Another Solo Traveling Will Be Fun!

Tiba-tiba, gue teringat dengan solo travel gue di 2 hari pertama gue di Greece September tahun lalu. Dan tiba-tiba pula, mumpung masih single, gue kepingin  sekali pergi traveling sendirian. Ke Eropa. Kenapa Eropa? Karena menurut gue, berlibur ke Eropa itu betul-betul paling terasa nuansa traveling ke negeri asingnya. Budayanya, penduduknya, gaya arsitektur dan tata kotanya…

Lalu apa menariknya traveling sendirian? Banyak!

Gue pernah ngobrol akrab dengan supir taksi yang gue book seharian untuk keliling Kalambaka, Greece. Banyak obrolan menarik yang tidak akan terjadi jika saat itu gue tidak sendiri secara bisa jadi gue akan lebih banyak ngobrol dengan teman gue sendiri. Asyiknya lagi, si supir taksi ini senang banget fotoin gue di begitu banyak tempat yang fotogenik. He insisted me to jump to a cliff just to get a stunning picture and I’m glad he did! Foto-foto hari itu udah jadi salah satu koleksi foto paling keren yang pernah gue punya.

Di Kalambaka itu gue sempat juga ikut tur bareng travel agent resmi, berbaur dengan satu keluarga asing lainnya. Gue banyak ngobrol dengan mereka, banyak ngobrol dengan tour guide-nya, bahkan, gue dan si tour guide berlanjut berteman di beberapa social media.

Satu malam di Santorini juga sempat gue habiskan sendirian. Gue pergi nonton live show yang tidak diminati teman seperjalanan gue. Melihat gue hanya duduk sendiri, sekelompok wanita paruh baya dari US mengajak gue untuk bergabung dengan meja mereka. Gue pun menghabiskan sisa malam dengan bernyanyi dan bertepuk tangan bersama dengan mereka.

Kembali lagi ke Kalambaka, di kereta pulang menuju Athens, gue sempat duduk satu coach dengan cowok asal Dubai. Cowok yang jago banget flirting kalo menurut gue. Baik, lucu, dan sangat membantu gue dengan koper gue yang super berat itu. Holiday fling? Bisa jadi. Dan gue sangat menikmatinya! Ngerti kan sekarang, kenapa gue ingin traveling sendirian mumpung gue masih single? Hehehehe.

Segera setelah ide itu muncul di benak gue, gue langsung sibuk menyusun rencana.

Gue ingin menghabiskan lebih banyak waktu di Paris dan sekitarnya. Gue ingin mewujudkan salah satu things to do before 30-nya gue: beli satu tas LV langsung di butik Paris! Gue naksir berat sama hat box-nya LV yang sepertinya tidak dijual di Jakarta.

Kemudian gue ingin mampir sebentar ke Italia, Spanyol, dan Jerman untuk meet up dengan mantan teman-teman sekantor yang pernah kerja di Lazada. Sudah waktunya memanfaatkan privilege kerja di perusahaan multinasional yang banyak ekspatnya, hehehe. And it’s gonna be fun to catch up with them again after long time no see!

Kemudian masalah foto-foto. Tadinya gue pikir, rugi pergi jauh ke Eropa kalo nggak ada teman yang bantu fotoin gue. Tapi sekarang gue sudah punya solusinya! Gue bisa sewa 1 travel photographer untuk 1 sampai 2 hari penuh! Mereka itu penduduk lokal yang khusus menangani turis-turis asing. Mereka pasti lebih tahu tempat-tempat menarik untuk berfoto!

Aaaah, it sounds so exciting, right? Masalahnya cuma satu… Jatah cuti gue tahun ini sudah habis! 😦 I think I’m gonna spend the next few weeks to figure out how to make it happen before I turn 30 November this year, hehehehe.

Apa Salahnya Membelikan Oleh-oleh?

Berawal dari baca satu tulisan di blog lain, gue jadi gemas sendiri. Penulis blog itu rupanya benci sekali kalau diminta oleh-oleh. Personal preference, memang. Sifatnya memang tidak wajib untuk membelikan oleh-oleh. Tapi maksud gue, perlu sampai sebegitu lebaynya nggak sih? Bisa jadi, orang ngomong begitu (baca: minta oleh-oleh) hanya sekedar reaksi spontan saja lho. Andai gue ini temannya si penulis blog, gue pasti jadi sangat-sangat tersinggung baca tulisan dia itu. Gue pribadi betul-betul tidak ada niat jelek kalau sesekali kelepasan minta oleh-oleh. Tapi kok kesannya kayak dosa besar banget gitu.

