fotografer, hehe), sambil bilang, “Makasih Pak.”

8.     Giliran dikasih tabung sama Bu Ersa, kajur gue… “Riffaaa… gimana masih betah kerja di EY?” tanyanya dengan wajah sumringah. Karena enggak mau ngerusak suasana bahagia di sana, gue jawab aja dengan entengnya, “Masih kok Bu, hehe…” (Senyum lagi soalnya gue kan difoto lagi sama fotografer, hahahaha);

9.     Sampe bawah panggung, disuruh berhenti sama fotografer buat foto. Karena udah bayar cukup mahal, gue langsung pasang pose ala artis yang lagi jalan di atas red carpet, huahaha…

10.   My favorite part is… ketika kita bareng-bareng lempar topi wisuda ke udara! Bahagia banget, terasa banget sekarang ini udah ada gelar SE di belakang nama gue, hehe…

11.   Karena semua kamera dan hp ditiitpin ke adek gue, terpaksa gue nemplok foto di sana-sini dan heboh bilang jangan lupa taro hasilnya di Fs atau di Facebook! Maklum, banci foto, hehehe…

12.   Nggak disangka-sangka, bokap-nyokap yang lagi naik haji nun jauh di Arab itu, nitip dua buket bunga wisuda via adek gue… Senangnya, foto gue jadi keren gara-gara ada buket bunganya! Dapet dua buket pula, kesannya kan kayak gue punya banyak fans gitu, hehe;

13.   Keluar dari ruang pelantikan, ada fotorgrafer nyamperin, mau jual foto gue yang diambil secara candid. Sayangnya dompet gue kebawa di mobil yang satunya lagi yang udah jalan keluar JCC. Si fotografer bilang bayar di mobil gue aja. Ya udah dia ikut gue menuju mobil yang diparkir JAUUUUUUHHHH banget sama supir gue. Dan ternyata…. di mobil gue enggak ada uang buat bayar foto! Untung si fotografer nggak marah… Maaf banget ya, Mas…

14.   Yang lebih buruk lagi, karcis parkir gue juga kebawa di mobil yang satu lagi! Padahal gue juga nggak bakal mampu bayar denda sebesar Rp. 20.000,-. Ya sudahlah, dengan tebal muka supir gue bilang ke petugas pintu parkir bahwa kita kehilangan karcis tapi juga nggak bisa bayar denda atas kehilangan karcis… Untung si mas-mas itu cuma tersenyum dan mempersilahkan mobil gue untuk beranjak pergi… Fiuh…. bikin malu aja!

15.   Abis dari JCC langsung cabut ke Djo photo studio. Sempet was-was karena mobil yang satu lagi (yang berisi om-tante dan adik-adik gue) salah pilih exit tol sehingga harus muter-muter dulu… Untung masih keburu!

16.   Waktunya photo session… Si mas-mas fotografer pada heboh ngarahin gaya kita. “Mbak… kepalanya miring dikit, badannya tegak, senyum sambil bilang, cheeeeeseeee….” Berhubung gue ini customer terakhir mereka, semua fotografer yang ada di ikut turun tangan ngarahin gaya kita sambil bareng-bareng bilang, “Cheeeeeseeee…”.

17.   Ada masalah lagi. Bensin gue udah sekarat. Si koko bosnya Djo Studio (mungkin koko ini yang bernama si DJO) dengan baik hatinya menggambarkan peta menuju pom bensin terdekat… Waktu pagi dia juga dengan senang hati mengatur supaya gue dan adik gue bisa dirias di ruangan tertutup (soalnya kita berdua kan pake jilbab…);

18.   Karena bingung hasil fotonya bagus-bagus banget, gue dengan senang hati membayar extra money buat ambil extra photos, hoho… Gue puas banget foto di Djo. Walau make-up nya ngaret tapi orang di sana ramah-ramah banget. Background-nya juga keren-keren, mas-mas fotografernya baik dan lucu, dan harganya relatif lebih murah! Puas banget pokoknya, highly recommended buat elo semua. Kalau nggak percaya, nantikan aja foto wisuda gue di Fs ini… Hmm, buat foto pre-wedding gue NANTI (yang entah kapan nantinya,itu, hehe) gue juga mau pake fotografernya Djo aja ah, hahahaha…

