Jeju Glass Castle

Oh my God… udah tepat setahun sejak liburan gue ke Korsel tapi rangkaian trip story di blog gue ini masih aja belum selesai! So here I am… bertekad buat menyelesaikan tulisan gue itu di minggu ini, hehehehe.

Today I’m going to write about Jeju Glass Castle, sejenis museum yang menampilkan berbagai jenis masterpieces yang terbuat dari kaca. Cuma di tempat ini gue pernah melihat taman bunga yang terbuat dari kaca, kereta labu Cinderella, mirror maze, dan berbagai jenis exhibit cantik lainnya. Kumpulan benda-benda kaca itu tersebar mulai dari museum indoor sampai dengan outdoor park. Favorit gue tentu saja outdoor park-nya 🙂

Check the slide below for my favorite pictures in this place!

This slideshow requires JavaScript.

Jeju Glass Castle mungkin bukan atraksi yang menarik buat semua orang, tapi kalo buat gue, it felt like a new experience. Menyenangkan buat cuci mata, menyenangkan juga buat foto-foto. Lokasi Jeju Glass Castle relatif dekat ke bandara dan agak jauh dari Jungmun Resort. Hope this could give you a clue in preparing the itinerary.

 

5 Hal Sepele Yang Bisa Tiba-tiba Bikin Naksir

Tiba-tiba aja, gue teringat hal-hal sepele yang pernah bikin gue tiba-tiba naksir sama cowok yang sebetulnya udah cukup lama gue kenal. Berikut ini daftar lengkapnya 😀

Gara-gara mimpi

Waktu masih kelas 1 SMA, pernah ada temen cowok yang gosipnya, emang naksir sama gue. Awalnya gue cuek-cuek aja… Soalnya waktu itu ceritanya gue masih dalam tahap mourning period gara-gara pisah sekolah sama gebetan jaman SMP. Kemudian believe it or not, perasaan biasa-biasa aja itu tiba-tiba berubah jadi naksir hanya dalam waktu satu malam saja!

Isi mimpinya sih, biasa-biasa aja… Nggak ada adegan yang gimana-gimana banget gitu. Tapi gara-gara jalan ceritanya romantis banget, pas bangun tidur gue tiba-tiba aja jadi kecentilan nggak sabar pengen ketemu sama dia di sekolah, hehehehe. ABG oh ABG…

Gara-gara dicie-ciein temen-temen sekelas

Gue lupa gimana awal mulanya, dulu pernah ada temen sekelas yang suka dipasang-pasangin sama gue. Pernah suatu hari waktu jamannya angkot G5 lagi mogok massal, gue terpaksa pergi ke sekolah naik taksi gara-gara udah telat masuk kelas.

Begitu sampe kelas, ada temen yang tanya, “Elo ke sini naik apa?”

Gue jawab, “Taksi.”

Temen-temen gue itu langsung heboh… “Ciee… udah kayak Cinta AADC, naik taksi!”

Dan anehnya, nggak lama kemudian, ada anak cowok di kelas yang dikasih julukan Rangga! Dia jadi Rangga, gue jadi Cinta…

Awalnya gue nggak ada perasaan apa-apa sama ‘si Rangga’ ini. Tapi karena sering diledekin, lama-lama jadi naksir juga, hehehehe. Bukan naksir serius siih… Nggak lama kemudian dia malah jadian sama cewek lain pula, dan sekarang udah happily ever after sama keluarga kecilnya.

Gara-gara ngelihat dia mencet-mencet kalkulator

Sejak jaman kuliah, standar gue buat urusan cowok udah mulai naik. Gue udah nggak pernah lagi naksir cowok yang kelihatan lemot. Trus ada teman sekelas yang sebetulnya udah cukup lama gue kenal. Termasuk pintar, tapi pikir gue saat itu, tetep enggak sepinter gue, huehehehehe, belaguuu :p

Sampai suatu hari, kelas gue dan dia dikasih tugas yang susaaaah banget sama salah satu dosen akuntansi. Di saat gue lagi bengong mikirin cara mecahin soal maha sulit itu, tiba-tiba gue ngelihat si cowok ini juga lagi serius ngerjain soal. Dengan kening berkerut, muka serius memandangi buku, dan jari-jari yang sibuk mencet kalkulator.. tiba-tiba aja, dia kelihatan charming di mata gue. Sejak detik itu, gue resmi naksir sama dia, hehehehehe.

Gara-gara suaranya mirip sama first love gue

Di kampus dulu, gue sempet naksir-naksir dikit sama salah satu dosen gue. Alasannya? Karena suara dia mirip banget sama suara first love gue!

Puja dan Nata, dua sahabat gue di Binus, ngakak habis-habisan saat tahu rahasia kecil gue itu. Soalnya… well, dosen gue yang satu itu emang agak-agak unik sih. Dan sampe sekarang pun, si Puja masih suka jadiin masa lalu gue itu sebagai bahan lelucon. Sepertinya… itu akan jadi jokes favorit mereka sepanjang masa… hiiks.

Gara-gara dia nyebrangin gue pas lagi jalan rame-rame

Waktu itu ceritanya lagi jam istirahat makan malam… Seperti biasa, gue pergi makan bareng temen-temen sekantor, termasuk si dia: temen cowok yang udah gue kenal cukup lama. Sejak pertama kenalan, sebetulnya gue udah langsung tau kalo si dia ini termasuk tipe gue banget. Tapi berhubung di awal kerja gue masih deket sama cowok lain, jadi gue nggak pernah ngerasain apa-apa sama temen sekantor gue itu.