Kemudian sampai lah gue pada judul tulisan di blog gue sendiri… Memang apa salahnya sih, membelikan oleh-oleh? Bukannya gue mau riya atau pamer sih yaa, tapi gue sendiri malah tipe orang yang senang menanyakan, “Mau dibawain oleh-oleh apa?”

Setiap kali gue hendak pergi jalan-jalan, gue selalu mengajukan pertanyaan itu ke teman-teman dan keluarga dekat gue.

Kenapa demikian?

Bukan karena kebanyakan uang (gue udah mulai melakukan hal itu sejak masih pergi traveling dengan uang pas-pasan), bukan pula gue kurang kerjaan (jadwal selama traveling sudah pasti luar biasa padatnya!), tapi karena gue senang membuat orang lain senang.

Waktu kecil dulu, gue paling senang saat dibelikan oleh-oleh, terutama kalau dari luar negeri. Meski hanya barang gratisan, meski hanya sebuah gantungan kunci, gue bangga banget pake oleh-oleh itu tiap kali ada kesempatan.

Norak? Memang. Semua orang pastilah pernah melewati masa-masa norak seperti itu, bentuknya saja yang berbeda-beda. Terlebih lagi, gue memang baru pertama kali pergi ke luar negeri sejak gue mulai punya uang sendiri. Mungkin itu sebabnya, dulu gue jadi norak pakai barang-barang yang dibelikan orang lain dari luar negeri.

Dan tahukah kamu? Barang-barang gratisan itu pula yang kemudian memotivasi gue, “Suatu hari, gue harus bisa pergi ke sana!”

Gue masih ingat betul kegembiraan yang gue rasakan tiap kali menerima oleh-oleh dari teman dan saudara. Kemudian sekarang, saat Tuhan memberikan rejeki yang cukup untuk gue pergi melihat dunia, gantian gue ingin memberikan kebahagiaan yang sama untuk orang lain. Gue harap, mereka juga merasakan kegembiraan yang dulu pernah gue rasakan saat berada di posisi sebaliknya.

Give as much as you can, and you’ll be surprised how life will give it back to you as the returns.

Someday, I Will Go Back to Santorini

Berawal dari nonton film The Sisterhood of Traveling Pants, gue jadi ingat sesuatu: gue belum selesai memenuhi janji gue kepada beberapa teman dan keluarga untuk menulis tentang perjalanan gue ke Yunani, hampir tiga bulan yang lalu. Saat nonton film itu pula, gue tidak hentinya berteriak di dalam hati…

“Oh my God! I’ve been there! The port! The old church! The blue domed church! The caldera!”

“Look at that beautiful blue sea!”

“Lena gets jealous seeing people are dating around? Same with me! Couples were everywhere back there!”

And of course, “Someday I’ll be back to Santorini!”

Norak? Memang. Yunani terlalu berkesan sampe bikin gue susah move on, hehehehe.

Setelah satu tulisan tentang Meteora, kali ini gue lompat ke Santorini (harusnya Mykonos duluan, tapi itu nanti saja lah ya). Gue berangkat naik speed boat dari Mykonos dan sudah sampai ke Santorini hanya dalam waktu dua jam saja. Dan seperti yang banyak diceritakan oleh blogger lainnya, Santorini sudah tampak memukau mesti kapal baru saja hendak merapat. Jadi siap-siap pegang kamera!

Apa yang membuat Santorini begitu istimewa? Sudah tentu deretan rumah putih di sepanjang caldera di pinggir laut yang luar biasa birunya itu! Begitu turun dari kapal dan naik ke dalam mobil, gue langsung duduk merapat ke jendela dan tidak lepas memandangi indahnya laut biru di depan mata. Seriously, I just never saw such a blue color of the sea! Betul-betul pemandangan yang tidak akan terlupakan! 

