10 Things I Learn From Life Recently

 

Beberapa bulan terakhir di tahun 2010, ada banyak banget masalah yang menimpa gue. Mulai dari masalah pekerjaan, konflik keluarga, sakit-sakitan, sampe patah hati dalam waktu yang hampir bersamaan. Gue sendiri sampe bingung… masalah yang mana yang paling bikin gue down saat itu? Syukurlah setelah pergantian tahun, keadaan mulai membaik sedikit demi sedikit. Bukan berarti gue udah berhasil menuntaskan semua masalah gue itu… Ada beberapa yang udah benar-benar tuntas, ada yang baru sekedar menemukan titik terang, tapi ada juga yang meskipun belum ada kejelasan, seenggaknya gue udah mulai terbiasa dan udah bisa nerima kenyataan yang nggak menyenangkan itu.

Selama beberapa bulan belakangan itu pula gue jadi banyak mengevaluasi diri gue sendiri. Selain itu, gue juga jadi lebih rajin mengamati orang-orang di sekitar gue. Cuma untuk memastikan… yang hidupnya banyak masalah itu bukan cuma doang kan? Hehehehe. Sehingga pada akhirnya, gue bukan cuma menemukan something to learn from my problems, tapi juga something to learn from others’ life.

And here are ten things I have just learned recently. Semoga bisa jadi input buat teman-teman semua…

1.   Jangan takut menganggap seseorang sebagai teman karib kita. Asalkan ada rasa nyaman, rasa percaya untuk berbagi, dan rasa gembira saat menghabiskan waktu dengan mereka, maka mereka adalah teman karib kita. Nggak perlu takut jangan-jangan mereka enggak menganggap kita hal yang sama. Terbiasa membatasi diri dengan orang lain cuma bikin kita end up with nobody.  Although in fact they don’t think so about us, then that is their loss, not ours;

2.   We don’t know how much we love somebody until they’re gone. Makanya mulai sekarang, gue ingin mengurangi kebiasaan push people away saat gue sedang merasa insecure. Ini juga sama… terbiasa take people for granted cuma bakal bikin kita end up with nobody. Akan tetapi pada akhirnya, the people who’s gonna stay with us forever are the ones who keep coming back no matter how hard we try to push them away;

3.   Love ourselves first before we love someone else. Tanamkan sama diri kita bahwa kita berhak mendapatkan seseorang yang memperlakukan kita dengan baik, yang menjadikan kita prioritas (dan BUKAN ban serep), yang rela menempuh resiko apapun, dan bersedia mengambil semua kesempatan yang ada hanya untuk bisa ambil bagian dalam hidup kita. Terlalu lama mempertahankan orang yang tidak ingin tinggal dalam hidup kita cuma buang-buang waktu dan tenaga kita aja;

4.   Sebaliknya, pertahankan sekuat tenaga orang-orang yang dengan tulus ingin terus ambil bagian dalam hidup kita. If we have a fight with them, it’s ok to have some break as long as we always try to find a way to come back;

5.   Ingat baik-baik bahwa saat kita mencampakkan orang lain, maka saat itu kita sama saja sedang mengajarkan mereka bagaimana hidup bahagia meski tanpa kehadiran kita. Jangan kaget dan kecewa kalo suatu hari kita ketemu lagi sama mereka, ternyata hidup mereka tetap baik-baik saja meskipun sudah kita tinggalkan;

6.   Saat mengambil keputusan tentang sesuatu yang berhubungan dengan orang lain, maka pertimbangkan juga perasaan orang itu. Begitu pula dalam mempertimbangkan timing. Right time buat kita belum tentu right time buat mereka. Be wise;

7.   Seringkali, kenyataan itu tidak terlihat dan tidak terdengar. Makanya jangan cuma menilai berdasarkan apa yang kita lihat, dan jangan hanya berpegangan terhadap apa yang kita dengar. Akan tetapi sebaliknya, saat berhadapan dengan orang lain, it’s gonna be better to show people who we are and tell them what we feel. Dengan begitu, hidup pasti akan jadi jauh lebih mudah;

8.   Kita tidak perlu mendapatkan semua yang kita inginkan hanya untuk merasa bahagia. Kebahagiaan sejati itu bukan kebahagiaan saat segalanya berjalan sempurna, melainkan tetap bahagia meskipun banyak masalah yang sedang menimpa kita;

9.   Ada beberapa prinsip yang harus dipertahankan setengah mati. Akan tetapi, ada pula prinsip yang harus rela kita anulir seiring berjalannya waktu. Bukan berarti tidak berpendirian… hanya saja kadang-kadang, memang seperti itulah proses pendewasaan menuju pribadi yang lebih baik; dan

10. Sekuat apapun kita berusaha untuk memperbaiki diri, kita tetap tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Maka carilah orang-orang yang bisa menerima kita dengan segala ketidaksempurnaan itu, dan sayangi orang lain dengan segala ketidaksempurnaan mereka.

 

7 Alasan Kenapa Gue Suka Kerja Kantoran

 

Dua hari yang lalu, sempat terlintas di benak gue buat berhenti kerja kantoran lalu banting setir menjadi penulis penuh waktu. Dalam bayangan gue, dengan begitu gue bisa konsen nyelesain novel sekaligus meningkatkan kualitas blog gue ini. Tapi banting setir kayak gitu bukannya tanpa resiko. Gue harus rela kehilangan fix income dengan segala tunjangannya. Kemudian setelah gue pikir-pikir lagi, ternyata, adanya fix income dan tunjangan kantor bukan alasan utama kenapa gue memilih kerja kantoran. Based on hasil pemikiran gue itu, berikut ini daftar hal yang gue sukai dari kerja kantoran:

1.   Gue ingin mengaplikasikan secara maksimal ilmu pengetahuan yang gue peroleh selama kuliah. Selama 4 tahun kuliah, gue belajar mati-matian demi mengejar ketertinggalan gue di bangku sekolah. Secara yaa, selama 3 tahun SMA itu gue banyakan ngurusin organisasi dan senang-senangnya daripada belajarnya. Sayang kan, kalo sampe hasil kerja keras gue itu enggak kepake di dunia kerja;

2.   Gue suka dengan hierarki kantor… ada atasan dan ada bawahan. Gue selalu ngerasa tertantang setiap kali nerima tugas dari atasan. Rasanya gue ingin buktiin sama mereka kalo gue bisa menyelesaikan pekerjaan itu melebihi ekspektasi mereka. Dan gue juga sangat menikmati proses transfer ilmu ke staf-staf gue. Senang saat menerima pujian dan atasan (well, who doesn’t?) dan senang saat melihat bawahan gue berkembang dari sekedar anak baru menjadi staf yang bisa diandalkan. Rasanya dalam hal ini, ilmu pengetahuan dan skill gue berguna banget buat orang lain dan buat perusahaan tempat gue kerja juga;

3.   Meski tidak semua klien itu menyenangkan, gue suka saat berkenalan dengan klien baru. Terkadang rasanya kayak nambah temen baru. Bedanya sama teman biasa, topik obrolan sama klien itu lebih mengasah intelektualitas. Siapapun juga pastinya enggak mau dong, kelihatan bodoh di depan klien?

