Micky, My Blind Cat

Berawal dari Instagram post orang lain yang bercerita tentang anjing yang kehilangan mata kanannya, gue jadi teringat dengan kucing gue yang buta kedua matanya sejak masih baru dilahirkan. Micky namanya.

Mata Micky sangat jelas terlihat aneh. Sangat sipit dan terlihat seperti tidak ada bola matanya. Waktu umur Micky baru beberapa bulan, gue pernah coba bawa Micky ke dokter hewan. Ternyata posisi mata Micky terbalik, harus dioperasi untuk diputar ke depan. Operasi besar yang cukup tinggi resikonya dan belum tentu terjamin keberhasilannya. Gue enggak tega membiarkan Micky naik ke meja operasi, dia cuma akan kesakitan dan belum tentu akan sembuh setelah operasinya.

Gue bawa pulang Micky ke rumah. Meski buta kedua matanya, Micky baik-baik saja. Micky sudah menghapal seluk-beluk rumah, dia bahkan bisa berkeliaran bolak-balik ke rumah seberang yang tidak lain rumah salah satu adik kandung gue. Micky tahu di mana letak pagar dan tangga, dia tahu kapan harus berhenti dan bersiap untuk melompat naik. Micky juga dapat mengenali suara kendaraan bermotor, dia akan berhenti saat mendengar suara mesin di sekitar dia. Micky memang buta, tapi dia bisa hidup baik dengan indera pendengarannya. Micky juga masih bisa kawin, jangan tanya gue gimana caranya, hehehehe.

Awalnya, gue sering sedih saat melihat Micky. Anak-anak tetangga sering meneriaki Micky “si kucing buta” sambil menunjuk-nunjuk Micky yang sedang duduk di teras rumah. Micky juga bukan kucing kesayangan orang rumah, dia kalah lucu dengan kucing-kucing kami yang lainnya. Micky juga sering mengalah saat berebut makanan dengan kucing-kucing lain, gue sering lihat dia makan makanan sisa kucing-kucing lainnya itu.

Saat gue pindah dari rumah ortu untuk tinggal sendiri di rumah kost, gue sering menitipkan pesan khusus ke keluarga gue untuk tidak lupa memberikan makanan terpisah buat Micky, sama seperti yang biasa gue lakukan setiap harinya. Setiap kali gue makan ayam atau ikan, gue juga sisakan sedikit dagingnya lalu gue akan kasih sisa makanan gue itu hanya untuk Micky saja (gue enggak tega jika hanya kasih dia tulangnya saja, gizinya jadi kurang banyak). Kadang, gue duduk di sebelah Micky sampai dia menghabiskan makanannya, hanya untuk memastikan makanan dia tidak direbut kucing-kucing lainnya.

Mungkin memang aneh, gue malah lebih sayang sama kucing jelek yang buta matanya (Micky juga terlihat lebih kotor dibanding kucing lain di rumah). Orang lain mungkin akan jijik. Padahal sebetulnya, Micky kucing yang sehat, dia hanya buta dan agak kotor saja (makin gampang terlihat kotor karena bulunya berwarna putih). Micky memang bukan kucing yang menggemaskan, tapi tiap kali melihat dia sedang makan lahap, gue sering berpikir, “Micky memang buta, tapi dia akan jadi cahaya dalam masa-masa tergelap dalam hidup gue.”

Mungkin terdengar lebay, mellow, dan tidak masuk akal, tapi memang benar begitu kenyataannya. Melihat Micky yang masih lincah dan senang bermain sering membuat gue merasa bersemangat saat hidup gue sedang dirundung banyak masalah. Micky seperti mengingatkan gue untuk tetap menikmati hidup terlepas segala kekurangan dan rintangan yang menghambat gerak langkah gue. Selain itu, melihat Micky makan lahap selalu membuat gue merasa lebih baik. It just feels good knowing that I’m doing something good even if it’s just for a blind old cat.

Micky tidak bisa melihat, tapi Micky berhasil hidup sampai tua. Hidup dengan baik, dengan kelincahan dan kemanjaannya. Hanya saja sayangnya, gue tidak bisa ingat kapan terakhir kalinya gue melihat Micky. Suatu waktu, dia menghilang begitu saja. Micky tidak pernah lagi ada tiap kali gue pulang ke rumah orang tua. Dengan sendirinya gue tahu, Micky sudah enggak ada. Micky tidak pernah bisa pergi jauh dari rumah, jadi jika dia sudah tidak terlihat, berarti dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Micky sudah punya rumah baru, Micky sudah tidak lagi berjuang dengan kebutaannya.

Sudah lama gue tidak menangisi kucing gue yang sudah pergi, tapi menulis ini ternyata bikin gue jadi sedih sendiri. Air mata gue menetes sendiri. Jadi semakin terasa bahwa kini Micky sudah pergi. Tidak ada lagi kucing yang mesti gue tunggu sampai habis semua makanannya. Tidak ada lagi kucing yang membuat gue ngerasa cemas tiap kali melihat dia berjalan zig-zag saat menyeberang jalan menuju ke rumah. Tidak ada lagi Micky yang membuat gue merasa bersemangat hanya dengan melihat kelincahannya saja.

Membesarkan hewan peliharaan membuat gue belajar bertanggung jawab, dan membesarkan Micky secara khusus mengajarkan gue belas kasihan. Kemudian yang tidak kalah penting; memelihara Micky mengajari gue untuk untuk menerima ketidaksempurnaan, menyayangi tanpa syarat, dan mensyukuri hidup ini lengkap dengan segala kekurangan di dalamnya.

Goodbye Micky, you know you were loved, and will always be loved.

Forever in love with you,

Riffa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s