The Beauty of Meteora

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Meteora Hotel at Kastraki.

Apa sih, yang pertama terlintas di benak kamu saat mendengar nama Yunani? Blue dome church in Santorini? The magnificent blue Aegean sea? Acropolis? Or a beach party at Mykonos? 

Awalnya, Meteora juga tidak masuk ke dalam itinerary gue. Jangankan masuk ke itinerary, dengar namanya saja gue belum pernah! Entah kenapa, Meteora memang tidak cukup terkenal di kalangan turis Indonesia. Tapi berkat iseng-iseng googling “tourist attraction in Greece“, gue jadi ‘diperkenalkan’ dengan Meteora; the natural big rocks with monasteries on top of it. Pertama kali melihat gambarnya, gue langsung terkesima!

Hanya saja sayangnya, Meteora ini termasuk jauh dari Athena. Membutuhkan perjalanan darat dengan kereta antara 5-6 jam! Bisa capek rasanya kalau harus pulang-pergi dari Athena hanya dalam 1 hari yang sama. Tapi misalkan gue sampai menginap, kegiatan apa saja yang akan gue lakukan di sana nanti? Secara tourist attraction-nya ya hanya pemandangan Meteora dan monasteries-nya itu saja kan…

Setelah dipertimbangkan matang-matang, akhirnya gue sepakat dengan diri gue sendiri (secara memang gue mengunjungi Meteora hanya sendirian); gue akan tetap menginap satu malam di Kastraki; desa terdekat dengan Meteora. Gue bahkan berhasil menemukan hotel yang punya the best panoramic view of Meteora. Foto gue di depan kolam renang hotel ini benar-benar keren kalo menurut gue, hehehehe.

Dalam satu hari, hanya ada satu direct train (tanpa transit) dari Athena ke Kalambaka (stasiun terdekat untuk mengunjungi Meteora), begitu pula sebaliknya; hanya ada satu kali direct train dari Kalambaka kembali ke Athena. Kereta pagi untuk keberangkatan, dan kereta malam untuk kepulangan ke Athena. Durasi yang sangat ideal kalau menurut gue. Kita bisa santai menikmati sunset tour di hari pertama, santai-santai pagi di hari ke dua, lalu kembali explore Meteora dari siang sampai dengan sore di hari ke dua. Sekitar jam 5, waktunya kembali ke stasiun kereta Kalambaka.

Lalu bagaimana pengalaman gue berkunjung ke Meteora? Just three words: it was wonderful!

Di hari pertama, gue putuskan untuk mengikuti sunset tour bareng travel agent Meteora Thrones. Mereka jemput gue ke hotel jam 4 sore dengan minibus yang keren banget! Ada free wi-fi di dalam bisnya, jadi bisa langsung upload foto keren yang baru saja gue dapatkan, hehehehe.

Selama tur yang berlangsung sekitar 4 jam itu, gue dan dua turis asing lainnya dibawa mengelilingi 6 monasteries yang ada di sana. Sayangnya dari 6 monasteries itu, kita hanya diberi kesempatan untuk masuk ke dalam 2 monasteries yang paling kecil saja. Kenapa begitu? Karena waktunya tidak akan cukup jika kita juga masuk ke dalam monasteries yang lebih besar secara bisa sampai ada 100-200 anak tangga hanya untuk sampai ke atas monastery!

Selain mengunjungi monasteries, kita juga berhenti di beberapa tempat bersejarah dan tentunya, beberapa tempat yang sangat ideal untuk berfoto. Bagian foto-foto ini yang paling gue suka! Karena menurut gue, monasteries itu justru terlihat lebih indah dari luar daripada dari dalamnya. Lagipula tanpa ada monasteries-nya pun, Meteora ini sudah luar biasa indahnya! Tempatnya juga sangat fotogenik dan bikin gue jadi kepingin ambil foto lagi dan lagi dan lagi!

Menjelang jam 7 sore, kita dibawa beranjak menuju sunset point. Tempatnya agak curam, jadi harus ekstra hati-hati dan tidak disarankan mengenakan sendal jepit. Begitu sampai sana, Dimitri si tour guide langsung mengarahkan gue duduk di tepian batu besar untuk the best sunset viewing. Dan benar saja! Tanpa ada embel-embel sunset pun, tempat itu sudah sangat memukau mata! Gue bener-bener enggak bisa berhenti mengagumi indahnya pemandangan di depan mata. Pada saat itulah gue memutuskan, “Meteora ini udah jadi tempat paling indah yang pernah gue kunjungi!”

.

This slideshow requires JavaScript.

Selesai nonton sunset, kita diantar pulang menuju hotel masing-masing. Atau sebenarnya, bisa juga minta diantar ke tempat lain, ke restoran terdekat misalnya, tapi gue tetap lebih memilih pulang ke hotel karena langit sudah sangat gelap. Sampai hotel, gue langsung menuju restoran untuk makan malam. Meskipun udara terasa agak dingin, gue tetap lebih memilih duduk di luar, di tepi kolam renang, sambil memandang Meteora di malam hari. Meteora-nya memang tidak terlihat jelas, tapi lampu-lampu dari desa di bawah hotel, angin sepoi-sepoi dan suara jangkrik sudah bikin acara makan malam gue menjadi lebih istimewa.

Keesokan paginya, gue putuskan untuk santai-santai di hotel. Istirahat cukup untuk ‘membayar’ capeknya gue belasan jam di pesawat disambung 5 jam di kereta hanya beberapa jam setelah landing. Gue lalu dengan cueknya makan sangat banyak saat sarapan di hotel (dan ternyata, breakfast di hotel pagi itu merupakan the best breakfast gue selama berlibur di Yunani!) dilanjutkan main-main di pinggir kolam renang. Dan tidak lupa, ambil foto yang banyak! Gue dibantu salah satu restaurant waitress untuk ambil foto gue di pinggir kolam renangnya.

Kemudian setelah check out jam 12 siang, gue langsung dijemput supir taksi yang akan mengantar gue jalan-jalan sampai dengan jam 4 sore. Untuk taxi tour ini jatuhnya agak mahal (EUR 50) jika dibandingkan sunset tour yang hanya EUR 25 secara dalam satu taksi itu penumpangnya hanya gue seorang. Meskipun mahal, tapi gue sangat puas! Gue bebas foto sebanyak-banyaknya dan si supir taksi ini membawa gue ke banyak tempat yang belum gue kunjungi di hari sebelumnya. Ternyata, ada cukup banyak tempat yang hanya bisa diakses oleh mobil kecil saja. Misalnya, tempat untuk melihat Kastraki village dari ketinggian. Foto-foto terbaik gue di Meteora justru gue dapatkan selama taxi tour ini.