4.   Gue suka dengan lingkungan pergaulan di kantor. Isi obrolan dan jokes yang terlontar biasanya lebih berbobot. Selain itu, kerja di kantor bikin gue jadi punya peluang untuk punya sahabat baru! Beda kalo gue jadi penulis full time… Temen kerja gue tiap hari bisa jadi cuma laptop gue doang, hehehehe.

5.   Gue suka sama aktivitas diskusi dan brainstorming di kantor… Rasanya tuh seru, kayak ada adrenalin rush gitu. Gue juga jadi banyak dapet knowledge baru dari aktivitas diskusi dan brainstorming ini;

6.   Tanpa disadari, kerja di kantor bikin gue jadi selalu update sama banyak hal baru, termasuk update soal teknologi terbaru. Nggak usah yang canggih-canggih lah. Gue banyak belajar Microsoft Excel justru setelah kerja di kantor. Teknologi itu cepat berkembang, dan gue nggak mau jadi gaptek meskipun usia gue nanti udah nggak muda lagi; dan

7.   It might sounds silly, tapi gue suka pake kemeja, celana bahan, tas formil, dan pastinya, sepatu berhak tinggi. Apalagi kalo sambil jalan gue sambil nenteng tas laptop dan plastic cup-nya Starbucks… wuiiih, rasanya kok keren dan pede banget gitu, hehehehe.

Pada akhirnya gue pun menyimpulkan… setidaknya untuk saat ini, gue belum ingin berhenti kerja kantoran, dan melupakan ide untuk menjadi full time writer. Bukan berarti gue bilang full time writer itu jelek… Hampir semua penulis favorit gue itu full time writer kok. It’s just about the choice I’ve made for my own life.

Sampai kapanpun, menulis akan selalu menjadi bagian hidup gue. Menerbitkan novel dan jadi blogger papan atas juga akan tetap menjadi cita-cita gue. Writing is my passion; it’s the thing that I enjoy so much. Akan tetapi, bukan berarti gue ingin menjadikan aktivitas menulis sebagai satu-satunya aktivitas harian gue.Kembali ke cita-cita polos gue semasa kecil, gue ingin tetap kerja pake kemeja formil di gedung pencakar langit yang keren banget, hehehe.

Mengutip isi status Nova, mantan temen sekantor gue, “Life is only once. But if we do it right, once is enough.”

And it feels right for me to keep developing myself in the office, reach my dreams in this area, and still keep writing as a part of my daily activities. Jadi meskipun gue belum menemukan pekerjaan yang bisa bikin gue happy saat melakukannya, gue ingin tetap kerja kantoran. Karena faktanya, hidup gue justru terasa lebih bahagia setelah gue mulai mengenal dunia kerja. 

Oh ya… Gue pertama kali kerja kantoran itu waktu imlek tiga tahun yang lalu. Dan sebentar lagi udah mau imlek! So I guess, blog ini sekaligus untuk merayakan the new happy life I’ve gained since three years ago, hehehe.  Happy working for all of you.

 

Comment to Nova’s Farewell Note

 

Senin pagi, gue dapat satu lagi farewell note dari temen setim gue. Kali ini dari Nova, salah satu temen deket gue di EY. Farewell note itu aslinya berbentuk e-mail yang dia kirim ke semua anggota tim kita yang jumlahnya 13 orang. Masing-masing orang dapet jatah satu-empat paragraf. Nah, dalam blog ini, gue mau ngomentarin isi farewell note Nova yang buat gue. Jadi di bawah ini, yang dicetak tebal adalah farewell note asli dari Nova, kemudian yang dicetak miring adalah comment dari gue.

 

 

Sebelum gw mulai, gw mo minta maaf dulu karena gw ga bisa nulis dengan nama cantik lu (as your request), karena ternyata lebih enakan manggil Ipeh drpd Riffa, gpp lah ya peh hehe…

 

Novaaa… masa’ malah di e-mail yang elo kirim ke sepenjuru EY, elo pake nama Ipeh siih? Huhuhuhu. Tapi sudahlah… Udah gue ikhlasin kekhilafan kalian manggil gue Ipeh (khilaf tapi kok sering amat ya, hehe). Anggap aja nama Ipeh ini kenang-kenangan dari temen-temen di EY buat gue. Tapi kalo nanti gue udah pindah kerja, gue nggak mau nengok lagi kalo ada yang manggil Ipeh, hehehehe.

 

 

Hmm,, bingung sih mo ngomong apa tentang lu, karena ud terlalu banyak moment yg kita share bareng, topik yg kita omongin bareng, banyak hal-hal yg kita saling tau satu sama lain, yg mungkin orang laen ga tau haha…

 

Siipp… jaga rahasia gue baik-baik yaa. Thanks udah nampung segitu banyaknya ocehan gue selama ini.

 

 

Thanks buat chit chat kita selama ini, update gosip2 dan info2 terbarunya, baik yg terlontar lewat mulut langsung maupun lewat jari2 tangan kita yang dengan lincah menelusuri keyboard laptop =p

 

Huhuhu… partner STC gue berkurang satu deeh. BB elo harus selalu aktif yaa. Jangan sering-sering kerja di pedalaman hutan, takut nggak dapet sinyal 3G terus nggak bisa chatting deh kitaa.

 

 

Satu hal bagian dari diri lu yang mungkin harus gw tiru adalah bagaimana lu selalu berusaha untuk menghargai pertemanan yang ada. Mungkin lu memang bukan orang yang jago untuk “makes a friend” tapi ternyata lu terbiasa untuk menjaga sebuah friendship menjadi lebih dari sekedar pertemanan.

 

Cuit cuiiitt… gue jadi geer :p Hmm, jangan-jangan elo bilang gue nggak jago make a friend gara-gara nggak suka gandengan kalo lagi jalan sama temen yaa? Atau gara-gara gue mau bilang “I’m gonna miss you, Nova” hohohoho.

 

Btw, kayaknya gue juga punya satu hal yang mungkin harus gue pelajarin dari elo soal cinta… I can not tell you the details here. Yang jelas nantilah gue coba praktekin kalo gue  udah nemuin cowok yang tepat^^

 

 

Thanks for everything, see you one day in your better life. Semoga apa yang lu cita2kan bisa teraih.

 

Thanks… Semoga elo juga tetap bisa mewujudkan cita-cita elo di Palembang sana. Kalo gue siih, aduh, kebanyakan cita-cita euy. Mau wujudin yang mana duluan yah? Hehehehe.

 

 

NB : oh ya hampir lupa, peh, lu jangan kayak encim2 dong, klo pergi2 masa cuma bawa duit digenggem misalpun bawa dompet tapi kaga ada isinya haha.. siapin duit selalu ke mana pun lu pergi, juga uang kecil. Ok? ^^

 

Hahahaha, encim-encim apaan sih? Gue taunya kebaya encim. Gue jadi sadar… selain kehilangan partner STC, gue juga jadi kehilangan kreditur buat soft loan, hehehe. Abisnya gue suka males ke ATM. Kalo misalkan ke ATM juga suka nggak berani ngambil duit langsung banyak. Hmm, elo nulis gini bukan karena bête sering gue mintain soft loan kan, Nov? Hehehe.