Awalnya gue lagi asyik ngobrol sama teman gue yang lain, kemudian pada waktunya nyebrang jalan, tau-tau aja si cowok ini udah berjalan persis di sebelah kanan gue… Cuma hal kecil, sangat kecil, yang udah bener-bener ngerubah hidup gue saat itu.

Di saat-saat terberat, gue suka menyesali kejadian hari itu… Harusnya hari itu, gue enggak usah pergi makan malam sama dia! Tapi belakangan gue sadar… kalaupun enggak ada hari itu, akan tetap ada hari-hari lain yang ngerubah perasaan gue ke dia. Memang bukan cerita cinta yang berakhir bahagia, tapi pada akhirnya gue menyadari, cerita singkat itu udah bikin gue jadi lebih dewasa. Berkat dia, gue jadi tahu, apa yang sebetulnya gue cari, dan apa yang sebetulnya gue harapkan, dari seorang cowok.

Sejak cowok terakhir itu pula… gue udah enggak pernah lagi tiba-tiba naksir cowok secara random kayak dulu. Bukan karena gue belum move on lho ya… Tapi lebih karena sejak itu gue belajar, sesuatu yang terlalu cepat datangnya, akan terlalu cepat juga berlalu dan berakhir selama-lamanya…

P.s.:       Mohon maaf kalo tulisan yang awalnya lucu malah berakhir sedih kayak gini, huehehehe, cheers!

G.I. Joe Retaliation: Big Disappointment for Big Fan

GI Joe RetaliationWarning… this post contains spoiler. Buat kamu yang belum pernah nonton dan nggak ingin tahu bocoran ceritanya, cukup berhenti sampai di paragraf ini.

Pertama kali nonton G.I. Joe pada tahun 2009, gue langsung suka! Sejak nonton film ini pula, gue jadi ngefans sama Channing Tatum dan mulai heboh cari setiap film yang pernah dia bintangi. Nggak heran kalo gue pun jadi menanti-nantikan sekuel action movie yang satu ini.

Gue penasaran… gimana nasib Ana Lewis (Sienna Miller), pacarnya Duke (Channing Tatum) setelah akhirnya berhasil lepas dari cengkraman pasukan Cobra? Gimana kelanjutan persahabatan Duke dengan Rex yang tidak lain saudara kandungnya Ana? Dan akan ada teknologi canggih apa lagi yang dimiliki oleh pasukan G.I. Joe selanjutnya?

Buat kalian yang belum pernah nonton film pertamanya, G.I. Joe: The Rise of Cobra, mungkin akan menilai sekuel film ini keren-keren aja. Adegan action-nya emang tetap seru, terutama yang bagian kejar-kejaran ala ninja antara Snake Eyes dan Jinx versus pengawal-pengawalnya Cobra di tebing-tebing curam. Tapi bagi penggemar G.I. Joe sejak lama yang masih ingat persis jalan cerita film pertamanya, dijamin kecewa saat nonton G.I. Joe Retaliation.

Lupakan rasa penasaran gimana nasib Ana yang sempat disuntikkan nano-mites oleh kakaknya sendiri, karena di film ke dua, Ana tidak muncul sama sekali. Namanya sama sekali tidak disebut, seolah tidak pernah ada tokoh Ana dalam sejarah G.I. Joe. Lupakan pula teknologi super canggih seperti yang banyak kita lihat di film pertama, karena satu-satunya senjata yang paling canggih di G.I. Joe Retaliation hanya senapan yang punya menu touch screen yang sebetulnya, senjata yang mirip-mirip juga sudah pernah ada di film pendulunya. Dan yang paling mengecewakan adalah… tokoh Duke cuma muncul sebentar lalu dibikin mati di medan perang. Mati terkena serangan udara, lalu sosoknya hilang begitu saja. Sama sekali kisah kematian yang tidak berkesan. Orang yang enggak pernah nonton film pertamanya pasti nggak akan menyangka bahwa sebetulnya dan seharusnya, Duke adalah tokoh utama dalam film ini.

Seolah itu semua belum cukup mengecewakan, satu-satunya anggota G.I. Joe yang masih terus eksis dalam sekuelnya hanya tinggal the Snake Eyes saja. Jagoan-jagoan lainnya benar-benar tidak muncul batang hidungnya. Jagoan ceweknya pun berganti tokoh dari Scarlett menjadi Jaye. Tapi untunglah kisah hidup Snake Eyes dan Storm Shadow masih terus dibahas tuntas, kalau tidak, film ini benar-benar sudah kehilangan ‘napas’ G.I. Joe-nya.

Sampai sekarang gue belum dengan desas-desus seputar film ini. Misalnya, kenapa tokoh Duke dihilangkan begitu saja? Atau, kenapa anggota tim inti G.I. Joe-nya dirombak total? Dan kenapa tokoh Ana dan Rex dihilangkan begitu saja? Padahal, konflik antara Duke, Ana, dan Rex merupakan salah satu bumbu cerita yang paling menarik di film pendahulunya.

