Pentingnya “Data Driven Decision” dalam Kehidupan Sehari-hari

Dulu, pernah ada salah satu kenalan saya yang sangat vokal menyuarakan ketidaksukaan dia atas segala sesuatu di lingkungan kerja dia.

Dia sering bilang, “Bos gue sering marah-marah.” Atau, “Banyak yang nggak betah kerja di sini.”

Kemudian saya tanya, “Memangnya seberapa sering dia marah-marah?”

Setelah berpikir sejenak, dia bilang, “Nggak tiap hari marah-marah sih, tapi bla bla bla.” Dia lanjutkan dengan pernyataan-pernyataan lain yang sifatnya sangat subjektif.

Pernah juga saya tanya, “Memang seberapa banyak orang yang nggak betah kerja di sana?”

Dia bilang, “Dua dari tiga, termasuk gue. Tim under bos gue kan emang cuma kita-kita aja, jadi ya 2 dari 3 itu banyak namanya.”

Jika merujuk pada penggunaan bahasa yang baik dan benar, sering itu artinya “most of the times“. Kemudian, banyak itu setidaknya “hampir mayoritas”. Kebetulan mengenal satu atau dua orang lain yang berpendapat sama tidak bisa langsung kita nyatakan sebagai “banyak”.

Lalu bagaimana jika jumlahnya 2 dari 3?

Well, tahukan kamu bahwa ahli statistik yang sudah sering melakukan research tidak akan berani mengambil kesimpulan hanya berdasarkan sedikit data? Sebelum memulai analisa, mereka akan pastikan dulu bahwa jumlah data yang mereka kumpulkan sudah cukup banyak sehingga mampu merepresentasikan suatu kesimpulan.

Jika ahli statistik saja sangat berhati-hati dalam mengambil kesimpulan, kenapa kita yang cuma punya sedikit coincidences bisa-bisanya langsung menghakimi dan menyebarluaskan judgement yang belum tentu benar keadaannya?

Saya akui saya juga pernah gegabah melakukan kesalahan yang sama. Dulu, saya pernah merasa banyak orang di lingkungan baru saya yang sangat suka berbohong. Kemudian saya iseng-iseng menghitung jumlah orang yang suka berbohong di tempat itu. Hasilnya? Tidak sampai 30%. Memang tidak sedikit, tapi tidak juga seburuk yang saya rasa sebelumnya. Hanya dengan perhitungan sederhana itu saja kepercayaan saya pada mereka langsung berangsur membaik. Tidak adil rasanya jika saya menyamaratakan semua orang hanya karena perkara segelintir orang saja.

Sejak itu, saya tidak lagi sembarangan melipatgandakan segala sesuatu hanya berdasarkan “kira-kira” atau berdasarkan luapan emosi yang tanpa saya sadari membuat saya menjadi hiperbolis. Jika saya bilang banyak, berarti memang betulan banyak. Jika saya punya angka pasti, atau setidaknya kisaran angka, maka saya akan lebih memilih menyebut angka tersebut ketimbang penggunaan kata “sedikit” dan “banyak” atau “jarang” dan “sering”. Itu pula alasan yang sama yang membuat saya sering bertanya kepada lawan bicara saya, “How much is it exactly?” Atau “How often does it happen?”

Ini yang gue maksud dengan pentingnya data driven decision in daily life. Sembarangan mengambil kesimpulan bisa jadi keputusan yang merugikan orang lain, dan tidak mustahil, merugikan diri kita sendiri juga. Penilaian yang sembarangan akan membuat tingkat kepercayaan orang lain atas pendapat kita menjadi perlahan menurun, bisa merusak image pribadi kita juga dengan anggapan kita ini cenderung lebay dalam menafsirkan sesuatu. Belum lagi resiko kita menyakiti orang lain dengan menyebar fitnah yang hanya berdasarkan data kira-kira.

Kita boleh saja curhat dengan teman, lebih boleh lagi menyampaikan kritik langsung kepada orang ybs, TAPI, pastikan kita sudah quantify pernyataan kita sebelum kita tuduhkan kepada orang lain. Jangan dilebih-lebihkan, jangan pula dikurang-kurangi. Ada tanggung jawab moril atas judgment yang kita sebar luaskan, jadi jangan sembarangan!

Ingat kata pepatah: mulutmu, harimaumu.