 

 

Well, finally gue cuma mau bilang… I’m gonna miss you, Novaaa. Akhirnya gue bilang juga kan. Malah lebih bagus lewat blog, jadi banyak yang ‘denger’ gue bilang begitu, hohohoho. And good luck for your wedding preparation. Can’t wait to see you thereJ

 

5 Ways To My Dream Career

Entah sejak kapan, gue punya cita-cita pengen bikin business consulting company. Bukan business consulting yang canggih banget kayak BCG atau McKinsey gitu. Gue cuma pengen bantu orang-orang yang ingin mendirikan bisnisnya sendiri. Tapi masalahnya, siapa juga yang mau menggunakan jasa konsultasi dari gue, kalo gue sendiri enggak punya pengalaman di bidang business consulting? Makanyaaa, udah sejak dua tahun yang lalu gue kepengen banget kerja di business consulting group kelas kakap kayak BCG, McKinsey, atau AT Kearney juga boleh…

Sayangnya, tiga perusahaan itu sangat-sangat selektif dalam memilih karyawannya. Setelah melalui serangkaian browsing, berikut ini 4 alternatif yang bisa gue pilih untuk mengejar cita-cita itu:

Cari beasiswa S2, kalo bisa di luar negeri

Business consulting companies itu menjual gengsi. Gue sering lihat mereka buka lowongan dengan kualifikasi minimal S2, lebih disukai yang bergelar MBA (baca: lulusan luar negeri… secara gelar MBA kan udah nggak ada lagi di Indonesia!). Dan faktanya, emang ada banyak banget lulusan luar negeri yang diterima kerja di konsultan bisnis kelas kakap itu…  

Kendalanya:

Mayoritas beasiswa S2 yang ditawarkan itu ditujukan buat peneliti, orang-orang yang tidak mampu, atau orang-orang yang bekerja sosial. Nah, kalo dibilang peneliti, seumur-umur gue cuma pernah sekali bikin penelitian. Kalo dibilang tidak mampu… yaah, gue emang belum punya cukup dana buat kuliah S2 sih. Tapi masa’ iya gue mau minta surat pernyataan tidak mampu dari Pak RT?

 

Apply kerja di bidang business development

Biasanya, perusahaan menggunakan jasa business consultant buat bantu mereka mengembangkan bisnis perusahaan. Makanya, punya pengalaman kerja di bidang business development di perusahaan besar jelas lebih relevan dengan cita-cita gue jadi business consultant.

Kendalanya:

Sama aja kayak business consulting companies, perusahaan besar yang buka lowongan buat business development officer juga lebih suka sama lulusan S2…

 

Apply kerja apa aja yang penting gajinya gede

Berhubung kayaknya kuliah S2 itu syarat mutlak buat gue, jadi kayaknya gue harus cari kerja yang gaji kotornya mencapai delapan digit… Dengan pendapatan segitu, dalam sebulan gue bisa nabung banyak buat biaya kuliah gue. Masalahnya kalo gue mau kerja di konsultan bisnis bergengsi, universitas yang gue pilih buat kuliah S2 juga harus bergengsi. Dan kampus yang masuk kategori bergengsi itu biaya kuliahnya mahalll. Paling murah bisa 90 jutaan.

Kendalanya:

Gue harus rela kerja di bidang accounting/internal audit/ERP kalo mau dapet gaji segitu… Masalahnya cuma tiga bidang itu aja yang bersedia ngegaji gue sampe delapan digit (itu juga nyarinya bakalan susah banget). Pengalaman kerja gue kan emang kuat banget di tiga bidang itu. Tapiii, aduh, gue udah bosen ngaudit. Nggak gitu berminat kerja di divisi accounting. Terus gue juga udah bosen ngurusin software yang berhubungan sama ERP.

 

Terbitin novel gue

Gue pede banget sama novel gue yang ke dua (yang pertama udah ditolak sama penerbit) yang masih dalam proses penulisan ini. Gue banyak belajar dari kegagalan yang pertama, ditambah beberapa masukan dari penerbit yang nolak novel pertama gue itu. Nah, uang dari penjualan novel itu seeenggaknya bisa bantu nutupin setengah dari biaya kuliah S2 gue.

Kendalanya:

Nulis novel itu nggak gampang… Gue butuh banyak waktu buat ngetik, edit, riset, dan inquiry buat mempertajam detail cerita. Makanya, kalo fokus gue adalah novel, gue harus cari kerja yang bisa pulang tenggo setiap harinya…

 

Alternatif lainnya

Sebenernya selain kerja di business consulting company, ada satu alternatif lain supaya gue bisa mencapai cita-cita utama gue buat mendirikan perusahaan konsultasi bisnis gue sendiri… Bisa aja kan, gue mulai dari berbisnis sendiri… bikin bisnis yang banyak! Terus abis itu, semua bisnis gue jual satu per satu… terus pas gue udah mulai terkenal, gue tawarin deh, jasa konsultasi buat bisnis orang lain, hehehehe.

Dulu gue pernah baca profil cewek yang punya bisnis jadi konsultan restoran. Awalnya dia bikin restoran, terus dijual. Bikin restoran lagi, dijual lagi… Terus akhirnya, sekarang dia bikin bisnis konsultasi buat restoran gitu deh.

Kendalanya:

Gue kan nggak punya cukup modal buat buka bisnis sendiri… Mesti jual tanah warisan dulu kayaknya sih, hehehehehe.

 

I Want To Have a New Life

 

Banyak teman dekat gue yang bilang, gue ini selalu punya hal-hal menarik untuk diceritakan. Mereka bilang, my life has never been flat. Selalu aja ada hal-hal seru, lucu, sedih, menyebalkan, mendebarkan, dan mencengangkan yang terjadi dalam hidup gue. Kata orang lain, hidup gue seru. Tapi kalo kata gue, my life is full of trouble, trouble, and trouble again. Makanya pas pertama kali denger lagunya Lenka yang Trouble is a Friend rasanya udah kayak nemuin belahan jiwa gue banget gitu, hehehe.

Abisnya emang bener loh. Entah kenapa, dari dulu, di manapun gue berada, suka ada aja berbagai macam hal yang enggak terjadi sama temen-temen gue tapi malah terjadi sama gue. Misalnya waktu SMP. Gue pernah heboh ngejar-ngejar cowok anak kuliahan, terus pas lagi patah hati sama si cowok kuliahan itu, tiba-tiba muncul playboy sekolah yang heboh ngejar-ngejar gue. Pas si playboy udah capek ngejar-ngejar gue, eeeh, malah gantian gue yang suka sama dia! Serasa serial drama Korea gitu nggak sih? Hehehehe.

Terus gue pernah dimusuhin abis-abisan sama cewek yang sekelas sama gue. Gosipnya sih, dia sebel sama gue karena mantan pacarnya naksir sama gue. Padahal sampe sekarang, gue nggak pernah tuh, jadian sama mantan pacarnya itu… Si cewek nyebelin sampe dengan teganya berusaha ngadu domba gue sama temen-temen se-gank gue segala! Terus apesnya, di salah satu organisasi sekolah, gue kalah dalam jumlah suara sehingga harus terima nasib: dia jadi ketua, gue jadi wakilnya! Kadang gue ngerasa cerita gue waktu jaman SMA itu bakal seru banget kalo dijadiin cerita komik, hehehehe.