Selama taxi tour, gue sempat masuk ke dalam 2 monasteries yang ukurannya lebih besar. Gue paling suka saat mengunjungi Holly Trinity. Jika berkunjung ke sana, jalan terus sampai keluar dari pintu belakang, ikuti jalan sampai ke ujung bukitnya. Di ujung bukit itu (hati-hati jatuh ya!), kita bisa melihat kota Kalambaka di bawah sana! Kabut yang tengah turun malah bikin pemandangannya tambah mempesona kalo menurut gue. Serasa sedang berdiri di istana atas awan sambil mengintip daratan di bawah sana, hehehehe.

Kembali ke taxi tour, meskipun hanya supir taksi, tapi pengetahuan dia soal sejarah Meteora menurut gue tidak kalah dengan official tour guide. Dan lagi-lagi, yang paling gue suka, dia itu jago banget ambil fotonya! Orangnya juga ramah banget, jadi serasa punya teman baru! Sekitar jam setengah lima sore, dia mengantar gue ke stasiun kereta untuk menitipkan koper gue di kantor penjualan tiket supaya gue bisa bebas cari makan tanpa perlu repot-repot memikirkan koper besar gue itu. Very thoughtful, huh? You can contact him for a taxi tour at +30 6972164382 or timos_taxi@hotmail.com

Awalnya gue pikir, naik ratusan anak tangga itu akan sangat-sangat bikin gue jadi capek. Kalau dilihat dari tepi jalan, betul-betul tidak disangka gue pernah berhasil naik sampai ke atas sana, hehehehe. Tapi ternyata, semuanya bisa gue lewati tanpa banyak berhenti untuk duduk-duduk dulu lho. Pemandangannya bikin gue jadi lupa sama capeknya! Dan meskipun hanya sendirian, gue tetap enjoy! Malah anehnya, gue justru merasa pergi sendirian itu pula yang udah bikin perjalanan ke Meteora jadi terasa sangat berbeda. Gue jadi lebih banyak mengobrol dengan sesama turis lain, atau bahkan, dengan si taxi driver gue juga!

Finally, there’s nothing else I can say other than… Meteora is a MUST visit when you’re in Greece. Just come and prove it with your bare eyes!

P.s.: Banyak yang bilang kereta menuju Kalambaka itu bikin bingung, tapi kalau menurut gue sih, gampang-gampang aja tuh. You will just know which train you should take. Yang agak rumit hanya saat cari tempat duduknya saja. Supaya cepat, lebih baik tanya ke petugas! Kemudian jangan ragu bertanya jika kamu melihat ada orang lain yang malah duduk di bangku yang sudah kamu reserve. Di Yunani itu memang sudah biasa asal ambil tempat duduk orang lain yang dikira masih kosong. Oh iya, beli tiket kereta secara online harganya malah lebih murah lho. Just visit http://www.trainose.gr for online reservation.

Sometimes, All that We Need is Just a Break

Last Friday was really one of those exhausting days in life. So many things went wrong, everything ran so fast that I barely had a moment to breath, so many plans didn’t work out in a way I desired, so little times yet so many works remained undone… Not to mention that I literally feel extremely tired everytime I wake up from sleep in the morning.

At some point, I couldn’t help myself but wondering… When will this madness end? Will it ever end in the first place?

But then on Saturday, I had a lovely day. After being occupied with lots of works for a while, I finally had a chance to do one thing that I always love to do: went shopping. As much as I love shopping online; which I did a lot more often lately, walk along the mall and carry the shopping bags on my own hands are somehow irreplaceable.

I love the sounds of the hangers in a small boutique. The smell of new books in a bookstore. I love hunting, fitting, and paying for the stuffs I love to buy. And just like that, I forgot my things to do back at work. I forgot how stressful this life can be. I forgot all the disappointment and failure that brought me down. And then at the end of the day, I asked myself, why should I want this madness to end? My life is running so fast, but thanks to that, it also brought me faster to the things I always dreamed of in life.

You know… that last shopping day was actually no ordinary shopping day. It was a shopping trip to buy the things I need for the upcoming vacation trip by the end of this week.

I bought a pair of sandals, and when I did, I picture myself walking on a white sandy beach. I also bought a new beach bag that fits my snorkel, and when I saw it, all that I could think of was the beauty of under the sea. I also bought a sunblock, travel size toiletries, medicines, all of the small things that will come in handy during my trip!

All that joys on last Saturday has told me this one big thing: I simply need a break. It’s not about my job, it’s not about the battles I’ve lost, it’s not about me having no idea about my own life. It’s simply about me doing all other things that I love to do. I love working and pursuing my dreams, but a nonstop run will only kill myself. It’s just like traveling. No matter how much I love it, a nonstop trip will only make me dying over a boredom.

I need to wake up in a beautiful place knowing that a new adventure will soon begin. I need to wander and get lost and made a discovery along the way. I need to jump off to the water and make that blue sea as my pool. I need to go to bed at night knowing that I still have another day to travel and even later in my last night, I will be able to tell myself that I’m ready to get back to my real and wonderful life back at home.

Again sometimes, all that we need is just a break, a very good one. Reward ourselves for all the hard works, the sleepless nights, and all the pain and tears we had along the journey. Relax, have fun, and when I’m back, I will be in my very best state to figure out the next best thing in life. What’s next? What do I really want? And how do I get there? Well, let’s keep those questions until my vacations ends! 😉

Happy Monday and happy holiday for those who celebrate! 🙂

My Travel Wish List: What’s Next?

Ini dia kebiasaan gue tiap tahunnya: saat persiapan untuk upcoming trip sudah hampir selesai, gue akan langsung sibuk bertanya-tanya; selanjutnya mau ke mana? Sebetulnya ada banyaaaak banget tempat yang ingin gue kunjungi, tapi untuk blog kali ini hanya akan gue tulis top three-nya saja. Isi list ini gue tulis berdasarkan mood gue hari ini, jadi belum tentu besok-besok masih sama urutan tiga besarnya, hehehehe.

.

JAPAN IN WINTER

Yup, gue memang udah pernah satu kali liburan ke Jepang, tapi gue masih pengen balik lagi! From all Asian countries I’ve visited, Japan is the best! Gue suka sama suasana kotanya, sistem transportasinya, objek wisatanya, makanan dan macam-macam desserts-nya! Itu sebabnya, saat baca artikel soal monyet salju yang suka berendam di kolam air panas selama winter, gue langsung bertekad, “Gue harus balik lagi ke Jepang!”

