Lesson from a New Wallet and Old Pair of Shoes

Ceritanya gue beli dompet baru untuk menggantikan dompet lama yang sudah usang. Gue lalu pergi ke Kate Spade Kokas dengan harapan akan menemukan dompet model terbaru yang belum dijual oleh online shops di Instagram atau Tokopedia. Kalau gue cuma mau beli dompet Kate Spade model lama (yang cuma polos-polos aja), harga di online stores bisa jauh lebih murah.

Sesampainya di sana, gue tidak bisa menemukan model dompet yang sesuai harapan gue. Ada yang bagus warnanya, tapi jelek modelnya. Begitu juga sebaliknya. Gue sempat keluar dari toko, lalu gue masuk kembali, dan setelah menimbang agak lama, gue beli dompet pink yang gue sangat suka dengan warna dan ukuran dompetnya. Masalanya cuma satu: dompet ini modelnya agak terlalu sederhana. Cuma kelihatan sedikit berbeda dengan dompet Kate Spade keluaran lama. Tapi nggak papa. Sentuhan aksen pita dan deretan batu menyerupai permatanya itu terlihat cantik dan serasi dengan warna dompetnya.

Saking seringnya belanja di Kate Spade, gue tidak cek harga terlebih dulu. Gue langsung bayar ke kasir. Saat kasir menyebutkan harga, dalam hati gue cukup kaget juga. Sejak kapan harga dompet Kate Spade jadi semahal itu? Sekitar 40% lebih mahal dari biasanya. Karena batu-batuan yang menyerupai permata itu kah? Tapi apa boleh buat. Kasihan SPG-nya kalau sampai batal. Harganya masih masuk budget gue dan gue hanya kecewa karena untuk model sederhana seperti itu biasa dijual dengan harga lebih murah. Gue butuh banget dompet baru dan mungkin, memang ada yang istimewa dari dompet pink itu.

Dan ternyata, memang benar ada sesuatu yang istimewa dengan dompet baru gue itu. Belum sampai satu hari, gue langsung jatuh cinta dengan dompet gue sendiri. Gue senang lihatnya, senang tiap kali mengeluarkan dompet dari dalam tas. Gue sering bilang sama diri gue sendiri, “Aduh, cantiknya dompet gue!” Dan jika gue perhatikan, batu-batu di dompet gue itu memang membuat dompetnya terlihat lebih menawan, dan lebih mewah juga. Akhirnya gue bilang sama diri gue sendiri, “Ok, it is worth the price.”

Kejadian dompet itu lalu mengingatkan gue dengan sandal usang gue belasan tahun yang lalu. Waktu itu, ceritanya bokap beliin gue sandal baru sebagai hadiah. Awalnya, gue enggak suka sama sandal itu. Sandal gunung yang lebih cocok untuk anak cowok. Tapi karena enggak mau mengecewakan bokap, gue putuskan untuk mulai pakai sandal gunung yang ternyata nyaman banget dipakai itu! Sandal itu akhirnya jadi sandal favorit gue dan masih saja gue pakai saat mereka mulai tampak menua. Biasanya gue tipe orang yang saat usang sedikit saja akan langsung gue ganti dengan yang baru, tapi kali itu gue tetap saja suka memakai si sandal gunung untuk acara-acara kasual. Gue tetap pakai, sampai suatu hari teman gue meminta sandal itu dari gue. Dia tahu gue tipe orang yang suka memberikan barang gue yang sudah agak usang ke orang lain, dan waktu itu dia benar-benar butuh sandal “baru” untuk mengganti sandal dia yang sudah rusak berat. He needed them more than I did, so there I gave them anyway.

Apa kesamaan dari cerita dompet baru dan sandal tua gue itu? Kesamaannya adalah belajar menerima apa yang sudah kita miliki, karena bisa jadi, hal itu akan menjadi hal terbaik yang pernah kita miliki.

Some things will always seem too much or too little for us in the beginning, we will never know their real value to us until we give it a shot.

Akhir-akhir ini, gue harus melewati beberapa perubahan besar dalam hidup gue dan tidak semuanya terasa menyenangkan. Tulisan ini pun sebetulnya gue tulis untuk jadi reminder bahwa bisa jadi, perubahan ini juga akan jadi hal-hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup gue ini. Dijalani dulu, dengan ikhlas, baru nanti gue boleh menghakimi keputusan gue sendiri di kemudian hari.

