Hello Kitty Cafe in Seoul

It might sounds funny, tapi salah satu most wanted place gue di Seoul adalah Hello Kitty Café. Gue sampe nyiapin satu baju warna pink buat dateng ke sini 😀 Gue suka banget sama warna pink, dan suka banget pula sama Hello Kitty. No wonder kalo gue pengen banget dateng ke tempat ini. Dan benar saja… gue enggak kecewa menyempatkan diri datang ke café ini!

Interior-nya serba pink, serba Hello Kitty, dan serba cute! Bukan cuma dekorasi ruangannya, bahkan makanan dan minumannya pun bernuansa Hello Kitty. Asyiknya lagi, makanan dan minuman itu bukan cuma enak dilihat, tetapi terasa enak juga di lidah. Wafel yang gue pesan rasanya enak, manisnya pas, dan sandwich yang dipesan sama teman gue Tiara juga nggak kalah enaknya! Aaah, jadi pengen makan lagi 😀

Selain menjual makanan, Hello Kitty Café juga menjual cukup banyak pernak-pernik Hello Kitty. Di sana, gue beli satu strap buat kamera gue, dan satu tumbler yang sampe sekarang masih suka gue bawa ke kantor. Kayak anak kecil? Well, emang agak kontradiktif sama kepribadian gue yang cenderung serius dan suka sok tua, tapi buat gue, Hello Kitty itu penyeimbang dalam diri gue, biar nggak cepet tua gitu, hehehehe.

Tapi bicara seriusnya sih, alasan kenapa gue masih suka Hello Kitty meskipun umur sudah 26, karena tokoh ini udah jadi teman bermain gue sejak kecil. Waktu kecil, gue pernah bercita-cita kayak gini, “Kalo nanti aku udah punya banyak uang, aku mau beli Hello Kitty yang banyak!” Jadi jelas, dateng ke tempat yang serba Hello Kitty kayak café ini serasa a dream comes true 😀

Hello Kitty Café Seoul terletak di kawasan Hongik/Hongdae University. Peta yang ada di official website-nya cukup jelas, atau kalau tidak jago baca peta, begitu keluar dari stasiun Hongik, tinggal tanya-tanya saja sama orang-orang yang jualan di sana. Lokasinya memang agak tersembunyi, but once I found it, the little girl inside me screamed, “Hoooray… I found it I found it!”

Jadi, jangan sebut gue norak kalo gue foto di berbagai pelosok Hello Kitty Café, bahkan sampe ke toiletnya juga, hehehehe.

Gyeongbokgung Palace

Sebetulnya, gue bukan tipe orang yang menyukai wisata sejarah. Gue enggak gitu tertarik buat dateng ke tempat-tempat peninggalan sejarah. It always looks old and boring for me. Akan tetapi, anehnya, gue tetep memilih untuk datang ke Gyeongbokgung Palace, salah satu istana yang masih tersisa di tengah kote Seoul. And you know what… gue tertarik datang ke sana hanya karena foto sebuah danau yang tampak cantik dengan warna-warni daunnya. Tapi saat gue datang ke sana… yang ada cuma warna hijauh di mana-mana… Tapi tetep aja, gue ngerasa lumayan excited saat berhasil menemukan danau yang gue cari itu. Memang enggak secantik yang gue kira, tapi gue tetap suka!

Yang namanya istana, ya nggak banyak yang bisa gue ceritakan sebenarnya. Tapi sebetulnya, yang istimewa dari kunjungan ini, sebetulnya kita bisa lho, pinjam hanbok secara cuma-cuma dan kita diperbolehkan berkeliling istana mengenakan hanbok itu! Kebayang nggak sih… berfoto pakai hanbok berlatarbelakang kerajaan Korea asli? Sayangnya… karena keterbatasan waktu, gue dan teman-teman tidak sempat meminjam hanbok gratisan itu 😦

 

 

 

 

 

 

 

Ada satu hal unik yang gue temukan di stasiun kereta Gyeongbok. Di dekat pintu keluar stasiun, ada satu gerbang yang namanya “Gerbang Panjang Umur”. Katanya, kalau kita sekali melintasi gerbang itu, maka kita akan panjang umur. Nah, karena saat berfoto di gerbang itu gue jadi 2 kali ngelewatin gerbang, maka setelah foto, gue lewat sekali lagi, supaya tetap panjang umur, hehehehe.

Pada akhirnya menurut gue, suka nggak suka sama wisata sejarah dan budaya, datang ke Geyongbokgung tetap wajib hukumnya. Kayaknya belum sampe Korea kalo belum dateng ke salah satu istananya gitu. Tempatnya masih terpelihara dengan baik, begitu pula dengan originalitass dan kebersihan lingkungannya. So I think you won’t regret visiting this place. Dan kalau berminat, kita bisa sewa semacam alat pemandu berbentuk mirip MP3 player. Tinggal sentuhkan ujung alat ke salah satu tempat dalam peta, maka alat itu akan bercerita tentang sejarah tempat yang kita sentuh nomornya itu. Dan pastinya… kalau datang ke Gyeongbokgung, jangan lupa befoto pakai hanbok ok! Ini juga akan jadi to do list gue kalo someday balik lagi ke Korsel 🙂

P.s.: Ada traveler lain yang bilang pertunjukan pergantian pengawal penjaga gerbang di istana ini menarik untuk turis, tapi kalo menurut gue sih biasa-biasa aja.

Cooking Nanta VS Jump Show

Salah satu pemicu gue beli tiket berlibur ke Korsel adalah film Hello Stranger, yang bercerita tentang gadis asal Thailand yang berlibur ke Korsel sendirian. Dalam film itu, ceritanya dia nonton live show bernama ‘Jump’ dan dia sangat tergila-gila sama show itu. Jadi sudah pasti, saat gue berkunjung ke Seoul pun, gue tidak boleh melewatkan live show yang satu itu.

Kemudian saat persiapan liburan, gue menemukan satu live show lain yang tidak kalah populernya di Korea Selatan, namanya Cooking Nanta.

Jump dan Cooking Nanta menyajikan 2 jalan cerita yang berbeda. Jump menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang jago taekwondo, sedangkan Nanta bercerita tentang kehidupan para koki di dalam dapur sebuah restoran. Perbedaan lainnya, Jump itu semacam pertunjukan bisu, berbeda dengan Nanta yang masih memperdengarkan beberapa baris kalimat, campuran antara bahasa Inggris dengan bahasa Korea.

Yang pertama gue tonton adalah Jump. Pertunjukan dibuka dengan kemunculan seorang kakek di tengah-tengah penonton. Usaha si kakek untuk naik ke atas panggung sudah cukup efektif memancing tawa para penonton. Overall ceritanya lucu, ada unsur cinta-cintaannya juga, tapi sempat terasa membosankan saat bagian mengejar maling yang masuk ke dalam rumah. Untuk pertunjukan taekwondo-nya lumayan memukau, tapi masih bisa dibikin lebih keren lagi kalo menurut gue.