3 Unusual Advices I Learned from My Psychologists

I’m not ashamed of the fact that I occasionally visit psychologist just to consult about my everyday life. I know that I’m not the most miserable person on earth, but it doesn’t mean I don’t deserve a professional’s help on my problems.

One thing I like the most about my sessions with psychologists is that they often challenge traditional paradigms that lead me to think outside the box. Here are my most favorite quotes I got from my psychologists:

  1. “You have to know the reason why you fall for him, otherwise, you won’t have any good reasons to hold on when life gets rough between you two.” I find it’s so true in so many ways! This advice fits better in reality rather than “I love him for no reason” as we often heard from a fairytale. It’s always good to do some reality check and ask ourselves, “Is it worth fighting for?”
  2. “Dating at this age is no longer about getting through the thick and thin together. Every individual should be responsible for their own problem instead of dragging the other one into their personal problem.” I know it might not sound ideal, but again, it’s always good to do a reality check! It’s not a healthy relationship if you have to fix your loved one’s problems over and over again. Both people in a relationship should have a strong will to change and help themselves; and
  3. “Negative thoughts towards anything new after an incident is actually a good thing. It means you learn something from your past mistake and you choose to be more careful to prevent the same thing from happening again. Give yourself some times to heal and it will eventually fade away.” It was such a relief for me to hear that!

I’ve come to learn that what we often heard among the society is not always the perfect fit. We’re only human and angelic advice is not always working well due our imperfections as a human. This is a real life after all, not a fairytale! Try to get real and feel the different!

Lesson from a New Wallet and Old Pair of Shoes

Ceritanya gue beli dompet baru untuk menggantikan dompet lama yang sudah usang. Gue lalu pergi ke Kate Spade Kokas dengan harapan akan menemukan dompet model terbaru yang belum dijual oleh online shops di Instagram atau Tokopedia. Kalau gue cuma mau beli dompet Kate Spade model lama (yang cuma polos-polos aja), harga di online stores bisa jauh lebih murah.

Sesampainya di sana, gue tidak bisa menemukan model dompet yang sesuai harapan gue. Ada yang bagus warnanya, tapi jelek modelnya. Begitu juga sebaliknya. Gue sempat keluar dari toko, lalu gue masuk kembali, dan setelah menimbang agak lama, gue beli dompet pink yang gue sangat suka dengan warna dan ukuran dompetnya. Masalanya cuma satu: dompet ini modelnya agak terlalu sederhana. Cuma kelihatan sedikit berbeda dengan dompet Kate Spade keluaran lama. Tapi nggak papa. Sentuhan aksen pita dan deretan batu menyerupai permatanya itu terlihat cantik dan serasi dengan warna dompetnya.

Saking seringnya belanja di Kate Spade, gue tidak cek harga terlebih dulu. Gue langsung bayar ke kasir. Saat kasir menyebutkan harga, dalam hati gue cukup kaget juga. Sejak kapan harga dompet Kate Spade jadi semahal itu? Sekitar 40% lebih mahal dari biasanya. Karena batu-batuan yang menyerupai permata itu kah? Tapi apa boleh buat. Kasihan SPG-nya kalau sampai batal. Harganya masih masuk budget gue dan gue hanya kecewa karena untuk model sederhana seperti itu biasa dijual dengan harga lebih murah. Gue butuh banget dompet baru dan mungkin, memang ada yang istimewa dari dompet pink itu.

Dan ternyata, memang benar ada sesuatu yang istimewa dengan dompet baru gue itu. Belum sampai satu hari, gue langsung jatuh cinta dengan dompet gue sendiri. Gue senang lihatnya, senang tiap kali mengeluarkan dompet dari dalam tas. Gue sering bilang sama diri gue sendiri, “Aduh, cantiknya dompet gue!” Dan jika gue perhatikan, batu-batu di dompet gue itu memang membuat dompetnya terlihat lebih menawan, dan lebih mewah juga. Akhirnya gue bilang sama diri gue sendiri, “Ok, it is worth the price.”