Terlepas dari hal-hal yang gue anggap mengecewakan dari film ini, sekali lagi, gue tetap mengakui adegan action dalam film ini memang asli seru dan layak tonton. Tidak ada kisah cinta-cintaan dalam film ini – dan bahkan setelah gue pikir-pikir, rasa-rasanya ini film action pertama yang gue tonton yang tidak menampilkan romantic scene sama sekali – tapi hal itu nggak bikin film-nya jadi terasa hambar. Kemudian meskipun tim G.I. Joe tidak lagi bersenjatakan teknologi tingkat tinggi seperti dulu, untuk special effect, sekuelnya ini tetap memanjakan mata penonton. So overall, it’s a fine movie, it’s just disappointing me who has been waiting for years just to see my favorite actor died just like that in this movie.

Dalam hati kecil, gue masih berharap, kekecewaan ini akan terbayar di film ke tiga. Mungkin sebenarnya, Duke masih hidup, dan nanti masih akan ada kelanjutan kisah Duke dan Ana juga. Soalnya to be honest… gue enggak ngefans sama jagoan-jagoan G.I. Joe yang baru, dan kalo buat gue. nonton film tanpa ada aktor favorit yang bermain di dalamnya itu ibarat makan sayur tanpa garam, hehehehe.

This Girl is On Fire!

Sudah jadi cita-cita sejak jamannya masih kanak-kanak, gue kepingin ngerasain kuliah di luar negeri. Setelah kerja, keinginan untuk hal itu terasa semakin kuat. Gue kepingin banting setir, kepingin kerja jadi Business Consultant di Consulting Company papan atas, dan untuk itu, gue harus punya gelar MBA. Secara program MBA itu cuma ada di luar negeri dan terkenal sangat mahal, beasiswa sudah jadi satu-satunya option buat gue.

Dua tahun yang lalu, gue pernah coba apply beasiswa yang disediakan pemerintah Australia. Gue pilih MBA meskipun sebetulnya tidak ada di preferred program mereka. Lalu hasilnya? Gagal, tentu saja, secara sampe sekarang gue masih di sini-sini aja 😀 Kemudian dari hasil ngobrol-ngobrol sama beberapa blog reader yang pernah dapet MBA scholarshipgue disarankan coba Fullbright (program beasiswa US) dan harus kejar GMAT score setinggi-tingginya. 

Sejujurnya, saat tahu soal GMAT, semangat gue sempat mengendur. I’m not good at Math, at all. Itulah alasannya kenapa gue bisa jago Microsoft Excel, salah satunya demi menutupi kekurangan gue buat urusan matematika 😀 Kemudian sempat ada kenalan yang menyemangati… GMAT score masih bisa didongkrak dengan kursus. Yang penting, good English and knows the trick. Gue pun mulai nge-Google, dan ketemu satu tempat kursus GMAT yang paling populer di Jakarta: PASCAL. Gue simpan link-nya, dan berniat daftar jika ada waktu luang.

Seiring berjalannya waktu, soal ikut GMAT preparation class seolah terlupakan dengan sendirinya. Dan tau-tau aja, gue malah udah siap-siap mau ambil PPAK! Kenapa gue malah memprioritaskan PPAK meskipun dalam hati kecil, gue kepingin banting setir dan meninggalkan dunia akuntansi?

Well, accounting is my comfort zone. There’s no doubt, I am good at it. Gue pernah coba karier jadi accounting software consultant, auditor, lalu sekarang, company accountant, dan semuanya selalu berjalan mulus. Dan gue khawatir… keberhasilan yang sama tidak akan gue dapatkan kalo gue banting setir. Makanya, gue pikir PPAK bakal lebih sesuai buat gue daripada GMAT program

Alasan lainnya, bekerja jadi business consultant sama saja gue kembali kepada kehidupan karier tanpa jeda. Crazy overtime and working from client to client… Gue masih ingat gimana beratnya hidup dengan jam tidur kurang dari 6 jam setiap harinya. Bangun tidur susahnya setengah mati, jadi dapet penyakit yang nggak pernah gue derita sebelumnya, nggak punya cukup waktu buat mikirin penampilan… Do I really want to go back to that kind of life? Belum lagi kenyataan bahwa banting setir = kembali memulai dari 0. Padahal di bidang akuntansi, gue udah sampe level managerial dan insyaallah, gue punya peluang di masa depan untuk sampai di level direksi. Jadi kenapa gue harus banting setir?

Kemudian beberapa waktu belakangan ini, ada serangkaian kejadian yang kembali mengingatkan gue sama impian yang sempat terlupakan itu. Karena suatu company event, gue jadi berkenalan dengan beberapa orang yang punya cool job. They all have the job that I’ve always wanted. Gue terpana banget dengan hanya sekedar ngelihat name cards mereka, dengan sekedar ngelihat betapa kerennya gerak-gerik serta betapa pintarnya mereka… Gue sampe bertanya-tanya sama diri gue sendiri, “Why am I still here?”

Di saat yang sama, gara-gara kesibukan kerja, gue jadi telat daftar kuliah PPAK gelombang bulan April. Kelas yang gue inginkan udah keburu penuh! Kalau mau, gue harus ambil kelas yang lokasinya jauh banget dari kantor, atau, ikut di lokasi yang diinginkan tapi itupun nanti, baru mulai bulan Agustus! Gila gue pikir… November sampai dengan bulan Mei tahun berikutnya itu busy season-nya accounting. Mana sanggup gue kuliah sambil kerja gila-gilaan dalam waktu yang bersamaan?