Begitu sampai di halaman parkir yang paling dekat dengan hotel, gue sempat deg-degan. Gue tiba di Santorini dalam keadaan cedera karena jatuh dari sepeda di Mykonos, sehingga wajar saja jika bayangan harus naik-turun tangga menuju hotel jadi sebegitu menakutkannya. Bagaimana kalau gue harus melewati sampai 100 anak tangga???

Serius deh, buat yang ngerasa bermasalah dengan naik-turun tangga, sebaiknya pilih penginapan yang lokasinya di pinggir pantai. Menginap di caldera berarti siap capek naik-turun tangga. Coba baca dulu reviews dari pengunjung terdahulu tentang jumlah anak tangga menuju hotel yang kamu pilih. Lalu bagaimana dengan hotel yang gue pilih? Syukurlah, gue masih selamat meski harus jalan terpincang-pincang… Gue tidak hitung berapa jumlah tangganya, tapi gue yakin masih kurang dari 100, hehehehe.

Lupakan jumlah anak tangga, menginap di pinggiran caldera itu sangat WORTH it. Memang mahal, tapi dijamin tidak akan menyesal! The Aegean seas are right at your door step! How can’t it worth the money and the effort to survive the stairs? Berikut ini pemandangan persis di depan kamar gue! Dan bayangkan pagi-pagi duduk di teras sambil menikmati sarapan atau makan malam sambil melihat sunsetIt’s definitely priceless!

Satu hal lagi yang wajib kamu coba saat berlibur di Santorini: menginap di cave house! Jadi dulunya, warga Santorini memang suka membangun rumah di dalam goa supaya terlindung dari bencana alam. Goa tradisional itu pula yang kemudian direnovasi menjadi modern hotels yang bisa kita tinggali. Ceiling-nya memang rendah dan ruangannya cenderung sempit, tapi justru di situ keunikanannya! Lagi-lagi, jatuhnya memang lebih mahal, tapi sudahlah, anggap saja pengalaman sekali seumur hidup. Susah juga menahan godaan untuk menginap di tempat yang biasa-biasa saja saat di Santorini. Semakin sering gue browsing, semakin gue melonggarkan budget hanya untuk biaya penginapan 😀

This slideshow requires JavaScript.

Lalu apa saja aktivitas yang bisa kita lakukan selama di Santorini? Ada banyak! Selain berkunjung ke Oia Village, gue juga sempat ikut day cruise dan nonton pertunjukan White Door Theater. Semuanya akan gue ceritakan di post yang terpisah.

Satu hal yang ingin gue lakukan tapi tidak jadi terlaksana apa lagi kalau bukan walking tour Fira-Oia! Terpaksa batal karena kaki cedera itu 😦 Padahal dengar-dengar, banyak foto bagus yang bisa kita dapatkan di sepanjang jalan menuju Oia. Foto panorama Santorini, pedesaaannya, sampai dengan sederetan luxury resorts-nya. I will save it for my next trip to Santorini!

Hal terbaik dari Santorini sudah tentu romantic ambience-nya. Pemandangan yang luar biasa indah, tempat tinggal yang mewah, ditambah Jacuzzi yang menghadap persis ke laut biru itu… Bawaannya emang bikin orang jadi pengen pacaran, hehehehehe. Makanya mungkin, bulan depan gue mesti kuat berdoa di depan Ka’bah semoga dapat pasangan yang suka traveling juga, supaya kelak mau diajak balik lagi ke Santorini 😀

Seriously, if I live my life long enough, I want to go back to Santorini… with my future husband 😉

The Beauty of Meteora

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Meteora Hotel at Kastraki.

Apa sih, yang pertama terlintas di benak kamu saat mendengar nama Yunani? Blue dome church in Santorini? The magnificent blue Aegean sea? Acropolis? Or a beach party at Mykonos? 

Awalnya, Meteora juga tidak masuk ke dalam itinerary gue. Jangankan masuk ke itinerary, dengar namanya saja gue belum pernah! Entah kenapa, Meteora memang tidak cukup terkenal di kalangan turis Indonesia. Tapi berkat iseng-iseng googling “tourist attraction in Greece“, gue jadi ‘diperkenalkan’ dengan Meteora; the natural big rocks with monasteries on top of it. Pertama kali melihat gambarnya, gue langsung terkesima!