Kejadian dompet itu lalu mengingatkan gue dengan sandal usang gue belasan tahun yang lalu. Waktu itu, ceritanya bokap beliin gue sandal baru sebagai hadiah. Awalnya, gue enggak suka sama sandal itu. Sandal gunung yang lebih cocok untuk anak cowok. Tapi karena enggak mau mengecewakan bokap, gue putuskan untuk mulai pakai sandal gunung yang ternyata nyaman banget dipakai itu! Sandal itu akhirnya jadi sandal favorit gue dan masih saja gue pakai saat mereka mulai tampak menua. Biasanya gue tipe orang yang saat usang sedikit saja akan langsung gue ganti dengan yang baru, tapi kali itu gue tetap saja suka memakai si sandal gunung untuk acara-acara kasual. Gue tetap pakai, sampai suatu hari teman gue meminta sandal itu dari gue. Dia tahu gue tipe orang yang suka memberikan barang gue yang sudah agak usang ke orang lain, dan waktu itu dia benar-benar butuh sandal “baru” untuk mengganti sandal dia yang sudah rusak berat. He needed them more than I did, so there I gave them anyway.

Apa kesamaan dari cerita dompet baru dan sandal tua gue itu? Kesamaannya adalah belajar menerima apa yang sudah kita miliki, karena bisa jadi, hal itu akan menjadi hal terbaik yang pernah kita miliki.

Some things will always seem too much or too little for us in the beginning, we will never know their real value to us until we give it a shot.

Akhir-akhir ini, gue harus melewati beberapa perubahan besar dalam hidup gue dan tidak semuanya terasa menyenangkan. Tulisan ini pun sebetulnya gue tulis untuk jadi reminder bahwa bisa jadi, perubahan ini juga akan jadi hal-hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup gue ini. Dijalani dulu, dengan ikhlas, baru nanti gue boleh menghakimi keputusan gue sendiri di kemudian hari.

Perfect life is impossible to find, but many things like my new wallet and old sandals have unexpectedly made my life way beyond awesome! Take a deep breath and here I am, starting my new life!

Cheers!

Riffa

My Belated Farewell Note to Lazada

Biasanya, gue akan segera menulis farewell note gue di blog ini segera setelah hari terakhir gue di perusahaan ybs. Kali ini lain ceritanya. Hari terakhir gue di Lazada sudah lewat 2 minggu yang lalu sebenarnya, tapi gue baru ingin menulis farewell note itu baru-baru ini saja. Kenapa demikian? Karena ternyata, ini perpisahan paling berat yang pernah gue rasakan!

Sebetulnya gue sudah mengajukan resign sejak pertengahan tahun lalu. Cukup waktu untuk handover, cari pengganti gue, dan yang enggak kalah penting, untuk menyiapkan perasaan gue sendiri. Saat gue resign, gue sedang merasa sangat nyaman dengan tim terakhir gue di Lazada. Bukan cuma cocok dalam hal pekerjaan, tapi juga dalam hal-hal di luar pekerjaan. Berkat mereka, hidup gue di kantor jadi terasa lebih menyenangkan. Gue jadi lebih banyak tertawa, dan gue juga jadi merasa punya tim yang bisa gue percaya. Banyak orang yang bersikap berbeda di depan dan di belakang gue, tapi tim gue itu, gue yakini bukan salah satunya. Dan percaya nggak percaya, tim seperti itu sekarang ini sangat sulit untuk didapatkan!

Minggu pertama setelah resign, sangat terasa ada yang hilang dari keseharian gue. Makan siang jadi terasa berbeda, makan Indomie juga jadi terasa berbeda (sudah bukan lagi makan Indomie malam-malam di pinggir jalan dekat kantor). Ingin cerita ini-itu tapi tidak ada teman di sebelah gue yang bisa langsung gue ajak bicara. Dan tentu saja, sudah tidak ada lagi teman-teman cowok yang celetukannya bisa bikin gue tertawa terbahak-bahak!

Di akhir minggu pertama, gue enggak bisa tidur. Gue kangen Lazada. Timnya, sudut-sudut kantornya, kegilaan pekerjaan gue sehari-harinya, gue bahkan juga kangen dengan kamar kost yang sudah gue tinggalkan segera setelah resign dari Lazada itu. Baru terasa, sangat-sangat terasa, semuanya enggak akan pernah lagi kembali sama.

Ternyata memang benar, kita tidak akan benar-benar tahu apa yang pernah kita miliki sampai kita benar-benar kehilangan. Awalnya gue pikir, gue hanya akan kehilangan tim terbaik yang pernah gue punya saja, tapi ternyata, gue juga kehilangan sebagian kecil dari diri gue sendiri.