Puncaknya malam ini, dosen gue di Binus bikin kultwit tentang beasiswa S2 di luar negeri. Baca serangkaian tweet Ibu dosen bikin gue kembali on fire. Gue emang payah di Matematika, tapi Business Math gue di Binus berhasil dapet A dengan belajar dan latihan 2 kali lebih keras. Kemudian soal jam kerja, lho buktinya, gue kerja jadi Company Accountant juga pun, 4 bulan belakangan ini gue lembur gila-gilaan dan so far gue masih survive aja tuh. Jadi apa salahnya sih, gue coba lagi… coba sekali lagi? Lagipula bukankah… hal ini masih jadi bagian 30 things to do before 30-nya gue?

Memang benar, ikut kelas persiapan belum tentu berhasil dongkrak GMAT score gue. GMAT score sudah menjulang pun, enggak jaminan gue pasti dapet beasiswanya. Dengan beasiswa di tanganpun, enggak jaminan gue bisa diterima kerja di perusahaan impian. Dan yang paling buruk, mendapatkan pekerjaan impian pun bukan berarti gue akan benar-benar bisa menikmatinya. Tapiii, itu semua kan masih dalam bentuk kemungkinan. Mungkin, gue akan gagal, tapi… mungkin, gue juga bisa berhasil.

Gagal atau berhasil, yang penting gue coba dulu. Gue nggak mau terus-terusan menjadi orang yang hanya bisa menatapi betapa kerennya kartu nama orang lain. I have to give it a good fight, my best fight, before I give it up. Kalau ternyata kapasitas otak gue memang enggak akan pernah sampe untuk GMAT yang pantas masuk ke kelas MBA di universitas papan atas, ya sudah, yang penting gue tahu bahwa gue sudah mencoba.

So now… stop talking and tomorrow, first thing in the morning, I will call PASCAL right away to register my name in May 2013 class. Wish me luck!

10 Bad Habit yang Bisa Merusak Masa Depan Karier

  1. Bikin bos serba salah. Dikasih kerjaan gampang, “Ngebosenin! Nggak berkembang kalo begini terus,” tapi giliran dikasih kerjaan susah dikit, “Emang gue dikasih gaji berapa sampe disuruh ngerjain beginian?”
  2. Nggak mau tau ‘dosa-dosa’ masa lalu. “Masalah ini kan bukan gara-gara gue, melainkan gara-gara si A (yang notabene udah resign). Jadi kenapa harus gue yang beresin?”
  3. Paling anti disuruh lembur… Kalaupun akhirnya tetap lembur, kerjanya setengah hati, muka cemberut, dan hasil akhir banyak salahnya;
  4. Bikin report asal jadi, yang penting selesai tepat waktu, tapi isinya sulit dimengerti oleh orang lain, banyak typo alias salah ketik, format berantakan dan nggak enak dilihat;
  5. Keseringan cuti sampai-sampai jatah cuti jadi habis dan kena potong gaji hanya karena berbagai macam alasan. Anak sakit, suami sakit, orang tua sakit, nganter ortu ke sini-situ, nganter anak ke sini-situ…
  6. Cuti di saat peak season. Harusnya untuk yang satu ini, kita bisa sadar dengan sendirinya… jangan pernah cuti di masa-masa yang sudah pasti divisi kita sedang sibuk-sibuknya;
  7. Terlalu sering menjelek-jelekan atasan. Curhat di pantry, di lift, di toilet, curhat sama teman, sama OB, sama teman dari kantor sebelah… Ingat, semakin sering kita curhat, apalagi di tempat umum, semakin besar peluang omongan kita itu sampai ke telinga atasan. Be careful!
  8. Keseringan browsing, chatting, atau main games di jam kerja. Kalaupun ingin sesekali refreshing, pastikan kita menggantinya dengan pulang beberapa menit lebih akhir. Dan ingat satu hal, jangan sampai ketahuan siapapun! Not even your own friend in the office… Hal ini bisa dijadikan senjata oleh orang lain untuk menjatuhkan karier kamu;
  9. Sering bersikap ngelunjak… mentang-mentang tau si bos butuh kita banget. Hati-hati… dalam dunia kerja, akan selalu ada new comers. Kalau kita suka ngelunjak, jika kelak datang 1 saja new comer yang berpotensi menjadi rival, then we’ll be just nobody ever since; dan
  10. Tidak mau otodidak, maunya serba diajari oleh atasan. Supervisi anak buah memang sudah jadi tugas atasan, tapi tetap saja, karyawan yang mampu mengembangkan dirinya selalu sendiri punya peluang yang jauh lebih besar untuk mendapatkan promotion.

Apa sih, Kegunaan Eye Cream?

Awal mula gue rutin pakai eye cream setelah mendengar cerita dari teman sekantor gue, sekitar 2 tahun yang lalu. Teman gue ini bercerita tentang kenalan ibunya yang sudah berusia lanjut, sudah berkeriput di mana-mana, kecuali di daerah mata yang terlihat masih kencang. Ternyata rahasianya, rutin pakai eye cream sejak usia muda (baca: sejak usia 20-an!). Katanya, tidak penting mahal atau murah, yang penting rutin pakai eye cream setiap hari.