19.   Secara ajaib, kucing gue si Dippy yang gue kira udah mati tiba-tiba pulang ke rumah dan menyambut kepluangan gue dari acara wisuda! Senangnya…

20.   Pulang dengan perut lapar (sengaja nggak makan dari pagi supaya perut gue kelihatan ramping waktu difoto, hehe). Sampe rumah langsung makan nasi plus gulai ayam diikuti oleh sepiring mie goreng dibikinin adek gue. Katanya sih… sepiring mie itu hadiah wisuda buat gue, hehehe…

21.   Berhubung enggak mau rugi, sisa make-up nggak langsung gue hapus melainkan foto-foto dulu pake kamera hp;)

22.   I love this day. It’s not a perfect day but this day makes me feel perfect. It completed my struggle as a first degree student. Akhirnya perjuangan gue di Binus berakhirlah sudah… Tapi di saat yang sama, hari ini adalah awal baru untuk gue dan sahabat-sahabat gue menapaki kahidupan baru di luar sana… Terharu banget kalo inget jamannya dandan culun waktu POM, awal-awal kuliah yang masih bingung enaknya temenan sama siapa, masa-masa gila-gilaan sama temen kuliah, sampe masa-masa gue berantem terus baikan lagi sama mereka… Soal prestasi kuliah gue emang hasilnya enggak maksimal (I failed to bring my parents to stand on the stage as the parents of summa cum laude student), tapi gue belajar banyak hal tentang hidup di kampus ini, dan yang nggak kalah pentingnya, gue menemukan sahabat-sahabat terbaik selama empat tahun gue kuliah di sini bersama mereka… Meski begitu, dalam hati gue tetep bertekad, “S2 nanti gue harus lulus summa cum laude!”

What a Girl Wants

Di suatu malam di saat gue dan teman-teman seperjuangan sedang kerja lembur di sebuah gedung di bilangan Pancoran… tiba-tiba keluar obrolan tentang suami impian.

Rekan gue dengan inisial MP berkata, “Kalo gue maunya, suami-isteri itu saling melayani. Jadi misalnya pas gue bangun tidur gantian suami gue bikinin gue kopi…”

Rekan gue yang lain, AY, ikutan berkhayal, “Gue maunya suami gue tiba-tiba kasih gue bunga pas bangun tidur…”

Ada juga yang bilang, “Gue maunya suami gue itu bisa memahami gue dengan baik. Gue mau dia bisa ngerti apa yang gue mau tanpa perlu gue bilangin…”

Hmm, berawal dari obrolan itu, gue jadi kepengen nulis apa yang gue inginkan dari pasangan gue nanti. Bagi gue, pasangan impian itu adalah cowok yang…

1.     Tetap memenuhi janjinya meskipun saat itu dia lagi marah besar sama gue;

2.     Bersedia repot-repot muter keliling mall buat cari kado ultah buat gue (dan bukannya asal comot barang yang ada di depan mata!);

3.     Rela datang menjemput saat gue pulang kerja kelewat malam, dan rela bangun pagi-pagi buta buat nganterin gue yang mau pergi ke bandara…

4.     Berusaha mengingat setiap hal yang gue ceritakan (dan bukannya masuk kuping kanan keluar kuping kiri!);

5.     Berusaha mengingat apa yang gue suka dan apa yang enggak gue sukai;

6.     Mendukung setiap cita-cita gue (dan bukannya malah merasa terancam!);

7.     Sesekali ngasih gue kejutan yang tidak terduga…

8.     Menyimpan kata-kata cinta hanya untuk gue (dan bukan mengumbarnya ke sembarang orang!);

9.     Tidak akan pernah memaki gue di depan orang lain, menyakiti gue secara fisik, dan ngusir gue untuk keluar dari mobilnya semarah apapun dia sama gue; dan

10.   Tetap melakukan 9 hal di atas meskipun gue udah nggak lagi cantik, seksi (ya sekarang juga masih belum masuk kategori seksi sih, hehe), dan tetap setia for better and worse.