Hanya saja sayangnya, Meteora ini termasuk jauh dari Athena. Membutuhkan perjalanan darat dengan kereta antara 5-6 jam! Bisa capek rasanya kalau harus pulang-pergi dari Athena hanya dalam 1 hari yang sama. Tapi misalkan gue sampai menginap, kegiatan apa saja yang akan gue lakukan di sana nanti? Secara tourist attraction-nya ya hanya pemandangan Meteora dan monasteries-nya itu saja kan…

Setelah dipertimbangkan matang-matang, akhirnya gue sepakat dengan diri gue sendiri (secara memang gue mengunjungi Meteora hanya sendirian); gue akan tetap menginap satu malam di Kastraki; desa terdekat dengan Meteora. Gue bahkan berhasil menemukan hotel yang punya the best panoramic view of Meteora. Foto gue di depan kolam renang hotel ini benar-benar keren kalo menurut gue, hehehehe.

Dalam satu hari, hanya ada satu direct train (tanpa transit) dari Athena ke Kalambaka (stasiun terdekat untuk mengunjungi Meteora), begitu pula sebaliknya; hanya ada satu kali direct train dari Kalambaka kembali ke Athena. Kereta pagi untuk keberangkatan, dan kereta malam untuk kepulangan ke Athena. Durasi yang sangat ideal kalau menurut gue. Kita bisa santai menikmati sunset tour di hari pertama, santai-santai pagi di hari ke dua, lalu kembali explore Meteora dari siang sampai dengan sore di hari ke dua. Sekitar jam 5, waktunya kembali ke stasiun kereta Kalambaka.

Lalu bagaimana pengalaman gue berkunjung ke Meteora? Just three words: it was wonderful!

Di hari pertama, gue putuskan untuk mengikuti sunset tour bareng travel agent Meteora Thrones. Mereka jemput gue ke hotel jam 4 sore dengan minibus yang keren banget! Ada free wi-fi di dalam bisnya, jadi bisa langsung upload foto keren yang baru saja gue dapatkan, hehehehe.

Selama tur yang berlangsung sekitar 4 jam itu, gue dan dua turis asing lainnya dibawa mengelilingi 6 monasteries yang ada di sana. Sayangnya dari 6 monasteries itu, kita hanya diberi kesempatan untuk masuk ke dalam 2 monasteries yang paling kecil saja. Kenapa begitu? Karena waktunya tidak akan cukup jika kita juga masuk ke dalam monasteries yang lebih besar secara bisa sampai ada 100-200 anak tangga hanya untuk sampai ke atas monastery!

Selain mengunjungi monasteries, kita juga berhenti di beberapa tempat bersejarah dan tentunya, beberapa tempat yang sangat ideal untuk berfoto. Bagian foto-foto ini yang paling gue suka! Karena menurut gue, monasteries itu justru terlihat lebih indah dari luar daripada dari dalamnya. Lagipula tanpa ada monasteries-nya pun, Meteora ini sudah luar biasa indahnya! Tempatnya juga sangat fotogenik dan bikin gue jadi kepingin ambil foto lagi dan lagi dan lagi!

Menjelang jam 7 sore, kita dibawa beranjak menuju sunset point. Tempatnya agak curam, jadi harus ekstra hati-hati dan tidak disarankan mengenakan sendal jepit. Begitu sampai sana, Dimitri si tour guide langsung mengarahkan gue duduk di tepian batu besar untuk the best sunset viewing. Dan benar saja! Tanpa ada embel-embel sunset pun, tempat itu sudah sangat memukau mata! Gue bener-bener enggak bisa berhenti mengagumi indahnya pemandangan di depan mata. Pada saat itulah gue memutuskan, “Meteora ini udah jadi tempat paling indah yang pernah gue kunjungi!”

.

This slideshow requires JavaScript.

Selesai nonton sunset, kita diantar pulang menuju hotel masing-masing. Atau sebenarnya, bisa juga minta diantar ke tempat lain, ke restoran terdekat misalnya, tapi gue tetap lebih memilih pulang ke hotel karena langit sudah sangat gelap. Sampai hotel, gue langsung menuju restoran untuk makan malam. Meskipun udara terasa agak dingin, gue tetap lebih memilih duduk di luar, di tepi kolam renang, sambil memandang Meteora di malam hari. Meteora-nya memang tidak terlihat jelas, tapi lampu-lampu dari desa di bawah hotel, angin sepoi-sepoi dan suara jangkrik sudah bikin acara makan malam gue menjadi lebih istimewa.