.

MALDIVES

Six-Senses-Resort-Laamu-Paradise-In-Maldives-01

Entah sejak kapan, gue punya cita-cita pergi honeymoon ke Maldives. Cukup 1 minggu, tapi pindah-pindah hotel tiap dua malam sekali. Salah satunya, menginap di hotel yang ada di gambar! Ya kalaupun nanti enggak kesampaian pergi ke Maldives dalam rangka honeymoon, pokoknya gue harus udah ke sana sebelum pulaunya keburu tenggelam, hehehehe.

.

WEST EUROPE

Enggak seperti kebanyakan orang yang lebih memilih ‘memborong’ banyak negara dalam satu kali perjalanan, gue lebih memilih untuk fokus di 2 negara saja: Prancis dan Italia. Ada beberapa desa di Prancis yang ingin gue datangi, dan juga Roma dan Venesia di Italia. Hanya 2 negara itu saja bisa habis hampir 2 minggu!

Masalahnya adalah… gue maunya pergi ke West Europe berdua dengan spouse gue nanti. Kayaknya gambaran pergi ke sana bareng teman-teman itu terasa agak-agak enggak pas kalo buat gue. You know… it should be a romantic getaway, hehehehe.

Traveling Tips #1: How to Save Your Energy & Stay Comfort During the Trip

Gue udah sering baca traveling tips standar soal pakai alas kaki yang nyaman, tata cara packing yang efisien dan masih banyak lagi… Traveling tips yang udah banyak bantu gue di masa-masa masih newbie beberapa tahun yang lalu. Kemudian kali ini, gantian gue sendiri yang kepingin berbagi traveling tips yang gue pelajari dari pengalaman gue pribadi. Siapa tahu, ini bisa jadi tips yang bermanfaat!

  1. Legging yang pas badan (jangan terlalu ketat) akan terasa lebih nyaman daripada celana jeans. Kalau mau pakai jeans, cari ukuran pas badan yang tidak memerlukan ikat pinggang. Tekanan dari ikat pinggang bisa bikin kita menjadi cepat pegal;
  2. Pilih koper dengan empat roda di bawahnya. Jika sudah punya koper roda empat, jangan dibawa dengan cara ditarik dari depan! Letakkan koper dengan posisi tegak sejajar di samping kita dan genggam ujung handle-nya sambil terus berjalan. Ini betul-betul menghemat tenaga lho;
  3. Bawa toiletries dan produk kecantikan lainnya dalam ukuran serba mini. Jangan membebani koper kita dengan cairan yang tidak akan habis selama perjalanan. Save your energy!
  4. Gunting kuku kaki sebelum perjalanan. Semakin sering kita berjalan kaki, semakin besar kemungkinan kuku kaki kita yang panjang itu melukai kulit jari lain yang berada persis di sebelahnya;
  5. Jika bepergian menggunakan sandal terbuka atau alas kaki lain yang tidak memerlukan kaus kaki, ada baiknya pakai body lotion dulu beberapa menit sebelum bepergian tiap harinya. Cukup efektif untuk mengurangi resiko kaki lecet;
  6. Tidak perlu jalan kaki terburu-buru. Atur jadwal perjalanan sedemikian rupa sehingga kita tidak perlu berjalan cepat untuk mengejar jadwal keberangkatan kereta, misalnya. Cukup jalan santai dan nikmati suasana kota!
  7. Hati-hati saat mengangkat dan membawa koper, jangan sampai koper kita itu membentur badan kita sendiri. Hal inilah yang seringkali tanpa kita sadari meninggalkan memar di badan kita ini;
  8. Selain obat untuk luka luar, jangan juga lupa bawa Counterpain atau yang sejenisnya. Ini ampuh banget untuk mengurangi rasa pegal;
  9. Harus tetap makan seperti biasa! Jika sudah terbiasa makan sehari 3 kali, maka mau seburuk apapun makanan di tempat liburan, kita tetap harus makan sehari 3 kali. It’s simply your basic need to help you surviving the day; dan
  10. Jika ada budget lebih, maka jangan pelit untuk membayar extra baggage di pesawat, terutama jika perjalanan kamu melibatkan multiple flights. Semakin lama kita berurusan dengan beban berat, maka kita akan semakin cepat merasa capek selama di perjalanan.

Save your energy, stay healthy, and enjoy your trip!

My New Wish List: Local Travel Destinations!

Kata siapa gue cuma mau jalan-jalan ke luar negeri? Gue juga punya kok, daftar local destinations yang kepengen gue datengin. Berikut ini daftar lengkapnya, dimulai dari yang paling dekat sampai dengan yang paling jauh.

Hutan Mangrove PIK – Jakarta Utara

Gue setengah enggak percaya saat pertama tahu ada tempat seperti ini di Jakarta Utara – enggak jauh dari kantor gue sebelum ini. Seriously… in the middle of this city? Padahal sebelumnya, gue udah pernah lihat foto pre-wedding yang berlokasi di sini. Tapi waktu itu, dengan polosnya gue berpikiran, “Ini pasti lokasi fotonya di luar negeri!”

mangrove1

Ya emang sih, hutan bakau di PIK ini bukan hutan bakau yang paling lebat dan paling keren yang bisa kita temukan gambarnya dengan cara nge-Google. Tapi maksud gue, hutan bakau ini deket banget dengat tempat tinggal gue! I want to be there, soon!

Kampung Sampireun – Garut

Gue pertama kali denger nama Kampung Sampireun itu dari senior-senior di EY dulu. Mereka pernah outing di sana dan sepertinya berkesan banget. Secara gue belum pernah ngerasain wisata danau, jadi kepengen dan penasaran aja gitu. Dan lagi-lagi, sepertinya ini pilihan terdekat yang dari gambarnya pun, udah kelihatan cantik dan fotogenik.

sampierun

Sempet kepikiran mau ngajakin temen-temen sekantor buat outing ke sini aja, tapiii, sepertinya untuk tahun ini, budget kita cuma cukup buat sampe ke Pulau Macan saja, huhuhuhu.