Lalu waktu kuliah gue pernah cari masalah sama dosen paling angker di kampus gue. Jadi ceritanya, karena nggak puas sama nilai UTS yang dia kasih ke gue, gue nekad ngajuin protes nilai ke dosen angker itu. Eeh, dia nggak terima terus lantas ngejelek-jelekkin gue ke kelas-kelas lain deeh… Bener-bener proses protes nilai yang melelahkan! Udah gitu apesnya, menjelang sidang skripsi beredar isu kalo gue bakal disidang sama dosen itu! Tapi berkat bantuan beberapa orang yang sangat luar biasa, gue nggak jadi disidang sama si dosen angker itu, hohohoho.

Kemudian setelah kerja… Hmm, kasih tau nggak yah? Masih termasuk hangat soalnya, hehehe. Setelah kerja juga sama aja lah. Ada beberapa konflik yang entah kenapa cuma menimpa gue doang, entah itu di kantor yang lama atau kantor yang sekarang. Mulai dari ketiban kerjaan yang sebenernya belum levelnya gue, ribut-ribut sampe heboh sama atasan, konflik seru sama temen setim, sampe yaah, ada juga love affairs yang nggak pernah happy ending itu, hehehe. Yang ini gue juga pernah kepikiran: kisah gue di kantor pasti bakalan seru banget kalo gue bikin jadi novel! Tapi itu sih nanti-nanti aja lah, gue bikin novelnya bertahun-tahun lagi aja. Siapa tau nanti bisa jadi sarana nostalgia buat temen-temen sekantor gue juga, hehehehe.

Meski hidup gue emang selalu berwarna, entah kenapa, belakangan ini hidup gue, khususnya di EY, mulai terasa datar. Passion gue untuk kerja di sini rasanya udah habis. Ditambah temen-temen yang biasa gue jadiin tempat curhat, temen ngobrol, atau partner gosip, udah pada resign satu per satu. Semuanya terlalu adem ayem sehingga gue kembali berpikiran, waktu gue di kantor ini udah habis… udah waktunya moving forward.

Sekitar sebulan yang lalu, gue lihat ada lowongan kerja yang pas banget buat gue. Perusahaannya termasuk bergengsi, lokasi kantornya di gedung BEJ juga (soalnya gue ngefans banget sih, sama gedung BEJ, hehehehe), dan boleh dibilang, semua kualifikasinya pas banget sama gue. Sempet kepikir buat apply, tapi karena berbagai macam pertimbangan, akhirnya gue putusin buat nggak apply ke manapun sampe bulan Maret nanti. Kemudian satu minggu lalu, gue lihat perusahaan itu memperpanjang iklannya di Jobs DB. Sempet kepikiran lagi, tapi nggak jadi lagi. Lalu tiba-tiba Senin kemaren, gue diundang langsung sama HRD perusahaan itu buat ikut tes di sana hari Sabtu ini!

Setelah gue pikir-pikir… yaah, siapa tau, ini kerjaan emang berjodoh sama gue. Jadi dicoba juga nggak ada salahnya lah yaa. Dan entah kenapa, setelah tau bakal ada tes hari Sabtu nanti bikin gue jadi ngerasa excited. Sebenernya itu bukan pekerjaan yang benar-benar gue inginkan siih. Tapi rasanya, gue udah nggak sabar pengen dateng ke sana buat ikutan tesnya! Nggak sabar pengen lihat muka-muka saingan gue kayak gimana, interior kantornya kayak gimana, dan mulai berpikiran… akan seperti apa hidup gue kalo nanti jadi pindah ke sana?

Intinya, gara-gara tawaran dari perusahaan itu, gue jadi sadar… gue emang membutuhkan suasana baru. I had a great life at EY, but I can’t wait to see my new life in a new place. Jadi kalo kemaren-kemaren niat resign gue masih bisa ditarik-ulur, maka kali ini udah nggak bisa lagi! Paling lambat bulan April, gue harus resign dari sini. Gue bener-bener pengen memulai cerita baru yang siapa tau bisa bikin temen-temen gue jadi tercengang lagi, hehehehe.

Well, katanya sih pamali yah ngasih tau orang-orang mau tes di suatu tempat karena belum tentu diterima. Tapi kalo gue sih enggak percaya tuh sama hal-hal kayak begitu. Di dua perusahaan tempat gue kerja, gue juga udah berkoar-koar jauh hari sebelum gue resmi diterima kok. Malah, kalo banyak yang tau, nanti banyak yang ikut seneng juga kalo akhirnya gue diterima!

Tapi buat perusahaan yang manggil gue tes itu, gue masih bakal pikir-pikir dulu sih. Banyak yang harus gue tanyain dulu sama HRD dan user-nya soal detail dari posisi ini. Lagiaaan yaa, ampun deh, gue kok kepedean amat sih? Ikut tesnya juga belum, hehehehe. Yah intinya sih, gue cuma mau membagi rasa senang gue karena hari Sabtu ini, gue akan mulai melangkah menuju sesuatu yang baru dalam hidup gue. Makanya, mohon doanya yaa, guys! Kalaupun bukan di perusahaan itu, semoga setelahnya gue akan menemukan perusahaan lain yang paling baik buat gueJ

 

Notes: Persis sebelum gue posting blog ini, tiba-tiba gue dapet e-mail… Ya ampun, ada satu perusahaan lagi ngundang gue buat ikut tes di perusahaan mereka! Padahal gue nggak pernah apply ke sana juga loh. Perusahaan gede juga, udah lama listed di BEJ. Tapi sayangnya gue sama sekali nggak tertarik sama posisi yang ditawarin. Tapi yang jelas, ini bener-bener pertanda kalo gue emang udah harus cari kerjaan baru, sekarang juga, hehehehe.

 

Because I’m Not Good At Saying Goodbye

 

Mungkin emang nggak kelihatan dari luar, tapi sebenernya gue paling benci sama yang namanya perpisahan. Udah gitu parahnya lagi, gue bukan tipe orang yang pintar mengucapkan selamat tinggal. Berikut ini gue ambil tiga cerita perpisahan yang bisa memberikan gambaran betapa payahnya gue saat harus mengucapkan selamat tinggal. Siap-siap tissue yah, guys, hehehehe.

 

 

Pindah Rumah ke Bekasi

 

Waktu naik ke kelas 4 SD, gue terpaksa pindah sekolah gara-gara ikut ortu pindah rumah dari Jakarta ke Bekasi. Awalnya gue menolak keras untuk pindah rumah. Udah sampe ngambek dan nangis-nangis tapi tetep enggak pernah digubris sama kedua ortu gue. Sedih banget rasanya harus pisah sama temen-temen sekolah. Harus pisah pula sama si Nur, tetangga depan rumah sekaligus teman sepermainan selama delapan tahun lamanya.

 

Hari terakhir di SD Mambaul (SD gue di Jakarta), gue ikut nyokap ngambil raport di sekolah. Waktu itu, bukannya peluk-pelukan ngucapin selamat tinggal ke teman-teman sekelas, yang gue lakukan cuma tersenyum kecil sambil dua kali melambai kepada teman-teman di dalam kelas. Abis itu, gue balik badan lalu pergi meninggalkan sekolah sambil menggandeng tangan nyokap. Sepanjang perjalanan pulang gue cuma bisa diam… Begitu sampe di rumah, gue masuk kamar, kunci pintu, lalu nangis-nangis di pojok tempat tidur sambil memeluk bantal, sendirian…

 

Waktu itu di dalam benak gue, terlintas bayangan Kiki, sahabat terbaik yang selalu ngebelain gue kalo lagi berantem sama Puput. Terlintas juga bayangan Puput yang selalu nggak mau kalah sama gue itu… Dan pastinya, ada juga bayangan Wanda; cinta monyet gue selama tiga tahun lamanya.