Keesokan paginya, gue putuskan untuk santai-santai di hotel. Istirahat cukup untuk ‘membayar’ capeknya gue belasan jam di pesawat disambung 5 jam di kereta hanya beberapa jam setelah landing. Gue lalu dengan cueknya makan sangat banyak saat sarapan di hotel (dan ternyata, breakfast di hotel pagi itu merupakan the best breakfast gue selama berlibur di Yunani!) dilanjutkan main-main di pinggir kolam renang. Dan tidak lupa, ambil foto yang banyak! Gue dibantu salah satu restaurant waitress untuk ambil foto gue di pinggir kolam renangnya.

Kemudian setelah check out jam 12 siang, gue langsung dijemput supir taksi yang akan mengantar gue jalan-jalan sampai dengan jam 4 sore. Untuk taxi tour ini jatuhnya agak mahal (EUR 50) jika dibandingkan sunset tour yang hanya EUR 25 secara dalam satu taksi itu penumpangnya hanya gue seorang. Meskipun mahal, tapi gue sangat puas! Gue bebas foto sebanyak-banyaknya dan si supir taksi ini membawa gue ke banyak tempat yang belum gue kunjungi di hari sebelumnya. Ternyata, ada cukup banyak tempat yang hanya bisa diakses oleh mobil kecil saja. Misalnya, tempat untuk melihat Kastraki village dari ketinggian. Foto-foto terbaik gue di Meteora justru gue dapatkan selama taxi tour ini.

Selama taxi tour, gue sempat masuk ke dalam 2 monasteries yang ukurannya lebih besar. Gue paling suka saat mengunjungi Holly Trinity. Jika berkunjung ke sana, jalan terus sampai keluar dari pintu belakang, ikuti jalan sampai ke ujung bukitnya. Di ujung bukit itu (hati-hati jatuh ya!), kita bisa melihat kota Kalambaka di bawah sana! Kabut yang tengah turun malah bikin pemandangannya tambah mempesona kalo menurut gue. Serasa sedang berdiri di istana atas awan sambil mengintip daratan di bawah sana, hehehehe.

Kembali ke taxi tour, meskipun hanya supir taksi, tapi pengetahuan dia soal sejarah Meteora menurut gue tidak kalah dengan official tour guide. Dan lagi-lagi, yang paling gue suka, dia itu jago banget ambil fotonya! Orangnya juga ramah banget, jadi serasa punya teman baru! Sekitar jam setengah lima sore, dia mengantar gue ke stasiun kereta untuk menitipkan koper gue di kantor penjualan tiket supaya gue bisa bebas cari makan tanpa perlu repot-repot memikirkan koper besar gue itu. Very thoughtful, huh? You can contact him for a taxi tour at +30 6972164382 or timos_taxi@hotmail.com

Awalnya gue pikir, naik ratusan anak tangga itu akan sangat-sangat bikin gue jadi capek. Kalau dilihat dari tepi jalan, betul-betul tidak disangka gue pernah berhasil naik sampai ke atas sana, hehehehe. Tapi ternyata, semuanya bisa gue lewati tanpa banyak berhenti untuk duduk-duduk dulu lho. Pemandangannya bikin gue jadi lupa sama capeknya! Dan meskipun hanya sendirian, gue tetap enjoy! Malah anehnya, gue justru merasa pergi sendirian itu pula yang udah bikin perjalanan ke Meteora jadi terasa sangat berbeda. Gue jadi lebih banyak mengobrol dengan sesama turis lain, atau bahkan, dengan si taxi driver gue juga!

Finally, there’s nothing else I can say other than… Meteora is a MUST visit when you’re in Greece. Just come and prove it with your bare eyes!