Well, kesannya gue ini cewek yang banyak maunya ya? Tapi maaf saudara-saudara, rasanya memang sepuluh hal itulah yang diinginkan oleh SEMUA kaum Hawa di dunia ini… Malah menurut gue, sepuluh hal itu jauh lebih penting daripada wajah ganteng, body keren, otak jenius dan kantong super tebal… Makanya gue ngiri banget waktu tadi wisuda ada cowok bawain sebuket besar bunga mawar merah buat pacarnya… Ah… what a lucky girl…

21 Unforgetable Memories

  1. Waktu TK pernah ada dua orang guru TK yang bisik-bisik begini saat mereka lagi jalan bertiga sama gue, “Ssst, si Riffa kok cara jalannya agak aneh ya? Pasti waktu bayi enggak dibedong sama emaknya.” Hmmph, menyebalkan!
  2. Gue bengong seharian waktu tahu salah satu teman terdekat gue meninggal gara-gara sakit malaria saat usianya masih 6 tahun;
  3. Waktu gue kelas 3 SD, gue punya musuh bebuyutan, namanya Puput. Saking bersaingnya, kita pernah membagi kelas ke dalam dua kubu. Setiap anak sekelas yang baru datang kita samperin sambil nanya, “Kamu mau ikut kelompok Puput atau kelompok aku?”
  4. Gue dengan teganya ngakak abis-abisan waktu tau Rodi, temen sekelas gue di SD kelas 3, sampe menitikkan air mata saat nulis surat buat mamanya di Hari Ibu (kasih hadiah plus surat ke nyokap itu tradisi anak-anak di SD gue). Yang ada seisi kelas melotot ke gue yang dianggap nggak punya hati nurani itu, hehe;
  5. Waktu gue kelas 3 SD dan adik gue kelas 1 SD, kita berdua pernah kehilangan uang buat ongkos padahal kita berdua udah terlanjur naik angkot! Untung waktu itu ada ibu-ibu yang nggak tega ngeliat adik gue nangis, terus kita berdua dibayarin deh ongkosnya…
  6. Waktu naik ke kelas 4 SD, gue terpaksa ikut keluarga pindah ke Bekasi. Gue masih inget di hari terakhir gue di SD Mambaul (SD gue di Jakarta), temen-temen sekelas semuanya berdiri di depan pintu kelas sambil memandangi kepergian gue dengan sedih… Hiks…
  7. Di SD gue yang baru, gue berhasil menangin lomba cerdas cermat dan ngalahin cewek yang langganan jadi juara kelas saat itu. Padahal… gue dan temen-temen setim gue itu enggak pinter-pinter banget! Haha, rangking boleh kalah, tapi cerdas cermat kita juaranya, hehe…
  8. Waktu kelas 6 SD ada anak cewek yang suka ngatain gue botak cuma gara-gara pas kelas 6 itu gue mulai pake jilbab! Enggak tau gue dosa apa sama anak itu yang jelas sampe lulus SMP dia masih suka sirik sama gue. Susah jadi orang beken, haha…
  9. Waktu liburan kenaikan kelas ke 3 SMP, gue ketemu sama first love gue di tur ke Djokja selama 5 hari. Sedihnya dia sempet ngira gue udah kuliah, padahal gue kan masih kelas 3 SMP! Jadilah sang gebetan yang udah kuliah nganggep gue asih anak ingusan… Yang ada malah temennya dia yang heboh ngejar-ngejar gue! Sampe niat mau main pelet segala! Ih…
  10. Waktu kelas 3 SMP ada cowok playboy yang populer, pinter, dan tajir yang berusaha pdkt ke gue. Itu pertama kalinya gue dibilang cantik sama cowok. Sejak itu pula gue BARU sadar bahwa tampang gue ternyata nggak jelek-jelek banget, ya meski nggak secantik adik gue sih, hoho…
  11. 8 Agustus 2001 gue resmi bikin gank sama Junet, Nitya, Intan, dan Vera. Untuk ngeresmiin, kita tulis nama gank di atas meja (pake kapur tulis) lalu nulis nama masing-masing lengkap dengan tanda tangan kita. Sampe sekarang, kita masih merayakan anniversary kita ituJ
  12. Waktu kelas 1 SMA, gue pernah kalah main games dan hukumannya disuruh nembak cowok! Seisi kelas heboh nyorakin, dan si cowok mukanya sampe merah dan tangannya gemetaran, hahaha… Dodolnya pas gue udah selesai nembak si cowok, gue baru sadar dari tadi guru Geografi gue ada di sana! Ups…