 

Masih mending sama temen-temen sekolah gue sempet dadah-dadah. Sama Nur, temen sepermainan yang dulu tinggal persis di depan rumah gue itu, gue sama sekali enggak pernah pamit sama dia di hari kepindahan gue. Siang itu, gue cuma bisa menatap dengan sedih pintu rumahnya Nur yang tertutup rapat.

 

 

Kelulusan SMP

 

Jujur aja, nggak ada hal lain yang bikin gue sedih dari perpisahan SMP kecuali  fakta bahwa gue bakalan pisah sama gebetan gue selama duduk di bangku kelas 3. Awalnya gebetan gue itu ngotot ngajak gue masuk ke SMA yang sama kayak dia. Tapi karena begitu banyak pertimbangan, gue putusin buat tetap mengambil SMA pilihan gue sendiri.

 

Sejak pagi harinya, gue udah tau bahwa hari itu akan jadi hari terakhir gue ketemu sama dia. Bukan hari pengambilan ijazah atau pesta perpisahan, melainkan hari pengambilan berkas pendaftaran SMA yang masih dibantu oleh pihak sekolah. Waktu itu, gue yang ngambil SMA di rayon Bekasi bisa pulang terlebih dahulu, sedangkan dia yang ngambil SMA di rayon Jakarta masih harus menunggu sampai sore.

 

Setelah selesai urusan pendaftaran, gue langsung beranjak pulang, sendirian. Lalu di parkiran depan sekolah, gue ketemu sama dia yang lagi duduk sendiri di atas motornya. Sekolah dalam keadaan sepi, di parkiran depan sekolah itu cuma ada gue dan dia doang. Dari atas motornya, dia cuma nanya, “Udah selesai?”

 

Gue cuma mengangguk pelan… Sebenernya ada banyak hal yang pengen gue bilang sama dia. Gue pengen bilang terima kasih atas semua kebaikan dia ke gue… Dan gue juga pengen minta maaf kalo ada tingkah laku gue yang bikin dia sakit hati.

 

Tapi ternyata, yang gue lakukan cuma tersenyum kaku, sambil bilang, “Duluan ya…” Abis itu, gue langsung berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan gerbang SMP gue… Cuma begitu aja, perpisahan gue sama satu-satunya cowok yang pernah bener-bener gue suka di sekolah itu.

 

Perpisahan SMA dan Wisuda S1

Ada banyak hal terjadi selama tiga tahun mengenyam pendidikan di bangku SMA. Meskipun tiga tahun di sana bukan tiga tahun terbaik sepanjang hidup gue, gimanapun, sama kayak orang-orang pada umumnya, selalu ada sesuatu yang tidak terlupakan yang hanya bisa terjadi semasa SMA.

 

Acara perpisahan SMA 5 ditutup dengan penuh haru. Waktu itu semua orang saling bersalaman, banyak juga yang berpelukan sambil tangis-tangisan. Tapi gue inget banget, waktu itu enggak ada satu orang pun yang gue peluk, nggak ada pula air mata menetes dari kedua mata gue. Gue cuma bersalaman sambil membalas senyum teman-teman gue yang ada di sana.

 

Hal yang sama terjadi lagi waktu wisuda S1. Selesai diwisuda, gue cuma salam-salaman sambil saling mengucapkan selamat. Nggak ada acara peluk-pelukan atau tetesan air mata. Malah kata adek gue, selama salaman dan cipika-cipiki itu, gue terkesan buru-buru sehingga pipi gue pun enggak sampe nempel sama pipi temen-temen gue.

 

 

Mungkin kesannya gue bersikap dingin seperti itu karena gue enggak ngerasa kehilangan sama sekali. Tapi sebenernya, gue sengaja bersikap begitu justru supaya enggak ngerasa kehilangan semakin dalam. Buat gue, berpelukan, bersalaman sambil cipika-cipiki, atau foto berdua sama orang yang mau pergi itu bikin perpisahan jadi terasa semakin nyata. Malah jujur, meski pinter banget ngegombal lewat tulisan, gue enggak akan pernah bisa mengucapkan kata-kata yang sama manisnya lewat mulut gue.

 

Misalnya waktu Deliana, senior pertama gue di EY, memutuskan untuk resign. Kebetulan di hari terakhir dia di kantor, gue lagi ditugasin di Pekanbaru. Jadilah gue cuma bisa ngirimin dia SMS yang isinya ngungkapin kesedihan gue karena dia maru resign dan gue nggak bisa hadir di hari terakhirnya dia. Tapi ternyata, waktu gue pulang dari Pekanbaru, dia masih sekali lagi mampir ke kantor buat urusan clearance. Jadi sebenernya, gue ada di sana waktu hari terakhir dia di kantor.

 

Waktu itu, temen gue yang lain nyalamin Deliana sambil berpelukan. Sedangkan gue, begitu ngelihat dia, gue cuma bilang, “Del… Nih oleh-oleh buat elo.” Setelah beres urusan oleh-oleh, gue langsung pergi ninggalin ruangan karena ada urusan urgent di tempat lain. Sama sekali nggak kelihatan kalo satu hari sebelumnya, gue kirim SMS buat si Odel yang isinya bikin mata gue sedikit berkaca-kaca.

 

Perpisahan dengan teman-teman dekat bakalan terasa lebih menyebalkan kalo kabar soal perpisahan itu justru gue dengar dari mulut orang lain. Gue pernah dua kali mendengar kabar resign dua temen yang gue anggap deket justru dari mulut manajer gue. Gue kaget banget… tiba-tiba manajer gue bilang, hari itu mereka baru aja menyodorkan surat resign. Padahal, gue ini termasuk sering ngobrol sama mereka, dan sebelumnya mereka sama sekali enggak pernah bilang soal rencana resign dalam waktu dekat itu.

 

Mereka mau resign aja udah bikin gue sedih. Dan mendengar mereka mau resign dari mulut orang lain, itu dia yang paling bikin gue sedih. Rasanya kecewa banget orang yang gue kira deket sama gue ternyata enggak menganggap gue lebih istimewa daripada temen-temen dia yang lainnya. Kalo meminjam istilah seorang teman, gue ini jatuhnya jadi kayak commoners aja; tau soal kabar itu bareng sama orang lain yang enggak begitu akrab sama mereka.

 

Makanya sejak itu gue janji sama diri gue sendiri… Kalo nanti gue resign dari EY atau dari perusahaan-perusahaan gue sesudah itu, gue pastikan setidaknya, teman-teman terdekat gue tahu terlebih dulu soal rencana itu. Gue nggak mau mereka ngerasain apa yang gue rasakan: ngerasa jadi commoners atau ngerasa enggak dipercaya sama teman gue sendiri.

 

Bulan ini Nova, teman dekat gue di EY yang selalu jadi ‘tong sampah’ gue kalo lagi benci sama kerjaan, bakal resign. Menyusul di bulan depan, Nana, teman curhat yang nampung begitu banyak rahasia gue, juga bakal resign. Di bulan yang sama, ‘temen sebangku’ dan partner STC gue selama low season kemaren, si Aga juga bakal resign. I hate to say this… gue benci banget sama perpisahan, tapi dalam 30 hari ke depan, gue bakalan tiga kali jadi ‘panitia perpisahan’!