Di hari lainnya, gue nonton Nanta Show. Pertunjukan musiknya terkadang rasanya terlalu lama, tetapi atraksi-atraksinya, misalnya saat atraksi memotong sayuran dengan cepat dan atraksi lempar-tangkap piring-piring yang bertumpuk, buat gue terasa lebih mengesankan daripada martial arts ala Jump. Selain itu ada juga beberapa adegan lucu yang berhasil bikin gue ketawa sampe sakit perut… Hanya saja sayangnya, menurut gue dan teman gue… pusar si koki cewek itu bisa bikin penonton jadi distracted, hehehehe. Oh ya, satu kekurangan lain dari Nanta Show adalah pengucapan kata dalam bahasa Inggris yang tidak tepat. Misanya cabbage yang harusnya dibaca ‘kebej’ malah dibaca ‘kebiji’ sama si koki cowok. Tapi ternyata kesalahan pronunciation itu jatuhnya malah bikin gue jadi cekikikan juga sih. Rasanya malah kayak extra entertainment, hehehehe.

Jika dibandingkan mana yang lebih bagus antara Jump dengan Nanta… gue pribadi lebih memilih Nanta. Alasannya, gue tertawa lebih kencang saat nonton live show ini. Pertunjukan memasaknya yang akrobatis itu juga terlihat baru buat gue ketimbang pertunjukan berantem yang sudah sering gue lihat di acara televisi. Akan tetapi, bagus tidak bagus itu tergantung selera masing-masing. Berbeda dengan gue, kelima teman seperjalanan gue lebih menyukai Jump daripada Nanta. Jadi kalo saran gue sih… lebih baik nonton aja dua-duanya, hehehehe.

Everland South Korea

Udah pernah ngunjungin Disneyland Hongkong dan Universal Studio Singapore bikin gue ngerasa wahana di Everland Korsel itu biasa-biasa aja. Tapi kalo buat gue, seharusnya amusement park itu enggak pernah bisa jadi biasa-biasa aja. Sekitar 2 bulan sebelum mengunjungi Everland, gue dateng ke Trans Studio Bandung sama temen-temen kantor. Cuma Trans Studio yang cupu banget kalo menurut gue, tapi tetep aja, that was one of the best trip I’ve ever had. Gue selalu suka saat-saat ngantri yang diisi dengan tukeran gosip, cekikikan, dan ngobrol ngalor ngidul, kemudian  ketawa-ketawa, atau bahkan teriak heboh saat naik wahana, dan saling komentar, “Gilaaa ya, gila!” saat baru aja turun dari wahana yang mendebarkan. I expected to have those moments in Everlandhanya saja sayangnya, bukan itu yang gue rasakan. But never mindI’ve got bunch of beautiful pictures instead!

Yup, Everland ini bener-bener amusement park paling cantik yang pernah gue kunjungi. Disneyland cantik dengan Sleeping Beauty Castle-nya, tapi Everland lebih cantik dengan beberapa taman bunga dan kolam air mancurnya.

This slideshow requires JavaScript.

Hal yang sangat menarik perhatian gue saat mengunjungi Everland adalah ternyata cowok Korea itu enggak sungkan ikutan pake bando-bando lucu di kepala mereka! Hal yang sama belum pernah gue temukan di amusement park lainnya. Dan gue juga nggak mau kalah dong… Gue juga beli satu bando pita pinky buat gue pake selama main di Everland 😀

Salah satu cowok berbando lucu 😀

Untuk wahana, terus terang enggak banyak yang sempat gue coba. Antrian yang super panjang bikin teman-teman gue malas untuk coba naik. Mereka juga kepengen cepet balik ke Seoul untuk acara belanja kosmetik. Jadi enggak ada banyak hal yang bisa gue tulis dari wahana ala Everland. Ada satu yang paling berkesan, wahana rotating house. Keren aja gitu… rasanya atas jadi bawah, dan bawah jadi atas. Untuk wahana lainnya mirip-mirip sama yang ada di Dufan atau Trans Studio. Untuk wahana 3D Pororo-nya juga biasa aja, tapi ternyata cukup menyenangkan juga ngelihat anak-anak balita sebegitu excited-nya sama si Pororo itu.

That cute little fox^^

Selain berbagai jenis wahana, di Everland ada juga kebun binatangnya. Tadinya gue berharap ngelihat jerapah, tapi tidak kesampaian. Polar bear-nya kelihatan kurus dan bulunya tipis. Untunglah di sana ada bayi singa dan yang paling lucu, gue ngelihat rubah berwarna beige yang imut banget! Saking sukanya sama si rubah, gue nggak ketinggalan beli boneka rubah untuk dibawa pulang ke Indonesia. I really hope to see the same species in Indonesian zoo. A very cute fox!

Hal lain yang cukup menyenangkan dari Everland adalah toko souvenir-nya. Lagi-lagi, gue kalap belanja sama seperti gue kalap belanja di Disneyland. Suka banget deh, sama pernak-pernik Everbear yang dijual di sana… Untuk pertama kalinya, gue beli oleh-oleh tapi bertanya-tanya dalam hati, “Gue ikhlas nggak yah, ngejadiin semua ini oleh-oleh? Mending buat gue aja, hehehehe.”

Kesimpulannya… Everland was fine, but it supposed to be much more fun than that. Gue malah sempat berpikir, “Gue malah lebih hepi waktu pergi ke si Trans Studio yang biasa banget itu…” Bukan salah Everland-nya sih… it’s just the matter of taste. If you wish to have fun in an amusement park, then you’d better go with the people who also love it as much as you do. Di luar itu, Everland termasuk top 3 dalam the best tourist attraction in Seoul versi gue. If you love amusement park, then this place is a must visit in South Korea.

N Seoul Tower

N Seoul Tower ini terkenal karena dua hal: museum Teddy Bear dan lokasi pemasangan gembok cinta. Meski begitu, anehnya, gue malah tidak sempat mampir ke 2 tempat itu saat berkunjung ke N Seoul Tower. Temen-temen gue berubah pikiran, mereka merasa sudah cukup berkunjung ke museum Teddy Bear yang di Jeju, jadi sudahlah… waktunya juga sudah agak mepet waktu itu. Kemudian untuk lokasi gembok cinta… gue juga enggak sempet mampir gara-gara takut ketinggalan kereta gantung terakhir. Ini juga ya sudahlah… nggak lucu juga kalo dateng ke si gembok cinta kalo cuma sendirian… Nggak punya gembok yang mau gue pasang pula, hehehehe. Jadilah gue dan teman-teman cuma naik ke observation deck dan juga belanja-belanja di dalam tower.

Tadinya gue pikir, observation deck di menara ini sifatnya outdoor terrace seperti Victoria Peak di Hongkong. Tapi ternyata cuma ruangan indoor yang meyediakan banyak teleskop jarak jauh. Dengan salah satu teleskop di sana, temen gue bilang dia bisa lihat simbol hotel JW Marriott di Kuningan lho. Jadi untuk mempermudah pengunjung menemukan negaranya masing-masing, sudah tersedia tulisan berapa jarak dari N Seoul Tower ke negara ybs.