Batu – Malang

Ada ex-colleague yang udah sering banget ngajakin gue liburan ke sini tiap kali gue ada office visit ke Surabaya. Malang-Surabaya kan jaraknya masih relatif dekat tuh. Tapi sayangnya, sampai akhirnya gue resign dari kantor itu, masih belum kesampean buat liburan ke Malang 😦

Apa yang kepengen gue kunjungi di Batu Malang? Banyak! Daerah ini memang sengaja dikembangkan oleh pemerintah setempat sebagai pusat wisata di Jawa Timur. Yang paling bikin penasaran sih udah pasti Jatim Park-nya itu. Kenapa? Yang pertama karena teman teman gue itu mempromosikan tempat ini sebagai sesuatu yang, “Worth it banget!”. Lalu yang ke dua, apa lagi kalo bukan karena gue ini amusement park freak? 🙂

Ora Beach – Maluku

Untuk yang satu ini gue masih norak-noraknya, secara gue baru tau soal keberadaan pantai ini. Jadi awalnya, gue lihat foto pre-wedding di Instagram-nya Axioo yang langsung bikin gue mikir, “This is one of the most beautiful beach pre-wedding picture I’ve ever seen!” Gue pun langsung heboh baca semua comments di foto itu hanya untuk cari tahu di mana lokasi fotonya. My heart was jumping to know it was still in Indonesia!

PANTAI-ORA karang ora beach HP_Sofitel+Moorea+Ia+Ora+Beach+Resort-849

Sebenernya masih banyak sih ya, pantai-pantai cantik lainnya di Indonesia. Tapi gue bener-bener ‘terbius’ aja gitu sama fotonya Axioo itu. Jadi sempet berpikiran, “Kalo foto pre-wed di luar negeri itu kemahalan, foto di Ora beach juga boleh lah, hehehehe.” 😉

Raja Ampat – Papua

Ya ya ya, I know… pergi liburan ke sini mahalnya setengah mati. Apalagi buat tipikal traveler yang enggak betah sama penginapan ala homestay kayak gue ini… Tapi gimana dong, this place is just too beautiful to be missed!

Kepulauan-Raja-Ampat

Katanya sih, rugi banget ke sini kalo enggak nyobain diving-nya. Tapi gue enggak berani ah, diving. Snorkeling aja baru berani setelah umur gue seperempat abad, hehehehe.

Ada yang punya ide tempat wisata lainnya? Please let me know!

It’s Not Easy to Be Me, but It’s Fun!

Traveling always makes me feel so blessed with my life, always more and more than I ever did before. It feels like the most perfect time for me to count my blessings. It makes me feel grateful for everything I’ve achieved, for every loss I’ve survived; I’m simply grateful for the person whom I’ve become.

A few nights ago, I walked along Disneysea Japan, strolling to my most favorite ride in that amusement park for the second time, alone. Two of my friends have made their ways back to our hotel, and the other one decided to watch the firework in the central park. I hugged myself to fight the windy night, looked out of the beautiful lamps along the street, and I told myself… “I’m really happy with the decent life God has given to me.”

I started my career from scratch, from an intern in one of the biggest audit firms worldwide. I began my first trip abroad almost two years afterward, and four years later, there I was… in a country that I always wanted to visit. I was there and I managed to do everything I always wanted to do with my Japan trip!

As I’ve written above, I was alone in the last minutes before the Disneysea park closed, but I was still happy for being there. It made me feel so proud even more! It reminded me of my solo trip to Bangkok last year which made me proud of my courage to travel alone. I’m proud that I know how to be happy even when I had nobody right beside me. I’m so blessed with all of the good friends around, but I’m happy to know that I don’t count my happiness on anybody’s hand.

Five or six years ago, a friend of mine wrote on her Facebook page a status that really impressed me personally. She simply said, “It’s not easy to be me, but it’s fun!”

As the time goes by, as my life as an adult started to go up and down, I eventually feel the way my friend feels about her own life. I also feel, so many times, that it’s not easy to be me… but it’s fun!

It was not easy to work in managerial level when I was only 25 years old, but I’m proud that I have passed those bumpy roads, and I believe that I have been a good leader apart of my young age.

It was not easy to spend long hours at work, to survive the sleepless night, to lose so many times for my personal life, but I’m delighted, I’m even addicted, to the awesome results I’ve got in return.

It is not easy to have many haters who always try to bring me down, but I’m also flattered because they’re actually showing me how much I’ve achieved with my own life.

It is not easy to watch many best friends suddenly walked away for no reasons, but at the same time, their departures have made me feel so thankful for everyone who accepts and appreciates me for the way I am.

Then of course… it’s never been easy to keep up all kinds of relationships on earth… It’s not easy to handle my families, my best friends, even my co-workers… but I’m so touched knowing that after everything’s happened along the way, I never ever ending up as a lonely one. I’ve never been lonely, because even when I’m alone, I know that I always have some people for me to go home.

There are still some times I’m wondering why should my life being so damn hard like this. I hate when tears suddenly came down through my eyes. I hate when my heart is broken, when my life is falling apart, when I’m betrayed and disappointed… but at the end of the day, all of those pains have taught me to appreciate every little happiness in life, and also taught me how to never take people who sincerely love me for granted.

On top of my gratitude, I am most happy with all of the dreams those have come true. Every trip I’ve had is a dream coming true for me, and that’s why I mentioned earlier; traveling always makes me feel so blessed with my life. I’m blessed that even though it’s not easy to be me, I still manage to be happy for being myself.

My life will never ever be easy, but I hope, it will always be so much fun to live in 🙂

Plus-Minus Traveling Sendirian

Pertengahan tahun 2013 yang lalu, for the first time ever, gue merasakan yang namanya traveling sendirian. Cuma ke Bangkok, tapi ternyata membutuhkan keberanian yang cukup besar secara gue belum pernah berkunjung ke kota itu sebelumnya. Lalu gimana rasanya traveling sendirian? Berikut ini plus-minus berdasarkan pengalaman pribadi gue itu.