 

Jadi sekarang udah jelas lah ya, alasan kenapa tiba-tiba gue nulis blog sedih kayak begini… Gue harap sih, blog ini udah cukup buat jadi pengganti pelukan hangat dari gue (males banget yah dengernya, hehe), dan pengganti atas tidak terucapnya kalimat kayak, “Yaaah, elo jangan resign deh.” Atau, “Gue pasti bakal kangen sama elo.” Atau, “Kalo nggak ada elo, kantor jadi sepi.”

 

You know what guys… Suara gue pasti bakal gemeteran kalo sampe harus ngucapin kalimat-kalimat kayak gitu. Jadi sudahlah, berhubung gue emang cuma pinter ngegombal lewat tulisan, please accept this blog as a warm good bye from me. And please make sure that our good bye is not forever!

 

Buat Nova, kalo nanti elo mampir ke Jakarta, jangan lupa kontak gue! Nanti juga gue bakal mampir ke rumahlo seandainya gue ada keperluan di Palembang.

 

Terus buat Aga, jangan lupa elo punya janji makan siang bareng gue setelah resign buat interogasi lanjutan, hehehehe.

 

Lalu buat Nana… semoga akhirnya di tempat baru nanti elo bisa mendapatkan kehidupan baru yang selama ini elo dambakan.

 

Simply wish you guys all the best! Ciao.

 

Pikunnya Gue Hari Ini

 

Tadi pagi, begitu gue naik Metromini menuju kantor klien, ada ibu-ibu pake jilbab negur gue. Pas gue nengok, dia langsung tanya, “Masih inget nggak?”

Gue dengan polosnya bengong depan dia, mencoba mengingat-ingat… siapa ya? “Hmm…”

“Dari Accurate Semanggi,” tukas si ibu-ibu sambil tersenyum ramah.

“Oh iya…” kata gue sok tau, padahal gue masih enggak inget kapan gue pernah kenalan sama ibu-ibu itu. Tapiii, karena dia bilang dari Accurate Semanggi, orang ini pastilah staf marketing dari Accurate, kantor gue yang lama. Dan pasti, gue pernah kenalan sama orang ini waktu Accurate ikutan pameran di JCC sekitar dua tahun yang lalu.

“Kamu Riffa kan?”

Gue nyengir… Ya ampun, dia bahkan masih inget nama gue! Akhirnya kita pun ngobrol-ngobrol. Dia nanya gue sekarang kerja di mana, dan gue juga basa-basi nanya dia mau ke mana.

Enggak lama kemudian, ibu-ibu itu turun satu halte lebih dulu daripada gue. Dan jujur, sampe dia turun, gue tetep enggak inget pernah kenalan sama dia! Jadi jangankan namanya, sama wajahnya pun gue ngerasa bener-bener enggak familiar. Udah gitu dodolnya gue sempet bilang, “Iya maaf, saya lupa soalnya sering banget ketemu sama orang baru sih…”

Jelas-jelas alesan gue itu bodoh banget… Si ibu itu kan kerja di divsi marketing yang pastinya dia udah ketemu orang-orang baru berkali-kali lipat lebih banyak daripada gue. Duh… bener-bener mengerikan daya ingat gue ini. Masa’ daya ingat gue yang umurnya belum sampe 25 kalah tajam sama si ibu yang menurut tebakan gue berusia sekitar 30 tahun itu sih? Dia bukan cuma inget nama gue doang, tapi dia juga inget dulu di Accurate gue satu angkatan sama siapa aja! Dia bahkan masih bisa ngitung berapa lama gue kerja di Accurate loh. Payah ah gue ini… Jadi nggak enak!

Begitu ibu-ibu yang sampe akhir gue lupa tanya ulang siapa namanya itu turun dari bis, gue baru perhatiin kalo penampilan dia tuh asli modis banget. Dia pake manset warna krem, dress berkerah warna cokelat muda, obi melingkar di pinggang, ditambah sepatu dan tas besar yang asli keren banget.

Dalem hati gue jadi malu… Hari ini gue cuma pake kemeja bergaris yang biasa banget, sendal datar yang udah gue pake dari jaman kuliah, sama tas CK kesayangan yang gue beli setahun yang lalu. Hmm, jangan aja si ibu itu mikirnya, “Nih anak udah pindah kerja tetep nggak nambah keren! Masih naik Metromini pula…” Hehehe…

 

 

Tentang Jodoh

Terinspirasi dari obrolan gue bareng-bareng temen setim soal jodoh, gue jadi kepengen nulis tentang jodoh gue dalam berbagai hal: mulai dari pekerjaan, barang-barang, sampe pastinya soal jodoh betulan. Berikut ini daftar hal-hal yang belum gue temukan, dan hal-hal yang rasanya emang udah berjodoh sama gue. Just want to write it for fun, hehehehe.

NOT YET FOUND

Pekerjaan Impian

Menurut Nova, temen setim gue, mendapatkan pekerjaan yang cocok itu sama kayak nyari jodoh. Bisa jadi, pekerjaan yang enggak pernah kebayang ingin kita lakukan malah jadi pekerjaan yang terbaik dan yang paling kita nikmati. Misalnya, ada sarjana tehnik yang malah enjoy kerja di divisi finance hingga akhirnya melesat jadi CFO. Nah, dalam kasus gue, gue belum pernah merasa berjodoh sama kerjaan gue. That’s why gue kepengen resign dan mencari pekerjaan dalam bidang baru. Karena sama kayak konsep jodoh, kalo emang udah nggak jodoh, ya mau diapain juga enggak akan pernah bisa bener-bener klop.

Bedak dan Alas Bedak

Akhirnya, baru-baru ini gue nemuin bedak Clinique yang halus di muka, enggak kelihatan cakey, dan yang paling penting, enggak bikin muka gue jadi beruntusan. Sayangnya, kemaren itu gue salah pilih warna. Warna bedak gue yang sekarang ini terlalu natural sehingga kurang berhasil bikin muka gue kelihatan lebih cerah. Maybe in the next purchase, gue mesti naikin warnanya satu tone lebih cerah. Oh ya, untuk alas bedak juga bener-bener belum nemuin yang cocok. Kebanyakan alas bedak itu oily dan menyumbat pori-pori muka gue. Kayaknya gue juga mau nyobain alas bedak Clinique yang diformulasi khusus buat kulit berminyak.

Maskara

Susah banget nemuin maskara waterproof yang melentikkan tapi nggak ngegumpal. Iklan maskara emang muluk-muluk, tapi hasilnya jauh banget dari yang dijanjiin. Terus gue juga lebih prefer maskara yang gagangnya kecil. Nah, sejauh ini, maskara gagang kecil yang pernah gue beli hasilnya mengecewakan! The Body Shop bagus, tapi hasilnya terlalu natural, jadi nggak kelihatan pake maskara gitu. Revlon juga hasil akhirnya bisa bagus, asalkan kita cukup sabar buat menyisir gumpalan-gumpalan kecilnya. Untuk selanjutnya, gue mau coba beli maskaranya Lo’real. Baca di Female Daily, katanya Lo’real punya maskara termasuk bagus dan affordable.