Nggak lama kemudian, gue ikutan beli eye cream dan mulai merasakan sendiri manfaatnya. Apa saja? Check this out… 6 manfaat eye cream berdasarkan pengalaman pribadi gue:

  1. Tekstur kelopak mata jadi lebih halus… Sebelumnya entah kenapa, kelopak mata kiri gue itu agak-agak keriting. Hal ini bikin gue jadi suka kesulitan mengaplikasikan garis lurus pencil eye liner di kelopak yang satu ini;
  2. Eye shadow menempel dengan baik. Kalo kulit area mata gue sedang kering, eye shadow yang gue aplikasikan jadi suka berceceran dan jatuh mengotori wajah. Eye cream has helped me reduce this problem;
  3. Make-up mata (eye shadow dan eye liner) tampak lebih terang. Terlihat beda banget hasil akhir riasan saat kulit sedang lembab versus kulit sedang kering;
  4. Make-up mata juga jadi lebih tahan lama. Kalo gue sedang tidak wudhu, riasan mata gue masih terlihat awet sampai malam hari tanpa perlu retouch lho;
  5. Dalam jangka panjang, bisa mengatasi lipatan kelopak mata yang turun. Nggak enaknya punya kelopak besar itu, ada kalanya lipatan kelopak suka berubah dengan sendirinya. Efeknya, mata gue jadi kelihatan kecil sebelah! Again, eye cream has helped me get through this; dan
  6. Mata jadi terasa lebih fresh. Sama lah dengan sensasi yang kita rasakan jika sudah menemukan body lotion yang pas. Kulit jadi terasa lebih nyaman dan enak dipegang.

I’m currently trying: All About Eyes cream by Clinique. Harganya emang mahal, sampai Rp. 450.000 (dan dengar-dengar, sebentar lagi harganya akan naik!) hanya untuk satu pot kecil 15 ml. Tapi gue jadi tergoda gara-gara Clinique bilang, produk ini bisa mengurangi puffy eyes (itu lho… kantung di bawah mata).

All About EyesSelain itu, gue sengaja beli krim yang mahalan dikit dengan harapan, krim ini bisa bantu mencegah dan mengurangi munculnya kerutan di sudut-sudut mata. Berhubung gue baru satu minggu pake eye cream ini, gue juga belum bisa comment apa benar ada eye cream yang bisa mengatasi masalah puffy eyes dan keriput. Apalagi untuk urusan keriput… secara umur gue masih 26, jadi masih belum tau juga seberapa efektifnya eye cream buat urusan keriput. Keriput yang muncul di sekitar mata juga belum ada soalnya…

Jadi kesimpulannya, gue juga merekomendasikan agar jangan ragu untuk mencoba eye cream. Segera mulai sejak menginjak usia 23-25 tahun. Disarankannya sih, pakai eye cream sehari dua kali. Tapi kalo gue cuma sehari sekali menjelang tidur aja, dan hanya dengan begitupun, manfaatnya sudah sangat terasa.

Oh ya, one more tip: tidak perlu mengoleskan eye cream terlalu banyak, cukup ambil sedikit menggunakan ujung jari (make sure sudah cuci tangan pakai sabun yaa), lalu oleskan menggunakan jari manis. Ingat, harus jari manis, karena hanya jari ini yang paling bisa memberikan pijatan lembut untuk mata. Pijat pelan-pelan karena gimanapun, area mata memiliki kulit yang paling sensitif.

Selamat mencoba!

And Now I Know How It Feels…

GIVING ADVICES RULE

Dulu

Gue suka bingung tiap kali baca majalah yang bilang bahwa sebaiknya, kita tidak memberikan advice jika tidak diminta. Bisa jadi, teman ybs hanya ingin didengarkan. Gue pikir, apa salahnya memberikan saran? I’m well known as a great advisor, and what’s wrong with that?

Sekarang

Sekarang gue tau betapa enggak enaknya dinasehati panjang lebar di saat sebenarnya, gue hanya sedang ingin menumpahkan uneg-uneg. Apalagi kalau nasehatnya terkesan menyalahkan gue… Bukannya gue enggak mau terima input, tapi ‘digurui’ saat hati sedang panas yang ada malah bikin hati tambah panas! Niatnya curhat supaya hati lega, yang ada malah tambah kesal…

Sudah sejak beberapa bulan belakangan ini, gue menahan diri untuk tidak asal kasih nasehat. Gue harus cari timing yang pas, kata-kata yang tepat, bahkan, intonasi dan raut wajah yang pas saat mengatakannya. Kemudian untuk posisi sebaliknya, gue juga mulai pilih-pilih tempat curhat. Gue akan lebih memilih curhat dengan teman yang bisa bikin gue ngerasa nyaman, bukan malah bikin gue tambah uring-uringan…

 

STOP COMPLAINING

Dulu

Setiap kali ada teman yang menegur agar jangan suka mengeluh, gue berpikir dalam hati… apa salahnya? Gue kan, hanya ingin mengungkapkan isi hati, supaya lega. Toh yang penting, meskipun gue mengungkapkan keluhan, segala hal yang harus gue kerjakan ya akan tetap gue kerjakan. Makanya dulu itu gue sering bilang sama teman-teman gue, “Aduh kalian ini… kalo misalkan gue curhat, bukan berarti gue lagi ngeluh.”