  13. Gue sedih banget waktu kalah di pemilihan Ketua OSIS SMA. Bukannya kenapa-napa, masalahnya yang menang itu musuh bebuyutan gue! Sampe sekarang gue masih nggak ngerti kenapa si Ketua OSIS itu benci banget sama gue;
  14. Pegang jabatan penting di 3 organisasi SMA bikin gue jadi populer. Saking ngetopnya, setiap ambil raport nyokap nggak pernah tuh nanya ke gue ruang kelas gue ada di sebelah mana. Dengan pedenya nyokap asal panggil orang terus nanya begini, ”Dek, mau tanya, kelasnya Riffa di mana ya?” Dan SELALU aja dijawab begini, ”Oh, di sana Bu, ayo deh, saya anter.” Haha, at least gue pernah ngerasain asyiknya jadi orang beken, hehe…
  15. Saking bencinya si Ketua OSIS yang gue sebut di nomor 13, cewek yang sok innocent itu NGGAK ngundang gue ke acara perpisahan OSIS sama sekali! Padahal gue wakil dia di organisasi itu! Bukan cuma gue, dia juga nggak ngundang setiap anggota OSIS yang pro sama gue. Huh, pokoknya nama dia nggak bakal pernah ada dalam daftar undangan pesta ultah, reuni, dan pernikahan gue nanti, hoho, balas dendam ceritanya…
  16. Setelah selama satu tahun pergi sekolah jam enam, pulang jam tiga terus PM, dilanjutin bimbel sampe jam 7, lalu belajar lagi di rumah sampe mata mulai ngantuk, di semester terakhir kelas 3 SMA gue harus puas dengan prestasi sebagai runner up… Enggak tau kenapa gue cuma dapet rangking 2 padahal nilai murni UAN gue itu paling tinggi di kelas. Alhasil, seumur hidup gue nggak pernah ngerasain dapet rangking satu. SedihnyaL
  17. Waktu ultah gue yang ke 21, tiba-tiba pas tengah malem di depan pintu rumah udah ada kado dari si Puja. Padahal gue yakin tiga jam sebelumnya kado itu enggak ada di sana. Sampe sekarang si Puja nggak mau ngaku gimana caranya itu kado ada di sana. Soalnya rumah dia tuh jauh banget dari kosan gue. Thanks banget ya Ja!
  18. Masih di ultah gue yang ke 21, temen-temen sekelas maksa gebetan gue buat ngucapin happy birthday ke gue. Pas akhirnya cowok itu nyamperin dan salaman sama gue, si Puja ngomong begini pake mike di kelas, ”Saya terima nikahnya Riffa dengan mas kawin dibayar kredit.” Semuanya langsung ngakak sampe sakit perut.
  19. I was not there when Puja’s father passed away… Gara-garanya waktu itu gue lagi berantem sama dia. Maafin gue ya Ja… Sorry gue nggak nemenin elo di saat terberat dalam hiduplo itu… Semangat ya!
  20. Gue syok berat saat skripsi yang gue kerjain setengah mati (demi skripsi itu gue sampre bolos kerja demi ngejar-ngejar peneliti yang disertasinya gue jadiin referensi, gue bahkan sampe beli 4 buku statistik dan download puluhan artikel penunjang) akhirnya cuma dikasih nilai B… Tapi kesedihan gue sedikit terobati saat skripsi yang nilainya pas-pasan itu lolos seleksi untuk dipresentasikan ke inernational conferenceJ Gue nggak sabar pengen nyodorin print out konferensi ke depan muka salah satu dosen penguji yang arogan banget itu!
  21. Gue kaget banget waktu Stievan, temen sekantor waktu masih di Accurate, tiba-tiba masang foto gue di featured friends Fs dia (di Fs dia cuma pasang 3 ff). Padahal gue baru kenal dia sekitar 8 bulan lho. Yeah… anggap aja itu berarti dari sekian banyak cewek dalam hidupnya (maklum, cowok ganjen, hoho) gue termasuk cewek yang paling penting, hahaha…
  22. Insyaallah, akhir bulan ini usia gue menanjak ke angka 22. Hopefully akan selalu ada lagi kenangan-kenangan, baik pahit maupun manis yang bisa bikin gue senyum-senyum kalo inget itu semua. Karena meskipun enggak semua yang gue tulis di atas adalah pengalaman yang menyenangkan, setidaknya itu semua adalah hal-hal yang telah mendewasakan gue. Thanks for reading!