My Mr. Right

Beda sama orang-orang kebanyakan, kalo menurut gue, belum menemukan Mr. Right bukan berarti cowok yang udah-udah adalah Mr. Wrong. Gue enggak pernah menyesali apa yang pernah gue rasakan sama mereka. If it didn’t last forever it doesn’t mean it wasn’t worth it right? Karena buat gue, kenangan manis dengan mereka adalah sesuatu yang enggak akan pernah bisa gue beli dengan uang. Lagipula, selalu ada hal baru yang gue pelajari dari gagalnya ‘hubungan’ gue sama mereka. Jadi buat apa disesali? Gue justru merasa, dengan pelajaran yang gue dapatkan dari mereka akan mempersiapkan gue buat menjalani hubungan dengan jodoh gue nanti. So it’s not about they were wrong or jerks or cowards… it was just they were not right for me.

ALREADY FOUND

Merk Shoes & Bag Favorit

Buat yang cukup mengenal gue, pastinya elo udah tau… apa lagi merk favorit gue kalo bukan Charles & Keith? Gue suka CK bukan cuma karena variasi model, warna, dan pilihan materialnya aja. Gue suka banget sama merk ini karena kualitasnya yang tahan lama. So far, gue belum pernah kecewa sama CK. Tas dan sepatu kerja yang sekarang gue pake tiap hari itu aja umurnya udah setahun loh. Beda banget sama merk Guess yang harganya lebih mahal, tapi baru dipake sebentar, besinya berubah warna dan kulitnya mulai ngeletek! Padahal sebenenrya gue suka banget sama model dompet dan tas keluaran Guess. Oh ya, selain itu, gue selalu ngerasa nyaman kalo pake semua sendal dan sepatu CK gue. Pokoknya CK is my truly match, hehehe.

Facial Skin Care

Akhirnya gue nemuin pembersih muka yang cocok buat gue: Acnes. Setelah pake ini, jumlah jerawat dan komedo baik yang hitam maupun yang putih berkurang drastis. Kulit gue juga jadi lebih halus dan terasa kenyal. Udah gitu harganya juga terjangkau banget! Produknya bisa ditemukan di mini market dekat rumah. Sayangnya, waktu sakit kemaren gue lalai ngebersihin muka sehingga akhirnya muncul lagi jerawat kecil-kecil yang kemudian membesar dengan sendirinya. Huuuh, menyebalkan!

HP Kesayangan

Sebenernya gue udah cocok banget sama P1 yang masih gue pake sampe sekarang. Ini hp awet banget, udah gue pake dari waktu gue masih kuliah semester 7. Yang pertama gue suka karena hp ini gabungan antara touch screen dan QWERTY keyboard. Terus semua fitur yang gue cari dari hp ada semua di hp ini. Kualitas suara ok, kualitas gambar dari kameranya juga selalu ok. Sayangnya, hp ini udah ketuaan, udah waktunya diganti. Performanya udah banyak menurun, termasuk kualitas kamera yang selama ini sangat gue banggakan. Huhuhuhu, so much worry I couldn’t find any other hp which compares to it (lebaynya gue kumat, hehehe).

Best Friends

Menurut pengamatan gue, hampir semua orang yang gue kenal pada akhirnya berhasil menemukan pasangan hidupnya (baca: suami atau istri), tapi tidak sampai seperempatnya berhasil menemukan sahabat yang selalu mendampingi mereka dari waktu ke waktu. Dan menurut gue, sahabat juga sifatnya sama kayak jodoh: enggak semua orang bisa klop bersahabat dengan kita. Apalagi kenyataannya, orang yang kita anggap klop belum tentu sebaliknya menganggap kita klop sama dia. Lalu jangan salah, mempertahankan sahabat itu bukan hal yang mudah. We need to be a good friend who deserves to have a best friend first. Makanya, kalo mengutip dari buku Chicken Soup For The Teenage Soul: best friend is the best gift for us which is given by ourselves

EY Celebration Night 2010

EY Celebration Night = pesta kostum yang keren banget! Jadi ceritanya ada lima tema kostum dalam acara ini: Oriental, Bollywood, Indonesian Heritage, dan yang paling seru: Superhero dan Fairy Tale!

Tadinya gue dan temen-temen setim berpikir kita udah termasuk niat banget nyiapin diri buat acara ini. Selain sewa baju, gue bela-belain beli clutch bag baru. Ada yang beli sendal baru. Ada pula yang Kamis sore mampir ke Ambassador entah mau beli apa buat melengkapi kostumnya. Tapi ternyataaa… pas gue sampe di ballroom Ritz Carlton, gilaaaaa, gue kebanting abisss! Besides, baru tadi malam gue melihat dengan aksat mata kalo jumlah karyawan EY ada banyak banget! And yes, most of them were amazing in their costumes!

Bayangin aja… dari tema Oriental ada segerombolan Sun Go Kong lengkap sama biksu dan Pat Kai-nya! Si biksu tampil lengkap sama jubah dan tongkat emansnya, dan si Pat Kai tampil lengkap sama perut buncit, kuping, plus hidung babinya! Lucunya, mereka bertiga kalo ke mana-mana selalu jalan segerombolan. Sayangnya, cukup banyak dari kelompok tema Oriental (baca: tema divisi gue) yang kurang niat merepresentasikan tema ini dalam kostumnya. Ada yang cuma pake cheongsam yang kayaknya emang udah lama mereka punya buat perayaan imlek, hehehe. Tapi kebanyakan sih, kita-kita pake yukata atau hanbok untuk mewakili tema Oriental ini.

The Oriental Costumes

Dari Superhero juga bener-bener niat setengah mati. Ada temen gue yang pake kostum Gladiator komplet, yang lucunya, rok galdiatornya itu sempet melorot di tengah acara! Terus ada yang pake kostum Hell Boy sampe bener-bener mirip sama Hell Boy. Ada Batman lengkap sama jubah dan topengnya. Cat Woman lengkap sama pecutnya. Ada yang pake kostum entah robot apa yang di bagian tangannya ada lampu yang bisa nyala-nyala. Ada yang bawa pedang dan senapan bohongan pula! Ada juga cewek-cewek yang pake kostum Batman atau Superman versi cewek yang seksi banget… Kebetulan, cewek-cewek di divisi yang mengusung tema ini punya bentuk badan yang emang bagus dan pantes pake baju seksi. Waktu stage performance mereka juga sempet-sempetnya menampilkan sexy dancing.

Superhero Costumes

Gue paling suka sama gerombolan Fairy Tale. Baju mereka cantik-cantik banget! Gaun ala Cinderella yang mengembang dan menjuntai sampe lantai, lengkap sama perhiasan dan mahkotanya juga! Yang gue kaget, cowok-cowok dalam tema ini juga enggak sungkan pake baju ala pangeran lengkap sama rambut palsunya yang keriwil-keriwil ala bangsawan itu loh… Ada pula gerombolan peri-peri, ada Harry Potter (gue juga sebenernya enggak begitu yakin si Harry Potter itu tergabung di kelompok tema yang mana), dan pastinya berbagai jenis princess mulai dari Aurora sampai Snow White. Sayangnya, kelompok Fairy Tale ini kurang tampil maksimal di atas panggung. Padahal, they can do so many attractive performances supported by their costumes.