Gue mulai kerja di Lazada saat bisnis marketplace-nya baru lahir hampir 4 tahun yang lalu. Banyak kenangan, pengalaman, dan pembelajaran yang tidak ternilai harganya. Di sana gue dipertemukan dengan teman-teman baru, di sana juga gue kehilangan beberapa teman lainnya, di sana gue pernah sampai jatuh cinta (ada sampai belasan cowok yang gue pernah naksir selama kerja di sana, hehehe), di sana gue pernah berprestasi, di sana juga gue pernah melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan. Jika diingat lagi, sulit dipercaya semua itu pernah terjadi hanya dalam waktu kurang dari 4 tahun lamanya!

Di awal minggu ke dua, gue mulai mempertimbangkan untuk kembali kerja di perusahaan lainnya (awalnya, gue berniat fokus mengurus bisnis gue sendiri saja). Melihat betapa antusiasnya orang-orang di calon kantor baru gue itu pada akhirnya membuat gue mulai bilang sama diri gue sendiri, “It’s time to move on.”

Lazada, sampai kapanpun, akan selalu menjadi cerita favorit gue. Gue akan selalu bangga pernah menjadi bagian dari cerita sukses perusahaan ini. Kemudian soal tim gue, entah kenapa, gue mulai meyakini, “It was not a goodbye between us!”

I often feel blessed with my life, and Lazada has been one of the greatest blessings in my entire life. Thanks to you, Lazada! Thanks for the memories and all those crazy days! You will be missed.

xoxo,

Riffa.

Micky, My Blind Cat

Berawal dari Instagram post orang lain yang bercerita tentang anjing yang kehilangan mata kanannya, gue jadi teringat dengan kucing gue yang buta kedua matanya sejak masih baru dilahirkan. Micky namanya.

Mata Micky sangat jelas terlihat aneh. Sangat sipit dan terlihat seperti tidak ada bola matanya. Waktu umur Micky baru beberapa bulan, gue pernah coba bawa Micky ke dokter hewan. Ternyata posisi mata Micky terbalik, harus dioperasi untuk diputar ke depan. Operasi besar yang cukup tinggi resikonya dan belum tentu terjamin keberhasilannya. Gue enggak tega membiarkan Micky naik ke meja operasi, dia cuma akan kesakitan dan belum tentu akan sembuh setelah operasinya.

Gue bawa pulang Micky ke rumah. Meski buta kedua matanya, Micky baik-baik saja. Micky sudah menghapal seluk-beluk rumah, dia bahkan bisa berkeliaran bolak-balik ke rumah seberang yang tidak lain rumah salah satu adik kandung gue. Micky tahu di mana letak pagar dan tangga, dia tahu kapan harus berhenti dan bersiap untuk melompat naik. Micky juga dapat mengenali suara kendaraan bermotor, dia akan berhenti saat mendengar suara mesin di sekitar dia. Micky memang buta, tapi dia bisa hidup baik dengan indera pendengarannya. Micky juga masih bisa kawin, jangan tanya gue gimana caranya, hehehehe.

Awalnya, gue sering sedih saat melihat Micky. Anak-anak tetangga sering meneriaki Micky “si kucing buta” sambil menunjuk-nunjuk Micky yang sedang duduk di teras rumah. Micky juga bukan kucing kesayangan orang rumah, dia kalah lucu dengan kucing-kucing kami yang lainnya. Micky juga sering mengalah saat berebut makanan dengan kucing-kucing lain, gue sering lihat dia makan makanan sisa kucing-kucing lainnya itu.

Saat gue pindah dari rumah ortu untuk tinggal sendiri di rumah kost, gue sering menitipkan pesan khusus ke keluarga gue untuk tidak lupa memberikan makanan terpisah buat Micky, sama seperti yang biasa gue lakukan setiap harinya. Setiap kali gue makan ayam atau ikan, gue juga sisakan sedikit dagingnya lalu gue akan kasih sisa makanan gue itu hanya untuk Micky saja (gue enggak tega jika hanya kasih dia tulangnya saja, gizinya jadi kurang banyak). Kadang, gue duduk di sebelah Micky sampai dia menghabiskan makanannya, hanya untuk memastikan makanan dia tidak direbut kucing-kucing lainnya.