Sekarang

Sejak mulai menduduki posisi manajerial di kantor, gue jadi merasakan betapa tidak enaknya berhadapan dengan bawahan yang suka mengeluh. Malah terkadang, hal-hal kecilpun, mereka keluhkan dengan cara yang dibesar-besarkan. Belakangan ini, gue jadi berkaca dengan diri gue sendiri… Gue sendiri pun, masih aja jadi bawahan yang suka mengeluh. Kalau dipikir-pikir… kasihan si bos punya bawahan kayak gue.

Makanya, mulai hari ini gue bertekad, gue akan batasi status BBM, Facebook, dan Twitter yang isinya berbau keluhan. Gue juga akan berusaha mengurangi celotehan gue yang nggak penting-penting banget itu. Untuk urusan curhat, gue cuma akan curhat satu kali untuk satu topik dan hanya kepada satu orang tertentu aja. Kasihan juga teman-teman gue kalo keseringan dengerin curhatan gue yang itu-itu aja, hehehehe.

 

KEBIASAAN NGAMBEK

Dulu

Waktu SMA, ada temen cowok gue yang bilang gini, “Gue paling kesel kalo cewek udah mulai ngambek… Bikin bingung!”

Pikir gue saat itu… namanya juga orang lagi marah. Ya manusiawi lah kalo muka jadi cemberut, jadi males ngomong, atau kalopun ngomong jadi ketus dikit… Gue malah serem sama orang yang tetep tersenyum manis meskipun di hatinya sedang tersimpan dendam kesumat sama orang ybs… Kesannya palsu dan muna banget nggak sih?

Sekarang

Sekarang gue memahami apa yang dimaksud dengan ngambek yang menyebalkan. Muka cemberut, bersungut-sungut, tapi tidak mau mengutarakan letak permasalahannya. Diajak bicara terbuka pun, reaksinya malah menyebalkan. Kalo udah ngambek, maunya dibaik-baikin, segala sesuatu harus diturutin, dan… orang ybs harus bisa baca pikiran kita tanpa perlu kita ucapkan secara verbal. Atau tren terbaru, ngomong langsung sih enggak, tapi sengaja bikin status di social media buat nyindir-nyindir pihak ybs. Gimana masalah mau selesai jika kita bereaksi childish seperti itu?

Sampai sekarang gue masih berusaha keras untuk menghilangkan kebiasaan ngambek. Gue udah nggak pernah lagi sih, sengaja nyuekin orang yang lagi ngomong sama gue, atau sengaja bertingkah menyebalkan, hanya supaya dia berasa gue lagi kesel sama dia… Tapi tetep aja, ekspresi muka gue di saat sedang marah itu yang susah banget buat dipoles. Kalo kata bos gue, “Kamu ini kalo lagi stres mukanya jelek, suka cemberut. Jangan suka cemberut.”

Tapi sudahlah. Mengubah kebiasaan jelek kan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Yang penting kan, muka boleh cemberut, tapi sikap gue tetap koperatif, dan kerjaan pun tetap gue selesaikan dengan ikhlas. Kalo nanti gue udah pinter nahan emosi buat enggak sembarangan ngoceh di saat marah, baru deh, gue urusin ekspresi masalah ekspresi muka gue itu…

30 Things to Do Before 30

Untuk pertama kalinya, bertambahnya usia tidak membuat gue senang pada saat ultah yang ke 26 bulan November 2012 yang lalu. Awalnya gue bingung… kenapa? Yang jelas bukan karena gue ngerasa udah dikejar deadline married… tapi apa? Baru kemudian gue sadari, usia gue semakin dekat ke kepala 3, sedangkan masih banyak impian di usia kepala 2 yang masih belum berhasil gue wujudkan.

Kemudian beberapa hari yang lalu, gue menemukan artikel menarik di majalah Chic bulan Januari 2013. Judul tulisannya: “132 Things to Do Before 30.” Gue pun jadi kepingin bikin tulisan yang sama!

Tulisan ini akan gue jadikan guideline dalam hidup gue 4 tahun ke depan… Dan berikut ini daftarnya, gue urutkan dari hal-hal yang insyaallah akan terealisasi dalam waktu dekat. Doakan gue berhasil mewujudkan semuanya tepat waktu yaa!