Jakarta was 5,268.18 from here

Sebetulnya ada 2 aktivitas yang bisa jadi cukup menyenangkan untuk dilakukan di NSeoul Tower: kirim postcard dari kantor pos paling tinggi di Korea itu, dan menulis di atas balok kayu, yang kemudian balok kecil tersebut ditempelkan ke dinding yang memang khusus disediakan untuk menampung balok-balok yang sudah ditulisi. Di sana, gue sempat menemukan sebuah balok bertuliskan bahasa Indonesia. Isi tulisannya:

“Ini pertama kalinya kita ke Seoul, kita happy banget di sini. We love Korea!”

For a while, I envied those kids… Seems like they enjoyed Seoul much more than I did.

Malam itu, gue lihat salah satu teman seperjalanan gue menulis begini saat check-in via Twitter-nya, “I wish you were here…” yang pasti dia tujukan untuk suaminya.

Dan gue pikir benar juga… N Seoul is a romantic place for couples. Jadi ingat sama adegan favorit gue di Boys Before Flower… Itu lho, yang Jun Pyo dan Jan Di terperangkap di menara dan terpaksa tidur di dalam kereta gantung itu. Kemudian di tengah malam, Jun Pyo menulis begini di dinding kereta, “Jun Pyo loves Jan Di.” Tapi sepertinya tulisan itu sudah dihapus dari kereta gantung yang emang betulan ada di sana. Padahal lucu juga kalo gue bisa ambil foto tulisan si ganteng Jun Pyo itu 😀

Oh ya, ada satu lagi hal yang menurut gue cukup unik dari N Seoul Tower. Jadi saat kita naik lift, kita akan diminta melihat ke bagian atas lift. Di sana ada video 3 dimensi yang menggambarkan seolah-olah kita sedang meluncur naik dengan kecepatan tinggi. Kemudian di dalam, ada pula lantai yang jika kita injak,  maka monitor di lantai itu akan menampilkan gambar seolah-olah lantai itu retak dan berjatuhan ke bawah. Dengan sentuhan teknologi yang lebih mutakhir, gue yakin ide itu bisa jadi sesuatu yang keren banget di mata para pengunjung.

Kesimpulannya… gue cuma bisa bilang… N Seoul Tower masih bisa lebih berkesan daripada itu. Yaah, maybe later, in the next trip gue dateng ke sana lagi sekalian buat nge-date, hehehehe.

 

P.s.: Jangan kaget kalau lihat antrian lift naiknya itu bisa panjaaang banget. Saat mau turun ke bawah juga ngatri lagi. Dan pas mau naik kereta gantung pun, kita masih harus ngantri lagi! Fufufufu.

Korean Folk Village

Korean Folk Village merupakan sebuah theme park yang menyajikan replika pedesaan Korea Selatan di masa yang lampau. Rumah-rumah tradisional, mulai dari rumah sederhana sampai rumah saudagar kaya, pasar tradisional, gedung-gedung pemerintahan, dan masih banyak lagi. Yang gue rasa cukup menyenangkan adalah replika gedung pengadilan Korea jaman dulu. Di sana, gue dan teman-teman sempat berfoto menggunakan alat yang dulu dipakai untuk ‘mengikat’ pada narapidana. Ceritanya saat berfoto, ada yang bertugas jadi pengawal, ada pula yang berakting jadi sang napi!

Untuk membuat suasana pedesaan semakin tampak nyata, seluruh pegawai di sana, mulai dari penjaga pintu sampai penjaja makanan, mengenakan pakaian tradisional Korea. Ada pula orang-orang yang terlihat sedang ‘bekerja’ di pasar tradisional, atau ‘bekerja’ di replika semacam tukang pandai besi gitu. Belum lagi beberapa cowok ganteng dan cewek cantik yang berkeliaran mengenakan hanbok yang lebih mewah. Yang bikin gue senang, gue sempat berfoto dikelilingi 3 pengawal yang unyu-unyu. Kesannya kok, kayak tuan puteri yang lagi dikelilingi sama pengawalnya, hehehehe.

The princess and 3 warriors;)

Selain menyajikan suasana Korea tempo dulu, tempat ini juga terkenal dengan beberapa pertunjukan rutinnya. Gue sempat lihat 3 show: pernikahan tradisional, pertunjukan taekwondo, dan satu pertunjukan street dance. Untuk pernikahan tradisional sebetulnya cuma begitu-begitu aja, tapi lucu juga kalo ngelihat sepasang pemeran pengantin yang kelihatan malu-malu betulan. Padahal ternyata, sepertinya sih mereka itu cuma dua orang tamu yang aslinya udah punya anak balita! Yang unik dari pernikahan tradisional Korea, kalo di sini ada budaya melepas sepasang burung merpati, maka kalo di sana, ada tradisi melepas dua ekor ayam! Apesnya, salah satu ayam itu sempat mendarat di punggung gue dengan manisnya… Setelah upacara pernikahan, pasangan pengantin itu diarak keliling kampung yang juga diiringi oleh para penonton.

Untuk pertunjukan taekwondo, yang bikin gue ngerasa takjub adalah pertunjukan itu dilakukan oleh anak-anak usia SD! Hebat aja gitu masih kecil udah bisa beratraksi sekeren itu… Sempet ada satu anak yang gagal menendang balok sampai patah, tapi anak itu tetap kelihatan tenang dan meneruskan penampilannya dengan baik.

Yang terakhir street dance… ini dia yang menuwut gue paling biasa banget. Gue pernah ngelihat street dance yang jauh lebih keren di Universal Studio Singapore. Bosan nonton street dance yang cuma gitu-gitu aja, gue dan Tiara kembali keliling untuk cari tempat yang menarik untuk berfoto. Tadinya kita sempat pengen coba diramal garis tangan, just for fun, tapi sayang, ternyata harus bayar dengan harga lumayan mahal. Waktu itu pikir gue, belum tentu si peramal bisa ngomong bahasa Inggris… Jadi sudahlah, toh gue juga sama sekali enggak pernah percaya sama ramalan.

Setelah makan siang, gue dan teman-teman langsung menunggu bis untuk mengantar kita kembali ke pusat kota. Gue pribadi ngerasa kecewa hari itu… enggak sempat melihat pertunjukan Man on the Rope. Soalnya dari beberapa blog yang pernah gue baca, justru pertunjukan itulah yang paling meninggalkan kesan dari kunjungan ke Korean Folk Village. Tapi sudahlah… there might be another time to watch the show.

Overall, Korean Folk Village was not bad for me, tapi nggak juga meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Beda banget sama beberapa blogger lain yang sampe betah main seharian di tempat itu. Jadi gue rasa sih, bagus atau enggak itu sifatnya relatif lah ya. Temen gue malah ada yang kelihatan sangat tidak menikmati kunjungannya ke sana. However, buat penggemar drama Korea, tempat ini termasuk must visit. Ada cukup banyak serial tv yang mengambil gambar di tempat ini. Misalnya saja, Jewel in The Palace favorit gue itu! Dan pastinya, kalau kamu berkunjung ke tempat ini, jangan lewatkan rangkaian live show-nya! Kemudian jangan malu-malu buat minta foto bareng cowok-cowok ganteng di tempat itu oke 😉

Petite France & Nami Island

Beda sama Nami Island yang sudah sejak awal nangkring di itinerary, Petite France baru mulai masuk jadi agenda perjalanan gara-gara idenya Luzy. Dia bilang, dia kepengen dateng ke tempat yang merupakan lokasi syuting Secret Graden, serial Korea yang sedang sangat dia gemari waktu itu. Setelah gue Google, ternyata tempatnya emang lucu. Kita pun agree datang ke sana, yang ternyata, berada tidak jauh dari Nami Island. Semakin mantap lah niat gue buat datang ke sana. Bahkan untuk lebih menghayati kunjungan ke Petite France, gue sampe sengaja beli DVD Secret Garden segala lho, hehehehe.