Mungkin memang aneh, gue malah lebih sayang sama kucing jelek yang buta matanya (Micky juga terlihat lebih kotor dibanding kucing lain di rumah). Orang lain mungkin akan jijik. Padahal sebetulnya, Micky kucing yang sehat, dia hanya buta dan agak kotor saja (makin gampang terlihat kotor karena bulunya berwarna putih). Micky memang bukan kucing yang menggemaskan, tapi tiap kali melihat dia sedang makan lahap, gue sering berpikir, “Micky memang buta, tapi dia akan jadi cahaya dalam masa-masa tergelap dalam hidup gue.”

Mungkin terdengar lebay, mellow, dan tidak masuk akal, tapi memang benar begitu kenyataannya. Melihat Micky yang masih lincah dan senang bermain sering membuat gue merasa bersemangat saat hidup gue sedang dirundung banyak masalah. Micky seperti mengingatkan gue untuk tetap menikmati hidup terlepas segala kekurangan dan rintangan yang menghambat gerak langkah gue. Selain itu, melihat Micky makan lahap selalu membuat gue merasa lebih baik. It just feels good knowing that I’m doing something good even if it’s just for a blind old cat.

Micky tidak bisa melihat, tapi Micky berhasil hidup sampai tua. Hidup dengan baik, dengan kelincahan dan kemanjaannya. Hanya saja sayangnya, gue tidak bisa ingat kapan terakhir kalinya gue melihat Micky. Suatu waktu, dia menghilang begitu saja. Micky tidak pernah lagi ada tiap kali gue pulang ke rumah orang tua. Dengan sendirinya gue tahu, Micky sudah enggak ada. Micky tidak pernah bisa pergi jauh dari rumah, jadi jika dia sudah tidak terlihat, berarti dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Micky sudah punya rumah baru, Micky sudah tidak lagi berjuang dengan kebutaannya.

Sudah lama gue tidak menangisi kucing gue yang sudah pergi, tapi menulis ini ternyata bikin gue jadi sedih sendiri. Air mata gue menetes sendiri. Jadi semakin terasa bahwa kini Micky sudah pergi. Tidak ada lagi kucing yang mesti gue tunggu sampai habis semua makanannya. Tidak ada lagi kucing yang membuat gue ngerasa cemas tiap kali melihat dia berjalan zig-zag saat menyeberang jalan menuju ke rumah. Tidak ada lagi Micky yang membuat gue merasa bersemangat hanya dengan melihat kelincahannya saja.

Membesarkan hewan peliharaan membuat gue belajar bertanggung jawab, dan membesarkan Micky secara khusus mengajarkan gue belas kasihan. Kemudian yang tidak kalah penting; memelihara Micky mengajari gue untuk untuk menerima ketidaksempurnaan, menyayangi tanpa syarat, dan mensyukuri hidup ini lengkap dengan segala kekurangan di dalamnya.

Goodbye Micky, you know you were loved, and will always be loved.

Forever in love with you,

Riffa.

I Never Forever Despise My Ex, I Never Have, I Never Will

I can’t stay forever mad with the people I used to care about. It can take a year, or maybe, it can take a decade, but I will eventually forgive them for what went wrong back in the past. Be it in personal or work relationship, no matter how bad it was, somehow I always found my way to have them back in my life. It might not be as close as we once were, but at least, they are not my forever enemy.

Why would I want to do that? Because they used to mean a lot to me and whatever they did wrong could never change the good memories that we used to have.

For starter, at some point, I always manage to be friends with my ex crush. Yes, they broke my heart, but in most cases, I used to broke their hearts too. It’s actually my loss if I decided to get rid of the beautiful memories I used to share with them. I would never forget the way they made me smile, the butterflies in my belly, and all the little things they did to comfort me, and most importantly, to make me feel loved. Once I fall in love with somebody, they will be forever mean something to me. I may never feel the same way again, but they will never be a stranger and I will always have a tiny place for them inside my heart. Once in my lifetime, they were my fairy tale, and they will always be my favorite stories to tell to my grandkids.