  1. Pergi ke dokter ahli gizi supaya naik berat badan minimal 10 kg;
  2. Ganti facial care gue jadi Clinique semua, dan body care jadi L’occitane semua;
  3. Traveling sendirian ke luar negeri;
  4. Lihat bunga sakura bermekaran di Jepang;
  5. Mulai investasi reksadana atau logam mulia;
  6. Berani nyetir mobil sendiri… itu SIM jangan cuma jadi pajangan doang, hehehehe;
  7. Beli mobil pertama… mobil fasilitas kantor nggak masuk hitungan, hehehe;
  8. Nonton konser penyanyi luar negeri;
  9. Tinggal di apartemen pribadi… Harus banyak-banyak berdoa supaya apartemen gue cepet kelar dibangun;
  10. Pelihara kucing Persia, asli, dan harus yang bersertifikat!
  11. Duduk di business class saat bepergian dengan pesawat;
  12. Tidur di hotel bintang 5 saat menginap di luar negeri;
  13. Liburan keliling Eropa… Italy, France, Germany, Spain, Netherland, UK;
  14. Punya 1 tas Louis Vuitton… kalo bisa beli langsung di Paris;
  15. Lihat salju!
  16. Terbitkan novel perdana;
  17. Membukukan tulisan-tulisan terbaik di blog gue;
  18. Membawa novel gue ke layar lebar;
  19. Tampil di cover majalah atau tabloid Ibu Kota, huahahaha, serius loh ini;
  20. Naikin GMAT score, kalo perlu ikutan kursus;
  21. Coba apply beasiswa S2 ke luar negeri… sekali lagi;
  22. Ambil minimal satu gelar profesi;
  23. Mendapatkan pekerjaan di salah satu kantor impian;
  24. Mulai merintis bisnis kecil-kecilan;
  25. Ngerasain berlibur naik kapal pesiar;
  26. Umrah, trus lanjut ke Dubai nyobain naik unta, plus ke Mesir lihat pyramid;
  27. Menghampiri mantan gebetan dan bertanya, “What was that between us?”
  28. Berbaikan dengan sahabat-sahabat lama yang pernah gue tinggalkan. Siapa tahu, mereka sudah berubah;
  29. Meet my Mr. Right… no more drama, no more heartbroken, no more cowok-cowok yang nggak jelas apa maunya, hehehehe; dan
  30. Merayakan ultah gue yang ke 30… ngundang teman-teman dekat dari jaman SD sampai kerja.

Because a Broken Heart Will Always Make Me a Better Person

Tadi malam, seorang teman cerita sama gue soal gebetannya yang akan pindah rumah ke luar negeri dalam waktu dekat. Gebetan yang sudah dekat sama dia bertahun-tahun lamanya, yang selama ini, dia simpan sendiri rasa cintanya buat sang gebetan.

Mendengar curhatan teman gue itu… membawa gue kepada kenangan yang sama beberapa tahun yang lalu. Gue kembali diingatkan pada titik terendah dalam hidup gue selama ini.

Waktu itu jalan ceritanya juga sama; gue dan si gebetan makin lama makin dekat, tapi enggak pernah ada pernyataan suka, naksir, atau cinta yang terucap dari gue dan dia. Ada orang-orang yang berspekulasi gue naksir dia, dia naksir gue, kita saling suka tapi nggak akan pernah bisa jadian… ada pula yang dengan sadisnya bilang, gue hanya bertepuk sebelah tangan.

Awalnya gue pikir gue cuma naksir-naksir biasa doang. Semacam perasaan yang bakal hilang dengan sendirinya saat gue menemukan cowok baru buat ditaksir. Tapi pada detik gue tau dia akan segera pergi… saat itulah gue menyadari, perasaan gue jauh lebih dalam daripada yang pernah gue bayangkan.

Enggak lama setelah kabar itu sampai di telinga gue, tibalah farewell night untuk melepas kepergian dia. I tried so hard to look fine, but I think I failed… Sulit buat gue menyembunyikan ketidakrelaan bahwa semuanya akan berakhir tanpa sempat dimulai, dan… tanpa pernah ada kejelasan.

Setelah semua orang sudah saling melambaikan tangan untuk pulang menuju rumah masing-masing, saat itulah gue sudah tidak bisa lagi menahan diri. Malam itu Jakarta hujan rintik-rintik, trotoar basah setelah hujan deras yang turun sebelumnya, dan tanpa gue sadari, pandangan mata gue mulai kabur. Air mata yang berebut turun membuat softlens yang gue kenakan tidak berfungsi dengan baik. Gue hanya bisa menarik napas… berusaha untuk tidak jadi orang bodoh yang menangis sesenggukan di tengah jalan.

Beberapa bulan setelah itu tidak lantas jadi lebih mudah buat gue. Dia memang pergi, tapi awalnya masih sesekali say hi. Hal itu tentu saja pernah membuat gue kembali menaruh harapan. Mungkin dia nyesel, mungkin dia pengen coba lagi, mungkin kali ini akan berbeda, dsb dsb… Tapi ternyata bukan itu yang terjadi. Pada akhirnya dia mulai konsisten, mulai benar-benar menghilang dari keseharian gue.

Tadi malam, gue bilang begini sama teman yang sedang patah hati itu, “Once the pain is gone, you will feel much better. It will make you a better person too.”

Ya, gue banyak belajar dari patah hati terburuk gue itu. Dulu itu gue cukup sering ngerasa digantung, dan gue sangat-sangat menyalahkan nasib atas keadaan gue saat itu. Tapi sekarang, gue menyadari… digantung itu bukan nasib, bukan takdir, melainkan sebuah pilihan… yang gue buat untuk diri gue sendiri.

Setelah itu, gue lebih mampu bersikap tegas dalam mengatasi perasaan gue sendiri. Gue tidak lagi suka main api. Jika gue tahu sejak awal bahwa hubungan gue dan si cowok tidak akan pernah berhasil, maka gue juga enggak akan ngebiarin hati gue jatuh cinta sama dia. Dan hebatnya, sejak itu gue jadi mampu bersikap menolak untuk digantung. Gue enggak pernah lagi membiarkan orang lain datang dan pergi dalam hidup gue sesuka hati mereka. If you want me, then just stay, no matter what happens… that’s it, as simple as that.