Hari ke dua di Seoul (yang mana hari pertama cuma habis di perjalanan Jakarta-Malasyia-Korsel), gue dan teman-teman langsung berangkat menuju Nami Island. Tadinya kita berencana pergi ke sana naik MRT, tapi kemudian sempat berubah rencana jadi naik shuttle bus menuju Nami. Ternyata oh ternyataa, lokasi pemberhentian shuttle bus to Nami Island itu susah banget dicarinya! Ujung-ujungnya, gue dan teman-teman kembali lagi ke rencana awal: pergi ke Nami dan Petite France naik MRT disambung taksi.

Berhubung hari sudah beranjak siang dan kita takut malah baru dateng ke Petite France setelah tempatnya tutup, kita sepakat buat menukar agenda: Petite France dulu baru Nami Island. Kita pun menempuh perjalanan panjang menuju Petite France… Rasa-rasanya dari semua tempat yang kita datangi selama di Seoul dan sekitarnya, perjalanan ke Petite France dan Nami Island inilah yang jarak tempuhnya paling jauh.

Untuk sampai ke Petitte France, setelah keluar dari stasiun Cheongpyeong, kita langsung naik taksi selama sekitar 15 menit melewati jalan menikung dan naik-turun khas daerah pegunungan. Pokoknya si Petite France itu bener-bener jauh ke mana-mana deh. Gue nggak yakin tempat ini bisa populer di kalangan turis kalo bukan karena drama Korea yang mengambil gambar di pusat kebudayaan Prancis itu. Soalnya bisa dibilang, nyaris tidak ada aktivitas apapun yang bisa kita lakukan di Petitte France kecuali foto-foto. Meski begitu, gue tidak menyesal datang ke sana. Gue belum tentu bisa berfoto di tempat lain dengan background yang sama uniknya. Arsitekturnya tampak cantik, dengan permainan warna bangunan yang eye catching.

Di Petitte France gue juga menemukan kandang besar berisi beberapa ekor kucing yang lucu-lucu. Tapi anehnya, nggak lama kemudian datang bapak-bapak yang sangat ditakuti oleh kucing-kucing itu. Ternyata… si bapak datang untuk masukin kucing-kucing itu ke dalama karung! Si kucing jelas meronta sambil mengeong dengan kencangnya. Gue pun jadi kepikiran… itu kucing mau diapain? Mau dibawa ke mana???

Di depan kandang kucing, terdapat sebuah bangunan bertingkat yang berisi banyak sekali lukisan dinding. Di lantai paling atas, gue menemukan dinding yang dipenuhi oleh coretan. Jika dilihat dari dekat, dinding itu bertuliskan pesan-pesan cinta yang ditinggalkan oleh para pengunjung. Sepertinya orang-orang Korea emang percaya banget ya, sama mitos-mitos romantis seperti itu…

Setelah makan siang di dalam area Petite France, gue dan teman-teman minta tolong dipesankan taksi oleh si ibu penjual tiket, dan kita pun harus menunggu taksi itu datang sekitar setengah jam lamanya. Sebetulnya saat hendak minta dipesankan taksi, gue sempat lihat selembar kertas yang mencantumkan jadwal bis yang bisa mengangkut pengunjung Petite France menuju Nami Island. Hanya saja sayangnya, jadwalnya tidak pas dengan kunjungan kita saat itu. Jadi sudahlah… kita tetap lebih memilih naik taksi untuk tiba di Nami Island, 30 menit kemudian.

Sesuai namanya, Nami ini memang sebuah pulau yang terpisah, letaknya di tengah-tengah danau. Itulah sebabnya tiket masuk Nami Island sudah otomatis satu paket dengan tiket ferry round trip. Kita tidak perlu mengantri terlalu lama untuk naik ferry, dan tidak pula perlu menunggu lama untuk sampai di pulau tujuan. Oh ya, saat tiba di depan pintu masuk menuju port, jangan kaget saat melihat tulisan “Immigration Office.” Immigration Office itu maksudnya ticketing office, jadi sama sekali bukan kantor imigrasi betulan. Karena ceritanya, si Nami Island ini merupakan ‘negara pura-pura’ yang bernama Naminara Republic.

Lalu apa yang bisa kita lakukan di Nami Island? Apalagi kalau bukan bersepeda mengelilingi pulau! Bersepeda jadi sangat populer di pulau ini karena hal yang sama juga dilakukan oleh tokoh utama di serial Winter Sonata. Kemudian di tengah-tengah pulau, kita akan menemukan patung first kiss Winter Sonata yang selalu menjadi photo spot favorit turis-turis yang datang ke sana.

Sebetulnya gue sama sekali enggak pernah nonton Winter Sonata, dan menurut gue pun, pemandangan di Nami Island juga enggak bagus-bagus amat. Tapi tetap saja… gue suka banget bersepeda di pulau itu! Hembusan anginnya terasa menyenangkan, pantulan air danau dari kejauhan, pohon-pohon besar yang menjulang di sepanjang jalan, dan jalan berdebu yang sesekali naik dan turun, udah berhasil bikin gue ngerasa gembira hanya dengan mengayuh sepeda di pulau itu. Oh ya, meskipun bukan tempat paling indah yang pernah gue datangi, Nami Island ini tetap terlihat sangat fotogenik. Take a look at the pictures below!

Overall, gue menikmati acara jalan-jalan pertama gue di Korea Selatan itu. Tempatnya memang jauh dari pusat kota, but both of Petite France and Nami Island are worth to visit. Oh ya, buat kamu yang nggak bisa mengendarai sepeda… nggak usah khawatir! Selain menyewakan sepeda, pengelola pulau itu juga menyewakan mobil mini dan juga otoped elektrik. Jangan ragu untuk menyewa salah satu kendaraan itu, and enjoy the rides 🙂

P.s.: Untuk pulang dari Nami Island ke Seoul, jalan kaki sedikit menuju taxi stopper di dekat Seven Eleven, antri untuk dapat taksi, dan bilang sama supirnya kamu kepengen pergi ke stasiun Gapyeong. Dari situ, kamu bisa ambil kereta menuju Seoul.

My ‘Career’ Journey… Since I was a Kid

Tiba-tiba aja, gue kepingin cerita tentang sumber penghasilan gue dari jaman dulu sampai sekarang. Ngelihat perjalanan ‘karier’ ala gue ini bikin gue jadi ngerasa sangat-sangat bersyukur dengan apa yang gue miliki saat ini. Gue emang bukan orang paling kaya dari semua orang yang gue kenal, tapi gue bersyukur udah bisa meningkatkan taraf hidup gue sendiri, perlahan tapi pasti, hingga akhirnya gue tiba di hari ini.