I will also stop hating the bosses who made me want to leave the companies I used to work at (I’m not saying I hate all my former bosses though). Back to the times I worked with them, each and everyone of them had contribution to my career development. They challenged me, they gave me opportunities I was unsure if I was capable of, and of course, they rewarded me even more than I thought I deserved sometimes. I am not who I am without my former bosses, and I’m thankful for that.

And finally, sooner or later, I will forgive ex best friends who betrayed me. I used to hope I could grow old with them, as people always say; best friends forever. Seeing my hopes were torn apart couldn’t be more heartbreaking to me. I’m already used to have envy people trying to ruin my happiness, but I never expect to watch my best friends doing the same thing to me. But still, there were some reasons why I called them my best friends. They helped me in the lowest points of my life, they woke up in the middle of the nights just to hear about my bad days, they were once the people I chose to be my family.

I’ve come to learn that my Mr. Wrongs were actually learning to become a Mr. Right (even if it’s most likely for someone else but me). They had to make those mistakes so that they knew what they should do to become a better man.

My horrible bosses were not pure evils or whatsoever. The crazy pressures they had were just beyond their capacities as human back then. If they are good enough, someday they’ll come around and they’ll eventually learn how to become a better leader for their teams.

Finally my former best friends… from all people in this world, I know better how kind and how good they actually could become. Hard times in life changed them, yet whatever their pain and struggle was, I sincerely hope they will soon find a light at the end of the tunnel. And if they will ever find themselves guilty, more important than my forgiveness to them is actually their forgiveness to themselves. That way, they will learn how to stay kind even when this life gets rough.

Again, this total forgiveness may take ages for me to get there. It’s not the forgiveness itself that is hard to be done; it’s to forget the way they once made me feel. Not to mention how hard it is to heal a broken trust. It’s definitely not easy, but doable.

Everyone makes mistakes, and so do I. And at the same time, everyone needs time to heal, and so do I.

2017 in a Review

Melewati tahun 2017 itu rasanya campur aduk. “The best feeling” dan “the worst feeling” pernah gue rasakan dalam satu tahun yang sama, betul-betul naik-turun seperti mengendarai roller coaster!

Awalnya gue pikir, tahun 2017 hanya “sekedar” tahun gue resign dari Lazada dan memulai bisnis gue sendiri. Atau jika mau ditambahkan, tahun 2017 adalah tahun di mana gue akhirnya bisa move on dari sakit hati terburuk yang pernah gue rasakan seumur hidup gue ini. Tapi ternyata, 2017 menyimpan pelajaran yang jauh lebih penting ketimbang hal-hal yang baru saja gue sebutkan sebelumnya.

Pada malam perpisahan gue dengan teman-teman di Lazada akhir minggu lalu, salah satu dari mereka bilang bahwa setahun belakangan ini gue terlihat lebih bahagia jika dibandingkan satu-dua tahun sebelumnya. Baru saat itulah gue menyadari pelajaran paling penting yang gue dapatkan pada tahun 2017 yang baru saja berlalu: berhasil mengembalikan kebahagiaan dalam hidup gue sendiri.

Sebetulnya, tahun 2017 juga tidak kalah beratnya. Ada masalah-masalah yang membuat gue sampai bertanya-tanya, “Kenapa bisa sampai sebegininya ya? Emangnya gue pernah salah apa?”

Hanya saja bedanya, gue mulai bisa menerima kenyataan bahwa akan selalu ada dan ada lagi orang-orang yang letting me down. Orang yang baik untuk gue saat ini belum tentu tetap baik untuk gue di masa yang akan datang. Gue tidak lagi mengharapkan siapapun untuk tetap tinggal dalam hidup gue selama-lamanya. Meski terdengar aneh, saat gue mulai memiliki pola pikir seperti itu, saat itu pula hidup gue mulai kembali terasa membahagiakan.

Kenapa bisa begitu?

Karena sekarang, ketika ada lagi orang terdekat yang membuat gue luar biasa kecewa, gue sudah lebih siap. Gue anggap itu sebagai “seleksi alam”. Gue akan langsung move on, karena bagaimanapun, orang yang betulan peduli akan berpikir seribu kali sebelum melakukan hal-hal yang mereka tahu berpotensi bikin gue jadi sakit hati.