MINUS

  • Nggak punya temen untuk gantian ngantri sesuatu. Contohnya pada saat gue ngantri check-in di bandara Soetta… mendadak aja gue kepingin pergi ke toilet! Masalahnya, antrian check-in panjang banget, proses check-in lelet, dan pesawat gue udah mau boarding! Akhirnya terpaksa gue tahan-tahan sampe selesai urusan check-in and drop baggage;
  • Nggak ada yang bisa minjemin duit. Ini berasa buat gue justru waktu masih di Indonesia. Masih pada saat ngantri check-in, pas udah hampir sampe depan, gue menyadari… duit Rupiah gue ilang! Padahal gue yakin udah nyiapin 2 lembar seratus ribuan di dalam tas. Dalam keadaan panik, gue nekad minjem duit sama cowok di belakang gue… tapii, dia ngakunya nggak punya duit rupiah juga! Tapi ternyata duit Rupiah gue cuma keselip di balik passport, hehehehe. P.s.: kejadian ini membuat gue menyadari… ternyata gue ini eggak sebegitu cakepnya… buktinya itu cowok di belakang gue enggak tergerak minjemin gue duit, hehehehe;
  • Nggak ada yang bisa dititipin tas. Mau ke toilet di pesawat? Tas harus dibawa. Mau ngambil makanan di buffet restaurant? Tas juga harus dibawa. Sekedar mau ngambil sedotan di restoran fast food pun, tas itu harus dibawa-bawa… Agak repot aja gitu;
  • Nggak ada yang nemenin gue waktu jalan sendirian, tengah malem, di kolong jembatan Bangkok yang udah sepi banget… Sebenernya bukan kolong jembatan juga sih. Karena di Bangkok itu main public transport-nya berupa sky train, wajar aja kalo di sana jadi ada banyak ‘kolong jembatan’;
  • Nggak ada temen haha-hihi. Saat ada hal lucu, gue ketawa sendirian… Dan tiba-tiba gue jadi teringat sama masa-masa ketawa bareng sampe sakit perut waktu traveling bareng temen-temen gue… Yang bagian ini… rasanya emang rada-rada sedih, hehehe;
  • Penderitaan nomor satu kalo traveling sendirian: nggak ada yang fotoin gue 😦 Masalahnya gue bukan tipe orang yang super supel yang bisa dengan mudahnya minta tolong orang asing buat fotoin gue. Belum lagi pikiran parno seperti, “Gimana kalo nanti kamera gue malah dibawa lari???”

PLUS

  • Gue bisa bikin itinerary sesuai keinginan. Cuma di solo trip ini aja gue bisa bebas menghabiskan waktu berjam-jam hanya buat keliling 6 mall di Bangkok. Enaknya lagi, enggak ada orang yang protes waktu gue lebih memilih tiket Madame Tussauds gue hangus demi mendapatkan extra hours buat acara belanja 😀
  • Gue juga bisa bikin budget sesuai keinginan. Mau nonton live show di bangku VIP? Nggak ada yang complain kemahalan. Mau naik pesawat murah juga nggak ada yang comment takut pesawatnya jatuh… Mau gaya-gayaan nginep di hotel bintang 5 juga nggak ada yang ngelarang. Asyik lah kalo buat urusan budget
  • Gue bisa makan di restoran manapun gue yang gue pengen. Mau mahal atau murah, mau jenis apapun makanannya, pokoknya terserah gue aja. Kadang kalo traveling in group, gue jadi suka telat makan cuma gara-gara lama berdebat mau makan di mana. Efeknya? Magh gue kumat!
  • Gue bisa bangun jam berapapun yang gue inginkan. Harus bangun subuh-subuh? Nggak ada temen yang ngedumel. Kepengen tidur bablas sampe jam 8 pagi? Nggak ada pula yang ngoceh nyeramahin gue supaya cepet bangun;
  • Zero conflict along the way. Nggak ada temen yang cuma mau terima beres, temen yang suka ngilangin berbagai macam benda penting, temen yang kelamaan mandi + dandan, temen yang terlalu lama foto-foto, temen yang berubah jadi galak tiap kali nyasar di jalan, temen yang nggak kuat jalan kaki terlalu lama, temen yang cuma mentingin diri mereka sendiri… This is one of the best parts of traveling alone for me;
  • The best part of traveling alone: it makes me realize that even though I’m all alone, everything will be just fine. Berhasil melalui banyak rintangan yang gue sebutkan di bagian ‘minus’ di atas bikin gue jadi bangga banget sama diri gue sendiri. Gue jadi lebih pede dan lebih berani dalam menjalani keseharian gue. Kemudian fakta bahwa gue masih bisa bersenang-senang meskipun cuma sendirian juga bikin gue jadi tau bahwa gue bukan tipe orang yang menggantungkan kebahagiaan gue sama orang lain, hohoho;
  • Solo trip ke Bangkok itu, nggak disangka-sangka, udah jadi starting point buat gue menemukan jati diri gue sendiri. Gue jadi tahu kapasitas diri sendiri, kelebihan dan kekurangan gue, serta jadi lebih memahami hal-hal yang paling gue inginkan dalam hidup ini. Proses pencarian jati diri gue selama bertahun-tahun ini seperti mulai menemukan titik terang. Jadi mungkin memang benar… a solo trip will help you to find you;
  • Finallytraveling alone makes me appreciate my past traveling partners. Gue jadi sadar bahwa best memories dari traveling itu enggak selalu soal foto-foto keren dan oleh-oleh yang lucu tapi murah, tapi juga soal kenangan yang gue lewati bersama teman-teman. Ada banyak kebodohan bareng mereka yang pada saat itu bikin gue jengkel, tapi kalo diinget-inget sekarang, yang ada gue malah senyum-senyum sendiri… Dan tentunya, harus gue akui… foto liburan gue yang keren-keren itu adalah berkat jasa teman-teman seperjalanan gue. Beda banget sama foto-foto solo trip yang kebanyakan fokus di muka gue doang, hehehehe.

Jadi kesimpulannya… kapok nggak gue traveling sendirian? I’m proudly to say no. Gue senang waktu itu tetap memutuskan untuk jalan meskipun 2 orang teman seperjalanan memutuskan untuk cancel. Gue jadi punya me time, new bold experience, dan itu tadi: gue jadi lebih berani serta lebih percaya dengan diri gue sendiri. Those are the things I will never get if I go traveling in group. Gue juga nggak bakal puas belanja gila-gilaan kayak kemaren kalo bukan karena gue pergi sendirian… Secara jarang ada orang yang punya kemampuan buat keliling mall sampe segila itu 🙂

Someday, gue bakal traveling sendirian lagi, dan tetap akan traveling rame-rame lagi juga. Buat gue sekarang, yang penting bukan pergi sendiri atau beramai-ramai, karena yang paling penting adalah kenangan yang gue bawa pulang setelahnya. Happy traveling for everyone!