Waktu Masih SD

Yup, gue udah mulai dagang kecil-kecilan dari jamannya masih pake seragam putih-merah. Apa aja barang dagangan gue?

  1. Baju Barbie jahitan tangan sendiri… Modalnya cuma kain perca (a.k.a kain sisa jahitan nyokap), dan benang plus jarum jahit punya nyokap juga. Bisnis yang nggak ngeluarin modal sepeser pun, hehehehe;
  2. Gantungan kunci handmade. Waktu itu lagi ngetren gantungan kunci kertas bertuliskan nama yang kemudian di-laminating. Sayangnya bisnis yang ini enggak terlalu laku. Gue emang nggak bakat gambar sepertinya; dan
  3. Jualan oleh-oleh. Setiap kali pergi ke luar kota, gue selalu dikasih uang saku sama ortu atau om tante gue buat belanja oleh-oleh. Begitu sampe rumah… oleh-oleh itu gue jual lagi ke teman-teman sekolah. Ini juga bisnis yang nggak pake modal, hehehehe.

Pada masa itu, gue jualan cuma supaya gue bisa beli camilan yang gue mau. Seneng aja rasanya bisa beli makanan apapun yang gue pengen 😀 Oh ya, waktu kelas 6 SD, pengen ngoleksi kertas file bergambar juga jadi motivasi gue buat jualan kecil-kecilan. Abisnya kalo kata nyokap, beliin kertas file itu cuma buang-buang duit! Jadi ya udah, gue cari sendiri aja duit buat koleksi kertas file gue…

SMP

Selain masih suka jualan oleh-oleh, berikut ini bisnis gue yang lumayan nguntungin waktu SMP dulu:

  1. Jualan kertas file koleksi gue. Saat kelas 3 SMP, gue mulai bosan sama koleksi kertas file. Akhirnya, tumpukan kertas file itupun gue jual ke teman-teman sekolah. Kertas file yang tadinya gue beli seharga 50 perak (harga sebelum krismon), gue jual seharga 100 sampe 500 perak (harga setelah krismon… makin lucu kertasnya, gue jual makin mahal!).

Saat itu motivasi gue jualan adalah buat beli komik dan majalah remaja yang gue pengen. Bisa aja minta sama ortu, tapi nggak bakalan dikasih beli komik sampe sebanyak yang gue mau, hehehehe.

SMA

Bisnis gue jaman SMA udah mulai lebih keren. Gue udah nggak pernah lagi jualan oleh-oleh di rentang usia ini.

  1. Ngajar les privat bahasa Inggris. Murid-muridnya anak-anak di lingkungan rumah gue. Cuma dapet sekitar 500ribu dalam sebulan, tapi waktu itu rasanya lumayan banget buat gue beli ini-itu;
  2. Ikutan bazaar di pensi sekolah, modalnya dari ‘lembar saham’ yang gue jual ke temen-temen sekelas. Keren kan gue, masih ABG udah ngerti sistem profit sharing, hehehehe. Waktu itu gue nyari barang buat dijual sampe ke pasar Jatinegara segala loh. Gue juga jual kue-kue yang dimasak nyokap. Bazaar pertama sukses besar, return per ‘saham’ sampe lebih dari 50%, tapi bazaar yang ke dua cuma untung dikit gara-gara salah pilih lokasi jualan; dan
  3. Di akhir kelas 3 SMA, gue mulai ikutan MLM. Waktu itu gue jualan Avon dan lagi-lagi, untungnya lumayan besar buat ukuran gue saat itu. Sekitar 20% atau 30% dari harga katalog kalo nggak salah.

Saat SMA, alokasi duit udah mulai lebih centil. Buat beli fashion items, make-up, dan tentunya, komik, majalah dan novel juga.

Kuliah

  1. MLM Oriflame. Avon Indonesia bangkrut saat gue kuliah, dan gue pun beralih ke Oriflame. Target pasar keluarga besar dan teman-teman gue sendiri;
  2. Ngajar les privat akuntansi. Hasil ngajar bener-bener lumayan banget. Bisa mencapai jutaan rupiah per semester. Asyiknya lagi, ngajar privat secara nggak sadar justru bikin gue jadi makin pinter. Murid gue nggak jauh-jauh dari temen sekelas atau adik kelas atau temennya temen gue. Benar-benar pekerjaan yang menyenangkan 😀
  3. Sumber penghasilan lainnya: beasiswa dari Binus yang dikasih buat mahasiswa berprestasi 🙂 Jumlahnya sekitar 5jutaan… dan semua duitnya gue pake buat belanja, hehehehe.

Saat kuliah, biaya hidup gue meningkat cukup drastis. Mulai suka beli-beli barang dengan harga lebih mahal, ngoleksi sepatu dan tas, dan mulai hobi nonton film juga. Selain buat mengakomodasi semua itu, gue mempertahankan tradisi ngajar les privat sampe semester 7 juga karena rasanya senang saat tahu nilai murid-murid jadi membaik setelah les sama gue. Besides, berkat ngajar les, gue jadi dapet temen dan sahabat baru 🙂

Mulai kerja kantoran

Gue mulai kerja kantoran saat masih UAS semester 7. Pekerjaan pertama gue hasilnya udah termasuk lumayan buat ukuran anak yang masih bikin skripsi. Sistem honornya per proyek gitu, dan kalo gue lagi hoki, gue bisa dapet sekitar empat jutaan tiap bulannya. Gue kerja di kantor yang pertama cuma sekitar 8 bulan. Dua hari setelah resign, gue langsung mulai kerja di perusahaan berikutnya.

Setelah itu gue kerja di EY, nggak lama setelah lulus sidang skripsi. It was a good company for me…  Gue mulai mewujudkan impian buat traveling abroad saat kerja di EY. Kalo gue kerja cuma untuk cari duit, gue pasti akan tetap stay di sana. Sayangnya gue bener-bener ngerasa bosen sama kerjaannya, so there I left the Firm early in 2011.

Setelah itu gue kerja di Niro, sampai hari ini. Tadinya gue takut setelah keluar dari EY, karier dan penghasilan gue bakalan stuck. Tapi Alhamdulillah, sampe hari ini, bukan itu yang terjadi sama gue. Gue banyak menerima jenis pekerjaan baru di sini, yang bikin gue juga jadi belajar lebih banyak. Dan dari segi financial pun, I believe this is the best I can have at least for this year.

Kalo gue buat ringkasannya, awalnya gue cari uang hanya untuk memuaskan keinginan gue buat beli ini-itu. Gue tipe orang yang sangat menyukai financial independence, bahkan sejak usia gue belum sampai 2 digit. Tapi kemudian, gue mulai bekerja karena gue suka bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dan sekarang, lebih dari itu, gue bekerja karena challenge at work sudah menjadi kesenangan tersendiri buat gue. Rasa senang dan bangga saat berhasil mengatasi rintangan dengan baik bener-bener bikin gue ketagihan! Dan kalo bukan karena pekerjaan gue, gue enggak akan pernah kenal dengan beberapa teman terbaik dalam hidup gue.