Someday I Will

Waktu kecil, gue pengen banget bisa nyetir mobil gue sendiri. Gue juga pengen tinggal di apartemen gue pribadi, dan bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan uang gue sendiri. Tapi waktu itu, gue masih belum tau udah gede nanti mau kerja sebagai apa…

Setelah kuliah, gue jelas tau bahwa gue harus punya cita-cita yang konkret demi mencapai itu semua. I need to be something to afford them all right? Sampai satu per satu impian yang akan gue kejar itu mulai muncul satu per satu…

Waktu dosen audit gue bilang gue cocok kerja jadi auditor, gue memutuskan bahwa gue akan kerja jadi auditor setelah lulus kuliah nanti.

Lalu waktu dosen gue yang lain cerita tentang prospek karier di KAP Big Four, gue juga memutuskan bahwa gue akan berjuang untuk menembus satu dari empat KAP raksasa itu.

Dan waktu gue melintas di kawasan niaga Sudirman… gue bertekad di salah satu pencakar langit itulah gue akan mencari nafkah.

The time goes by, sekarang gue udah lulus kuliah, dan udah tiga minggu gue memulai karier sebagai auditor di Ernst and Young; salah satu KAP Big Four yang berlokasi di Gedung BEJ Sudirman…

Alhamdulillah satu rangkaian impian gue sudah tercapai. Sekarang, gue akan kembali mengejar impian gue semasa kanak-kanak…

Someday I will ride my own car

Someday I will live in my own apartment

Someday I will go abroad with my own money 🙂

Wish me luck yaa guys!

Mengejar Mimpi Berikutnya

Hampir semua impian gue udah mati di kampus Binus. Nggak bisa lulus cum laude karena pernah 3 kali dapet C, nggak berhasil dapet nilai skripsi A gara-gara dituduh malsuin data (syukur-syukur dengan tuduhan seberat itu gue masih dikasih nilai B), nggak pernah jadi ngewakilin kampus untuk ikut lomba akuntansi nasional… Ah… rasanya sedih banget nggak bisa bikin ortu bangga…

Tapi herannya nggak ada temen yang bisa mengerti kekecewaan gue. Katanya gue harus bersyukur lah, yang penting masa depan karier gue bakalan cerah lah… Mereka nggak ngerti bahwa gue udah kehilangan satu impian terbesar yang udah gue pendam seumur hidup gue… Gue cuma pengen, satu kali aja, gue ngerasain rasanya dapet rangking satu, atau gimana rasanya lulus dengan gelar Lulusan Terbaik… Yang paling menyedihkan adalah gue udah TIGA kali hampir berhasil mencapai impian itu! Belum lagi kalo ngebayangin gimana kecewanya bokap dan nyokap… Gue sampe nggak berani nelepon nyokap buat ngabarin skripsi yang gue kerjain setengah mati itu cuma dikasih nilai B dengan alasan-alasan yang nggak masuk akal.

Bukannya gue nggak bersyukur, terlalu ambisius atau apa… Gue cuma menyesal lagi-lagi gue gagal menuhin harapan bokap dan nyokap gue… Penyesalan itu semakin jadi karena boleh dibilang, impian gue itu pernah ada di depan mata gue tapi gue nggak berhasil mencapainya! Contohnya skripsi gue. Entah apa alasannya, salah satu dosen penguji yang waktu sidang cuma manggut-manggut ngeliat gue dituduh macem-macem sama dosen yang satunya lagi malah nulis “Maaf ya,” di dalam soft cover skripsi gue! Dari situ gue tau bahwa nilai A sudah di depan mata gue! Seandainya waktu itu gue berusaha lebih keras menghadapi dosen penguji yang keras kepala itu…

Tapi setelah satu hari berlalu… setelah gue coba berpikiran jernih… tidak pernah ada kata MATI untuk impian dalam hidup ini. Asalkan gue masih punya hari esok, gue juga masih punya peluang untuk menciptakan impian baru dan berusaha mengejarnya sekuat tenaga.

Sekarang, gue cuma butuh waktu untuk menentukan pilihan karier gue selanjutnya. Di sanalah mimpi gue yang berikutnya akan berlabuh. Ok, mari kita bersama-sama mengejar mimpi!