Perfect life is impossible to find, but many things like my new wallet and old sandals have unexpectedly made my life way beyond awesome! Take a deep breath and here I am, starting my new life!

Cheers!

Riffa

My Belated Farewell Note to Lazada

Biasanya, gue akan segera menulis farewell note gue di blog ini segera setelah hari terakhir gue di perusahaan ybs. Kali ini lain ceritanya. Hari terakhir gue di Lazada sudah lewat 2 minggu yang lalu sebenarnya, tapi gue baru ingin menulis farewell note itu baru-baru ini saja. Kenapa demikian? Karena ternyata, ini perpisahan paling berat yang pernah gue rasakan!

Sebetulnya gue sudah mengajukan resign sejak pertengahan tahun lalu. Cukup waktu untuk handover, cari pengganti gue, dan yang enggak kalah penting, untuk menyiapkan perasaan gue sendiri. Saat gue resign, gue sedang merasa sangat nyaman dengan tim terakhir gue di Lazada. Bukan cuma cocok dalam hal pekerjaan, tapi juga dalam hal-hal di luar pekerjaan. Berkat mereka, hidup gue di kantor jadi terasa lebih menyenangkan. Gue jadi lebih banyak tertawa, dan gue juga jadi merasa punya tim yang bisa gue percaya. Banyak orang yang bersikap berbeda di depan dan di belakang gue, tapi tim gue itu, gue yakini bukan salah satunya. Dan percaya nggak percaya, tim seperti itu sekarang ini sangat sulit untuk didapatkan!

Minggu pertama setelah resign, sangat terasa ada yang hilang dari keseharian gue. Makan siang jadi terasa berbeda, makan Indomie juga jadi terasa berbeda (sudah bukan lagi makan Indomie malam-malam di pinggir jalan dekat kantor). Ingin cerita ini-itu tapi tidak ada teman di sebelah gue yang bisa langsung gue ajak bicara. Dan tentu saja, sudah tidak ada lagi teman-teman cowok yang celetukannya bisa bikin gue tertawa terbahak-bahak!

Di akhir minggu pertama, gue enggak bisa tidur. Gue kangen Lazada. Timnya, sudut-sudut kantornya, kegilaan pekerjaan gue sehari-harinya, gue bahkan juga kangen dengan kamar kost yang sudah gue tinggalkan segera setelah resign dari Lazada itu. Baru terasa, sangat-sangat terasa, semuanya enggak akan pernah lagi kembali sama.

Ternyata memang benar, kita tidak akan benar-benar tahu apa yang pernah kita miliki sampai kita benar-benar kehilangan. Awalnya gue pikir, gue hanya akan kehilangan tim terbaik yang pernah gue punya saja, tapi ternyata, gue juga kehilangan sebagian kecil dari diri gue sendiri.

Gue mulai kerja di Lazada saat bisnis marketplace-nya baru lahir hampir 4 tahun yang lalu. Banyak kenangan, pengalaman, dan pembelajaran yang tidak ternilai harganya. Di sana gue dipertemukan dengan teman-teman baru, di sana juga gue kehilangan beberapa teman lainnya, di sana gue pernah sampai jatuh cinta (ada sampai belasan cowok yang gue pernah naksir selama kerja di sana, hehehe), di sana gue pernah berprestasi, di sana juga gue pernah melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan. Jika diingat lagi, sulit dipercaya semua itu pernah terjadi hanya dalam waktu kurang dari 4 tahun lamanya!

Di awal minggu ke dua, gue mulai mempertimbangkan untuk kembali kerja di perusahaan lainnya (awalnya, gue berniat fokus mengurus bisnis gue sendiri saja). Melihat betapa antusiasnya orang-orang di calon kantor baru gue itu pada akhirnya membuat gue mulai bilang sama diri gue sendiri, “It’s time to move on.”

Lazada, sampai kapanpun, akan selalu menjadi cerita favorit gue. Gue akan selalu bangga pernah menjadi bagian dari cerita sukses perusahaan ini. Kemudian soal tim gue, entah kenapa, gue mulai meyakini, “It was not a goodbye between us!”

I often feel blessed with my life, and Lazada has been one of the greatest blessings in my entire life. Thanks to you, Lazada! Thanks for the memories and all those crazy days! You will be missed.

xoxo,

Riffa.