Terminal 21 Shopping Mall

Awalnya, Terminal 21 ini enggak termasuk di itinerary gue. Tapi gara-gara baca review positif dari turis-turis lain di Trip Advisor, gue jadi pengen ke sana! Gue nggak bilang Terminal 21 ini tempat yang oke buat belanja-belanja lho ya. Karena emang bukan itu kelebihannya mall ini. Satu hal yang paling menarik dari Terminal 21 itu interior design-nya! Jadi tiap lantai di mall ini punya tema yang berbeda-beda. Ada tema kota London, Paris, Turki, Tokyo, dsb dsb. Jadi tujuan gue ke sini… apalagi kalo bukan buat foto-foto, hehehehe.

This slideshow requires JavaScript.

Satu hal yang agak unik dari tempat ini adalah kebiasaan turis untuk foto-foto di rest room-nya. So don’t call me stupid, karena bukan cuma gue doang turis yang sengaja mampir ke rest room tiap lantai cuma buat foto-foto doang 😀 Trus toilet di sini terkenal canggih. Dan ternyata emang bener canggih lho, ada banyak fiturnya gitu. Tapi pas udah pulang ke Indo, gue baru tau kalo Niro (kantor gue saat ini) juga jualan toilet yang nggak kalah canggihnya, hehehehe. Serius lho, pilihan fiturnya bener-bener mirip! Merk kantor gue itu Orin anyway, sekalian promosi, hahahaha.

Di Terminal 21 ini gue enggak banyak belanja. Gue cuma mampir ke Takenoi Land (gue tertarik ke toko ini gara-gara nonton filmnya) sama mampir ke toko bunga yang koleksinya cantik-cantik banget! Tadinya gue pengen beli yang banyak, tapi kalo bunga dalam vas gitu, repot bawa pulangnya! Jadilah gue cuma beli satu bunga kecil dalam pot dan 2 magnet bunga yang nggak kalah cantiknya.

Barang-barang di Terminal 21 sebenernya lumayan lucu-lucu sih, tapi karena udah puas banget sama Platinum, rasa-rasanya kok barang di sana jadi nggak ada apa-apanya gitu. Trus sebetulnya di sana ada juga toko dari merk favorit gue kayak Guess dan CK, tapii, harga di Indonesia malah lebih murah tuh. Jadi sudahlah, kalo mau belanja CK sih, di Johor Premium Outlet udah paling murah.

Hari itu gue juga menyempatkan makan siang di food court Temrinal 21, tapi sayangnya, kalo di mall ini enggak ada gerai yang mencantumkan label halal. Kalopun ada berarti enggak banyak yah, soalnya gue nggak berhasil nemuin tuh. Selain itu kalo siang hari, food court mall ini penuh dengan pekerja kantoran. Jadi mesti berebut meja sama mereka yang sengaja naruh name tag mereka di atas meja makan sebagai tanda ‘booking’.

Akhirnya kalo menurut gue, misal ada waktu lebih di Bangkok, bolehlah mampir ke sini, terutama buat kamu yang banci foto. Tapi kalo cuma punya waktu yang terbatas, mending mampir ke Platinum, MBK, lalu Asiatique. Dan satu lagi, di Terminal 21 itu nggak bisa nawar dan range harganya relatif lebih mahal. However in my personal opinion, as a shopaholic, seeing a mall with such a unique concept like this is still a must, hehehehe.

The Amazing Siam Niramit Show

Ke manapun gue pergi liburan, yang namanya nonton live show sudah pasti wajib hukumnya. Untuk kunjungan ke Bangkok bulan lalu, gue menyempatkan diri nonton Siam Niramit. Gue bukan cuma nonton show-nya, gue juga ambil tiket nonton satu paket dengan buffet dinner-nya. Tadinya mau sekalian ambil paket yang udah sekaligus antar-jemput, tapi berhubung gue berniat nonton setelah acara belanja seharian penuh, maka lebih baik gue pergi sendiri. Soalnya antar jemput itu cuma terima meeting point dari hotel aja sih. Jadi ya sudah, gue pergi sendiri aja meskipun transportasinya agak ribet harus ganti kendaraan dari BTS (skytrain) ke MRT.

Setelah acara belanja yang menyenangkan di Platinum, dengan berat hati gue meninggalkan mall favorit gue itu untuk beranjak nonton Siam Niramit. Hasil tanya-tanya sama guest service officer di Platinum, gue bisa aja naik taksi langsung ke stasiun MRT terdekat. Ternyata oh ternyata… gue nggak berhasil nemuin satupun supir taksi yang tau bahwa di Bangkok itu juga ada stasiun MRT! Mereka taunya cuma ada BTS doang aja doong… hiiks.

Terpaksalah gue naik taksi ke stasiun BTS terdekat, bayar 40 something yang gue buletin jadi 50 baht. Gue naik skytrain, turun di Asok, dari situ langsung jalan kaki ke stasiun MRT. Untuk nemuin MRT-nya gampang banget kok. Tinggal ikutin aja papan petunjuk jalan yang ada di stasiun BTS. Jalan kakinya juga cuma sebentar banget. Sampe di stasiun MRT, gue ngantri sebentar buat beli one way ticket ke stasiun Thailand Cultural Center (Rabbit Card buat naik skytrain enggak bisa dipake buat naik MRT). Begitu melangkah keluar dari Exit 1 stasiun Thailand Cultural Center, gue langsung dengan mudah menemukan shuttle bus yang disediakan oleh Siam Niramit, for free.

Begitu gue masuk ke dalam shuttle bus… isinya rombongan bule-bule… dan cuma gue doang yang dateng sendiri dengan tentengan banyak banget shopping bags hasil keliling 6 jam non-stop di Platinum… Untunglah begitu sampe ticket booth Siam Niramit, gue ditawarkan penitipan barang sama salah satu petugasnya, ini juga for free. Thank God! Dan ternyata gue orang pertama yang pake jasa penitipan barang di hari itu, hehehehe.

Keluar dari tempat penitipan barang, gue disambut sama mbak-mbak yang dandan pake baju tradisional Thailand. Dia masang bunga cantik di baju gue, kemudian ngajak gue foto bareng. Hasil fotonya sudah tentu gue beli! Bukan cuma karena gue kelihatan cakep di foto itu, tapi lebih karena gue traveling cuma sendirian. Maklum, the biggest problem dari pergi sendirian itu adalah susah banget buat gue dapetin foto yang kelihatan bagus, hehehehe.