Again… thank God for blessing me this much 🙂

The Hunger Games Trilogy: My Book Review

Satu hal yang selalu bikin gue salut dari penulis-penulis bule adalah daya imajinasi mereka yang sangat all out. Mereka seolah menciptakan dunia baru yang jauh berbeda dengan kehidupan saat ini. New governmental rules, new society, advanced technology, and many details in such a new world. Misalnya, novel Harry Potter dengan sekolah sihir Hogwarts-nya, The Selection dengan negara Illea, dan The Hunger Games dengan negara Panem.

The Hunger Games yang diikuti oleh 2 sekuelnya: Catching Fire dan Mockingjay mengambil tema dystopia a.k.a gambaran kehidupan masa depan yang justru lebih suram daripada masa sekarang. Sang penulis, Suzanne Collins, menggambarkan cukup detail sistem pemerintahan dan kondisi masyarakat di negara Panem. Nice try, hanya saja sayangnya, kalau kita mau berpikir logis sejak awal, sebetulnya yang namanya pertandingan mematikan ala Hunger Games ini jelas tidak mungkin bisa terjadi di muka bumi ini. Apa kabar PBB dan badan-badan HAM di negara tetangga? Hal ini yang terlewat oleh Suzanne: dia tidak menggambarkan apakah Panem itu tinggal satu-satunya negara yang tersisa di masa depan atau bagaimana?

Kelemahan detail lainnya adalah sulitnya buat gue mendapatkan greget dari panasnya situasi politik di Panem. Gue ngerti banget kenapa penduduk 13 distrik sampe sebegitu bencinya sama The Capitol, tapi gue enggak gitu nangkep adanya benang merah yang nyata antara sikap Katniss dan Peeta sepanjang Hunger Games dengan tersulutnya pemberontakan melawan pemerintah Capitol. Rasanya enggak ada sesuatu yang luar biasa berkesan yang bisa bikin Katniss dijadikan simbol pemberontakan. Penulis udah usaha banget buat jelasin, tapi kalo menurut gue, ujung-ujungnya justru too much details yang enggak banyak manfaatnya.

Selain soal detail yang kurang menggigit, gue juga menemukan satu klise yang umum terjadi dalam penulisan novel: banyaknya orang yang dengan sukarela mendukung sang tokoh utama tanpa alasan yang cukup kuat. Harusnya kan dibutuhkan alasan yang luar biasa besar untuk bisa membuat orang lain sampai rela mengorbankan nyawa demi si tokoh utama misalnya. Terlalu sering menemukan hal ini di trilogi Hunger Games malah bikin gue enggak lagi ngerasa tersentuh.

Satu kekurangan lain yang ingin gue tulis di sini adalah terjemahan yang tidak sempurna. Gue agak sulit membayangkan manuver yang ingin digambarkan si penulis, dan suka agak sulit juga memahami isi dari kalimat yang diterjemahkan itu. Udah gitu ada cukup banyak paragraf yang harusnya terpisah malah digabung menjadi 1 paragraf yang sama. Hal ini lumayan bikin bingung… jadinya ini siapa yang lagi ngomong sama siapa? Mungkin emang sengaja digabung untuk menghemat kertas kali yaa.

Well… terlepas dari segala kekurangannya, kenyataannya, I could declare that I’m a big fan of Hunger Games. Rasanya tuh ada ikatan khusus yang bikin gue suka banget sama trilogi ini. Jalan ceritanya bikin novel ini bikin gue enggak sabar pengen cepet baca sampai selesai. Rasanya penasaran banget untuk baca bab selanjutnya, bener-bener tipe buku yang bisa bikin lupa makan dan lupa mandi, hehehehe. Saking sukanya, tiga buku yang masing-masing setebal kurang-lebih 400 halaman ini gue habiskan tidak sampai 3 hari saja. Andai gue nggak perlu tidur, makan, minum, mandi, dan silaturahmi ke luar rumah dalam rangka lebaran, gue yakin bisa nyelesain baca buku ini dalam 24 jam.

Lalu apa yang bikin gue jatuh cinta setengah mati sama buku ini? It’s simply the romance. Terharu banget rasanya melihat betapa besar cinta Peeta buat Katniss. Peeta is not perfect, but he loves Katniss perfectly. Aww… 😉 Selain itu… ya itu tadi: jalan ceritanya bikin penasaran!

Menurut pengamatan gue, seringkali tidak dibutuhkan detail yang luar biasa rapih, karakter yang luar biasa kuat, dan jalan cerita yang luar biasa seru untuk membuat sebuah buku mendapatkan gelar best seller. Cukup taruh saja beberapa adegan romantis yang berkesan di hati pembaca, maka dijamin… buku itu bakal jadi favorit kaum hawa. Oh ya, jangan lupa… resep utamanya adalah, harus si cowok yang lebih cinta sama ceweknya. Bikinlah cerita yang bisa bikin para pembaca jadi berkhayal, atau jadi kepingin, mempunyai kisah asmara dan juga punya pacar yang sehebat itu. Resep cerita seperti ini selalu berhasil bikin cewek jadi tergila-gila.

Kita ambil contoh serial Twilight. Gue bisa bilang semua kelemahan The Hunger Games yang gue sebut di atas ada semua di bukunya Stephenie Meyer sangat booming ini. Tapi tetap saja Twilight jadi favorit cewek-cewek di berbagai belahan dunia… Karena apa? Ya karena romatisnya, dan lagi-lagi, karena besarnya cinta si tokoh utama cowok untuk ceweknya.

Untuk buku lokal, gue ingin ambil Lukisan Hujan-nya Sitta Karina sebagai contoh. Tulisan Sitta di buku itu masih belum sebaik tulisan dia di buku-buku terbarunya. Di Lukisan Hujan, gaya penulisan Sitta masih agak sulit dipahami. Konfliknya juga kurang kuat dan kurang menggigit. Meski begitu, buku ini tetap melejit sebagai best seller hanya karena 1 alasan utama: romantisme yang sungguh menyentuh hati pembaca.

Seperti review yang pernah gue tulis via Goodreads, kisah dalam trilogi ini udah berhasil mengubah sudut pandang gue soal kriteria pacar idaman. Kenyataannya memang benar, cewek-cewek tidak selalu mencari cowok yang paling hebat, mereka jauh lebih membutuhkan cowok yang bisa mencintai mereka dengan hebat. Gue sampe dengan polosnya berpikir, “Peeta emang kelihatannya cupu, tapi pengen deh, punya pacar kayak Peeta.”

Finally, selain bikin gue jadi ngefans sama tokoh Peeta, trilogi The Hunger Games bikin gue kembali tergugah, “Oh my God… kapan ya, gue bisa nyelesain novel gue sendiri? Gue pengen bikin novel yang nggak kalah hebat!”

Well, gue janji, setelah gue posting review ini di blog, gue akan langsung terusin ngetik novel perdana gue. Doakan yaa!