Selain itu, tahun 2017 juga sudah jadi tahun yang sangat menyenangkan buat gue. Lebih banyak senyum dan tawa yang menghiasi wajah gue ini. Lebih banyak mimpi dan harapan yang gue kejar untuk masa depan gue nanti. Lebih banyak orang yang bisa membuat gue merasa nyaman (tim terakhir gue di Lazada betul-betul a dream team!). Dan yang paling penting, lebih banyak perubahan positif yang gue rasakan dalam diri gue sendiri.

Lalu bagaimana dengan 2018? Apa harapan gue untuk tahun baru ini? Anehnya nyaris enggak ada resolusi tahun baru seperti biasanya. Kali ini buat gue, asalkan gue bisa melewati tahun 2018 dan tahun-tahun berikutnya minimal sama baiknya dengan tahun 2017, maka itu saja sudah cukup.

2017, thanks for the crazy ride! 2018, let’s rock!

Sometimes, the Kindest Person Leaves the Greatest Pain

Many years ago, I had a colleague and also a good friend who was well known for her kindness. She was very generous, friendly, compassionate, and cheerful. It was all the reasons why I was so comfort to be close to her.

And then someday, we had a big problem at work. She did a terrible mistake that could jeopardize her career. I had no heart to let her down, not after all the hard works she had put into. Not to mention that my team’s mistake was my mistake too. So there I took the bullet. I was very sure that I would be able to handle it way better than her. She would be devastated if she had to pay for her mistakes herself, she wouldn’t be able to cope with it.

I was right that I would be just fine. It was hurtful to me too, but I was fine. But then just a little while after that, somebody came to my desk and brought up that old issue to me and my colleague I protected. As usual, my colleague became pale everytime somebody questioned that one problem she created. I could see a strong fear on her face. So there I fought for her, again, until that other person gave up and walked away.

After that other person left the room, this girl I was fighting for surprisingly told me this, “If I were him (that other person who just left the room), I would also do the same.” She said it as if it was my fault to stand up for her! What was even worse, she started to try so hard to make friends with the people who attacked me for her mistakes. Maybe, she was just trying to be nice like she always did, but really? Didn’t she realize what she did only made me look like I was the bad guy?

As she left me to take care of the mess she made all by myself, I finally realized this girl might be kind, but she was not loyal to anyone. She always wanted to play safe, she would never take anyone’s side no matter how much she owed them, and now if I think about it again, her kindness was actually a shield to protect her interest. She tried so hard to be likeable so that she would always be protected.

Learning from my past experience with this one former friend, I started to be able to recognize similar traits on the people around me.

In the beginning, they look like a pure angel. They are kind, always help others, always see the very best of everyone, and they barely speak anything ugly about anyone else. They always try to look for the bright side of everything and sometimes, it can make us feel like they take side of the strangers rather than our side. With that being said, their kindness will make us choose to ignore that feeling thinking that maybe, they only try to help us to see everything positively.

They look perfect, until this life starts to get rough and they start to reveal their true colors.

This kind of person will never fight back. Never ever hope they will try to protect you because they won’t ever risk themselves for someone else. Instead, they will hide behind someone else’s back looking for protection. And then they will just stay quiet and watch the battle from their safe place until it ends.

They are kind, but not kind enough to stand up for us. Not helpful enough to support us when we need it most. It’s all merely because they refuse to fight their very own fear. They know they can help, but they prefer to stand still or even to run away. And they do not hesitate to make friends with enemies just to protect themselves. They do not hesitate to leave us bleed alone in the battlefield either.

It takes times to learn someone else’s true color. I might sound cynical, but it’s now hard for me to trust someone who seems too kind to be true. Someone who is averagely kind is often better than someone who seems overly kind. I’d rather be careful with the people who try too hard to please me in our first met. Maybe, they only need to use me as their shield. A shield they will leave behind anytime I’m no longer favorable to them.

Being kind is not about giving out some delicious snacks for everyone, telling good jokes to make people laugh, nor about asking how someone else’s weekend was going; it’s about doing the right things even when it’s no longer easy to do it right. And a good person will definitely take sides and give a full support anytime it’s necessary. A real good person doesn’t run and hide to play safe, let alone betraying the one who takes the hit for them.

I’ve come to learn that a real angel doesn’t always look like an angel. They might not always put a pretty smile on their faces, they don’t always try to please everyone they meet, and they don’t always do the sweet talk and baby nearly everyone they know. As always being said, don’t judge a book by its cover, you’ll never know how your judgment could do you wrong.