P.s.: Banyak yang bilang kereta menuju Kalambaka itu bikin bingung, tapi kalau menurut gue sih, gampang-gampang aja tuh. You will just know which train you should take. Yang agak rumit hanya saat cari tempat duduknya saja. Supaya cepat, lebih baik tanya ke petugas! Kemudian jangan ragu bertanya jika kamu melihat ada orang lain yang malah duduk di bangku yang sudah kamu reserve. Di Yunani itu memang sudah biasa asal ambil tempat duduk orang lain yang dikira masih kosong. Oh iya, beli tiket kereta secara online harganya malah lebih murah lho. Just visit http://www.trainose.gr for online reservation.

Sometimes, All that We Need is Just a Break

Last Friday was really one of those exhausting days in life. So many things went wrong, everything ran so fast that I barely had a moment to breath, so many plans didn’t work out in a way I desired, so little times yet so many works remained undone… Not to mention that I literally feel extremely tired everytime I wake up from sleep in the morning.

At some point, I couldn’t help myself but wondering… When will this madness end? Will it ever end in the first place?

But then on Saturday, I had a lovely day. After being occupied with lots of works for a while, I finally had a chance to do one thing that I always love to do: went shopping. As much as I love shopping online; which I did a lot more often lately, walk along the mall and carry the shopping bags on my own hands are somehow irreplaceable.

I love the sounds of the hangers in a small boutique. The smell of new books in a bookstore. I love hunting, fitting, and paying for the stuffs I love to buy. And just like that, I forgot my things to do back at work. I forgot how stressful this life can be. I forgot all the disappointment and failure that brought me down. And then at the end of the day, I asked myself, why should I want this madness to end? My life is running so fast, but thanks to that, it also brought me faster to the things I always dreamed of in life.

You know… that last shopping day was actually no ordinary shopping day. It was a shopping trip to buy the things I need for the upcoming vacation trip by the end of this week.

I bought a pair of sandals, and when I did, I picture myself walking on a white sandy beach. I also bought a new beach bag that fits my snorkel, and when I saw it, all that I could think of was the beauty of under the sea. I also bought a sunblock, travel size toiletries, medicines, all of the small things that will come in handy during my trip!

All that joys on last Saturday has told me this one big thing: I simply need a break. It’s not about my job, it’s not about the battles I’ve lost, it’s not about me having no idea about my own life. It’s simply about me doing all other things that I love to do. I love working and pursuing my dreams, but a nonstop run will only kill myself. It’s just like traveling. No matter how much I love it, a nonstop trip will only make me dying over a boredom.

I need to wake up in a beautiful place knowing that a new adventure will soon begin. I need to wander and get lost and made a discovery along the way. I need to jump off to the water and make that blue sea as my pool. I need to go to bed at night knowing that I still have another day to travel and even later in my last night, I will be able to tell myself that I’m ready to get back to my real and wonderful life back at home.

Again sometimes, all that we need is just a break, a very good one. Reward ourselves for all the hard works, the sleepless nights, and all the pain and tears we had along the journey. Relax, have fun, and when I’m back, I will be in my very best state to figure out the next best thing in life. What’s next? What do I really want? And how do I get there? Well, let’s keep those questions until my vacations ends! 😉

Happy Monday and happy holiday for those who celebrate! 🙂

My Travel Wish List: What’s Next?

Ini dia kebiasaan gue tiap tahunnya: saat persiapan untuk upcoming trip sudah hampir selesai, gue akan langsung sibuk bertanya-tanya; selanjutnya mau ke mana? Sebetulnya ada banyaaaak banget tempat yang ingin gue kunjungi, tapi untuk blog kali ini hanya akan gue tulis top three-nya saja. Isi list ini gue tulis berdasarkan mood gue hari ini, jadi belum tentu besok-besok masih sama urutan tiga besarnya, hehehehe.

.

JAPAN IN WINTER

Yup, gue memang udah pernah satu kali liburan ke Jepang, tapi gue masih pengen balik lagi! From all Asian countries I’ve visited, Japan is the best! Gue suka sama suasana kotanya, sistem transportasinya, objek wisatanya, makanan dan macam-macam desserts-nya! Itu sebabnya, saat baca artikel soal monyet salju yang suka berendam di kolam air panas selama winter, gue langsung bertekad, “Gue harus balik lagi ke Jepang!”

.