Cinta Sejati ala The Hunger Games

Berawal dari nonton filmnya, gue langsung tertarik buat ngeborong 3 novelnya sekaligus. Novel yang cukup tebal, masing-masing buku berisi sekitar 400 halaman. Terdapat beberapa perbedaan detail cerita antara The Hunger Games versi film dengan novelnya. Tapi dalam kesempatan ini, gue lebih memilih untuk menulis berdasarkan sudut pandang buku. Gue enggak akan membocorkan soal akhir dari pemerintahan kejam ala Capitol, di sini gue lebih tertarik untuk membahas akhir dari kisah asmaranya. Jadi buat kamu yang yang tidak mau melihat bocoran ending kisah cinta dari trilogi ini, silahkan stop baca tulisan gue sampai di sini saja.

Mengambil setting di masa depan, The Hunger Games bercerita tentang permainan mematikan yang diadakan satu tahun sekali oleh Capitol, semacam ibu kota dari negara Panem (ceritanya, Panem ini dulunya adalah Amerika Utara). Peserta Hunger Games bukan penduduk Capitol, melainkan dua orang remaja perwakilan dari setiap distrik yang mengelilingi kota tersebut.  In total ada 12 distrik yang masih eksis, sehingga setiap tahunnya, terdapat 24 peserta Hunger Games yang biasa disebut dengan the tributes. Dalam Hunger Games ini, the tributes diharuskan untuk saling membunuh hingga tinggal tersisa satu tribute yang akan meraih gelar The Victor.

Hunger Games diselenggarakan oleh Capitol sebagai hukuman atas pemberontakan 12 distrik tersebut 74 tahun yang lalu. Hal ini dianggap efektif untuk menakut-nakuti penduduk distrik agar tidak berani mengulangi pemberontakan melawan Capitol.

Pada Hunger Games ke 74, Distrik 12 diwakili oleh gadis bernama Katniss, dan remaja pria bernama Peeta. Kemudian diketahui, ternyata Peeta sudah memendam cinta kepada Katniss sejak belasan tahun lamanya. Jadi bagaimana mungkin Peeta tega menghabisi nyawa Katniss? Karena itulah sejak awal, Peeta cenderung mengalah, dan selalu mencari cara untuk menjaga agar Katniss bisa tetap hidup di arena Hunger Games. Dalam Hunger Games, hanya ada satu pemenang… Dan Peeta ingin, satu orang pemenang itu adalah Katniss, meskipun itu berarti, Katniss harus tega membunuh Peeta.

Katniss sendiri sebetulnya sudah beberapa tahun dekat dengan laki-laki lain bernama Gale yang juga berasal dari Distrik 12. Jadi bisa ditebak… ada konflik cinta segitiga yang menjadi bumbu dalam trilogi Hunger Games. Di sini ada Katniss, gadis tangguh yang sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak usia dini. Ada Peeta, anak dari keluarga penjual roti yang termasuk berkecukupan, yang cenderung penakut dan sejak awal Hunger Games dimulai, dia sudah bertekad tidak akan pernah mau membunuh siapapun di arena itu. Makanya selama latihan, daripada mempelajari cara untuk membunuh, Peeta lebih tertarik mempelajari cara untuk melindungi diri. Kemudian ada Gale, anak penambang batu bara yang cenderung nekad dan sangat mudah tersulut amarahnya.

Logikanya, gadis manapun akan lebih memilih Gale daripada Peeta. Gale digambarkan memiliki bentuk tubuh atletis dan wajah yang sangat tampan. Kemudian Gale itu pemberani. Dia dan Katniss sama-sama berani melanggar peraturan pemerintah keluar dari pagar pembatas distrik hanya untuk berburu di dalam hutan. Berbeda dengan Peeta yang di awal permainan tampak manis dan tampak lemah. Jadi tentunya, secara kemampuan fisik, Gale jauh lebih unggul daripada Peeta yang hanya pandai membuat dan melukis roti.

However, believe it or not, gue… tipe cewek yang menggemari cowok yang ‘laki banget’, berkali-kali merasa jatuh cinta dengan sosok Peeta.

Peeta yang masih ingat warna baju dan kepang rambut Katniss di hari pertama mereka sekolah saat masih kanak-kanak.

Peeta yang hapal gerak-gerik dan kebiasaan Katniss.

Peeta yang pernah rela dipukuli orang tuanya hanya demi bisa memberikan sepotong roti kepada Katniss yang sedang kelaparan.

Peeta yang berusaha menjadikan Katniss favorit penonton hanya supaya gadis itu mendapat banyak bantuan dari penonton untuk terus bertahan hidup di arena Hunger Games.

Peeta yang setengah mati melawan Cato, tribute paling jago di arena Hunger Games, sampai mendapat luka tusukan di kakinya hanya supaya Katniss bisa melarikan diri dari kejaran Cato yang sangat bernafsu untuk membunuh Katniss.

Peeta yang jauh lebih peduli pada keselamatan Katniss daripada keselamatan dirinya sendiri… Bahkan saat sedang menjadi tawanan pemerintah pun, Peeta tetap nekad membocorkan rencana serangan pemerintah supaya Katniss dan sekutunya dapat bersikap waspada… Dan tentunya setelah itu, Peeta harus rela disika habis-habisan atas ulahnya tersebut.

Atau hal-hal kecil… seperti saat Peeta memberikan jaketnya dan mengancingkan jaket itu untuk Katniss, atau sekedar memeluk dan membelai rambut Katniss yang sedang ketakutan saat dihantui mimpi buruk dalam tidurnya.

Kedengarannya Peeta emang jagoan banget. Tapi sebetulnya, Peeta itu enggak jago bertarung. Dia cuma rela menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Katniss. Dia rela dijadikan sasaran pukulan bertubi-tubi, asalkan Katniss tetap selamat.  Berbeda dengan Gale yang selalu melindungi dengan cara melawan sekuat tenaga, yang mana Gale memang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Kelemahan Peeta membuat Katniss juga harus melakukan hal yang sebaliknya: berjuang sekuat tenaga agar Peeta tetap hidup. Pada akhirnya, Katniss sendiri juga selalu berecana untuk mengorbankan dirinya, asalkan Peeta selamat sampai akhir. Di buku terakhir, Katniss berkata pada Peeta, “Kita memang selalu saling melindungi.”

Dalam kehidupan nyata, gambaran kehidupan ala Hunger Games jelas sangat-sangat terlalu berlebihan. Jadi mari kita sederhanakan… Ambil contoh adegan saat Katniss mengajari Peeta berenang di arena Hunger Games. Dalam kehidupan nyata, mana yang kamu pilih… Cowok yang jago berenang seperti Gale, atau cowok yang kamu ajari cara untuk bisa berenang seperti Peeta?

Jika hanya satu itu saja pertanyaannya, jelas mudah menjawabnya: perempuan cenderung tidak memilih laki-laki yang tidak lebih hebat dari mereka. Gue malah kenal seorang teman yang bakal langsung ilfil saat tahu cowok yang dia suka ternyata enggak bisa nyetir mobil, sedangkan teman gue ini termasuk jago nyetir buat ukuran cewek.

Gue sendiri juga begitu… Sejak kuliah, a.k.a sejak nilai-nilai gue mulai melesat jauh di atas rata-rata, gue mulai berubah jadi pemilih. Gue enggak pernah naksir sama cowok-cowok yang pernah belajar akuntansi sama gue (jadi dulu itu, selain kerja jadi guru privat akuntansi, gue juga suka ngajarin temen-temen secara gratisan). Gue gampang ilfil sama cowok yang menurut gue shallow, dan tentunya… gue cenderung mudah mengagumi cowok-cowok yang gue anggap pintar.