I Love It when Life Gets Easier for Everyone

Entah kenapa, sejak dulu sampai sekarang, saya tipe orang yang bisa sangat excited saat melihat orang lain sedang bahagia dengan hidupnya.

Contohnya, saya selalu merasa terharu, kadang sampai terasa sedikit merinding, tiap kali melihat teman saya baru memulai bisnisnya sendiri. Ada rasa senang saat melihat online shop milik mereka, misalnya. Dalam hati, saya berpikiran, “Wow, they finally did this!”

Contoh lainnya, saya masih ingat betapa leganya saya saat teman sekantor yang saya hanya kenal sepintas saja akhirnya berhasil melahirkan anak pertamanya dengan selamat setelah sebelumnya beberapa kali mengalami keguguran.

Saya juga selalu excited saat teman-teman terdekat saya akan getting married. Saya bisa ikutan heboh cari-cari vendor untuk pernikahan mereka. Dan ya, saya juga tipe orang yang ikutan meneteskan air mata saat melihat akad nikah orang-orang terdekat saya (biasanya, saya terharu saat bagian sungkeman).

Kemudian malam ini, saya baru saja selesai nonton satu episode terbaik dari Crazy Ex-Girlfriend. Banyak hal baik dalam episode ini yang intinya bercerita tentang kehidupan para pemainnya yang akhirnya mulai berangsur baik.

Mulai dari Rebecca yang perlahan pulih dari penyakit psikologisnya.

Paula yang akhirnya mendapatkan pengakuan dari mantan pacarnya soal betapa dia menyesal dulu pernah meninggalkan Paula (I think all girls would crave to hear something like this).

Dan Nathaniel yang kesabarannya mendekati Rebecca akhirnya mulai membuah hasil.

I know that there is no such a thing like a happy ending in real life in a way we will always have new problems, over and over again, as if it never ends. But knowing that things will get better is like seeing the light at the end of a tunnel, isn’t it?

Pada akhirnya saya menyadari… salah satu alasan kenapa saya selalu ikut bahagia saat orang lain sedang berbahagia adalah karena saya seperti melihat sebuah harapan. Masalah orang lain belum tentu sama persis dengan masalah saya, tapi setidaknya, penyelesaian masalah mereka merupakan suatu harapan bahwa apapun masalahnya, pasti akan ada jalan keluarnya.

When life gets rough, believe me, it will eventually get easier. Have some faith and never ever give up on yourself!

Wish you have a wonderful weekend!

Real Love is Tough, Very Tough

Did you know? Real love is tough. It’s not always pretty. It even looks ugly, sometimes. It doesn’t always please you, it doesn’t always make you feel completely happy, it’s a bumpy road, it’s definitely not as easy as a fairy tale.

Someone who loves you, cares about you, will tell you the truth. An ugly truth, perhaps. It’s not because they don’t love you anymore, it’s just because they want what’s best for you and your life. And when they truly care about you, they tell that truth right in front of you. They won’t backstab you, they will always be bold enough to be honest with you.

Someone who cares about you will not make everything always easy for you. They want you to earn it. They don’t want to spoil you the whole times because they don’t want you to be irresponsible with your own life. They want you to grow up as a person inside.

Someone who sincerely loves you will never give up on you. They will do everything in their power to keep you in their life, and it includes all the fights that have made you feel uncomfortable with the relationship itself. If they just let it fall apart, it simply means they just don’t want to waste their precious times on you.

This theory is one theory that I believe is always right. Be it romantic relationship, friendship, and families. If they care about you, they will take a risk to tell you the truth, and they will take an extra miles just to help you to become a better person than you were yesterday.

Again I tell you here, if your lover never pisses you off, most likely, you haven’t dated them long enough. If your friends only tell all the right things that make you happy, you guys aren’t close enough. And if your parents have stopped lecturing you, then most likely, they have finally given up on you.

Believe me, real love is tough. Nobody is perfect and neither are you, and the people who love you the most are the people who will tell you your imperfections a lot more often than everyone else. If you keep hating them for telling you the truth, you are preventing yourself from being loved. What’s even worse, you’re preventing yourself from being a lovable person who gets better from times to times.

Find someone who is bold enough, who cares enough, to tell you the truth and to fight for that truth, for you.