Masih ingat lirik lagunya Kelly Clarkson?

What doesn’t kill you makes you stronger… stand a little taller… footsteps even lighter.”

So yes, it was the lowest point in my life, but it was okay… because a broken heart will always make me a better person. I am stronger, wiser, and happier ever since.

Semua badai pasti berlalu, dan akhirnya… badai gue sudah lama berlalu 🙂

7 Pemicu “Jomblo Phobia”

Pernah punya teman yang nyaris tidak pernah kelihatan menjomblo? Baru putus sebentar, nggak lama kemudian langsung terlihat jalan bareng gandengan baru… Atau yang lebih parah, mereka sengaja cari pacar baru dulu sebelum bilang putus sama pacar yang lama! Kesannya kok, ngejomblo itu aib buat mereka. Ngejomblo selalu bikin mereka panik, nggak pede, sehingga langsung buru-buru minta dikenalin sama cowok/cewek baru via teman-teman mereka. Itulah sebabnya gue suka ngasih julukan ‘jomblo phobia’ buat tipe-tipe orang seperti mereka.

Kalau menurut gue pribadi, fenomena ini bukan sesuatu yang bisa dibilang wajar. Gue enggak ngerti… kok bisa ya, mereka melupakan mantan pacar sebegitu cepatnya, dan langsung naksir orang baru sebegitu cepatnya juga? Dan kok ya bisa-bisanya ganti pacar udah kayak ganti baju… cuma pilih-pilih sebentar langsung dipake gitu aja…

Setelah gue amati lagi, ternyata memang terdapat benang merah di antara orang-orang yang jomblo phobia ini. Ada beberapa penyebab yang bisa jadi merupakan penyebab mereka selalu buru-buru cari pacar baru setelah putus dengan pacar lama. Di bawah ini ada 7 kemungkinan yang menyebabkan seseorang ‘mengidap’ jomblo phobia.

  1. Self insecurity. Ada beberapa orang yang merasa punya banyak kekurangan dalam dirinya dan menjadikan pacar sebagai pendongkrak gengsi. Mereka ingin menunjukkan pada orang lain: “Gini-gini juga, gue masih banyak yang mau!”
  2. Ketergantungan sama pacar. Biasa dianterin ke mana-mana, dibeliin ini-itu, tiba-tiba harus mandiri dan serba sendiri… Hal ini lebih sering dialami oleh cewek daripada cowok;
  3. Ngerasa dikejar deadline nikah… sehingga siapapun yang masih available dan mau sama mereka langsung ditanggapi tanpa pikir panjang. Hal ini juga lebih sering terjadi pada cewek;
  4. Sexual urge. Orang yang sudah pernah having sex, khususnya cowok, akan cenderung mempunyai ‘kebutuhan’. Itulah sebabnya, mereka selalu butuh pacar untuk menyalurkan kebutuhannya itu…
  5. Tidak punya teman. Ada pula orang yang takut jomblo karena memang hanya si mantan pacar itu lah satu-satunya orang yang bisa mereka ajak hang out;
  6. Butuh obat patah hati. Mereka ngerasa, satu-satunya cara paling efektif melupakan cinta lama adalah dengan mencari cinta yang baru. Nggak penting udah naksir sama si pacar baru dari awal, yang penting udah ada penggantinya dulu. Menurut mereka sih, cinta bisa datang belakangan…
  7. Jaga gengsi depan mantan pacar. Pantang banget buat mereka ngelihat si mantan pacar dapet gandengan baru terlebih dulu. Jadi mereka nggak boleh kalah cepat! Supaya si mantan tahu… putusnya hubungan sama sekali bukan big deal buat mereka.

Gue enggak bilang jomblo phobia itu jelek sih… gue cuma wonder… kok bisa? Kalo gue sendiri sih, lebih prefer menunggu orang yang tepat daripada asal cari pacar. Alasannya:

  1. Salah pilih pacar cuma makan hati doang… bisa ganggu konsentrasi kerja, ngerusak mood, bikin tidur jadi nggak nyenyak… Pengorbanan yang nggak worth it secara ujung-ujungnya toh pasti putus juga;
  2. Gue takut nyesel. Jangan aja nggak lama setelah jadian, gue malah ketemu cowok lain yang jauh lebih oke… I’ve been there once and I will never ever want to go back there anymore;
  3. Ini dia yang paling gue takutkan: gue sering melihat, salah pilih pasangan bisa mengubah hidup seseorang selama-lamanya…
  4. Gue tipe orang yang nggak sreg sama cowok yang punya banyak mantan pacar, jadi gue sendiri juga enggak kepengen jadi cewek yang punya banyak mantan pacar. No offense yah… Ini cuma penilaian yang sifatnya subjektif untuk diri gue sendiri aja kok.

Kalau kamu memang siap dengan resikonya, then go ahead. Tapi kalo habit jomblo phobia itu nggak bikin kamu jadi lebih bahagia… then you might have to think twice. Tidak selamanya berpasangan itu pasti lebih baik daripada sendiri. It’s okay to be alone as long as you are not lonely. Make friends, work hard, do your hobbies, just simply enjoying your life! Ingat satu hal: yang paling penting bukan cepat atau lambat, punya atau nggak punya, melainkan… bahagia atau tidak bahagia. That’s it.