Selain itu, gue mengenal sangat banyak teman perempuan yang punya prinsip, pasangan mereka harus memiliki penghasilan yang melebihi penghasilan mereka. Bukan karena matre, tapi hal itu seperti sudah jadi sesuatu yang melekat dalam daya tarik seorang cowok. Banyak cewek yang merasa, cowok dengan penghasilan di bawah mereka kelihatan kurang menarik perhatian mereka.

Intinya adalah, secara naluriah, cewek cenderung menginginkan cowok yang serba lebih daripada mereka. Well, itu kan hanya keinginan, impian, mimpi, harapan, atau yang sejenisnya. Tapi mari kita lihat kenyataannya…

Gue kenal seorang suami yang penghasilannya cukup jauh di bawah istrinya. Dan istrinya bilang, dia ngerasa beruntung punya suami sebaik suaminya itu.

Gue juga kenal sama istri yang sedang sambil kuliah S3, sedangkan suaminya, hanya seorang lulusan S1. Might sounds strange, tapi mereka adalah salah satu pasangan yang paling bahagia yang pernah gue kenal.

Ada temen gue yang orangnya berani banget. Semua wahana permainan paling mengerikan di Dufan, dia berani coba. Sedangkan suaminya… sangat takut sama ketinggian.

Gue kenal cowok yang penakut banget… Takut sama hal-hal seperti hantu maksud gue. Dan kalo ketakutan… dia suka minta temenin ke mana-mana sama ceweknya.

Gue sering lihat banyak cewek cantik yang malah married sama cowok-cowok yang biasa banget, dan cenderung kurang gaul. Bahasa kasarnya… cupu dan kuper. Padahal, cewek-cewek itu dulunya punya sederet mantan pacar yang ganteng dan keren banget.

Kembali lagi ke Hunger Games, Katniss sangat sulit menentukan kepada siapa cintanya berlabuh… Peeta… atau Gale? Katniss sangat takut kehilangan dua orang tersebut, dia menyayangi keduanya dengan sepenuh hati. Akan tetapi sebetulnya, kita sebagai pembaca semakin lama akan semakin yakin dengan sendirinya tentang siapa yang sesungguhnya dicintai oleh Katniss.

Di buku ke tiga, dikisahkan Peeta menjadi korban cuci otak pemerintahan Capitol. Otak Peeta ditanamkan ingatan-ingatan palsu yang membuat dia jadi membenci Katniss setengah mati. Saat sudah kembali ke tangan sekutu Katniss, ingatan Peeta berangsur membaik. Akan tetapi, Peeta tetap suka sulit membedakan… antara yang nyata dengan tidak nyata. Untuk mengatasinya, orang-orang memainkan sesi tanya-jawab. Si penanya akan menceritakan suatu hal, dan Peeta diminta menebak… apakah hal itu nyata atau tidak nyata? Peeta juga akan mengungkapkan isi pikirannya dan bertanya kepada orang lain, nyata atau tidak nyata? Strategi ini pula yang akhirnya berhasil menyembuhkan Peeta.

Saat Peeta baru saja pulih dari masalah ingatannya, Peeta bilang kepada Katniss bahwa dia ingat pernah rela dipukuli orang tuanya hanya demi memberikan sepotong roti untuk Katniss yang sedang kepalaran. Setelah mengingat hal tersebut, Peeta berkata, “Aku pasti sangat mencintaimu.”

“Memang,” jawab Katniss.

“Dan apakah kau mencintaiku?”

“Semua orang bilang aku mencintaimu. Semua orang bilang itu sebabnya Presiden Snow menyiksamu. Untuk menghancurkanku.”

“Itu bukan jawaban,” kata Peeta.

Ya, meskipun pembaca tahu, dan semua orang dalam kisah itu tahu tentang perasaan Katniss kepada Peeta, tetap saja Katniss tidak pernah mau mengakui perasaannya itu. Dari buku pertama hingga ke tiga dipenuhi keraguan Katniss akan hal itu. Sampai akhirnya, pada paragraf penutup di buku ke tiga, Katniss mengakui perasaannya itu. Berikut cuplikan pargraf yang gue maksud, satu paragraf yang paling gue sukai dari buku ini. (P.s.: beberapa kata gue edit supaya mudah dipahami oleh kalian yang tidak pernah mengikuti jalan cerita Hunger Games).

“Aku dan Peeta kembali bersama. Ada saat-saat ketika dia memegangi sandaran kursi sampai kilasan-kilasan ingatan palsu yang ada dalam benaknya lenyap. Aku masih bangun sambil menjerit-jerit karena mimpi buruk dengan mahluk mutan dan anak-anak yang hilang. Tapi lengan Peeta selalu ada untuk menghiburku. Hingga akhirnya bibirnya juga. Pada malam ketika aku merasakannya lagi – rasa lapar untuk terus menciumnya yang pernah menguasaiku di pantai arena Hunger Games – aku tahu memang ini yang akan terjadi. Bahwa yang kubutuhkan untuk bertahan hidup bukanlah api Gale, yang dikobarkan oleh kemarahan dan kebencian. Aku sendiri sudah punya banyak api dalam diriku. Yang kubutuhkan adalah bunga dandelion pada musim semi. Warna kuning cerah yang berarti kelahiran kembali, dan bukannya kehancuran. Janji bahwa hidup bisa berlanjut, tak peduli seburuk apa pun kami kehilangan. Bahwa hidup bisa menjadi baik lagi. Dan hanya Peeta yang bisa memberiku semua itu.”

Setelah paragraf itu, Peeta berbisik kepada Katniss, “Kau mencintaiku. Nyata atau tidak?”

Akhirnya, Katniss menjawab, “Nyata.”

Gale memang lebih kuat… dan lebih tampan. Tapi Peeta, hanya Peeta, yang bisa memberi Katniss rasa aman, serta hanya Peeta… yang bisa melengkapi kekurangan dalam diri Katniss.

Dalam kehidupan nyata, pada akhirnya, hanya itulah yang akan dicari oleh wanita dewasa dari laki-laki pilihannya: rasa aman untuk terus hidup bersama dengan dia. Laki-laki itu bisa jadi tidak lebih kaya, tidak lebih pintar, tidak lebih rupawan… tetapi, laki-laki itulah yang paling mampu memberikan rasa aman. Buat apa kita cari cowok pintar dan kaya… kalau dia tidak pernah mau berusaha untuk memperjuangkan keberadaan kita dalam hidupnya? Buat apa pula pintar dan kaya… kalau kita tidak yakin, dia akan selamanya mencintai kita dengan tulus dan apa adanya…

Gue tidak bilang the most wanted bachelor yang ganteng, pintar, dan kaya itu tidak layak jadi pendamping hidup. Itu kan tergantung orangnya… But the thing is… in fact, it’s not the most important consideration. Sekedar keren dan kaya raya saja tidak cukup. Make her feel safe, comfort, and feel like being sincerely loved, then she’s gonna be truly yours.