MALDIVES

Six-Senses-Resort-Laamu-Paradise-In-Maldives-01

Entah sejak kapan, gue punya cita-cita pergi honeymoon ke Maldives. Cukup 1 minggu, tapi pindah-pindah hotel tiap dua malam sekali. Salah satunya, menginap di hotel yang ada di gambar! Ya kalaupun nanti enggak kesampaian pergi ke Maldives dalam rangka honeymoon, pokoknya gue harus udah ke sana sebelum pulaunya keburu tenggelam, hehehehe.

.

WEST EUROPE

Enggak seperti kebanyakan orang yang lebih memilih ‘memborong’ banyak negara dalam satu kali perjalanan, gue lebih memilih untuk fokus di 2 negara saja: Prancis dan Italia. Ada beberapa desa di Prancis yang ingin gue datangi, dan juga Roma dan Venesia di Italia. Hanya 2 negara itu saja bisa habis hampir 2 minggu!

Masalahnya adalah… gue maunya pergi ke West Europe berdua dengan spouse gue nanti. Kayaknya gambaran pergi ke sana bareng teman-teman itu terasa agak-agak enggak pas kalo buat gue. You know… it should be a romantic getaway, hehehehe.

Traveling Tips #1: How to Save Your Energy & Stay Comfort During the Trip

Gue udah sering baca traveling tips standar soal pakai alas kaki yang nyaman, tata cara packing yang efisien dan masih banyak lagi… Traveling tips yang udah banyak bantu gue di masa-masa masih newbie beberapa tahun yang lalu. Kemudian kali ini, gantian gue sendiri yang kepingin berbagi traveling tips yang gue pelajari dari pengalaman gue pribadi. Siapa tahu, ini bisa jadi tips yang bermanfaat!

  1. Legging yang pas badan (jangan terlalu ketat) akan terasa lebih nyaman daripada celana jeans. Kalau mau pakai jeans, cari ukuran pas badan yang tidak memerlukan ikat pinggang. Tekanan dari ikat pinggang bisa bikin kita menjadi cepat pegal;
  2. Pilih koper dengan empat roda di bawahnya. Jika sudah punya koper roda empat, jangan dibawa dengan cara ditarik dari depan! Letakkan koper dengan posisi tegak sejajar di samping kita dan genggam ujung handle-nya sambil terus berjalan. Ini betul-betul menghemat tenaga lho;
  3. Bawa toiletries dan produk kecantikan lainnya dalam ukuran serba mini. Jangan membebani koper kita dengan cairan yang tidak akan habis selama perjalanan. Save your energy!
  4. Gunting kuku kaki sebelum perjalanan. Semakin sering kita berjalan kaki, semakin besar kemungkinan kuku kaki kita yang panjang itu melukai kulit jari lain yang berada persis di sebelahnya;
  5. Jika bepergian menggunakan sandal terbuka atau alas kaki lain yang tidak memerlukan kaus kaki, ada baiknya pakai body lotion dulu beberapa menit sebelum bepergian tiap harinya. Cukup efektif untuk mengurangi resiko kaki lecet;
  6. Tidak perlu jalan kaki terburu-buru. Atur jadwal perjalanan sedemikian rupa sehingga kita tidak perlu berjalan cepat untuk mengejar jadwal keberangkatan kereta, misalnya. Cukup jalan santai dan nikmati suasana kota!
  7. Hati-hati saat mengangkat dan membawa koper, jangan sampai koper kita itu membentur badan kita sendiri. Hal inilah yang seringkali tanpa kita sadari meninggalkan memar di badan kita ini;
  8. Selain obat untuk luka luar, jangan juga lupa bawa Counterpain atau yang sejenisnya. Ini ampuh banget untuk mengurangi rasa pegal;
  9. Harus tetap makan seperti biasa! Jika sudah terbiasa makan sehari 3 kali, maka mau seburuk apapun makanan di tempat liburan, kita tetap harus makan sehari 3 kali. It’s simply your basic need to help you surviving the day; dan
  10. Jika ada budget lebih, maka jangan pelit untuk membayar extra baggage di pesawat, terutama jika perjalanan kamu melibatkan multiple flights. Semakin lama kita berurusan dengan beban berat, maka kita akan semakin cepat merasa capek selama di perjalanan.

Save your energy, stay healthy, and enjoy your trip!