Selesai foto, gue diarahkan menuju ruang makan dan langsung disediakan tempat duduk untuk dua orang. Well, satu bangku buat gue, satu bangku buat handbag gue… itu wajib hukumnya, hohohoho. Nggak buang waktu lama, gue langsung keliling cari makanan. Gue nggak bisa bilang semua makanannya itu halal, tapi gue bener-bener enggak nemuin satupun makanan bertuliskan pork di hari ini. Atau kalo mau lebih yakin, mereka juga nyediain makanan khusus vegetarian dan makanan khas Timur Tengah yang dijamin halal. Jadi kalo menurut gue, Siam Niramit ini termasuk Moslem friendly, ditambah mereka juga nyediain ruang khusus buat shalat.

Selama menikmati makan malam yang lumayan enak dan lumayan banyak variasinya itu, kita enggak perlu takut ketinggalan show. Beberapa saat menjelang show dimulai, akan ada rombongan petugas yang mengumumkan bahwa show akan segera dimulai. Tapi hal itu enggak lantas bikin gue terus makan sampe waktunya show dimulai. Soalnya gue mau foto-foto dulu! Siam Niramit punya replika desa Thailand di jaman dahulu kala gitu. Lumayan cantik kalo menurut gue, dan emang cocok banget buat foto-foto narsis di sana 🙂 Awalnya gue rada takut terlambat masuk theater, tapi begitu gue lihat ada serombongan bule yang pake jasa tour guide, gue langsung dengan tenang nerusin acara foto-foto gue. Nggak mungkin si tour guide ngebiarin tamu-tamunya ketinggalan main show di tempat itu kaan?

Saat gue balik ke pintu masuk theater, antrian udah lumayan kosong. Gue buru-buru jalan, buru-buru taruh kamera digital ke tempat penitipan, dan syukurlah, pertunjukan masih belum dimulai. Gue lekas masuk dan duduk, persis di sebelah anak kecil yang bawel dan nggak pernah berhenti ngoceh. Cowok di depan gue sampe dengan kesal negur anak kecil itu… Gue bête sih, tapi kalo inget ponakan kecil di rumah yang juga sama bawelnya, gue jadi sabar-sabarin aja… Ya namanya juga anak kecil, ibunya udah usaha nyuruh diem, itu anak tetep aja sibuk nanya ini-itu sama nyokapnya.

Pertunjukan dimulai dengan narasi mengenai sejarah terbentuknya kerajaan Thailand. Narasi dibawakan dalam beberapa bahasa, salah satunya Bahasa Inggris. Layar lalu terbuka lebar, dan para penari mulai bermunculan…

Well, kalo dari segi koreografi… menurut gue biasa-biasa aja. Gue sering lihat tarian yang lebih keren di Got to Dance UK soalnya. Makanya pada saat gue disorodkan kuesioner, gue menulis bahwa mereka harus improve koregrafinya. Tambahkan lebih banyak jaw-dropping acrobat supaya show-nya jadi lebih keren! Yang udah ada juga sebenernya not bad, hanya kurang berkesan kalo buat gue.

Tapi tentunya, Siam Niramit ini terkenal karena sebuah alasan: panggungnya yang spektakuler. Padahal gue udah pernah nonton show dengan panggung yang enggak kalah spektakuler di Phuket Fantasea, tapi gue tetep terkagum-kagum sama panggungnya Siam Niramit. Panggung itu bisa berubah dari istana kerajaan lengkap dengan balkonnya menjadi pinggir pantai dilengkapi dengan kapal laut maha besar dalam sekejap. Dan yang paling gue suka waktu setting-nya menampilkan pemandangan bawah laut! Para penari terlihat seolah benar-benar sedang berenang di kedalaman laut. Gilaaa, cantiiik bangeet. Andai mereka menampilkan lebih banyak ikan, pasti akan kelihatan lebih memukau! Yang nggak kalah kerennya itu waktu tiba-tiba aja, panggung yang tadinya dijadikan pijakan untuk menari, saat layar berganti, jadi muncul sungai selebar 3 meter dari ujung sampai ujung! Gue pikir sungainya cetek, eeeh, ternyata salah satu cast-nya bisa berenang di dalam sungai itu lho. It was amazing!

Kemudian dari segi jalan cerita ya so-so lah ya. Show kayak gini biasanya emang enggak gitu mentingin jalan cerita. Tapi ada nih, satu scene yang bikin gue terharu. Jadi ceritanya di jaman dulu, suku Chinese masuk ke Thailand lewat jalur perdagangan. Pedagang dari Cina melakukan barter dengan pedagang setempat. Pada saat itu, diceritakan ada salah satu pedagang Cina yang jatuh hati sama perempuan di pesisir Thailand. Sayangnya, mereka harus berpisah saat kapal Cina itu harus melanjutkan perjalanan mereka… Tapi ternyata, saat kapal itu sudah melaju, cowok tadi melompat dari atas kapal, lengkap membawa ‘buntelan’ berisi pakaiannya, lalu berlari menghampiri gadis pujaannya… Itulah kisah awal mula munculnya blasteran Cina-Thailand di sana… Dan kalo menurut pengamatan gue, malah cowok-cewek balsteran Cina-Thailand yang biasanya lebih good-looking.

Selain kisah sejarah yang sifatnya serius, ada juga nih, satu scene yang berhasil mengundang tawa, dan juga, mengundang tepuk tangan paling keras dari para penonton. Kelucuannya rada susah gue ceritakan di sini, tapi yang jelas, ini tipe show yang melibatkan salah satu penonton. Dan ternyata, penonton yang jadi ‘korban’ adalah cowok yang duduk persis di depan gue itu! Itu lho… yang tadi gue bilang dia marahin anak kecil di sebelah gue. Selesai jadi ‘korban’ di atas panggung, cowok bitu dapet hadiah kain sutera Thailand yang cantik banget! Aaah, gue juga mau kok, jadi korbannya, hehehehe.

Waktu nonton Siam Niramit itu, gue sengaja pilih golden seats. Sedikit lebih mahal, tapi cukup worthy kalo menurut gue. Posisinya emang strategis banget, dan ada pula dua atau tiga tarian yang nggak bisa dilihat oleh barisan di depan Golden Seat. So… yes… duduk di barisan paling depan bukan berarti paling bagus.

Finally I would say… Siam Niramit is not a thing that you can be missed while visiting Bangkok. It’s a must watch! Sekarang ada juga Siam Niramit di Phuket, tapi gue nggak tau juga apakah panggung di sana sama bagusnya dengan panggung di Bangkok. Karena dari segala aspek dalam show ini, tetap panggungnya Siam Niramit yang terasa paling berkesan buat gue. See it and you’ll be amazed.