Fairy Tale Costumes

Yang nggak kalah eye catching itu kelompoknya Bollywood. Baju dan perhiasan bling-bling komplit dari hiasan kepala, leher, sampe gelang-gelang. Ada pula yang pake semacem kerudung di atas sanggulnya. Kalo yang cowok-cowoknya kebanyakan cuma pake gamis ala Indiahe gitu. Dan pastinya, enggak ketinggalan tempelan di jidat yang udah terkenal India banget itu. Oh iya, dari kelompok tema ini, gue sempet terpukau ngeliat ibu-ibu dari jajaran meja VIP (yup, yang dapet tempat duduk cuma VIP doang) yang keliatan pantes banget pake baju India. Belahan dadanya rendah, perutnya terbuka, tapi si ibu-ibu itu badannya emang masih bagus! Wajahnya enggak cantik, tapi dengan segala kostum, aksesoris, dan make-up yang dia kenakan bikin dia jadi enak banget buat dilihat.

Untuk tema Indonesian Heritage, entah kenapa kalo gue kurang excited. Bukannya kenapa-napa, soalnya kan waktu jaman SD dulu gue udah bosen berkali-kali ngelihat kostum serupa tiap kali perayaan hari Kartini, hehehehe. Yang gue ingat cukup unik dari kelompok ini adalah cewek yang pake kostum nenek-nenek (komplit sama make-up keriput-keriput di wajahnya) sambil bawa ember dan gayung seolah mau nyuci di pinggir kali gitu. Cewek ini pula yang dapet gelar Best Costume dari kelompok Indonesian Heritage yang dipilih sama MC Tika Panggabean, Udjo, dan satu MC lagi gue lupa siapa namanya. Oh ya, kalo untuk stage performance-nya, gue angkat jempol lah buat kelompok ini. Kostum penarinya bagus-bagus banget! Variasi tariannya juga banyak banget, sampe ada tarian suku primitif yang cuma pake koteka doang loh. Makanya gue sih enggak gitu kaget waktu diumumkan, tarian dari Indonesian Heritage keluar sebagai juara pertama.

The best part about this party is the picture taking activities! Pertamanya gue agak kaget waktu tiba-tiba ada cewek nggak dikenal dari kelompok lain nyamperin gue minta foto bareng. Katanya, dia pengen foto bareng sama perwakilan dari kelompok yukata (tadi malam gue pake yukata Jepang). Dari yang tadinya foto berdua sama dia doang, eeeh, tiba-tiba ada banyak orang nempel ikutan difoto! Sampe gue bingung pas difoto mesti ngelihat ke arah kamera yang mana, hehehe. Oh ya, satu pose tapi difoto sama banyak kamera ini bukan cuma sekali-dua kali doang loh. Pokoknya bener-bener serasa jadi seleb semalam deh, hehehehe.

Aktivitas foto bareng juga pasti gue lakukan setiap kali berpapasan sama orang yang gue kenal. Jadi selain difoto pake kamera temen setim gue, gue juga difoto pake kamera kenalan gue itu juga. Dan pastinya, gue juga ikutan norak minta foto bareng sama orang-orang yang gue anggap seru dan unik penampilan kostumnya! Agaaiiin, setiap kali gue foto bareng sama orang-orang nggak dikenal itu, mereka juga minta foto ulang pake kamera mereka masing-masing! Udah enggak kehitung ada berapa banyak kamera yang menyimpan foto-foto gue, hehehehe.

Overall, gue ngerasa pengorbanan jauh-jauh ke Pejaten nyari kostum, keluar duit buat beli clutch bag, muter-muter Pacific Place nyari salon murah (yang pastinya berakhir dengan tangan hampa), itu semua setimpal sama serunya pemandangan di sana. Sayangnya, kaki gue beberapa kali kram mendadak, dan perut gue sempet terasa sakit gara-gara obi yang diikat kencang di yukata gue itu. Gue juga agak nyesel dandan terlalu sederhana… jadi kebanting sama temen-temen gue yang totally full make-up (lengkap sama bulu mata palsu segala). Tapi nggak papa, yang penting, gue udah punya banyak foto untuk dikenang. Senin nanti waktunya nyamperin temen-temen yang bawa kamera, lalu nyodorin USB buat minta foto-foto dari kamera mereka! Atau yang paling gampang, tinggal tunggu mereka upload foto-fotonya ke Facebook! Can’t wait to see the pictures, hohohohoho.   

 

EY Party Tomorrow Night

 

Sekitar tiga minggu belakangan ini, hampir semua orang di EY mulai heboh nyiapin kostum buat EY Party besok malam. Tiap divisi di EY punya tema berbeda-beda. Untuk UIP, divisi gue, mengusung tema Oriental. Jadi nanti, kita boleh pilih mau pake kostum bertema Jepang, Korea, atau Cina.

Sejak awal gue udah tau mau pake yukata buat EY Party. Sayangnya, di hunting kostum yang pertama, gue lagi sakit. Yang pergi hunting jadinya cuma Dini, Odel, sama Ica doang. Pas lagi hunting baju itu, mereka sempet nyariin kostum yang panjangnya kira-kira muat buat gue. Sempet difoto terus dikirim ke e-mail gue. Sayangnya entah kenapa, e-mail itu enggak sampe ke inbox gue.

Kesempatan hunting yang ke dua berlokasi di BEJ (kantor EY), satu minggu kemudian. Kali ini, justru si vendor yang dateng ke kantor dengan membawa kostum-kostum sewaannya. Waktu itu gue sempet nyobain satu yukata warna hitam. Tapi karena kesannya gelap banget, akhirnya gue pesen yukata lain yang berwarna pink.

Fitting yukata yang pertama.

Fitting yukata yang pertama.

Satu minggu kemudian, gue, Dini, sama Ica gantian dateng ke rumah si vendor buat fitting lanjutan. Dan akhirnya, setelah nyobain yukata yang ke tiga, gue langsung jatuh hati. Warnanya pink muda, persis warna kesukaan gue. Panjang yukatanya juga pas banget di badan gue.

Selain yukata pink itu, gue juga sempet pesen yukata lain warna ungu muda. Tapi karena lebih sreg sama si pinky, yukata ungu muda itu akhirnya gue kasih buat disewa sama Eka, temen setim gue.

Eka & Me

Eka & Me

Pulang fitting dari rumah vendor di Pejaten, gue langsung mampir ke Pejaten Village. Niatnya sih cuma mau cari makan. Tapi ternyataaa… di sana gue nemuin clutch bag yang cocok buat dipaduin sama yukata gue! Setelah beberapa kali bolak-balik di depan si clutch, menimang-nimang, dan melirik label harganya… akhirnya jadi juga gue beli tas berwarna hitam dan pink itu, hohoho, menyenangkan^^

Oh ya, selain tas baru, gue juga udah beli bros rantai dua juntai, warna pink juga, buat dipakai besok. Gue beli bros cantik ini waktu kemaren lagi tugas ke Pekanbaru. Sampe di hotel Pekanbaru, gue langsung minta Rini, temen setim gue, buat coba modifikasi jilbab gue pake bros baru itu! Hasilnya? Lihat aja nanti, hehehehe.

Duh, jadi nggak sabar pengen cepetan besok! Andai tim gue masih lengkap alias belum ada yang resign, pasti bakalan lebih rame lagi! Oh ya, gue juga enggak sabar pengen liat temen-temen cowok gue pake yukata! Dan denger-denger, sampe bos-bos kita juga benriat nyewa kostum buat besok loh.

Nantikan cerita seru EY party besok malam di blog ini yaa, guys!