Platinum Shopping Mall, Bangkok

Awalnya, gue ragu-ragu mampir belanja ke Platinum. Masalahnya:

  1. Barang-barang di sana terkenal murah-murah banget… dan gue bukan big fan baju-baju dan aksesoris yang terlalu murah. Biasanya, barang yang kelewat murah itu nggak awet dan nggak kelihatan mewah;
  2. Lokasi Platinum agak jauh dari stasiun BTS (sky train) terdekat. Turun dari BTS, kita masih harus naik taksi. Dan masalahnya… taksi Bangkok itu terkenal banyak scam-nya!
  3. Di Bangkok itu ada banyak banget mall yang gue mau datengin… jadi emang harus ada beberapa mall yang gue korbankan.

Tapi akhirnya, karena faktor penasaran, gue tetep aja pergi ke Platinum. Thank God gue dapet taksi yang terpercaya (yang warnanya kuning-hijau), no scam, pasang argo tanpa diminta, dan nggak bawa gue muter-muter kota hanya demi mendongkrak angka argo.

Dress favorit gue, harganya nggak sampe seratus ribu rupiah!

Dress favorit gue, harganya nggak sampe seratus ribu rupiah!

Begitu gue melangkah masuk ke dalam Platinum… oh… my… God… gue langsung suka! Gue sempet bengong saat ngelihat working dress yang harganya cuma 250 baht! Gue cepet-cepet berhitung dalam kepala… 250 baht???? Cuma 70ribuan??? Soalnya yah… bajunya kelihatan baguuss. Sama sekali enggak kelihatan kayak barang murahan! Gue pun langsung heboh menyusuri HAMPIR semua lorong di Platinum!

Tiga jam berlalu… gue mulai capek. Gue pun beralih ke food court buat cari makan siang. Di food court ini sistemnya pake kartu gitu. Jadi kita beli dulu kartunya sejumlah yang kita mau, kemudian kita pake kartunya buat bayar makanan dan minuman. Kalo udah selesai, kita balikin kartunya dan sisa uang yang ada di situ akan dikembalikan.

Soal makanan di Platinum, di sini ada beberapa counter makanan yang berlogo halal. Dan yang nggak ketinggalan, jangan lupa pesan mango sticky rice! Tetep lebih enak mango sticky rice yang di MBK sih, tapi yang di Platinum ini juga nggak kalah enaknya kok.

Selesai makan, gue kembali menghabiskan 3 jam berikutnya untuk acara belanja. Mayoritas barang yang dijual udah pasti pakaian wanita, kemudian ada satu lantai yang khusus menjual aksesoris wanita juga. Konsepnya sih, satu lantai untuk satu jenis barang, tapi kenyataannya, ada juga yang campur-campur gitu. Misalnya, gue nemu baju bayi yang lucuuu banget, ada buntut di bagian belakangnya, justru di lantai yang harusnya khusus menjual pakaian wanita. Ada juga satu lantai khusus baby clothes, tapi gue nggak berani mampir… Begitu sampe di lantai itu, gue buru-buru jalan cepat ke arah eskalator tanpa lirik kanan-kiri. Masalahnya… gue udah kebanyakan beli baju buat ponakan, malah lebih banyak daripada baju buat gue sendiri, hehehehe.

1001774_10201476933305001_546431518_n

Hasil borong di Platinum.

Akhirnya, ini dia daftar hasil belanja gue di Platinum:

  1. Kaos oblong yang ada tulisan ‘Thailand’ atau ‘I Love Bangkok’ buat temen-temen dan keluarga gue yang cowok. Harganya beberapa puluh baht lebih mahal daripada kaos oblong yang gue temuin di MBK, tapi bedanya, kualitas kaos yang gue beli di Platinum ini jauh lebih bagus. Bahannya lebih adem dan sablonannya juga kelihatan lebih mewah;
  2. Ladies t-shirt yang lucu-lucu bangeet… Ini juga harganya nggak semurah yang di MBK, tapi bahannya bagus, gambarnya juga nggak pasaran. Sayangnya ternyata, ukuran kaosya kecil-kecil banget. Gue beli size M buat temen-temen yang sebenernya pesen size S, tapi ternyataaa… M-nya mereka malah lebih kecil daripada size S di Indonesia. Gue lupa persisnya toko ini ada di lantai berapa, yang jelas posisinya di pojok banget, tokonya kecil dan di dalamnya ada rak tinggi tempat dia simpen boks-boks plastik berisi beragam koleksi t-shirt. Jadi kemasan kaosnya emang ditaruh di dalam boks kecil gitu. Oh ya, di sini gue juga beli satu set kaos yang tulisannya “Dad”, “Mom”, “Son”. They looked cute!
  3. Dress dress dress! Gue borong 4 dress cantik di Platinum. Bener-bener shocking harga satuannya hanya 250 baht saja. Bicara soal kualitas, untuk dress dalam foto di atas itu, kualitasnya termasuk oke. Warnanya nggak pudar saat dicuci, jahitannya sempurna, kualitas bahan juga bagus. Meski begitu, ada satu dress dari toko lain yang rada-rada mengecewakan. Bahan luarnya sih bagus, tapi kain pelapis di dalamnya ternyata rapuh banget. Dan yang paling mengesalkan… ternyata potongannya nggak simetris! Hiiks… Tapi sudahlah, cuma 250 baht juga, hehehehe.
  4. Kalung dan cincin. Ada banyak aksesoris yang modelnya pasaran banget, tapi ada juga yang modelnya langka. Gue suka banget sama kalung yang gue beli di sana, udah pernah gue pake beberapa kali. Tapi sayangnya, kalung itu baru aja copot batunya. Gue pikir bisa dipasang lagi, tapi batunya pecah dua dan pecahan kecilnya enggak berhasil gue temukan 😦 Gue juga beli satu cincin yang harganya agak mahal, lebih dari 100ribu, tapi kualitasnya emang bener bagus! Yang jual juga bilang, ini cincin agak mahal tapi dijamin awet dan tahan air. I love it!

Sebenernya waktu itu gue masih pengen banget belanja lebih lama di Platinum, tapi sayangnya malam itu, gue udah terlanjur beli tiket buat nonton Siam Niramit. Jadi sudahlah, gue terpaksa mengakhir acara belanja gue di Platinum. Bener-bener nggak nyangka… mall yang paling nggak pengen gue datengin itu akhirnya malah jadi mall yang bikin gue pengen cepet-cepet balik lag ike Bangkok! Seriously, I want to back to this mall like… immediately, hehehehe.